<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205</id><updated>2012-01-28T01:50:32.749-08:00</updated><category term='cerpen hari kartini'/><title type='text'>Bamby dan Ceritanya</title><subtitle type='html'>Tentang rasa, pikiran, imajinasi dan pengalaman hidup</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>46</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-5142814304256196657</id><published>2012-01-28T01:45:00.000-08:00</published><updated>2012-01-28T01:50:32.760-08:00</updated><title type='text'>Bedah Buku 2 Album Dangdut dan Sekotak Cokelat di Spinelli Coffee</title><content type='html'>Hari Sabtu, 28 Januari 2012 di Spinelli Coffee Citywalk Jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-5142814304256196657?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/5142814304256196657/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=5142814304256196657' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/5142814304256196657'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/5142814304256196657'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2012/01/bedah-buku-2-album-dangdut-dan-sekotak.html' title='Bedah Buku 2 Album Dangdut dan Sekotak Cokelat di Spinelli Coffee'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-4049740459322052721</id><published>2011-12-25T04:27:00.001-08:00</published><updated>2011-12-25T05:26:08.039-08:00</updated><title type='text'>TENTANG LAN FANG [5 Maret 1970 - 25 Desember 2011]</title><content type='html'>Sumber: Tentang Penulis Novel Kembang Gunung Purei, penerbit Gramedia Pustaka Utama, April 2005, halaman 225.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lan Fang lahir di Banjarmasin pada tanggal 5 Maret 1970 dari pasangan Johnny Gautama dan Yang Mei Ing, sebagai anak sulung dari dua bersaudara. Adiknya bernama Janet Gautama. Pada tahun 1988, ia menyelesaikan SMA-nya di Banjarmasin lalu meneruskan dan menyelesaikan studinya di Fakultas Hukum Universitas Surabaya (UBAYA).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun terlahir dalam keluarga keturunan Cina yang cukup konservatif dan lebih berkonsentrasi kepada dunia bisnis, Lan Fang sudah suka menulis dan membaca sejak usia sekolah dasar. Buku-buku Enid Blynton, Laura Ingals Wilder, atau sekadar majalah anak-anak, seperti Bobo dan Donal Bebek, telah mengantar imajinasinya ke dunia lain. Di sekolah pun, pelajaran kesukaannya adalah pelajaran Bahasa Indonesia, terutama mengarang. Sebetulnya keinginan Lan Fang untuk menulis cerpen sudah mulai ada sejak SMP ketika bacaannya mulai beralih kepada majalah-majalah remaja seperti Anita Cemerlang dan Gadis. Tetapi karena dianggap “ganjil” dan “tidak tertangkap mata” oleh keluarganya, tidak ada motivasi kuat untuk mempertajam talentanya. Keinginan menulis itu pun terlupakan begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ia berusia 13 tahun, ibunya meninggal dunia karena kanker otak yang ganas. Sejak itu ia selalu merasa dirinya tidak lengkap, namun cinta pertamanya pada seorang pemuda di usia 15 tahun, memberinya inspirasi yang tak pernah kering. Walaupun bukan penulis, tetapi pemuda itu telah memberikan ruang gerak yang luas dan waktu yang tidak terbatas pada Lan Fang sehingga memacunya untuk berkarya. Ketika semua isi kepala dan hatinya itu dituangkan ke dalam tulisan dengan sangat lancar, Lan Fang merasa takjub ketika menyadari tulisan itu sudah berbentuk cerita. Sekadar iseng, ia kemudian mengirim cerita pendek pertamanya yang berjudul Catatan Yang Tertinggal itu ke majalah Anita Cemerlang pada tahun 1986. Ternyata cerpen tersebut langsung dimuat sebagai cerita utama di halaman depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu Lan Fang jadi ketagihan menulis. Ketika menulis, ia menemukan dimensi baru tanpa ruang dan waktu, tempat ia bisa merasa bebas melompat-lompat dari dunia satu ke dunia lain. Ia merasa bebas mengungkapkan apa yang ia pikirkan, rasakan, bayangkan, pertanyakan, tanpa adanya benturan dengan batasan-batasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada periode 1986-1988, ia cukup banyak menulis cerpen remaja yang bertebaran di majalah-majalah remaja seperti Gadis, terutama Anita Cemerlang. Kebanyakan cerpen yang ia tulis bernapaskan cinta dengan banyak pengaruh tulisan Kahlil Gibran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun 1997, ibu dari kembar tiga ini berulang kali memenangkan berbagai lomba penulisan. Di tahun tersebut, cerbernya Reinkarnasi menjadi Juara Penghargaan Lomba Mengarang Cerber Femina dan cerpennya Bicara Tentang Cinta, Sri… menjadi Juara II Lomba Cerpen Tabloid Nyata. Di tahun 1998, karyanya yang berjudul Pai Yin menjadi Pemenang Penghargaan Lomba Mengarang Cerber Femina. Di tahun yang sama cerpennya Bayang-Bayang pun menjadi Pemenang II Lomba Mengarang Cerpen Femina. Selain itu, cerpen Ambilkan Bulan, Bu… menjadi karya layak muat untuk Femina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sempat vakum selama lima tahun dari dunia tulis-menulis, karena sibuk berkonsentrasi dalam merintis karier di sebuah bank nasional swasta di Surabaya sampai tahun 2000. Saat ini, ia bergabung di sebuah perusahaan asuransi jiwa asing di kantor cabangnya di Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya pada tahun 2003 ini, Lan Fang berhasil menyelesaikan tulisannya yang mengendap selama jangka waktu itu. Karyanya yang berjudul Kembang Gunung Purei tersebut pun menjadi Pemenang Penghargaan Lomba Novel Femina 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesehariannya, ibu dari Vajra Yeshie Kusala, Vajra Virya Kusala, dan Vajra Vidya Kusala ini sangat mensyukuri keberadaan 3 Vajra = 3 Kekuatan yang di-milikinya sebagai sumber semangat dan motivator kuat untuk selalu bisa bertahan di saat-saat sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pembukaan novel Kembang Gunung Purei, Lan Fang menulis puisi sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Surabaya, 5 Agustus 2003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat-saat kutulis bagian tengah buku ini di&lt;br /&gt;Ujung kakinya…&lt;br /&gt;Saat-saat tidak bisa menyelesaikan bagian akhir&lt;br /&gt;Buku ini…&lt;br /&gt;Karena…&lt;br /&gt;Ia memberiku…&lt;br /&gt;Tidur panjang yang cantik…&lt;br /&gt;Mati indah,&lt;br /&gt;Tapi meninggalkan ngilu dalam dan panjang…&lt;br /&gt;Sehingga…&lt;br /&gt;Buku ini…&lt;br /&gt;Tidak pernah selesai…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lan Fang meninggal dunia pada tanggal 25 Desember 2011 di Rumah Sakit Mont Elisabeth Singapura, Minggu siang ketika sebagian dari kita merayakan hari Natal. Lan Fang mengalami tidur panjang yang cantik dan mati yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 25 Desember 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-4049740459322052721?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/4049740459322052721/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=4049740459322052721' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/4049740459322052721'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/4049740459322052721'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2011/12/tentang-lan-fang-5-maret-1970-25.html' title='TENTANG LAN FANG [5 Maret 1970 - 25 Desember 2011]'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-5951650958644130637</id><published>2011-12-06T07:39:00.000-08:00</published><updated>2011-12-06T07:42:15.898-08:00</updated><title type='text'>To Hijack America</title><content type='html'>Waktu kami mulai menetap di Amerika, anak sulung kami berumur tigabelas tahun, sedangkan si bungsu belum cukup dua tahun.&lt;br /&gt; Tahu-tahu, seperti sesuatu yang mendadak terjadi dalam sekejapan mata, semua anak kami sekarang sudah meninggalkan rumah: bersekolah, lalu bekerja.&lt;br /&gt; Tentu itulah keinginan kami sebagai orang tua. Anak-anak bersekolah dengan baik dan memperoleh pekerjaan yang baik pula. Namun di samping itu, dalam hati kami juga terkandung harapan bahwa mereka akan menikah kelak dan mendirikan keluarga bahagia sendiri-sendiri, sesuai keinginan mereka. Terutama istriku yang mendesak ke arah itu.&lt;br /&gt; Rupanya dorongan sekaligus hasrat istriku itu berhasil, anak kami menikah. Tetapi muncul pengalaman yang tak disangka-sangka. Di luar dugaan kami, setahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; Tahun yang lalu anak lelaki kami yang terbesar, Firman, selesai belajar dan memperoleh pekerjaan yang baik di negara bagian New York. Sebelum berangkat ke New York, ia pulang dulu ke rumah untuk pamit dan untuk memberi tahu  sesuatu yang membuat aku dan istriku terkejut. Ia akan menikah!&lt;br /&gt; ”Kapan kamu akan menikah?” tanyaku.&lt;br /&gt; ”Hari Jumat minggu ini, Pa,” jawab anakku kalem.&lt;br /&gt; ”Hei, ini hari Senin, Nak. Kamu jangan main-main,” istriku menyela.&lt;br /&gt; ”Aku serius, Ma!” kata anakku.&lt;br /&gt; ”Lantas, siapa yang akan kamu nikahi? Mana mempelai perempuan, calon istrimu itu?” tanyaku.&lt;br /&gt; ”Ia akan datang ke sini, pada hari Kamis,” ujar Firman tersenyum.&lt;br /&gt; Kulihat mata istriku berbinar-binar. Ia lantas memeluk anak lelaki kami yang terbesar. Firman akan menikah, gumamnya. Tapi dengan siapa? Banyak teman perempuannya, baik yang pernah ia kenalkan pada kami, atau sekadar ia ajak main ke rumah.&lt;br /&gt; Pada hari Kamis, calon menantu kami itu benar-benar datang dan menginap di rumah kami. Seorang perempuan cantik, dan tentu saja orang Amerika asli. Namanya Alexa.&lt;br /&gt; Keesokan harinya kami pergi ke pengadilan dan sepuluh menit sesudah membayar 40 dolar, anak kami secara resmi sudah beristri dan kami bermenantu. Sungguh sesuatu di luar dugaan kami.&lt;br /&gt; Anehnya, istriku yang semula sangat berhasrat agar anak kami menikah, malah terlihat murung. Bagi istriku kejadian itu terlampau aneh, terlalu kosong. Maklumlah tradisi yang sudah berakar dalam hati generasi kami, khususnya orang Indonesia, tidak dapat diabaikan begitu saja.&lt;br /&gt; Melalui telepon, kami beritahukan anak-anak kami yang tersebar ribuan kilometer jauhnya, bahwa kakak mereka sudah menikah hari Jumat lalu. Begitu juga pada sanak-kerabat di tanah air. Firman sudah menikah.&lt;br /&gt; Dengan secepat kilat, aku dan istriku mengatur pesta kecil di rumah dengan mengundang tiga keluarga Indonesia yang bertempat tinggal di daerah kami.&lt;br /&gt; ”Agar mereka tahu bahwa anak kita menikah secara wajar,” kata istriku sambil mengatur meja makan.&lt;br /&gt; ”Kenapa kamu bicara seperti itu?” selidikku.&lt;br /&gt; ”Ah, sudahlah. Mungkin hanya masalah nilai-nilai kewajaran saja yang mengganggu pikiranku,” jawab istriku.&lt;br /&gt; Aku lantas merenungkan perkataan istriku, sambil memandang ke arah jendela. Di luar rumah salju turun perlahan.&lt;br /&gt; Nilai apakah yang menentukan kewajaran? Batinku. Pertalian sebagai suami-istri memang sudah disahkan undang-undang, namun bagaimana perasaan kami sebagai orang tua? Siapakah menantu kami itu?&lt;br /&gt; Sewaktu masih berpacaran dengan anak lelaki kami yang terbesar, Alexa memang sudah diperkenalkan pada kami. Ketika itu ia diundang berlibur tiga hari di rumah kami oleh anakku. Ia seorang Amerika, California. Ia guru sekolah dasar. Kedua orang tuanya sudah bercerai ketika ia masih kecil.&lt;br /&gt; Menurutnya, ia masih sering berhubungan dengan ibunya, melalui telepon atau bertemu di sebuah tempat. Dengan ayahnya? Ia mengakui kurang tahu di mana ayahnya berada.&lt;br /&gt; Istriku sempat bertanya pada menantu kami itu, ”Apakah ibumu tahu kamu menikah?”&lt;br /&gt; Dengan santai menantu kami menjawab, ”Itu kurang penting, nanti kalau aku bertemu dengannya akan kuberi tahu.”&lt;br /&gt; Sebenarnya banyak pertanyaan yang kami ingin tanyakan dan ingin kami ketahui jawabannya, namun tidak sempat kami tanyakan. Karena mereka, pengantin baru itu, sudah terbang ke New York, untuk berbulan madu pada hari Minggu.&lt;br /&gt; Kami hanya bisa bengong, terpukau dan tak percaya dengan apa yang terjadi. Hari Senin anak kami bilang ia akan menikah, hari Kamis calon menantu kami datang ke rumah dan menginap, hari Jumat mereka menikah, hari Minggu mereka pergi meninggalkan kami yang terbengong-bengong. Sungguh ironis apa yang terjadi itu. Atau kah sungguh lucu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; Akhirnya cerita itu kami ceritakan sebagai pengalaman ironi yang lucu kepada seorang kenalan Amerika, Kevin namanya. Namun, ia tidak mengerti di mana letak ironi dan lucunya.&lt;br /&gt; ”Anda beruntung tidak berhadapan dengan besan Anda,” kata Kevin.&lt;br /&gt; ”Lho, maksud Anda?” tanyaku.&lt;br /&gt; ”Istriku orang California, orang tuanya sudah bercerai waktu mereka bermukim di San Diego beberapa tahun silam. Waktu itu, orang tuaku tinggal di Chicago. Dalam perjalanan liburan, orang tuaku kebetulan melalui San Diego, kesempatan itu mereka pergunakan untuk berkenalan dengan orang tua istriku. Ternyata mereka hanya diterima di depan rumah dan tak diundang masuk. Selama sepuluh menit mereka berbicara, lalu orang tuaku pamit!" ujar Kevin getir.&lt;br /&gt; Aku terperangah. Kevin meneruskan ceritanya, ”Istriku dengan dua orang anak kami sebulan yang lalu berangkat ke California untuk berlibur di rumahnya ayahnya. Mereka rupanya senang sekali di sana. Kemarin dulu istriku menelepon dengan saran supaya aku pindah saja dan mencari pekerjaan di California. Untuk sementara kami bisa tinggal di rumah ayahnya.”&lt;br /&gt; ”Lantas, kenapa Anda tak ikuti saran istrimu?” Tanyaku lugu.&lt;br /&gt; ”Tinggal bersama ayahnya? He, kamu kira aku orang China?” jawab Kevin dengan sebuah pertanyaan. Lantas ia tertawa terbahak-bahak. Sekali lagi aku terbengong-bengong. Menurutku, bukan orang China saja yang bisa hidup satu rumah bersama mertuanya, orang Indonesia pun banyak yang masih satu rumah dengan mertua atau orang tuanya walaupun mereka sudah menikah.&lt;br /&gt; Ah, betapa aku tiba-tiba diserang kerinduan yang amat sangat tentang kehangatan keluarga besarku di Indonesia. Atau aku sudah begitu kolot untuk mengalami kondisi perbedaan kultur dan pergaulan sosial di Amerika ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Keherananku sebagai orang tua ternyata tidak berhenti sampai di sini saja. Tahun ini anak lelaki saya yang nomor dua, Lukman, pulang dari California, karena ia lebih suka cara hidup di daerah yang tak terlalu berisik dan ramai.&lt;br /&gt; Tentu saja kami senang sekali. Keahliannya dalam bidang pertukangan kayu dan otomekanik, pasti akan sangat bermanfaat baginya untuk memulai berwiraswasta.&lt;br /&gt; Kalau ada pekerjaan, tentu pendapatannya sebagai ahli pertukangan kayu dan otomekanik akan mendatangkan penghasilan yang lumayan besar. Kalau sedang sedang tak ada pekerjaan, ia bisa pergi ke laut untuk menangkap ikan dengan speargun, jala atau pancing. Sebuah cara hidup yang sederhana, orang-orang menyebutnya cara hidup orang ”local”.&lt;br /&gt; Pada suatu malam, Lukman dipanggil lewat telepon oleh seorang peternak babi, Paul namanya, untuk memeriksa cetak biru sebuah rumah yang akan dibuatnya. Setelah beberapa kali datang untuk mendiskusikan proyeknya, aku melihat tingkah laku Lukman berubah.&lt;br /&gt; Aku memberi tahu pengamatanku kepada istriku, yang biasanya berintuisi lebih tajam dalam hal perubahan perilaku anak-anaknya.&lt;br /&gt; Istriku memandang Lukman dari kejauhan. Ya, Lukman tampak sedang tersenyum-senyum sendirian di kebun belakang rumah kami.&lt;br /&gt; ”Kamu jangan terlalu khawatir, sayang,” kata istriku. ”Kelihatannya, ia sedang jatuh cinta?” lanjut istriku dengan suara yang renyah.&lt;br /&gt; Pengamatanku benar rupanya. Setengah berbisik aku berkata, ”You are right. Our son is in love.” Kami lantas tertawa sambil menggeleng-geleng kepala melihat tingkah Lukman di kebun belakang rumah.&lt;br /&gt; ”Kalau benar ia sedang jatuh cinta, lantas siapa pacarnya?” tanya istriku.&lt;br /&gt; ”Kamu benar, kita harus segera tanya padanya!” jawabku bersemangat.&lt;br /&gt; Tidak terlalu berbelit ketika kami menanyakan sedang jatuh cinta pada siapa Lukman. Ia bahkan langsung memberitahu bahwa ia akan membawa teman wanitanya, Julie namanya, ke rumah untuk diperkenalkan pada kami.&lt;br /&gt; Julie datang pada waktu yang ditentukan sambil membawa bayi berumur sebulan. Jantungku tiba-tiba berdetak cepat, darahku berdesir. Mustahil itu cucuku! Karena menurut pengakuan Lukman, ia baru pacaran dengan Julie kurang dari dua bulan.&lt;br /&gt; Ah, ternyata bayi itu bukan cucuku. Lega rasanya. Julie lantas bercerita tentang dirinya. Julie adalah putri peternak babi Paul. Ia dilahirkan dan dibesarkan di daerah kami. Makanya meskipun berkulit putih ia disebut ”local” (seperti yang sering kita lihat tayangannya di film-film Hollywood), orang yang tumbuh-besar hanya di daerahnya saja, tak pernah kemana-mana.&lt;br /&gt; Julie sudah pernah bertunangan, namun dua hari sebelum pernikahan berlangsung, ia membatalkan hubungan dengan tunangannnya itu. Tetapi kala itu, ia sudah mengandung!&lt;br /&gt; Beberapa bulan kemudian, Julie melahirkan bayinya, ia memberi nama Brendi kepada bayinya itu.&lt;br /&gt; Saat Lukman sering bertandang ke rumah peternak babi Paul, rupanya benih-benih asmara bersemaian di sana, Lukman merasa cocok dengan Julie. Mereka suka hidup dengan cara ”local”.&lt;br /&gt; Mula-mula istriku keberatan hubungan Lukman dan Julie, namun lambat-laun istriku luluh juga. Rupanya kepribadian Julie sangat menawan hati istriku, Julie seorang yang lembut dan penyayang. Hingga akhirnya istriku rela juga melanggengkan hubungan Lukman dan Julie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sekarang mulai timbul keruwetan baru. Aku memang suka sekali pada bayi dan anak kecil. Maka setiap kali Brendi dibawa ke rumah, aku menggendong dan bermain dengannya. Aku memanggil Brendi selayaknya aku memanggil cucuku sendiri. Aku membayangkan bagaimana ia memanggilku kelak. Begitu pun dengan Julie. Apakah ia akan memanggilku, Ayah? Atau nama kecilku saja.&lt;br /&gt; Inilah masalahnya bila tinggal dan hidup di Amerika. Sudah menjadi hal lumrah,  hal wajar dan mungkin sangat sopan, untuk saling memanggil dengan hanya memanggil nama kecil saja. Biar pun usia terpaut jauh berbeda.&lt;br /&gt; Julie yang sering datang ke rumah tak pernah memanggilku Mr. Mahmudi. Itu pun tidak pada tempatnya ia memanggilku dengan Mahmud saja, kukira ia merasa sungkan juga, kurang sopan. Karena ia tahu, Lukman memanggilku Papa. Pemakaian istilah Om atau Tante tidak bisa dipakai. Karena ini Amerika. Akhirnya, walaupun selalu canggung, demi menghormati aku dan istriku, Julie hanya mengatakan ”Hallo”, lain tidak ketika menyapa kami.&lt;br /&gt; Setelah Lukman dan Julie menikah, keruwetan ini pasti akan terurai. Tentu mereka akan memanggil aku dan istriku: Papa dan Mama. &lt;br /&gt;Tapi aku tak begitu yakin, soal lain bakal tak akan bikin ruwet lagi. Karena mendadak timbul keruwetan baru. Bapaknya Julie, Paul, mengundang kami makan malam dengan hidangan menu yang istimewa, namun membuat lidah kami tercekat: Babi Panggang! **&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-5951650958644130637?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/5951650958644130637/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=5951650958644130637' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/5951650958644130637'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/5951650958644130637'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2011/12/to-hijack-america.html' title='To Hijack America'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-3384581079508534535</id><published>2011-11-16T22:12:00.000-08:00</published><updated>2011-11-16T22:16:46.074-08:00</updated><title type='text'>A Gloomy Tale from a Fast Food Restaurant</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;A Gloomy Tale from a Fast Food Restaurant&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;*Bamby Cahyadi (Translator: Bung Kelinci)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This short story waiting for a publisher&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-3384581079508534535?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/3384581079508534535/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=3384581079508534535' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/3384581079508534535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/3384581079508534535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2011/11/gloomy-tale-from-fast-food-restaurant.html' title='A Gloomy Tale from a Fast Food Restaurant'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-584490287137821560</id><published>2011-08-13T19:04:00.000-07:00</published><updated>2011-08-13T19:06:47.317-07:00</updated><title type='text'>EMOSI PAGI HARI</title><content type='html'>Emosi Pagi Hari (dimuat di Harian Analisa Medan, 14 Agustus 2011)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang liburan dari rutinitas kerja bagiku menjadi hal yang membosankan. Padahal beristirahat dari pekerjaan yang bertubi-tubi dan penuh target yang mesti dicapai adalah sebuah anugerah. Tentu akan menjadi membosankan apabila aku tak punya agenda acara untuk mengisi liburan kerja itu. Begitulah yang terjadi di hari selasa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi-pagi, setelah sarapan dengan semangkuk oatmeal instan -makanan ini sudah menjadi menu sarapan pagi yang paling nikmat bagiku sejak lima tahun terakhir, padahal makanan berserat oat ini hambar rasanya dan bikin ingin muntah kalau dimakan sudah tak panas lagi-, minum segelas susu berkalsium -lagi-lagi susu ini sudah menjadi minuman favoritku sejak lima tahun terakhir ini, tapi tetap saja persendianku dan tulang-belulangku masih suka linu-linu apabila terkena udara dingin atau semburan AC yang terlampau sejuk- dan menelan sebutir vitamin C dosis tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila Anda mengatakan aku korban iklan, maka akan kujawab: "Anda benar!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sarapan, lalu mandi. Berdandan sedikit: menyisir rambut, menggunakan pelembab kulit dan menyemprotkan parfum secukupnya pada ketiak, merapikan kerah baju, lantas aku pamit pada pembantu rumah-tangga untuk keluar rumah sejenak. Aku tak pamit pada istriku karena dia sudah pergi bekerja pagi-pagi sekali, ketika jalanan masih lengang dan aku masih bergumul dengan mimpi-mimpi yang mengasyikkan (walaupun mimpi buruk, bagiku mimpi sesuatu yang keren dan asyik). Pernah tidak Anda bermimpi? Kalau Anda merasa jarang bermimpi atau tak pernah bermimpi atau lupa akan mimpi-mimpi yang Anda alami saat tertidur, kasihan sekali hidup Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku keluar rumah dengan tujuan kantor pos dan selanjutnya belum jelas mau kemana. Ada beberapa buku pesanan teman yang belum sempat kukirimkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di kantor pos. Entah karena hari itu masih hari selasa dan baru saja liburan panjang, suasana kantor pos sangat meriah. Sangat ramai. Penuh-sesak dan berdesak-desakkan. Kebanyakan orang yang sudah tua yang memenuhi seluruh ruang tunggu kantor pos. Mungkin mereka mau mengambil uang pensiun, batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengantre di loket pengiriman kilat khusus. Dalam benakku, setelah berpuluh-puluh tahun menggunakan jasa pos, aku tak pernah dilayani dengan cepat. Petugas pos selalu lamban menangani pemakai jasa pos yang hendak kirim surat, dokumen dan barang kiriman lainnya. Entah di kantor pos langganan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petugas pos loket kilat khusus mengetik pada keyboard komputer memakai sistem 11 jari, (seperti yang aku lakukan sekarang saat mengetik cerpen ini. Sistem 11 jari artinya hanya jari telunjuk tangan kanan-kiri saja yang beraktivitas), tapi kecepatan ketikanku tentu saja jauh lebih cepat ketimbang petugas pos yang kelihatannnya masih berusia muda-muda, tapi guratan wajah mereka seperti orang yang telah berpuluh-puluh tahun kerja di situ, tanpa ekspresi apalagi senyuman. Napas mereka seolah menghembuskan keluhan, keluhan dan keluhan! Seolah-olah orang yang dilayani adalah jarum jam yang berputar lambat, atau bisa jadi serupa toilet tisu tak berguna dan bikin kerjaan saja. Sesuatu yang menginterupsi kehidupan bahagia mereka saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengangsur tiga buah amplop kiriman kepada petugas loket. Amplop diterima dengan malas-malas oleh petugas, lalu sepintas dia membaca alamat kirim, lantas masih dengan malas-malas dia mengetik alamat kirim. Setelah itu dengan gerakan lemah dia melempar amplopku ke meja temannya di sebelahnya, untuk distempel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Isinya buku semua!" kata petugas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, buku," sahut temannya tak kalah lesunya menyetempel amplopku yang berisi buku-buku karanganku itu. Aku berpikir, mungkin mereka belum sempat sarapan, hingga hari masih pagi mereka sudah loyo ibarat orang kekurangan vitamin dan gizi buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan wajah datar tak bersahabat, petugas pos menyodorkan kertas kuning padaku seraya berucap, "Dua puluh enam ribu, kalau bisa bayar pakai uang pas!" Aku geram dibuatnya. Mau marah rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urusan uang kecil atau uang kembalian memang sudah menjadi masalah laten di ibukota. Apalagi apabila Anda menggunakan jasa taksi. Selalu sediakan uang dengan nominal kecil-kecil saja dalam dompet Anda. Rp. 50.000,- atau Rp. 100.000,- nominal yang pasti ditolak bila Anda melakukan transaksi apa saja di pagi hari. Inilah asumsiku. Buktinya, petugas kantor pos meminta aku membayar biaya kiriman dengan uang pas. Pasti dia tak punya uang kembalian. Bisa juga ia malas! Sudahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara panas di ruang tunggu -yang disebabkan oleh tidak dinyalakannya empat unit AC 2 PK, kelihatannya untuk berhemat- hampir membakar emosiku yang sumbunya sangat pendek untuk disulut dan meledak. Untung ada seorang perempuan cantik yang senyum-senyum melihat aku yang sedang tampak sebal, gusar dan berkeringat. Hatiku agak sejuk dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengucapkan terima kasih. Bukan pada petugas pos yang melayaniku dengan beku. Aku menyungging senyum pada perempuan cantik itu dan mengucapkan terima kasih padanya, karena telah membuat hati dan kepalaku sejuk. Mudah-mudahan petugas di kantor pos tempat Anda berkirim sesuatu, tak sama dengan petugas kantor pos yang kuceritakan di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari kantor pos barulah aku memikirkan kemana tujuanku selanjutnya. Baiklah, aku berniat mengunjungi sebuah mal yang letaknya tak begitu jauh dari kantor pos ini. Aku menggunakan taksi -karena aku tak bisa nyetir mobil dan tak punya nyali yang cukup tangguh untuk mengendarai sepeda motor di tengah lalu-lintas Jakarta yang sangar dan kejam- menuju mal yang kumaksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku selalu mengunakan jasa taksi, karena lebih nyaman walaupun selalu menjebol isi dompetku di setiap tengah bulan. Lagi pula, jumlah kendaraan di Jakarta sudah sedemikian banyak, masih kah aku menambah jumlahnya yang tak cukup lagi ditampung oleh lajur jalanan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat hendak naik taksi, aku kesal bukan kepalang. Darahku mendidih lagi. Para pengguna kendaraan sepeda motor yang tak sudi memberikan kesempatan padaku untuk menuju dan membuka pintu taksi. Padahal taksi sudah menepi mendekati trotoar, tetapi pengguna motor terus menerabas dari sisi kiri jalan. Mereka tak memberikan jalan dan kesempatan padaku untuk naik ke dalam taksi. Dengan sedikit keberanian kuhadang motor-motor itu dengan badanku, sambil aku membuat acungan jempol pada mereka. Mendadak motor-motor itu mengerem. Terdengar suara berdecit disusul suara-suara gerutuan dari para pengendara motor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heran! Kenapa mereka yang menggerutu? Apakah kalau mereka memperlambat laju motornya, mereka bakal kehilangan uang bermilyar-milyar rupiah? Atau, orang terkasih mereka akan mati? Tentu mereka tak kehilangan apa-apa bukan? Apabila memberi kesempatan padaku untuk melangkah dan masuk ke dalam taksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AC taksi membuat hatiku sejuk kembali. Sampailah aku di sebuah mal. Untuk berhemat, aku berhenti di sisi kiri jalan, sementara mal terletak di sisi kanan jalan. Apabila taksi mengantarku sampai lobi mal, taksi harus berputar-balik dan argonya bertambah Rp. 5.000,- -kan nilai yang lumayan untuk membeli menu serba lima ribu di sebuah restoran cepat saji-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menuju mal, dari sisi kiri jalan tak ada Jembatan Penyeberangan Orang (JPO). Aku cukup terkesan, sudah tersedia lampu lalu-lintas di jalan itu untuk mengatur orang-orang yang hendak menyeberang. Apabila orang akan menyeberang, lampu hijau dengan gambar tanda orang akan menyala hijau, disertai dengan waktu hitungan 15 detik. Setelah hitungan detik ke-15, lampu itu akan berwarna merah untuk orang yang menyeberang dan tanda hijau pada kendaraan bermotor untuk berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat lampu hijau untuk tanda orang menyeberang menyala, dengan spontan aku menyeberang. Saat itu arus lalu-lintas cukup padat dan beberapa pengendara motor menjalankan motornya cukup kencang. Aku sengaja mengambil posisi menyeberang paling kanan. Saat itulah beberapa motor tetap melaju dengan kecepatan tinggi, walaupun tanda lampu untuk mereka berwarna merah yang berarti, mereka harus berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat beberapa motor masih menyelinap, dengan penuh emosi dan gagah perkasa aku tendang sebuah motor yang hampir menyeruduk tubuhku. Dengan lantang aku berteriak, "Eh, Anda goblok banget ya? Sudah tahu tanda lampu merah, Anda jalan terus, mata Anda buta!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendara motor yang kuhardik hanya terkesima dan melotot ke arahku. Dengan segera aku acungkan jari tengah tangan kananku, dan aku berteriak, "Keparat!" -Maaf, kalimat itu kalau diterjemahkan dalam bahasa Inggris artinya Fuck You!-. Terus terang aku berteriak "keparat" dan sangat marah pada setiap pengendara motor yang tidak berdisiplin dan tak mematuhi aturan berlalu-lintas serta tak memberi kesempatan pada penyeberang jalan untuk melintas, seolah-olah jalanan hanya mereka yang punya. Keterlaluan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di dalam mal dengan bergegas aku masuk ke sebuah toko buku untuk menangkan diri. Setelah perasaanku agak nyaman, aku lantas melihat-lihat beberapa buku keluaran terbaru, mencari dan membeli buku-buku karya teman-teman yang terpajang di rak-rak penjualan buku. Hatiku benar-benar sejuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang-kadang kehidupan ini membosankan apabila dilalui tanpa tujuan. Dikerjakan tanpa ujung, tanpa pangkal. Tak heran angka orang bunuh diri makin meningkat, sebab hidup ini memang membosankan, apabila tanpa tujuan, bukan? Kurasa, pada saat yang tepat, aku berhak marah-marah dan mengumpat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berteriak keparat kepada siapa saja, sekedar seolah-olah hidup ini menyenangkan. Setidaknya emosiku sedikit redam. Tentu bukan pada Anda, pembaca yang budiman. Apalagi kini sudah bulan puasa, dimana emosi tentu harus dikendalikan secara bijaksana, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 27 Juli 2011&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-584490287137821560?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/584490287137821560/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=584490287137821560' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/584490287137821560'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/584490287137821560'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2011/08/emosi-pagi-hari.html' title='EMOSI PAGI HARI'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-1512119118835238053</id><published>2011-07-08T03:49:00.000-07:00</published><updated>2011-07-08T03:51:18.596-07:00</updated><title type='text'>KETIKA HUJAN REDA</title><content type='html'>KETIKA HUJAN REDA&lt;br /&gt;Cerpen Oleh : Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Aku benci hujan, aku benci hujan!”&lt;br /&gt; Entah umpatan atau sekadar gerutuan spontan yang terlontar dari mulutku, ketika mengetahui sore ini hujan turun sangat deras. Curah hujan semakin rapat dan di langit yang kelam petir menyambar-nyambar. Kulihat orang-orang berlarian di luar sana untuk berteduh di mana saja.&lt;br /&gt; Sesaat aku tertegun di lobi depan gedung perkantoran tempatku bekerja. Menatap  sekeliling dengan gamang. Apakah aku harus merobos hujan ini, batinku. Aku ingin segera pulang ke rumah. Aku lantas sibuk mengaduk-aduk isi tas, mencari payung lipat yang sudah kusiapkan sedari tadi saat menuju kantor pagi hari.&lt;br /&gt; Beberapa hari belakangan ini, mendung tebal selalu menggelayuti langit Jakarta, oleh karenanya, aku telah siapkan sebuah payung lipat untuk mengantisipasi hujan yang sering mendadak runtuh dari langit. Seperti kata pepatah, sedia payung sebelum hujan, maka aku adalah seorang yang cukup patuh dengan pepatah itu. Dan ternyata sore ini hujan benar-benar menyiram bumi Jakarta. Pepatah itu begitu mujarab jadinya.&lt;br /&gt; “Lebih baik hujan!”&lt;br /&gt; Tiba-tiba kupingku menangkap suara seseorang bergumam. Mungkin juga ia menjawab gerutuanku. Aku memalingkan wajah ke arah kiri sumber suara. Saat aku menoleh, mataku bersitatap dengan sebuah mata bulat, indah dan berkilat. Oh, wanita yang bergumam itu begitu cantik. Dadaku sedikit bergemuruh.&lt;br /&gt; “Anda suka hujan?” tanyaku.&lt;br /&gt; “Tidak juga,” jawabnya.&lt;br /&gt; “Kenapa Anda katakan, lebih baik hujan kalau Anda sendiri tidak suka hujan?” ujarku penasaran sambil tanganku sibuk mengaduk-aduk isi tas mencari payung. Tapi nihil. Aku tak menemukan payung lipatku. Seingatku, payung itu  sudah kusisipkan ke salah satu bagian di tasku. Mungkin payung itu tertinggal. Tapi aku yakin, payung itu sudah kumasukkan dalam tas ini.&lt;br /&gt; “Ini, pakai saja punyaku,” wanita itu menyodorkan sebuah payung lipat berwarna merah dengan tangan kirinya. Tangan kanannya memegang payung yang lain. Rupanya ia membawa dua buah payung lipat. Kuperhatikan ia sepertinya ingin meminjamkan payungnya dengan tulus padaku.&lt;br /&gt; “Kenapa payung yang merah?” gerutuku dalam hati. Aih, ternyata ia tahu isi hatiku.&lt;br /&gt; “Tidak suka merah ya?” tanya wanita itu seolah-olah ia tahu apa yang barusan kukatakan di dalam hati. Ia lantas melihat payung warna biru di tangan kanannya. Lantas ia menyorongkan payung warna biru di genggaman tangan kanannya kepadaku. Aku sempat tergeragap, tak menyangka ia sespontan itu.&lt;br /&gt; “Terima kasih, aku bawa payung kok,” jawabku singkat sembari terus mengaduk-aduk isi tas, beberapa lembar kertas kerja dan alat-alat tulis hampir berserak di lantai lobi gedung perkantoran ini. Aku lantas menepuk jidatku. &lt;br /&gt;“Ah, aku mungkin lupa!”&lt;br /&gt; “Payungmu tertinggal ya?”&lt;br /&gt; “Iya…!”&lt;br /&gt; “Masih mau?” sodornya lagi.&lt;br /&gt; “Terima kasih,” kataku sembari menerima payung dari tangan kanan wanita itu. &lt;br /&gt; Baik sekali wanita ini batinku. Ia terlihat sangat anggun, penampilannya terlihat rapi dan elegan, mungkin ia seorang sekretaris di salah satu kantor di gedung ini pikirku. &lt;br /&gt; “Kenapa Anda menawarkan pinjaman payung kepadaku? Mungkin saja arah tujuan kita berbeda,” ucapku sambil membuka lipatan payung. Lantas payung terbentang.&lt;br /&gt; “Aku rasa kita ke arah yang sama. Anda akan ke halte itu juga kan?” Wanita itu menunjuk sebuah halte yang berada persis di depan gedung perkantoran ini bukan dengan ujung jarinya, tapi dengan memonyongkan bibirnya. Aku semakin terpukau. Ah, cantik dan lucu sekali wanita ini. Darahku berdesir aneh.&lt;br /&gt; “Berarti Anda kerja di sini ya?” sahutku tidak mengiyakan pertanyaan tentang halte. “Kantor apa? Lantai berapa? Sebagai apa?” Lanjutku memberondongnya dengan pertanyaan. Aku begitu Penasaran. Ia memandangku, aku membalas tatapannya. Desiran dalam darahku menggetarkan syaraf-syarafku.&lt;br /&gt; “Aku Karin!” tiba-tiba wanita itu menjulurkan tangannya untuk bersalaman. Bodohnya diriku! Sedari tadi aku bertukar tanya dengannya, kami belum saling berkenalan. Aku membalas uluran tangan Karin dan menjabatnya erat. Kehangatan mendadak menjalar di telapak tanganku hingga ke sekujur hatiku.&lt;br /&gt; “Biola!” Aku memperkenalkan diri dengan menyebut nama panggilanku. Bukan nama panjangku.&lt;br /&gt; ”Biola? Masak lelaki, bernama Biola?” Matanya membelalak.&lt;br /&gt; ”Itu nama panggilan. Keren bukan namaku? Tapi, namamu juga keren. Karin, keren,” candaku. Ia terkekeh, pipinya merona merah. Cantik sekali.&lt;br /&gt; “Apalah arti sebuah nama. O ya, maaf,  tadi aku menyahut umpatanmu,” kata Karin sambil membuka payungnya juga. Payung warna merah itu terbentang.&lt;br /&gt; “Ya, aku benci hujan di sore hari. Jalanan pasti macet karena banjir!” Aku sedikit memberikan tekanan nada saat mengucapkan kata macet. Karin tertawa kecil melihatku, ia  melipat dan menggulung lagi payungnya yang telah dibentangkannya itu.&lt;br /&gt; ”Becek, nggak ada ojek! Ha..ha..ha,” lanjutnya sambil tertawa lepas. Aku pun ikut tertawa bersamanya. Entah mengapa, aku merasa telah sangat lama mengenal Karin.&lt;br /&gt; ”Kok payungmu dilipat lagi?” tanyaku. Ia tak menjawab.&lt;br /&gt; “Aku rasa kamu juga salah menangkap maksud perkataanku tadi,” jelasnya.&lt;br /&gt; “Maksud kamu?”&lt;br /&gt; “Aku bilang lebih baik hujan. Maksudnya adalah daripada Jakarta panas dan gerah lebih baik hujan!” Ia menegaskan.&lt;br /&gt; “Aku pikir kamu benar juga, beberapa hari ini langit selalu mendung, tetapi tidak hujan, udara menjadi sangat panas dan bikin gerah.” Aku pun ikut melipat kembali payung yang telah mengembang, seperti yang Karin lakukan.&lt;br /&gt; “Tidak jadi ke halte?” tanyaku dan Karin berbarengan. Aku menggeleng. Karin menggeleng. &lt;br /&gt; Hujan semakin deras di luar sana. Jalanan di depan gedung perkantoran kami sejak hujan belum turun memang sudah macet menjadi semakin macet, seolah kendaraan-kendaraan bermotor itu bagai melata yang malas merayap di jalanan yang basah. &lt;br /&gt; Tampaknya tidak ada bus atau taksi yang melewati halte di depan gedung ini. Terkadang aku bertanya sendiri, kemana kendaraan umum seperti bus dan taksi disaat aku begitu membutuhkan keberadaan mereka. Kendaraan didominasi oleh mobil pribadi dan sepeda motor yang bergegas menerabas hujan yang tak mau reda.&lt;br /&gt; Warna langit pun perlahan melindap menjadi suram. Senja tak merekah. Padahal aku sangat suka warna senja. Hujan menutupi warna jingga senja dengan warna kelabu. Kini langit berwarna jelaga, hitam, kelam, disertai hujan yang tak berjeda dan suara petir yang sesekali memekik memecah gelap malam.&lt;br /&gt; Aku dan Karin memutuskan untuk menanti hujan reda dan kemacetan berlalu di sebuah kedai kopi yang terletak di beranda sebelah utara gedung perkantoran ini. Di kedai yang terang dan hangat ini, kami bercakap-cakap tentang apa saja yang terlintas di benak masing-masing sambil menikmati segelas cappucino panas dan sepiring kentang goreng. &lt;br /&gt; ”Padahal aku sangat suka warna senja.”&lt;br /&gt; ”Oh, romantis sekali itu. Tapi bukan kah kamu tak suka warna merah?”&lt;br /&gt; ”Senja berwarna jingga, bukan merah.”&lt;br /&gt; ”Tapi keduanya dari dasar warna yang sama.”&lt;br /&gt; ”Ah, sudahlah, aku kan sudah memilih payungmu yang berwarna biru.”&lt;br /&gt; ”Ya..ya..ya..!”&lt;br /&gt; “Aku sebenarnya tak terlalu benci hujan!”&lt;br /&gt; “Apaaa…?”&lt;br /&gt; “Ah, bukan apa-apa.”&lt;br /&gt; Aku dan Karin kembali menyeruput cappucino yang kini sudah tak benar-benar panas dalam genggaman tangan kami hingga tuntas. Sambil tertawa berseri-seri kami menikmati suara guyuran hujan di atas kanopi kedai kopi yang berdentang-dentang bagai simponi genderang yang bertalu-talu.&lt;br /&gt; Meski makin larut, malam kian hangat. Namun kehangatan yang terjadi terasa begitu cepat berlalu dan buyar dalam sekejap, ketika istriku menelepon dan bertanya. “Kamu di mana?” &lt;br /&gt; Karin melirikku. Setengah bergegas ia berbisik padaku, ”Itu suamiku, ia menjemputku rupanya.”&lt;br /&gt; Kurasa mulutku terbuka, menganga. Lidahku kelu ketika Karin beranjak dari tempat duduk dan berlalu begitu saja.  Ingin kukatakan padanya, ”Payungmu tertinggal!” Tapi aku hanya bisa terlongo-longo sendirian dengan mulut terkunci.&lt;br /&gt; Di luar hujan telah reda rupanya. Istriku mengirim sebaris sms, galak sekali isinya. ”Cepat pulang!”***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 10 Maret 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di Riau Pos, 3 Juli 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-1512119118835238053?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/1512119118835238053/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=1512119118835238053' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/1512119118835238053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/1512119118835238053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2011/07/ketika-hujan-reda.html' title='KETIKA HUJAN REDA'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-8417680880067798810</id><published>2011-06-02T09:41:00.000-07:00</published><updated>2011-06-02T09:42:45.831-07:00</updated><title type='text'>Tuhan Memang Lucu dan Maha Berkehendak</title><content type='html'>Cerpen oleh: Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama kami mendambakan seorang keturunan. Ya, seorang anak. Aku dan istriku ingin sekali punya bayi lucu sebagaimana layaknya orang tua yang suka pamer foto anaknya di profil Facebook dan BlackBerry. Dalam kehidupan berumah tangga, mungkin itu saja tujuan kami masih bertahan sebagai pasangan suami-istri. Punya anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini buah-hati yang kami tunggu-tunggu belum juga dilepas-lepas dari genggaman Tuhan ke rahim istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya Tuhan pernah melepas calon anak kepada kami, akan tetapi Tuhan hanya menyimpan di rahim istriku sangat sebentar. Sebelum roh anak kami dihembuskan oleh-Nya ke rahim istriku, Tuhan kembali merenggut roh anak kami itu. Enam tahun yang lalu istriku keguguran. Sakit hati kami. Menangis kami setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, buah hati yang pernah singgah dalam rahim istriku, kau pergi tanpa permisi, Nak," ratapku kala itu. Kami hanya bisa termangu-mangu penuh kesedihan di subuh yang kering dan asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu seonggok daging merah kehitaman keluar dari vagina istriku. Istriku menahan rasa sakit sambil meraung-raung. Ketika dokter mengambil tindakan medis untuk membersihkan isi rahimnya. "Tuhan Maha Berkehendak," begitu kata dokter yang membersihkan rahim istriku. Dan, kami pasrah apa adanya tak berdaya. Mau apa lagi, coba? Kalau itu kemauan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku adalah pribadi dengan perilaku yang ganjil. Lebih tepat unik, aneh. Aku sering melakukan beberapa pekerjaan dalam waktu yang bersamaan. Aku seperti menjelma menjadi amuba. Bisa membelah diri. Saat aku sedang membaca di ruang tamu, maka diriku yang lain sedang menonton televisi. Atau pada saat aku mandi, maka diriku yang lain sedang menerima telepon dari seorang klien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, bahkan aku bisa menerabas lorong-lorong waktu. Bermain-main di dimensi waktu. Sesekali aku ke masa lampau dan lebih sering melesat ke masa depan. Karena, menyenangkan melihat masa depan. Di masa depan, sungguh suasananya sangat menakjubkan. Tapi, hal itu tak boleh kubeberkan di sini. Karena kalau kuceritakan di sini situasi dan kondisi di masa depan, kalian bisa ikut-ikutan gila. Lagi pula, kami–para penjelajah waktu–dilarang keras membocorkan rahasia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang teman-temanku suka tertawa geli melihat tingkah-polahku. Bahkan ada yang sampai terkikik-kikik berguling-guling di atas trotoar jalan. Dalam pandangan mereka, aku adalah orang gila yang lucu, orang gila yang menghibur. Tetapi pada akhirnya mereka akan bungkam sendiri, saat ada kejadian yang membuat mereka takjub dan terkagum-kagum tentang ceracauku jadi kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian dari teman-teman percaya bahwa aku bisa meramal. Menerawang masa depan atau bisa melihat hal-hal gaib. Aku memang bisa. Maka tidak sedikit yang berkonsultasi denganku masalah-masalah supranatural yang aku sendiri tidak tahu wujudnya seperti apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramalanku selalu tepat tentang sesuatu peristiwa atau perihal seseorang. Misalnya tentang bencana gempa atau gunung meletus. Atau tentang sakit dan kematian orang-orang yang kukenal atau tak kukenal. Aku sangat yakin diriku yang lain telah melompat ke masa depan, lalu ia kembali lagi menyeruak ke masa kini, kemudian ia membisikkan padaku tentang informasi masa depan itu yang dibutuhkan olehku. Tapi terkadang ia sangat pelit. Ia, memberiku informasi sedikit-sedikit dan terpotong-potong. Hingga aku harus menyusunnya sendiri, seperti potongan puzzle yang berantakan. Biasanya aku menyusun informasi gaib itu lewat energi yang kurasa dari aura seseorang atau aliran energi alam tertentu yang menjalari sekujur tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, lupakan dulu omong-kosongku tadi. Begini, saat ini aku sangat suka makan rujak. Istriku saja sampai terheran-heran, karena setiap hari aku makan rujak. Pagi, siang, sore, malam, dini hari bahkan subuh pun, rujak selalu kusantap. Betapa nikmatnya buah-buahan asam-manis itu kukunyah dengan bumbu terasi pedas. Ah, tak terbayangkan. Akibatnya, karena harus selalu ada persediaan rujak aku sering berburu rujak dari warung ke warung, dari penjual rujak gerobak ke penjual rujak gerobak yang lain hingga mencari rujak yang dijual di mal-mal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku seperti perempuan yang sedang ngidam. Istriku terkikik-kikik, ketika suatu hari, aku sampai linglung karena ingin makan rujak tak kesampaian. "Kamu seperti orang ngidam saja Mas," kata istriku, saat aku uring-uringan mencari penjual rujak di sekitar kompleks rumah. Tetapi tak satu pun penjual rujak yang kutemui, hingga akhirnya aku putuskan mencari rujak di sebuah mal. Karena di areal food court mal tersebut tersedia counter penganan rujak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan akan menjadi tak terkendali apabila aku tak makan rujak sehari saja. Aku akan uring-uringan sepanjang hari, dari bangun hingga kembali tidur. Emosiku akan sangat labil, aku menjadi seorang pemarah yang menjengkelkan. Kalau sudah begitu, istriku buru-buru memberiku obat penenang hingga aku tertidur lelap. Anehnya, dalam tidur pun aku bermimpi sedang mencari-cari rujak, tapi tidak ketemu. Sehingga aku mengigau tak karuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kondisiku ini, istriku menjadi prihatin. Aku pun menyetujui usulan istriku untuk berkonsultasi dengan dokter ahli jiwa atau semacam psikiater. Setelah beberapa kali pertemuan dengan dokter ahli jiwa itu. Akhirnya aku direkomendasi untuk menemui dokter spesialis kandungan oleh dokter ahli jiwa itu. Lho kok?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja aku marah. Aku tersinggung pada dokter ahli jiwa itu. Masak aku disuruh menemui dokter kandungan! Namun dengan sabar dokter itu berkata, "Bapak dan Ibu, saya persilakan untuk tes kesuburan di sana. Nah, dokter spesialis kandunganlah ahlinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas dokter jiwa itu melanjutkan ucapannya. "Mungkin, Bapak sangat berharap mempunyai seorang anak, sehingga Bapak merasa perlu makan rujak terus-menerus sehingga seolah-olah sedang ngidam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa menunggu lebih lama aku dan istriku menuju poliklinik kandungan. Singkat cerita, dokter kandungan meminta kami untuk tes urin. Bukan tes kesuburan. Air kencing kami ditampung dalam tabung botol kecil. Lalu dilakukan pemeriksaan laboratorium. Kami menunggu dengan sabar hasil tes urin tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menunggu sedikit lama, kami dipanggil kembali untuk menemui dokter kandungan tersebut. Dokter itu tidak bercakap sedikit pun. Ia memandangi kami silih berganti. Ke aku, lalu ke istriku. Aku lagi, istriku lagi. Begitu seterusnya. Sampai akhirnya ia berhenti sendiri kecapaian atau bisa jadi karena kepalanya menjadi pusing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa Dok?" tanyaku tak sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Begini Pak, hasil pemeriksaan urin yang kami lakukan, Bapak positif hamil!" kata dokter itu tercengang sendiri dengan suara bergetar hebat. Ia seolah tak percaya dengan hasil tes medis laboratorium rumah sakit ini. Ia tampak tak percaya dengan ucapannnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya hamil, Dok? Betul saya hamil?" seruku kegirangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istriku sampai bertepuk tangan mendengar kabar baik dari dokter itu dan mengepalkan tangannya, diacungkan tinjunya ke langit, lalu ditariknya ke bawah lagi di atas perutnya. "Yes!" sorak istriku histeris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian, dokter kandungan itu terkulai pingsan di kursi duduknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami lalu mengabari tentang kehamilanku kepada semua orang. Kepada tetangga, kepada teman-teman, kepada keluarga dan kerabat lainnya. Mereka sangat takjub dan tercengang, bahkan ada yang sampai kena serangan jantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan istriku tentu sangat paham dan tak heran dengan kehamilanku. Karena aku pernah sedikit membocorkan rahasia padanya perihal masa depan kami. Tentu saja, tanpa sepengetahuan para penjelajah waktu yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya setelah menjalani sembilan bulan masa hamil, aku melahirkan seorang bayi mungil yang lucu. Aku menjadi sangat terkenal, bukan saja di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia. Aku adalah laki-laki yang hamil dan kini telah melahirkan seorang anak. Bukan seperti Thomas Beatie, laki-laki yang melahirkan seorang anak, tapi ia melalui proses transgender terlebih dahulu. Aku berbeda, aku lelaki tulen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, sekarang kami sudah mempunyai seorang momongan yang terlahir dari rahimku. "Oh, Tuhan terima kasih ya," ujarku menimang bayi yang lahir dari rahimku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istriku tersenyum bahagia di sampingku, sambil mengusap-usap rambutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anakku hilang. Entah mengapa ia bisa hilang. Aku takut ia diculik. Aku ngeri sekali sampai jantungku berdebar-debar hebat seakan mengedor-gedor rongga dadaku. Saking kencang debaran jantungku, aku sangat takut tulang rusukku akan patah akibat debaran yang bergemuruh. Aku memegang dadaku untuk meredam suara debar yang mengerikan itu. Keringatku mengucur deras. Istriku membangunkan aku dari tidur, ia duduk di tepian tempat tidur yang seprainya telah kusut dan basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anak kita mana, Ma?" tanyaku pada istriku saat aku terbangun dari tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anak...? Anak kita yang mana?" balas istriku balik bertanya sambil melongo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, anak yang lahir dari rahimku tentunya!" kataku kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas...Mas, kamu kok suka mimpi yang aneh-aneh," ujar istriku tertawa menahan geli melihatku bermandikan keringat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kok mimpi yang aneh-aneh?" balasku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Makanya jangan tidur sore-sore. Pamali!" lanjutnya sembari terus terkekeh sambil berurai air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah air mata geli atau sedih. Aku menelan ludah. Cuma mimpi rupanya. Mungkin aku yang terlalu serius memikirkan soal keturunan yang belum turun-turun. Tuhan memang lucu dan maha berkehendak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 25 Desember 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-8417680880067798810?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/8417680880067798810/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=8417680880067798810' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/8417680880067798810'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/8417680880067798810'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2011/06/tuhan-memang-lucu-dan-maha-berkehendak.html' title='Tuhan Memang Lucu dan Maha Berkehendak'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-7872922876152304469</id><published>2011-01-30T06:04:00.000-08:00</published><updated>2011-01-30T06:07:43.071-08:00</updated><title type='text'>Surat Pembaca untuk KOMPAS dari Bamby Cahyadi</title><content type='html'>Surat Pembaca [untuk Redaktur Desk Non Berita KOMPAS], Gugatan terhadap Cerpen Dadang Ari Murtono dan beberapa komentar teman-teman Facebook.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jakarta, 30 Januari 2011&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kepada Yth.&lt;br /&gt;Redaktur Surat Pembaca KOMPAS&lt;br /&gt;u.p. Redaktur Desk Non Berita Kompas&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salam Sejahtera,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya sangat kecewa dengan cerpen yang dimuat di Kompas, 30 Januari 2011. Cerpen Perempuan Tua dalam Rashomon, yang ditulis oleh Saudara Dadang Ari Murtono, adalah cerpen PLAGIAT  dari cerpen berjudul RASHOMON karya Akutagawa Ryunosuke.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cerpen Rashomon karya Akutagawa Ryunosuke (cerpenis terbaik Jepang) ini, terhimpun dalam kumpulan cerita yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), pada Januari 2008 berjudul Rashomon.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya tak perlu menyebutkan di mana letak Saudara Dadang memplagiat cerpen Rashomon, seharusnya Saudara Redaktur Desk Non Berita (Sastra/Cerpen), sangat tahu bahwa cerpen Saudara Dadang (Perempuan Tua dalam Rashomon), isinya sama dengan cerpen Rashomon karya Akutagawa Ryunosuke, hanya paragraf dalam cerpen itu yang dipindah-pindah oleh Saudara Dadang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya kecewa kepada KOMPAS, karena selain cerpen tersebut (Perempuan Tua dalam Rashomon) sudah pernah dimuat di Lampung Post, pada 5 Desember 2010, kenapa pula cerpen PLAGIAT itu bisa lolos dan dimuat di Kompas Minggu, 30 Januari 2011. Padahal cerpen Dadang ini, sempat membuat polemik masalah plagiat mencuat dan didiskusikan secara terbuka di media Facebook oleh beberapa cerpenis termasuk saya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya minta Kompas menarik cerpen Saudara Dadang dan mengumumkan bahwa cerpen tersebut tak pernah dimuat, karena kredibilitas Kompas dipertaruhkan dalam peristiwa ini. Kalau Saudara Redaktur Kompas keberatan, saya bersedia menemui Saudara Redaktur untuk membuktikan bahwa cerpen tersebut PLAGIAT.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Demikian surat pembaca saya sampaikan, tanpa bermaksud menjatuhkan nama Dadang Ari Murtono sebagai cerpenis produktif yang karya-karyanya sering dimuat di media (koran nasional dan lokal), atau memang KOMPAS sudah tak memperhatikan dan tak membaca karya cerpen yang masuk ke meja redaksi. Padahal begitu banyak karya cerpen yang bagus dan berkualitas dari para cerpenis yang mengantri untuk dimuat di Kompas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Terima kasih.