Selasa, 07 Januari 2014

Dunia Murakami [Cerpen Jawa Pos, 5 Januari 2014]

Cahaya bulan tak pernah tampak, dan jalanan kini begitu lengang. Toko-toko telah lama tutup, lampu-lampu taman pun sudah dipadamkan. Aku melesat dengan sebuah mobil kekar buatan Jepang, membelah malam, menyingkap paksa tirai gerimis yang terus berderai. Mobil ini bagai kuda besi yang berderap-derap melaju di padang rumput yang basah dan sunyi.
Saat ini jarak adalah sesenti demi sesenti yang menyiksaku. Jarak antara aku dan kau. Mobilku terus melaju kencang. Berpacu, berpacu, berpacu! Jangan sampai terlambat. Musik kusetel kencang-kencang, terdengar musik ala R&B David Guetta dari sebuah stasiun radio swasta yang tak pernah berhenti mengudara. Stasiun radio itu telah mengubah informasi kemacetan lalu-lintas menjadi hiburan yang ditunggu-tunggu pendengarnya.
Saat kita terakhir bertemu–beberapa jam lalu–kau mengenakan kaus dan celana jins, meskipun pakaianmu tak minim, dadamu begitu besar hingga membuat kausnya terenggang ketat
Aku menatapmu takjub dan bersiul spontan saat kau mendekatiku. Aku mohon maaf, bukannya aku lancang melakukan sebagian aktivitas pelecehan seksual yang jelas-jelas tercantum dalam peraturan perusahaan. Sampai-sampai tatapanku seperti menjelajahi sekujur tubuhmu. Terus terang tatapanku terkunci pada setiap lekuk tubuhmu. Masa bodoh dengan peraturan perusahaan, aku rela menerima surat peringatan karena memandangmu dengan pukau. Pura-pura tak melihat belahan dadamu dibalut kaus ketat adalah tindakan lelaki bodoh.
Berkat kompromi kita minum di sebuah restoran yang berdekatan dengan toko buku di sebelah tenggara kantor selepas jam kerja. Aku banyak merayumu sepanjang minum bergelas-gelas red wine kegemaranmu. Jujur aku kurang suka wine, minuman itu membuatku cepat mengantuk. Pilihanku sebenarnya pada vodka, itu lebih mantap, membuatku lebih lepas. Sambil mencicipi menu makan tapas, aku melontarkan ucapan-ucapan gombal yang paling dahsyat.
Matahari menjelang terbenam ketika aku dan kau meninggalkan restoran itu dan melangkah memasuki sebuah toko buku di pojok jalan. ”Aku mencari sebuah novel,” katamu. ”Novel?” tanyaku.
Sekolom cahaya jatuh ke lantai toko buku saat kami memasukinya.
Lampu-lampu halogen digantung pada kait-kait besi di dinding membuat rak-rak kayu bermandikan cahaya. Dinding toko buku terbuat dari batu-batu kasar ditumpuk rapat saling menempel membentuk sudut miring. ”Pantas kamu memilih toko buku ini untuk mencari novel, ah novel apa tadi?”
”Aku belum menyebutkan judul novel yang kumaksud, Tio,” jawabmu sambil berpaling tersenyum padaku yang berjalanan di belakangmu. Aku begitu menikmati dirimu, menikmati wewangian Boss Nuit Pour Femme nan sensual.
Aku terus mengekormu, memandang pantatmu yang elok dan begitu padat terbungkus jins yang beruntung itu menuju suatu koridor. Kau berbelok di sudut lain koridor dan segera memasuki sebuah ruang.
”Novelnya ada di sini!” cetusmu sambil menunjuk ruangan yang kita masuki.
Matamu berbinar-binar ketika novel itu kau ambil dari raknya. Novel yang cukup tebal, bisa dipakai sebagai senjata beladiri disaat terdesak.
”Haruki Murakami, 1Q84!” ujarku spontan.
”Yup!” katamu mantap, memandang sampul novel itu.
”Aku sudah baca buku Murakami yang lain... Norwegian Wood dan Dunia Kafka, hanya dua itu, karya dia yang lain belum baca, yang itu juga belum,” kepalaku menjulur menunjuk ke arah buku yang kau pegang dengan bahagia.
Tiba-tiba kau berkata, dan perkataanmu membuatku terkejut namun tak mampu kutahan tawaku, kerena kupikir kau bercanda.
“Tio, aku akan masuk ke dalam buku ini. Aku adalah tokoh utama novel ini!”
”Hah?” Aku terperangah dan terdiam sejenak. Lantas aku tergelak. Beberapa pengunjung toko mengeluh. Seorang dari mereka, perempuan separuh baya yang terlihat memesona karena memakai gaun rancangan desainer terkenal, kuduga. Ia melotot dan mendesis. Ia menaruh jari telunjuknya tepat pada bibir yang dibuat melancip.
”Maaf!” seruku.
Ketika itu kau mendadak lenyap dari pandanganku. Kau benar-benar hilang. Hanya sebuah buku tebal Murakami yang jatuh berdebam lantas tergolek di lantai toko buku ini. Plastik pembungkusnya terlepas, dan novel tersebut dalam keadaan terbuka.