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salam Saya,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bamby Cahyadi (Cerpenis)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;komentar:&lt;br /&gt;Gemi Mohawk aku dukung 1000%&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;Bukti-bukti plagiat yang disari oleh Sungging Raga:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;saya di sini cuma melanjutkan bukti2 plagiat Dadang Ari Murtono terhadap karya Akutagawa yg berjudul Rashomon, saya sendiri belum sempat membuat esai, tapi sebagai soft opening, saya memint...a teman dekat saya yg kebetulan juga teman dekat Dadang untuk bertanya via sms, dan Dadang mengirimkan sms balasan kepada teman dekat saya itu, lalu teman saya ini lantas menerjemahkan sms Dadang yg berbahasa Jawa kedalam bahasa Indonesia kepada saya yg isinya seperti ini:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"maaf ya, aku gak peduli orang bilang apa. menyelesaikan? gimana? apa aku harus datang keorang orang seluruh indonesia satu persatu buat jelasin masalahnya? lha masalahnya apa? aku gak merasa punya masalah. terserah orang mau bilang apa. lha redakturnya aja nyantai kok, gak anggap plagiat kok. ya memang aku diam soalnya aku gak merasa ada apa-apa."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;berikut ini sedikit bukti2nya antara Cerpen Dadang di Lampung Post &amp; buku Akutagawa yg diterbitkan KPG&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;oya, ternyata cuplikan utuh Rashomon versi Akutagawa bisa dilihat di google books:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;http://books.google.co.id/books?id=IL2M2djhQmoC&amp;printsec=frontcover&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;=====&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cerpen Dadang:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ini adalah Kyoto, kota yang ramai dan permai, dulu. Namun, beberapa tahun silam, kota ini didera bencana beruntun. Gempa bumi, angin puyuh, kebakaran, dan paceklik. Itulah sebab kota ini menjadi senyap dan porak-poranda. Menurut catatan kuno, patung Buddha dan peralatan upacara agama Buddha lainnya hancur, dan kayu-kayunya yang masih tertempel cat dan perada ditumpuk di pinggir jalan, dijual sebagai kayu bakar. Dengan kondisi seperti itu, perbaikan Rashomon sulit diharapkan. Rubah dan cerpelai, musang dan burung punai, juga para penjahat, memanfaatkan reruntuhannya sebagai tempat tinggal. Dan akhirnya, bukan perkara aneh membawa dan membuang mayat ke gerbang itu. Setiap senja seperti sekarang ini, seperti saat si perempuan tua itu berjongkok sambil memandang wajah mayat perempuan itu, suasana menjadi teramat menyeramkan. Tak seorang pun— kecuali perempuan tua itu, tentu saja—berani mendekat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Halaman 2 Akutagawa:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kota Kyoto sesepi itu karena beberapa tahun silam didera bencana beruntun, mulai dari gempa bumi, angin puyuh, kebakaran, dan paceklik. Karena itu Kyoto jadi senyap dan porak-poranda. Menurut catatan kuno, patung Buddha dan peralatan upacara agama Buddha lainnya hancur, dan kayu-kayunya yang masih tertempel cat dan perada ditumpuk di pinggir jalan, dijual sebagai kayu bakar. Karena kondisi Kyoto seperti itu, perbaikan Rashomon sulit diharapkan. Rubah dan cerpelai, juga para pelonceng, memanfaatkan reruntuhan sebagai tempat tinggal. Akhirnya, lazim membawa dan membuang mayat tak dikenal ke gerbang itu. Karena bila senja telah tiba suasana menjadi menyeramkan. Tidak ada orang yang berani mendekat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;========&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cerpen Dadang:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah mengamati beberapa saat, perempuan itu menancapkan oncor kayu cemara di sela lantai papan, kemudian menaruh kedua belah tangannya pada leher mayat itu. Perempuan tua itu mulai mencabuti rambut panjang si mayat helai demi helai. Persis seekor monyet yang sedang mencari kutu di tubuh anaknya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Halaman 7 Akutagawa:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perempuan tua itu menancapkan oncor kayu cemara di sela lantai papan, kemudian menaruh kedua belah tangannya pada leher mayat yang sejak tadi dipandanginya. Perempuan tua itu mulai mencabuti rambut panjang si mayat helai demi helai, persis seekor monyet yang sedang mencari kutu di tubuh anaknya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;=======&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cerpen Dadang:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sambil menggenggam gagang pedang, lelaki itu menghampirinya dengan langkah lebar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ia terkejut. Saking kagetnya, ia sampai terlonjak bagai dilontarkan dengan ketapel.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Hei, mau ke mana kau?" hardik Genin itu seraya mencengkeram tangan perempuan itu yang bermaksud melarikan diri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Halaman 8:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sambil menggenggam gagang pedang ia menghampiri nenek tua itu dengan langkah lebar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sekilas ia melihat ke arah Genin. Dan saking kagetnya seketika itu pula iaterlonjak bagai dilontarkan dengan ketapel.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Hei, mau ke mana kau?" hardik Genin seraya mencengkeram tangan si nenek yang bermaksud melarikan diri,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;======&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cerpen Dadang:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Apa yang sedang kamu lakukan? Jawab! Kalau tidak mau mengaku...."Genin itu melepasKan cengkeramannya seraya menghunus pedang baja putih berkilau dan mengacungkannya ke depan mata perempuan tua itu. Namun perempuan itu bungkam, kedua tangannya gemetar hebat, napasnya terengah, matanya membelalak seperti hendak melompat keluar dari kelopaknya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Halaman 8:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Apa yang sedang kamu lakukan? Jawab! Kalau tidak mau mengaku...."Genin itu melepaskan cengkeramannya seraya menghunus pedang baja putih berkilau dan mengacungkannya ke depan mata si nenek. Tapi, nenek tua itu tetap bungkam, kedua tangannya gemetar hebat, napasnya terengah, matanya membelalak seperti hendak melompat keluar dari kelopaknya,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;======&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cerpen Dadang:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Aku bukan petugas Badan Keamanan. Aku kebetulan lewat di dekat gerbang ini. Maka aku tidak akan mengikatmu atau melakukan tindakan apa pun terhadapmu. Kau cukup mengatakan sedang melakukan apa di sini."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Halaman 9:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Aku bukan petugas Badan Keamanan. Aku kebetulan lewat di dekat gerbang ini. Maka aku tidak akan mengikatmu atau melakukan tindakan apapun terhadapmu. Kau cukup mengatakan sedang melakukan apa di sini."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;========&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Terakhir, yg sudah sempat di-paste Bung Bamby:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cerpen Dadang:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perempuan tua itu melanjutkan, "Ya... memang, mencabuti rambut orang yang sudah mati bagimu mungkin merupakan kejahatan besar. Tapi mayat-mayat yang ada di sini semua pantas diperlakukan seperti itu. Perempua...n yang rambutnya barusan kucabuti, biasa menjual daging ular kering yang dipotong-potong sekitar 12 cm ke barak penjaga dan mengatakannya sebagai ikan kering. Kalau tidak mati karena terserang wabah penyakit, pasti sekarang pun ia masih menjualnya. Para pengawak katanya kerap membeli, dan mengatakan rasanya enak. Perbuatannya tak dapat disalahkan, karena kalau tak melakukan itu ia akan mati kelaparan. Ia terpaksa melakukannya. Jadi, yang kulakukan pun bukan perbuatan tercela. Aku terpaksa melakukannya, karena kalau tidak, aku pun akan mati kelaparan. Maka, perempuan itu tentunya dapat pula memahami apa yang kulakukan sekarang ini."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Halaman 9 - 10:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Ya... memang, mencabuti rambut orang yang sudah mati mungkin bagimu merupakan kejahatan besar. Tapi, mayat-mayat yang ada di sini semuanya pantas diperlakukan seperti it...u. Perempuan yang rambutnya barusan kucabuti, biasanya menjual daging ular kering yang dipotong-potong sekitar 12 sentimeter ke barak penjaga dan mengatakannnya sebagai ikan kering. Kalau tidak mati karena terserang wabah penyakit, pasti sekarang pun ia masih menjualnya. Para pengawal katanya kerap membeli, dan mengatakan rasanya enak. Perbuatannya tidak dapat disalahkan, karena kalau tidak melakukan itu ia akan mati kelaparan. Ia terpaksa melakukannya. Jadi, yang kulakukan pun bukan perbuatan tercela. Aku terpaksa melakukannya, karena kalau tidak, aku pun akan mati kelaparan. Maka, perempuan itu tentunya dapat memahami pula apa yang kulakukan sekarang ini."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;====&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;karena terburu-buru, cukup sekian yg bisa ditampilkan :)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jafar Fakhrurozi :redakturnya lagi pada stress mikirin gayus..&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Benny Arnas: Bang Bamby seharusnya bukti-bukti plagiasi seperti yang diuraikan Bang Bamby dan Sungging Raga, juga disertakan sebagai lampiran.Karena aku gak yakin kalau REDAKTUR KOMPAS mau mencari buku terbitan KPG itu, secara dia/mereka kan pemalas .... :-)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bamby Cahyadi : ‎@ Benny: semoga email yang kukirim tadi pagi dibaca oleh mereka, kalaupun mereka malas membaca, saya siap dipanggil ke kantor redaksi KOMPAS yang terhormat itu!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Linda Christanty : Waah, Mas Bamby. Plagiarisme harus dilawan. Itu kejahatan. Aku dukung. Yang penting Mas Bamby punya bukti. Kalau sudah terbukti begitu, setahuku Kompas juga tegas kok pada plagiarisme. Dulu ada yang menjiplak cerpen juga dan artikel juga dan sempat dimuat di Kompas, lalu mereka black list setelah tahu bahwa para penulis itu menjiplak karya orang lain, nggak bisa menulis lagi di situ. Aku dukung Mas Bamby. Basmi plagiarisme!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Fahri Asiza:&lt;br /&gt;Secara garis besar, saya sependapat dengan isi surat pembaca mas Bamby ke Kompas. Hanya saja, tampak kesalahan ini ditumpahkan ke Kompas dan sepenuhnya seolah menjadi tanggungjawab Kompas (mengingat cerpen colongan ini pun pernah dimuat di ...Lampung Post).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Padahal jelas ini adalah bentuk kecurangan dan miringnya Dadang Ari Murtono yang rupanya tak punya harga diri atau bahkan sebenarnya tak mampu menulis sebuah cerpen, dan menjadi maling dengan nyolong karya orang lain.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebagai cerpenis yang lebih dari tiga kali karyanya diplagiat orang, bahkan ada yang hanya mengganti nama pengarangnya saja, saya jelas "terluka" dalam kasus Dadang, sang plagiator.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tapi apa pun itu, saya sepenuhnya mendukung Mas Bamby...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Benny Arnas:  aku menampilkan semua bukti plagiasinya dalam komenku di website KOMPAS.COM. Semoga dibaca. thx&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Anita Lindawaty SSi MSi : apa kita belum punya undang2 ttg plagiator yak? ummm... tentang sangsi nya misalnya? ini jelas2 melanggar Hak Kekayaan Intelektual (HKI) loh... kayaknya ada organisasi yg ngurusin HKI deh... mesti email ke sana juga barangkali?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Benny Arnas: wah, komenku di KOMPAS.COM mental. modemku bermasalah lagi dahj kayaknya.&lt;br /&gt;Ini link-nya, Bang. Tapi, bang bamby kudu daftar jadi member dulu.&lt;br /&gt;http://cetak.kompas.com/read/2011/01/30/04092193/perempuan.tua.dalam.rashomon&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bamby Cahyadi ‎: @ Anita: saya tidak tahu untuk dunia tulis-menulis, namun saya rasa harus ada sanksi moral bagi plagiator. Minimal para redaktur surat kabar dan majalah, tidak memberi ruang bagi sang plagiator.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Yetti A. Ka : dukung mas Bamby,soalnya bukti terjadi plagiat itu sangat kuat...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tina Chi : udah plagiat ga merasa bersalah pula. masih kah ada kebanggaan sebagai penulis kalo yg mampu ditampilkannya adalah copas karya orang lain? sedikit modifikasi mah ga ada artinya. semoga tak banyak yg seperti ini...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Fahri Asiza:&lt;br /&gt;Hari yang mengecewakan, cerpenis Dadang Ari Murtono, jadi maling dengan nyolong karya orang lain yg diketok magic seolah jadi karyanya sendiri... bahkan karya colongan itu dimuat dua kali, pertama di Lampung Post dan kedua di Kompas (hari i...ni). Bagi teman-teman yang ingin tahu lebih jelas, silakan baca notes Bamby Cahyadi dan Tanpa Nama... *Jangan pernah jadi maling dgn nyolong karya orang lain. Basmi plagiatrisme!*&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;- statusku hari ini, sayang blackberry gak bisa overlink*&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lanang Sawah:  wahwah. selama tujuh tahun aku jaga rubrik budaya MI, hal yang sulit dihindari pada soal teknis seperti ini. redaktur tak mungkin membaca secara menyeluruh karya-karya yang bertebaran di mana-mana. ada kasus dan sering terjadi, satu orang mengirim ke berbagai media dan dimuat bersamaan. tapi kalo unsur plagiat seperti ini, biasanya redaktur langsung beri black list bagi cerpenis...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ahda Imran:&lt;br /&gt;Awalnya saya kagum membaca nama cerpenis Kompas yg baru pekan kemarin kami muat cerpennya di Pikiran Rakyat. Tapi Kekaguman saya berubah menjadi kekagetan membaca cerpen tersebut yang rasanya saya hapal benar setiap deskripsi dan dialognya.... Ini memaksa saya mengambil buku kecil "Rashomon" Akutagawa yang diterbitkan "aku baca" (2003). Saya tak percaya mengapa teman2 Kompas bisa meloloskan cerpen sejenis ini, seperti juga saya tak habis pikir mengapa Dadang Ari Murtono (DAM) melakukannya tanpa berpikir orang akan tahu muasal gagasan cerpen ini. Tapi lebih tak mengerti lagi saya membaca forward SMS DAM di atas. Tapi apapun, thx Bamby...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kurnia Effendi:&lt;br /&gt;Bamby, berbekal obrolan kita di Penus TIM beberapa waktu lalu mengenai karier Dadang Ari Murtono, aku sudah mengirim SMS langsung kepada Redaktur Kompas. Ia berjanji akan cek ke Facebook mengenai hebohnya plagiarisme yang dilakukan Dadang. ...Bahkan surat pembacamu ini plus kutipan perbandingan dari Sungging Raga juga sudah saya kirim kepada Red Kompas via inbox. Namun demikian, kejadian ini menunjukkan bahwa Kompas tidak membaca media lain atau isu sastra di media maya.&lt;br /&gt;Trims, Bamby&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tina Chi : Mas Bamby, usul ya...lain kali kalo ada kejadian seperti ini, tagging lah sebanyak mungkin temanmu, trutama yg concern sm mslh seperti ini. saya sependapat kalo ini tdk mutlak jd tg jawb redaktur, setidaknya mungkin kita bisa mempersempit ruang buat para plagiator itu. dan buat yg baru berniat...biar pikir ulang...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Endah Sulwesi : Aku pun kaget saat mlembuka lembaran sastra Kompas hari ini. Hah? Cerpen ini lagi dan pelakunya org yg sama pulak? Langsung telp bamby utk memastikan. Eh, rupanya bamby sdh bergerak cepat menyikapi hal ini. Dadang, masa kamu begitu bebal sih mengulang-ulang kesalahan yg sama? Apa bagimu tak penting sebuah nama baik dan kehormatan?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lanang Sawah urnia : dalam satu hal keliru. redaktur sastra dengan segala keterbatasannya tak mungkin memantau semua isi rubrik sastra. Ada ratusan cerpen yang masuk setiap hari. Ini murni kesalahan cerpenis.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Isbedy Stiawan Z S : Sungguh, ini kelalaian redaktur DNB Kompas yang fatal. Cerpen 'plagiarisme' ini juga justru perah dimuat Lampung Post beberapa pekan lalu. Kita bukan saja memboikot cer[en Kompas, tapi media massa wajib membokit penulisnya. Orang-orang yang melakukan plagiat tak boleh dibiarkan 'hidup'.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lanang Sawah:  isbedy pernah jadi redaktur sastra. harus melihat dalam perspektif ketika dia di dalam. bagaimana redaktur mengelola ratusan cerpen yang masuk setiap hari. Isbedy pernah merasakan tentunya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Anita Lindawaty SSi MSi : mohon izin punjem url link note ini utk ku posting di twitter &amp; koprol ya bam. biar lebih banyak orang yg tau dan perduli. semoga sanksi moralnya lebih berasa...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ahda Imran:&lt;br /&gt;Benar kata Lanang. Memantau puisi, cerpen, dan esai yang bertebaran di berbagai media memang sangat sulit. Meski lewat online. Kami pun sekali pernah kecolongan memuat esai yg ternyata baru minggu dimuat di media lain, seperti sebuah media ...memuat esai yg pernah kami muat sepekan sebelumnya. Tapi dalam kasus DAM ini, saya kira sepenuhnya kelalaian redaktur. Cerpen Akutagawa itu adalah cerpen yg sangat terkenal, jadi sulit saya bisa mengerti jika seorang redaktur sastra tidak mengenal cerpen itu. Seandainya itu adalah cerpen O Henry (atau cerpenis terkenal siapapun) yang belum diterjemaahkan, maka mungkin bisa kita mengerti kalau redaktur kecolongan. Paling tidak ada celah alasan ihwal keterbatasan bacaannya. Tapi ini, Akutagawa gitu lhoo... .&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lovely Aan Loverstopia :Cerpen berjudul Pengisah Akutagawa karya Dadang Ari Murtono juga muncul di majalah Horison bulan Januari 2011. Hehew, banyak banget ya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lanang Sawah : ahda, kita sama2 penulis. kita sama2 menjaga rubrik sastra. terlepas dari posisi kita sebgai redaktur budaya, ada satu hal yang harus diingat, bahwa redaktur sastra dalam konstelasi kerja di media massa, tak hanya ngurus rubrik sastra. ia juga harus berurusan dengan persoalan tetek bengek teknis lainnya, yang tak punya kaitan denga soal-soal sastra. saya pikir Can, dalam konteks seperti ini, ia bukan manusia setengah dewa, yang punya ingatan per detik dan per menit, tuk mengumpulkan berbagai memori bacaan yang bersemayam dalam dirinya&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ady Azzumar : berawal pengekor + epigon + lalu menjadi plagiat. menyedihkan.&lt;br /&gt;bang Bamby: izin Share untuk menjadi bahan perbincangan kami.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Isbedy Stiawan Z S:&lt;br /&gt;LS: ya, itu sebabnya, sebagai redaktur boleh saja gunakan 'rasa curiga' terlebih dulu. Bedanya redaktur di luar Kompas hanya seorang, bisa saja terjadi kea;faan, tapi Kompas konon beberapa orang hingga terakhir sebagai penentu. Memang lumra...h kalau redaktur tak m[ampu membaca seluruh karya sastra yang ada di dunia ini. Tapi kan karya sastrawan Jepang ini sudah dibukukan oleh grup Kompas dan berkali-kali dipentasteaterkan dengan judul Rashomon (Komuntas Berkat Yakin -- KoBer Lampung kalau tak salah ingat juga pernah mementaskan naskah ini Taman Budaya Cak Durasim dan sejumlah panggung lainnya.&lt;br /&gt;Trims Lanang dan Ahda yang telah 'mengingatkan' saya, meski untuk kasus plarisme cerpen ini tetap fatal. Sedang untuk yang lain, saya memaklumi mengingat seorang HB Jassin saja pernah salah saat memenangkan sebuah cerpen pada sebuah sayembara majalah. Namun kemudian Jassin mentolerir kemenangan naskah itu terlepas apakah hadiahnya dikembalikan ke panitia. Sekali lagi aa dan trima kasih buat Lanang dan Ahda.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lanang Sawah : ya sama-sama isbedy. menjadi penulis dan pengarang butuh niat baik tak sekadar menguar kreativitas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bamby Cahyadi : Cerpen Dadang Yang di majalah horison, silakan para pembaca menilainya sendiri, apakah kisahnya mirip Kappa-nya Akutagawa, atau Dadang menjelma menjadi pentutur ulang Almarhum Akutagawa Ryunosuke. Cerpen Dadang Pengintai yang dimuat di Suara merdeka lantas dimuat ulang di Pikiran Rakyat, konon kabarnya ditujukan utk kami yang mencibir dia saat cerpen perempuan tua kami sebut plagiat. Kami tidak iri pada sdr. Dadang, tapi kami prihatin dia membunuh dirinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Anita Lindawaty SSi MSi : begitu banyak cerpen yg dijiplak DAM, jangan2 DAM tergolong plagiator sejati...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ahda Imran:&lt;br /&gt;Betul, Lanang. Tak hanya yg berurusan dengan teks, bahkan sampai urusan2 keluhan adminstrasi para penulis. Apalagi jika dicampur dengan kewajiban dan tugas2 peliputan yang lain. Keterbatasan ingatan itu aku paham. Tapi, seperti saya sebut,... Akutagawa bukanlah cerpenis yang asing.Terlebih lagi dengan penyebutan "Rashomon". Nama Akutagawa dan Rashomon nyaris tak bisa dipisahkan. Jika benar karena keterbatasan ingatan, yg karena itu kita harus memakluminya, untuk Akutagawa dan Rashomon, tetap sulit saya mengerti. Kecuali jika kita memang ingin melihat soal ini dari sudut pandang yang normatif, namanya juga manusia pasti ada salah dan khilafnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Han Gagas : Sy senang mas bam sdh bergerak jg kef, dan redaktur2 lain. Smoga upaya kt mengungkap yg dl lwt tag sungging raga terblow up lbh bsr lg dan yg terpenting adalah diketahui redaktur2 koran seluruh Indonesia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Donatus A. Nugroho : Gawat ini ... sedih aja mendengarnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Han Gagas Jgn: lupa beberapa cerpen dadang dulu jg dobel dimuat media jd tak hanya ini shg spt menyimpulkan bhw dia berwatak buruk haus publikasi dg melakukan kecurangan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lanang Sawah:&lt;br /&gt;memang agak sukar Ahda jika cerpen itu terkait seorang empu seperti Akutagawa.saya tak mencoba berpikir normatif dan skripturalis, tapi jujur agak susah memang. niat baik pengarang harusnya diutamakan. menjadi pengarang tak sekadar menguar ...karya tapi sikap pengarang menjadi bagian integral proses kreativitas.&lt;br /&gt;Sekadar tambahan buat isbedy, setahu saya, bebrapa orang yang membaca cerpen kompas sebelum diacc, datang dari redaktur2 non desk sastra, wewenang sepenuhnya ada di redaktur sastra. Jadi sejatinya sama. ia sendiri, yang lain hanya ikut membaca. Tapi ini cerita yang pernah dipaparkan Bre Redana. Entah sekarang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Han Gagas : Dan smg para redaktur2 itu slg berkontak spt yg kt lakukan di fb sbg cerpenis yg sm2 berproses.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saut Poltak Tambunan: Bamby, suratmu tidak akan ditanggapi karena 'tidak sesuai untuk Kompas, tidak sesuai selera redaksi, dan 'tidak melebihi 10000 karakter."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bamby Cahyadi : Hahaha, iya ya. Tapi paling tidak aku mewakili cerpenis yang suka kirim ke kompas dan ditolak, karena masalah tdk sesuai dgn kompas, dan atau kelebihan karakter 10rb, sehingga jelaslah bahwa cerpen minggu ini yang sesuai dgn kompas adalah cerpen plagiat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Holy Adibz : lebih karya asli meski tidak dimuat di media, daripada dimuat di KOMPAS, tapi PLAGIAT. memprihatinkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ribut Wijoto: kita tunggu tanggapan kompas. jika tidak ditanggapi, saya kira kompas akan rugi sendiri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saut Poltak Tambunan : Setuju, Bamby, kompas bukan ukuran sastra di negeri ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kartika Catur Pelita : Ketika karya penulis dimuat bersamaan pada beberapa media, mungkin kita bsia maklum bawa hal ini bukan sebuah kesengajaan. Tapi jika cerpen tersebut sengaja di tebar pada beberapa media- cerpen itu ternyata plagiat pula, sangat tidak etislah yang dilakukan pengarang tersebut! Sebagai pelaku sastra(penulis) seharusnya pegang kode etik kepenulisan dan moral. Sastra merupakan kreatifitas keindahan berbasis kejujuran, tentu.Buat Bung Bamby-salut- kebenaran memang harus disuarakan!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nita Tjindarbumi :kalo kompas bukan ukuran sastra di negeri ini, yah ngapain capek2 antri di kompas ya? mungkin lebih asyik kalo nulis cerpen untuk Bobo saja..menulis cerita anak konon susah juga...hiks..&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saut Poltak Tambunan:  Nita, daripada jadi pengarang plagiat, aku lebih suka diajarin merajut saja!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aba Mardjani : Lima atau mungkin 10 tahunan lalu, setahuku, Cerpen Kompas diseleksi 5 orang (untuk dimuat skor setidaknya harus 3-2). Belakangan kudengar 3 orang (2-1), entah sekarang....&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Haya Aliya Zaki :  Di Bobo juga antreee...:D&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nita Tjindarbumi:&lt;br /&gt;Bang Saut...banyak membaca tulisan orang juga bisa mempengaruhi orang untuk jadi plagiat, meniru gaya, mencuri kalimat bahkan sampai parah kalo menjadi cerpenis Copas...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;memang lebih baik belajar merajut aja. mending ditulis di kompas karena... merajut deh..kalo antrian panjang untuk cerpen...kan podo2 masuk kompas...hehehe&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bamby Cahyadi:&lt;br /&gt;Cerpen Pengintai karya Dadang yang dimuat di suara merdeka, lantas dimuat lagi di pikiran rakyat, konon kabarnya ditujukan pada kami, krn mencibir dan menuduhnya plagiat, saat cerpen perempuan tua dimuat di lampung post. Karena dadang sendi...ri tdk pernah dgn elegan menanggapi kritik dan kecaman kami secara langsun. Dan, akibat dia "keroyok" maka dia seolah menjadi orang yg tertindas, seminggu kemudian, sampai minggu ini cerpennya dimuat diberbagai media koran dan majalah. Lucu ya, Tuhan selalu mendengar doa orang2 yg tertindas. Sehingga cerpennya dimuat di Kompas. Maka, dgn bangga Dadang berkata, "Bamby, kamu salah menilai saya! Buktinya cerpen saya diterima Kompas koran barometer sastra indonesia." (dialog itu bukan dari dadang, tapi semata buatan saya sendir)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saut Poltak Tambunan: He he he, pengarang Kompas dan pengarang Copas. Keren!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kartika Catur Pelita: Nita Tj@(salam kenal) Iya Mbak. Walau beberapa cerita anak sudah dimuat di media koran lokal, (seperti halnya cerpen dewasa)cerpen anak di Kompas adalah ukuran utama- prestasi prestesius ketika karya kita berhasil dimuat disana.Karena menulisi cerpen anak gampang-gampng susuah juga. Beberapa cerpen yang kukrim masih dikembalikan dengan catatan ide sama udah pernah dimuat atau bahasa masih dewasa! Hehehe&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Yadhi Rusmiadi Jashar : Menyedihkan.... Saya mulai berpikir untuk menarik semua cerpen saya dari note fb. Di tangan orang kreatif (baca: kere aktif), cerpen saya yang tak bagus itu bisa saja disulap, diperindah, direkonstruksi lalu dilabeli namanya. Kemana tempat mengadu? Bagi DAM berlaku hukum "Tuhan telah Mati". Ini sebuah kejahatan!!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nita Tjindarbumi:&lt;br /&gt;kartika...hehehe..aku hanya suka dengan note ini, sama spt reaksi orang pada kasus gayus...gemes..padahal gayus gak bisa sepenuhnya disalahin. Selain itu, aku cuma penikmat saja. bukan cerpenis. belajar gak pinter2 makanya diledekin BAng Sa...ut yang tahu aku lebih suka merajut dari pada antri di kompas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;menulis cerita anak juga gak pernah. katanya susah banget ya? dengan ikut nimbrung disini harapanku bisa belajar tentang cerpen dan sastra...aku buta akan sastra...hiks..&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saut Poltak Tambunan : Aku share ya, Bamby, biar nenekku yang di kampung ikut baca.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hutasuhut Budi : Seperti kata Budiarto Danujaya di Kompas yang sama: "orang Indonesia hanya sibuk merayakan popularisme". di sana ada ekonomi dan semua cara pasti ditempuh.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Amaq Shofia : Kompas sering kecolongan. Selektifitas rendah&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Shinta Miranda : bukti kalau kompas memang mau menggampangkan saja, begitu banyak cerpen bagus menanti - tapi redaktur kompas memang malas !&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hutasuhut Budi NT: kalau sudah nulis di kampung, pasti dimuat Kompas. buktinya, cerpen Rashomon ini. ha...ha...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kartika Catur Pelita : Hei, aku pernah baca cerpen Mbak Tita- di Anita -dulu, sekarang STORY. Jam terbang Mbak lebih banyak daripada aku. Sama lah Mbak gemes jg karea dimuatanya cerpen tersebut berarti mematikan sebuah kesemptan tampilany cerpen lain-apalagi pengarang yang belum pernah karyanya dimauat di Kompas-dan sedang berjuang keras untuk bisa tampil! Hehhe. Semoga aja di masa mendatang kejdian ini gak terulang. Btw, redaktur kecolongan. Hal ini pernah terjadi pada media lain, misal STORY. Hehehe&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nita Tjindarbumi:&lt;br /&gt;HB...kebiasaanku kalo udah kirim cerpen ke satu media, ya langsung lupa deh ama cerpen itu. ada beberapa cerpenku belum ada kabarnya udah lama juga...mau aku baca ulang..lha kok raib...jadi gak mungkin deh aku kirim dobel...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;tapi aku mau kok... kapan2 nulis di koran kampung halamanku...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hutasuhut Budi : Bamby hal buruk selalu terulang, kawan. beberapa waktu lalu kita mempersoalkan cerpen yang sama. ini kita persoalkan lagi. redanden dan de javu betul. artinya, negri ini gak berubah-berubah mengulangi kekeliruan demi kekeliruan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nita Tjindarbumi:&lt;br /&gt;Kartika....Ampun..ampun... cerpenku cuma sesekali kok. Kalo aku masa bodoh amat ah ama plagiat2 itu, aku juga gak usah pake gemes kalo cuma mematikan atau apa..santai ajalah. menulis ya menulis.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;kalo cuma plagiat di urusan lain aku dah bolak...-balik alami, rajutan2ku banyak yang niru, ide2ku banyak yang curi, bahkan koleksi2 ada yang contoh...dan jadi juara...hihihi..mereka baru bilang setelah jiplak karyaku...gpp..kalo itu bermanfaat bagi mereka dan membuat mereka bangga...tokh akhirnya mereka minta maaf dan berterima kasih juga padaku....kalo gak lihat karyaku mereka belum tentu dapat juara...yang sabar aja deh hadapi begituan...soal antrian ...kalo karya kita bagus ntar juga nyampe...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto&lt;br /&gt;Inilah kalau dimuatnya tulisan di koran masih jadi ukuran keberhasilan seseorang dalam menulis karya sastra atau tidak, semakin populis sebuah media, maka kualifikasi akan semakin terancam degradatif, kaum sastrawan harus memperhatikan hal ...ini tapi juga tidak mengecam apa yang dilakukan Denny adalah juga sebuah pancingan untuk memperhatikan karya orang pada bangsa lain, mustinya disini yang salah redaktur Kompas. Dia harus menulis bahwa karya ini disadur dari karya Akutagawa Ryonosuke sehingga tidak terjadi polemik semacam ini, redaksional KOMPAS tentunya tidak sebodoh yang kita kira, apalagi sebelumnya mereka menerbitkan karya yang sama lewat perusahaan penerbitan satu grupnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Polemik ini mirip dengan kasus Gayus yang terpotret 'tanpa sengaja' kemudian beritanya jadi blow up. Dengan blow up gaya Bamby ini juga akan muncul Polemik sehingga buku terbitan kompas bisa tersosialisasi tanpa sengaja, indikasinya mengarah kesana.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jadi Mas Bamby anda terlalu lugu membaca keadaan, serangan anda mustinya jangan ke KOMPAS tapi tunggu waktu yang tepat untuk menelanjangi Denny sampai momen penerbitan buku cerpen itu kadaluwarsa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selain itu janganlah kita terlalu melihat koran sebagai satu-satunya arus pusar kebudayaan, sastra koran saat ini adalah sastra yang dangkal, yang diproduksi dengan asal-asalan tidak bermutu sama sekali. Karya sastra yang hidup itu justru yang banyak bertebaran di luar koran selain buku jaringan sosial media juga pelan-pelan akan menjadi media penting bagi pertumbuhan dunia sastra kita, sudah saatnya sastra koran ditinggalkan karena dengan menghamba pada sastra koran maka kita memberikan kuasa hanya pada redaktur bukan pembaca sebagai akhir dari segala akhir.........&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kurnia Effendi:&lt;br /&gt;‎@ Lanang: Edy, thanks. Iya sih, sebagai redaksi memang berat tanggung jawabnya. Tapi aku juga setuju dengan Ahda Imran dengan penjelasannya itu. Aku juga langsung mengingatkan Can di luar forum agar cross check serta membuka facebook. Maks...udku, kebetulan kasus ini pernah ramai dibicarakan sebulan lalu dan cerpen yang diplagiat oleh DAM bukan karya seorang pemula.&lt;br /&gt;Aku setuju dengan cara Nirwan Dewanto yang selalu menelepon lebih dulu pengarangnya sebelum memuatnya untuk memastikan banyak hal mengenai cerpen bersangkutan. Salam&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nita Tjindarbumi : Setuju Keff...mungkin itu cara aman juga ya..atau kalo perlu bikin surat pernyataan din atas materai kalo cerpen itu belum pernah dimuat atau dipulbikasikan dalam bentuk apapun....aman deh...redakturnya, maksudku...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kartika Catur Pelita NJ: Setuju, Mbak. Terus menulis sastra- meruapkan keindahan permainan kata bertumpu kejujuran@ES(salam kenal) Iya, mbak, siapapun penulis tentu terpengaruh pada pendahulu kita, sah-sah aja,tapi memplagiat nggak deh, beranak pinak ide berkeliaran dan bisa diwujudkan karya sebatas kemampuan kita yg diberi talenta menulis! BISA!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Anita Lindawaty SSi MSi:  bam, note yg ini tolong dibikin public ya, biar link nya bisa dibuka &amp; dibaca dari luar fb, termasuk temen2 yg bukan temen fb bamby. thx&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kartika Catur Pelita :Saut Poltak@ salam kenal! Sy baca karya Bung semenjak sy SMP! @Shinta M: Prihatin. Ingat ja perjuangan temen2 penulis yang bikin cerpen(orisinil) sebagus mungkin agar bs dimuat di Kompas, mereka trus kirim berharap satu hari impian mencatakan nama dan cerpenny di Kompas terwujud!@Hutasoit: PR penting penyuka n pelaku dunia sastra, termasuk penulisnya ya?!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Anita Lindawaty SSi MSi : bisa dimaklumi jika dengan segala keterbatasan sebagai manusia redaktur sastra KOMPAS kecolongan, lah yg paling penting kan SIKAP nya setelah tau dan dapat info dari banyak kalangan seperti ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nancy Meinintha Brahmana:  weleh...weleh....muantaplah....makanya ah ah ah..., jadilah diri sendiri ya...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bamby Cahyadi ‎@ Anton: koreksi mas, nama cerpenisnya Dadang, bukan Denny.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dan, aku sangat setuju tentang barometer sastra pendapat bung Anton Djakarta ini. Namun dalam hal lugu aku kira, caraku cukup sopan hehehe.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Khrisna Pabichara : Kasihan Kompas! Ikut prihatin atas arogansi Dadang Ari Murtono. Rasanya, kritik lembut yang kerap saya tuturkan di media sama sekali tak mengendap dalam memorinya. Bahkan keledai saja enggan jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Salam takzim Kompas, salam tobat Dadang!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saut Poltak Tambunan : He he he, nenekku sudah baca status Bamby ini di kampung. Katanya, sudah plagiaris (sudah dirame-ramein di FB), dimuat ulang, di Kompas pulak!!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;("Ompung, ampunilah mereka, mereka tidak tahu apa yang sudah mereka perbuat.")&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ady Azzumar: biasanya sriti.com selalu update cerpen yang di muat di seluruh koran.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Khrisna Pabichara:  ‎@Ady: Mengingat betapa banyaknya cerpen yang masuk ke redaksi Kompas, pastilah sibuk redakturnya untuk membuka laci arsip sriti.com. Akan tetapi, dalam hal ini berpulang ke lubuk hati Dadang. Kecuali kalau Dadang telah kehilangan nurani.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bamby Cahyadi ‎@ Ady: Sriti.com lagi kena serangan hacker. Begitu berita dari mas chus, mas rachmat dan mas wim&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pratiwi Setyaningrum :Atau. Mungkin lagi butuh sembako BANGET, hingga rela pertaruhkan nama '.')?im.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Khrisna Pabichara ‎@Pratiwi: Kalau alasannya seperti itu, kenapa tidak mengedarkan kotak sumbangan saja?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nassirun Purwokartun: koin for DAM!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Khrisna Pabichara ‎@Nas: Betul! Koin untuk DAM!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pratiwi Setyaningrum : Aye! KOIN FOR DAM&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gunawan Maryanto: tanggung jawab terbesar ada di penulis. apa pun alasannya dia harus bisa mempertanggungjawabkannya. kompas menjadi korban karena tidak teliti. tapi rashomon gitu loh, masak gak tahu&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bamby Cahyadi Pasti arwah arwah Akutagawa sedang gelisah hehehe.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kurasa Dadang: tdk punya masalah dgn honor, tapi dia keblinger utk cepat populer.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Panah Hujan: Wah, ini menarik. :D&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Yadhi Rusmiadi Jashar: Saya telah membaca jawaban Dadang tentang polemik "Plagiarisme Rashomon" ini beberapa waktu lalu (Sebuah jawaban atas tudingan Bamby dkk. terhadap cerpennya). Dengan bahasa yang berbelit, penuh kalimat-kalimat bersayap, jawaban Dadang semakin menegaskan kalau dia dengan sadar memplagiasi karya Akutagawa itu!! Dengan bahasa yang lembut Dadang seakan menantang, "Gue emang njiplak. Eloe mau apa!".&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nassirun Purwokartun :koin for keblinger!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ady Azzumar:&lt;br /&gt;sepakat dengan bang Saut Poltak Tambunan:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Pertanyaan: Masih pantaskan Kompas kalian jadikan ukuran sastra negeri ini?"&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;jujur, aku lupa baca esais siapa penulis dan pengarangnya, yang aku ingat dalam kutipan tulisan itu, "Ukuruan sastra nege...ri ini, ada 3: 1. Majalah Horison, 2. Fakultas sastra UI, 3. Koran Kompas."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;entah benar atau tidak, riset dan yang di tulis ke tiga di atas, saya hanya pembaca.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nurel Javissyarqi : Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un (انّا للہ و انّا الیہ راجعون), telah gugur pahlawanku.....:) suwon sanget infornya bung Bamby, ini sangat bermanfaat untuk sekalian alam semesta...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Binhad Nurrohmat: Gimana komentar Akutagawa Ryunosuke? Dari Gresik saya menerawang ke Jepang... Akutagawa heran, kok tiba-tiba dia bereinkarnasi menjadi orang Jawa...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Khrisna Pabichara ‎@Binhad: Baru saja Akutagawa mengirim poesan pendek ke batin saya, Bang Binhad. Katanya, korupsi sudah merambah wilayah kepengarangan di Indonesia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pratiwi Setyaningrum:&lt;br /&gt;OH, JADI EMANG SENGAJA. Nah, yang kasian itu yang begini ini. Hah. Kecewa de au. Maka butuh tak butuh, MY COIN FOR DAM.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kata orang, jadilah orang terkenal. Kalo cerpenis ya cerpenis terkenal. Kalo penjiplak gatau malu, ya penjiplak gatau mal...u terkenal lah. Lumayan bisa buat dipamerin ke anak cucu, hehe&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bamby Cahyadi : Kalau Dadang mengaku dirinya reinkarnasi akutagawa maka habislah perkara hahaha&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nassirun Purwokartun :gelar pengadilan!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Budi Setiyarso : hahaha....ketika td pagi membaca cerpen itu. saya yakin pasti akan ada reaksi yang dahsyat di kalangan cerpenis&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Khrisna Pabichara ‎@Nas: Ayo, kita gelar!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Binhad Nurrohmat :Ini bukan kasus sastra. Ini kasus moral pengarang. Laporkan kasus ini ke kantor filsuf terdekat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lina Kelana : wah..... ini namanya kejahatan.....&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ferdinandus Moses : Atas nama OPPSI (Organisasi "Pembebasan" plagiarisme Sastra Indonesia) di mana berada, mengutuk tindakan pengambilalihan teks di atas "kekuasaan" pengarang! dukung Bamby! Dadang Ari Murtono, saya mencarimu! Dalam Republik Mimetis Sastra Indonesia (RMSI), silakan "terisnpirasi" TANPA (BUKAN) menjiplak! Sekian dulu dan terima kasih. Salam hangat kawan semua..&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Katrina Prahadika: Pak Bamby memang cepat akurat, sip..sip..&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dony P Herwanto : turut prihatin...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Abdul Hadi:&lt;br /&gt;Alangkahbaiknya jika kesalahan tidak hanya dijatuhkan ke Redaktur Kompas. Karena dari data yang saya ketahui bahwa dalam sehari, harian Kompas rata-rata menerima naskah cerpen dari seluruh Indonesia antara 60 hingga 80 setiap harinya! Misal...kan kita ambil rata-rata 70 naskah setiap harinya maka dalam rentang seminggu akan terkumpul 490 naskah cerpen. Bisa dibayangkan betapa beratnya tugas itu!&lt;br /&gt;Kedua_ jika tidak mampu meneliti satu kan mereka (para Redaktur) bisa membaca judul-judul cerpen saja, tapi ini juga lemah. Karena penulis yang bermasalah itu dgn mudah menggonta-ganti judul yang telah ada.&lt;br /&gt;Ketiga_ belum jelasnya batas-batas plagiat itu (meski saya dgn 1000 % mengatakan cerpen ini jelas plagiat). Ada 4 cerpen Agus Noor (AN) yang hampir serupa: antara Aubade (MI) dan Pagi Bening seekor Kupu-Kupu (JP), Antara Serenade (JP) dan Serenade Kunang-Kunang (KOMPAS). Apakah cerpen AN itu disebut plagiat?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Demikian Bung Bamby.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Abdul Hadi: Bagi pembaca yang ingin menyelidiki Cerpen AN di atas bisa dicari di arsip Sriti.com&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ki Ageng Joloindro : mengerikan...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sungging Raga : weh, tadi malah ada sahabatnya dadang (akhmad fatoni) pamer ke aku via sms, "tuh lihat, rashomon dimuat di kompas, ternyata redaktur tidak sependapat dengan kamu."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;hehe.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kartolo Kempol Geyong-Geyong: terulang lagi. Katanya Lampung post, Horison, Kompas. Ajaib&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bamby Cahyadi ‎@ abdul hadi: kalau judulnya berbeda dimuat di media yang berbeda dgn nama penulis aslinya, tentu bukan plagiat. Kekirim dobel itu namanya. Kalau kasus sdr. Dadang, dia menambah bbrp narasi pd cerpen rashomon, dan ia mencuplik hampir 99% cerpen akutagawa tsb.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lan Fang: tadi pagi aku bingung liat cerpen itu...kok nongol di kompas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;btw, boleh share suratmu?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Joni Ariadinata Jurnal : Cerpen Indonesia pernah nyaris kebobolan dengan memuat karya seorang penulis muda berbakat, yang ternyata menjiplak 70 prosen karya Hamsad Rangkuti (diganti judul, dirubah dari paragraf pertama hingga kesekian, selanjutnya menjiplak persis). Kami menderita kerugian 4 jt lebih karena draft jurnal sdh terlanjur dicetak. Dengan mengutuk sedih kami harus menarik cerpen itu, sebelum Jurnal diedarkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Han Gagas:&lt;br /&gt;SAYA JUGA TELAH MENGIRIM EMAIL PLAGIASI DAN DIMUAT DOBEL, PERSIS KIRIMAN MAS BAMB TAPI SEBAGIAN KUEDIT BIAR LEBIH ENAK DI BENAK REDAKTUR-MUNGKIN (Dalam derajat kesalahan, aku lebih menganggap ini karena kesalahan utama DAM dibanding redaktu...r Kompas).&lt;br /&gt;Aku yakin mereka baca emailku walau mungkin tidak hari ini karena mereka kemarin mengembalikan cerpenku dan lagipula Redi Keludku dimuat juga melalui email ini.&lt;br /&gt;Mari kita mengirim email serupa demi sesuatu yang bernama ANTI KECURANGAN.&lt;br /&gt;SALAM.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Muhidin M Dahlan: INI BUKAN SEKALI SAJA KARYA SASTRA DIJIPLAK. Tahun 1962 (resensi pertama mempersalahkannya 7 September 1962, Lentera, Bintang Timur, hlm 3) heboh Tenggelamnya Kapal van der Wijk karya Hamka. Dan semua penulis yang melakukan kriminal itu bungkem.... Sampai mati&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Han Gagas: Tapi Mas Muhidin si DAM ini tidak bungkem.... Dia kirim sms lewat tangan temannya yg masih baru masuk "dunia menulis sastra" utk berkoar bahwa dia benar dan tak seperti tuduhan orang2. Buktinya koran2, majalah masih muat cerpennya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Muhidin M Dahlan:&lt;br /&gt;Dia menulis di Kompas. Jika surat pembaca ini dimuat, dia harus menjawabnya di koran ini. Jika tak, maka dia bungkem. Hehehehe. Kalau sms, itu anggap saja kegelisahan pelaku kriminil setelah ada kasak-kusuk.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Abdullah SP di tahun 1962. Bamby ...Cahyadi di tahun 2011. Karena saking seriusnya si Abdullah SP--dan juga disokong dgn berapi-api Lentera dan Pram--sampai digambar tuh adegan2 yang mirip dalam tabel-tabel setengah halaman koran.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Muhidin M Dahlan : Dadang yang ini bukannya si Dadang Kafir Liberal itu ya...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Han Gagas : Hahahahahahahaha, masak seh Mas, aku juga kagak tahu, tanya teman Gresik mas..&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Muhidin M Dahlan:&lt;br /&gt;Berharap Dadang melakukan ini: "MAMPUS LU REDAKTUR KOMPAS. SAYA APUSI KALIAN. SAYA CONTEK. HANYA AKAN MENGUJI KEMAMPUAN SELEKTIF KALIAN...(padahal rashomon gitu loh, pinjam koment MG, mosok redaktur gak kenal) SETELAH INI SAYA AKAN DIBLACK... LIST, GAK APA. INI RISIKO PEMBOBOL PENGETAHUAN. TAPI INI SAYA LAKUKAN DENGAN KESADARAN PENUH, KEUSILAN PENUH, BETAPA-BETAPA DUNIA SASTRA KITA HANYA BEGINI-BEGINI SAJA...."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jadi Mas DAM, nggak usah ngasih pleidoi macem2. Muter macem-macem .... Akui saja, bahwa ini memang menguji Kompas yang terkenal dengan Surat Sakti Penolakannya.... Ini adalah keusilan yang revolusioner....&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kartika Catur Pelita: Bung Bamby. td pagi saat baca baris-baris awal cerpen itu di Kompas, benak saya bergumam: nich cerpen berasa Japanese-ketika saya baca pengarangnya sy teringat sms temen sesama penulis tentang adanya cerpen plagiat yg dimuat sempt jd "diskusi" para penulis di fb. Yeah...saat surat terbuka Bung Bamby ini muncul : masalah semakin jelas, ketika satu demi satu bukti muncul. Semoga ha lini merupkn pembelajaran di masa mendatang hal ini tak terjadi pun pada penulis lain.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Han Gagas Mas Muhidin: malah ngajari kayak gitu, dia bakal senang dapat jurus maut itu. Dia baca ini semua lho, kan teman FBku juga, hahahaha&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Han Gagas : Dadang orang Gresik (katanya jd seksi sastra Dewan Kesenian Mojokerto, seksi sekali katanya)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Muhidin M Dahlan : HAN GAGAS: Gak apa-apa, sesama iblis saling mengajari... Hahahahahaha. Bahkan seorang iblis pun dibutuhkan dalam revolusi (makin gak jelas). Seperti Sukarno, yang mengajak lonte ikut serta dalam melanjutkan revolusi yg gak selesai2, yang kemudian si FREDY S yang masyhur itu mengolok2nya dalam novel mesumnya sebanyak 6 jilid (2 ribeng halaman)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Reni Teratai Air:&lt;br /&gt;media (dalam hal ini adalah redaktur fiksi/editor) punya keterbatasan. namanya juga manusia. di antara maraknya media cetak yg di dalamnya memunculkan 1 buah cerpen, atau beberapa, tentu redaktur tdk semudah itu menghapal mana saja karya yg... sudah dimuat atau dicetak, atau diplagita dll....&lt;br /&gt;utk mas bamby, jgn katakan kecewa pada KOMPAS. Kompas (apalagi redakturnya) pasti terpukul dgn kejadian ini.&lt;br /&gt;Salah siapa? Penulisnya!!! .... buikan media yg memuatnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Han Gagas : Kalau Lonte mah banyak yag suka, yang ngakunya moralis itu, juga penulis, hahaha. penyaluran stress dari pusingnya mikirin perbaiki dunia, ada gunanya juga kaum Lonte, hahahaha&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Miftah Fadhli : sy sebagai penulis kecil, jujur, hari ini adalah hari paling menyakitkan selama perjuangan saya menulis cerita!!! Mas Bam, aku mengharapkanmu n penulis2 lain yg lebih bernama untuk melawan ini, ketimbang aku yg cuma penulis rendahan n pasti tdak akan diperhatikan. Aku cma bsa bntu dgan melawan sakit hti dlam driku saja mas Bam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Han Gagas:  Miftah, jangan gitulah, kita semua harus berpikir utk rendah hati, kirimlah email serupa pada email kompas. biar lebih banyak orang lebih diperhatikan, mungkin lho.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Reni Teratai Air : media juga perlu hati2. harusnya media menghubungi penulis yg naskahnya bakal dimuat, utk konfirmasi soal orisinilitas n blm pernah dipublish... konfirmasi itu juga merupakan unjuk diri bhw media tidak main2 soal pemuatyan naskah seseorang...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Faradina Izdhihary:&lt;br /&gt;Huah .... rame lagi. heheh pdhl minggu lalu aku baru mulai berani kirim lagi. Duh... Kompas yg kuanggap barometer sebagaipencapaian tertinggiku, bila suatu saat akhirnya tembus, kok jadi begini???? Mengecewakan sekali!&lt;br /&gt;@Reni: Ya, Mbak. Aku ...setuju, tumpukan karya yg banyak banget emang jadi beban yang berat. itu sebabnya,sewajarnya seorang redaktur sastra, harus banyak2 baca karya sastra yg hebat2. Kan gk mungkin kalau yg diplagiasi karya yg jelek.&lt;br /&gt;Pun begitu aku setuju, terdakwa utamanya Tetap sang penulis.&lt;br /&gt;Ayo Mas DAM, bersuaralah....!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Reni Teratai Air: aku baca di atas..., soal DAM yg bermaksud mengecoh Kompas (biar ketahuan sampai dimana batas referensi sastra yg redaktur kompas punya), andaikan kitu betul dilakukan oleh DAM utk mencari sensasi atau sengaja mengecoh kompas... aku rasa itu cara yg paling mengenaskanl sedunia... mari kita tempatkan jika kita sebagai redaktur kompas yg meloloskan naskah tsb. sekali-dua, tupai meleset, bukan?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Han Gagas : Muhidin tuh guyon ajah hahaha, malah ditanggapi serius neh ma Reni teratai. hahaha, Dadang haus publikasi&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kartika Catur Pelita ‎@faradina I: salam kenal mbak. Kirim lagi lah mbak, cerpen karya orisnil kan? Hehehe@mbak reni: setuju konfirmasi ketika karya penulis hendak dimuat! Btw, kapan nih dpet kring dari STORY? heheh@ miftah:rendah hati bukan rendah diri! Penulis yg mnghsilkan karya orisinil penulis kelas tinggi, bro!@Han Gagas: bahsa satra lo ternyata ...buas n ganas(terpicu emosi? Hehehe( salam kenal, bro!)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kartika Catur Pelita ‎@Mas Muhidin MD: saya suka analisa Anda! Salam kenal tuk semua pelaku serta penikmat sastra, saya penulis 'pemula stok lama' asal Jepara.Novel perdana saya: KEPERJAKAAN( LODI-LIMANOV-LAYAN-KUAT) sedang dalam proses penerbitan di AKOER. Menterakan potret buram remaja pria yg berprofesi pekerja seks komersil, maaf, GIGOLO. Benarkah nilai keperjakaan tak berarti bagi lelaki? Oya novel ini karya ORISINIL dong ! Heheheh, salam sastra!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Khoer Jurzani Hiks, saya bahkan yang hanya seorang pembaca, yang sedang akan mencoba menulis jadi takut, takut belum apa-apa sudah di curigai oleh pihak redaksi jika besok saya mengirim naskah cerpen, mungkin redaksi akan memilih penulis yang sudah pasti punya nama saja hikss!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bamby Cahyadi ‎@ Khoer: jangan takut, masih banyak medium utk menulis, tdk melulu koran atau majalah. Maju terus!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-7872922876152304469?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/7872922876152304469/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=7872922876152304469' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/7872922876152304469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/7872922876152304469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2011/01/surat-pembaca-untuk-kompas-dari-bamby.html' title='Surat Pembaca untuk KOMPAS dari Bamby Cahyadi'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-6010896546299814661</id><published>2011-01-22T09:04:00.000-08:00</published><updated>2011-01-22T09:05:18.800-08:00</updated><title type='text'>Kisah Muram di Restoran Cepat Saji</title><content type='html'>KISAH MURAM DI RESTORAN CEPAT SAJI&lt;br /&gt;Oleh : Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai saja ia tak sedang bertugas sebagai kasir, pasti ia sudah menghambur-hamburkan kata-kata kasar dan makian. Bisa saja ia berteriak anjing, monyet, dan tahi kucing pada setiap orang yang sedang dilayaninya. Atau, kata-kata yang kerap ia lontarkan pada setiap pembicaraan santai dengan teman-temannya, ”Bangsat!”&lt;br /&gt;Tapi, ia tetap memaksa membuat sebaris senyum yang manis dan mengeluarkan ucapan yang paling ramah pada lelaki yang sok kaya yang kini dilayaninya. Mungkin saja lelaki itu benar-benar orang kaya dan mampu membeli harga dirinya, berikut burger bertangkup tiga beserta kentang goreng panas dan minuman bersoda dalam gelas super besar. Terbukti, lelaki itu mengeluarkan dompet tebal dan di genggamannya terlihat BlackBerry keluaran terbaru sedang berderik-derik.&lt;br /&gt;”Anjing, brengsek, Lu!” makinya dalam hati. Walaupun, ia berucap, ”Terima kasih, selamat datang kembali!” Usai memberikan semua pesanan pada lelaki perut buncit itu.&lt;br /&gt;Lelaki berperut buncit itu acuh tak acuh saja, ia menerima pesanannya di atas nampan lantas memunggunginya menuju meja lobi. Tanpa ekspresi, sambil menerima panggilan telepon. ”Halo, ya, ya, oh iya.”&lt;br /&gt;Sore ini restoran sangat sepi. Sudah sejam berlalu hanya lelaki perut buncit, segerombolan anak sekolahan dan seorang anak kecil dengan pembantu yang sok tahu mengenai menu-menu di restoran cepat saji itu saja yang ia layani. Bisa dibayangkan, tadi, ia hampir saja berdebat sengit dengan seorang pembantu gara-gara si pembantu sok tahu itu seolah tahu betul perihal menu burger di situ. Pembantu itu meminta burger keju pakai sayuran selada. &lt;br /&gt;Untung semua telah berlalu. Hatinya agak sedikit tentram. Ia lalu pura-pura mengambil kain lap, lantas digosok-gosok kain lap itu pada meja dan dinding yang sebenarnya tidak kotor. Sesekali ia melirik ke arah sebuah ruangan kecil. Di sana ia lihat manajernya sedang mengetik sesuatu sambil memandang monitor komputer. Ia kembali menggosok-gosok meja kasir yang memang sudah bersih itu.&lt;br /&gt;Sejatinya, ia telah kenyang melihat tingkah pola dan perilaku menjengkelkan pelanggan-pelanggan restoran yang terletak di kawasan elit itu. Semua yang masuk merasa menjadi raja dan paling raja. Para pelanggan di situ rata-rata orang kaya sesungguhnya, ada juga orang kere yang bertingkah lagaknya seperti orang kaya. Dan, mereka selalu tahu semboyan pelanggan adalah raja. Sebuah semboyan yang mendunia, membumi, baik di restoran kaki lima, sampai restoran mewah di hotel berbintang lima. Baik di restoran lokal, hingga restoran internasional.&lt;br /&gt;Maka, ia pun melayani raja-raja itu dengan cekatan, cepat dan tentu saja ramah. Bukankah ia pelayan di sebuah restoran cepat saji? Semua harus cepat dihidangkan, menu harus masih panas dan segar, kalau tidak, raja akan mengeluh dan marah. Apabila raja mengeluh apalagi marah-marah, maka manajernya akan memberikan sepucuk surat cinta bernama surat peringatan. Mengerikan!&lt;br /&gt;Kerap ia ingin menampar pelanggannya yang memesan menu makanan sembari menelepon seseorang entah siapa, mungkin pacarnya, mungkin majikannya atau mungkin orang yang sok pamer hape baru. Jelas saja ia ingin menggampar orang seperti itu, bukankah restoran ini restoran cepat saji. Semua harus dilayani dengan secepat kilat. Bagaimana mau cepat saji, ketika mau memesan menu makanan saja, orang itu leletnya minta ampun. Biasanya ia akan menerima gerutuan dari orang yang antri di belakang orang yang memesan sambil menelepon itu. ”Pelayanannya lama banget sih?”&lt;br /&gt;Lho, kenapa orang yang antri di belakang orang yang sedang menelepon itu menggerutu padanya?  Kenapa bukan pada orang di depannya, apakah karena ia hanya seorang pelayan? ”Dasar monyet!” umpatnya dalam hati.&lt;br /&gt;Ia juga dapat memotret wajah Indonesia pada umumnya di restoran ini. Di Indonesia, orang mau makan suka kebingungan sendiri ketika sudah berada di depan meja kasir. Mereka terlongo-longo, sambil bergumam, mau makan apa ya aku? Bangsat! Mau makan saja bingung dan mikir, bagaimana memikirkan negara yang makin korup. Berpikir soal makan saja kelimpungan. Itulah mengapa, Indonesia tak pernah jadi negara maju. Coba perhatikan orang bule, saat memesan menu di restoran cepat saji, mereka telah menentukan pilihan menunya ketika ia baru saja berniat makan di situ. Itulah bedanya. Tentu, itu asumsi yang ia buat sendiri. Apalagi sore ini hatinya sedang mendidih.&lt;br /&gt;Sering pula ia jumpai pelanggan yang baik hati, luar dan dalam. Terutama saat ia bekerja sampai melewati tengah malam. Mereka itu, pelanggan perempuan yang datang dengan pakaian minimalis. Mereka, sangat baik hati, karena wajah mereka terlihat cantik-cantik dari luar dan suka memamerkan pakaian dalam mereka yang dipakai di dalam. Tentu ia anggap pelanggannya baik, karena membuat ia bersemangat berkerja, kalau perlu sampai pagi.&lt;br /&gt;Ia sudah terbiasa melihat payudara setengah menonjol seperti gunung yang hendak meletus disangga oleh beha berenda berbusa tebal. Atau, belahan pantat montok yang hanya ditutupi sehelai tali, celana dalam g-string, begitu yang ia tahu dari orang-orang. Belahan pantat dan jendolan payudara memang godaan luar biasa. Tapi, dari perempuan berpakaian minimalis itulah ia sering mendapat tip banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore yang sepi dan hati yang panas. Teman-temannya yang lain, terlihat sibuk juga seperti dirinya. Membersihkan sesuatu, yang sebenarnya tidak kotor. Ada yang menyapu lantai yang tak ada ceceran sampahnya, ada yang mengepel lantai yang tak ada noda kotor di atasnya. Mungkin dengan begitu, hati para pelanggannya akan senang berada di restoran yang bersih dan nyaman dengan pelayan yang rajin-rajin. Mungkin dengan begitu, manajernya tidak akan menegur sebagai pemalas dan mengeluarkan sepucuk surat peringatan.&lt;br /&gt;Suara musik dari album Lenka, lagu Trouble is a Friend, mendayu-dayu di seluruh area lobi. Ia pun turut bersenandung melepas gundah, sambil sesekali berkerling mata, melihat manajernya yang sedang sibuk di depan komputer. Sepertinya ia mau melakukan sesuatu. Apa itu? Tak ada yang tahu.&lt;br /&gt;Nama tokoh dalam cerita ini Adimas. Seorang pemuda berwajah tampan, tapi berkantong tipis. Ia, telah dua tahun bekerja sebagai kasir di restoran cepat saji jaringan internasional ini. Semula ia masuk sebagai karyawan magang. Nyambi kerja sambil kuliah, agar terlihat keren di mata teman-teman sekampusnya.&lt;br /&gt;”Begitulah yang dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa kita di luar negeri,” katanya ketika ia baru saja diterima bekerja di restoran itu. ”Mereka itu, kuliah di pagi hari, dan menjadi pelayan restoran di malam hari, dan mereka menjadi orang sukses!” tandasnya.&lt;br /&gt;”Jangan malu, walaupun hanya bertugas mencuci piring dan membersihkan toilet. Kerja di sini, jenjang karirnya jelas,” perkataan manajernya saat ia baru saja diterima kerja masih terngiang-ngiang.&lt;br /&gt;Semula ia bekerja magang di restoran cepat saji itu untuk gengsi-gengsian, namun setelah menerima gaji pertama, betapa ia mengharapkan uang yang lebih banyak dari sambilannya itu. Tentu saja, ia masuk kerja lebih sering. Ia dijadwalkan bekerja bukan hanya di hari sabtu dan minggu sesuai kesepakatan, ia akhirnya mengajukan diri untuk dijadwalkan setiap hari.&lt;br /&gt;Sejak saat itu, ia lupa pada tugas pokoknya, kuliah. Ia larut bekerja mencari uang demi uang untuk menebalkan dompetnya yang sering tipis. Enam bulan ia tak pernah menampakkan batang hidungnya di kampus. Akhirnya ia dipecat sebagai mahasiswa. Tapi, untuk urusan kerja di restoran ini, jangan diragukan. Ia hafal di luar kepala seluruh menu yang ada di restoran ini. Bahkan, ia pun hafal betul harga-harganya, baik sebelum maupun sesudah pajak.&lt;br /&gt;Kinerja kerjanya sungguh bagus, berkali-kali ia terpilih sebagai karyawan terbaik tiap bulan. Hingga ia pun menyabet gelar karyawan teladan di akhir tahun. Tentu saja usahanya berbuah hasil, setahun kemudian ia diangkat menjadi karyawan tetap di restoran cepat saji itu.&lt;br /&gt;Ia punya jaminan kesehatan rawat jalan. Apabila ia sakit dan perlu perawatan intensif, ia beroleh jaminan kesehatan rawat inap. Ia didaftarkan dalam kepesertaan Jamsostek. Ia pun mempunyai jatah cuti, 12 hari dalam setahun. Apabila ia bekerja tengah malam, ia akan mendapatkan uang transportasi. Dan, tentu kalau restoran ramai dan memaksanya lembur, ia akan menerima pendapatan berlipat ganda. Menggiurkan bukan?&lt;br /&gt;Tentu saja menggiurkan. Saking menggiurkan, Aurora, pacarnya meminta ia segera meminangnya. Aurora, gadis manis tetangganya itu, sudah lama menjadi pacarnya. Pagi tadi, Au, begitu panggilan sayangnya, merengek minta kawin.&lt;br /&gt;Nah, bagian cerita inilah yang membuat tokoh utama dalam cerita ini uring-uringan dan ingin memaki lebih banyak orang. Sayang sungguh sayang, ia adalah kasir, pelayan, pekerja restoran cepat saji yang harus melayani pelanggan dengan senyuman ramah dan ucapan kata yang penuh sopan santun. Bukan makian macam bangsat dan tahi kucing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore tergelincir di langit senja. Semburatnya meronakan seluruh permukaan langit. Tiba-tiba saja restoran yang tadinya sepi seperti kuburan, dipenuhi oleh para pengunjung dan mereka antri dengan tertib memenuhi depan meja kasir yang tampak mengecil. Satu-satu Adimas melayani pelanggannya dengan cepat. Sambil matanya jelalatan melihat ke ruangan manajer. Manajernya masih sibuk mengetik komputer.&lt;br /&gt;Restoran gaduh seketika. Suara berdentingan terdengar di dapur. Petugas dapur bahu-membahu membuat burger-burger pesanan tamu. Suara minyak goreng terdengar menetas ketika kentang beku dicelupkan ke dalam minyak yang panas itu. Aroma daging yang terpanggang menyeruak dari dapur, harum roti menguar seketika dan bau bumbu-bumbu khas untuk burger menusuk selera. Pelanggannya berebutan menerima pesanan.&lt;br /&gt;Hanya dalam sekejap, ia telah melayani lebih dari belasan orang. Dan, hanya dalam sekejap ia telah memiliki uang hampir sejuta lebih. Dari mana uang sebanyak itu dalam waktu sekejap?&lt;br /&gt;Nah, itulah kepintaran tokoh kita ini. Ia hanya memasukkan satu transaksi ke dalam register bayar. Setelah itu, register bayar tak ia tutup lacinya, dibiarkannya terbuka. Setelah itu, ia menerima pesanan pelanggannya, tapi ia tak masukkan dalam register bayar. Bukankah ia hafal di luar kepala semua harga menu-menu yang tersaji? Dan, tentu dengan sangat mudah ia memberi uang kembalian bagi pelanggannya. Ingat, ia mantan mahasiswa. Ada informasi yang terlewat, ia bekas mahasiswa jurusan matematika.&lt;br /&gt;Ia tersenyum puas. Pelanggannya tersenyum puas. Manajernya tersenyum puas, melihat semua karyawan bekerja dengan gesit melayani pelanggan yang mendadak datang dalam jumlah yang banyak. Manajernya sangat yakin, semua karyawannya, termasuk Adimas, adalah karyawan yang dapat diandalkan. Sehingga sepanjang sore ia begitu tenang di depan komputer membuka akun Facebook-nya, pelanggan tetap bisa dilayani dengan baik. Semua tersenyum puas.&lt;br /&gt;Selepas senja Aurora tersenyum puas, ketika Adimas datang bertandang ke rumahnya membawa sebuah cincin emas. Cincin itu dikenakannya pada jari manis Au. Adimas mengecup tangan Au, sembari berkata, ”Aku melamarmu sayang.”&lt;br /&gt;Itulah sebuah kisah muram yang terjadi dikala senja, di sebuah restoran cepat saji yang terletak di sebuah kawasan elit di Jakarta, di mana semua orang merasa menjadi raja, di mana seorang pemuda bernama Adimas kepepet uang untuk melamar kekasihnya, dan akhirnya mengambil sesuatu yang bukan haknya untuk membahagiakan seseorang yang sangat ia sayangi. Ia memilih menjadi orang Indonesia pada umumnya. Ia tak peduli lagi betapa korup negaranya, karena ia sendiri tak bersih dari itu, bahkan kini ia bagian dari sistem itu.&lt;br /&gt;Begitulah kisah ini berakhir. Kisah paling muram yang pernah kuceritakan.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 20 Februari 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-6010896546299814661?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/6010896546299814661/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=6010896546299814661' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/6010896546299814661'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/6010896546299814661'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2011/01/kisah-muram-di-restoran-cepat-saji.html' title='Kisah Muram di Restoran Cepat Saji'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-8730649444183673684</id><published>2010-12-13T07:44:00.002-08:00</published><updated>2010-12-13T07:45:46.403-08:00</updated><title type='text'>Bila Senja Ingin Pulang (Cerpen untuk Hari Ibu)</title><content type='html'>BILA SENJA INGIN PULANG(Cerpen untuk Hari Ibu)&lt;br /&gt;Oleh : Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila senja tiba, perempuan itu melintas di Jalan Casablanca. Lalu dengan hati-hati ia berjingkat menapaki anak tangga jembatan penyeberangan di depan Gedung Sampoerna Strategic Square. Tatapan mata perempuan itu menerawang, seolah mengenang masa-masa kelam. Setelah itu, ia turun kembali menapaki anak tangga jembatan penyeberangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petang ini hujan turun gerimis. Deras hujan telah reda beberapa waktu yang lalu. Kini hanya menyisakan rintik-rintiknya saja. Padahal tadi pagi, matahari begitu terik memanggang kulitnya. Perempuan itu, lantas memasuki sebuah jalan sempit tak beraspal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bekas roda sepeda motor yang digenangi air hujan, tampak meliuk-liuk, pengendara motor pasti berupaya menghindari genangan air yang berkubang di sepanjang jalan tak beraspal itu. Sesekali ia melompati tanah becek yang menghadangnya. Saat ia melompat, ia terlihat seperti terbang. Melayang sejenak, lalu kakinya menapak tanah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia selalu ingat betapa ia berlari-lari, ketika masa kanak-kanak dulu, menyusuri jalan kecil itu mengejar senja. Ia berteriak-teriak kegirangan dan melambai-lambaikan tangannya kepada matahari yang tenggelam pelan-pelan di ujung cakrawala. Lalu, ia hanya bisa terpesona ketika semburat jingga senja, berubah menjadi gelap. Ia menggulung benang layangan. Dan, saat itulah bencana itu terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini ia telah sampai ke jalanan dekat rumahnya. Gerimis telah berhenti, ketika ia melihat daun pintu rumahnya ditutup seseorang. Ia tertegun, memandang pendar cahaya lampu yang menyala dari dalam rumahnya. Terasa hangat. Seperti dulu. Sebelum bencana itu terjadi. Lampu-lampu jalanan, lampu dari gedung-gedung pencakar langit yang mengepung perkampungannya pun sudah menerangi sebagian gelap malam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa lama waktuku berhenti? Tanyanya, seolah bergumam, seperti tak mengerti dengan apa yang telah terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak.  Ia sangat tahu tentang apa yang telah terjadi. Ia hanya melupakan waktunya yang telah berlalu. Melintas begitu cepat. Ia selalu mengira waktu telah berhenti, padahal waktunya telah berlalu. Waktu terasa sangat pendek baginya, seolah berhenti. Berhenti berputar, berhenti berdetak. Seperti mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini ia memandang rumahnya yang temaram. Gorden jendela telah ditutup oleh seseorang. Mungkin ibunya. Oh, ibu. Ibunya mengetahui sebuah rahasia. Tapi ibunya pura-pura tidak tahu perihal rahasia mengenai putrinya. Tepatnya, ia tak pernah mau bercerita. Ketika itu, ia tahu, sangat tahu, muka ibunya pucat seperti tak dialiri darah sampai ke batas kulit. Ada sesuatu yang ia tak dapat sembunyikan di hadapan ibunya. Rasa marah. Luapan amarah hampir menjebol ubun-ubun kepala kecilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu ia tak pernah lagi melihat wajah ibunya. Gadis kecil itu berlari menerabas malam. Meninggalkan ibunya yang terisak pedih. Malam itu tiba-tiba hujan turun seperti tak mau berhenti. Malam itu malam gelap penuh darah. Malam penuh amarah. Selepas senja dimakan gelap malam, ia baru saja membunuh ayahnya. Dengan belati yang ia selipkan di tungkai kakinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia selalu membawa belati, untuk membuat layang-layang sendiri. Ia gadis kecil, penyuka layang-layang. Karena itu ia sangat suka langit dan angin. Maka, ia pun sangat suka senja. Hingga ia sering berlari mengejar-ngejar senja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ia berteriak-teriak kegirangan mengejar senja. Ketika matahari tenggelam di ujung cakrawala, di langit tak lagi terang. Ayahnya menghampirinya, saat tangannya masih melambai-lambai ke arah matahari terbenam. Dengan kasar tangannya dicengkeram oleh tangan pejal ayahnya. Ia meronta. Gulungan benang layangan terlepas dari genggamannya. Ayahnya berkata, anak jadah kau bukan anakku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah tamparan keras, mendarat di pipinya tatkala ia meronta-ronta lagi. Mata ayahnya berkilat nyalang, ada berahi yang sedang terbakar di sana. Tamparan itu membuatnya lunglai tak berdaya. Di jalan kecil tak beraspal itu, di belokan dekat jalan ke rumahnya, di sebuah gang sempit bau kencing dan sampah. Ayahnya menyobek-nyobek pakaiannya, hingga pakaian dalamnya tercabik dan terlepas. Napas lelaki itu tersengal kasar memburu, hembusannya menguar panas. Penuh nafsu. Tubuhnya basah berkeringat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Lelaki yang ia tahu selama ini sebagai ayahnya lantas menindihnya dengan kasar. Akhirnya selangkangannya terasa perih. Sakit. Berdarah. Kakinya terasa berat untuk digerakkan. Seluruh uratnya kaku setengah kejang. Itulah bencana yang terjadi. Bencana yang datang ketika bulan baru saja terbit mengganti matahari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam bertambah sunyi, di bawah cahaya rembulan. Ketika ayahnya kelojotan di atas tubuhnya yang ringkih, ia mengambil belati yang terselip di tungkai kakinya. Ujung belati itu berkilau, lalu suram ketika menancap tepat di ulu hati dan di jantung ayahnya. Dua tusukan membuat mata ayahnya membelalak, mulutnya setengah terbuka tanpa kata-kata. Lubang hidung yang tadi menguar hawa panas berhenti bernapas. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasakan separuh dari jiwanya tak ada lagi di relung raganya. Hilang, lenyap, entah ke mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berteriak-teriak berlari setengah telanjang, menuju rumah. Ibunya keluar dan terkesiap, melihat belati terhunus berlumuran darah segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini darah Ayah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana hening, hanya isak tangis ibunya yang terdengar. Malam menjadi bening, bulan yang telah berkurang bulatnya naik pelan-pelan meninggalkan ujung kerangka gedung-gedung pencakar langit yang belum sepenuh jadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan hilang ditelan awan hitam. Dan, tak lama kemudian hujan deras mengguyur tanah, tak mau berhenti. Ia pun terus berlari menerabas gelap malam, terseok-seok di tanah becek jalanan sempit, menuju ujung jalan raya. Saat itulah, waktunya berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Bila senja tiba, perempuan itu melintas di Jalan Casablanca. Mengedar pandangan, mendongak melihat langit. Langit merah jingga, semburatnya berkilau-kilau terpantul di kaca-kaca gedung bertingkat. Lalu setelah senja lenyap, ia akan menyeberang dan masuk ke sebuah jalan sempit tak beraspal. Menuju sebuah kampung kecil yang terkepung gedung pencakar langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang jauh,” kata seorang Jockey three in one, menunjuk perempuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang gila,” sahut temannya, memandang tanpa berkedip ke arah perempuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi ia cantik!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi ia gila!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tertawa terbahak-bahak. Lamat-lamat perempuan itu mendengar tawa kedua Jockey three in one yang sedang duduk berhadap-hadapan di atas trotoar yang berdebu. Menghitung hasil jerih-payah menjadi penunggang mobil-mobil yang tanggung membawa jumlah penumpang menuju Jalan Sudirman dan Thamrin di hari itu. Kedua Jockey itu telah melihatnya berhari-hari, melintas di jalan raya dan masuk ke jalan sempit. Setiap hari menjelang petang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tak bergeming. Terus melangkahkan kakinya, seperti melayang. Ia melangkah  masuk ke jalan sempit itu. Pada setiap langkahnya, pada setiap napasnya seperti ada kerinduan yang berlarat-larat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah perempuan itu bertambah cepat dan seirama dengan suara gelegar guruh membahana di langit yang tiba-tiba kelabu. Tetesan air hujan pertama terpercik di mukanya.  Ia usap mukanya dengan tapak tangan. Tetesan air hujan yang kedua bercampur dengan air matanya yang telah mengalir di sepanjang pipinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah rinai hujan, ia berjalan pelan-pelan di pinggiran dinding tembok rumah-rumah sepanjang jalan sempit. Sudah tak ada gang sempit bau kencing dan sampah. Telah berdiri sebuah rumah minimalis di tempat durjana itu. Tempat di mana waktunya berhenti. Ia berdiri di belokan jalan dekat rumahnya, diam seperti kemarin dan kemarinnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia ingin pulang. Pulang ke rumahnya. Sudah berapa lama ia tak pulang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sangat lama. Setelah ia membunuh ayahnya, setelah ia meninggalkan ibunya dengan kebencian di depan pagar rumah. Ia lalu menjadi anak telantar, menjadi anak jalanan di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok. Seorang pelaut dengan senang hati membawanya berlayar. Berlayar dari satu benua ke benua yang lain. Lantas ia berpindah dari pelukan satu pelaut ke pelaut yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah hidupnya berakhir hampir bahagia. Ketika seorang pelaut asal Inggris mengajaknya menikah. Ia pun menikah dengan lelaki bule itu. Dan, dari situlah ia mulai merasakan waktunya berdenyut lagi. Ia teringat kampung halaman. Ia ingin pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga puluh dua tahun. Waktu itu terlalu panjang untuk umur manusia. Alangkah pendeknya untuk sebuah kenangan buruk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan makin deras. Ia melihat seorang perempuan yang telah renta, menutup pintu rumah rapat-rapat. Ia ingin memanggil perempuan tua itu. Namun suaranya tercekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ia ingin bicara dan bicara pada ibunya. Bibirnya pasti tak akan berhenti berbicara. Seperti dulu, ketika ia masih kanak-kanak, ibunya selalu menanggapi semua celoteh-celotehannya. Ia sering bercerita tentang layang-layang, meski ibunya sangat ingin mendengar putrinya bercerita tentang boneka. Tapi, ibunya selalu sabar mendengar setiap ia bicara, bercerita tentang layang-layang melulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin. Mungkin karena ayahnya tidak begitu ia kenal. Ayahnya memang menjadi sosok yang asing dalam rumah yang hangat. Lalu bencana itu terjadi, dan rahasia terkuak. Ia, bukan anak ayahnya. Masih terngiang-ngiang perkataan ayahnya, sebelum ia memperkosa dirinya. Anak jadah, kau bukan anakku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, sudah ia benamkan kenangan suram dalam jurang yang paling dalam.   Oh, alangkah rindunya.  Ia sangat rindu, rindu pada ibunya. Rindu pada pulang. Matanya masih terus mengawasi rumah yang kini temaram karena gorden jendela telah ditutup oleh seseorang dari dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua yang telah berhenti, harus dimulai lagi, begitu batinnya bicara. Maka diterobosnya hujan yang sedang memanah tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelan-pelan dan hati-hati ia mengetuk pintu rumah. Rumahnya dulu. Ingin sekali ia membetulkan atap genteng beranda rumah yang bocor, ingin sekali ia menadahi cucuran yang telah banyak menggenangi lantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengetuk pintu lagi. Terdengar samar langkah seseorang mendekati pintu. Pintu lalu terkuak. Wajah perempuan tua itu muncul dari balik pintu, terkejut mengangkat muka, melihat dengan mendadak seorang perempuan setengah baya mirip dirinya sewaktu muda, cantik.  Berlinang-linang air mata menatapnya dalam keremangan malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu…!” serunya terisak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan tua itu tak menyahut. Tetapi di sana ada sunggingan senyuman yang menarik keriput bibirnya. Mata perempuan tua itu bercahaya. Mata yang kering itu lalu basah dan air mata jatuh menuruni pipinya yang telah peot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Senja? Kamu akhirnya pulang, Nak.” Hanya itu kalimat yang terlontar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua perempuan itu lalu menangis haru, suara tangisan bersahut-sahutan lembut menyentuh rongga telinga. Seperti irama musik yang mengetuk-ngetuk ruang hati mereka. Ia, benar-benar bahagia berada di pelukan ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara deras hujan yang bertambah lebat, tak lagi terdengar, walaupun cucurannya telah menggenangi pekarangan hingga semata kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila senja tiba, perempuan itu tak lagi terlihat melintas di Jalan Casablanca. Ia telah pulang ke rumahnya.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 5 Desember 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimuat di Jurnal Bogor, 7 Februari 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-8730649444183673684?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/8730649444183673684/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=8730649444183673684' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/8730649444183673684'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/8730649444183673684'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2010/12/bila-senja-ingin-pulang-cerpen-untuk.html' title='Bila Senja Ingin Pulang (Cerpen untuk Hari Ibu)'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-1371095627883178894</id><published>2010-10-22T08:32:00.000-07:00</published><updated>2010-10-22T08:40:02.725-07:00</updated><title type='text'>Cerpen VS Novel: Imajinasi Terbatas Industri</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cerpen vs Novel: Imajinasi Terbatas Industri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh: OWL (Buzenk, Goodreads Indonesia)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah tidak merasa kesulitan menulis cerita pendek tapi justru lancar-aman-terkendali berekplorasi dalam menulis prosa yang panjang semacam novel? Hasil laporan pandangan mata berikut mungkin bisa memberikan gambaran mengapa menjadi novelis lebih diminati daripada cerpenis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis cerita pendek (cerpen) ternyata lebih sulit dibanding menulis novel. Karena tidak mudah menuangkan keliaran imajinasi hanya dalam beberapa ratus kata. Hal Ini juga yang dirasakan oleh ketiga narasumber: Bamby Cahyadi, Kurnia Effendy ((kef), dan Wa Ode Wulan Ratna dalam diskusi santai Klub Buku GRI: Kumcer vs Novel di TM Bookstore Poins Square Lebak Bulus, Minggu (17/10) kemarin. Gak cuma itu, ketiga narasumber juga banyak berbagi ilmu dan pengalaman seputar dunia tulis-menulis terutama cerpen dan novel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak situasi ataupun kondisi yang mempengaruhi seseorang hingga memutuskan untuk menjadi penulis. Faktor x=suka menulis biasanya menjadi alasan seseorang berkecimpung dalam dunia kepenulisan. Faktor x jugalah yang kemudian menjadi latar perjalanan Wulan dan Kef menjadi penulis sampai saat ini. Sedangkan bagi Bamby, ada faktor lain yang membuatnya melirik jurusan tulis-menulis hingga menelurkan buku kumpulan cerpen Tangan Untuk Utik. Ia mengatakan bahwa terjun ke dunia sastra merupakan ketidaksengajaan. Kebiasaannya membaca cerpen di koran setiap hari minggu ternyata membuat ia tertarik untuk menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu, menulis bagi Bamby juga menjadi terapi jiwa. Pengalaman psikologis yang dialaminya mengharuskan ia menjalani suatu terapi yang salah satu rekomendasinya adalah menulis. Mulai sejak itu ia mulai giat menghasilkan cerpen demi cerpen walaupun untuk konsumsi pribadi. Hasil karyanya ia arsipkan dalam blog pribadinya, Wordpress dan Friendster, sampai kemudian ia mengenal seorang penulis perempuan yang memotivasinya untuk menulis sastra. Terpacu menekuni dunia itu, Bamby mulai menapakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari situ, akhirnya mulai mencari-cari satu komunitas penulis dan bertemu yang namanya kemudian.com, dan bertemu penulis-penulis lain seperti Krisna Pabicara yang akhirnya menemani saya untuk serius menekuni dunia sastra," ungkapnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumpulan cerpen Tangan Untuk Utik yang juga menjadi buku baca bareng GRI di bulan September adalah buah karya Bamby yang keseluruhan cerita dipublikasikan melalui blog pribadinya dan kemudian.com. Tidak ada satu pun cerita yang dimuat di media. Ia mengatakan bahwa justru atas usulan sang editor-lah ia mengirimkan ke koran dan majalah, sembari menunggu proses penerbitan. Akhirnya, tiga dari 13 cerpen dalam kumpulan cerpen Tangan Untuk utik dimuat di koran dan majalah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman berbeda justru terjadi pada Kurnia Effendi atau yang akrab di sapa Kef. Ia yang sudah menulis sejak dari sekolah dasar, memanfaatkan mesin tik di kantor OSIS sekolahnya ketika SLTA, untuk menulis cerpen dan dikirimkan ke majalah. Anugerah baginya sebab karyanya diterima dan langsung dimuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada pengalaman yang menurut saya anugerah sehingga saya merasa dimanjakan. Ketiga karya saya yang pertama, dua puisi dan satu cerpen langsung diterima dan dimuat saat itu di majalah Gadis, Aktuil, dan koran Sinar Harapan. Tapi bukan berarti saya tidak pernah mengalami penolakan. Setelah itu ya iya," ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi dengan Wa Ode Wulan Ratna. Terbiasa menulis sejak SMP namun tidak berani mengirimkan karyanya ke media. Berbekal informasi berbagai perlombaan dari temannya, ia pun mulai menyertakan buah imajinasinya dalam perlombaan. Beberapa cerita dalam buku Cari Aku Di Canti memenangi ajang tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditambahkan oleh Wulan bahwa menulis cerpen sebenarnya lebih banyak dilakukannya ketika kuliah. Sedangkan masa SMP lebih banyak menulis prosa panjang semacam teenlit. Ada lima judul yang ia selesaikan saat itu. Satu judul diselesaikan sekitar satu bulan dengan tulisan tangan, dan menghabiskan rata-rata dua buku tulis untuk satu judul. Maka tidak heran jika ia memiliki banyak buku harian. Ketika masa SMA ia menjelajahi dunia puisi, dan sesekali menulis cerpen. Namun tetap malu untuk dipublikasikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya saya malu untuk dipublikasikan. Tapi waktu itu pernah dipublikasikan oleh sahabat saya. Waktu SMA nulis cerpen untuk tugas sekolah mereka (sahabatnya). Saya menulis cerpen dan mereka mengirimkannya ke majalah-majalah tapi pake nama mereka. Tapi saya malah senang karena ada yang baca, teman-teman senang, dan saya ditraktir. Waktu SMA memang tidak kepikiran untuk mengirimkannya ke majalah. Teman-teman yang berinisiatif meskipun dengan nama mereka,” kenangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat imajinasi tak terkendali, menulis menjadi cara efektif untuk merekam scene demi scene yang diproyeksikan benak kita. Dan setiap orang memiliki kebebasan dalam mengeksplorasikan perasaan, pikiran, maupun emosinya. Entah dalam bentuk puisi, cerpen, prosa, bahkan tulisan yang tidak terstruktur sekalipun. Bamby memilih cerpen sebagai media pelampiasan imajinasi dan pikiran-pikirannya, baik ataupun buruk. Alasan-nya, “cerpen tidak perlu banyak perenungan.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam prosesnya, ia banyak menerima berbagai masukan tatkala karyanya dipublikasikan di blog. Dari hasil masukan-masukan tersebut ia melakukan pembacaan ulang dan editing. Kemudian, ia yang merasa masih sangat hijau dalam dunia sastra pun menyadari bahwa menulis cerpen tidak gampang. Ia berkisah, menuangkannya memang terasa mudah, tapi ketika tahu bahwa menulis harus menggunakan bahasa baku ia pun mengalami kesulitan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengatakan bahwa kesulitan terbesarnya adalah tidak bisa membedakan alur, jalan cerita, cara membuat tokoh, karakter, dan konflik.Ia yang sebelumnya tidak pernah membaca teori menulis hanya menuliskan apa yang ingin ditulisnya saja dengan gaya sesuka hati. Selain itu, ia pun mengalami kesulitan dalam membuat tokoh dan menentukan judul. Sehingga tokoh-tokoh dalam karyanya banyak diambil dari nama teman sendiri. Dan merupakan tantangan besar baginya untuk menuangkan segala yang ada dibenaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada ragam waktu bagi Bamby dalam menyelesaikan satu cerita pendek. Mulai dari hitungan jam bahkan sampai berbulan-bulan. Ia menyontohkan cerita “Karyawan Tua” dalam kumpulan cerpen Tangan Untuk Utik. Ditulis pada 30 November, terinspirasi dari kisah seorang teman yang pensiun dari restoran cepat saji, dan cerita diselesaikan hanya dalam waktu 3 jam. Atau cerita “Menemui Ujang” yang bagian pembuka ditulis di Bandung dan bagian penutup di Jakarta, dan membutuhkan waktu satu minggu dalam penyelesaiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit mengupas buku Tangan Untuk Utik yang tema-tema ceritanya dianggap suram. Diakui Bamby, beberapa rekannya berpendapat bahwa ada efek kejut di setiap cerpen-cerpennya dan terkesan melenceng. “Hampir beberapa tokoh di cerpen ini berusia anak-anak antara 7-11 tahun. Kemudian, delapan diantaranya bercerita tentang kematian. Adapula kehampaan, kemudian tema yang absurd yakni ada empat tokoh yang kepalanya pecah. Terus terang saya penderita vertigo dan pada suatu masa saya ingin memenggal kepala saya sendiri supaya vertigo saya hilang. Tapi kalau dipenggal kepala, saya mati. Itu sebabnya kepala menjadi sasaran untuk dihancurkan. Mengapa masa anak-anak? Ada masa anak-anak yang ingin saya lupakan. Karena ingin dilupakan maka jadi mengendap. Pada saat menulis maka saya menulis endapan yang ingin saya lupakan tersebut. Tentang tema kematian, saya suka bercerita tentang kematian karena itu sesuatu yang pasti.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Bamby memilih menaburi cerpennya dengan kesuraman, Wulan memilih memuat nuansa lokal dalam cerpen-cerpennya. Ia banyak mengangkat tema kedaerahan yang inti persoalannya juga banyak terjadi di daerah-daerah lain. Sehingga ia beranggapan penting dan perlu untuk mengemukakan persoalan-persoalan kedaerahan, tidak melulu urban. Disamping itu, mengangkat tema lokal juga menjadi pengobat rindu terhadap kampung halamannya yang telah lama ia tinggalkan. “Saya pikir saya terlalu kangen sama kampung halaman dan seumur hidup tidak pernah pulang ke kampung halaman. Waktu itu memang sudah lama terbayang di benak saya untuk menulis persitiwa yang sudah pernah saya lewati disana,” ujar Wulan yang salah satu cerpennya mengangkat Buton diikutsertakan lomba Creative Writing Institute pada tahun 2005. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada proses pengumpulan data, ternyata Wulan banyak memanfaatkan teknologi internet untuk mencari data. Kemampuan mengolah data dan berimajinasi lah yang ia andalkan untuk meracik data tersebut menjadi cerita pendek yang sarat wawasan. Selain menelusur melalui internet, ia mendatangi tempat-tempat yang sekiranya dapat merepresentasikan situasi atau kondisi daerah cerita tanpa harus ke lokasi. Ia pun bertutur, “Kalau mau mengangkat settingan suatu daerah atau tempat tertentu otomatis harus tahu topografinya, sedangkan untuk hal-hal tertentu bisa saya dapatkan dari kuliah atau ketika datang ke suatu tempat yang juga mungkin situasinya sama, misalnya sungai yang di Riau mungkin sama seperti yang ada di Baduy. Dalam cerpen Bulan Gendut di Tepi Gangsal datanya dicari, tapi kalau Cari Aku di Canti saya ketempatnya langsung, tapi hasilnya sangat berbeda. Kelokalannya sangat berbeda. Kelokalannya lebih kental di Bulan Gendut dibanding Cari Aku di Canti. Saya juga tidak tahu kenapa, tapi mungkin bagaimanapun modal utama seorang penulis adalah kekuatan imajinasi karena kekuatan imajinasi sangat mempengaruhi kekuatan dalam berkarya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kef, yang telah malang-melintang di dunia kepenulisan berbagi pengalaman dalam menulis cerpen dan novel. Penulis novel “Merjan-Merjan Jiwa” ini menuturkan bahwa pada dasarnya cerpen bukanlah novel yang dipendekan dan novel bukan cerpen yang dipanjangkan. Baik novel maupun cerpen sesunggunnya memiliki niat yang berbeda. Ia menganalogikan perbedaan cerpen dan novel seperti pembuatan warung tenda kaki lima dengan kursi seadanya, menu yang semua orang menikmati, selesai, tanpa perlu promosi. Akan berbeda ketika membuat McD yang segala sesuatunya harus ditentukan dengan detail. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi ketika membuat novel, konfliknya akan berbeda dengan cerpen, detailnya akan berbeda dengan cerpen, hal-hal yang akan mendukung karakter manusianya akan berbeda, kemudian plot, alur, dan sebagainya juga akan berbeda dengan cerpen. Cerpen lebih simple. Ketika saya menulis novel, karena ada tuntutan juga, saya harus membuat kerangkanya terlebih dulu. Berbeda dengan cerpen yang mungkin mengalir bahkan ada yang dikerjakan selama 2 jam dan sampai berbulan-bulan. Jadi intinya disitu. Bahkan ketika kerangkannya sudah selesai saya bisa menulis dari belakang. Ketika ada hambatan ditengah-tengah karena referensinya kurang misalnya, saya bisa menulis dari bab penutup dahulu. Kalau di cerpen misalnya endingnya terlebih dahulu. Hanya persoalan inspirasi saja,” tutur pria kelahiran Tegal, 20 Oktober 1960 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasti selalu ada pengalaman seru yang dapat dibagikan dalam proses kreatif tulisan. Cerita lebih berliku tatkala memasuki ranah industri. Ketika industri berbicara terkadang mau-tidak-mau banyak penulis yang banting setir ke segmen yang lebih dilirik pasar. Seperti memaksa imajinasi mengikuti arus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara aktual, novel lebih menjual dibandingkan cerpen. Informasi dari salah seorang penanya saat sesi tanya-jawan menyebutkan bahwa dari survei terhadap 100 orang pembeli buku fiksi di toko buku, tiga orang diantaranya membeli cerpen, satu orang memilih puisi, dan sembulan puluh enam membeli novel. Sehingga ada kecenderungan pembaca lebih menyukai novel daripada cerpen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kef menanggapi bahwa memang saat ini seorang seniman harus bersentuhan dengan manajemen dan sistem yg terjadi di masyarakat, dan harus memperhatikan siapa pembacanya. Sedangkan Wulan merespon sangat sulit untuk menerbitkan kumpulan cerpen karena pembaca lebih banyak membaca novel. Mungkin saja karena peristiwa di cerpen sangat singkat jadi tidak menimbulkan ingatan jangka panjang. Kalau pembaca mencari cerpen mungkin penerbit akan berbondong-bondong untuk menerbitkan cerpen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu karya sastra jika sudah dilempar ke pasar maka sudah industri yang berbicara. Untuk itu dibutuhkan trik-trik penjualan untuk meraih perhatian pasar. Salah satunya adalah dengan tanpa mencantumkan "kumpulan cerpen" di dalam jilid maupun dalam halaman judul. Banyak kumpulan cerpen cetak ulang yang kemudian menggunakan trik ini supaya tetap bertahan dipasaran. Kef berharap bahwa ini hanya siklus semata walaupun memang pada faktanya sebuah karya yang pada awalnya sebuah seni ketika bertemu dengan sistem industri akan menjadi budaya massa. Semua tergantung bagaimana kecermatan penulis dalam membaca pasar tanpa harus membatasi imajinasinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, cerpen atau novel?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kef menjawab, “dua-duanya suka. Persoalannya hanya waktu. Menulis novel lebih butuh nafas panjang. Kalau cerpen menulisnya relatif lebih cepat. Saya tidak ingin berhenti menulis maka saya mengambil apapun. Kalau wakunya menulis puisi saya menulis puisi. Jadi dua-duanya saya suka. Kalau saya punya kesempatan untuk cuti melahirkan misalnya saya akan menulis novel.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wulan menjawab, “ternyata lebih gampang menulis novel. Saya baru ngerasain soalnya jadi ketagihan. Sudah bikin, tinggal mencari penerbit. Settingnya lokal tapi ceritanya lebih fokus.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bamby menjawab, “jadi satu impian untuk menghasilkan satu novel. Menulis cerpen seperti membaca cerpen, lima belas menit atau dua puluh menit selesai. Begitupun dengan menulis novel. Kadang-kadang saya berniat membuat satu naskah novel, tapi saya sendiri yang memutuskan itu akan dibuat cerpen. Contohnya, Bab satu dari novel yang ingin saya buat jadi cerpen di majalah Story. Bab dua jadi cerpen di koran Republika. Ada dua novel yang tertunda, ingin diselesaikan tapi belum punya waktu yang leluasa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;___________________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata mereka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Diskusinya bagus. Yang didapetin buku gratis hehe. Em, banyak pengetahuan soal bedanya antara pembaca cerpen dan pembaca novel bedanya kayak apa."&lt;br /&gt;Dini Yulianti, Kelapa Gading&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya baru ikut karena suami saya lihat di facebook makanya ikut kesini. Acaranya sendiri seru. Kita bisa tahu mengenai buku-buku kisah sastra, kemudian mengenai perjuangan penulis bagaimana karyanya bisa diterima jadi memotivasi untuk kita supaya kita tidak takut untuk menulis."&lt;br /&gt;Dinda (30 Tahun), Guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seneng. Saya jadi ingin belajar menulis. Em, apa alamat web untuk diskusi ini?"&lt;br /&gt;Irwati, Rempoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Acaranya rame banget coy!. Yang didapetin: ngantuk. Yang nanya juga kelihatannya aktif, sebenernya saya juga pengen nanya tapi tadi pertanyaan pertama sudah di embat sama bang jimmy, yang kedua udah kesorean hehe..."&lt;br /&gt;Nenangs, Balikpapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dari diskusi Goodreads Indonesia, di TogaMas Poins square, 17 Oktober 2010)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-1371095627883178894?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/1371095627883178894/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=1371095627883178894' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/1371095627883178894'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/1371095627883178894'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2010/10/cerpen-vs-novel-imajinasi-terbatas.html' title='Cerpen VS Novel: Imajinasi Terbatas Industri'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-2974953727171262637</id><published>2010-10-12T06:55:00.000-07:00</published><updated>2010-10-12T06:56:04.354-07:00</updated><title type='text'>Nadya Lebaran Sendirian [Cerpen Majalah D'sari edisi September 2010]</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;NADYA LEBARAN SENDIRIAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Membayangkan bau terasi yang menyengat sepanjang perjalanan, rasanya mau muntah aku, Mas.” Begitu kata Nadya suatu ketika setahun yang lalu saat aku memutuskan untuk mudik lebaran melalui jalur pantura. “Apalagi kalau kita terjebak macet…Huuuh panas, bete, aku enggak kuat, lebih baik kita pakai pesawat saja!” katanya, sambil cemberut membuang muka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Tapi itu kan pilihan yang tidak ekonomis, Nadya,” sahutku. “Harga tiket pesawat saat ini sangat mahal, lagi pula kita bisa lebih leluasa ke sana kemari dengan mobil saat di Semarang nanti,” lanjutku, menanggapi usulan Nadya mudik dengan menggunakan jalur udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kalau begitu, ya sudah, pakai jalur selatan saja!” timpalnya, dengan ketus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Nadya memang sangat suka mudik atau sekadar berlibur melalui jalur selatan menuju kota kelahirannya, Semarang. Katanya lebih nyaman dan sekaligus menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Walaupun jarak tempuhnya tambah jauh, jalur selatan lebih nyaman,” ungkapnya,  tetap pada pendirian, memilih jalur selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati, aku mengiyakan semua perkataan Nadya. Perjalanan dengan menggunakan kendaraan sendiri sangat menyenangkan melalui  wilayah Jawa Barat bagian selatan. Dari Jakarta kami ke Bandung melalui tol Cipularang, kemudian kami bisa berjalan-jalan sejenak di kota Bandung, lalu melanjutkan perjalanan menuju kota Tasikmalaya. Lantas kami menelusuri jalan ke arah timur, ke kota Ciamis dari situ lalu masuk wilayah Jawa Tengah dan akhirnya menuju Semarang. Sepanjang perjalanan nuansa persawahan yang hijau, pepohonan yang rindang, jalanan yang berkelok dan pemandangan yang asri pasti sanggup melupakan waktu tempuh yang lebih lama ketimbang memilih jalur pantura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Nadya kini tampak berkemas, aku memerhatikannya dengan sedikit cemas. Nadya istriku, tidak terlalu pintar untuk urusan berkemas. Ia tidak terampil  menyusun pakaian dan perlengkapan perjalanan di dalam koper. Baju-baju dan perlengkapan lainnya seperti sepatu, alat mandi, kosmetik dan peralatan shalat dijejalkannya tak beraturan. Lalu resleting koper ditutupnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koper tampak kembung tak karuan. Aku tersenyum getir. “Istriku Nadya, seandaikan aku…” gumamku pelan, tak jadi melanjutkan kata-kata. Aku beranjak dari tempatku duduk, kemudian berlalu meninggalkan Nadya yang sedang berkacak pinggang menatap kopernya yang buncit seperti perut kekenyangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; “Kamu tidak menemaninya?” Tanya seorang Kakek berperawakan kecil berjanggut putih kepadaku, setelah aku meninggalkan Nadya. Rupanya Nadya sudah memasukkan koper dan semua keperluan pribadinya saat ia di Semarang nanti ke bagasi mobil. Tidak lupa ia membekali dirinya dengan laptop. Lalu mobil berwarna merah metalik itu menderu,  melaju perlahan meninggalkan pekarangan rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Tidak Kek, nanti saja aku temui Nadya di Semarang,” kataku menjawab pertanyaan kakek berjanggut putih itu. Kakek itu pun pergi meninggalkan aku yang masih termangu di teras rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku kembali sibuk dengan urusanku sendiri. Hari ini aku berencana menemui beberapa kerabat untuk bersilaturahmi. Aku pikir, saat ramadhan dan menjelang idul fitri adalah waktu yang tepat bagiku menemui beberapa kerabat yang kukenal untuk sekadar saling mengucap maaf lahir dan batin, sekaligus saling berbagi,  memberi motivasi dan dukungan satu dengan yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kami sering berkumpul di saat-saat tertentu. Mungkin aku akan menemui terlebih dahulu Arya, bocah kecil usianya kini 6 tahun. Lantas menemui sepasang suami-istri Handoko dan Pratiwi. Pasangan yang tidak pernah berpisah walaupun belum dikarunia seorang anak pun, mereka selalu mesra dan saling setia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kali ini aku akan mengusulkan kepada mereka, agar Arya bisa mereka angkat menjadi anak asuh. Hitung-hitung beramal,  sekaligus Arya mendapat pengganti orang tuanya. Setelah itu aku akan menemui Kapten Polisi Gahana. Sekadar ngobrol tentang situasi mudik lebaran, atau kalau lagi beruntung aku bisa mendapatkan bocoran-bocoran informasi penting seputar dunia politik dan keamanan. Maklum Kapten Gahana punya banyak relasi di Mabes Polri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tapi, entah kenapa, tiba-tiba menyelinap rasa ragu. Aku putuskan untuk mengurungkan niat menemui kerabat-kerabatku itu. Perasaanku seketika disusupi oleh perasaan yang tidak enak. Bayangan Nadya berkelebat di benakku. “Ah, Nadya, tunggu… aku ikut!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Namun terlambat, aku sudah tak bisa lagi menemukan jejak mobilnya. Mungkin mobilnya sudah sejak tadi melesat menuju Semarang. Dan sekarang sedang melaju bersama kendaraan-kendaraan lain dan tenggelam di jalan raya yang sesak, menuju kampung halaman masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Rasa tidak enak terus menerus menggedor relung hatiku, perasaan melankoli menyeruak. Aku menjadi sangat sedih dan kesepian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; Terbayang kembali peristiwa perpisahan kami setahun yang lalu. Kenangan bagai film usang yang diputar berulang-ulang. Sebenarnya kami tidak pernah bercerai. Setelah kami berdebat sengit perihal jalur pantura atau jalur selatan yang akan kami lalui untuk mudik, akhirnya aku mengalah. Dan sepakat dengan pilihannya. Jalur selatan. Walaupun dengan perasaan dongkol, aku menuruti kemauan Nadya. Kami pun mudik melalui jalur selatan tiga hari menjelang lebaran setahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sepanjang perjalanan dengan mobil Nissan Terrano, aku tidak banyak bercakap-cakap dengannya. Aku lebih banyak diam, serius menyetir sambil menatap jalanan yang masih lengang karena puncak mudik belum tiba. Sama dengan aku, Nadya pun, mengunci mulutnya, diam. Mungkin, saling berdiam diri, adalah keputusan yang bijaksana, agar kami tidak berdebat lagi atau terlibat keributan mulut yang akan mengurangi pahala puasa kami saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mobil kami terus melaju membelah jalan. Selepas dari pintu tol Padalarang, barulah Nadya bersuara. “Aku kangen ketupat dan opor ayam buatan ibuku,” katanya, membuka percakapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Hai, akhirnya kamu bersuara juga” candaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kamu sih nyebelin, buktinya sampai Padalarang perjalanan kita lancar,” sungutnya, wajahnya tetap cantik walaupun sedang cemberut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Ngomong-ngomong soal ketupat dan opor, aku jadi laper nih Nad,” ujarku, sambil mengusap-usap perut. Nadya malah mencubit perutku. Aku menjerit kesakitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Nanti makannya setelah tanjakan Nagreg saja ya? Kan di situ banyak restoran,” kata Nadya manja. Suasana seketika mencair. Aku dan Nadya kemudian ngobrol tentang rencana kami setiba di Semarang nanti, diselingi canda dan tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Memasuki jalan tol kota Bandung menuju pintu tol Cileunyi tiba-tiba langit berubah menjadi mendung, hujan tampaknya akan turun. Dan benar saja hanya dalam hitungan detik bulir-bulir air hujan telah menimpa kaca mobil kami, semakin banyak dan akhirnya sangat deras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Nadya kemudian tertidur, aku tetap serius menatap jalanan. Curah hujan yang deras membuat pandanganku tidak leluasa. Akhirnya kami memasuki daerah Cicalengka lantas Pamucatan, Nagreg. Jalan yang menurun landai membuat aku ekstra hati-hati, sementara dari arah berlawanan banyak mobil atau bus yang mogok karena tak sanggup menanjaki jalanan yang cukup terjal itu, sehingga mengakibatkan antrian kendaraan yang sangat panjang. Beberapa dari pengendara yang tidak sabar membunyikan klakson.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mendadak aku melihat sekelebat bayangan hitam menyeberang di depan mobilku. Bayangan hitam itu bagai energi buruk yang membuatku kaget dan terkesiap. Dengan gugup aku membanting setir mobil yang sedang melaju kencang ke kiri jalan. Nadya terbangun dan menjerit. Karena panik aku tak sanggup menguasai keadaan. Mobilku kemudian menyeruduk motor yang sedang ditumpangi oleh pasangan suami- istri yang berboncengan. Mereka terseret bersama motornya di bawah kolong mobil kami. Seorang petugas polisi yang sedang mengatur lalu lintas jalanan pun tak luput dari terjangan mobilku yang tak terkendali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tubuh petugas polisi itu terpental dan kepalanya membentur aspal jalanan yang basah. Kepalanya rengkah. Sebelum terhempas ke jalan, tubuhnya membentur pengendara motor lainnya, seorang Bapak dengan anaknya yang sedang berboncengan. Motor itu terjatuh, namun Bapak pengendara motor itu berhasil merangkak  dan menepi.  Malang bagi bocah yang dibonceng itu, tubuhnya terguling ke jalan kemudian terlindas oleh sebuah truk dari arah belakang. Peristiwa itu berlangsung sangat cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Nadya masih berteriak-teriak sambil menyebut asma Allah. Pandanganku mulai gelap, mataku nanar.  Mobil lantas menerjang sebuah pohon besar dan berhenti. Tuhan Mahapenyayang, Nadya selamat. Aku berusaha untuk membebaskan diri dari jepitan setir mobil yang menghimpit dadaku. Aku melihat Nadya menangis.  Aku berteriak agar ia tetap tenang dan segera ke luar dari mobil. Tapi Nadya terus menangis dan menjerit histeris. Lalu ia pingsan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ringan sekali tubuhku ke luar dari himpitan setir mobil dengan kondisi mobil yang ringsek. Aku memandang sekeliling, orang-orang mulai berhamburan mendekati mobil kami dan melihat motor yang berada di kolong mobil. Ada yang berteriak-teriak memberi instruksi, ada yang menangis, ada yang menutup mulutnya, tercekat. Seketika suasana jalanan Nagreg  menjadi riuh rendah. Kemacetan parah pun terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku lihat seorang petugas polisi mendekatiku, lalu diikuti oleh pasangan suami- istri, mereka menghampiriku. Lantas seorang anak kecil berjalan pelan ke arahku. Masya Allah!  Mereka tadi yang tertabrak mobilku. Mereka tidak meninggal. Mereka masih hidup! Pekikku dalam hati begitu gembira. Namun aku shock, Nadya masih pingsan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi bersatu dengan Nadya. Kami berpisah di jalanan tanjakan Nagreg. Tetapi kami tidak pernah bercerai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petugas polisi, pasangan suami istri dan seorang anak kecil bersamaku kemudian berjalan bersama menuju sebuah lorong besar  dikawal oleh seorang bertubuh tinggi dengan wajah yang samar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kami beristirahat setelah melewati lorong besar itu, di sebuah tempat yang luas berkabut dan dipenuhi bunga. Orang bertubuh tinggi itu menyuruh kami menunggu. Saat itulah aku berkenalan dengan Kapten Polisi Gahana, Handoko, Pratiwi dan Arya. Tetapi aku masih khawatir dengan keadaan Nadya.  Apakah ia baik-baik saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Seorang kakek bertubuh kecil berjanggut putih menghampiri kami, ia menyalami kami satu persatu. Mengucapkan salam selamat datang di tempat yang ganjil ini. Seperti tahu isi pikiranku, ia lantas berkata. ”Istrimu akan baik-baik saja sampai lebaran tahun depan,” sambil menjabat tanganku erat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku masih belum menyadari apa yang terjadi, begitu juga dengan Kapten Gahana, Handoko dan Pratiwi serta Arya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Menyusuri sebuah lorong besar, maka akan sampailah kalian di sebuah hamparan tempat yang mahaluas penuh halimun dan bunga. Di tempat itu aku menetap bersama yang lain.  