”Aurora!” jeritku.
Pengunjung toko yang menyaksikan kau mendadak lenyap masuk ke dalam buku, tercekat. Perempuan anggun yang tadi melotot dan mendesis padaku berteriak histeris, lantas pingsan. Ia benar-benar melihatmu hilang dan masuk dalam novel itu seperti kesiur angin yang menyelinap di celah jendela.
Aku memungut novel Murakami dan bergegas menuju kasir untuk membayar novel tebal ini. Kasir itu ragu-ragu ketika ia menindai novel Murakami ini, karena ia tahu, kau ada di dalam buku ini sekarang! Aku cepat-cepat pergi meninggalkan toko. Berharap dengan cemas, aku sekadar bermimpi saja.
Di luar toko, gumpalan awan kelabu seakan berpagut dengan pucuk-pucuk gedung pencakar langit, senja cepat berganti malam. Aku berlari menuju parkiran mobil diiringi hujan gerimis yang siap menderas. Di dalam mobil hanya menggunakan penerangan minim segera kubaca novel tebal ini untuk melacakmu.
Setelah membaca beberapa halaman novel ini, aku tahu cara menyusulmu, Aurora. Aku tahu, sangat tahu. Tunggu aku di tahun 1984!
Pukul sebelas malam. Sebenarnya aku cukup gusar, menatap nanar novel Murakami yang ada di tangan kiriku, tangan kananku mencengkeram erat setir mobil seraya terus mencari celah cahaya untuk menembus ruang dan waktu. Aku berkendara melewati Cawang. Memutar arah untuk lewat jalan tol, lantas mobilku melenggang di jalan tol yang lengang ke arah Bogor.
Wiper kaca mobil berdesir-desir menyingkap tetesan hujan yang terus menerus menimpa kaca mobilku. Pikiranku melayang pada novel ini lagi. Jadi kau sekarang menjelma, Aomame, nama tokoh utama perempuan dalam novel ini. Seorang instruktur kesehatan (cocok sekali dengan tubuhmu yang bugar dan aduhai itu), dan kau seorang pembunuh bayaran tanpa ampun. Ya ampun, mengerikan sekali! Aurora, maksudku, Aomame, sadar kah kau, dalam cerita itu kau telah berpindah ke dunia surealis dan kau sendiri tak pernah tahu jawabannya. Dunia di mana ditandai dengan meningkatnya jumlah bulan menjadi dua. Makanya, Murakami menyebutnya 1Q84. Plesetan tahun 1984 itu dijadikan judul novel ini, cerdas sekali ia!
Baiklah, baiklah. Satu-satunya cara menemuimu, aku harus menjadi Tengo. Tokoh lelaki novel sialan ini. Entah kebetulan, entah tidak. Tokoh perempuan bernama Aomame, kau Aurora. Aku Tio, nama tokoh novel ini Tengo. A ketemu A. T jumpa T. Ya, kubaca tadi, Tengo berprofesi guru matematika dan penulis lepas. Ia menerima tawaran dari seorang editor untuk menjadi ghost writer dengan menulis ulang karya berjudul Air Chrysalis (Kepompong Udara) milik gadis aneh berusia 17 tahun bernama Fuka-Eri. Sejak itu banyak masalah muncul dalam kehidupan Tengo (kalau aku bisa sampai pada tahun 1984, berarti ia itu diriku). Dan masalah memuncak, ketika Tengo sadar bahwa dunianya mendadak berubah persis seperti apa yang dituliskannya dalam Air Chrysalis, di mana jumlah bulan meningkat menjadi dua.
Imajinasi yang luar biasa bukan? Brengsek benar Murakami, ia telah mencuri kau dariku, Aurora. Kini ia memaksa aku memasuki tahun 1984, dengan cara memacu mobilku sekencang-kencangnya, membelah jalanan malam yang kelam, tepat pukul nol-nol, akan ada seberkas cahaya yang harus aku terobos,  saat aku sudah melintas pada cahaya itu dengan kecepatan tinggi tentunya, aku akan sampai di tahun 1984, tahun di mana latar kisah karya Murakami ini terjadi.
Seberkas cahaya tampak terang benderang di ujung jalan tol ketika aku melewati wilayah Cibinong. Aku pacu mobil ini semakin kencang, semakin cepat, sekencang-kencangnya bagai kilat halilintar, dan aku, hilang! Melesat cepat dan hampa.
Langit merendah dan membungkus kami. Sekarang aku paham kenapa Aurora masuk ke dalam buku, kenapa aku bersusah payah menembus masa lalu di tahun 1984. Karena aku dan Aurora harus menjadi manusia yang hampa, yang tiada, yang kosong, agar jarak bukan lagi sesenti demi sesenti yang menyiksa. Agar kami menjadi imajinasi.
Bagi seorang pencerita, rasanya ideal sekali jika cerita kami berakhir dengan luar biasa. Akhir yang membahagiakan. Kalian menahan napas menanti hal itu di akhir cerita ini bukan? Kedengarannya bagai dongeng saja. Tapi ini sama sekali bukan dongeng. Percayalah.***