Tidak jauh dari tanjakan Nagreg, kukira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; Mobil merah metalik milik Nadya melintas. Aku berusaha untuk menghentikan mobil itu. Nadya terkejut dan menginjak rem mendadak. Saat ini, menjelang senja. Nadya menepikan mobilnya pada sebuah pohon besar di sisi kiri tanjakan Nagreg. Ia lalu turun dari mobil. Perlahan ia berjalan mendekati pohon besar itu. Pohon setahun yang lalu ditabrak olehku. Tempat di mana aku berpisah dengan Nadya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dengan berlinang air mata, Nadya mengusap pohon itu dan sejenak kemudian ia bersedekap. Seperti orang berdoa. Bibirnya bergetar ketika ia berkata. “Mas, aku yakin kamu sudah tenang di alam sana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku menangis tersedu-sedu mendengar Nadya berbicara seperti itu. Aku berusaha untuk memeluk Nadya, aku begitu rindu padanya. Tapi Nadya tak bisa kuraih, tak bisa kurengkuh. Ia bagai energi gaib yang tak tersentuh. Aku ingin bercakap-cakap dengannya barang sejenak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika semuanya tampak terang. Nadya terkesima melihat cahaya terang benderang itu. “Mas, senanglah di tempatmu. Maafkan aku telah menahanmu menuju alam abadimu. Kini aku ikhlas!” jerit Nadya terisak-isak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak pernah merasakan kedamaian seperti ini. Hatiku begitu sejuk dan tentram. Ah, Tuhan telah menyambutku rupanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Maafkan aku Nadya, kamu lebaran sendirian lagi tahun ini,” ucapku lirih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah mendengar perkataanku, Nadya mengangguk-angguk. Sosok Nadya tiba-tiba hilang dari penglihatanku.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 2009-2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-2974953727171262637?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/2974953727171262637/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=2974953727171262637' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/2974953727171262637'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/2974953727171262637'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2010/10/nadya-lebaran-sendirian-cerpen-majalah.html' title='Nadya Lebaran Sendirian [Cerpen Majalah D&apos;sari edisi September 2010]'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-4238599592309960561</id><published>2010-09-14T03:19:00.000-07:00</published><updated>2010-09-14T03:21:01.927-07:00</updated><title type='text'>BONEKA (Dimuat di Suara Pembaruan, 1 Agustus 2010)</title><content type='html'>BONEKA&lt;br /&gt;Oleh : Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ketujuh setelah kematian Riri, putriku. Dan, beginilah pekerjaanku setiap petang. Menutup jendela kamar Riri dan menutup pintunya rapat-rapat. Lalu aku menuju beranda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar rumah bulan purnama telah menyembul di langit malam. Baris-baris cahaya samar-samar terpantul di lantai beranda rumah kami. Istriku sedang duduk termenung di kursi teras, sambil memeluk boneka kesayangan Riri. Begitulah pekerjaannya tiap petang. Lantas aku bergabung dengannya, duduk-duduk melamun mengenang Riri, sambil berlinang-linang air mata, aku pun menangis bersama istriku. Hingga rasa kantuk datang menyerang kami. Hingga malam benar-benar pekat dan mengajak kami tidur lelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang aku bermimpi bertemu Riri. Tapi putriku itu tak bisa kudekati, setiap aku lari mendekatinya, maka terbentang jarak yang semakin lebar menganga. Ia terus menjauh. Aku melihat Riri seperti daun-daun kering yang ditiup angin kemarau, hingga jauh terbang ke angkasa. Tak bisa kuraih, tak bisa kugapai. Riri hilang ditelan awan-awan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila aku tak bermimpi bertemu Riri, maka istriku yang bermimpi. Pernah istriku bercerita ia bertemu Riri di sebuah gedung tua. Dalam mimpinya ia hanya bisa memandang Riri penuh kerinduan lewat jendela tinggi yang terbuka, setiap istriku berniat memanjat jendela itu agar bisa mendekati Riri, maka jendela itu semakin meninggi. Hingga istriku hanya melihat Riri sebagai titik kecil yang bergerak-gerak dan semakin menjauh. Dan seperti aku, istriku terbangun dengan napas tersengal, lalu ia terisak-isak. Cuma itu yang bisa ia lakukan. Untuk tidur kembali, istriku memeluk boneka kesayangan Riri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum meninggal, Riri sempat merajuk agar boneka kesayangannya diperbaiki. Boneka kesayangan Riri adalah sebuah boneka bayi. Boneka bayi itu sangat lucu, apabila perutnya ditekan satu kali mengeluarkan kata “Papa,” dua kali berkata ”Mama.” Dan, apabila posisinya ditidurkan, mata boneka itu akan terpejam. Boneka itu terbuat dari plastik seperti boneka Barbie pada umumnya tetapi ukurannya cukup besar sehingga menyerupai bayi sesungguhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boneka bayi itu tubuhnya dibalut bahan velboa, bahan dengan bulu-bulu pendek dan halus serta lembut di tangan. Tentu saja Riri sangat menyukainya. Boneka bayi itu kubeli saat aku mengikuti sebuah seminar internasional di Tokyo, kala itu Riri berusia lima tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, aku tak tahu kenapa boneka itu rusak. Mungkin karena boneka itu sudah cukup lama dan tua. Saat ini saja Riri sudah beranjak remaja, bulan depan, seharusnya ia genap berusia duabelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pa, mata boneka Dede udah gak bisa nutup,” begitu kata Riri sambil menyorong boneka bayinya kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Coba Papa lihat,” kataku sambil memegang boneka itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boneka itu lalu aku baringkan di atas meja. Ya, benar. Mata boneka bayi itu tak terpejam. Mata bulat boneka itu terus terbelalak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuh kan, Pa. Ayo dong dibenerin!” rajuk Riri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Papa belikan yang baru saja ya?” usulku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gak mau! Riri pengen boneka Dede itu dibenerin. Kasihan Dede gak tidur-tidur,” katanya sambil cemberut. Aku hanya tersenyum melihat ulah Riri. Padahal ia bukan lagi anak kecil. Boneka bayi itu sejak lama dinamai Dede olehnya. Kukira sejak boneka itu ia terima sebagai buahtangan dari Jepang, boneka Dede itu menjadi teman bermain dan teman tidurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dibenerin di mana Ri?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di rumah sakit dong!” jawabnya ketus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja aku terkekeh mendengar jawaban Riri seperti itu. Riri mengambil bonekanya dari atas meja, dan ia berlari ke kamar mengurung diri. Istriku hanya tersenyam-senyum menyaksikan adegan itu. Lantas ia menyusul Riri yang masuk ke kamar. Pasti istriku akan membujuknya, agar Riri tidak ngambek berkepanjangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Kebiasaan membeli boneka telah kulakukan di awal-awal tahun kami menikah. Apalagi saat itu istriku belum juga hamil setelah kami menikah lebih dua tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat, boneka pertama yang kubeli adalah boneka Micky Mouse. Saat itu, aku harus bertemu dengan seorang klien di Los Angeles, Amerika Serikat. Sambil menunggu waktu pertemuan dengan klien, aku sempatkan diri untuk menyambangi Disneyland di California.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boneka Micky Mouse begitu menggodaku. Maka iseng-iseng kubeli sebagai hadiah untuk Kinar, istriku. Pasti ia senang. Aku bayangkan Kinar akan memeluk boneka itu dengan gemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, benar saja. Saat aku berikan boneka itu pada Kinar, matanya berbinar-binar. Ia memeluk boneka Micky itu sambil dielus-elusnya penuh kasih sayang. Sebenarnya ada rasa sesal membeli boneka itu jauh-jauh di Amerika, karena, pada saat Kinar mengelus-elus boneka itu, tanpa sengaja ia melihat label kecil yang tersembul di antara paha Micky. Pada label itu tertulis “Made in Indonesia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja kami berdua tertawa-tawa menyadari ketololanku. Jauh-jauh beli boneka di Disneyland Amerika Serikat, boneka itu berasal dari Indonesia juga. Namun, sebulan kemudian kami tertawa bahagia, karena Kinar hamil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya aku berharap anakku laki-laki. Aku bayangkan putraku tampak gagah menunggangi sepeda gunung yang biasa kupakai menjelajahi bukit-bukit di daerah Sentul sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi toh, aku menerima dengan lapang dada, ketika kutahu anakku perempuan. Apa bedanya? Laki-laki atau perempuan, sama saja. Lagi pula, boneka-boneka yang kami beli jumlah cukup banyak. Sehingga kami tak perlu lagi membeli boneka baru untuk anak kami saat ia lahir kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka saat Riri lahir, telah tersedia beragam boneka. Mulai dari boneka Teddy Bear hingga Micky Mouse. Dan boneka-boneka lainnya seperti Hello Kitty, Snoopy, Twitty, Winnie the Pooh dan Barbie. Tampaknya Riri sangat suka dengan semua boneka koleksinya itu. Hingga akhirnya ia memutuskan memilih satu boneka favorit, yaitu boneka bayi yang kubeli di Tokyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riri memanggilnya boneka itu Dede. Apakah ia sangat ingin mempunyai seorang adik? Padahal istriku tak boleh lagi hamil karena ada masalah pada rahimnya. Tapi apakah Riri mau tahu, bahwa ibunya telah disteril. Karena Riri tak kunjung mendapatkan seorang adik, semakin sayang ia pada boneka bayinya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga boneka itu rusak dan ia merajuk meminta aku memperbaikinya. Tapi, belum sempat boneka itu kuperbaiki Riri meninggal dunia karena sakit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa hancur hati kami. Serpihan-serpihan hati kami yang hancur mungkin sampai ke langit ketujuh. Kepingnya tertinggal di sana, bersama Riri. Ya, kami terlambat menyelamatkan nyawa Riri dari serangan kanker otak. Betapa benci kami pada diri kami sendiri. Sia-sia uang dan harta yang kami miliki. Uang bagi kami, kini hanya selembar kertas tanpa arti. Mungkin kah Riri benci juga pada kami?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendongak menatap langit malam dan melihat bulan. Bulan purnama sempurna melayang di atas pucuk-pucuk pohon. Diam-diam cahaya bulan memudar, pendarnya meredup tertutup tipisnya awan-awan hitam. Awan tipis semakin menebal. Terdengar suara halilintar di langit. Hujan pun turun tak lama setelah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam keempatpuluh sejak kematian Riri, keadaan tak berubah. Kami malah makin tenggelam dalam lubang kesedihan yang paling dalam. Selain rutinitas bekerja sepanjang hari. Maka sepanjang malam, aku dan Kinar hanya duduk-duduk melamun mengenang Riri di teras rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istriku memeluk boneka bayi kesayangan Riri sambil berurai air mata. Kesedihan kami ini bukan tanpa alasan. Betapa kami tak pernah bisa mendekati Riri dan memeluknya dalam mimpi sekalipun. Setidaknya, apabila kami bermimpi dan bertemu dengan putri kami itu, ingin rasanya memeluknya. Bercanda-canda dengannya atau menghadiahkan sebuah boneka baru untuknya. Tapi kenapa Riri tak bisa kami dekati, apalagi kami dekap. Meskipun hanya dalam mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, betapa sulitnya kami menghapus kenangan bersama Riri. Tak semudah dan sesederhana menghapus tulisan dari papan tulis. Riri putri kami satu-satunya, cantik, lucu dan ia adalah matahari bagi kehangatan keluarga kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini tak ada lagi kebahagiaan dalam rumah besar ini. Tak ada lagi berisik suara Riri ketika akan berangkat ke sekolah sebelum sarapan, atau saat ia menyambut kami pulang kerja di senja hari. Suara berisik Riri itu mampu menghilangkan kepenatan kerja kami. Oh, betapa hampa hidup kami ini tanpa dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan kelabu terus menitik turun menyiram malam, awan tebal bergulung-gulung di udara dan mewarnai langit, saat itulah kami berdua tertidur di sofa ruang tamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;“Papa, Mama….!” Suara Riri samar terdengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cepat dan tercengang-cengang, aku dan istriku terbangun dari tidur. Kami bangkit dengan badan gemetar. Suara Riri yang memanggil-manggil kami walau lamat-lamat namun jelas terdengar. Kami ragu, apakah ini mimpi atau nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Papa, Mama, ke sini!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara Riri terdengar lirih dari luar. Kami lalu berlari dan membuka pintu rumah. Hujan telah berhenti mengguyur tanah. Bulan belum sepenuhnya bulat, dalam temaram cahaya bulan kami mengikuti arah suara Riri memanggil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di pekarangan rumah, halaman rumah dan sekelilingnya tiba-tiba mengabur. Aku dan Kinar berpelukan, napas kami tercekat di kerongkongan. Sejenak kami tak bergerak. Waktu berjalan sangat lambat dalam gelap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Papa, Mama, Riri di sini.” Suara Riri membuyarkan kegelapan yang menyelimuti tanah kami berpijak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Riri, kamu di mana sayang?” Aku mulai cemas. Aku mengedar pandangan. Kenapa kami sudah berada di ruangan besar ini? Apakah ini hanya imajinasiku dan Kinar yang datang bersamaan. Apakah kami berada di dimensi mimpi yang sama? Aku benar-benar tak ambil peduli. Yang penting, kami bertemu Riri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas, aku pernah datang ke gedung tua ini,” ujar Kinar dengan bibir bergetar. Ya, Kinar pernah ke sini. Ia datang di tempat ini dalam mimpinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lihat ada cahaya di ujung sana!” seruku. Aku dan Kinar setengah berlari menuju ujung lorong itu. Sungguh kami melihat pemandangan yang menakjubkan di situ. Di lorong itu penuh dengan berbagai macam boneka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok-sosok boneka itu terbaring tak berdaya di lantai lorong. Dari tubuh boneka-boneka itu keluar pendar cahaya yang redup. Seperti bola lampu yang kehilangan pijar cahaya. Ada boneka yang tanpa lengan, kaki dan bahkan, kepala. Mereka memang tak bernyawa, namun denyut hidup terasa di lorong itu. Begitu bergetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan Kinar terpukau. Tiba-tiba aku ingat boneka Dede, boneka bayi kesayangan Riri yang rusak. Perasaan sedih menyeruak dari rongga dada, ah kenapa aku tak segera memperbaiki boneka bayi kesayangan Riri itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Papa, Mama!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara Riri terdengar lagi memanggil kami. Suara itu begitu jelas. Sepertinya sosok Riri berada tepat di depan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, suara itu bukan dari mulut mungil Riri yang kami rindukan. Suara itu berasal dari mulut boneka bayi kesayangan Riri yang tergolek di lantai. Mata bulat boneka bayi yang tak bisa terpejam itu berkaca-kaca. Air matanya meleleh melewati pipinya yang montok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kedalaman bola mata boneka bayi yang basah itu, kami melihat Riri sedang bermain gembira bersama para bidadari, di surga. Riri melambai-lambaikan tangannya pada kami, seperti daun-daun yang tertiup kesiur angin. Tangannya terus melambai-lambai, hingga pandangan kami mengabur. Kukira kami terlelap lagi dalam tidur sampai pagi.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 6 Maret 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-4238599592309960561?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/4238599592309960561/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=4238599592309960561' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/4238599592309960561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/4238599592309960561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2010/09/boneka-dimuat-di-suara-pembaruan-1.html' title='BONEKA (Dimuat di Suara Pembaruan, 1 Agustus 2010)'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-213040626554866442</id><published>2010-07-26T07:42:00.000-07:00</published><updated>2010-07-26T07:44:30.518-07:00</updated><title type='text'>Mahadi dan Teh Manis Hangat (Pikiran Rakyat, 25 Juli 2010)</title><content type='html'>Kerap tanpa disadari olehnya, Mahadi selalu merasa miskin. Miskin untuk ukuran Mahadi, tidak punya uang. Kalau ingin membeli sesuatu harus utang dulu sana-sini. Termasuk membeli kebutuhan hidup untuk anak dan istrinya. Padahal, ia bukanlah pengangguran. Mahadi seorang pegawai honorer di Kantor Pemda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, jabatannya tergolong rendah. Hanya semacam tukang antar surat dan pesuruh yang bertugas melakukan pekerjaan serabutan di kantor pemerintahan itu. Seperti menyapu lantai lantas mengepelnya. Menyapu halaman kantor dan merawat tanamannya. Mengganti lampu yang mati. Membetulkan genteng yang bocor dan pekerjaan-pekerjaan rendahan lainnya. Ya, uang gajinya memang sangat kecil, meski sudah memenuhi syarat upah minimum provinsi setelah dipotong kas bon sana-sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil kerja serabutan di kantor, Mahadi terkadang mendapat uang tip dari atasannya atau orang yang menyuruhnya. Lumayan, seribu-duaribu perak, sangat cukup untuk menyambung hidupnya selama sehari. Karena, gajinya yang kecil itu, sudah diserahkan semua kepada istrinya setiap tanggal gajian. Tak ada sisa untuknya, kecuali untuk transportasi. Mahadi maklum, karena kelima anaknya lebih penting dari dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahadi yang miskin. Begitulah, yang kerap ia ucapkan pada dirinya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betapa sulit hidup di negeri yang harga sembakonya selalu melambung tinggi,” gerutu Mahadi, sambil mengambil sapu lidi besar bergagang panjang dan segera menyapu pekarangan kantor kabupaten. Ia sering membayangkan dirinya menjadi orang kaya. Seperti Pak Bupati, misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa senangnya menjadi orang kaya. Punya banyak uang, mau beli ini-itu tinggal merogoh kocek lalu keinginan dan kebutuhan terpenuhi. Mahadi tersenyum-senyum sendiri membayangkan dirinya punya banyak duit, sembari dengan terampil tangannya memegang tangkai sapu lidi menyapu halaman kantor yang kotor. Dengan telaten ia terus menyapu sampah-sampah dan dedaunan kering yang mengotori halaman kantor. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Mahadi, walaupun hidup terasa begitu sulit dengan beban ekonomi yang menghimpit akibat kekurangan uang, ia tetap bekerja giat tanpa terlihat bermalas-malasan. Mahadi tidak seperti lulusan sekolah menengah umum zaman sekarang, yang tak sudi bekerja keras, hanya karena upah yang diterimanya tak bisa membeli pulsa handphone. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seandainya daun-daun kering itu berubah menjadi lembaran uang. Ah, betapa nikmatnya hidup ini,” batin Mahadi berkhayal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahadi lalu memunguti daun-daun kering itu satu per satu dengan sangat cermat. Lalu  daun-daun itu dimasukkannya ke dalam kantong sampah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu sampai kiamat pun daun-daun itu tak akan pernah menjadi duit!” umpatnya, lalu ia tersenyum kecut. Halaman kantor pun kini bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mahadi…!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang memanggil namanya dengan suara keras. Mahadi menoleh ke belakang. Rupanya Jasmer, Kepala Unit Satpol PP Kantor Bupati yang memanggilnya. Dengan sopan Mahadi menyahut panggilan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, saya Pak Jasmer. Ada apa?” jawab Mahadi, seraya berjalan mendekati Jasmer dengan sedikit membungkuk. Mahadi memang sangat sopan kepada semua orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tolong buatkan aku kopi,” kata Jasmer. “Nanti kopinya langsung bawa saja ke ruanganku,” lanjut Jasmer meninggalkan Mahadi sambil melangkah ke dalam ruangan kantornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Segera laksanakan, Pak!” ujar Mahadi sigap. Ya, salah satu job description Mahadi adalah membuatkan kopi atau membelikan makanan untuk pegawai-pegawai dan atasannya. Tugas yang mirip office boy di kantor-kantor swasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berselang lama Mahadi telah selesai membuat segelas kopi panas. Setelah itu, ia bergegas menuju ruang Jasmer yang tidak terkunci. Jasmer sedang menerima telepon, wajah Kepala Satpol PP itu tampak tegang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gawat!” Itu kalimat yang terdengar oleh Mahadi saat ia menyeruak masuk ke ruang Jasmer. Jasmer lalu meletakkan gagang telepon. Wajahnya kini tampak gusar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak Jasmer, kopinya sudah siap… Silakan,” kata Mahadi meletakkan segelas kopi panas di meja Jasmer. Ia lalu mohon pamit pada Jasmer yang tak menjawab basa-basinya. Mahadi sangat maklum dengan Jasmer,  karena ia adalah satu-satunya Kepala Unit yang tak pernah memberikan uang tip kepadanya. Akan tetapi sebelum Mahadi mencapai daun pintu, Jasmer memanggilnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmm, apakah Pak Jasmer akan memberiku tip?” tanyanya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mahadi…! Sini dulu,” panggil Jasmer, suaranya tidak sekeras ketika memanggilnya tadi. Cukup lembut dan penuh maksud. Mahadi berpaling ke arah Jasmer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa Pak?” tanya Mahadi, sopan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begini…,” ragu-ragu Jasmer mengutarakan maksudnya. “Enggg, sudahlah! Nanti saja, enggak jadi!” kata Jasmer sambil mempersilakan Mahadi untuk keluar ruangannya dengan mengibaskan tangan. Mahadi tak banyak menyahut, lelaki itu keluar dengan patuh. Ada semacam perasaan dongkol, tapi langsung ditepisnya jauh-jauh. Jasmer tak memberikan tip itu sudah biasa. Namun Mahadi bertanya-tanya, kenapa tiba-tiba Jasmer memanggilnya dan kemudian tak jadi mengungkapkan sesuatu? Lalu ia pun berpikir, situasi gawat macam apa yang sedang melanda Jasmer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, ada apa dengan Pak Jasmer? Seperti orang ragu-ragu dan apa pula yang gawat?” batin Mahadi, lalu ia menggeleng-geleng kepalanya tanda tak mengerti. Adalah sebuah pilihan yang tepat untuk tidak mencampuri urusan orang lain. Toh, kalaupun namanya sempat dipanggil untuk sesuatu hal, belum tentu hal itu berlaku bagi dirinya. Mahadi kemudian menuju ruangannya yang terletak di belakang kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat sampai ke ruangannya. Ia mendengar namanya dipanggil. Kali ini yang memanggilnya, Rustam, supir pribadi Bupati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak Bupati memang aneh, padahal selaku Kepala Daerah, ada beberapa supir yang disediakan oleh Pemda, tetapi Pak Bupati selalu mempercayai mobilnya disupiri oleh Rustam. Walaupun begitu, Rustam tidak serta-merta menjadi PNS. Menurut informasi, Rustam digaji langsung oleh Bupati. Gaji Rustam bukan dari kas Pemda. Lagi pula sebelum jadi Bupati, Karyadi Khasnawan–nama lengkap Bupati–sudah jadi pengusaha yang sukses. Sehingga supir-supir resmi Bupati, akhirnya sering makan gaji buta,  mereka banyak nganggurnya. Paling-paling sesekali menyupiri staf-staf Pemda yang mau belanja atau jalan-jalan ke mal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rustam kembali memanggil Mahadi. Dikiranya Mahadi tidak mendengar panggilannya yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa Pak Rustam?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gawat!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gawat apa Pak? Tadi juga Pak Jasmer bilang gawat saat bertelepon.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Begini, tadi Pak Bupati hampir saja terbunuh?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terbunuh?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, mobil kami ada yang menyeruduk dengan sengaja. Untung Pak Bupati dan saya tak cidera, hanya mobilnya saja yang lumayan parah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Diseruduk apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Truk tronton!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gila!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, rupanya saat ia masuk ke ruang Jasmer, Sang Kepala Satpol PP itu menerima telepon mengenai mobil Bupati yang diseruduk truk tronton. Mahadi membuat kesimpulan sendiri atas peristiwa itu dengan kesimpulan sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita ditabraknya mobil Bupati keesokan hari mendominasi halaman depan koran-koran lokal. Menjadi berita utama. Berbagai opini, ulasan dan spekulasi membumbui berita heboh itu. Spekulasi yang bikin gerah Pemda adalah masalah perselingkuhan Karyadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah bukan rahasia umum, Pak Bupati terlibat asmara dengan seorang perempuan pengusaha batik bernama Sintawati. Pengusaha batik itu memang tidak tinggal di ibukota kabupaten, ia menetap di Jakarta. Hanya sesekali ia datang ke kabupaten untuk melihat pabrik dan proses produksi batiknya. Dan, tentu saja bertemu diam-diam dengan Pak Bupati. Begitu juga sebaliknya, demi alasan tugas Pemda ke Jakarta, Karyadi sering menyelinap diam-diam ke kamar apartemen Sintawati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemungkinan besar, Ibu Bupati yang ingin mencelakai suaminya yang berselingkuh itu. Begitulah spekulasi yang terjadi di beberapa paragraf koran-koran. Sudah lama Karyadi dan Wartina–nama istri Bupati–pisah ranjang. Namun, berita-berita tak sedap tentang kehidupan orang nomor satu di kabupaten itu tak jadi besar berkat kelihaian partai politik pendukung Karyadi yang bergerilya untuk meredam media dan para wartawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahadi membaca koran lokal dengan saksama. Ia merasa rugi apabila tak membacanya secara detail dan tuntas. Tentu, karena berita-berita itu begitu heboh menggosipkan orang nomor satu di kabupaten ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mahadi....!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang memanggilnya dengan lantang, siapa lagi kalau bukan Jasmer. Bergegas Mahadi menuju ruangan Jasmer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ruangan itu Mahadi melihat seorang perempuan yang ia sudah sangat kenal, istri Karyadi. Ibu Bupati itu berada di ruang kantor Jasmer. Ia terlihat begitu gelisah, duduk berdiri, duduk lagi berdiri lagi. Mahadi membungkukkan badannya menghormati Wartina. Kepalanya ia tundukkan dalam-dalam, tak berani ia memandang Wartina. Mahadi tampak tegang sekali.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Wartina memang kalah cantik dibanding Sintawati, selingkuhan Pak Bupati. Wartina hanya menang di tinggi badan saja, untuk ukuran kecantikan wajah Wartina tentu biasa-biasa saja. Sintawati berparas sangat cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bu, ini Mahadi, pesuruh di kantor ini,” Jasmer melumerkan ketegangan Mahadi dan kegelisahan Wartina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Oh, Pak Mahadi, saya mau minta tolong,” kata Wartina dengan suara sedikit bergetar tapi berwibawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Siap, Bu!” jawab Mahadi masih menunduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kau yang membuatkan minuman untuk Bapak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Betul Ibu, setiap pagi saya membuatkan teh manis hangat kesukaan Bapak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pak Mahadi, mulai saat ini tolong buatkan Bapak teh manis hangat, dengan menggunakan teh celup dari saya ini,” kata Wartina, sembari menyerahkan sekotak teh celup dengan merk yang tak asing bagi Mahadi ke tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ingat, harus pakai teh itu. Tidak boleh teh lain!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Laksanakan, Bu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sana pergi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Baik, Bu! Mohon pamit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Mahadi selalu menyuguhkan teh manis hangat pagi-pagi untuk Pak Bupati dengan teh celup dari Ibu Bupati setiap harinya. Hingga akhirnya Mahadi tak pernah lagi membuatkan teh manis hangat. Di suatu pagi, Pak Bupati wafat karena sakit. Sakit karena apa, entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu semua warga kabupaten sangat bersedih, termasuk dirinya juga Rustam, supir pribadi Pak Bupati. Pada saat pemakamam, hadir juga Sintawati. Kedua perempuan itu saling menghujam tatap. Tatapan yang saling memendam rasa. Rasa amarah yang berkobar-kobar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah acara pemakamam selesai. Wartina menghampiri Sintawati. Seraya tersenyum penuh kemenangan. Kemenangan itu telah diraihnya melalui tangan Mahadi yang tak tahu apa-apa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kini, Mahadi tetap bekerja di Kantor Pemda dengan segala kesederhanaan dan kemiskinannya. Hanya saja, ia tak lagi menyuguhkan teh manis hangat kepada Bupati baru pengganti Karyadi, Bupati yang telah mangkat itu. Karena Bupati yang baru, sangat suka kopi panas dengan gula setengah sendok makan saja.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 29 April 2009 - 01 Mei 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-213040626554866442?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/213040626554866442/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=213040626554866442' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/213040626554866442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/213040626554866442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2010/07/mahadi-dan-teh-manis-hangat-pikiran.html' title='Mahadi dan Teh Manis Hangat (Pikiran Rakyat, 25 Juli 2010)'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-6680562075143541604</id><published>2010-06-13T08:53:00.000-07:00</published><updated>2010-06-13T08:55:30.445-07:00</updated><title type='text'>Kami Pangil Dia, Babe.</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KAMI PANGGIL DIA, BABE&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami biasa memanggilnya, Babe, karena ia sudah seperti orang tua kami. Seharusnya, kami memanggilnya kakek. Usianya kata orang-orang sudah enampuluhan. Namun, karena orang-orang memanggilnya Babe, maka kami pun ikut-ikutan saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah dan cara berjalan Babe membuat beberapa anak kecil di lingkungan kami ketakutan. Ia memiliki wajah yang terkesan seram, hidungnya pesek dan beberapa giginya di bagian tengah telah tanggal. Saat ia tertawa yang terlihat adalah gigi taringnya, hingga ia seperti menyeringai mirip drakula. Apalagi, di dahinya penuh dengan luka parut, alias codet. Kaki kanan Babe lebih pendek dibanding kaki kirinya, sehingga ia berjalan pincang. Apabila ia berjalan, jalannya terseok-seok seperti orang yang sedang mabuk kepayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, bagi kami, anak-anak yang sudah cukup lama mengenalnya, Babe tidaklah seseram penampilan fisiknya. Babe sangat baik dan ramah. Ia suka memberi kami makanan ringan, permen, es krim, bahkan uang tanpa kami minta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga sangat dermawan, walaupun ia tak mempunyai pekerjaan tetap. Babe bukan pedagang, atau pegawai. Ia, hanya memulung sampah-sampah, lalu ia jual pada penadah di pinggiran kota. Babe, juga secara rutin menyumbangkan uang hasil memulung ke masjid sempit di gang perkampungan rumah kami. Aku sempat heran, Babe selalu menyumbang uang untuk masjid, padahal ia tak pernah terlihat shalat di masjid itu atau di rumahnya sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ditanya untuk apa ia menyumbang uang ke masjid. Katanya, untuk tabungannya kelak di akhirat. Ia, tak ambil peduli tentang omongan orang mengenai shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babe hidup seorang diri. Ia tidak mempunyai sanak saudara. Menurut cerita orang-orang, ia berasal dari sebuah desa terpencil di Sumatera. Ia merantau ke Jakarta, karena anak dan istrinya meninggal akibat penyakit malaria. Dan, ia memang selalu mengulang cerita itu kepada orang-orang atau anak-anak yang sudah mengenalnya. Termasuk kepada aku dan Hasan. Mungkin juga pada Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia dulu punya sehektar kebun kelapa sawit. Katanya, ia hidup berkecukupan saat itu. Hanya saja, sejak wabah malaria menyerang kampungnya, dan menewaskan anak dan istrinya, ia memutuskan merantau ke Jakarta. Luka parut pada wajahnya, katanya lagi, dicakar harimau liar, saat ia tengah menggarap lahan perkebunannya. Tujuannya menetap di Jakarta, untuk melupakan kenangan atas anak dan istrinya, bukan karena faktor ekonomi semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Babe terletak di ujung gang dekat kali. Rumahnya saling himpit dengan rumah-rumah kumuh lainnya di pinggiran kali. Aku dan Hasan sering berkunjung ke rumahnya. Seperti pagi ini kami datang menyambanginya karena kami dengar dari anak-anak jalanan yang lain ia jatuh sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami masuk begitu saja ke dalam rumah, tanpa mengucapkan salam, begitulah kebiasaan kami. Rumah dalam keadaan lengang. Di meja ruang tamu yang sempit, tergeletak piring dan gelas kotor dengan sisa-sisa makanan yang telah mengering dan dirubungi lalat hijau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Babe, Babe di mana Be?” seruku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada jawaban. Aku dan Hasan saling pandang. Hasan mengangkat bahu. Lalu kami mengetuk pintu kamar yang terbuat dari triplek penuh tempelan stiker murahan dan poster artis Miyabi. Aku tahu namanya, karena dalam poster tersebut tertera nama perempuan setengah telanjang itu sedang mengangkang dengan celana dalam yang hampir melorot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Be, Babe...!” Kali ini Hasan yang memanggilnya sambil berteriak. Tidak ada jawaban dari dalam kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ke mana Babe ya? Katanya sakit, kok nggak ada di rumah?” tanyaku pada Hasan. Lagi-lagi Hasan mengangkat bahunya, tanda tak tahu. Kebiasaan yang membuat aku sebal, karena dengan begitu Hasan seperti orang tua yang acuh tak acuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mungkin Babe berobat ke Puskesmas, Rip,” kata Hasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jadi gimana dong? Kita tunggu, atau kita datang lagi entar sore?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ya, udah. Kita ke sini lagi entar sore aja. Lagian kalo kita nggak ngamen, mau makan apa kita?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Betul juga. Yuk, jalan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami lalu keluar rumah dan menutup pintu rumah Babe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(males ngelanjutinnya.... bersambung tanpa pandang waktu hehehe)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-6680562075143541604?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/6680562075143541604/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=6680562075143541604' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/6680562075143541604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/6680562075143541604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2010/06/kami-pangil-dia-babe.html' title='Kami Pangil Dia, Babe.'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-5071996808646647299</id><published>2010-06-04T07:38:00.000-07:00</published><updated>2010-06-04T07:39:19.296-07:00</updated><title type='text'>Kakek dan Nenek dalam Kenangan</title><content type='html'>Kakek meninggal ketika tidur di sofa sembari nonton televisi. Nenek yang tak kuat menahan rasa sedih di hatinya dan kehampaan yang begitu mendadak terjadi karena ditinggal mati kakek, meninggal sebulan kemudian. Mungkin, kakek dan nenek ditakdirkan sehidup-semati. Namun mereka tak ditakdirkan mati bersama. Ada selisih waktu sebulan persisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enak sekali cara meninggal kakek, tengah asyik nonton televisi, tertidur, lalu mati. Mungkin kakek bermimpi dulu sebelum ruhnya tak balik lagi ke jasadnya. Atau, malaikat maut dengan sengaja menahan ruhnya di alam mimpi. Siapa tahu mereka tak sengaja berpapasan di alam mimpi, lalu malaikat maut mengajak kakek minum kopi dan merokok. Jadi menurutku kakek tak pernah merasakan kematiannya. Baginya, mati hanya sekadar tidur dan mimpi panjang tak berakhir. Tapi apakah memang begitu? Aku tak tahu persis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasihan nenek, ia begitu sedih, setiap hari kerjanya hanya menangis dan menangis. Ia berhenti meratap, saat ia tertidur. Dalam tidurnya pun, kupastikan nenek menangis. Pantaslah kukira, nenek menangis saban hari, ia hidup bersama kakek cukup lama. Hitungannya bukan belasan tahun, tapi sudah puluhan tahun. Maka sangat wajar apabila nenek lalu sakit karena sedih, dan kemudian menyusul kakek ke alam baka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi nenek merasakan sakit dulu sebelum mati. Betapa menderita sakit sebelum mati, bukan kah begitu? Mudah-mudahan kakek dan nenek bisa bertemu di alam kematian mereka. Dan melanjutkan kehidupan mereka yang sempat terpisah sebulan serta menyelesaikan hal-hal yang sempat tertunda di dunia fana. Pasti kakek senang menyambut nenek. Kubayangkan mereka berpelukan seperti pose mereka di foto besar hitam-putih berbingkai kayu ukiran Jepara yang bertengger di kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kisah meninggalnya kakek dan nenekku. Kenangan ketika mereka meninggal tiba-tiba tumbuh kembali dalam ingatanku. Itu terjadi karena aku tertidur siang-siang. Walaupun tidurku sebentar, tapi aku sempat bermimpi. Mimpi bertemu kakek dan nenek di rumah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek menyulut sebatang rokok kretek, ketika aku baru saja sampai di teras rumah. Secangkir kopi masih mengepulkan asap tergeletak di atas meja. Tanpa permisi, aku mengambil sebatang rokok dari kotaknya. Kakek hanya mengangguk ketika aku menatapnya. Aku menyulut rokok dan mengisapnya sekali. Lantas berkali-kali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada percakapan, kami larut dalam isapan demi isapan rokok. Sesekali ia menyeruput kopinya. Sebenarnya ingin sekali aku menyerobot menyeruput kopinya, paling tidak menghilangkan rasa dingin yang ganjil yang menelusup dalam tulang-tulangku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, hawa dingin yang ganjil. Bukan kah ini di alam mimpi? Walaupun jelas, aku berada di ruang tamu rumah kakek dan nenek. Aku menyulut sebatang rokok lagi. Kakek belum membuka percakapan, aku pun malas memulai percakapan. Lagi pula, percakapan di alam mimpi akan menjadi bualan omong kosong yang sia-sia belaka. Aku pelupa. Pasti aku akan lupa tentang mimpiku apalagi obrolan yang terjadi di dalamnya. Ibarat membaca novel, tentu tak semua dialog-dialog dalam novel tersebut akan kita ingat baik-baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti itulah aku, aku tak pernah mengingat-ingat perihal mimpi yang terjadi saat aku tidur. Saat terbangun dari tidur, aku tak pernah menyadari aku bermimpi saat tertidur. Kedengarannya sangat menyedihkan, hidup dan tertidur, tapi tanpa ingatan mimpi yang bisa dikenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(belum tamat)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-5071996808646647299?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/5071996808646647299/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=5071996808646647299' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/5071996808646647299'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/5071996808646647299'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2010/06/kakek-dan-nenek-dalam-kenangan.html' title='Kakek dan Nenek dalam Kenangan'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-366234457654437165</id><published>2010-05-11T08:25:00.000-07:00</published><updated>2010-05-11T08:28:22.602-07:00</updated><title type='text'>Aku Tidak Sehebat Kartini [Jurnal Bogor Cerpen]</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Aku Tidak Sehebat Kartini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Bamby Cahyadi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; PIRING DAN GELAS KOTOR di dapur sudah menumpuk tinggi. Baru saja keluarga besarku mengadakan pesta pertunangan putriku, Bianka. Saat ini, pembantuku sedang menumpuk karpet yang kami pinjam dari musholla. Rasanya lelah sekali. Aku bayangkan bagaimana kalau Bianka menikah kelak. Pasti lebih repot, lebih lelah. Aku harus mempertimbangkan untuk menyewa gedung pertemuan kelurahan saja untuk acara pernikahan putriku nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calon mantuku, sesuai harapanku. Seorang sarjana dan memiliki pekerjaan tetap. Kalaupun ada beberapa kriteria yang tidak sesuai dengan harapanku, itu tak masalah. Lalu, aku bandingkan dengan almarhum suamiku, Kang Muslih. ”Ah, kalau saja Kang Muslih masih hidup, pasti ia akan menilai lalu membandingkan juga calon mantuku itu dengan dirinya,” batinku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Kang Muslih selalu menginginkan anak lelakinya menjadi seperti dirinya. Persis sama dengan dirinya. Aku jadi ingat, semasa hidupnya, ia selalu mengharapkan anak tertuaku menjadi seperti dirinya, karena ia anak laki-laki. Demikian juga anak keduaku, karena ia pun anak laki-laki. ”Laki-laki itu harus sepertiku,” kata Kang Muslih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, Bara, anak tertuaku yang baru saja berusia 17 tahun, pulang ke rumah dengan wajah bersimbah darah karena terlibat tawuran masal dengan pelajar sekolah lain, musuh abadi sekolahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, sebelum berangkat sekolah, Bara yang masih lebam akibat tawuran dibekali dengan sepucuk pistol. ”Jika masih ada yang berani menghajar kamu, tembak saja!” Kata kang Muslih waktu itu sambil menyodorkan pistol. ”Kamu itu laki-laki,” katanya lagi,  sambil melangkah ke mobil dinasnya. Alih-alih membawa pistol ke sekolah, Bara malah menyerahkan pistol itu kepadaku. ”Aku bisa mengatasi masalahku tanpa harus menggunakan pistol ini,” kata Bara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak dinyana, peristiwa itu merupakan kenangan terakhir suamiku kepada putra pertamanya, Bara. Ia gugur ketika sedang bertugas memimpin operasi militer di Timor-Timur. Sebagai komandan, suamiku sangat dihormati dan disegani oleh anak buahnya. Sebagai kepala rumah tangga, suamiku sangat dicintai dan dikagumi oleh anak istrinya. Demikianlah, suamiku tidak bisa menyaksikan Bara merayakan kelulusannya di sebuah SMA favorit. Kini, Bara tinggal dan bekerja di Jakarta. Hidup bahagia dengan seorang istri cantik dan dua anak. Bara tidak memiliki satu pun sifat dan watak ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brama, anak keduaku, mewarisi sifat dan watak ayahnya. Ia disiplin dan keras. Ketika suamiku gugur, Brama baru saja lulus SMP. Tamat SMA, atas bantuan rekan sejawat suamiku, Brama diterima sebagai Taruna Akademi Militer di Magelang. Karir dan prestasi belajar Brama sangat menonjol. Ia menjadi salah satu lulusan terbaik Akmil Magelang. Brama belum menikah. Sekarang ia bertugas di Nepal, bergabung dengan pasukan perdamaian PBB di bawah bendera Kontingen Garuda. Hanya ada satu yang membedakan Brama dengan ayahnya, Brama lebih pintar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghela nafas. Mengenang suamiku membuat hatiku selalu teriris dan sedih. Setiap kali membuka kitab ingatan, air mata selalu berdesakan berlomba keluar dari kelopak mataku. Betapa tidak, aku dan anak-anakku tidak pernah melihat jenazah Kang Muslih. Kabarnya, tubuhnya hancur diberondong peluru tentara Fretelin dan ledakan granat yang sedang dipegangnya. Padahal, aku sangat ingin melihat jenazahnya. Melihat untuk yang terakhir kalinya. Memberi kecupan selamat jalan di keningnya. Dan menuturkan gigil doa di pelupuk matanya. Tapi peraturan militer tidak membolehkan aku dan anak-anakku melakukan hal-hal itu. Aku hanya bisa melihat peti jenazah suamiku yang tertutup bendera merah putih, sebelum dimasukkan ke liang lahat di Taman Makam Pahlawan Seroja Timor-Timur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kang, Bianka sudah tunangan. Seandainya Akang masih ada di sini, pasti aku tidak secapek dan selelah ini.” Miris. Sedih. Dan mataku tak mau lepas dari sosok pada sebuah pigura, foto seorang laki-laki gagah dengan seragam militer. Tanpa terasa air mataku mengalir. Tetes demi tetes. ”Sudah dua kali aku menangis hari ini, Kang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu, kok Ibu menangis lagi?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba suara Bianka mengagetkan aku. Lamunanku buyar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu ingat ayahmu Bian,” jawabku singkat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak mau merusak kebahagiaan anak bungsuku, Bianka, yang baru saja bertunangan. Bianka kemudian merangkulku, dia ikut menangis tersedu-sedu. Akhirnya kami berdua sama-sama menangis. Melampiaskan seluruh rasa haru, rasa sedih, dan rasa bahagia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku segera menyusut air mata. Menyekanya dengan punggung tangan. Aku tidak boleh terus bersedih. Jika pun harus ada air mata, maka yang pantas adalah air mata bahagia. Apalagi, sepanjang prosesi pertunangan tadi, Bianka tampak sangat bahagia. Dia banyak tersenyum, sumringah. Sesekali pipinya memerah mendengar senda gurau teman-temannya tentang misteri malam pertama, khususnya tentang rahasia hubungan badan suami-istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memeluk Bianka sangat erat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku biarkan tangisnya tumpah di dadaku. Saat ini, seperti aku, Bianka juga pasti sangat merindukan kehadiran bapaknya. Betapa bangga dan bahagianya acara tukar cincin tadi, jika disaksikan oleh Kang Muslih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, aku juga sedih karena harus mempersiapkan diri untuk ditinggalkan olehnya. Perasaanku sekarang berbeda sekali saat aku melepas Bara untuk menikahi Rindri. Sangat beda. Dulu, ketika Bara pergi, aku masih bisa tenang karena masih ada Bianka yang menemaniku di rumah ini. Tapi sekarang, aku bakal sendirian. Tak ada lagi yang menemani aku, selain kenangan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pasti akan kesepian, pasti. Karena setelah menikah nanti, Bianka akan diboyong oleh Harry, calon mantuku itu, ke Pekanbaru. Harry bekerja sebagai Manajer di sebuah perusahaan pengolahan kayu internasional. Bianka pun sepertinya akan bekerja di sebuah perusahaan kayu lokal. Aku tahu, dia tidak akan menyia-nyiakan gelar sarjana kehutanannya setelah dengan susah payah dia menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Kehutanan IPB. Sebuah jurusan yang sangat cocok dengan jiwa petualangnya. Aku bersyukur sekali dia menikah, karena mengurangi bebanku sebagai ibu seorang anak perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, dibalik rasa bahagia, menelusup nyeri. Sebentar lagi aku akan hidup sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; Acara pernikahan Bianka  berlangsung lancar. Meriah. Sanak-famili, handai-taulan, dan karib-kerabat, semuanya tumpah-ruah. Sangat meriah. Rasa capek dan lelahku berlalu sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, seperti yang aku takutkan, aku benar-benar sendirian. Tak ada siapa-siapa. Aku benar-benar sendiri. Kesendirian yang selalu memaksa aku membuka kitab-kitab kenangan. Siapa yang bisa bertahan dari gempuran keindahan masa lalu, ketika dia bersunyi sendiri? Tidak ada. Aku yakin tidak ada. Paling hanya bisa memalingkan sekejap ingatan dari kenangan dengan melakukan kegiatan ringan, seperti membaca, menulis, merawat tanaman. Sesudah itu, kenangan kembali akan merajalela. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untung saja, sekarang aku punya mainan baru, sebuah laptop pemberian Bara. Suatu hari, sebagai rasa syukur atas kelulusan Magisternya, Bara menghadiahkan sebuah laptop. ”Bu, aku belikan laptop untuk Ibu, supaya ibu kalau mau menulis surat tidak perlu pinjam mesin ketik kelurahan,” ujar Bara serius, waktu itu. Ia pun mengajari aku bagaimana caranya menggunakan komputer jinjing itu. Aku sangat bahagia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari kini aku lalui dengan banyak menulis dan membaca e-mail dari Brama yang masih di Nepal. Terakhir membaca berita dari Brama ketika ia bercerita tentang temannya yang gugur akibat kecelakaan helikopter. Berita itu lalu aku ikuti di media cetak nasional. Laptop ini sekarang menjadi teman paling setiaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi aku jadi teringat Kang Muslih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh berat sekali rasanya membesarkan Bara, Brama, dan Bianka seorang diri. Aku bahkan sering digunjingkan oleh tetangga setiap anakku meraih kesuksesan. ”Pasti dia menjadi istri simpanan seorang Jenderal.” Begitu omongan ibu-ibu perumahan yang suka bergosip ketika Bara bisa masuk kuliah di sebuah perguruan tinggi ternama di kota Bandung. Padahal, belum genap tiga bulan aku melepas kepergian Kang Muslih untuk selama-lamanya. Aku tidak peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetanggaku, bahkan anak-anakku sendiri, tidak tahu dari mana dan bagaimana aku bisa mendapatkan biaya hidup dan biaya kuliah. Aku hanya berpesan agar mereka selalu bersemangat belajar dan menanamkan keinginan kuat menjadi orang sukses. ”Tugas kalian hanya belajar, tidak perlu memikirkan dari mana ibu mendapatkan uang untuk biaya sekolah kalian,” kataku suatu hari ketika Brama memutuskan untuk bekerja selepas lulus SMA. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu hal yang sampai saat ini anak-anakku tidak tahu dari mana sumber keuangan untuk menghidupi dan membiayai kuliah mereka. Kejadian itu sangat berarti dalam diriku dan aku tidak pernah menceritakannya kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; Suatu hari, aku menyempatkan diri mampir untuk melihat-lihat buku di sebuah toko buku. Kebiasaan membaca sudah tumbuh sejak aku kecil. Bahkan, pada saat masih ada Kang Muslih, aku mengoleksi novel dan berlangganan beberapa majalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, pada saat itu, pikiranku sedang kalut. Bara membutuhkan sejumlah uang untuk biaya tugas praktek lapangan. Sementara penghasilan dari uang pensiunan janda veteran perang tidak cukup untuk menutupi kebutuhan Bara. Aku sempat berpikir untuk menggadaikan rumah, satu-satunya peninggalan Kang Muslih yang paling mewah, selain kenangan indah bersamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mampir ke toko buku membuat diriku agak sedikit rileks. Memang, toko buku ini tidak sebesar toko buku yang banyak bertebaran di Jakarta, tetapi cukup komplit menyediakan berbagai jenis buku. Mulai dari filsafat sampai politik, novel dan biografi, serta buku-buku yang berhubungan dengan hobi dan rumah tangga. Semua tersedia walaupun dengan jumlah yang sangat sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, mataku lincah memamah setiap demi setiap judul buku. Sesekali aku meraih buku yang judulnya menarik. Membaca halaman depan dan halaman belakang. Menelisik nama pengarang dan mereka-reka isi bukunya. Kadang-kadang, setelah melirik kesana-kemari, aku suka membuka segel plastik pembungkus buku secara diam-diam. Hingga, aku tertegun di depan sebuah buku. Buku itu masih terbungkus rapi. Segel plastiknya masih utuh meski agak sedikit berdebu. Sepertinya buku itu jarang disentuh dan buku cetakan lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penasaran. Akhirnya kucomot buku itu dari rak pajang. Benar, ini buku lama. Judulnya Habis Gelap Terbitlah Terang.  Buku karya R.A. Kartini yang  diterjemahkan oleh Armijn Pane. Gila! Aku kaget. Buku ini diterbitkan oleh Balai Pustaka pada 1978. Benar, ini buku lama. Ini buku yang sangat berharga. Kenapa buku langka dan dahsyat seperti ini bisa luput dari para pencinta buku? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu siapa Kartini. Aku mengenalnya  lewat pelajaran sejarah di sekolah. Aku juga tahu kalau dulu Kartini sering surat-suratan dengan para sahabatnya, di dalam dan di luar nusantara. Tapi, terus terang, aku belum pernah membaca apalagi tahu isi bukunya. ”Buku ini tipis,” pikirku lagi. Tidak terlalu tebal bagi kutu buku sepertiku. Hanya 214 halaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuatu dari dalam hati mendesak aku untuk membaca buku ini. Maka, setelah pemilik toko mengizinkan aku untuk membuka bungkus plastiknya, aku segera melahap daftar isi dan kata pengantarnya. ”Ah, aku suka buku ini. Suka sekali.” Aku memutuskan membeli buku langka ini, buku satu-satunya yang terpajang di rak buku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di rumah, aku larut membaca buku tersebut. Hanyut. Hingga lupa akan kekalutanku. Lupa bahwa Bara sedang membutuhkan uang dan lupa kalau aku hanya seorang janda. Aku larut dengan isi buku yang dengan apik disusun oleh Armijn Pane. Padahal buku itu hanya berisikan 87 surat-surat Kartini yang ditujukan untuk teman-temannya di Belanda. Beberapa waktu kemudian aku baru tahu bahwa masih banyak surat-surat Kartini yang belum terpublikasikan di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Demikian hebatnya surat-surat yang dibuat Kartini kepada sahabat-sahabat penanya,” desisku bersemangat. Beruntung sekali aku membeli buku itu. Aku sangat terinspirasi seusai membacanya. Ya, inspirasi. Begitulah perasaanku saat itu. Buku itu membakar semangatku. Aku harus mampu menyekolahkan anak-anakku dengan perjuangan sendiri. ”Tapi, bagaimana caranya? Hmm, aku kan bisa menulis. Ya, aku bisa menulis. Lalu, aku putuskan akan menulis sesuatu. Tapi, aku tidak punya mesin ketik.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak apalah, tulis tangan pun bisa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu juga aku menulis lembar demi lembar kenangan hidup bersama kang Muslih dengan tulisan tangan. Sampai aku tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, aku ke kantor Kelurahan. Salah seorang staf kelurahan masih terhitung kerabat almarhum suamiku. Aku meminjam mesin ketik untuk mengetik tulisanku semalam. Tulisan sederhana. Tulisan tentang kenangan bersama kang Muslih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai mengetik, aku memasukkan hasil ketikan itu ke dalam amplop dan mengirimkannya ke sebuah majalah wanita di Jakarta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berharap, tulisanku dimuat dan aku mendapatkan uang. ”Ah, tapi aku tidak boleh terlalu berharap.” Kalau tidak dimuat, nanti bisa kecewa. Yang penting, setelah membaca buku Habis Gelap terbitlah Terang aku sangat bersemangat. Itu saja. Tidak terpikirkan uang di benakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku akhirnya meminjam uang di Koperasi Veteran untuk menutupi biaya praktek lapangan Bara yang tertunda. Bara sampai mencium tanganku saat uang itu aku serahkan kepadanya. Seperti biasa, air mataku langsung mengalir dengan deras. ”Seandainya bapakmu masih hidup, ibu tidak akan berhutang,” batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap malam aku menulis. Menulis tentang apa saja. Dan keesokan harinya, setiap  pagi, aku ke kantor kelurahan untuk mengetik tulisan itu.  Kemudian, seperti biasa, tulisan itu aku masukkan ke dalam amplop dan mengirimnya ke media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila Brama dan Bianka bertanya ada urusan apa aku ke Kantor Kelurahan, aku selalu menjawab, ”ibu akan mengetik surat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga suatu hari, ketika itu aku sedang membaca sebuah majalah wanita, aku sangat terkejut bercampur bahagia. Tulisanku dimuat di majalah itu. Itu tulisanku yang pertama kali dimuat di majalah. Aku sujud syukur. Bulu romaku meremang. Aku gembira sekali. Air mata bahagia pun tumpah. Saking gembiranya, aku hampir saja menceritakan perihal tulisan itu kepada anak-anakku. Aku lupa, aku menggunakan nama samaran di tulisan itu. Pun demikian pada tulisan-tulisan lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku merahasiakan hal itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seumur hidupku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kemudian beberapa tulisanku sering dimuat di majalah maupun koran. Akhirnya, walaupun tidak banyak, aku mendapatkan uang tambahan untuk memenuhi kebutuhanku sehari-hari. Bahkan untuk menambah uang kuliah anak-anakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Bara mulai menyusun skripsi, aku menulis sebuah novel. Mujurnya, novel tersebut diterbitkan oleh sebuah penerbit besar di Jakarta. Novel pertamaku sangat digemari oleh kalangan perempuan. Dari novel itu aku menerima sejumlah uang. Royalti atas tulisanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari royalti itu aku melahirkan semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak aku rasakan nikmatnya mencicipi uang dari tulisan, aku tidak pernah berhenti menulis. Pada mulanya meminjam mesin ketik di kantor kelurahan hingga akhirnya punya laptop. Pada mulanya hanya menulis pengalaman nyata, lembar-lembar kenangan bersama kang Muslih, suamiku tercinta. Sekarang aku bisa menulis apa saja. Mengarang apa saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, aku menghidupi dan menyekolahkan anak-anakku dengan menjadi penulis. Anak-anakku belum juga tahu. Mereka juga tidak tahu tentang nama samaranku, Kartini. Biarlah anak-anakku tahu ibunya bernama Ida Kusdiah, janda veteran perang Timor-Timur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Kartini inspirasi hidupku. Namun, aku tidak sehebat Kartini.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 6 Maret 2010&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-366234457654437165?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/366234457654437165/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=366234457654437165' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/366234457654437165'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/366234457654437165'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2010/05/aku-tidak-sehebat-kartini-jurnal-bogor.html' title='Aku Tidak Sehebat Kartini [Jurnal Bogor Cerpen]'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-7442953511810064699</id><published>2010-04-15T23:39:00.000-07:00</published><updated>2010-04-15T23:40:52.468-07:00</updated><title type='text'>Prasodjo Chusnato Sukiman</title><content type='html'>Rabu, 14 April 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sebuah Catatan Kecil untuk Prasodjo Chusnato Sukiman&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas shalat ashar di tempat saya bekerja, barulah saya tahu melalui tayangan berita di televisi, telah terjadi bentrokan antar Satpol PP dengan warga Koja Tanjung Priok, Jakarta Utara. Saya bergidik melihat kekerasaan yang terjadi di sana. Setidaknya saya hanya bisa mengelus dada. Bagaimana perasaan juru kamera televisi yang sedang berjibaku mendapatkan gambar terbaik untuk dijadikan berita paling prestitus di stasiun tivinya? Bagaimana perasaan para petugas Satpol PP itu? Bagaimana perasaan warga Koja yang bertahan di sana? Semuanya berkecamuk di kepala saya. Saya memang perasa. Ya, begitulah kehidupan. Semuanya terus berjalan, walaupun perasaan saya tiba-tiba menjadi tak nyaman. Saya berharap semoga kerusuhan tak merembet ke mana-mana, bisa repot nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berkemas untuk pulang, sebentar lagi pukul 17.00. Hape saya bergetar, sebuah pesan singkat masuk, dari Krisna Pabichara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mas, saya sedang di Metromini, macet bo!” kata sms Khrisna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hati-hati di Metromini bro, karena hanya supir dan Tuhan saja yang tahu kapan Metromini itu sampai di tujuan,” balas saya, tentu via sms.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ha-ha-ha!” sahut sms Khrisna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergegas saya mencari taksi di depan kantor. Tujuan saya Tebet, Jakarta Selatan, saya janji akan bertemu Khrisna Pabichara di sebuah restoran cepat saji yang paling terkenal di dunia, mungkin juga di seluruh planet di sistem Galaksi Bimasakti ini (maaf, saya agak lebay untuk urusan ini restoran itu). Alhamdulillah, saya mendapatkan taksi yang saya kehendaki –taksi tarif bawah–dengan supir yang ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taksi lalu meluncur membelah jalanan yang padat, lantas melaju melalui jalan tol Taman Mini menuju Tebet. Bekas sisa hujan masih menempel di aspal jalanan. Langit kelabu, awan hitam berarak-arak, sepertinya berat menahan beban, mungkin sebentar lagi hujan akan turun kembali. Mudah-mudahan hujan tidak turun, jalanan Jakarta akan macet apabila hujan turun di sore hari, batin saya sambil memandang kosong ke arah langit. Di langit, saya melihat wajah sahabat saya Prasodjo Chusnato Sukiman berkelebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kok melamun? Iya, saya dan Khrisna, sore ini memang akan bertandang lebih tepatnya kami akan menjenguk ke rumah kost sahabat kami itu–pemimpin besar portal sastra koran Indonesia (sriti.com)–yang sedang menderita sakit, entah apa. Rumah kost Prasodjo Chusnato Sukiman (selanjutnya saya sebut Chus) berada di kawasan Kampung Slipi, Petamburan Brimob, Jakarta Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taksi yang saya tumpangi, tiba-tiba berjalan pelan. Saya terhenyak. Di depan taksi, terlihat antrian panjang mobil-mobil yang hendak keluar pintu tol Pancoran. Mobil merayap pelan-pelan, seperti binatang melata yang malas dan kekenyangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hape saya bergetar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Mas, saya sudah sampai di McD Tebet,” sms dari Krisna menginterupsi lamunan kosong saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya kena macet di Pancoran, tunggu ya, Mas!” balas saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja hendak menyimpan hape. Benda itu bergetar lagi. Sms dari Chus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pak, maaf hujan lho di Slipi.... Saya jam 21-an harus tidur karena tadi terapi, Pak,” kata  Chus via sms tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduh! batin saya. Saya bukan mengaduh karena sms Chus yang mengatakan ia akan tidur jam 21.00, saya risih kalau dipanggil ”Pak” Kesannya saya sudah sangat tua. Tapi, lupakan soal panggilan ”Pak” itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kita bawa payung kok, kalo Mas Chus ketiduran gak papa hehehe. Oh iya, tadi Bany udah balas smsku. Jadi aku datang dengan Khrisna aja,” balas saya dengan ketikan cukup panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba rinai gerimis yang tipis-tipis di luar menjadi hujan yang cukup deras. Wiper taksi bergerak-gerak, menyingkap air cucuran yang menerpa kaca depan taksi. Rupanya, hujan deras di daerah Slipi, sudah merambat cepat sampai Pancoran. Hujan merata di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaris sms masuk lagi menggetarkan hape saya. Bukan dari Chus, dari Khrisna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hujan Mas,” kata Khrisna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Iya, sebentar lagi saya nyampe. Mas, nanti langsung nyebrang aja. Biar gak ganti taksi. Saya masih di Pancoran, macet. Kalo udah dekat McD, saya telepon.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hujan Mas,” sahut Khrisna lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tersenyum, pasti Khrisna akan kehujanan saat menyeberang jalan untuk mencapai taksi. Bersyukur, saat taksi sampai di Tebet, hujan sudah tak begitu deras. Saya melihat Khrisna menyeberang jalan, berhenti sejenak di atas trotoar pembatas jalan, lalu menyeberang jalan lagi dan sampailah, ia membuka pintu taksi, dan taksi segera meluncur ke Slipi melalui Jalan Casablanca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit telah berwarna gelap, malam menjadi kelam tanpa bintang, ketika taksi mencapai kawasan Petamburan. Untung supir taksi paham betul letak Petamburan Brimob, Kampung Slipi di mana tempat Chus menetap. Beruntung supir taksi membantu kami untuk bertanya sana-sini menanyakan alamat yang tepat. Beruntung memang kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya bantuan Tuhan datang pada kami, saat taksi berhenti di depan sebuah gang. Ternyata di dalam gang itulah, letak rumah kost Chus. Dan, kami tak kesulitan menemukan rumahnya, tidak seperti yang kami pikirkan di jalan saat menuju ke Slipi tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan benar-benar telah reda dan kumandang adzan Isya menggema, ketika kami mengetuk pintu rumah kost Chus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adzan Isya masih berkumandang. Saya dan Khrisna mengucapkan salam. Salam dibalas oleh seseorang dari dalam. Ah, Chusnato yang menjawab salam kami. Ia keluar kamar dengan wajah sumringah, namun tersirat rasa lelah di matanya. Mungkin efek terapi tadi siang, pikir saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum bersalaman dengannya, saya melihat Chus dengan saksama. Ia tampak agak kurus, wajahnya juga tirus, tapi wajahnya selalu dihiasi oleh senyum lebar yang terus mengembang. Seolah-olah saya dan Khrisna tak sedang menjenguk orang sakit, tapi kami menjenguk sahabat yang sudah lama tak bertemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ia memang sedang sakit, walaupun ia dan kami tertawa terkikik-kikik sambil bersalaman, tetapi getar tawa yang getir, rasanya begitu hampa yang membahana. Betapa tidak, rambutnya yang pada saat ia sehat saja sudah cukup minimalis, maka ia tampak seperti–benar kata Sjaiful Masri, Arif Maulana, dan Taofik Hidayat (Wim)–seorang rahib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memakai baju kaus lengan panjang berwarna merah bergaris-garis putih, memakai celana training pack merk Nike berwarna abu-abu, dan ia memakai kaus kaki warna hitam. Kaus kaki ini bisa mengusir dingin, katanya pada kami. Ia sempat memrotes kami, saat kami membuka sepatu kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menawarkan, apakah kami mau bercakap-cakap di teras kamar atau di  dalam kamarnya. Khrisna memilih untuk bercengkrama di teras kamar saja, saya pun sependapat. Di luar kamar lebih leluasa. Tapi, apakah ia yang sedang sakit tak apa-apa kena angin malam? Ia malah tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nggak masalah! Saya jadi bisa merokok,” katanya sambil ngakak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khrisna tampak senang bercampur heran. Baginya, ia punya teman untuk merokok, tapi apakah Chus benar-benar boleh merokok?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya, nggak apa-apa khan merokok di sini?” tanya Khrisna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nggak apa-apa, nanti saya temani. Saya masih punya jatah lima batang rokok sehari kok!” jawab Chus masih sambil tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawanya begitu membahana, tak ada perubahan dari Chusnato yang kami kenal sebelumnya. Kecuali badannya yang lebih ramping dari sebelumnya. Ia begitu sempurna menutup penderitaan sakitnya di hadapan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agak sedikit terpincang-pincang ia masuk lagi ke dalam kamar, lantas ia terlihat menyeduh dua gelas kopi untuk kami. Saya berteriak mengingatkan,  ia tak perlu repot-repot. Khrisna sependapat dengan saya. Tapi toh, dua gelas kopi terlanjur dibuat olehnya. Dan, kini sudah tersaji di meja bundar kecil di pojokan teras. Kedua gelas kopi akhirnya diminum Khrisna, karena saya tak minum kopi, juga tak merokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memilih duduk di bale-bale bambu depan pintu, Khrisna duduk berjongkok di sebuah kursi plastik yang kaki-kakinya, mungkin, sengaja dipatahkan, di depanku. Sementara, ia mengambil posisi duduk di tengah, di antara kami, dekat jendela rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berbasa-basi, menanyakan bagaimana perjalanan kami menuju rumah kostnya. Tibalah kami bertanya soal sakitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Chus, agak sedikit galau. Mungkin ia ingin menyembunyikan sesuatu dari kami. Tentu saja kami mendesaknya, berita yang kami terima ia menderita sakit yang cukup parah, bahkan mematikan. Kami ingin memastikan kabar itu, walaupun tak membuat hati nyaman, tapi kami ingin tahu dari mulutnya langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Chus memerah, ia lantas terbata-bata. Suaranya tercekat, ketika ia bercerita perihal sakitnya, yang menurut dokter sakitnya sudah merasuk dan merusak tubuhnya, sehingga ia tak mungkin untuk terselamatkan lagi. Ia divonis mati oleh dokter. Badan saya bergetar, saya merinding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Prasodjo Chusnato Sukiman, berkaca-kaca, kedua telaga matanya dipenuhi oleh air mata. Ia berkali-kali minta maaf, karena ia menangis saat bercerita tentang sakitnya.&lt;br /&gt;Ya, saya rasa, sebaiknya ia menangis. Menangis sejadi-jadinya, tak apa-apa. Tak ada yang dirugikan apabila ia menangis, mungkin malah meringankan, menentramkan hatinya. Karena, ia telah lelah menyembunyikan ketegaran pada sahabat-sahabat dan orang-orang yang dikenalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chusnato, seorang lelaki, yang kelihatannya selalu gembira, hidupnya easy going, sangat narsis dengan foto-fotonya di facebook, sekarang sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu banyak yang tak menyangka, karena ia pandai membawa diri, lebih tepat menutup diri. Orang tak boleh tahu apa yang menjadi kesulitannya, orang tak perlu tahu apa yang ia rasakan dan orang tak perlu tahu penyakit apa yang ia derita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, semuanya sudah jelas. Chusnato menangis. Ia, butuh pertolongan kita, teman-temannya. Mungkin, kemarin, ia adalah tempat orang berkeluh-kesah, tempat orang dan teman-temannya curhat, ia tampil sebagai pahlawan pembela sahabat-sahabat atau saudaranya dari kesusahan. Tapi kini, mau tidak mau, suka tidak suka, ia adalah orang yang perlu energi positif dari teman-temanya, ia perlu semangat, apa pun bentuknya. Apabila hanya itu yang kita miliki sebagai sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, kematian dan umur manusia adalah di tangan Tuhan. Tapi, manusia bolehlah berupaya untuk mendapatkan usia yang lebih panjang, bukan menyerah pada vonis dokter belaka. Dokter juga, manusia bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat dan saya rasakan, semangat hidup Chus sangatlah bergelora. Energi positifnya berdentur-dentur, berbahagialah seorang Chus yang tak pantang menyerah dengan sakitnya. Ayo Chus, mari kita hidup lebih lama! Masih banyak hal yang bisa kau lakukan kawan. Jangan sungkan berbagi dengan kami, jangan tahan rasa sakitmu sendirian, bicaralah kalau memang kau ingin bercerita, menangislah kalau kau ingin menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan soal sakitnya Chus, terpotong oleh getaran hapenya. Seseorang meneleponnya. Ia menjawab telepon sambil berdiri, agak sedikit menjauhi kami. Setelah telepon ditutup, maka pembicaraan kami beralih pada masalah-masalah lain yang tatap membuatnya tertawa-tawa dalam kegetiran yang luar biasa. Hebat sekali seorang Chusnato. Saya sangat bangga bisa berteman dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa, pukul setengah sebelas malam. Khrisna sudah berkali-kali menguap. Dan, malam itu, Khrisna memang benar-benar tampil sebagai seorang motivator ulung. Ia berbagi kiat-kiat dalam menghadapi derita menggantinya dengan keriangan. Ia banyak memberikan petuah-petuah kepada Chus. Pada bagian ini, mungkin Khrisna harus membuat catatan (notes) khusus tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan malam yang semakin pekat, akhirnya kami pamit. Chus, harus beristirahat. Kami sampai lupa, ia bilang di sms, bahwa ia harus tidur pukul 21.00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar dugaan saya dan Khrisna, Chus mengantar kami. Saya pikir ia akan mengantar kami sampai di depan pintu rumah, ternyata ia mengantar kami sampai di depan mulut gang, bahkan malam itu, ia berjalan tertatih-tatih mengantar kami sampai ujung jalan raya. Ia ingin memastikan, kami mendapatkan taksi. Oh my God!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berjalan pelan-pelan ke jalan raya, ia berjalan berjejer dengan Khrisna. Saya di belakang mereka, berjalan pelan mengikuti mereka. Saat itulah, saya menangis diam-diam melihat Chus berjalan tertatih-tatih dan agak sedikit limbung. Tapi ia tetap berjalan dengan mantap, sambil berbicara dengan kami, tentang Sriti.com. Ia begitu semangat, ia Si Mister Labu yang ceria. Ia pasti sembuh. Saya sangat yakin itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya berjalan sedikit cepat menyalip mereka, saya tak mau Chusnato tahu saya menangis. Sudah saya katakan tadi, saya sangat perasa.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menteng Dalam, Tebet, Jakarta, 16 April 2010, pukul 00.20 WIB&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-7442953511810064699?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/7442953511810064699/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=7442953511810064699' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/7442953511810064699'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/7442953511810064699'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2010/04/prasodjo-chusnato-sukiman.html' title='Prasodjo Chusnato Sukiman'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-4546906306493257794</id><published>2010-03-20T20:14:00.000-07:00</published><updated>2010-03-20T20:18:04.555-07:00</updated><title type='text'>EREKSI</title><content type='html'>EREKSI&lt;br /&gt;Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subuh menjadi dingin akibat hujan sepanjang malam. Seperti biasa, selayaknya laki-laki normal lainnya. Handoko merasa benda di selangkangnya mengeras dan berdiri. Anunya ereksi. Namun sebenarnya, ia tinggal menggauli istrinya yang masih tidur mendengkur di sampingnya untuk mengakhiri ereksi. Handoko gelisah, karena tak ada hasrat berahi untuk menggauli istrinya, agar ereksi berhenti. Ia tak bergairah, walaupun ia masih saja tetap ereksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subuh pun menepi mendekati pagi. Istrinya sudah bangun dan menyiapkan sarapan. Handoko masih berbaring, tidak tidur. Tapi matanya terpejam. Ia hanya berguling-guling di atas kasur. Telungkup menyamping, terlentang kemudian tengkurap lagi. Baru kali ini, anuku mengeras lama sekali, batinnya. Biasanya, selayaknya laki-laki normal lainnya, setelah anunya mengeras tidak berapa lama kemudian mengecil kembali. Kempes, seperti balon yang dibuka simpul ikatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal kemarin, ia tidak memakan makanan yang bisa dengan mudah memicu libido, misalnya daging kambing. Ia pun tidak meminum ramu-ramuan atau jamu-jamuan peningkat stamina. Oleh karenanya ia sangat heran anunya terus ereksi.&lt;br /&gt;Minarni istrinya masuk ke dalam kamar,  perempuan itu ingin mencari tahu kenapa suaminya belum juga bangun untuk menuju dapur menyantap sarapan dan minum kopi yang telah tersedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas, kamu sakit?” tanya Minarni melihat Handoko masih terbaring tengkurap memeluk guling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enggak, aku masih ngantuk saja Min,” jawab Handoko sambil bergeliat. Ia pura-pura menguap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar kamu enggak sakit?” tanya istrinya lagi, masih penasaran lantas memegang dahi suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enggak!” Handoko menepis tangan istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, kalau begitu bangun dong!” pinta Minarni. “Aku sudah siapkan sarapan dan kopi,” lanjut Minarni, meninggalkan Handoko yang masih pegal dengan anunya yang masih tegang dan berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana ini? Kok, enggak kempes-kempes juga. Huuuh, menyiksa sekali. Gumam Handoko di dalam hatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Handoko lalu beringsut, turun dari tempat tidur. Dengan cepat ia mematut diri di depan cermin. Ia melihat dirinya dalam cermin. Bagian ujung celananya tepat di bagian depan selangkangnya menggunung. Handoko berusaha untuk menutupnya dengan memelintir anunya ke samping kiri, ke samping kanan tetapi tetap saja menonjol. Ia membengkokkan ke bawah, tetap saja menjendol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Handoko mengambil sarung dan mengenakannya. Ah, ia sedikit lega, sarung itu mampu mengamuflase tonjolan  anunya yang ereksi terus. Handoko pun bernyali untuk ke luar kamar. Menuju dapur untuk sarapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok kamu pakai sarung Mas?” tanya istrinya heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku lagi kepengen aja pakai sarung,” jawab Handoko sambil menyomot tempe mendoan buatan istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tumben saja, enggak biasanya,” balas Minarni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Min…” kata Handoko tercekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, Mas?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku…. Enggg…Enggak jadi deh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu mau ngomong apa sih, Mas?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gini…” Handoko berhenti berkata, lantas ia menyeruput kopi yang masih panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apaan sih?” Minarni lalu duduk. “Mau ngomong apa?” sergah Minarni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok, burungku berdiri terus ya?” ujar Handoko akhirnya berterus terang kepada istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memang kita punya burung?” tanya Minarni polos tidak mengerti perihal perkataan suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Min… Ini lho!” Handoko melorotkan sarungnya dan anunya yang sedang berdiri seolah menunjuk muka Minarni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waaaw!” ucap Minarni kaget. Wajah perempuan itu bersemburat merah merona.&lt;br /&gt;“Iya… gara-gara ini Min,” kata Handoko menujuk anunya yang ereksi itu dengan ujung bibirnya, manyun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minarni tergelak. Perempuan itu tertawa terkikik-kikik. Lalu dengan spontan Minarni menggiring suaminya untuk masuk ke dalam kamar kembali. Langkah Minarni tergesa, sementara Handoko tak bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam kamar, Minarni lalu menanggalkan  pakaiannya, termasuk beha dan celana dalamnya. Di dorongnya tubuh Handoko terjerembab  ke kasur. Minarni kemudian menindih Handoko. Cukup bagian itu saja yang Anda ketahui pembaca yang budiman.&lt;br /&gt;Minarni berkali-kali orgasme, tetapi anunya Handoko tetap saja ereksi. Handoko tidak sedikit pun ejakulasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Minarni berbinar-binar karena merasakan kenikmatan bertubi-tubi. Ia akhirnya tertidur pulas, kecapaian. Sementara itu, Handoko merasakan pinggangnya pegal dan linu. Anunya Handoko masih saja dengan gagah perkasa mendongak keras menunjuk langit.&lt;br /&gt;Malam pun tergelincir. Minarni masih berbinar-binar, walaupun ia juga tampak letih lantas dengan malas menyalakan lampu-lampu rumah. Di luar hujan deras mengguyur. &lt;br /&gt;Sepanjang hari tadi Handoko hanya berdiam diri di rumah, ia tidak ke mana-mana. Seharian Handoko berusaha mengempeskan anunya dengan berbagai cara. Tentu sesekali dibantu oleh Minarni istrinya yang tidak melewatkan kesempatan yang melintas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha Handoko cukup keras akan tetapi sia-sia. Segala upaya pengempesan anunya yang ereksi tak membuahkan hasil. Mulai dari mengompres dengan air dingin. Menyiraminya dengan bedak gatal beraroma mint, yang diyakini mampu membuat anunya Handoko berhenti berdiri. Hingga mengolesinya dengan minyak kayu putih. Hasilnya, tetap ereksi tak berhenti dan anunya malah menjadi panas.&lt;br /&gt;Karena terlampau capai, malam ini Minarni tertidur pulas sekali. Handoko tidak bisa tidur, ia bagaikan ikan belut di penggorengan. Handoko baru terlelap dalam tidur setelah hari menjelang pagi kembali. Dengan anunya yang masih ereksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Pagi datang kembali, seperti pagi kemarin yang dingin karena hujan semalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana ini Min?” tanya Handoko kepada istrinya yang kini tidak lagi berbinar. Perempuan itu, kini jatuh kasihan kepada suaminya yang tersiksa akibat ereksi tak berkesudahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas, kita ke dokter saja,” usul Minarni. Dan langsung diiyakan oleh Handoko.&lt;br /&gt;Bergegas Minarni dan Handoko menuju garasi mobil. Handoko menggunakan sarung untuk sedikit menutupi tonjolan.  Minarni mengambil alih setir mobil, ia menyupiri mobil, Handoko nyengir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampailah mereka di sebuah klinik dokter. Sengaja mereka mencari dokter spesialis kulit dan kelamin, agar urusan ereksi Handoko bisa segara teratasi dengan akurat. Bukankah Handoko bermasalah dengan kelaminnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berat hati karena malu, Handoko turun dari mobil dengan menggunakan sarung. Minarni telah lebih dahulu masuk ke dalam klinik untuk mendaftarkan diri.&lt;br /&gt;Suster yang menerima mereka mencatat nama Handoko di buku pasien. Sesaat kemudian, Handoko bersama Minarni masuk ke dalam ruang prakter dokter. Mereka tidak menyangka dokter spesialis kulit dan kelamin, berkelamin perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Handoko menjadi gelisah, keringatnya malah mengucur deras. Ia, merasakan ereksi anunya makin menjadi-jadi. Minarni kelihatan ragu-ragu, tiba-tiba menyelinap rasa cemburu di hatinya. Dalam sekejap hatinya menjadi panas tidak karu-karuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minarni tidak sudi anu suaminya yang berdiri dengan gagah perkasa ditangani oleh dokter perempuan kinclong itu. Dokter itu sangat cantik, bahkan seksi. Begitulah pandangan Minarni ketika melihat dokter spesialis kelamin itu. Ibu dokter yang di hadapan mereka, lalu bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang sakit, ibunya atau bapaknya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya dok,” kata Handoko pelan sambil cepat-cepat mengangkat tangannya sedikit. Minarni menatap suaminya, nyalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa keluhan Bapak?” lanjut dokter itu bertanya lagi. Kali ini sambil tersenyum memandang Handoko yang tersipu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka berganti-gantian Handoko dan Minarni bercerita sebab-musabab keluhan Handoko. Dokter itu hanya mengangguk-angguk dan tersenyum sedikit-sedikit. &lt;br /&gt;Setelah mengerti duduk persoalannya, dokter itu kemudian mempersilakan Handoko untuk berbaring di atas tempat tidur bersprei putih khas rumah sakit. Lalu suster yang mencatat nama Handoko di buku catatan pasien tadi ikut masuk ke kamar praktek. Minarni disuruh menunggu di luar kamar praktek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun dengan perasaan cemburu yang tidak karu-karuan. Akhirnya Minarni pasrah menunggu Handoko ditangani oleh dokter perempuan itu bersama suster yang juga perempuan, di ruang tunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian. Setelah merasa lama sekali menunggu. Minarni dipersilakan masuk ke kamar prakter dokter itu. Rupanya upaya dokter dan suster itu membuahkan hasil. Handoko terlihat lega dengan wajah berseri-seri, ceria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja Minarni senang melihat ekspresi suaminya yang kini tidak murung lagi akibat ereksi hebat. Dokter dan suster juga terlihat tersenyum-senyum, mungkin malu, mungkin geli. Lalu dengan tidak sabar, Minarni bertanya kepada dokter itu.&lt;br /&gt;“Kenapa dengan suami saya dokter?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter itu lalu menjawab dengan pelan dan tegas, “Bapak hanya ingin kawin lagi Bu!”&lt;br /&gt;Terbelalak mata Minarni mendengar penjelasan dokter kinclong itu. Lebih-lebih ketika ia melihat sprei putih khas rumah sakit itu kusut penuh dengan gumpalan cairan putih kental seperti santan. Tentu saja Anda paham cairan apa itu pembaca yang budiman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ditamparnya pipi Handoko sangat keras. Plak! Plok! Pipi kiri, pipi kanan. Dokter dan suster, maklum adanya. Handoko meringis lega, sambil memegang kedua pipinya yang panas akibat tamparan Minarni. Kuping Handoko berdenging.***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-4546906306493257794?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/4546906306493257794/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=4546906306493257794' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/4546906306493257794'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/4546906306493257794'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2010/03/ereksi.html' title='EREKSI'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-25244048393911746</id><published>2010-03-01T04:33:00.000-08:00</published><updated>2010-03-01T04:37:22.004-08:00</updated><title type='text'>Saut Situmorang VS Hudan Hidayat, Sahabat Sejati</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ini adalah komen-komen Saut Situmorang, aku mengumpulkannya dan kusimpan dalam blog pribadiku, karena aku sangat suka perbedaan pendapat. Tetapi, aku tak suka arogansi model Saut Situmorang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hudan Hidayat memang Sampah Internet! Dia merusak Sastra Indonesia dengan memberikan puja-puji palsu persis kayak yang dia ejek-ejek Sapardi lakukan atas Ayu Utami. Apa pertanggung-jawaban dia terhadap mereka yang dia tipu dengan puja-pujinya itu? Dan ada persoalan apa dengan kau kalau aku bilang Hudan Hidayat itu Sampah Internet? Begitu susah dulu... See More untuk memberikan kesan bagus bagi Sastra di Internet yang dihina redaktur koran semasa dia sendiri juga melecehkan Internet, sekarang kerna aksesnya ke Media Indonesia udah gak ada lagi dan internet begitu bebas, seenaknya aja dia memanfaatkannya demi popularitas pribadi, ATAS NAMA SASTRA! ANJING DIA ITU! apa kau pikir gak gampang berbuat kayak yang dia buat itu! tapi kenapa cumak dia sendiri yang mau melakukannya! kerna cinta pada Sastra?! kerna memang bahagia dia melihat ada bakat-bakat bagus?! Cobak kau bela dia dan jelaskan di sini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hudan Hidayat itu kecil! karyanya pun tak penting dan cumak dibicarakan kawan-kawannya di Media Indonesia DULU kerna dia bujuk-bujuk terus! aku pun berkali-kali dia bujuk untuk bicarain ponografinya yang berjudul "Tuan dan Nona Kosong" itu, hahaha... Kacian nih makhluk. ngejek-ngejek Tardji dan Danarto cumak kerna iri mereka selalu ... See Moredibicarakan dan selalu dapat hadiah sastra! tidak lebih dari itu alasannya! Goenawan Mohamad aja kita hajar, apalagi cumak Hudan Hidayat dan para cecunguk yang berhutang budi padanya kerna dipuja-puji gak jelas! Kalau mau perang, silahkan katakan. kami dari "boemipoetra" akan dengan senang hati memerangi mereka yang merusak Sastra Indonesia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi, Bamby, suatu saat aku memang pengen kali ketemu kau, hahaha... sejak kau bilang kau mau menghajar buku eseiku itu, aku jadi pengen belajar langsung ama kau, pasti kau hebat. eh, kemaren kok gak berani ke Jogja demi bukumu itu? buku sendiri harus dibela dong, di mana pun, hahaha...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INI ADALAH PEMBUKAAN CERPEN SI BAMBY YANG BARU AJA DIA TAG-KAN KE AKU: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cerpen saya di Majalah Story, edisi ke-7, 25 Januari - 24 Februari 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TANDA CINTA DARI AKHIRAT... See More&lt;br /&gt;Oleh : Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami adalah keluarga pertama yang menempati rumah di kompleks perumahan perbankan, di Medan. Sebuah kompleks perumahan yang diperuntukkan bagi staf sebuah bank milik negara terbesar di Indonesia. Tentu saja kami menempati salah satu rumah di kompleks itu, karena ayahku seorang staf di perusahaan bank tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendarat di Bandara Polonia dengan sebuah pesawat Garuda Indonesia berbadan lebar, kami langsung diantar oleh seorang perwakilan perusahaan menuju kompleks perumahan itu...." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KALOK ORANG MEMBUKA CERPEN AJA KAYAK GINIAN, GIMANA MO NERUSKAN BACANYA! PERNAH BACA CERPEN SASTRA GAK YA PENULISNYA INI! HAHAHA... TAPI PASTI HUDAN HIDAYAT AKAN BILANG "KALIMAT-KALIMATNYA DAHSYAT" DAN SEGALA TAIK KUCING LAINNYA DAN BAMBY PUN JADI CERPENIS SASTRA, BUKAN CERPENIS MAJALAH FEMINA! HAHAHA...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DISAMPING BEGITU KERINGNYA KALIMAT-KALIMAT DI PARAGRAF PERTAMA ITU, COBAK LIAT MUBAZIRISME KALIMAT PERTAMA DAN KALIMAT TERAKHIR PARAGRAF PERTAMA TERSEBUT! KALOK KITA UDAH "MENEMPATI RUMAH" SEBUAH PERUMAHAN BERARTI KITA "MENEMPATI SALAH SATU RUMAH" DI SITU KAN! HAHAHA...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEMUDIAN APA ADA RUPANYA PESAWAT GARUDA INDONESIA YANG "BERBADAN KECIL"! DAN BUAT APA INFO INI DIBERIKAN DALAM KONTEKS PEMBUKAAN CERITA ITU? APA MEMANG ADA FUNGSINYA? TAPI HUDAN HIDAYAT PASTI AKAN BILANG: WAH PESAWAT GARUDANYA KEREN, SANGAT PUITIS, DATANG DARI JIWA SEORANG PETUALANG ANGKASA SEJATI!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mo main kata-kata ama aku kau lagi, hahaha...aku gak kayak kau, obsesif dengan pendapat orang lain. kerna kau dulu yang begitu heroik di Facebook bilang mau menghajar buku eseiku kalok udah keluar, mangkanya aku ingatkan kau! itu kan janjimu, di ruang publik lagi kau teriakkan, nah sekarang buktikanlah. sederhana aja kan, hahaha...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sorry aku gak baca bukumu dan gak akan baca bukumu, hahaha... alasannya jugak sederhana: masih terlalu banyak buku bagus yang harus aku baca dan aku gak punya waktu untuk buang-buang waktu membaca karya sekedar saja, kerna pekerjaan membaca itu serius, gak kayak membaca ala Hudan, hahaha...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cerpenmu yang jelek itu udah aku tunjukkan keburukannya kan, nah sekarang tunjukkan pada sajakku di atas yang kau anggap buruk! ayo, bung, ayo, hahaha...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hahaha... Aih, aih, au, au! Dia tahu 'anak muda' pasti akan terbakar dgn kombur omong kosong heroiknya itu tentang dia 'mengampak' yg senior2, hahaha... Baru diundang baca cerpen aja ke Salihara dia langsung puji2 TUK di Facebooknya sendiri, hahaha... Mungkin dia lupa bawa minyak angin cap Kapak nya waktu nerima undangan Sitok Sering-ek-ek itu, hahaha...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bambino, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;gak mampu alias impoten ya untuk buktiin jeleknya sajak om Saut yg kau muat di atas itu! Tapi memang itulah ciri-utama kalian para sastrahomo tuhan Hudan: GAK MAMPU JELEK2IN LANTAS MUJI2 SETINGGI LANGIT SEMUA SAMPAH KAWAN SENDIRI! ini namanya Tragedi Inteklektual dan Moral, hahaha... Orangutan di Bohorok aja kagak sehina ini, hahaha...&lt;br /&gt;Bambino, hahaha... Makin mantaf kau! Gak perlu aku ladenin iri hatimu yg obsesif pengen kayak Saut Situmorang itu kan, hahaha... Kacian deh kau gampang dipsikoanalisis, hihihi... Eh, mana tuh pembuktian darimu tentang sajakKu yg kau muat di atas dan bilang karya jurnalistik itu? Aku masih nunggu neh. Siapa tau pembuktianmu sangat berguna dan aku ... See Morepakek buat revisi sajakku itu, lumayan kan buat perkembangan karier kepenyairanKu! Sampek kapankah daku musti menunggu, Bambino sayang? Jugak hajaranmu atas buku eseiku itu. Kan kau bilang udah kau baca abis buku itu, berarti udah siap dong kau menghajarnya! Janji musti ditepatin loh! Kalok nggak maka kau itu cumak kekasih homonya Hudan doang, hahaha...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datang dong ke acara ultah Apsas kami itu. Kau anggota Apsas jugak ya? Kok bisa ya? Padahal mutu kayak kau gak pernah ada di Apsas kami, hahaha... Kok gak berani ke Jogja sih! Kerna tuhan Hudan gak ikut ya! Gimana kalok buku2 yg kau 'sumbangkan' untuk ultah Apsas kami ini aku tolak aja ya! Kan aku yg mimpin acara ini kayak kau bilang di atas, ... berarti pemimpin punya hak dong menentukan buku2 mana yg layak beredar di acaranya dan mana yg layak langsung terjun bebas ke tong sampah! Cemmana? Hahaha...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HAHAHA... PENCINTA BUKU NIH YEEE, TAPI OGAH JADI PENCINTA KEBENARAN, HAHAHA... BORJUIS BANGET, HAHAHA...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-25244048393911746?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/25244048393911746/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=25244048393911746' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/25244048393911746'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/25244048393911746'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2010/03/saut-situmorang-vs-hudan-hidayat.html' title='Saut Situmorang VS Hudan Hidayat, Sahabat Sejati'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-1118879082977254534</id><published>2010-01-15T05:31:00.000-08:00</published><updated>2010-01-15T05:39:48.779-08:00</updated><title type='text'>Bamby Cahyadi : Cerita dari Jejaring Maya</title><content type='html'>Bamby Cahyadi : Cerita dari Jejaring Maya &lt;br /&gt;Oleh: Anggoro Gunawan  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;________________________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengantar Sriti.com &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bambang Cahyadi adalah formalitas, sedangkan Bamby Cahyadi adalah sebuah formula. &lt;br /&gt;Sengaja saya membuka pengantar tulisan ini dengan cara yang sangat “icam” istilah ikut campur anak-anak sekarang. Nanti saya jelaskan bagaimana kita semua diperbolehkan “icam” jika berhadapan dengan sosok cerpenis yang satu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Jauh hari sebelum niatan membukukan kumpulan cerpen terbaik Sriti.com, rekan kami Sjaiful Masri mulutnya selalu berbusa jika membincangkan cerpen “Aku Becerita dari Pesawat yang  Sedang Terbang” karya Bamby Cahyadi (Koran Tempo, 26 Juli 2009). Dia katakana cerpen itu sangat "menggetarkan”, meninggikan imaji, mellow yang tidak cengeng, dan sebagainya. Singkatnya cerpen itu telah menggigit G-spot-nya, sehingga kami semua di awak Sriti.com “diwajibkan” membaca cerpen teresebut berulang-ulang, sampai mendapatkan “getaran” yang dimaksud tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan setelah rencana penyeleksian cerpen tersebut berjalan, otomatis “impuls” dari cerpen tersebut masih meninggalkan getaran di hati kami. Singkatnya seperti itu, dan cerpen tersebut akhirnya nangkring di antara 12 cerpen pilihan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jamin, rekan Sjaiful Masri belum pernah bertatap muka langsung dengan cerpenis yang sedang kita sorot  kali ini (bahkan berkontak pribadi melalui surat elektronikpun konon belum pernah mereka lakukan sama sekali). Kemanapun tanpa dipinta dia fasih menceritakan dan meminta orang lain membacanya. (Silahkan cek ke warung sebelah, apakah pernah ada permintaan khusus dari Bamby untuk hal ini? Saya yakin tidak.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi keduanya sudah menjalankan teori “post-script marketing” dalam ilmu new media.  Bamby menjadi agen, sedangkan  Sjaiful menjadi follower-nya. Bamby bekerja sendiri dengan “energi”-nya, lalu Sjaiful menangkapnya. Hup! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sjaiful kemudian menjadi “energi” bagi awak Sriti.com untuk mengenal lebih lanjut apa betul cerpen tersebut memang mempunyai getaran yang kuat. Dan berkat energi itulah cerpen karya Bamby akhirnya melengkapi 12 cerpen pilihan Sriti.com diputaran kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Bamby Cahyadi di mata saya adalah sebuah formula. Sebuah upaya untuk memberi stempel merek bagi cerpen kreasinya. Bambang sendiri milik koorporatnya, berseragam, digaji bulanan dan serusnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ketika dia bekerja formal sebagai store manager di McDonald dia menjadi Bambang Cahyadi yang harus menggunakan emblem di dadanya. Ketika Bamby datang ke peluncuran buku saya tidak melihatnya lambang itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua ruang tempat dia berganti-ganti peran. Ruang kepengarangan dan ruang bagi tempatnya bekerja formal. Tapi kedua ruang itu nyaris tidak bersekat secara jelas. Dia sering membaurkan keduanya, mengajak orang-orang untuk mengenalnya tanpa tersandung tembok pemisah.  Dia membuka tangan jika ada teman yang datang ke gerainya. Bahkan dia kadang mengajak kami untuk mampir kapan-kapan. Dia juga kerap membongkar banyak hal tanpa ragu, semisal contoh memposting kata pengantar yang ditulis Hudan Hidayat untuk buku kumpulan cerpennya Tangan untuk Utik yang meskipun bukunya masih proses cetak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bamby tak ragu menyatakan diri sedang membuat novel, bahkan dia mengumumkan bahwa Mirna Yulistianti akan menjadi calon editornya. Atau yang paling anget dia berfoto-ria dengan buku kumcer Bob Marley di ruang kerja formalnya. Dia menjadi model dengan rolle ciamik!  Tubuh dan imajinya tidak kedap, ia pandai memainkan peran sesuai kebutuhan psiko-sosial di komunalnya. Tubuh dan imajinya ibarat banner…&lt;br /&gt;Sebagai “egoleter” sosok Bamby tidak murni sebagai “on-in Media” tempat dia berziarah, berimaji-berkelena menjadi seorang petapa fiksi. Inilah formula yang  saya tuduhkan padanya. Bambang dan Bamby bekerja sekaligus sehingga putaran kerja itu melontar energi yang ditangkap banyak orang. Dia tak segan menjadi bagian dari kerja “promosi” untuk bukunya, Utik. Dia mendekati secara interpersonal ke banyak penulis untuk mengapresiasikan bukunya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan dari kata pengantar dan kata penutup untuk buku Utik, sejumlah resensi yang arsipnya tersebar di Facebook, dan bahkan wawancara rekan kami Anggoro Gunawan pun kalau boleh saya tuduh sebagai bentuk pendekatan pribadi yang unik. (Dan silakan baca sendiri bagaimana sejumlah resensi justru lebih mendekatkan diri pada pribadi pengarangnya, termasuk saya sekarang ini).  &lt;br /&gt;                            &lt;br /&gt;Itulah latarnya mengapa saya berusaha menulis pengantar ini dengan pendekatan pribadi juga. Sebab “energi” itulah yang dibutuhkan oleh Bamby dan juga   penggemar cerpennya.  Sebagai sedikit contoh aktual adalah kami kedatangan lebih dari 53 e-mail pribadi yang bertanya : apakah pengarang Utik itu juga masuk ke dalam Bob Marley.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya Bamby adalah salah satu pengarang yang sedang menuai berkah dari sikap terbukanya dan melancarkan sentuhan personal.  Beruntunglah ranah sastra kita memiliki seorang Bamby yang berkat “formula”-nya itu mampu mensyiarkan kreasi tulisannya, tanpa perlu saklek, tanpa perlu  banyak menunggu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca Sriti.com  yang budiman, silahkan nikmati hasil wawancara estafet antara rekan kami, Anggoro Gunawan (A) dengan Bamby Cahyadi (B). Perbincangan ini sangat menarik, karena ternyata  masih ada juga “rahasia” yang belum sempat ia jabarkan di belantara maya selama ini.  Selamat membaca.  @ Chus &lt;br /&gt;________________________________________&lt;br /&gt; Bamby Cahyadi: Cerita dari Jejaring Maya&lt;br /&gt;Oleh: Anggoro Gunawan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nama Bamby Cahyadi masih baru di perbendaharaan penulis cerita rekaan Indonesia. Ia muncul dari belantara Internet. Walau nama aslinya menggunakan nama “Bambang,” ia jengah. “Posturku tidak segagah namaku yang Bambang itu, aku tidak tinggi tetapi aku juga tidak mengakui kalau aku pendek. Toh, kalau aku dikatakan berperawakan kecil aku lebih bisa menerimanya.” Demikian ia menulis di blognya(http://bambydanceritanya.blogspot.com).  Pekerjaannya terhitung unik untuk urusan sastra. Saat ini ia menjadi store manager di McDonald’s. Mungkin kita bisa belajar kepada lelaki kelahiran Manado, Sulawesi Utara 5 Maret 1970 ini dalam bermimpi tentang sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; A: Adakah karya sastra yang begitu memicu Anda sehingga kemudian menjadi sastrawan?&lt;br /&gt;B: Semula saya menulis hanya untuk terapi, khususnya terapi jiwa, menyeimbangkan (balancing) antara urusan kerjaan dengan hal-hal pribadi. Lalu tulisan-tulisan saya yang tak jelas kategorinya, saya posting ke blog (Wordpress dan Friendster) pada waktu itu. Ternyata respon/komen tulisan saya cukup baik dari teman-teman. Pada saat itulah, seorang Anita Kastubi penulis novel Ripta, Perjuangan Tentara Pecundang (Galang Press, 2003) berteman dengan saya di Friendster, tepatnya bulan Juli 2007.&lt;br /&gt;Buku Ripta - karena dikasih gratis oleh penulisnya, saya lahap sampai tuntas tas-tas... Saya sangat terkesan dengan novel itu, karena Anita Kastubi adalah seorang profesional di bidang Advertising and Communication, mampu menulis novel yang cukup berat, karena novel tersebut novel sejarah, yang harus melakukan riset sana-sini.&lt;br /&gt;Dan, dari chatting, email dan SMS-an Anita Kastubi selalu memberi support, bahwa menulis karya sastra itu asyik, dunia yang gembira, "Sastra itu fun banget, Bam!" begitu ia tulis dalam sebaris SMS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A: Berapa kali Anda membaca buku Ripta itu?&lt;br /&gt;B: Sejak buku tersebut saya terima 27 November 2007, saya membacanya hanya satu kali hingga tanggal 9 Desember 2007. Namun saya membacanya sangat mendalam, sesekali SMS penulisnya, chatting, atau telepon. Saya biasanya membaca buku hanya sekali, tetapi tuntas dari halaman depan sampai belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A: Apa yang dimaksud dengan "saya sangat terkesan dengan novel itu"? Selain soal Anita Kastubi, bagaimana novel itu memberi Anda peluang untuk berpetualang di sastra?&lt;br /&gt;B: Nah, saya sangat terkesan. Karena Anita Kastubi  itu cantik (hahaha... maklum khan wajar cowok terkesan karena kecantikan perempuan hehe). Sudah cantik, ia menggarap novelnya dengan serius, melalui riset leteratur, interview dengan pelaku sejarah dan mendatangi langsung setting cerita. Padahal profesinya, bukan penulis full time…&lt;br /&gt;…setelah membaca novel itu, lalu saya keranjingan membeli buku kumcer, lalu saya mencoba menulis cerpen dengan mengembangkan ide dari cerpen yang sudah ada. Hasilnya saya posting di blog Friendster dan Wordpres. Eh, tanggapan dari para blogger cukup bagus. Ya, akhirnya walaupun sebagai kegiatan rileksasi, saya terus menulis cerpen, saat itulah saya bertemu dengan situs penulis berbasis internet http://kemudian.com (yang ternyata banyak diikuti oleh para penulis senior dan juga pemula seperti saya). Beberapa nama yang lahir dari kemudian.com, misalnya: Khrisna Pabichara, Sungging Raga, Pringadi Abdi, Bernard Batubara, TS Pinang, Windry Ramadhina, Aulya Elyasa, Winna Effendi dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A: Apa yang menarik dari dunia sastra?&lt;br /&gt;B: Ternyata dunia ini adalah dunia lain yang (dari dulu) terendap dalam dunia bawah sadar saya. Menulis cerpen, kemudian menjadi semacam penyaluran berbagai energi (baik maupun buruk) dan mimpi-mimpi serta kenangan masa kanak-kanak bagi saya. Dunia sastra adalah dunia nyata saat saya bermimpi. Atau sebaliknya, dunia mimpi saat saya tersadar dari tidur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A: Apa yang tidak menarik dari dunia sastra?&lt;br /&gt;B: Sebenarnya semua berlangsung menarik. Yang mungkin menjadi tidak menarik, ternyata sebagian sastrawan, menjadikan sastra sebagai politik, atau “POLITIK SASTRA”.Salah satunya adalah memberi stempel ini kubu itu, itu kubu ini. Sehingga para sastrawan tidak leluasa dalam berkreasi dan berunjuk gigi di mana saja.&lt;br /&gt;A: Pernah mengalami efek politik sastra?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B: Saya pernah berdebat panjang dengan Saut Situmorang (sastrawan asal Yogyakarta) di note fesbuk beliau. Dan, di situlah saya merasa, saya dipolitiki sastra, saya dicap pengikut si ini, si itu dan lain-lain. Padahal saya bukan siapa-siapa dan pendapat saya adalah pendapat pribadi tidak mewakili siapa-siapa. Secara pribadi, dengan Bang Saut Situmorang, saya baik-baik saja. Begitupun dengan Hudan Hidayat. Atau dengan Komunitas Salihara (TUK) dan Boemipoetra. Kami, khususnya Komunitas Sastra Jakarta (Kosakata), tak ingin ada kubu-kubu dalam sastra Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A: Pernah membayangkan cerita Anda dijadikan sebuah film?&lt;br /&gt;B: Saya ini pemimpi. Tentu saya sangat kepengen salah satu, atau salah banyak juga tak pa-pa (Misalnya, semua cerpen saya dalam kumcer Tangan untuk Utik) di film-kan. Jadi, bukannya latah ikut-ikutan cerpen/novel yang telah difilmkan, tapi karena saya ingin, cerita yang saya buat, selain terimajinasi oleh pembaca, juga terimajinasi oleh sutradara, penulis skenario dan penonton.  Walaupun banyak juga cerita yang gagal sebagai film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A: Dalam proses kreatif, biasanya seorang seniman merasakan "sakit" terlebih dahulu. Seperti sakit perut sebelum kita berak (maaf), atau kangen gak ketulungan seperti mau jatuh cinta. Apakah proses "sakit" itu pernah Anda alami? Kalau sudah, seperti apa?&lt;br /&gt;B: Proses kreatif yang menyakitkan, jelas pernah. Walaupun, saya menulis di dunia maya, tetapi ada juga beberapa yang mengkritik cerpen-cerpen saya, tapi semuanya saya terima dengan lapang dada dan menjadi masukan bagi saya untuk memperbaiki diri. Dan, mereka yang mengkritik, tidak menggunakan nama sebenarnya (padahal, saya tuh sangat terbuka dengan kritik).&lt;br /&gt;Atas saran teman-teman di dunia maya, cerpen-cerpen saya diminta untuk dikirim ke media, tetapi saya agak malas. Hingga di bulan Juni 2008, saya memberanikan diri ikut lomba cerpen Femina, saya tidak juara, tetapi cerpen saya terpilih untuk dimuat.&lt;br /&gt;So, cerpen pertama saya itu dimuat di Majalah Femina edisi Maret 2009. Dan, mungkin itulah awal saya jatuh cinta untuk menjadi cerpenis seutuhnya (maksud saya, selain di dunia maya, saya pun ingin menulis cerpen untuk koran dan majalah). Ternyata, SUSAH-nya minta ampun. Saya punya kebiasaan nulis cerpen di atas 12.000 karakter dan karena saya tidak punya latar belakang sastra, maka masalah diksi dan struktur bahasa menjadi kendala dalam menembus media cetak.&lt;br /&gt;…tapi sejak berkenalan dengan Khrisna Pabichara, saya cukup dibimbing dalam hal teori sastra…&lt;br /&gt;…hal, lain juga adalah walaupun cerpen saya belum dimuat di koran, saya mengirimkan kumpulan cerpen saya dari dunia maya itu ke beberapa penerbit, hasilnya ditolak semua. Kumcer saya dari Januari 2009 sampai Agustus 2009 mengendap di tiga penerbit. Hingga akhirnya diterbitkan juga oleh Koekoesan. (Tangan untuk Utik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A: Berkaitan dengan cerpen Aku Bercerita di Atas Pesawat, seperti apa latar belakang proses kreatifnya?&lt;br /&gt;B: Aku bercerita di atas pesawat yang sedang terbang, saya buat dalam 3 hari berturut-turut (29, 30 Juni dan 1 juli 2009). Tiba-tiba saya teringat sewaktu kami (saya, ibu saya, kakak saya dan adik saya) mengantar jenazah almarhum ayah saya yang meningal di Medan untuk dimakamkan di Tasikmalaya. Lalu idenya, saya olah sedemikian rupa, agar tidak terkesan kisah nyata. Ayah saya meninggal 15 februari 1985.&lt;br /&gt;Nah, uniknya, cerpen ini semula, cerpen trilogi, 29 Juni, saya buat bagian prolognya. Tanggal 30 Juni 2009 saya buat bagian dialognya. dan tanggal 1 Juli 2009 saya buat bagian epilog. Dan, setiap bagian tersebut, saya sempat posting 3 hari berturut-turut dengan judul Trilogi Cerpen Mengantar Ayah. Sungguh di luar dugaan, cerpen itu banyak yang komen, bahkan Hudan Hidayat membuat pengantar cerpen segala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A: Adakah hambatan dalam menulis karena profesi pekerjaan yang cukup asing bagi seorang sastrawan?&lt;br /&gt;B: Hambatan dalam menulis banyak sekali. Seandainya saya bisa membelah diri seperti amuba, maka bagian diri saya yang satu akan terus menulis dan yang satu lagi bekerja mencari sesuap berlian di McDonald's he he.&lt;br /&gt;…tapi sebenarnya hambatan utama datang dari diri sendiri, kadang saya berpikir, Facebook itu, mengurangi produktivitas kerja maupun menulis wakakak...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A: Menurut Anda, apakah Anda sudah layak menyandang gelar "sastrawan"?&lt;br /&gt;B: Apakah saya sastrawan? Hmmm, menurut saya, saya penulis. Penulis cerpen, penulis fiksi, sesekali menulis esai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A: Ada kiat-kiat dalam menulis? &lt;br /&gt;B: Kiat-kiat menulis. Menulislah sesukamu dan menulislah dengan hati. Jangan menulis berpatokan pada teori menulis yang sudah ada, toh teori akan mengikuti laju kreativitas kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, apabila kadar menulis sudah serius, perlu juga membekali diri dengan teori-teori sastra. Apalagi kalau latar belakang kepenulisan kita bukan jebolan sastra, nah perlu tuh memperkaya diri dengan teori majas, diksi, estetika, metafora, semantik dan lain-lain. @ Anggoro Gunawan&lt;br /&gt;________________________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BIODATA RINGKAS&lt;br /&gt;Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;Bamby Cahyadi adalah nama pena dan panggilan akrab dari nama asli Bambang Cahyadi. Pria kelahiran Manado, 5 Maret 1970 ini sehari-hari Bamby bekerja sebagai Store Manager di sebuah restoran cepat saji di Jakarta. Keseriusannya menulis cerpen berawal sejak tahun 2007. Bamby memulai menulis cerpen di dunia maya dan milis. Saat ini, ia menulis berbagai tema cerita pendek di Koran Tempo, majalah Femina, Jurnal Bogor, Batam Pos, Harian Global Medan, serta aktif mengelola Komunitas Sastra Jakarta (Kosakata) bersama teman-temannya.&lt;br /&gt;Semasa mahasiswa, Bamby menulis esai tentang dunia kemahasiswaan, kepramukaan dan sastra di harian Pikiran Rakyat, harian Simponi, tabloid Eksponen, majalah Pramuka Kwartir Nasional dan Media Indonesia. Bamby pernah bersekolah di Manado (TK), Bitung (SD), Ampana (SD) dan di Tegal (lulus SD). Lalu lulus SMP di Medan, SMA di Tasikmalaya dan kuliah di Universitas Siliwangi, Tasikmalaya. Meraih gelar Bachelor of Hamburgerology dari McDonald’s Hamburger University Sydney, Australia. Tangan Untuk Utik (Penerbit Koekoesan, Oktober 2009) adalah buku kumpulan cerpen perdananya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Anggoro Gunawan&lt;br /&gt;Selepas dari  Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro (1999), Anggoro Gunawan melanjutkan karir sebagai jurnalis di majalah periklanan Cakram, Tempo,&lt;br /&gt;dan Majalah a+. Selain menulis untuk tempatnya bekerja, beberapa&lt;br /&gt;tulisannya dimuat di beberapa media.sebagai penulis lepas seperti Pantau, Koran Tempo, majalah MATABACA, Jurnas, dan lain-lain. &lt;br /&gt;Di samping kegiatan formal, manusia asal Magelang kelahiran 1975 ini juga ikut meramaikan kelangsungan Wikipedia dalam Bahasa Jawa. Tulisannya lebih banyak berkaitan dengan wayang kulit dan kebudayaan Jawa. Bergabung di Sriti.com  sejak tahun 2007, dan banyak membantu dalam urusan teknis dan kearsipan. Karirnya sebagai jurnalis berhenti sejak Februari 2009, dan saat ini, bersama istrinya, Ratna Cahaya Rina, kegiatannya lebih banyak berhubungan dengan pembuatan situs Internet dan desain. Anggoro juga bisa dilacak lewat portal: www.desa.in&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-1118879082977254534?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/1118879082977254534/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=1118879082977254534' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/1118879082977254534'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/1118879082977254534'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2010/01/bamby-cahyadi-cerita-dari-jejaring-maya.html' title='Bamby Cahyadi : Cerita dari Jejaring Maya'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-4307756358883117244</id><published>2009-12-31T01:33:00.000-08:00</published><updated>2009-12-31T01:34:56.405-08:00</updated><title type='text'>Idealisme Seorang Sastrawan Muda</title><content type='html'>IDEALISME YANG MEMBUNCAH ZELFENI WIMRA&lt;br /&gt;Oleh: Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang, saya mengenal lantas mengetahui Zelfeni Wimra, ketika saya membuka-buka katalog yang dibagi-bagi saat saya datang melihat malam Anugerah Sastra Khatulistiwa (Khatulistiwa Literary Award) tahun 2009 bertempat di Plaza Senayan tanggal 10 November 2009 beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katalog itu berisi kata sambutan, nama-nama finalis kategori prosa, puisi dan penulis muda dengan foto-foto cover buku, serta sambutan dari pemenang kategori prosa dan puisi tahun lalu. Katalog berwarna kuning keemasan itu, lalu saya buka-buka sambil menunggu hasil diumumkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, pada saat itulah saya membaca nama Zelfeni Wimra dengan buku Pengantin Subuh. Hmm, siapa dia? Saya tak terlalu ambil peduli. Karena, saya terpaku pada finalis kategori prosa dan puisi saja. Betapa piciknya saya ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, sebaris sms dari Mas Chusnato menyentak saya pada 19 November 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Salam! Sesuai rapat internal Sriti, kami meminta saudara Bamby untuk menulis profil cerpenis Zelfeni Wimra yang akan ditayangkan di sriti…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bug! Ternyata saya harus berkarib-intim dengan Zelfeni Wimra. Maka, sibuklah saya membuka-buka pofilnya di Facebook dan beberapa situs pribadinya. Mencari lagi katalog KLA 2009 dari rak buku dan mencoba menimbang-nimbang untuk mengirim sms kepada Zelfeni yang nomor kontak hapenya saya dapat dari Mas Chusnato.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, saya kirimi Zelfeni sebaris sms, “Salam kenal, saya Bamby Cahyadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama sms saya tak dibalasnya, hingga malam hari sekitar pukul 20.21 WIB, hape saya bergetar. Sebaris sms balasan dari Zelfeni, muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Salam kenal juga, di sini hujan mau turun kayaknya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga tak langsung membalas sms itu. Saya hanya tersenyum lucu. Lho apa hubungannya, salam kenal dengan hujan mau turun di kota Padang sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, esok hari. Saya balas sms Zelfeni tersebut. Sekitar pukul 15.30 WIB saya mengirim sebaris pesan singkat, “Saya, akan menulis tentang Anda?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, beberapa saat kemudian, saya menerima sms panjang yang membantu saya dalam menyusun tulisan ini, karena sms balasan dari Zelfeni panjangnya 1.350 karakter. Aih, betapa bahagianya saya, karena Zelfeni sangat membantu saya untuk menulis sebuah artikel tentang dirinya yang panjangnya minimal 5.000 karakter dan maksimal 7.000 karakter ini. Oh, hati saya bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia, tertawa senang saya kira saat menulis sms panjang itu. Namun, ia lalu dengan sangat serius membeberkan sesuatu yang sudah lama mengendap dalam hati dan benaknya. Dan, ini tulisan balasan sms panjang Zelfeni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wuahahaha. Sriti memang piawai mempertemukan, sekaligus memperseterukan kita. Ini memang harus terjadi. Ketersambungan kita akan menjadi bentuk baru dari kritik sastra. Para penulis mensinergikan diri mereka. Maka akan lahir tenaga yang luar biasa, yang diharapkan mampu memeluk pembaca dan realitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kerinduan saya selama 10 tahun pertama kepenulisan saya di Indonesia yang ironis ini. Saya rindu pada suasana khidmat yang bebas dari kepanikan-kepanikan masif akibat kecepatan perubahan yang dikondisikan sedemikian rupa. Kerinduan tersebut ingin saya tular-salurkan melalui sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, media lain sudah terinfeksi virus-virus yang mematikan kemanusiaan. Lihatlah media hukum dan politik kita. Minta ampun!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ternyata, sastra juga terinfeksi, kita bisa menyembuhkannya dengan menjaringkan sebuah cita-cita bersama. Kebersamaan, antivirus paling aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maafkanlah saya, yang baru saja saya ceritakan berada jauh di luar diri saya. Yang ada dalam diri saya hanya pertanyaan-pertanyaan. Sangat banyak. Rumit saya untuk memaparkannya. Saya cuplik sebuah pertanyaan dari dalam diri saya: Selain menyelamatkan lambung dari kelaparan, apalagi yang saya perjuangkan dari menulis? Kampung halamankah? Budayakah? Agamakah? Kemanusiaankah? Atau tulisan hanya pelarian dari kesepian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, rumit kan? Pertanyaan ini akan terus berangkai dan tak akan pernah habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, Bamby yang baik, tulislah tulisan tentang penulis ini. Terserahmu. Biodataku ada di beberapa situs. Yang jelas,  aku anak petani yang bahagia. Sekarang tengah menyelesaikan Studi Pascasarjana di IAIN Imam Bonjol Padang, konsentrasi syari’ah. Terima kasih.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sms balasan itu mebuat saya berpikir dan makin penasaran dengan cerpenis Zefeni Wimra ini. Ada semangat yang membara dan idealisme dari Zelfeni yang tiba-tiba menjadi aura positif bagi saya. Ya, bagi saya pribadi. Ijinkan saya menuliskan lanjutan artikel ini. Walau agak panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Tanggal 26 November 2009 siang telah lewat, sore belum terlampaui. Melalui sms, saya katakan bahwa saya akan menelepon Zelfeni. Ia langsung membalas sms saya. Silakan, katanya. Saya ingin melakukan sedikit wawancara langsung dengan cerpenis yang karya-karyanya telah tersebar di mana-mana. Saya ingin tahu suaranya dan bahana tawanya yang saya rasakan dari smsnya tempo lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stop! Nanti dulu, sabar ya. Sebelum saya beberkan hasil wawancara saya tentang proses kreatif Zelfeni Wimra kepada Anda, pembaca yang budiman, ada baiknya simak dulu bio data ringkas cerpenis sekaligus penyair kita ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ZELFENI WIMRA (terus terang saya agak kesulitan mengejanya atau menyebutnya tanpa teks), lahir di Sungai Naniang 26 Oktober 1979, Bukit Barisan, Limo Puluah Koto, Sumatera Barat, dari sepasang petani: Yunizar Imam Bosar dan Helmi Wirda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya tulisnya telah dipublikasikan berbagai media cetak. Setelah memenangkan beberapa lomba, puisi dan cerpennya mulai bermunculan dalam sejumlah buku antologi, di antaranya: Batarak, Kumpulan Puisi T-IB Padang: 2000; Narasi 34 Jam, Antologi Puisi Antikekerasan KSI Award, Jakarta: 2001; Sebelas, Antologi Cerpen Sumatera Barat 2002, DKSB: 2002; la belle noiseuse, Kumpulan Puisi T-IB, Padang: 2004; Sumatera Disastra, Antologi Puisi Forum Penyair Muda Empat Kota Indonesia, Pustaka Pujangga, Jatim: 2007; Jalan Menikung ke Bukit Timah, Antologi Cerpen Temu Sastrawan Indonesia, Bangka Belitung: 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpennya, Bila Jumin Tersenyum, masuk 20 Cerpen Terbaik Indonesia 2009, nominasi peraih Anugerah Sastra Pena Kencana 2009. Pengantin Subuh adalah Kumpulan Cerpen tunggalnya yang pertama, diterbikan Lingkar Pena Publishing, 2008. Dan, Kumpulan Cerpen Pengantin Subuh, masuk dalam 8 Finalis Penulis Muda Berbakat Terbaik Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, saya lanjutkan. Perjalanan menulis Zelfeni Wimra, menurut saya banyak tikungan, tidak mulus, kadang-kadang meriah dan lebih sering sepi. Akan tetapi, dalam pandangan saya, ia termasuk penulis yang produktif dan memiliki idealisme dalam memajukan dunia sastra Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda mungkin akan mencari-cari alasan, ketika ditanya, kenapa Anda menulis? Bagi Zelfeni, tidak ada alasan. Menulis adalah ekspresi bersyukur kepada Tuhan. Sungguh jawaban di luar dugaan saya. Lalu saya kejar, kenapa  begitu? Maka dengan suara beratnya, ia membicarakan tentang imajinasi, imajinasi adalah kekuatan yang luar biasa dalam tahapan kehidupan manusia yang diciptakan Tuhan. Tanpa imajinasi dunia akan kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merinding saya dibuatnya. Lalu kapan Anda mulai menulis? Alamak jan! (meminjam istilah yang sering digunakan dalam cerpen-cerpen Benny Arnas). Ternyata, Zelfeni telah memulainya sejak tahun 1999. Ia pun bercerita tentang cerpen pertamanya yang dimuat di media Mimbar Minang dengan judul Pelaminan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sejak saat itulah, jalan kepenulisannya terbentang. Zelfeni mengakui, bahwa ia menulis setelah mendapat ide-ide. Lalu dari mana idemu itu muncul? Tanya saya. Biasanya ia akan jalan-jalan ke kampung-kampung, ke tempat-tempat di mana kebanyakan orang jarang mengunjunginya, misalnya tempat-tempat bersejarah, seperti Kerajaan Indrajaya. Di situ, ia bisa menangkap suasana masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa yang Anda lakukan, apabila tiba-tiba kehabisan ide, selain jalan-jalan? Oh lala, ternyata ia main volley dan sepak bola. Penulis harus sehat, oleh karena itu, olahraga menjadi alternatif apabila tak ada ide untuk menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, kami ngobrol ngalor-ngidul. Sambil sesekali tertawa terkikik-kikik. So, saya lanjutkan pertanyaan. Beberapa cerpenmu yang saya baca, sangat kental nuansa lokalitasnya, ada alasan tertentu? Dengan diplomatis Zelfeni menjawab, tulislah sesuatu yang dekat dan kamu sangat ketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun berbicara hal-hal lain, bahkan ada pembicaraan yang kategorinya off the record (tentunya pembaca yang budiman tak perlu tahu, cukup saya dan Zelfeni saja yang tahu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, karena masalah pulsa telepon, wawancara tentu harus diakhiri. Maka, saya tanya ia dengan pertanyaan standar namun membuat saya terperangah dan semakin yakin, saya sedang berbicara dengan seorang sastrawan muda dan seseorang yang memiliki idealisme dalam dunia menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa harapan Anda ke depan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingin mengajak teman-teman sastrawan, mungkin lebih tepatnya memprovokasi teman-teman, agar sastrawan harus mempererat diri, membuat kesatuan, merapatkan diri dalam sebuah aliansi, misalnya. Agar sastrawan bisa dihargai lebih tinggi di pasar. Juga aliansi itu, secara profesional membela kepentingan penulis/sastrawan ketika ia dirugikan di pasar. Atau sastrawan tetap kerja sendiri, dengan kondisi seperti saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas kami menutup pembicaraan, saya meletakkan gagang telepon pada tempatnya. Tetapi, ada sesuatu yang tiba-tiba menggantung dalam nurani saya. Oh, betapa mulianya cita-cita seorang Zelfeni Wimra. Idealisme itu membuncah, singgah di hati saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kembali larut dalam pekerjaan saya. “One Big Mac, please!”***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 2 Desember 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-4307756358883117244?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/4307756358883117244/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=4307756358883117244' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/4307756358883117244'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/4307756358883117244'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2009/12/idealisme-seorang-sastrawan-muda.html' title='Idealisme Seorang Sastrawan Muda'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-7090905799639849740</id><published>2009-12-19T04:54:00.000-08:00</published><updated>2009-12-19T04:57:12.176-08:00</updated><title type='text'>DUA PARAGRAF PERTAMA KUMCER BOB MARLEY</title><content type='html'>&lt;b&gt;DUA PARAGRAF PERTAMA KUMPULAN CERPEN BOB MARLEY&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar lagi sebuah buku yang dinanti-nanti akan terbit, &lt;b&gt;Bob Marley dan 11 Cerpen Pilihan Sriti.com&lt;/b&gt;, diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Tentu Anda sangat penasaran. Saya kasih bocorannya, supaya Anda makin penasaran, meski hanya dua paragraf pertama dari masing-masing cerpen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kematian Bob Marley, Hasan Al Banna, Koran Tempo,  9 Maret 2009&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyir mengalir. Udara berlendir. Sebagian kulit kepalanya terkelupas. Mata tak terbelalak, tapi wajahnya mendongak, menyeringai—lipatan kulit saling himpit. Mulut  menganga, sekuak goa, tak henti melelehkan getah darah bercampur serpihan gigi. Lekuk tangannya menempel di atas dada, lantas kedua lutut bertekuk, semacam posisi duduk. Lebih dari itu, tak terdapat luka atau memar yang menonjol di tubuhnya. Hanya saja, dua jari tangan kiri—telunjuk dan kelingking—terputus, dan sebilah sayatan sepanjang sepuluh senti mengoyak anus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi malam, di bawah debur hujan, tiga orang pria tak dikenal mengetuk pintu salah satu rumah di lorong Dermawan. Tamu asing itu tampak menghemat gelagat. Gerak-gerik jangan sampai memancing kecurigaan, begitu hardikan pesan. Tapi tak bisa juga mereka menyimpan ketergesaan. Usai berbicara seringkasnya, mereka kemudian menjinjing sebujur mayat terbungkus terpal—lapuk, berwarna biru tua—dari pick up bak terbuka. Sesaat kemudian, ketiganya lenyap di balik jubah hujan, menelantarkan letup tangis mengerubungi mayat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Induak Tubo, Zelfeni Wimra, Padang Ekspres, 22 Juni 2008&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dasar orang tua. Nyinyir. Berkali-kali saya ingatkan, tidak usah ke sawah lagi. Akan lebih baik, kalau sawah itu dipaduoi saja kepada orang yang lebih kuat. Selin tugas kita ringan, hasil tanaman juga akan lebih banyak. Orang setua dia tidak layak lagi menggarap sawah barawang itu. Bisa-bisa ia terjerembab dan ditelan rawang itu hidup-hidup!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak-anaknya yang tak tahu diri. Semuanya merantau. Seharusnya, salah seorang tinggal di kampung, menemani induk yang sudah bungkuk. Sekalipun tidak akan ke sawah-ke ladang dan hidup melarat seperti kita ini, paling tidak induk mereka punya teman di rumah. Sungguh, kalian akan tahu sendiri nanti, betapa berartinya teman di hari tua. Dan, kalian juga akan tahu nanti, betapa lengang ketika di hari tua tidak ada teman, meski hanya untuk sekadar bercerita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;b&gt;Kandang, Yanusa Nugroho, Jawa Pos, 12 Oktober 2008&lt;/b&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jika saja kau mengetahui di mana aku tinggal, mungkin kau akan sependapat dengan apa yang akan kuceritakan kepadamu. Di sini, di tempat tinggalku, kau tak akan menjumpai manusia. Ya. Kau tak akan menjumpai sesosok makhluk yang bisa layak kau sebut manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kebetulan, entah tidak, aku menempati rumah di ujung jalan. Lebih tepat lagi bila kusebutkan di ujung atas jalan kecil ini. Jauh lebih tepat, sebagai rumah yang paling atas, karena jalan ini adalah jalan buntu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;b&gt;Cinta pada sebuah Pagi, Eep Saefulloh Fatah, Kompas, 25 Mei 2008&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah rumah mungil di pinggiran timur Jakarta. Sebuah pagi berjalan sebagaimana lazimnya. Asti berkubang dalam banyak pekerjaan rumah. Arnando, seperti biasa, berkutat merampungkan lukisan di studionya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daster Asti tak mampu menutup seluruh kulit putih bersihnya. Tapi, daster itu tetap bisa menyembunyikan banyak tahi lalat di tempat-tempat tertutup. Hanya Arnando yang tahu persis letak-letaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Satu Kunang-kunang, Seribu Tikus, Intan Paramaditha, Koran Tempo, 15 Februari 2009&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pembunuh berdarah dingin, tak senang bernostalgia, mengawali rencananya dengan seorang perempuan yang mati tanpa melihat kunang-kunang. Dari ruang dan waktu yang jauh berbeda, ia mengintip Epon, seorang perempuan dengan kebiasaan ganjil. Tepat pukul dua belas malam, kala suaminya terlelap, Epon akan berjalan keluar rumah menuju kuburan demi melihat kunang-kunang. Ia percaya kunang-kunang ini--jenis betina berkilauan yang mengubah diri sesuai selera pejantan hanya untuk memangsanya kemudian--tak muncul di tempat lain. Tentu saja Toha suaminya menjadi gelisah. Di desa Cibeurit yang guyub tentram, perempuan tak berkeliaran malam-malam, apalagi pergi ke kuburan. Bisa-bisa istri Toha dianggap penganut ilmu hitam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beberapa malam sebelum peristiwa menyedihkan itu, Toha menyergap Epon saat ia mengendap-endap meninggalkan kamar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Malam Basilsik, Dinar Rahayu, Suara Merdeka, 13 Juli 2008&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Kau adalah kematianku&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Padamu aku dapat bergantung&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Ketika semuanya jatuh berguguran&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;(Paul Celan)&lt;br /&gt;DI lautan suara dan gerakan aku mengapung. Tidak seperti binatang Kapal Perang Portugis yang sengatnya masih berfungsi walaupun ia sudah mati melainkan lebih mirip ganggang ruwet di tengah laut yang sudah dipenuhi kehidupan palsu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku melewati seseorang yang mungkin akan kutemui dalam mimpi nanti malam. Mungkin juga tidak. Mungkin juga akan jadi bagian dari mimpi burukku. Aku melewati segala sesuatu yang mungkin akan kutemui kembali esok hari —mungkin juga tidak. Barangkali hari-hari yang datang akan sama dengan hari ini karena seperti keluaran pabrik kloning, hari-hari terlihat sama untukku. Aku seperti makhluk pejalan lurus yang terperangkap dalam roda di kandang hamster, seperti kuda kayu dalam komedi putar. Bergerak tanpa pergi ke mana pun juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Guru Safedi, Farizal Sikumbang, Kompas, 14 Desember 2008&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menumpahkan kegundahan hatinya perihal kebutuhan keuangan dalam keluarganya, istri Safedi lalu beranjak dan duduk di depan pintu rumah. Kedua kakinya diluruskan ke depan. Tatapannya tertekuk ke bawah. Dari atas kursi ruang tamu, beberapa saat kemudian Safedi mendengar tangisan istrinya yang terisak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berhentilah menangis, Aisia. Jika ada orang lewat, malu kita,” kata Safedi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Malam Kunang-kunang, Rama Dira J, Kompas, 2 Agustus 2008&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merekalah bocah-bocah yang selalu bahagia. Jika malam tiba, mereka akan berlari-lari girang, mengejar-ngejar dan menggapai-gapai kunang-kunang yang berkerlap-kerlip melayang-layang serupa sebaran serbuk cahaya. Mereka jugalah bocah-bocah yang menghadirkan tawa dan canda di lembah itu hingga membuatnya hidup, terasa dihuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selebihnya adalah gelap. Listrik belum masuk dan orang-orang dewasa terlalu sibuk dengan urusan ranjang. Maka, belum genap malam, bocah-bocah pun diusir pergi ke luar rumah, ke surau untuk mengaji atau berlatih silat ke lapangan sepak bola asalkan jangan bermain kunang-kunang. Karena bagaimanapun, orang-orang tua tetap meyakini kunang-kunang sebagai jelmaan kuku-kukunya orang mati. Jika menjadikannya sebagai mainan, maka akan menyebabkan kesialan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Aku Bercerita dari Pesawat yang Sedang Terbang, Bamby Cahyadi, Koran Tempo, 26 Juli 2009&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya aku tidak terlambat pulang sekolah, mungkin aku kini tak berada di atas ketinggian 30.000 kaki. Aku melihat awan-awan kelabu tebal berarak-arak yang seolah-olah ikut menangis dari balik jendela pesawat terbang ini. Aku kembali mengusap air mataku yang jatuh membasahi pipi dengan selembar tisu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kulihat ibuku memandang kosong ke arah jendela yang lain di sisinya. Matanya sembab, air matanya mungkin sudah kering sejak tadi pagi. Kakakku tertidur di bangku pesawat di samping ibu. Nyenyak sekali tidurnya, paling tidak ia bisa melupakan sejenak kesedihan yang tadi malam tiba-tiba merenggut kebahagiaan kami sebagai keluarga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tanah Lalu, Yetti A. KA, Suara Merdeka,  3 Agustus 2008&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUNYI tapak kaki saling tubruk, retak, berpentalan di udara. Kesiur angin merebahkan gumpalan-gumpalan daun. Orang-orang serupa bayang makin bergegas. Napas mereka terdengar kasar. Seakan-akan mereka tengah dikejar waktu menuju arena perburuan. Setelah sepertiga malam terdengar letusan senapan tepat di bawah pohon merambung, tempat biasa kijang-kijang menghabiskan sisa malam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak jauh dari tempat perburuan itu, aroma pagi segera menguar dari bidang-bidang sawah yang mengering, bercampur baur dengan anyir yang semakin tajam. Orang-orang bersorak. Sebuah kampung tengah mempersiapkan pesta kecil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt; Kunti tak Berhenti Berlari, Berto Tukan, Batam Pos, 12 Juli 2009&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin berhembus kencang menerpa rerumputan. Bunga-bunga ilalang putih sebesar kuku ibu jari kaki beterbangan menutupi jalan setapak. Matahari jam 12 siang menampakkan diri begitu sempurnanya. Belalang hijau satu-dua ekor terlihat menantang angin di pucuk-pucuk ilalang. Alam begitu tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunti berjalan di jalan setapak itu. Bunga-bunga ilalang memenuhi setapak perlahan-lahan menepi ke kiri-kanannya. Mereka memberi tempat bagi kaki Kunti yang hitam tanah dan pecah kulitnya leluasa melangkah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Batubujang, Benny Arnas, Singgalang Padang, 1 Juni 2008&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANAS benar-benar tak habis pikir bagaimana penduduk menjadi sebegitu bodohnya. Menyemen parit dengan batamerah, bahkan sebagian lebih gawat lagi, ada yang menggunakan batako. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alamak jan, layak tak berotak apa yang berlaku di muka Anas. &lt;i&gt;Apa kiranya yang telah membuat pikiran mereka tiada menimbang banyak dampak yang mungkin sekali timbul dari tindakan yang tak beralibi itu. Takkah mereka tahu kalau batamerah lebih banyak menguras rupiah daripada batubujang? Takkah jua mereka berpikir bahwa semakin berbilang masa, batamerah itu lebih mudah digerus air, walaupun orang-orang itu telah bertahan dengan rupa-rupa alasan yang terkesan terlalu dibuat-buat: bahwa batamerah akan dilapisi semen? Tetap, batubujang 1 lebih baik dibandingkan batamerah itu.&lt;/i&gt; Batin Anas memuncak, meredam lenguh durja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hahaha… penasaran khan? Mari beli bukunya.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 19 Desember 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-7090905799639849740?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/7090905799639849740/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=7090905799639849740' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/7090905799639849740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/7090905799639849740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2009/12/dua-paragraf-pertama-kumcer-bob-marley.html' title='DUA PARAGRAF PERTAMA KUMCER BOB MARLEY'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-1453668535740115726</id><published>2009-12-08T07:22:00.000-08:00</published><updated>2009-12-08T07:32:52.812-08:00</updated><title type='text'>Antologi BOB MARLEY dan 11 Cerpen Pilihan sriti.com</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/Sx5xjVZSMDI/AAAAAAAAAEo/4Uqo7Iqu2KI/s1600-h/Cover+Belakang+Kumcer+Bob+Marley.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 270px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/Sx5xjVZSMDI/AAAAAAAAAEo/4Uqo7Iqu2KI/s400/Cover+Belakang+Kumcer+Bob+Marley.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5412888653998469170" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/Sx5xNHHfQBI/AAAAAAAAAEg/dHseHJ2FHA0/s1600-h/cover+depan+kumcer+Bob+Marley.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 270px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/Sx5xNHHfQBI/AAAAAAAAAEg/dHseHJ2FHA0/s400/cover+depan+kumcer+Bob+Marley.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5412888272208609298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Cerpenku, Aku Bercerita dari Pesawat yang Sedang Terbang, termuat dalam antologi Bob Marley dan 11 cerpen pilihan sriti.com 0809 (penerbit, Gramedia Pustaka Utama, 2009)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-1453668535740115726?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/1453668535740115726/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=1453668535740115726' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/1453668535740115726'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/1453668535740115726'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2009/12/antologi-bob-marley-dan-11-cerpen.html' title='Antologi BOB MARLEY dan 11 Cerpen Pilihan sriti.com'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/Sx5xjVZSMDI/AAAAAAAAAEo/4Uqo7Iqu2KI/s72-c/Cover+Belakang+Kumcer+Bob+Marley.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-5460183633134870807</id><published>2009-10-25T09:57:00.000-07:00</published><updated>2009-10-25T10:00:44.245-07:00</updated><title type='text'>Menyikapi Cerpen Jurnal Bogor dan Lampung Pos</title><content type='html'>Ada dua cerita dengan nama tokoh berbeda [kasus plagiat?]&lt;br /&gt;Share&lt;br /&gt; Today at 8:51am | Edit Note | Delete&lt;br /&gt;Pagi ini, seperti pagi hari minggu yang lalu. Biasanya aku rajin mengamati cerpen-cerpen yang tampil di koran minggu. Pas, saat itu, Vivi Diani Savitri (Cerpenis) sms. Katanya, ada cerpen karya Khrisna Pabichara yang mirip dengan cerpen yang tampil di Lampung Pos minggu ini (25/10/2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silakan baca dan bandingkan ke-2 link ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jurnal Bogor (cerpen khrisna pabichara):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.jurnalbogor.com/?p=54993&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Lampung Pos (cerpen Y. Wibowo):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2009102418580311&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana hasilnya? Silakan membuat kesimpulan sendiri. Kita bukan hakim.&lt;br /&gt;Written 15 hours ago · Comment · Like / Unlike&lt;br /&gt;Ida Nursanti Basuni, Andreas T Wong, Ria Aprilia and 5 others like this.&lt;br /&gt;Eri Irawan&lt;br /&gt;Eri Irawan&lt;br /&gt;Kita tetap harus hati-hati menyikapinya, Mas Bams. Jangan sampai sikap kita yang berlebihan malah menghabisi karis cerpenis yang bersangkutan. Bukannya permisif, sih, tapi ini mungkin menyangkut nasib orang.&lt;br /&gt;14 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Eri Irawan&lt;br /&gt;Eri Irawan&lt;br /&gt;karir, maksudnya.&lt;br /&gt;14 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;Iya mas Eri, makanya aku tampilkan ke-2 link tersebut, agar pembaca saja yang mengambil keputusan, apakah hal tersebut kasus plagiat, atau hanya punya kesamaan ide dan deskripsi cerita yang "hampir" mirip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun sudah konfirmasi kepada KP, apakah ia menulis cerpen dengan nama samaran, tetapi ternyata tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahu saya Y. Wibowo, juga seorang cerpenis. Dan karya-karyanya ada. Mudah-mudahan, sikap saya ini tidak berlebihan ya? Hehehe, mantrabs.&lt;br /&gt;14 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Weni Suryandari&lt;br /&gt;Weni Suryandari&lt;br /&gt;nah lho1. harus hati2 ya...gilee...makanya aku takut banget mau posting sering2.... kasus seperti ini kerap terjadi katanya...&lt;br /&gt;14 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Benny Arnas&lt;br /&gt;Benny Arnas&lt;br /&gt;Baca dulu ya, Mas....&lt;br /&gt;14 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Benny Arnas&lt;br /&gt;Benny Arnas&lt;br /&gt;Baca dulu ya, Mas....&lt;br /&gt;14 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Khrisna Pabichara&lt;br /&gt;Khrisna Pabichara&lt;br /&gt;Saya pribadi pun mencari dan menunggu kabar dari rekan Y. Wibowo. Sebagai sesama orang yang menggantungkan hidup di dunia tulisan, saya tetap berhati-hati. Saya pun tidak ingin menjadi penyebab "matinya" karier seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam takzim, KP&lt;br /&gt;14 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;Y. Wibowo juga cerpenis mas, karya-karya yg lain ada di sriti.com... semoga ada klarifikasinya&lt;br /&gt;14 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Mh Poetra&lt;br /&gt;Mh Poetra&lt;br /&gt;Iya mas..&lt;br /&gt;Ada sisi lain juga mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa karna kepepet bgt jadi limbung, eh ketepatan sedang baca cerpen mas khris yg keren, jadi seperti nemu jalan terang, yg pintas tentunya.&lt;br /&gt;... Read More&lt;br /&gt;Dan terjadilah..&lt;br /&gt;Hehe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetap semangat mas&lt;br /&gt;:)&lt;br /&gt;14 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;Paragraf awal versi KP (jurnal bogor)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HELGA Suryandari nama aslinya. Tak terlalu cantik dibandingkan ibu-ibu lain di desa Adi. Juga tidak terlalu kaya. Biasa saja. Tapi, orangnya sangat ramah. Karena keramahannya, warga sedesa mengenalnya. Bahkan, satu kecamatan. Tidak heran jika dia digelari Perempuan dengan Senyum Paling Ramah. Dia ramah pada ... Read Moresiapa saja, kapan dan di mana saja. Karena itu dia dipanggil Ibu Ramah, bukan Ibu Helga. Karena itu pula dia dilamar partai-yang gemar menampung orang terkenal-untuk mencalonkan diri sebagai anggota dewan.&lt;br /&gt;14 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;Paragraf kedua versi Y.W (lampung pos):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahayu Sari, ibu Ratna, tak terlalu cantik dibandingkan ibu-ibu lain di desa, juga tidak terlalu kaya. Biasa saja. Tapi, orangnya sangat ramah. Karena keramahannya, warga sedesa mengenalnya. Bahkan, satu kecamatan. Tidak heran jika dia digelari perempuan dengan senyum paling ramah. Dia ramah pada siapa saja, kapan, dan di mana saja. Karena itu dia dipanggil Ibu Ramah, bukan Ibu Rahayu atau Ibu Sari.&lt;br /&gt;14 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Benny Arnas&lt;br /&gt;Benny Arnas&lt;br /&gt;BARU PERCAYA:&lt;br /&gt;WAH, AKU JUGA GAK RELA!!! MAS KP, apa yg bisa saya bantu?!!! Geram nihh!&lt;br /&gt;14 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;@ KP: aku rasa, ada bagian panjang pada cerpen lampos yang ngambil dari versi naskah asli (sebelum edit) di Jurnal Bogor. Hehe... sabar ya mas khris, namamu makin berkibar saja sbg cerpenis.&lt;br /&gt;14 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Aris Kurniawan&lt;br /&gt;Aris Kurniawan&lt;br /&gt;Kurasa ini benar kasus jiplakan. Alur dan ide ceritanya sama. Turut prihatin...&lt;br /&gt;14 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Erna Rasyid&lt;br /&gt;Erna Rasyid&lt;br /&gt;dari dlu bxk kasus seprti ini/tp sllu sj brdalih KREATIFTAS. mgkn 'kreatftas menjiplak' ...&lt;br /&gt;14 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Fajar Alayubi&lt;br /&gt;Fajar Alayubi&lt;br /&gt;Saya khawatir, bila tidak ditindak lanjuti, maka akan 'menjamur' kasus seperti ini. Saya doakan semoga cepat tuntas.&lt;br /&gt;14 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Khrisna Pabichara&lt;br /&gt;Khrisna Pabichara&lt;br /&gt;@Mas Bamby: Saya pernah pula memosting cerpen ini di facebook note dengan judul "Berburu Kursi" sewaktu diikutkan Sayembara. Dan setelah tidak menang karena pesannya terkesan tempelan, saya permak ulang, lalu dikirim ke Jurnal Bogor.&lt;br /&gt;14 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Ann Straw Navie&lt;br /&gt;Ann Straw Navie&lt;br /&gt;Wahahah, 95% penjiplakan ini, om! Kasian Om khrisna ya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;stop piracy&lt;br /&gt;14 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;@ KP: ini potongan naskah asli "Berburu Kursi":&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menjadi wakil rakyat itu adalah amanah. Jika saya terpilih, saya akan lebih mendahulukan kepentingan rakyat sebelum mengambil keputusan. Bagi saya, partai itu hanya jembatan. Jangan tergoda oleh nama besar, penampilan, atau iming-iming hadiah. Apalah artinya uang sepuluh ribu jika ibu-ibu sekalian menggadaikan masa depan rakyat selama lima tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bagian itu tak ada di cerpen JB karena sudah diedit/dipangkas.&lt;br /&gt;13 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;Namun, paragraf tsb ada pada cerpen YW :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba ibunya naik ke tempat tidur. "Menjadi wakil rakyat itu amanah. Bagi saya, partai itu hanya jembatan. Jika saya terpilih, kepentingan rakyat akan didahulukan setiap mengambil keputusan. Jangan tergoda bujuk rayu, penampilan, atau hadiah. Apalah artinya uang sepuluh ribu jika menggadaikan masa depan kita selama lima tahun. Karena itu, pilih yang pasti. Pilih nomor tiga, Rahayu Sari!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berarti, kesimpulanku, karena cerpen ini pernah diposting di FB, maka bisa dijiplak.... Read More&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran menarik dari dunia maya, mencuat lagi nich hehe&lt;br /&gt;13 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Kavellania Nona Pamela&lt;br /&gt;Kavellania Nona Pamela&lt;br /&gt;wahhh wahh WAAAAHHH&lt;br /&gt;NGGAK YANGKA SUMPEEEHHH&lt;br /&gt;13 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Weni Suryandari&lt;br /&gt;Weni Suryandari&lt;br /&gt;Gilaaaaaaaaaa.......nggak nyangkaaa sumpeeehhh (sama dengan Kav...) luar biasa ini, menjiplak plek plek!! menyeramkan....! duuhh Gemeeess...!!!&lt;br /&gt;Dindaku, sabar...makin terkenal makin keras angin bertiup..&lt;br /&gt;sabar dinda...&lt;br /&gt;13 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Faradina Izdhihary&lt;br /&gt;Faradina Izdhihary&lt;br /&gt;Gilaaaaaaaaaaaaaaa. ada pencuri juga.....Wah trs gimana dong dgn karya2 kita di FB atau blog teman2 ???? wuah&lt;br /&gt;13 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;@ Fara: mbak Fara, kita hanya bisa saling mengingatkan dan memberitahu saja...&lt;br /&gt;13 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Tatan Daniel&lt;br /&gt;Tatan Daniel&lt;br /&gt;Menjiplak adalah pekerjaan primitif... Primitif, Bung..&lt;br /&gt;13 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Khrisna Pabichara&lt;br /&gt;Khrisna Pabichara&lt;br /&gt;@Weni: Dinda akan selalu bersabar, sembari menyasar hikmah di balik semua ini...&lt;br /&gt;13 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Faradina Izdhihary&lt;br /&gt;Faradina Izdhihary&lt;br /&gt;Mas Khrisna: Yang sabar, tapi aku gak bisaaaaaaa. gak tahan! Gregetan&lt;br /&gt;13 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Guntur Alam&lt;br /&gt;Guntur Alam&lt;br /&gt;Aku akan hunting bukunya...&lt;br /&gt;13 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;@ Fara: terima kasih sudah mampir, gak papa yo, aku tag paling akhir hehe&lt;br /&gt;13 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Guntur Alam&lt;br /&gt;Guntur Alam&lt;br /&gt;Maaf salah post, seharusnya di promo bukumu, Mas. Bukan catatan ini. Aku jadi malu.... ^_^&lt;br /&gt;13 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Guntur Alam&lt;br /&gt;Guntur Alam&lt;br /&gt;Seperti yang aku sms, jerat saja dengan UU No. 19 Tahun 2002..! Jangan biarkan orang seperti itu mencoreng citra penulis. Dia pikir, karena media yang jauh (tempat dan jarak) akan membuat hal ini tak diketahui. Kesamaan ide, pengemasan ataupun teknis menulis adalah hal biasa. Tetapi, meng-copy paste, sungguh hal yang membuat saya geram...&lt;br /&gt;13 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Banyu Hening&lt;br /&gt;Banyu Hening&lt;br /&gt;Waduh2...aku mau beli lampung post hari ini kalo begitu...&lt;br /&gt;12 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Anita Rachmad&lt;br /&gt;Anita Rachmad&lt;br /&gt;waaaah.....&lt;br /&gt;lihat di web-nya bisa gak ya ?&lt;br /&gt;sumpah ! jadi penasran !&lt;br /&gt;12 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Anita Rachmad&lt;br /&gt;Anita Rachmad&lt;br /&gt;he..he..he...tentu saja bisa !&lt;br /&gt;nah yg ditampilin mas bam itu apa ! sangking nafsunya pengen liat !&lt;br /&gt;12 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Khrisna Pabichara&lt;br /&gt;Khrisna Pabichara&lt;br /&gt;Setelah lima kali saya baca, ternyata hanya ada perbedaan pada nama tokoh dan latar tempat. Selebihnya, kembar identik. Sayang sekali judul cerpen tidak termuat di Lampung Post.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih Bang Benny dan Bang Rama Dira atas informasinya. Pun kepada Bang Guntur atas supportnya. Jadi makin semangat untuk berkarya nih&lt;br /&gt;12 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Anita Rachmad&lt;br /&gt;Anita Rachmad&lt;br /&gt;hmm....&lt;br /&gt;agak mirip memang. plek malah.&lt;br /&gt;mudah mudahan memang kebetulan idenya sama ^_^&lt;br /&gt;12 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Khrisna Pabichara&lt;br /&gt;Khrisna Pabichara&lt;br /&gt;@Banyu: ditunggu kabarnya, Bang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;@Anita: sepertinya bukan semata mirip ide, Mbak, tetapi mirip segalanya&lt;br /&gt;12 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Lily Yulianti Farid&lt;br /&gt;Lily Yulianti Farid&lt;br /&gt;ini plagiatisme. sudah baca dan membandingkan keduanya.&lt;br /&gt;12 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Banyu Hening&lt;br /&gt;Banyu Hening&lt;br /&gt;Abang? Hahaha...nanti ku kabari, mas....&lt;br /&gt;12 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Imam Marsus&lt;br /&gt;Imam Marsus&lt;br /&gt;Aku ikut prihatin dengan kasus ini. Makasih, Mas atas infonya&gt;&lt;br /&gt;12 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Cepi Sabre&lt;br /&gt;Cepi Sabre&lt;br /&gt;seorang politisi diharapkan untuk jujur kepada rakyatnya, tapi seorang penulis, pertama sekali, harus jujur kepada dirinya sendiri (kalau tak salah ingat, kata bur rasuanto)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya pikir, mas bamb, semua sudah memberi penilaian sesuai bacaan masing-masing pada kedua cerpen itu. tinggal menunggu mas y.wibowo membela dirinya. atau menunggu kebesaran hatinya, lebih baik.&lt;br /&gt;12 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Kajitow Elkayeni&lt;br /&gt;Kajitow Elkayeni&lt;br /&gt;saya turut prihatin, ini memalukan. diselesaikan dengan bijak saja mas khris. salam.&lt;br /&gt;12 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Ade Anita&lt;br /&gt;Ade Anita&lt;br /&gt;iya.. mirip banget, cuma diubah namanya ya. Menurutku sih ini termasuk plagiat deh. Tapi... ini sering nih terjadi, terutama utk karya2 di internet (mungkin krn tidak ada perlindungannya ya?). Aku dulu pernah bantu2 jadi editor majalah Surga (dah modar sayangnya sekarang), nah... ada penulis yg ngirim tulisan utk dimuat dimajalah tersebut, ... Read Moresayangnya, penulis asli tulisan yg dikirimnya itu ternyata aku sendiri!!!... waaa.. kaget, langsung aja aku tegur. Tapi ya itu, nda bisa berbuat apa-apa wong namanya juga dunia maya.. nggak bisa dibuktiin toh? Kecuali kalau roy suryo ikut bicara...hahaha..Itu sebabnya aku tidak mau lagi nulis di internet secara serius. Tulis sebagian saja, jangan edisi lengkapnya (atau setidaknya jangan sampai melebihi 3000 karakter.. hehehe, kan ini syarat kalau mau ngirim ke media cetak), jadi jikapun ada yang berniat mencuri karya kita ya.. dia agak2 kerja keras juga deh utk memenuhi kuota minimal 3000 karakter, jadi tidak ongkang-angking diatas karya orang lain, tapi ada juga sedikit tetes keringatnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ayo dong teman2... dimulai atuh gerakan untuk melindungi karya2 kita yang beredar di internet...katanya ada RUU-nya.. gimana tuh kabar RUU-nya?&lt;br /&gt;11 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;@ Ade anita: saya setuju harus ada UU yg melindunginya. Tapi apakah DPR mampu?&lt;br /&gt;10 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Imam Marsus&lt;br /&gt;Imam Marsus&lt;br /&gt;@Ade Anita&amp;Bamby : Setuju! Kita upayakan bersama dan kasih support pihak-pihak yang mengusahakannya.&lt;br /&gt;Jangan sampe kehidupan intelektual meredup gara-gara pembajakan.&lt;br /&gt;10 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Kajitow Elkayeni&lt;br /&gt;Kajitow Elkayeni&lt;br /&gt;nah, ayo semangat!&lt;br /&gt;10 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Feby Indirani&lt;br /&gt;Feby Indirani&lt;br /&gt;sudah baca. memang jelas nyontek, cuma mengganti nama, mengubah sedikit di sana sini.artinya nyonteknya juga kurang pinter hehehe karena ketahuan banget :)&lt;br /&gt;10 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Boby Ginting&lt;br /&gt;Boby Ginting&lt;br /&gt;Aku uda baca link yang dikasi sama bang bamby, dan menurutku memang terlalu "kebetulan"jika "tak sengaja mirip".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi agak aneh juga seorang cerpenis melakukan hal begitu, ya. Bunuh diri namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mau liat nih, gimana kelanjutannya. Sapa tahu malah yang kurang ajar adalah media cetaknya yang suka mencaplok nama penulis (belum tentu Y.wibowo tapi malah editor yang kurang ajar). Siapa tahu, bukan?&lt;br /&gt;9 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Helga Worotitjan II&lt;br /&gt;Helga Worotitjan II&lt;br /&gt;sangat2 menyayangkan!&lt;br /&gt;9 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Teguh Setiawan Pinang&lt;br /&gt;Teguh Setiawan Pinang&lt;br /&gt;sudahlah, bagi yg karyanya dijiplak ikhlas saja.... kalau ketemu si penjiplak boleh langsung "ditulisi" mukanya. hehehe.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;santai aja. penulis yang mengandalkan diri pada teknik copy-paste tidak akan pernah menjadi besar. artinya, tdk layak dianggap ancaman, apalagi pesaing. cuma ya itu tadi, kalau ketemu muka, itu muka boleh "ditulisi" ;-)&lt;br /&gt;9 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Weni Suryandari&lt;br /&gt;Weni Suryandari&lt;br /&gt;iyaa bener kata mas TS Pinang.....apa boleh buat... meski gemas, plagiatisme tetap saja akan membunuh si plagiator....&lt;br /&gt;kalo ketemu tulisi saja mukanya. hehehe&lt;br /&gt;8 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Helga Worotitjan II&lt;br /&gt;Helga Worotitjan II&lt;br /&gt;aku sudah membaca &amp; membandingkannya, bahkan si penjiplak tidak pny ketrmpilan menjiplak dg baik, hahaha!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khrisna, ini pelajaran, tulisanku jg sering dijiplak, tapi bgtulah resiko melepasnya di ruang publik.......&lt;br /&gt;8 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Rama Dira J&lt;br /&gt;Rama Dira J&lt;br /&gt;jelas : INI PLAGIAT. 90% sangat mirip. Yang diubah hanya jenis kelamin beberapa tokohnya dan deskripsi di pembukaan dan ending.&lt;br /&gt;8 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;Kayak dejavu, waktu kasusnya Langit Septa di k.com hehe. Sayangnya YW gak punya fb.&lt;br /&gt;7 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;TSP, hehe mantap "ditulisi"&lt;br /&gt;7 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Khrisna Pabichara&lt;br /&gt;Khrisna Pabichara&lt;br /&gt;@TSP: Iya, Mas. Saya ikhlaskan. Hehehe...&lt;br /&gt;6 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Eri Irawan&lt;br /&gt;Eri Irawan&lt;br /&gt;Bukannya permisif, tapi tak perlu berlebihan. Kelak waktu yang akan menguji daya kepenulisan kita masing-masing. Itu saja sudah cukup. Betul kata Mas Pinang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanksi cukup diberikan oleh redaktur sastra Lampung Post. Biar cerpenis itu di-black list. Kalau kita ikut menghujat di sini, dan kebetulan dibaca redaktur-redaktur koran lain, wah kasihan ... Read Moresekali tuh Y. Wibowo. Meski karyanya bagus dan orisinal (ah, adakah yang orisinal di dunia ini?!), kelak tak ada yang mau menerimanya. Maju terus untuk smuanya!&lt;br /&gt;5 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Norman Erikson Pasaribu&lt;br /&gt;Norman Erikson Pasaribu&lt;br /&gt;Y Wibowo Parahhhhhhhhhhhhhh..&lt;br /&gt;4 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Norman Erikson Pasaribu&lt;br /&gt;Norman Erikson Pasaribu&lt;br /&gt;Sayembara yang dimaksud bang khrisna itu Sayembara tunanetra dari MataKata itu yaa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya lihat di situs lain direktur MataKata itu Y.Wibowo..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ohhhh.. Gilak........&lt;br /&gt;4 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;@ norman: waduh makin runyam, bukankah KP terlibat jg dgn proyek matakata? Eh, bukan begitu?&lt;br /&gt;3 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Norman Erikson Pasaribu&lt;br /&gt;Norman Erikson Pasaribu&lt;br /&gt;kurang tahu bang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi tadi lihat di situs (mencari siapakah Y. Wibowo itu?)&lt;br /&gt;ternyata dia direktur MataKata..&lt;br /&gt;... Read More&lt;br /&gt;KP aku kurang tahu terlibat di sayembara itu.. tp tahunya begini?? nengnong.. bingung juga.. hhe&lt;br /&gt;3 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;@ Norman: ada klarifikasi dari blog matakatakita (penyelenggara kumcer tunanetra), bahwa blog matakata YW, berbeda dgn blog Matakatakita. Nama YW tdk dikenal di matakatakita. Trims.&lt;br /&gt;2 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Norman Erikson Pasaribu&lt;br /&gt;Norman Erikson Pasaribu&lt;br /&gt;ohhhhhhhhhhhh begitu.. oknum YW, oknum YW..&lt;br /&gt;2 hours ago · Delete&lt;br /&gt;Johanés Koén&lt;br /&gt;Johanés Koén&lt;br /&gt;Halo rekan sekalian,&lt;br /&gt;saya tadi dikontak kawan Bamby tentang apa ada kaitan tentang Y. Wibowo dengan Mata Kata Kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kegiatan Sayembara Cerpen mataawas - tunanetra yang kami selenggarakan bernama Mata Kata Kita dan tidak berhubungan dengan nama-nama lain seperti Mata Kata, dsb. Alamat blog resmi kami di matakatakita dot wordpress dot com&lt;br /&gt;... Read More&lt;br /&gt;2. Saudara Y. Wibowo hingga saat ini tidak ada keterlibatan sama sekali baik sebagai peserta maupun penyelenggara MataKataKita dan juga kegiatan lain yang kami selenggarakan seperti iRBI, dibawah koordinasi Komunitas enamPENA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Jika ada suatu hal yang harus dikonfirmasikan ulang kepada kami, rekan-rekan dapat melayangkan email di matakatakita at gmail dot com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;demikian penjelasanku mewakili MataKataKita sekaligus mewakili enamPENA. semoga bisa meluruskan.&lt;br /&gt;tetap semangat, Mas Khrisna..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;johanes.koen&lt;br /&gt;about an hour ago · Delete&lt;br /&gt;Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;Terima kasih mas koen. Telah mampir di sini.&lt;br /&gt;about an hour ago · Delete&lt;br /&gt;Norman Erikson Pasaribu&lt;br /&gt;Norman Erikson Pasaribu&lt;br /&gt;waduh maaf bang johannes koen.. salah info saya. hehe&lt;br /&gt;about an hour ago · Delete&lt;br /&gt;Johanés Koén&lt;br /&gt;Johanés Koén&lt;br /&gt;oke sama-sama mas bamby, dan mas norman. semoga kasus y. wibowo yang cerpennya identik dgn mas KP ini bisa segera diselesaikan baik-baik.&lt;br /&gt;about an hour ago · Delete&lt;br /&gt;· · ·&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-5460183633134870807?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/5460183633134870807/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=5460183633134870807' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/5460183633134870807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/5460183633134870807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2009/10/menyikapi-cerpen-jurnal-bogor-dan.html' title='Menyikapi Cerpen Jurnal Bogor dan Lampung Pos'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-7345773727402099940</id><published>2009-09-23T03:45:00.000-07:00</published><updated>2009-09-23T03:51:25.188-07:00</updated><title type='text'>Kumpulan Cerpen TANGAN UNTUK UTIK</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/Srn9c603r1I/AAAAAAAAAEY/x6QI3kX-HOI/s1600-h/Cover+kumcer+5.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 307px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/Srn9c603r1I/AAAAAAAAAEY/x6QI3kX-HOI/s400/Cover+kumcer+5.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5384613502767312722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Buku kumpulan cerpen Tangan Untuk Utik, pengarang Bamby Cahyadi. Terbit Oktober 2009. Penerbit Koekoesan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-7345773727402099940?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/7345773727402099940/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=7345773727402099940' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/7345773727402099940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/7345773727402099940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2009/09/kumpulan-cerpen-tangan-untuk-utik.html' title='Kumpulan Cerpen TANGAN UNTUK UTIK'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/Srn9c603r1I/AAAAAAAAAEY/x6QI3kX-HOI/s72-c/Cover+kumcer+5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-2507733987619227161</id><published>2009-09-21T07:59:00.000-07:00</published><updated>2009-09-21T08:04:16.419-07:00</updated><title type='text'>Pemuda Penjaga Lift, cerpen di Jurnal Bogor</title><content type='html'>Cerpen PEMUDA PENJAGA LIFT dimuat di Jurnal Bogor, Minggu 13 September 2009:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMUDA PENJAGA LIFT&lt;br /&gt;Oleh: Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pagi kemarin, kulihat kamu sudah berada di lobi apartemen ini. Setelah mengganti bajumu dengan seragam, yang menurutku lucu, dan mengisi kartu absensi. Kamu telah siap untuk bertugas. Pagi ini kukira, sama saja dengan pagi-pagi sebelumnya. Pagi yang kering. Sudah lama air hujan malas turun untuk menyirami tanah. Untung kita berada di dalam apartemen ini, sehingga terik matahari tak terasa di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Selamat pagi, ke lantai berapa Pak?” Tanyamu dengan nada suara yang sangat sopan pada seorang lelaki berpakaian safari rapi dan perlente. Kini kamu telah berada di dalam lift, mengerjakan rutinitasmu, menjaga lift. Bertanya dan membantu orang yang keluar-masuk lift untuk mengantar mereka ke lantai yang mereka kehendaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Lelaki itu kemudian memperlihatkan lima jarinya tangannya tanpa bicara. Kamu rupanya sudah paham, tombol lift kamu pencet angka 5. Kamu selalu berpenampilan rapi, rambutmu selalu tersisir dengan sedikit minyak rambut yang membuat rambutmu berkilau apabila tertimpa cahaya lampu lift. Mengingatkan aku pada tokoh-tokoh film di tahun enampuluhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Lantas kamu terlibat percakapan basa-basi dengan lelaki perlente itu. Kudengar ia akan mengunjungi sanak keluarganya yang tinggal di sini. Pembicaraan kalian terhenti, ketika di lantai 2, lift berhenti. Beberapa orang masuk bersama, mereka menuju lantai paling atas. Terdapat kolam renang di sana. Mungkin mereka mau berenang pagi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ya, kamu juga selalu tersenyum ramah kepada setiap orang yang menggunakan lift ini. Setiap hari. Mungkin di setiap shift-mu karena pasti kamu pun membutuhkan libur untuk mengatasi kebosanan menjaga lift, dan rutinitas bertanya ke lantai berapa ke setiap orang yang menggunakan lift di apartemen ini. Rutinitas yang membosankan, kupikir. Namun, kamu menjalaninya dengan senang hati. Itulah, maka aku sangat suka memperhatikan kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sudah lama aku ingin berkenalan dengan kamu. Ingin sekali aku bertanya tentang minyak rambutmu yang membuat rambutmu menjadi licin berkilau. Selain itu aku sangat tertarik dengan ketulusan hatimu, menjalani profesi, yang kukatakan membosankan ini. Karena dari semua karyawan bagian servis di apartemen ini, cuma kamu yang sangat bersahaja.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; Hari ini, kamu tidak berada di dalam lift ini. Seorang wanita muda menjaganya, mungkin kamu libur. Wanita muda itu tidak seramah kamu. Senyumannya menyerupai sebuah sunggingan bibir yang dipaksakan. Mirip menyeringai, tidak tulus. Sepertinya ia sangat terpaksa menjalani profesi penjaga lift daripada tidak bekerja sama sekali. Tidak sepertimu yang begitu tulus melakukan pekerjaanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Terkadang wanita muda penjaga lift penggantimu itu, pura-pura sibuk ketika ada orang yang masuk ke dalam lift. Aku tahu, ia hanya malas membuat sebaris senyum di bibirnya. Heran juga ia bisa bekerja di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Wahai pemuda penjaga lift, sudah hampir sebulan kamu tidak menjaga lift dan sebulan ini beberapa petugas pengganti silih berganti. Kamu kemana? Apakah kamu sakit? Ataukah kamu mendapatkan pekerjaan baru? Aku kok rindu kamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ya, sungguh tak menyenangkan menyambut pagi tanpa kehadiran kamu. Lobi apartemen terasa hampa. Rasanya, aku berada di apartemen asing. Sungguh suasana seperti ini membuatku merasa melankoli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Terus terang, ingin sekali aku bertanya kepada temanmu, wanita muda yang sekarang menjadi penjaga lift itu. Sebab sudah sebulan kamu tidak bertugas. Tetapi tentu tidak aku lakukan, aku tidak mau semuanya berubah menjadi runyam dan kacau. Selain itu, aku tidak suka dengan wanita muda yang berwajah masam itu. Lebih baik aku tak menegurnya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pagi ini suasana lobi apartemen terasa sangat sepi dan begitu lengang. Aktivitas apartemen belum dimulai, seperti biasa aku memasuki lift dengan langkah gontai menuju kamarku. Berharap-harap cemas, dirimu hadir di sini. Bertemu dengan kamu dan memperhatikanmu diam-diam. Oh, aku suka sekali melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aha…! Aku sangat senang dan gembira sekali.  Pagi ini aku menemui kamu berada di dalam lift dan sudah bertugas kembali. O Tuhan, terimakasih. Harapku bisa melihatmu di pagi ini terkabul. Aku sangat gembira, kukira aku telah berlonjak-lonjak saking girangnya. Rona pipiku memerah malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Mau ke lantai berapa Mbak?” tanyamu dengan suara yang sangat ramah. Aku terkejut bercampur bahagia kamu sudah menjaga lift lagi. Sambil memandang heran padamu aku mengacungkan kesepuluh jariku. Meniru gerakan lelaki perlente bersafari yang kulihat bulan lalu. Aku ke lantai 10. Kamu memencet tombol angka 10. Aku masih tak percaya, kamu bertanya kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bingung mau mengajakmu bercakap-cakap. Kulihat kamu juga terlihat malu-malu di hadapanku. Sesekali kamu melirikku. Ketika aku hendak berkata-kata mengajakmu bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tiba-tiba lift mendadak berhenti di lantai 5 padahal tidak ada seorang pun yang berhenti untuk ke luar ke lantai 5. Pintu lift terbuka, meninggalkan suara denting. Masuk wanita muda penjaga lift penggantimu itu, ia bersama temannya, tetapi mereka tidak menegurmu. Kamu pun diam saja tidak menegur mereka. Aku dan kamu terdiam dalam bisu, hanya teman-temanmu yang berbicara. Pembicaraan mereka tampak sangat serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Sudah sebulan aku bekerja di sini, baru kali ini aku merasakan bulu kudukku berdiri dan merinding seperti ini,” kata wanita muda itu kepada temannya dengan ekspresi seperti orang yang ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Ya, aku juga merasakan hal yang sama,” balas teman wanita muda itu sambil bergidik dan memegang lehernya sendiri. Rupanya bulu kuduknya meremang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Apa mungkin rohnya si Markum penjaga lift yang meninggal kecelakaan motor sebulan yang lalu sedang gentayangan di sini ?” lanjut wanita muda penjaga lift itu kepada temannya sambil memencet tombol lift ke lantai dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku tersentak, mengalihkan pandangan padamu. Kamu tertunduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Mungkin saja. Dulu juga waktu seorang gadis bunuh diri loncat dari lantai 10. Dan tubuhnya hancur di halaman parkiran, di lift ini sering terjadi sesuatu yang aneh-aneh dan menyeramkan,” kata temannya sambil masih memegang tenguknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa gadis itu bunuh diri?” Tanya wanita muda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katanya sih, gadis itu kesepian. Orangtuanya memberikan fasilitas apartemen, tetapi mereka tidak pernah menjenguk gadis itu,” jelas temannya dengan bibir bergetar ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, ya, bisa jadi si Markum lagi gentayangan di sini. Dia khan, meninggal saat mau menuju ke sini untuk menjaga lift ini. Hiiiiiih!” Kedua wanita itu menjerit dan buru-buru ke luar dari lift ketika sampai di lantai dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang aku sangat terkejut mendengar pembicaraan mereka. Pandanganku beralih kepadamu yang sedang berdiri manis di pintu lift sambil tersenyum, mengangguk-angguk kepala seraya mengangkat bahumu menatapku. Kamu bernama Markum. Pantas kamu bisa menegurku pagi ini.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 29 Juni 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-2507733987619227161?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/2507733987619227161/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=2507733987619227161' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/2507733987619227161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/2507733987619227161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2009/09/pemuda-penjaga-lift-cerpen-di-jurnal.html' title='Pemuda Penjaga Lift, cerpen di Jurnal Bogor'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-9149533312020092605</id><published>2009-09-12T05:30:00.000-07:00</published><updated>2009-09-12T05:34:43.461-07:00</updated><title type='text'>Sebongkah Batu Es yang Merindu (Harian Global)</title><content type='html'>Cerpen ini dimuat di Harian Global Medan, Sabtu, 12 September 2009 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SEBONGKAH BATU ES YANG MERINDU&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ingatkah kamu? Sewaktu kita berdua kelaparan di pinggiran jalan San Francisco yang dingin. Ketika bulir-bulir salju turun pelan-pelan menutupi trotoar jalan. Bulir salju itu serupa serpihan kapas putih yang ditebar dari atas langit mendung yang kelam jatuh menumpuk menimbun tanah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu kita hanya sanggup duduk bersedekap memeluk lutut masing-masing dan saling melempar tatap, seraya membayangkan makanan-makanan enak yang tersaji tiba-tiba di depan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku lapar Yo,” ucapmu lirih dengan bibir bergetar. Mulutmu beruap. Tanganmu menggapai-gapai tanah. Mengais apa saja yang terjangkau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku juga…” balasku tak kalah lirihnya, namun aku berusaha menyembunyikan getar bibirku dengan membuat sebaris senyum. Aku hanya ingin tampak tegar di depanmu. Bagaimana pun, aku lebih tua darimu. Aku berusaha menenangkanmu saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu kita berdua masih ingat Tere. Saat di mana, kau mulai berhalusinasi. Aku kira, saking laparnya kau telah kerasukan semacam roh lapar yang aneh. Pasti kamu ingat. Ketika kau mulai memakan daun-daun kering dan ranting-ranting pohon cerry yang berserak di tanah. Kau bilang, rasanya seperti makan hamburger. Ranting-ranting itu kau bilang selezat french fries panas dan renyah. Dan gumpalan salju di genggamanmu, dengan rakus kau jilati dan kau kunyah lalu lumer dalam mulutmu. Sambil kau berteriak: Sundae yang lezat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malah kau sempat menyodorkan tanganmu ke mulutku, berusaha menyuapiku dengan daun dan ranting-ranting. Maafkan aku Tere, aku menolak. Aku menepis tanganmu. Kamu tidak marah kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin menangis. Tapi apa daya, aku pun tak berdaya. Kita berdua saat itu hanya sepasang kanak-kanak bodoh yang terjebak di keremangan senja jalanan San Francisco yang sunyi berbaur bising raungan sirine mobil-mobil polisi yang mengejar-ngejar penjahat jalanan. Tidak ada yang memperhatikan kita. Tidak ada yang peduli terhadap nasib kita yang kelaparan. Kurasa waktu itu kau mulai membeku. Selayak batu es. Aku saksikan itu. Ya, aku saksikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yo, apakah kamu merasa sangat dingin?” tanyamu memandangku. Aku mengangguk. Dan pertanyaan itu adalah kalimat terakhir yang kudengar darimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, aku juga merasakan dingin yang luar biasa Tere,” jawabku merapatkan jaket tebalku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu mulutmu penuh dengan ranting-ranting yang masih kau kunyah dan belum sempat kau telan. Kita kembali saling bertatap. Kulihat dirimu perlahan-lahan dengan pasti berubah menjadi sebongkah es. Dirimu membeku. Tidak ada teriakan rasa sakit ketika seluruh tubuhmu berubah menjadi sebongkah es. Tidak ada gigil. Mungkin roh lapar yang aneh telah begitu merasukmu, sehingga saat kau berubah menjadi sebongkah es, kau pun tak merasakan apa-apa. Tapi aku yakin, sebelumnya kau telah kenyang. Perutmu telah penuh dengan daun cerry dan ranting-rantingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tereee…!” aku tercekat. Tak ada suara yang keluar dari tenggorakanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri hanya bisa menatapmu tanpa berkedip. Kurasa aku pun telah berubah menjadi sebongkah batu es yang sangat dingin. Dingin merayapi sekujur tubuhku, dari ujung kaki hingga akhirnya kepala, membeku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila saat itu, ada orang yang sengaja memegang tubuh kita berdua, mungkin mereka akan tersengat dingin tubuh kita. Mungkin mereka pun menjadi es seperti kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dugaanku benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang gelandangan yang mendorong troli besar penuh barang rongsokan tak berguna, rupanya penasaran dengan onggokan batu es yang menyerupai dua manusia yang sedang meringkuk. Itu kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia, lalu mendekati kita. Aku masih bisa melihat dari balik bening es yang membalut tubuhku. Aku tahu, kau pun masih melihatku sebagai sebongkah es yang meringkuk. Kau pun melihat, perlahan-lahan, gelandangan itu mendekati kita berdua. Sepertinya ia ingin memastikan bahwa onggokan itu benar-benar es. Ia tampak ragu-ragu. Tapi rasa penasarannya mengusai dirinya, ia lalu memegang kita berdua. Ia mengelus-elus kita berdua, ia begitu takjub. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seniman patung es kaliber dunia manapun tak akan bisa menciptakan sebongkah batu es mirip manusia.” Ia berdesis. Kita mendengar pengemis itu begitu memuja-muji rupa es kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kesalahan terbesar telah dilakukan oleh gelandangan itu, seperti yang aku bilang. Kita sangat teramat dingin untuk ukuran dingin es. Maka perlahan-lahan, gelandangan itu mendadak membeku dari ujung kakinya merembet hingga ujung kepalanya menjadi bongkahan es menyerupai manusia yang sedang memegang kepala kedua anaknya. Ah, Tere ia pun pasti merasakan sensasi dingin saat tubuhnya dijalari dingin menjadi batu es.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masihkah kau ingat, bahwa musim dingin di tahun itu adalah musim dingin terpanjang dalam sejarah peradaban manusia di Amerika. Tak perlu aku ceritakan padamu, karena kuyakin kau masih ingat. Apakah ini akibat pemanasan global? Mana aku tahu Tere. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat setelah si gelandangan itu menjadi es seperti kita, para pejalan kaki yang kebetulan melewati trotoar jalan sepi di bawah jembatan Golden Gate yang angkuh dan sunyi itu, kemudian mengerubungi kita. Mereka terkagum-kagum dengan tubuh es kita. Bahkan ada yang berseru dan bertanya: Mana pematungnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu mereka tak akan pernah menemukan pematung itu. Karena kita terbentuk dari dingin. Bukan dari liukan pahatan tangan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum juga tuntas rasa kagum mereka, seorang dari mereka, perempuan cantik berleher jenjang, memegang kita begitu lama. Mengelus, merabai setiap lekuk tubuh kita dan bahkan ia menciumi kita satu per satu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, bukankah ini sebuah keindahan yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata, bahkan dengan sajak seindah apapun di dunia,” gumamnya pada dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tak perlu kuceritakan padamu, betapa cepat ia berubah menjadi es ketika ia mendaratkan bibirnya di pipi gelandangan itu. Seperti kita, ia lantas berubah menjadi manusia es. Perempuan itu pasti merasakan sensasi beku juga kurasa. Semua orang yang melihat terkesiap tak percaya. Kau pun melihatnya dari balik bening es di matamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, tak ada lagi orang yang berani menyentuh tubuh es kita. Mereka hanya memandang kita dengan tatapan mustahil. Kulihat mulutmu masih penuh mengulum ranting-ranting kering yang tak sempat kau telan. Tentu kau melihatku juga dengan mata yang nanar menatapmu sedih. Kita berdua melihat, gelandangan yang takjub sedang mengelus kepala kita berdua. Dan perempuan berleher jenjang sedang mencium pipi gelandangan yang sedang mengelus kita. Kita bisa melihat di antara kita, namun sebagai sebongkah es batu yang menyerupai manusia. Kita tidak bisa berkomunikasi antar kita. Apalagi melakukan perlawanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, perlawanan. Beberapa hari kemudian, kabar membekunya kita tersiar seantero kota San Francisco. Bahkan ke semua negara bagian di Amerika yang masih diguyur salju tebal berhari-hari sampai berbulan-bulan kukira. Mungkin kabar ini telah tersebar ke seluruh penjuru dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah untuk tujuan apa. Kita dipisahkan. Kulihat orang-orang berseragam putih-putih, bermantel tebal putih, bersepatu bot putih, bermasker putih yang menutupi seluruh wajah dan dengan sarung tangan tebal anti dingin berwarna putih mengangkat kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya mereka sangat takut tersengat dingin kita, sehingga kita diperlakukan selayak virus flu yang mematikan. Mereka pun tak berani menyentuh tubuh es kita walaupun mereka telah memakai sarung tangan tebal. Ya, mana ada yang mau berubah menjadi sebongkah batu es mirip manusia. Seperti kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setelah mereka mengangkat kita pada sebuah tempat. Lantas mereka memisahkan kita. Mereka menggergaji kita Tere! Suara gergaji mesin sampai kini masih terngiang-ngiang ngilu di kupingku. Mata gergaji yang tajam kemudian memutus kedua telapak tangan gelandangan yang sedang memegang kepala kita, lalu dengan garang meraung menggergaji ujung mulut perempuan berleher jenjang yang tengah mencium pipi gelandangan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka telah membuat kita terpisah dan sekaligus berpisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai itu, tak lama dari pemisahan. Kita lantas dimasukkan dalam sebuah kontainer mirip portable freezer seukuran tubuh kita masing-masing. Maka sejak truk yang membawa tubuh bekuku menderu meninggalkan trotoar jalanan sunyi di kolong jembatan Golden Gate. Aku tak pernah lagi mendengar kabarmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku sangat rindu padamu. Tujuhbelas tahun telah berlalu. Masih ingatkah kamu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Plung!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebutir batu es jatuh di atas gelas minuman bersoda milik seorang gadis yang tengah dikerubungi oleh teman-temannya. Gadis itu tampak sangat bahagia dan melempar senyum penuh pesona. Ia kini tengah menjadi pusat perhatian semua orang. Gadis itu sedang merayakan hari ulang tahunnya. Semua orang yang ada di sini ceria dan suasana sangat meriah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpuluh-puluh gelas minuman siap menuntaskan dahaga para undangan. Makanan pun berlimpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plung!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebutir es batu jatuh lagi di gelas yang lain. Berdenting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plung!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plung!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plung!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin banyak butiran-butiran batu es berjatuhan di atas gelas-gelas yang lain, bunyi air minuman bersoda bergemericik saat batu es berjatuhan. Dan gelasnya berdenting-denting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah itu kamu Tere?” ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pondok Indah, Jakarta, 13 Juli 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-9149533312020092605?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/9149533312020092605/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=9149533312020092605' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/9149533312020092605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/9149533312020092605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2009/09/sebongkah-batu-es-yang-merindu-harian.html' title='Sebongkah Batu Es yang Merindu (Harian Global)'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-7824257536740505313</id><published>2009-08-30T08:11:00.000-07:00</published><updated>2009-08-30T08:17:05.305-07:00</updated><title type='text'>Cerpen Bamby di Harian Global Medan</title><content type='html'>Cerpen ini dimuat di Harian GLOBAL Medan, edisi hari Sabtu tanggal 29 Agustus 2009:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KARYAWAN TUA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Bamby Cahyadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KARYAWAN tua itu terlihat lebih rapi. Kemeja warna putih membalut tubuhnya. Dasi warna biru muda terikat di lehernya. Dengan pantalon hitam, karyawan tua itu terlihat sedikit lebih muda. Ia sangat bersemangat hari ini. Sejak masuk kantor, tadi pagi, wajahnya memantulkan binar-binar keriangan. Ia menyalakan komputer di meja kerjanya, sembari menyeruput kopi yang sudah ada di genggamannya sejak tadi. Rupanya ia menyempatkan diri mampir ke kedai kopi Starbucks di ujung utara kantor. Minuman pembuka hari yang jitu di musim dingin seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku dengar dari beberapa orang yang bekerja di kantor ini, seminggu lagi ia akan pensiun. Aku tidak terlalu mengenal karyawan tua itu, baru seminggu aku bekerja di sini. Sebenarnya, mejaku dan meja karyawan tua itu hanya disekat sebuah kaca tembus pandang. Namun, karena aku dan ia berbeda departemen, aku merasa tidak perlu berbasa-basi dengannya. Atau mengenalnya lebih jauh. Lagi pula, sebentar lagi ia akan pensiun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Orang-orang di kantor memanggilnya Pak Bijak, karena tutur bahasanya selalu bijak. Keriput di wajahnya pun menyiratkan ia memang sudah berumur. Rambutnya tidak hitam, juga tidak putih. Warnanya kelabu. Seorang teman yang lebih lama bekerja di kantor ini mengatakan ia telah memiliki enam orang cucu. Tiga laki-laki dan tiga perempuan, dari tiga orang anaknya yang semuanya perempuan. Tapi mereka sendiri belum pernah bertemu dengan istri, anak, dan cucu-cucunya sekali pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karyawan tua itu menerima telepon pertama. Aku perhatikan ia selalu mengangkat telepon pada dering pertama, sebelum dering kedua berbunyi. Ia tidak suka suara berisik. Apalagi dering telepon. Karena itu, cukup sekali dering telepon singgah di kupingnya. Apabila ada karyawan lain yang malas mengangkat telepon, maka ia dengan senang hati akan segera mengangkat telepon dan menjawab salam perdana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Begitu juga dalam urusan kebersihan area kerja di kantor. Karyawan tua itu sangat resik, tidak boleh ada sampah yang terserak di mejanya atau di meja-meja karyawan lain. Apabila ada sampah kertas sekecil pasir sekalipun, maka dengan sangat telaten ia akan memungutinya satu persatu. Bahkan, ia selalu siap dengan sebuah kain pembersih untuk membereskan debu-debu yang menempel di permukaan meja, kursi, dan komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku lihat ia selesai menerima telepon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kembali menyeruput kopinya hingga habis, lalu sibuk dengan file-file yang tertata rapi di samping komputernya. Sesekali diturunkannya kaca mata baca hingga bertengger di ujung hidungnya. Setelah itu, ia mengetik. Berhenti sejenak, menelepon seseorang entah siapa di seberang sana. Lalu, kembali berkutat dengan keyboard dan monitor komputer, melanjutkan ketikan hingga jam makan siang berdentang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku melenguh, meregangkan badan dan mematikan komputer. Sejenak aku meminum air dalam kemasan yang tersedia di atas meja, lalu mengenakan mantel yang tergantung di kursi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, betapa tidak produktifnya aku hari ini. Sampai menjelang siang, aku hanya memerhatikan karyawan tua di balik sekat bening kaca di depanku. Beberapa laporan keuangan yang seharusnya telah selesai sebelum jam duabelas, menjadi hutangku selepas makan siang nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku sendirian berjalan menuju lift. Karyawan yang lain lebih dahulu berebutan turun untuk makan siang di kantin atau pinggiran jalan di selatan kantor. Mungkin juga di restoran berkelas di food court basement. Sekilas aku lihat, ada juga yang masih tinggal di meja kerjanya, membuka bekal makanan yang telah disiapkan dari rumah. Cukup efisien dalam situasi krisis ekonomi global saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di dalam lift, aku bertemu karyawan tua itu. Ia sedang mengenakan jas tebal hangat. Nama lengkapnya Kevin Nelson, seperti yang tertera di name tag-nya. Aku menganggukkan kepala, seraya tersenyum kepadanya. Sudah selayaknya aku menghormatinya. Selain aku masih karyawan baru, ia juga dengan sopan mulai bertanya padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Karyawan baru?” tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Ya, hari ini tepat seminggu,” jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tak lama berselang, pintu lift terbuka. Kami sudah berada di lantai dasar. Karyawan tua itu mempersilakan aku keluar duluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Maaf, Anda mau makan di mana?” tanyanya lagi, begitu santun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Ah, saya belum punya rencana. Anda ada ide?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang, aku belum punya rencana makan siang di mana dan mau makan apa. Selama seminggu di kantor ini, setiap hari aku makan di restoran Jepang yang terletak di areal  food court&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt; “Bagaimana kalau ikut saya?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Anda mau makan di mana?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Nanti Anda akan tahu!” katanya bersemangat. “Maaf, nama saya Nelson, Kevin Nelson. Di kantor ini, orang-orang memanggil saya Pak Bijak. Mungkin Anda sudah tahu?” karyawan tua itu terkekeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku mengulum senyum. “Nama saya Tamara.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Nelson dengan tersenyum ramah dan sedikit membungkuk,  menyalamiku. &lt;br /&gt;Aku membalas uluran tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “So, saya berniat mentraktir Anda makan siang hari ini,” ujarnya sambil menyebutkan sebuah nama restoran India yang cukup mahal dan ternama. &lt;br /&gt;Kami berjalan menuju restoran itu, beberapa blok dari perkantoran kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku memesan masakan paling khas di restoran itu, mengikuti saran Pak Nelson. Sambil menunggu menu makanan masak dan tersaji, kami bercakap-cakap dari persoalan umum di kantor, situasi perekonomian hingga akhirnya ia bercerita tentang masa pensiunnya yang tinggal menghitung hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya selalu berbinar. Begitu hidup. Tapi tidak setelah aku menanyakan apa yang hendak dilakukannya pada masa pensiun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Entah apa yang bisa saya lakukan saat pensiun nanti?” katanya. Seolah bertanya pada dirinya sendiri, binar di matanya meredup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Aku merasa bersalah. ”Maaf.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Karyawan tua itu menggelengkan kepala. ”Tidak apa-apa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Matanya mengerjap, menahan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Saya rasa Anda akan punya banyak waktu untuk bercengkerama dengan anak-cucu,” jawabku spontan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sebelum ia menarik napas untuk berkata lebih lanjut, seorang pelayan restoran dengan sigap meletakkan menu makan siang kami di atas meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kita makan dulu, silakan!” ujar Pak Nelson.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Hmm, makanan yang lezat!” gumamku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Selesai makan siang, Pak Nelson tidak banyak bicara, tidak seperti waktu kami sedang menunggu menu makan siang tadi tersaji. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia lebih banyak diam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak mengerti perasaan seperti apa yang sedang melanda karyawan tua itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih atas makan siang yang ganjil itu.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sehari kemudian, San Francisco menularkan hawa dingin. Menusuk pori-pori kulit. Menelusup ke sumsum tulang. Di balik sekat kaca bening, aku lihat kepala karyawan tua itu terkulai di atas meja, di samping komputernya. Matanya terbelalak. Kepalanya rengkah, mengeluarkan darah. Sebuah pistol masih tergenggam di tangannya. Ujung pistol itu masih mengepulkan asap. Bau sisa mesiu menyeruak di udara. Hawa kematian menebar ke segala arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ia benar-benar diam, benar-benar pensiun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Malam itu, ketika polisi mengantarkan jenazah ke rumah karyawan tua itu, polisi tidak menemukan siapa-siapa. Rumahnya lengang. Polisi hanya menemukan 10 manekin. Empat manekin perempuan dewasa, tiga manekin anak kecil perempuan dan tiga manekin anak kecil laki-laki. Semuanya berpakaian rapi dengan warna senada dan sangat bersih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinding rumahnya dipenuh pigura berisi foto-foto semua pegawai kantorku. Di pigura foto yang masih baru, ada fotoku sedang menatapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada sesiapa di rumah itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada keriangan sebuah keluarga. Tidak ada seorang istri seperti pernah diceritakan teman-teman kerjaku. Tidak ada tiga anak perempuan. Tidak ada tiga pasang cucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya ada 10 boneka manekin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pigura berisi foto-foto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di luar, halimun tebal memeluk seluruh kota, merengkuh jembatan Golden Gate yang angkuh, sampai pagi tiba kembali.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;| Jakarta | 30 November 2008 | 23.55 WIB |&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-7824257536740505313?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/7824257536740505313/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=7824257536740505313' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/7824257536740505313'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/7824257536740505313'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2009/08/cerpen-bamby-di-harian-global-medan.html' title='Cerpen Bamby di Harian Global Medan'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-7620217599642976388</id><published>2009-07-26T07:23:00.000-07:00</published><updated>2009-07-26T07:29:11.520-07:00</updated><title type='text'>Cerpen Saya di Koran Tempo: Aku Bercerita dari Pesawat yang Sedang Terbang</title><content type='html'>[dimuat di Koran Tempo Minggu tanggal 26 Juli 2009]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya aku tidak terlambat pulang sekolah, mungkin aku kini tak berada di atas ketinggian 30.000 kaki. Aku melihat awan-awan kelabu tebal bararak-arak yang seolah-olah ikut menangis dari balik jendela pesawat terbang ini. Aku kembali mengusap air mataku yang jatuh membasahi pipi dengan selembar tisu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat ibuku memandang kosong ke arah jendela yang lain di sisinya. Matanya sembab, air matanya mungkin sudah kering sejak tadi pagi. Kakakku tertidur di bangku pesawat di samping ibu. Nenyak sekali tidurnya, paling tidak ia bisa melupakan sejenak kesedihan yang tadi malam tiba-tiba merenggut kebahagiaan kami sebagai suatu keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali menerawang memandang awan-awan kelabu tebal yang seolah menangis itu. Laju pesawat kukira membelah gerombolan awan-awan itu, buyar. Berpencar. Seperti kami, keluarga yang baru saja tercabik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, mungkin kalian akan bertanya-tanya, sedang membuat cerita seperti apakah aku sekarang? Mari kita kembali, di hari kemarin. Di mana ceritaku ini bermula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Hari Kamis, menjelang sore. Seharusnya aku sudah berada di rumah, namun entah kenapa aku mau saja terbujuk rayuan Yopi, Turman dan Panca usai bubaran sekolah. Ya, memang ada pelajaran tambahan yang diadakan oleh sekolah dalam rangka persiapan kami mengikuti Ujian Nasional. Sehingga menjelang sore kami baru keluar dari kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula Yopi yang iseng mengusulkan sebuah ide dan ide tersebut diamini oleh Turman dan Panca. Yopi mengajak kami untuk jalan-jalan ke sebuah mal dan nonton film. Ide itu menggodaku juga. Tanpa pikir panjang, kami beramai-ramai menuju sebuah mal, tentu dengan menutup atribut seragam sekolah dengan jaket dan rompi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu kami sedang di taksi meluncur ke mal. Aku teringat sesuatu. Aku belum mengabarkan kepada ibuku, bahwa aku tidak langsung pulang ke rumah selesai pelajaran tambahan. Namun ternyata hapeku mati. Baterainya habis. Teman-temanku tak memiliki pulsa cukup hanya untuk sekadar mengirim sms ke hape ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencananya aku akan menelepon ibu sesampai di mal nanti. Tetapi ternyata kemeriahan mal sore itu membuat aku lupa untuk menelepon ibu di rumah. Kami langsung terhanyut oleh suasana keramaian dan keceriaan mal. Terus terang aku dan teman-teman memang paling senang berada dan berlama-lama di mal ketimbang di sekolah. Ya, namanya juga anak muda. Kami baru kelas tiga SMP dan bulan depan kami akan mengikuti Ujian Nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja menghadapi Ujian Nasional kami merasa tertekan, stres. Sehingga ide Yopi untuk menyambangi mal dan nonton film adalah ide yang brilian. Sebelum menuju studio bioskop, kami membeli makanan dan minuman ringan di sebuah supermarket di lantai basement. Lalu makanan dan minuman itu kami masukkan ke dalam tas dan ransel masing-masing. Karena kalau ketahuan oleh petugas bioskop, bisa-bisa kami tak bisa ngemil di dalam bioskop nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang peraturan nonton yang melarang membawa makanan dan minuman dari luar cukup menjengkelkan kami para pelajar. Harga tiket masuk bioskop memang murah dan terjangkau. Tetapi, apabila kami harus membeli makanan dan minuman untuk cemilan nonton di kafetaria bioskop, sama saja bohong. Harga di situ, dua atau tiga kali lipat harga di supermarket atau di warung-warung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami memilih nonton sebuah film remaja di salah satu studio di bioskop mal terbesar dan termegah di kota ini. Film yang sedang digandrungi oleh para remaja masa kini. Tentu  kami sangat ceria, tertawa-tawa cekikikan dan sambil bercanda. Film yang kami tonton juga sangat seru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku benar-benar lupa, bahwa aku belum pernah pulang terlambat seusai sekolah. Aku benar-benar lupa, bahwa aku belum memberitahu perihal aku jalan-jalan ke mal dan nonton hingga malam hari kepada ibu atau ayahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai nonton baru aku menyadari hari telah bergulir malam. Langit telah menghitam, lampu-lampu jalan berpendar-pendar dan pijaran lampu dari gedung-gedung bertingkat telah menerangi sebagian gelap malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memutuskan pulang duluan. Tak kuhiraukan lagi rayuan Yopi yang akan mentraktir kami makan di sebuah restoran burger ternama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di rumah, ibu telah menungguku dengan cemas di depan teras rumah. Kakakku juga cemas. Mereka bernafas lega ketika aku datang. Aku merasa sangat bersalah, kuciumi tangan ibu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bertanya, mana ayah? Ternyata ayah menjemputku ke sekolah. Tetapi, malah ayah yang belum pulang. Ibu kembali dilanda rasa cemas. Tiba-tiba menyeruak juga rasa cemas yang luar biasa dari dalam jiwaku. Bukan ibu saja yang merasakan, aku, dan kakakku juga. Kami kini sama-sama cemas. Malam kian larut, ayah tak kunjung pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda mengenakan sabuk pengaman menyala, disertai suara khas yang berdenting. Lantas disusul suara pilot pesawat menyampaikan sesuatu membelah sunyi kabin. Rupanya, pesawat akan melewati badai yang terjadi di depan. Guncangan akibat badai mungkin akan terjadi beberapa saat. Penumpang tetap tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat penumpang yang lain bergegas menyematkan sabuk pengaman. Beberapa di antara mereka terlihat berkomat-kamit, mungkin berdoa. Ya, berdoa. Bukankah berdoa akan menentramkan jiwamu? Melepasmu dari kecemasan? Kulihat ibu memandangku. Kakakku masih tertidur di kursi samping ibu. Begitu nyenyak ia tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan ibu masih hampa. Ada derita di bolamatanya. Derita yang kini kutanggung juga. Sepertinya kami sepakat untuk tidak berdoa. Atau mungkin berdoa, boleh jadi berdoa untuk sesuatu yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika badan pesawat betul-betul terguncang-guncang, aku sempat berharap. Berharap pesawat ini benar-benar terguncang lebih dashyat. Lebih bergoyang-goyang dari ini. Lalu tersambar petir, lalu pecah, meledak berkeping-keping bersama tubuh-tubuh di dalamnya. Atau, aku berharap pesawat ini jatuh. Menghunjam bumi atau tenggelam di dasar samudera yang berada di bawah sana. Lalu hilang bersama kami, tubuh-tubuh yang ada di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melilirik ibuku. Ia, membalas melirikku. Ibu tersenyum hampa. Aku tahu, ibu pun ingin pesawat ini jatuh. Dan kami mati. Mati bersama. Kakakku terbangun dari tidurnya yang lelap, mungkin mimpinya terganggu oleh guncangan. Ia, lalu menggamit tangan ibuku. Ia juga menatapku lekat. Semoga kita mati bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesawat terguncang sungguh sangat lama. Penumpang yang lain mulai panik. Ada yang berteriak-teriak, ada yang menangis dan banyak juga yang menyebut nama kebesaran Tuhan. Oh, Tuhan yang Mahaberkehendak jatuhkan pesawat ini. Jatuhkan pesawat ini. Mulutku berkomat-kamit, berdoa agar pesawat ini benar-benar jatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin bersama ayahku! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menangis lagi. Menangis sejadi-jadinya. Tersedu-sedu, sangat pedih, sangat sedih. Ayah, aku ingin bersamamu. Ibu juga, kakak juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiranku kembali melayang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, aku lanjutkan lagi cerita yang sedang kubuat ini. Lupakan pesawat kami yang sedang terguncang-guncang di hantam badai. Karena pilot pesawat ini telah bertindak cerdik, ia menaikkan ketinggian pesawat menjadi 35.000 kaki. Dan, pesawat kami tidak pernah jatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Ayahku belum juga kunjung pulang sampai selarut ini. Aku menyesal telah membuat ayah bersusah payah menyusulku ke sekolah. Pasti ayah tak akan menemukan siapa-siapa. Karena pada saat itu, aku, Yopi, Turman dan Panca telah lebih dahulu meninggalkan sekolah menuju mal. Ia hanya akan menemui halaman sekolah yang telah kosong melompong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa sangat bersalah telah membuat ibuku cemas, menungguku. Menyesal membuat ayah menjemputku. Kakakku hanya mengusap rambutku ketika aku pulang selesai nonton. “Jangan kau lakukakan lagi, kasihan ibu,” katanya mengacak rambutku. Aku tersenyum, meminta maaf padanya. “Tak perlu Dik. Kita tunggu ayah pulang,” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu berkali-kali menelepon hape ayah. Tetapi ayah tak pernah menjawabnya. Ibu hanya ingin memberitahu, bahwa aku sudah berada di rumah. Aku hanya pergi menonton film di mal. Aku tidak melakukan aktivitas yang berbahaya, walaupun aku terlambat pulang dari sekolah. Mungkin ibu juga akan bilang, aku tak senakal seperti yang mereka pikirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku nakal, aku akui. Aku sering terlibat dalam tawuran sekolah dengan musuh bebuyutan sekolah kami. Tapi aku hanya ikut-ikutan, bukan tokoh utama. Atau aku suka meninggalkan pelajaran tak aku sukai, semisal matematika dan bahasa Inggris. Tapi itu kenakalan yang wajar bukan? Lagi pula aku tak suka gurunya. Aku tak pernah terlibat narkoba atau pergaulan seks bebas. Maaf, bukan aku itu! Ya, aku tidak senakal itu. Katakan kepada ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aneh, kenapa ayah tidak mengangkat telepon dari ibu ya?” Ibu bertanya bukan pada kami, seolah ia bertanya pada ayah yang belum juga pulang. Padahal malam semakin larut. Gelap di luar semakin kelam, kesiur angin malam menghempas daun pintu rumah kami. Tiba-tiba telepon rumah berdering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu berlari menuju meja telepon. Ibu dengan cepat mengangkat gagang telepon. Ibu tak lagi berucap selain kata halo. Lantas ibu seperti tercekat. Tangannya gemetar. Telepon itu bukan dari ayah. Ibu limbung, badannya terhuyung saat meletakkan gagang telepon pada tempatnya. Kakakku memegang ibu, aku menghampiri ibu dengan pandangan bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa Bu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tadi telepon dari rumah sakit. Cepat kita ke sana!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bergegas kami menyetop taksi yang lewat. Ibu menyebutkan alamat sebuah rumah sakit di kota ini. Sopir taksi paham betul letak rumah sakit itu. Ibu menyuruhnya untuk tancap gas lebih dalam. Lebih dalam lagi. Jantungku berdetak sangat keras. Pembuluh darahku membesar berdesir-desir. Ah, aku tak suka keadaan seperti ini. Mau pingsan rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampu tanda mengenakan sabuk pengaman padam, disertai suara dentingan yang khas. Ting! Penumpang menghembuskan napasnya yang tertahan, lega. Kami tak jadi mati bersama. Tubuh kami tak jadi hancur berkeping-keping bersama serpihan badan pesawat yang hancur terkena badai. Dengan intonasi suara yang tak berubah (pasti pilot telah dilatih untuk bersuara dengan irama datar), pilot melaporkan bahwa cuaca kini telah cerah kembali. Dipastikan dalam waktu tidak kurang dari 45 menit lagi kami akan mendarat di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu tampak kecewa. Begitu juga aku, begitu juga kakakku. Bukankah kami telah memanjatkan doa agar pesawat ini jatuh? Ternyata pesawat tidak jatuh, doa kami tak dikabulkan. Mungkin karena kami hanya bertiga. Lebih banyak penumpang yang memohon keselamatan. Itulah sebab, mengapa orang lebih suka berdoa bersama-sama. Tidak bertiga, apalagi sendiri. Bukankah mereka lebih dominan di hadapan Tuhan? Apalah kami yang cuma bertiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, tidak. Kami tidak bertiga. Ada ayah dalam pesawat ini bersama kami. Tapi, apakah tadi ayah ikut berdoa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasti kalian heran. Sedari tadi aku bercerita tentang keadaan kami dalam pesawat yang sedang terbang ini, tak pernah menyinggung soal ayahku. Lalu, kenapa aku katakan bahwa kami tidak bertiga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ayahku berada dalam pesawat ini juga. Tidak percaya? Ayah berada di tempat yang lain. Ya, di tempat yang lain masih di pesawat ini.&lt;br /&gt;Bolehkah aku mengajak kalian mendengarkan kisahku lagi? Sedikit lagi saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aroma rumah sakit menyeruak, ketika kami sampai di pelataran rumah sakit. Baunya membuatku mual. Aku tidak suka rumah sakit. Baunya, bau kematian. Seorang polisi telah menunggu di depan ruang Unit Gawat Darurat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibuku berlari masuk ke ruang itu. Tak dihiraukannya polisi yang akan menjelaskan sesuatu. Aku dan kakakku mempercepat langkah setengah berlari menyusul ibu yang telah masuk duluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruangan seketika mendadak hening. Sangat senyap, sunyi menjalari malam. Sepertinya semua orang, semua benda hidup, benda mati, apakah itu malaikat atau ruh gentayangan sekalipun tahu dan bersepakat, bahwa saat ini bukan waktu yang tepat bagi mereka untuk bersuara. Saat ini waktu untuk kami. Sungguh waktu untuk kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu menangis menyayat-nyayat. Aku menangis meraung-raung. Kakakku menangis tertahan dengan air mata berderai-derai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahku tersenyum sebagai mayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tidak bertiga, kami berempat. Ayahku berada di lambung pesawat ini juga. Di dalam peti mati bersama koper-koper besar dan barang-barang kargo lainnya di bagasi pesawat. Kami mengantar ayah untuk pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Jumat menjelang siang. Pesawat telah mendarat dengan selamat.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 29-30 Juni dan 1 Juli 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-7620217599642976388?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/7620217599642976388/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=7620217599642976388' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/7620217599642976388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/7620217599642976388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2009/07/cerpen-saya-di-koran-tempo-aku.html' title='Cerpen Saya di Koran Tempo: Aku Bercerita dari Pesawat yang Sedang Terbang'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-6117370167696312505</id><published>2009-07-05T05:53:00.000-07:00</published><updated>2009-07-05T05:55:23.007-07:00</updated><title type='text'>HUDAN HIDAYAT dalam MENGANTAR AYAH cerpen Bamby Cahyadi</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sastra yang berhasil selalu meninggalkan jejak pada pembacanya. Jejak yang tak hendak hilang, jejak yang dalam. Jejak yang muncul dari totalitas cerita, menjadi kesan yang berdiam dalam benak pembacanya. Jejak yang membuat kita memikirkan terus apa dan mengapa hidup ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita pendek Bamby Cahyadi, Mengantar Ayah, saya kira adalah cerita yang meninggalkan kesan semacam itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengantar Ayah adalah suatu satire, suatu ejekan, akan suatu "momen" panjang dalam sebuah masyarakat. Ejekan bahwa pencarian kebenaran, seolah dalam situasi malam, malam yang mengacu kepada sesuatu yang tak jelas. Pencarian sang Bapak atas sang anak di suatu malam bisa menjadi sebuah lambang pencarian sang Bapak - manusia - akan kebenaran itu sendiri. Anak yang dalam anggapan sebuah keluarga tak pulang, belum kembali, menjadi anak yang telah hilang, menjadi kebenaran yang telah hilang, dan kini sang Bapak masuk ke dalam malam, ke dalam pencarian sang anak kebenaran, yang seolah ada di suatu tempat - malam, suatu keadaan yang hitam tak jelas, penuh pertanyaan di balik misteri dan diamnya malam. Begitulah sebuah prosa yang baik bisa berwatak puisi - penuh asosiasi dalam dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asosiasi ganda. Dari asosiasi kedua "keluarga yang membawa mayat ke dalam koper" itu, sebagai keluarga yang sedang mengalami nasib aneh yang absurd. Bahwa sang anggota keluarga kini pulang dari suatu keadaan dan telah menjadi mayat. Mengantar ayah dengan koper semacam itu, merebakkan suatu kasus kematian aktivis yang tiba-tiba meninggal dan kini tubuhnya pulang dengan koper yang ditenteng oleh pesawat udara. Lazimnya sang mayat ditaruh ke dalam peti mati. Tapi disimpan dalam koper, dibawa pesawat, bisa mengacu kepada asosiasi ganda yang lain lagi: pesawat sebagai motede kematian yang berjalan cepat, cepat cepat menghujamkan kematian kepada siapa yang dikehendakinya. Koper sebagai lambang kematian yang tak normal, dari seseorang yang ingin mendambakan kebenaran hidup bersama sesuai apa yang menjadi keyakinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah cerita Bamby Cahyadi, sang pengarang yang telah mencapai tehnik bercerita seperti pengarang yang terdahulu kita yakni Putu Wijaya atau Budi Darma, telah melipatgandakan makna-makna asosiatif terhadap dunia ceritanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna asosiatif itu sendiri mungkin bukan muncul dari kehendak sang pengarang dengan sadar. Seperti galibnya cerita fiksi, biasanya pengarang ditarik oleh cerita itu sendiri. Bamby ditarik oleh misteri yang dikandung oleh cerita Mengantar Ayah. Ia mengikuti hukum cerita sebagai suatu permainan, permainan yang diperagakannya sebagai pengarang yang bisa menyetop ceritanya dalam suatu perhentian, dalam suatu stop cerita yang diberinya canda: sampai di sini dulu, bersambung, sambil melakukan hal yang jarang dilakukan oleh para pengarang yang tak hidup di dunia maya, yakni ha ha hi hi. Haha hihi sebagai suatu tehnik yang membuat pengarang tiba-tiba berjarak dengan dunia ceritanya. Seolah cerita mendadak terlepas, lepas dari momen sebelumnya di mana sang pengarang masuk sebagai narator yang bersembunyi di dalam cerita, dan kini narator itu berbicara dengan familiar kepada pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah pada saat itu ia seakan mengingatkan fungsi seorang observer, pengamat yang lagi menatapi suatu gejala masyarakat, dan cara ia mendekat kepada pembacanya serupa itu, adalah seakan suara sang observer tadi meminta perhatian kepada masyarakat pembacanya tentang sebuah satire, sebuah ejekan yang sedang dibangunkannya dalam suatu cerita. Mengantar Ayah terasa sebagai mengantar pikiran ke tengah masyarakat akan suatu upaya pencarian kebenaran. Mengantar sebuah wacana ke tengah masyarakat untuk terus menggeluit kebenaran akan tiap sesuatu yang tak terjelaskan, yang absurd, tapi diteriakkan terus oleh nurani masyarakat yang damba akan ketenangan hidup bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satire itu datang dari tingkatan relasional horisontal dalam masyarakat, dan ia bergerak menjadi ironi saat cerita ditransendir, atau saat cerita memiliki dimensi transendensinya. Pada saat inilah cerita mendapatkan watak ironinya. Yakni sebuah kesia-siaan yang datang dari nasib sang Ayah yang hendak menyelamatkan anaknya dari suatu malam yang hendak menelannya, tapi justru sang Ayah sendirilah yang ditelan oleh malam-malam dari suatu penamaan akan nasib yang menimpanya. Nasib yang mengenaskan dalam pandangan manusia. Kalau majas cerita telah ditake over oleh satire, kini cerita direnggutkan oleh ironi dari nasib yang ironis itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah penyebab kematian sang Ayah? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironis sekali! Ia yang pergi meninggalkan keluarganya mencari sang anak yang hilang, pulang hanya dengan sebuah berita bahwa dirinya telah meninggal. Apakah yang menjadi penyebab kematian dirinya? Jelas kecelakaan. Tapi oleh kecelakaan apa? Ada polisi di sana - di rumah sakit itu, tapi common sensenya dilalui saja oleh Bamby: ia ingin langsung memeluk dan berhadapan dengan ironi itu sendiri. Yakni sang Ayah, sang kepala keluarga, yang kini telah mati secara ironis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disisihkannya penjelasan dunia atas kematian semacam itu. Ia langsung hendak memeluk absurditas dari kematian. dari wajah kematian yang selalu tak jelas. Seolah sia-sia belaka apa yang dibangunkan oleh manusia ke dalam penyebutan bahagia. Kalau kematian bisa datang di mana-mana dan kapan saja. Kalau Mengantar Ayah, adalah suatu fakta yang tak terbantahkan. Suatu fakta, suatu kepastian, yang tak bisa ditolak. Dalam situasi seperti itu, satire tak dibutuhkan lagi. Tapi kita langsung memeluk dan bergelut dengan ironi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian yang sia-sia. Dari hidup yang sia-sia, telah diperagakan dengan telak dan amat indah dalam cerita pengarang Bamby Cahyadi. Dan itulah suatu teks yang datang dari bumi. Bagaimana dengan teks dari langit sendiri tentangnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua Kesia-siaan - Langit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tahu dunia tak bisa meninggalkan langit, langit yang menjadi pusat pemaknaan. Karena dunia sendiri adalah sesuatu yang harus memaknai. Bukan sesuatu yang dimaknai. Dalam perspektif luasnya, tak mungkin dunia yang sedang berpikir akan sebuah pemaknaan tiap kehadiran - katakanlah kehadiran dari sang ayah yang mati itu, bisa memaknai dirinya sendiri. Saat kita berpikir, adalah saat kita tak bisa memikirkan pikiran itu sendiri. sebab pikiran itulah yang menjadi instrumen kita berpikir. Dan pikiran selalu mengacu ke luar dirinya. Bahkan saat kita berpikir akan pikiran kita sendiri, pikiran itu sedang bergerak memikirkan dirinya. Selalu ia keluar, tak bisa ke dalam. analog barangkali bisa kita acukan dengan kita dan bayangan. Bayangan, tak bisa bergerak dan lepas dari sang badan. Selalu bayangan bergerak karena sang badan ditiup oleh angin. Sekeras apapun angin meniup bayangan, tanpa badannya, bayangan itu tidak akan bergerak. Bahkan tak ada bayangan tanpa ada suatu badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira dalam situasi seperti itulah seorang pemikir filsafat berkata, bahwa dalam situasi yang kita tak bisa lagi bicara, kita harus diam. Sebuah pernyataan yang mengingatkan saya akan terdiamnya sang malaikat saat tuhan bertanya: apakah nama nama (benda benda) ini? Dan malaikat pun berdiam diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pun akan berdiam diri. hanya hendak bicara sedikit saja. Mengacukan kediaman kita kepada dua frasa yang tersebut dengan amat indah, frasa yang datang dari langit. Indah dalam susunan bahasanya tapi mematikan dan menghidupkan dalam siratan maknanya. Sehingga cerita semacam Bamby itu bisa menjadi, atau diacukan, kepada makna yang mematikan dan menghidupkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kutipkan penuh al hadid, besi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah besi, suatu lambang yang bisa membawa kematian dan bisa membawa kehidupan, telah menjadi pintu masuk dari sebuah suara yang datang dari langit. Seakan dengan identitas besi, dan dengan bagian bagiannya, langit itu hendak berkata begitulah dunia yang kalian diami: ada besi yang menghidupkan kamu (kamu naik pesawat), tapi ada juga besi yang sekaligus membunuh kamu (kamu pun naik pesawat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di situlah makna kuat dari cerita semacam Mengantar Ayah, yakni saat dipakainya pesawat, burung besi itu, untuk mengantarkan sebuah kematian yang disebabkan oleh sesuatu benda keras yang menimpa sang Ayah, besi, tapi sekaligus menghidupkan pula sang keluarga yang tak jadi mati karena burung besi tak jadi jatuh, hidup kembali dengan mengantarkan sang ia yang telah mati. Bahwa ia yang telah dan masih hidup akan melanjutkan juga kehidupannya dengan besi-besi yang membuat orang, atau manusia, hidup dan bisa melanjutkan kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi hidup memang tak bermakna. Dengan besi yang menghidupkan dan dengan besi yang mematikan, hidup memang tidak bermakna. Sebab makna hidup telah diletakkan oleh langit ke dalam suatu permainan, senda gurau, yang telah disebutkan oleh langit itu sendiri. Seperti pada bagian 20 yang bisa kita baca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"ketahuilah olehmu, sungguh&lt;br /&gt;kehidupan di dunia hanyalah&lt;br /&gt;permainan dan hiburan,&lt;br /&gt;bermegah megah dan adu kesombongan&lt;br /&gt;antara kamu,&lt;br /&gt;berlomba kekayaan dan keturunan.&lt;br /&gt;dapat diumpamakan seperti hujan.&lt;br /&gt;tanam tanaman yang ditumbuhkannya,&lt;br /&gt;menakjubkan para petani,&lt;br /&gt;kemudian menjadi layu.&lt;br /&gt;lalu tampak menjadi kuning,&lt;br /&gt;kemudian luluh karena kering.&lt;br /&gt;tapi di akhirat ada azab &lt;br /&gt;yang sangat dahsyat&lt;br /&gt;dan ada pula ampunan dari allah &lt;br /&gt;dan keridhaannya.&lt;br /&gt;kehidupan di dunia hanyalah &lt;br /&gt;kesenangan tipuan belaka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kita tahu betapa benar al hadid ini, benar karena secara empirik apa yang disuarakannya adalah wajah wajah di belahan dunia manapun, di belahan waktu di dunia manapun. Benar di dalam besi itu ada penjelasan, semacam optimisme yang berhembus, atau dihembuskan, bahwa di sana kelak ada ampunan. Tapi penjelasan semacam itu tak menentramkan kita, saat pikiran kita tak hendak diam, diam dari permintaan yang datang dari ahli filsafat yang telah kita katakan tadi, maupun diam dari kata langit itu sendiri dengan kias sang malaikat yang bungkam di depan pertanyaan, saat gagal membaui nama benda- benda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi suara semacam itu muncul pula dari kitab langit yang lain, injil, yang dalam pengkotbah satu memuat frasa kesia-siaan itu. Bagi saya frasa langit ini tak perlu dipertentangkan sebagai rentang pertanyaan, manakah yang benar dengan frasa langit yang telah saya kutip dari HB Jassin berjudul bacaan mulia tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit itu mungkin terpecah, belah tiga oleh manusia. Tapi saya kira langit itu walau pecah dalam benak manusia, adalah tetap langit yang sama dengan wajah kisah yang sama pada esensinya. Seperti yang saya lihat kesamaannya dari pengkotbah bagian satu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kesia-siaan belaka, kesia-siaan belaka. Segala sesuatu adalah sia-sia. Apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari? Keturunan yang satu pergi dan keturunan yang lain datang, tetapi bumi tetap ada 'abadi'. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru menuju tempat ia terbit kembali. Angin bertiup ke selatan, lalu berputar putar ke utara, terus menerus ia berputar, dan dalam putarannya angin itu kembali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua sungai mengalir ke luat, tapi laut tidak juga menjadi penuh; ke mana sungai mengalir, ke situ sungai mengalir selalu. Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tak kenyang melihat, telinga tak puas mendengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang pernah ada akan ada lagi, apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari. Adakah sesuatu yang bisa dikatakan: “lihatlah ini baru? Tetapi itu sudah ada dulu, lama sebelum kita ada. Kenangan-kenangan dari masa lampau tidak ada, dan dari masa depan yang akan datang pun tidak akan ada kenangan pada mereka yang hidup sesudahnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hudan Hidayat, Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-6117370167696312505?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/6117370167696312505/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=6117370167696312505' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/6117370167696312505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/6117370167696312505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2009/07/hudan-hidayat-dalam-mengantar-ayah.html' title='HUDAN HIDAYAT dalam MENGANTAR AYAH cerpen Bamby Cahyadi'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-2546135586844906354</id><published>2009-06-20T08:47:00.000-07:00</published><updated>2009-06-20T08:57:18.852-07:00</updated><title type='text'>Pemihakan Goenawan Mohamad</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/Sj0GuBFNAEI/AAAAAAAAAEQ/DUbFIkh6Mug/s1600-h/bamby+GM3.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/Sj0GuBFNAEI/AAAAAAAAAEQ/DUbFIkh6Mug/s400/bamby+GM3.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5349439320020025410" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pada acara kuliah umum tentang Humanisme di Salihara tanggal 20 Juni 2009, GM menjawab pertanyaan tentang keberpihakannya terhadap Boediono (Cawapres SBY).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, saya memilih/memihak kepada Boediono karena, dia tidak pernah menculik teman saya!" Disambut gelak tawa hadirin. Mengenai isu neoliberalisme, GM malah balik bertanya,"memang apa itu neolib?".... Kata Andreas Harsono, sebuah pernyataan yang sangat jitu dari seorang GM. (hanya bisa dibaca di satus facebook saya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sewaktu pemilu legislatif lalu, saya pun berpihak. Saya mencontreng PDIP. Karena Partai itu yang menentang UU Pornografi!" katanya, "namun setelah itu saya kecewa dengan pilihan saya, begitupun dengan PAN," lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah, kita harus mampu membentuk komunitas di mana kapitalisme tidak mendikte kita. Dan negara tidak mendikte kita. Seperti di sini!" ujar GM sambil menunjuk ke tanah. Ya, itulah Salihara.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-2546135586844906354?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/2546135586844906354/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=2546135586844906354' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/2546135586844906354'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/2546135586844906354'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2009/06/pemihakan-goenawan-mohamad.html' title='Pemihakan Goenawan Mohamad'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/Sj0GuBFNAEI/AAAAAAAAAEQ/DUbFIkh6Mug/s72-c/bamby+GM3.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-8451065214731590969</id><published>2009-06-07T08:13:00.000-07:00</published><updated>2009-06-07T08:14:39.253-07:00</updated><title type='text'>Kisah Hidup Cerpenis Nasional He he he</title><content type='html'>SURAT YANG TAK PERNAH DIBACA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, sewaktu saya masih mahasiswa. Saya pernah menulis surat kepada Menristek kala itu BJ. Habibie. Surat itu saya kirimkan kepada beliau, dengan harapan Pak Habibie tersentuh hatinya dengan isi surat saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi setelah menunggu balasan surat itu tak kunjung datang, saya beranggapan mungkin Pak Habibie tidak pernah membaca isi surat saya sampai hari ini. Atau lebih sial lagi, surat itu tak pernah sampai kepadanya. Ya, sudahlah. Kan, kehidupan tetap berlangsung seperti sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sejak saat itu, saya tak pernah lagi menulis surat untuk orang-orang penting macam Pak Habibie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu saya masih sekolah dasar, hobi saya menggambar. Saya membuat gambar dan saya warnai dengan crayon. Lalu gambar itu saya masukkan dalam amplop dan saya kirim ke TVRI untuk acara Menggambar bersama Pak Tino Sidin. Gambar saya tampil di televisi hitam putih milik kami. Dengan gayanya yang khas, Pak Tino Sidin mengomentari gambar saya dengan sebuah kata: “Bagus!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan main girangnya saya waktu itu. Gambar saya yang dipegang Pak Tino, yang hanya sepersekian detik tampil di TV, namun membuat saya sangat termotivasi untuk berkarya. Saya terus menggambar, hingga saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kepada masalah surat saya untuk Pak Habibie. Mau tahu isi surat saya kepada Pak Menristek paling lama dalam sejarah Kabinet Indonesia? Saya menulis surat begini, “Pak Habibie yang terhormat, dulu sewaktu masih SD saya mengirim gambar ke Pak Tino Sidin, gambar saya tampil di TV. Sekarang saya ingin menggeluti dunia seni dengan menjadi pelukis. Saya mahasiswa dengan kondisi ekonomi pas-pasan, mohon bantuan Bapak untuk memberikan kepada saya, peralatan untuk melukis yang menurut saya sangat mahal harganya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, kalau surat saya dibaca oleh Pak Habibie pada waktu itu, saya telah menjadi seniman lukis saat ini. Apakah begitu? Saya rasa hanya Tuhan yang tahu. Hehehe….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SURAT SAKTI DAN KREATIVITAS MAHASISWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya bilang, saya pernah menjadi penyiar radio. Percayakah anda? Pasti ada yang percaya, secara saya memang doyan ngocol dan ngomong pada saat itu. Bagi yang tidak percaya pun, anda tidak salah karena suara saya jelek, tak sejernih para penyiar radio kala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya tidak akan berbicara tentang penyiar radio. Saya ingin bercerita tentang surat sakti atau ketebelece.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan beberapa teman mahasiswa waktu itu, mendirikan radio mahasiswa. Tidak tanggung-tanggung, kami mendirikan stasiun radio dengan gelombang FM. Saat itu saja radio-radio komersil masih bermain di frekuensi AM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar pendirian radio itu, hanya berdasarkan tandatangan Menteri Penerangan saat itu Bapak Harmoko yang datang ke kampus kami dan oleh kami diminta beliau mengisi buku tamu Senat Mahasiswa (yang sebenarnya pada halaman buku tamu itu, kami tulis: “dukungan untuk Radio Mahasiswa”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dengan modal buku tamu itu, pada kesempatan lain kami gunakan untuk bertemu dengan Gubernur Jawa Barat Moch. Yogie S. Memet dan beliau mengeluarkan surat keputusan menyetujui pendirian Radio Mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, dengan berbekal surat keputusan Gubernur berdirilah radio mahasiswa. Kami himpunlah mahasiswa-mahasiswa yang pandai mengoperasikan radio (saat itu radio-radio gelap di frekuensi FM sangat marak). Lalu kami namai stasiun radio itu dengan nama “Suara KRESMA” (Kreativitas Mahasiswa). Tentu saja kami kreatif, meminta tandatangan Pak Harmoko dan menodong Pak Yogie untuk membuat SK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Radio yang sangat digemari oleh kalangan mahasiswa dan siswa SMA ini tersandung masalah dengan PRSSNI (organisasi persatuan radio swasta) pimpinan Ibu Tutut. Mereka, radio-radio swasta komersil terusik secara ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami diadukan oleh PRSSNI ke pihak Deparpostel dan Kepolisian. Maka, stasiun radio kami digerebek dan disegel serta tidak boleh mengudara. Sedih hati kami. Terlebih lagi, saya selaku ketua unit radio mahasiswa terkena pasal pidana penyalahgunaan frekuensi ilegal. Saya dituntut hukuman penjara 5 tahun dan denda uang minimal Rp 50 juta jumlah yang sangat banyak dalam suatu sidang di pengadilan di kantor Deparpostel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi soal surat sakti. Sebelum saya mengikuti sidang penyalahgunaan frekuensi, saya dibekali oleh Rektor kampus saya dengan sebuah surat. Surat itu kemudian saya serahkan kepada pimpinan sidang yang ternyata berpangkat Kolonel Laut. Tentu setelah acara persidangan selesai. Ia, lalu membebaskan saya dan teman-teman dari tuntutan hukum setelah membaca isi surat. Pak Kolonel itu berkata, “bagaimanapun Letnan Jenderal itu kedudukan lebih tinggi ketimbang Kolonel walapun beliau itu (maksudnya Rektor saya) sudah purnawirawan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka bebaslah kami dengan surat sakti Pak Rektor. Namun kami tetap sedih, karena radio mahasiswa kami, mati muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KENAPA SAYA BEKERJA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari yang lalu, sewaktu teman saya menelepon dan menanyakan apakah saya masih bekerja di tempat yang sama. Tiba-tiba saya menjadi berang. Saya sangat marah, dan saya mengatakan, bahwa saya bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bukan untuk menjadi orang kaya. Kalaupun jabatan saya mentok, tak naik-naik, ya sudah, itu nasib saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dengan sangat bersemangat, saya katakan bahwa teori kudrannya Robert T. Kiyosaki, tidak berlaku untuk saya. Saya akan tetap di kuadran pertama, sebagai employee. Saya katakan, bahwa tidak ada yang namanya passive income, kecuali saya ini keturunan anaknya orang kaya. Anaknya atau cucunya konglomerat. Tentu kalau mau mendapat penghasilan, saya harus bekerja. Dari mana uang akan bekerja untuk saya, kalau saya tidak punya uang? Saya bisa punya uang karena saya punya pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi apa salah saya? Kalau saya masih bekerja. Bekerja di tempat itu-itu juga. 15 tahun lamanya. Lantas teman saya itu berkelit, kenapa saya tidak ikut paket pensiun muda yang ditawarkan oleh perusahaan tempo lalu. Betul. Apabila saya ikut paket pensiun muda tentu saya akan mendapat sejumlah uang,  mungkin sekitar Rp 200.000.000,- &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uang itu katanya bisa saya pakai modal untuk buka usaha. Jadi pengusaha, bekerja tidak di bawah perintah orang lain. Sehingga katanya, saya bisa pindah kuadran ke kuadran dua, self employee. Maka dengan percaya diri, saya katakan hidup ini pilihan. Pilihan saya menjadi pekerja. Apakah kalau saya menjadi pengusaha dengan modal 200 juta, lantas serta merta saya akan berpenghasilan lebih banyak? Hidup lebih makmur? Punya mobil?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin teman saya kasihan melihat saya. 15 tahun bekerja saya belum memiliki sebuah mobil pun. Rumah pun hanya tipe 36, KPR lagi. Maaf teman, kata saya, saya tidak punya mobil bukan karena saya tidak mampu beli. Selain saya tidak bisa nyupir, bagi saya ukuran kesuksesan bekerja bukan berapa harta yang bisa diciptakan. Misalnya punya mobil atau rumah megah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyadari saya berbicara dengan nada tinggi, teman saya itu kagetnya minta ampun. Ia lalu berkata, bahwa baru pertama kali ini saya berbicara dengan nada seperti itu kepadanya. Iya, saya katakan, bahwa benar saya marah, saya memang sedang sensitive. Karena akhir-akhir ini semua orang bertanya kepada saya, apakah saya merasa tidak tertipu dengan pekerjaan saya. Saya benar-benar marah!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-8451065214731590969?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/8451065214731590969/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=8451065214731590969' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/8451065214731590969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/8451065214731590969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2009/06/kisah-hidup-cerpenis-nasional-he-he-he.html' title='Kisah Hidup Cerpenis Nasional He he he'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-4908057678138045853</id><published>2009-05-02T09:23:00.000-07:00</published><updated>2009-05-02T09:31:13.022-07:00</updated><title type='text'>Saya dan Happy Salma</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/Sfx0bWi5BWI/AAAAAAAAAEI/t1curEzRU7U/s1600-h/DSCI0099.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/Sfx0bWi5BWI/AAAAAAAAAEI/t1curEzRU7U/s400/DSCI0099.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5331264072157037922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya aku katakan bahwa Happy Salma menjadi pacarku, apakah istriku akan marah?&lt;br /&gt;Bertemu Happy salma di acara reboan sastra di wapres bulungan 29 april 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-4908057678138045853?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/4908057678138045853/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=4908057678138045853' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/4908057678138045853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/4908057678138045853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2009/05/saya-dan-happy-salma.html' title='Saya dan Happy Salma'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/Sfx0bWi5BWI/AAAAAAAAAEI/t1curEzRU7U/s72-c/DSCI0099.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-1269438194794516135</id><published>2009-04-20T03:48:00.000-07:00</published><updated>2009-04-20T03:50:11.090-07:00</updated><title type='text'>Boss Baru McDonald's Indonesia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SexTKsIvK4I/AAAAAAAAAEA/NqD1Q7-BcZg/s1600-h/Boss+McD.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 292px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SexTKsIvK4I/AAAAAAAAAEA/NqD1Q7-BcZg/s400/Boss+McD.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326723902384057218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Paling kanan, yang masih muda, Sukowati Sosrodjojo.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-1269438194794516135?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/1269438194794516135/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=1269438194794516135' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/1269438194794516135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/1269438194794516135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2009/04/boss-baru-mcdonalds-indonesia.html' title='Boss Baru McDonald&apos;s Indonesia'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SexTKsIvK4I/AAAAAAAAAEA/NqD1Q7-BcZg/s72-c/Boss+McD.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-7316294217684804814</id><published>2009-04-20T03:44:00.000-07:00</published><updated>2009-04-20T03:52:33.118-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen hari kartini'/><title type='text'>Aku Tidak Sehebat Kartini</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cb%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cb%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cb%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman","serif"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	font-size:10.0pt; 	mso-ansi-font-size:10.0pt; 	mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Cerpen ini kupersembahkan untuk Ibuku: Ida Kusdiah.&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;PIRING DAN GELAS KOTOR di dapur sudah menumpuk tinggi. Baru saja keluarga besarku mengadakan pesta pertunangan putriku, Bianka. Saat ini, pembantuku sedang menumpuk karpet yang kami pinjam dari musholla. Ya, rasanya lelah sekali. Aku bayangkan bagaimana kalau Bianka menikah kelak. Pasti lebih repot, lebih lelah. Aku harus mempertimbangkan untuk menyewa gedung pertemuan kelurahan saja untuk acara pernikahan putriku nanti.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Calon mantuku, calon suami Bianka, sesuai dengan harapanku. Seorang sarjana dan memiliki pekerjaan tetap. Kalaupun ada beberapa kriteria yang tidak sesuai dengan harapanku, itu tidak masalah. Lalu, aku bandingkan dengan almarhum suamiku, kang Muslih. &lt;i style=""&gt;Ah, kalau saja kang Muslih masih hidup, pasti ia akan menilai lalu membandingkan juga calon mantuku itu dengan dirinya, &lt;/i&gt;batinku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ya, kang Muslih selalu menginginkan anak lelakinya menjadi seperti dirinya. Persis sama dengan dirinya. Aku jadi ingat, semasa hidupnya, ia selalu mengharapkan anak tertuaku menjadi seperti dirinya, karena ia anak laki-laki. Demikian juga anak keduaku, karena ia pun anak laki-laki. &lt;i style=""&gt;Laki-laki itu harus sepertiku&lt;/i&gt;, kata Kang Muslih. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Saat itu, Bara, anak tertuaku yang baru saja berusia 17 tahun, pulang ke rumah dengan wajah bersimbah darah karena terlibat tawuran masal dengan pelajar sekolah lain, musuh abadi sekolahnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Keesokan harinya, sebelum berangkat sekolah, Bara yang masih lebam akibat tawuran dibekali dengan sepucuk pistol. &lt;i style=""&gt;Jika masih ada yang berani menghajar kamu, tembak saja!&lt;/i&gt; Kata kang Muslih waktu itu sambil menyodorkan pistol. &lt;i style=""&gt;Kamu itu laki-laki, &lt;/i&gt;katanya lagi, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;sambil melangkah ke mobil dinasnya. Alih-alih membawa pistol ke sekolah, Bara malah menyerahkan pistol itu kepadaku. &lt;i style=""&gt;Aku bisa mengatasi masalahku tanpa harus menggunakan pistol ini&lt;/i&gt;, kata Bara. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tak dinyana, peristiwa itu merupakan kenangan terakhir suamiku kepada putra pertamanya, Bara. Ia gugur ketika sedang bertugas memimpin operasi militer di Timor-Timur. Sebagai komandan, suamiku sangat dihormati dan disegani oleh anak buahnya. Sebagai kepala rumah tangga, suamiku sangat dicintai dan dikagumi oleh anak istrinya. Demikianlah, suamiku tidak bisa menyaksikan Bara merayakan kelulusannya di sebuah SMA favorit. Kini, Bara tinggal dan bekerja di Jakarta. Hidup bahagia dengan seorang istri cantik dan dua anak. &lt;i style=""&gt;Bara tidak memiliki satu pun sifat dan watak bapaknya&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Brama, anak keduaku, mewarisi sifat dan watak ayahnya. Ia disiplin dan keras. Ketika bapaknya gugur, Brama baru saja lulus SMP. Tamat SMA, atas bantuan rekan sejawat suamiku, Brama diterima sebagai Taruna Akademi Militer di Magelang. Karir dan prestasi belajar Brama sangat menonjol. Ia menjadi salah satu lulusan terbaik Akmil Magelang. Brama belum menikah. Sekarang ia bertugas di Nepal, bergabung dengan pasukan perdamaian PBB di bawah bendera Kontingen Garuda. &lt;i style=""&gt;Hanya ada satu yang membedakan Brama dengan bapaknya, Brama lebih pintar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Aku menghela nafas. Mengenang suamiku membuat hatiku selalu teriris dan sedih. Setiap kali membuka kitab ingatan, air mata selalu berdesakan berlomba keluar dari kelopak mataku. Selalu begitu, selalu. Betapa tidak, aku dan anak-anakku tidak pernah melihat jenazah kang Muslih. Kabarnya, tubuhnya hancur diberondong peluru tentara Fretelin dan ledakan granat yang sedang dipegangnya. Padahal, aku sangat ingin melihat jenazahnya. Melihat untuk yang terakhir kalinya. Memberi kecupan selamat jalan di keningnya. Dan menuturkan gigil doa di pelupuk matanya. Tapi peraturan militer tidak membolehkan aku dan anak-anakku melakukan hal-hal itu. Aku hanya bisa melihat peti jenazah suamiku yang tertutup bendera merah putih, sebelum dimasukkan ke liang lahat di Taman Makam Pahlawan Seroja Timor-Timur. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kang, Bianka sudah tunangan. Seandainya akang masih ada di sini, pasti aku tidak secapek dan selelah ini&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;. Miris. Sedih. &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;Dan mataku tak mau lepas dari sosok pada sebuah pigura, foto seorang laki-laki gagah dengan seragam militer. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tanpa terasa air mataku mengalir. Tetes demi tetes. &lt;i style=""&gt;Sudah dua kali aku menangis malam ini, kang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style=""&gt;“Bu, &lt;i style=""&gt;kok&lt;/i&gt; Ibu menangis lagi?” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style=""&gt;Tiba-tiba suara Bianka mengagetkan aku. Lamunanku buyar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style=""&gt;“Ibu ingat bapakmu Bian,” jawabku singkat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Aku tidak mau merusak kebahagiaan anak bungsuku, Bianka, yang baru saja bertunangan. Bianka kemudian merangkulku, dia ikut menangis tersedu-sedu. Akhirnya kami berdua sama-sama menangis. Melampiaskan seluruh rasa haru, rasa sedih, dan rasa bahagia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Aku segera menyusut air mata. menyekanya dengan punggung tangan. Aku tidak boleh terus bersedih. Jika pun harus ada air mata, maka yang pantas adalah air mata bahagia. Apalagi, sepanjang prosesi pertunangan tadi, Bianka tampak sangat bahagia. Dia banyak tersenyum, sumringah. Sesekali pipinya memerah mendengar senda gurau teman-temannya tentang &lt;i style=""&gt;misteri malam pertama, &lt;/i&gt;khususnya tentang rahasia hubungan badan suami-istri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Aku memeluk Bianka sangat erat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Aku biarkan tangisnya tumpah di dadaku. Saat ini, seperti aku, Bianka juga pasti sangat merindukan kehadiran bapaknya. Betapa bangga dan bahagianya acara tukar cincin tadi, jika disaksikan oleh kang Muslih. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Selain itu, aku juga sedih karena harus mempersiapkan diri untuk ditinggalkan olehnya. Perasaanku sekarang berbeda sekali saat aku melepas Bara untuk menikahi Rindri. Sangat beda. Dulu, ketika Bara pergi, aku masih bisa tenang karena masih ada Bianka yang menemaniku di rumah ini. Tapi sekarang, aku bakal sendirian. Tak ada lagi yang menemani aku, selain kenangan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Aku pasti akan kesepian, pasti. Karena setelah menikah nanti, Bianka akan diboyong oleh Harry, calon mantuku itu, ke Pekanbaru. Harry bekerja sebagai Manajer di sebuah perusahaan pengolahan kayu internasional. Bianka pun sepertinya akan bekerja di sebuah perusahaan kayu lokal. Aku tahu, dia tidak akan menyia-nyiakan gelar sarjana kehutanannya setelah dengan susah payah dia menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Kehutanan IPB. Sebuah jurusan yang sangat cocok dengan jiwa petualangnya. Aku bersyukur sekali dia menikah, karena mengurangi bebanku sebagai ibu seorang anak perempuan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tapi, dibalik rasa bahagia, menelusup nyeri. Sebentar lagi aku akan hidup sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%; font-family: times new roman;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;ACARA PERNIKAHAN BIANKA&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berlangsung lancar. Meriah. Sanak-famili, handai-taulan, dan karib-kerabat, semuanya tumpah-ruah. Sangat meriah. Rasa capek dan lelahku berlalu sudah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dan, seperti yang aku takutkan, aku benar-benar sendirian. Tak ada siapa-siapa. Aku benar-benar sendiri. Kesendirian yang selalu memaksa aku membuka kitab-kitab kenangan. Siapa yang bisa bertahan dari gempuran keindahan masa lalu, ketika dia bersunyi sendiri? Tidak ada. Aku yakin tidak ada. Paling hanya bisa memalingkan sekejap ingatan dari kenangan dengan melakukan kegiatan ringan, seperti membaca, menulis, merawat tanaman. Sesudah itu, kenangan kembali akan merajalela. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Untung saja, sekarang aku punya mainan baru, sebuah &lt;i style=""&gt;laptop &lt;/i&gt;pemberian Bara. Suatu hari, sebagai rasa syukur atas kelulusan Magisternya, Bara menghadiahkan sebuah &lt;i style=""&gt;laptop&lt;/i&gt;. &lt;i style=""&gt;Bu, aku belikan &lt;/i&gt;laptop&lt;i style=""&gt; untuk Ibu, supaya ibu kalau mau menulis surat tidak perlu pinjam mesin ketik kelurahan&lt;/i&gt;, ujar Bara serius, waktu itu. Ia pun mengajari aku bagaimana caranya menggunakan komputer jinjing itu. Aku sangat bahagia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Hari-hari kini aku lalui dengan banyak menulis dan membaca &lt;i style=""&gt;e-mail&lt;/i&gt; dari Brama yang masih di Nepal. Terakhir membaca berita dari Brama ketika ia bercerita tentang temannya yang gugur akibat kecelakaan helikopter. Berita itu lalu aku ikuti di media cetak nasional. &lt;i style=""&gt;Laptop&lt;/i&gt; ini sekarang menjadi teman paling setiaku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Lagi-lagi aku jadi teringat Kang Muslih&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sungguh berat sekali rasanya membesarkan Bara, Brama, dan Bianka seorang diri. Aku bahkan sering digunjingkan oleh tetangga setiap anakku meraih kesuksesan. &lt;i style=""&gt;Pasti dia menjadi istri simpanan seorang Jenderal&lt;/i&gt;. Begitu omongan ibu-ibu perumahan yang suka bergosip ketika Bara bisa masuk kuliah di sebuah perguruan tinggi ternama di kota Bandung. Padahal, belum genap tiga bulan aku melepas kepergian Kang Muslih untuk selama-lamanya. Aku tidak peduli.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tetanggaku, bahkan anak-anakku sendiri, tidak tahu &lt;i style=""&gt;dari mana&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;bagaimana &lt;/i&gt;aku bisa mendapatkan biaya hidup dan biaya kuliah. Aku hanya berpesan agar mereka selalu bersemangat belajar dan menanamkan keinginan kuat menjadi orang sukses. &lt;i style=""&gt;Tugas kalian hanya belajar, tidak perlu memikirkan dari mana ibu mendapatkan uang untuk biaya sekolah kalian&lt;/i&gt;, kataku suatu hari ketika Brama memutuskan untuk bekerja selepas lulus SMA. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ada satu hal yang sampai saat ini anak-anakku tidak tahu dari mana sumber keuangan untuk menghidupi dan membiayai kuliah mereka. Kejadian itu sangat berarti dalam diriku dan aku tidak pernah menceritakannya kepada mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%; font-family: times new roman;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;SUATU HARI, aku menyempatkan diri mampir untuk melihat-lihat buku di sebuah toko buku. Kebiasaan membaca sudah tumbuh sejak aku kecil. Bahkan, pada saat masih ada Kang Muslih, aku mengoleksi novel dan berlangganan beberapa majalah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sebenarnya, pada saat itu, pikiranku sedang kalut. Bara membutuhkan sejumlah uang untuk biaya tugas praktek lapangan. Sementara penghasilan dari uang pensiunan janda veteran perang tidak cukup untuk menutupi kebutuhan Bara. Aku sempat berpikir untuk menggadaikan rumah, satu-satunya peninggalan Kang Muslih yang paling mewah, selain kenangan indah bersamanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Mampir ke toko buku membuat diriku agak sedikit rileks. Memang, toko buku ini tidak sebesar toko buku yang banyak bertebaran di Jakarta, tetapi cukup komplit menyediakan berbagai jenis buku. Mulai dari filsafat sampai politik, novel dan biografi, serta buku-buku yang berhubungan dengan hobi dan rumah tangga. Semua tersedia walaupun dengan jumlah yang sangat sedikit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Seperti biasa, mataku lincah memamah setiap demi setiap judul buku. Sesekali aku meraih buku yang judulnya menarik. Membaca halaman depan dan halaman belakang. Menelisik nama pengarang dan mereka-reka isi bukunya. Kadang-kadang, setelah melirik kesana-kemari, aku suka membuka segel plastik pembungkus buku secara diam-diam. Hingga, aku tertegun di depan sebuah buku. Buku itu masih terbungkus rapi. Segel plastiknya masih utuh meski agak sedikit berdebu. Sepertinya buku itu jarang disentuh dan buku cetakan lama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Penasaran. Akhirnya kucomot buku itu dari rak pajang. Benar, ini buku lama. Judulnya &lt;b style=""&gt;Habis Gelap Terbitlah Terang&lt;/b&gt;.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Buku karya &lt;i style=""&gt;R.A. Kartini&lt;/i&gt; yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;diterjemahkan oleh &lt;i style=""&gt;Armijn Pane&lt;/i&gt;. Gila! Aku kaget. Buku ini diterbitkan oleh Balai Pustaka pada 1978. Benar, ini buku lama. Ini buku yang sangat berharga. Kenapa buku langka dan dahsyat seperti ini bisa luput dari para pencinta buku? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Aku tahu siapa Kartini. Aku mengenalnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lewat pelajaran sejarah di sekolah. Aku juga tahu kalau dulu Kartini sering surat-suratan dengan para sahabatnya, di dalam dan di luar nusantara. Tapi, terus terang, aku belum pernah membaca apalagi tahu isi bukunya. &lt;i style=""&gt;Buku ini tipis&lt;/i&gt;, pikirku lagi. Tidak terlalu tebal bagi kutu buku sepertiku. Hanya 214 halaman. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sesuatu dari dalam hati mendesak aku untuk membaca buku ini. Maka, setelah pemilik toko mengizinkan aku untuk membuka bungkus plastiknya, aku segera melahap daftar isi dan kata pengantarnya. &lt;i style=""&gt;Ah, aku suka buku ini&lt;/i&gt;. &lt;i style=""&gt;Suka sekali.&lt;/i&gt; Aku memutuskan membeli buku langka ini, buku satu-satunya yang terpajang di rak buku itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="PT-BR"&gt;Sampai di rumah, aku larut membaca buku tersebut. Hanyut. Hingga &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;lupa akan kekalutanku. Lupa bahwa Bara sedang membutuhkan uang dan lupa kalau aku hanya seorang janda. Aku larut dengan isi buku yang dengan apik disusun oleh &lt;i style=""&gt;Armijn Pane.&lt;/i&gt; Padahal buku itu hanya berisikan 87 surat-surat Kartini yang ditujukan untuk teman-temannya di Belanda. Beberapa waktu kemudian aku baru tahu bahwa masih banyak surat-surat Kartini yang belum terpublikasikan di Indonesia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Demikian hebatnya surat-surat yang dibuat Kartini kepada sahabat-sahabat penanya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;, desisku bersemangat. Beruntung sekali aku membeli buku itu. Aku sangat terinspirasi seusai membacanya. Ya, inspirasi. Begitulah perasaanku saat itu. Buku itu membakar semangatku. Aku harus mampu menyekolahkan anak-anakku dengan perjuangan sendiri. Tapi, &lt;i style=""&gt;bagaimana caranya&lt;/i&gt;? &lt;i style=""&gt;Hmm&lt;/i&gt;, aku kan bisa menulis. Ya, aku bisa menulis. Lalu, aku putuskan akan menulis sesuatu. Tapi, &lt;i style=""&gt;aku tidak punya mesin ketik&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tak apalah, &lt;i style=""&gt;tulis tangan pun bisa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Malam itu juga aku menulis lembar demi lembar kenangan hidup bersama kang Muslih dengan tulisan tangan. Sampai aku tertidur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Keesokan harinya, aku ke kantor Kelurahan. Salah seorang staf kelurahan masih terhitung kerabat almarhum suamiku. Aku meminjam mesin ketik untuk mengetik tulisanku semalam. Tulisan sederhana. Tulisan tentang kenangan bersama kang Muslih. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Selesai mengetik, aku memasukkan hasil ketikan itu ke dalam amplop dan mengirimkannya ke sebuah majalah wanita di Jakarta. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Aku berharap, tulisanku dimuat dan aku mendapatkan uang. &lt;i style=""&gt;Ah, tapi aku tidak boleh terlalu berharap&lt;/i&gt;. Kalau tidak dimuat, nanti bisa kecewa. Yang penting, setelah membaca buku &lt;b&gt;Habis Gelap terbitlah Terang&lt;/b&gt; aku sangat bersemangat. Itu saja. Tidak terpikirkan uang di benakku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Aku akhirnya meminjam uang di Koperasi Veteran untuk menutupi biaya praktek lapangan Bara yang tertunda. Bara sampai mencium tanganku saat uang itu aku serahkan kepadanya. Seperti biasa, air mataku langsung mengalir dengan deras. &lt;i style=""&gt;Seandainya bapakmu masih hidup&lt;/i&gt;, &lt;i style=""&gt;ibu tidak akan berhutang&lt;/i&gt;, batinku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Setiap malam aku menulis. Menulis tentang apa saja. Dan keesokan harinya, setiap&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pagi, aku ke kantor kelurahan untuk mengetik tulisan itu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kemudian, seperti biasa, tulisan itu aku masukkan ke dalam amplop dan mengirimnya ke media.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Apabila Brama dan Bianka bertanya ada urusan apa aku ke Kantor Kelurahan, aku selalu menjawab, &lt;i style=""&gt;ibu akan mengetik surat&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Hingga suatu hari, ketika itu aku sedang membaca sebuah majalah wanita, aku sangat terkejut bercampur bahagia. Tulisanku dimuat di majalah itu. Itu tulisanku yang pertama kali dimuat di majalah. Aku sujud syukur. Bulu romaku meremang. Aku gembira sekali. Air mata bahagia pun tumpah. Saking gembiranya, aku hampir saja menceritakan perihal tulisan itu kepada anak-anakku. Aku lupa, aku menggunakan nama samaran di tulisan itu. Pun demikian pada tulisan-tulisan lainnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dan aku merahasiakan hal itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Seumur hidupku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Hingga kemudian beberapa tulisanku sering dimuat di majalah maupun koran. Akhirnya, walaupun tidak banyak, aku mendapatkan uang tambahan untuk memenuhi kebutuhanku sehari-hari. Bahkan untuk menambah uang kuliah anak-anakku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ketika Bara mulai menyusun skripsi, aku menulis sebuah novel. Mujurnya, novel tersebut diterbitkan oleh sebuah penerbit besar di Jakarta. Novel pertamaku sangat digemari oleh kalangan perempuan. Dari novel itu aku menerima sejumlah uang. Royalti atas tulisanku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Dari royalti itu aku melahirkan semangat&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sejak aku rasakan nikmatnya mencicipi uang dari tulisan, aku tidak pernah berhenti menulis. Pada mulanya meminjam mesin ketik di kantor kelurahan hingga akhirnya punya &lt;i style=""&gt;laptop&lt;/i&gt;. Pada mulanya hanya menulis pengalaman nyata, lembar-lembar kenangan bersama kang Muslih, suamiku tercinta. Sekarang aku bisa menulis apa saja. Mengarang apa saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ya, aku menghidupi dan menyekolahkan anak-anakku dengan menjadi penulis. Anak-anakku belum juga tahu. Mereka juga tidak tahu tentang nama samaranku, Kartini. Biarlah anak-anakku tahu ibunya bernama &lt;i style=""&gt;Ida Kusdiah&lt;/i&gt;, janda veteran perang Timor-Timur. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Buku Kartini inspirasi hidupku. Namun, aku tidak sehebat Kartini.***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kupersembahkan untuk Ibuku: Ida Kusdiah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%; font-family: times new roman;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;span style="font-family: times new roman;"&gt;Jakarta, 3 April 2009&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-7316294217684804814?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/7316294217684804814/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=7316294217684804814' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/7316294217684804814'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/7316294217684804814'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2009/04/aku-tidak-sehebat-kartini.html' title='Aku Tidak Sehebat Kartini'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-4835623535506338881</id><published>2009-04-07T09:41:00.000-07:00</published><updated>2009-04-07T09:44:50.873-07:00</updated><title type='text'>Saya dan Djenar Maesa Ayu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SduCqiipziI/AAAAAAAAAD4/NtRZavmMWok/s1600-h/bertiga+djenar.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SduCqiipziI/AAAAAAAAAD4/NtRZavmMWok/s400/bertiga+djenar.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5321991052006641186" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Aih, betapa senannya bisa foto bareng dengan Djenar Mahesa Ayu. Kejadiannya tanggal 4 April 2009 saat Acara pembacaan karya sastrawan perempuan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-4835623535506338881?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/4835623535506338881/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=4835623535506338881' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/4835623535506338881'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/4835623535506338881'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2009/04/saya-dan-djenar-maesa-ayu.html' title='Saya dan Djenar Maesa Ayu'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SduCqiipziI/AAAAAAAAAD4/NtRZavmMWok/s72-c/bertiga+djenar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-2587208547060639445</id><published>2009-03-22T06:37:00.000-07:00</published><updated>2009-03-22T06:51:53.089-07:00</updated><title type='text'>Saya Bersama Sitok Srengenge</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/ScY_cZRDTOI/AAAAAAAAADw/q6ZEC5O4p_M/s1600-h/DSCI0487.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/ScY_cZRDTOI/AAAAAAAAADw/q6ZEC5O4p_M/s400/DSCI0487.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5316006167208742114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Bertemu dengan Sitok Srengenge, seorang sastrawan dan seniman, di Salihara pada tanggal 21 Maret 2009. Ada juga Gunawan Maryanto (penyair/cerpenis). Juga ada Khrisna Pabichara, dan Pringadi Adi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-2587208547060639445?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/2587208547060639445/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=2587208547060639445' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/2587208547060639445'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/2587208547060639445'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2009/03/saya-bersama-sitok-srengenge.html' title='Saya Bersama Sitok Srengenge'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/ScY_cZRDTOI/AAAAAAAAADw/q6ZEC5O4p_M/s72-c/DSCI0487.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-4741946425040813650</id><published>2009-02-13T04:37:00.000-08:00</published><updated>2009-02-13T04:50:42.768-08:00</updated><title type='text'>Saya dan Capres Independen Fadjroel Rachman</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SZVr2nQr57I/AAAAAAAAADY/DuDQTxsU6Nk/s1600-h/Bamby+dan+Fadjroel.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SZVr2nQr57I/AAAAAAAAADY/DuDQTxsU6Nk/s400/Bamby+dan+Fadjroel.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5302262722294704050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 12 Februari 2009 lalu, saya berkesempatan bertemu muka dengan calon presiden independen, yaitu Mas Fadjroel Rachman dalam sebuah diskusi novel di sebuah cafe Jl. Veteran I No. 33 Jakarta. Pertemuan ini difasilitasi oleh temanku, aih jiyi mas Hudan Hidayat (Redaktur Sesudah Jurnal sastra tuhan Hudan).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-4741946425040813650?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/4741946425040813650/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=4741946425040813650' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/4741946425040813650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/4741946425040813650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2009/02/saya-dan-capres-independen-fadjroel.html' title='Saya dan Capres Independen Fadjroel Rachman'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SZVr2nQr57I/AAAAAAAAADY/DuDQTxsU6Nk/s72-c/Bamby+dan+Fadjroel.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-6604169545148693299</id><published>2009-01-31T20:37:00.001-08:00</published><updated>2009-01-31T20:42:53.087-08:00</updated><title type='text'>Saya dan Milis Apresiasi Sastra (Apsas)</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SYUnTj5u_pI/AAAAAAAAADQ/__k_Y7my_nM/s1600-h/potong+tumpeng4.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297683753679650450" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 300px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SYUnTj5u_pI/AAAAAAAAADQ/__k_Y7my_nM/s400/potong+tumpeng4.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Foto ini saya ambil saat menghadiri HUT milis APSAS ke-4 di Gedung HB Jassin TIM Cikini Jakarta tanggal 31 Januari 2009. Dan di bawah ini cerpen situasi perayaannya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Cerpen : MENYAHUT SAUT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AC di ruangan HB Jassin menjadi sangat dingin, padahal di gedung itu telah berkumpul seratusan orang, yang kemudian diklaim oleh pembawa acara,  sebanyak dua juta orang. Termasuk aku, yang menggigil memeluk lutut di atas karpet merah kedinginan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dingin AC menyelinap masuk ke dalam celanaku, tentu saja anuku mengkerut. Bukan itu saja, dinginnya AC membuatku harus pulang-pergi lari ke toilet di gedung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Gedung ini, banyak orang yang telah kukenal, tetapi lebih banyak orang yang tak kukenal. Tetapi sungguh aneh, banyak juga yang mengenalku. Mereka dengan berbinar menyapaku: “Hallo Bamby!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya aku sangat senang, tidak kusangka aku sedemkian tenar di ruang ini. Namun sesaat kemudian, aku baru menyadari. Tertempel name tag bertuliskan BAMBY yang cukup besar di dada kananku. Oh, pantas, batinku melirik name tag darurat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat menuju lorong toilet, aku melihat sesosok orang yang sangat kukenal sedang berbincang-bincang dengan beberapa orang yang mengelilinginya. Orang itu sepertinya mendominasi pembicaraan seraya tanpa henti mengisap rokok kreteknya. Sesekali, temannya yang lain menyela, lalu mereka tergelak. Terkikik-kikik. Aku juga tersenyum-senyum sendiri melihat mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang aku ingin menegur sosok berambut gimbal panjang, dengan pelentiran kepang gaya rapper dan berbadan tambun itu. Aih, anda juga pasti sudah mengenalnya pembaca yang budiman, ia adalah Saut Situmorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas melepas hajat kecil yang mengalir terus menerus akibat kedingan, aku bermaksud menyambangi Saut Situmorang. Tetapi keraguan menyeruak. Maklum, aku keder duluan melihat kumisnya yang melintang, suaranya saja berat bikin gemetar. Seram. Bisa terkencing-kencing aku kalau menyapanya duluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan mahapemurah dan penolong. Saat ke luar dari toilet, aku melihat sesosok orang yang lebih kukenal, ia sedang menyedot asap rokok dan menghembuskan pelan-pelan. Ia mengintip dari balik kaca jendela ke arah panggung. Pembaca yang budiman, anda pasti sudah tahulah, orang itu Hudan Hidayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencolek Hudan dan sambil berkata,”Mas, ngintip apa kau?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei Bam, dari mana kau?” tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Toilet mas,” jawabku pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“O ya, kau sudah kenal dengan teman-teman di sini?” tanya Hudan lagi sambil menunjuk orang-orang yang mengelilingi si rambut gimbal Saut Situmorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku sudah kenal mereka, tetapi aku belum salaman dengan mereka mas,” kataku malu-malu selayak anak perempuan mau berkenalan dengan seorang lelaki idaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau salaman dululah,” kata Hudan sambil menyeretku mendekati gerombolan itu. Tentu saja dalam hatiku sangat senang. Pucuk dicinta, ulampun tiba. Batinku gembira. Ini yang kuharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dengan sangat bersemangat, aku lalu menyalami Saut Situmorang sambil memperkenalkan diri. Maaf, pembaca, ternyata Saut Situmorang sangat ramah dan tentu tidak seseram komentar-komentarnya dalam mengkritisi karya sastra. Saut menanyakan kabarku dan aku menyahuti ucapan Saut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, aku juga bersalaman berjabat tangan dengan Agus Noor cerpenis idolaku, lalu dengan sastrawan-sastrawan papan atas lainnya. Semuanya sangat baik dan tersenyum sambil salaman kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat agak jauh di sisi kiri Saut Situmorang, seorang berperawakan kurus dan berambut gondrong. Pasti dia seorang penyair juga, kataku dalam hati. Lalu aku mendekatinya sembari tersenyum aku menyalaminya juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu Hudan Hidayat ikutan tersenyum lalu terkikik dan nyeletuk. “Aih, aih… Bamby, bamby, kau ini memang sangat ramah dan baik hati. Tukang rokok pun kau salami!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruangan yang dingin akibat AC yang berhembus kencang seketika menjadi hangat oleh gelak tawa yang hebat. Bahuku terguncang-guncang tertawa sendiri.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 31 Januari 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulang dari HUT Apresiasi Sastra (APSAS) ke-4 di Gedung HB Jassin Taman Ismail Marzuki- Cikini- Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-6604169545148693299?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/6604169545148693299/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=6604169545148693299' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/6604169545148693299'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/6604169545148693299'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2009/01/saya-dan-milis-apresiasi-sastra-apsas.html' title='Saya dan Milis Apresiasi Sastra (Apsas)'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SYUnTj5u_pI/AAAAAAAAADQ/__k_Y7my_nM/s72-c/potong+tumpeng4.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-4252662325880945721</id><published>2009-01-20T07:53:00.000-08:00</published><updated>2009-01-20T08:27:39.597-08:00</updated><title type='text'>Saya dan Hamsad Rangkuti</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SXX0sOnTS8I/AAAAAAAAADI/bUUmLivEPdI/s1600-h/Foto+bareng+Hamsad+Rangkuti.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5293405977718246338" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 300px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SXX0sOnTS8I/AAAAAAAAADI/bUUmLivEPdI/s400/Foto+bareng+Hamsad+Rangkuti.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Saya bertemu dengan beliau saat malam anugerah KLA 2008. Saya sangat kagum dengan cerpenis kawakan ini. Punya prinsip dan semangat muda! Bang Hamsad, thanks!&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-4252662325880945721?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/4252662325880945721/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=4252662325880945721' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/4252662325880945721'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/4252662325880945721'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2009/01/saya-dan-hamsad-rangkuti.html' title='Saya dan Hamsad Rangkuti'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SXX0sOnTS8I/AAAAAAAAADI/bUUmLivEPdI/s72-c/Foto+bareng+Hamsad+Rangkuti.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-5494494280078287087</id><published>2009-01-18T06:31:00.000-08:00</published><updated>2009-01-18T06:39:56.803-08:00</updated><title type='text'>Saya dan Hudan Hidayat</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SXM-fo6I-KI/AAAAAAAAADA/49ubLmlf5zE/s1600-h/DSCI0105.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5292642700368607394" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 400px; CURSOR: hand; HEIGHT: 300px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SXM-fo6I-KI/AAAAAAAAADA/49ubLmlf5zE/s400/DSCI0105.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Saya akhirnya bertemu dengan seorang penulis yang saya sangat kagumi karya-karyanya, Hudan Hidayat. Nyentrik habis beliau.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-5494494280078287087?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/5494494280078287087/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=5494494280078287087' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/5494494280078287087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/5494494280078287087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2009/01/saya-dan-hudan-hidayat.html' title='Saya dan Hudan Hidayat'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SXM-fo6I-KI/AAAAAAAAADA/49ubLmlf5zE/s72-c/DSCI0105.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-7433855708291644870</id><published>2009-01-08T02:55:00.000-08:00</published><updated>2009-01-08T03:04:06.347-08:00</updated><title type='text'>Saya Benci Israel</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SWXc9immNeI/AAAAAAAAAC4/xiAJ5_hF0-k/s1600-h/kekerasan+israel1.bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5288876287235339746" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 300px; CURSOR: hand; HEIGHT: 400px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SWXc9immNeI/AAAAAAAAAC4/xiAJ5_hF0-k/s400/kekerasan+israel1.bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-7433855708291644870?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/7433855708291644870/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=7433855708291644870' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/7433855708291644870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/7433855708291644870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2009/01/saya-benci-israel.html' title='Saya Benci Israel'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SWXc9immNeI/AAAAAAAAAC4/xiAJ5_hF0-k/s72-c/kekerasan+israel1.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-767856576150289542</id><published>2008-11-02T04:26:00.000-08:00</published><updated>2008-11-02T04:31:55.809-08:00</updated><title type='text'>Saya dan Presiden</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SQ2diLeNQGI/AAAAAAAAACg/8sP5YE71LAA/s1600-h/sby.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5264036749986578530" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 192px; CURSOR: hand; HEIGHT: 270px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SQ2diLeNQGI/AAAAAAAAACg/8sP5YE71LAA/s320/sby.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Hari ini, entah kenapa tiba-tiba saya dipanggil oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Seorang utusan pribadi presiden menemui saya di rumah. Tentu saja saya sangat terkejut, karena sejak beliau menjabat presiden, baru kali ini saya dipanggil untuk menemuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bapak ditunggu oleh Presiden saat ini juga,” kata pria berjas hitam parlente.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, iya…iya. Boleh saya ganti baju dulu?” tergagap saya menanggapi perkataan Andi Alvian Mararangeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah, tidak perlu. Baju Bapak cukup rapi untuk menemui Presiden,” ujar Andi menggamit tangan saya bergegas menuju sebuah mobil yang telah menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pak Presiden lagi pegal-pegal, beliau minta dipijat!” lanjut Andi menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, pantas saya yang dipanggil!” &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-767856576150289542?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/767856576150289542/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=767856576150289542' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/767856576150289542'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/767856576150289542'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2008/11/hari-ini-entah-kenapa-tiba-tiba-saya.html' title='Saya dan Presiden'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SQ2diLeNQGI/AAAAAAAAACg/8sP5YE71LAA/s72-c/sby.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-2193974985276016627</id><published>2008-10-22T08:08:00.000-07:00</published><updated>2008-10-22T08:12:38.096-07:00</updated><title type='text'>Presiden Tanpa Sepatu</title><content type='html'>Saat kali pertama menginjakkan kaki di tangga gedung ini, aku sempat diusir oleh petugas keamanan. Alasannya sangat tidak masuk akal, hanya karena aku yang masih berusia 7 tahun memakai sendal jepit. Orang tuaku sempat protes, tapi sia-sia, aku harus bersepatu untuk masuk gedung ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gedung ini tidak banyak perubahan, yang berubah adalah keramaian depan jalanan. Suasananya lebih ramai dengan berbagai kendaraan canggih perseliweran. Cat yang membungkus gedung ini pun masih putih, seperti empat puluh tahun silam, saat gedung ini dibuka untuk umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini di Gedung Istana Merdeka, aku berdiri di tangga berundak sebagai Presiden Republik Indonesia dan tidak bersepatu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-2193974985276016627?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/2193974985276016627/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=2193974985276016627' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/2193974985276016627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/2193974985276016627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2008/10/presiden-tanpa-sepatu.html' title='Presiden Tanpa Sepatu'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9181986087373769205.post-7250668066812530015</id><published>2008-10-07T18:07:00.000-07:00</published><updated>2008-10-07T18:14:23.981-07:00</updated><title type='text'>Tentang Pemilik Situs Ini</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwJFy7DzxI/AAAAAAAAAAM/rgzk8Km8egc/s1600-h/bamby+profile3.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5254584860408008466" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwJFy7DzxI/AAAAAAAAAAM/rgzk8Km8egc/s320/bamby+profile3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Perkenalkan, namaku &lt;em&gt;Bambang Cahyadi&lt;/em&gt;. Namun, apabila mau panggil aku dengan Bamby berarti anda telah sangat akrab denganku. Posturku tidak segagah namaku yang Bambang itu, aku tidak tinggi tetapi aku juga tidak mengakui kalau aku pendek. Toh, kalau aku dikatakan berperawakan kecil aku lebih bisa menerimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lahir di Manado, Sulawesi Utara pada tanggal 5 Maret 1970. Saat ini aku sudah menikah dengan seorang perempuan cantik dan penuh pengertian, namanya &lt;em&gt;Ida Komariah&lt;/em&gt; (nama kesayangannya Chinot).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bukan penulis, tetapi sangat ingin menjadi penulis. Karena pekerjaanku saat ini tidak ada hubungannya dengan dunia tulis menulis, aku bekerja di McDonald’s Indonesia saat ini jabatanku Store Manager. Terkadang aku merasa hidup di dunia khayal dan imajinasiku. Seperti mimpi yang berakhir saat aku terbangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimpi, itulah yang ingin aku bangun dalam keterjagaan. Karena dengan mimpi aku berusaha untuk hidup mendirikan imajinasi dalam rangkaian kata menjadi cerita.&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9181986087373769205-7250668066812530015?l=bambydanceritanya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/feeds/7250668066812530015/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9181986087373769205&amp;postID=7250668066812530015' title='26 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/7250668066812530015'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9181986087373769205/posts/default/7250668066812530015'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bambydanceritanya.blogspot.com/2008/10/tentang-pemilik-situs-ini.html' title='Tentang Pemilik Situs Ini'/><author><name>bambycahyadi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10550218232419832288</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://3.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwMRyHtT2I/AAAAAAAAAAg/lw0mG-vWWRQ/S220/POLITIKUS2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_GOxmDGGD7MU/SOwJFy7DzxI/AAAAAAAAAAM/rgzk8Km8egc/s72-c/bamby+profile3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>26</thr:total></entry></feed>