Cerpen ini terinspirasi dari Novel 1Q84 karya Haruki Murakami

Jakarta, 5 Maret 2013 – 1 Januari 2014


Bamby Cahyadi. Lahir di Manado, 5 Maret 1970.  Bergiat di Komunitas Sastra Jakarta (Kosakata). Menulis cerpen di berbagai koran dan majalah. Kumpulan Cerpennya, Tangan untuk Utik (2009) dan Kisah Muram di Restoran Cepat Saji (2012).

Jumat, 03 Januari 2014

Curhat Dua Generasi (Cerpen Suara Karya, 4 Januari 2014)

Lelaki Tua yang Tak Pernah Puas

Usia saya sudah tak muda lagi, mendekati enam puluh tiga tahun. Seumur hidup saya ini, saya telah mengalami perkawinan sebanyak tiga kali. Perkawinan pertama hanya berlangsung delapan tahun, lantas kandas bagai kapal laut yang karam mencium batu karang.
Perceraian terjadi karena masalah ketidakharmonisan rumah tangga. Biduk pernikahan saya pecah berantakan, akibat rasa tidak puas diri saya. Persoalannya sebenarnya sepele, apalagi pada zaman sekarang tentunya. Ya, istri saya ternyata bukan gadis lagi saat saya menikahinya. Ia bukan perawan! Selama delapan tahun saya mencoba menahan derita batin ini akibat rasa tidak puas padanya.
Namun saya tak berhasil mengatasi perasaan ketidakpuasan itu. Terlebih lagi apabila saya membaca tulisan tentang “perawan” atau teman-teman sekantor bergosip masalah “keperawanan” seorang perempuan, hati saya selalu merasa tersinggung dan teriris.
“Wah, sungguh beruntung si Badu, ia menikah dengan perawan yang masih fresh from the oven,” celetuk sejawat saya saat itu. Hati saya langsung mendidih.
“Pasti seprai ranjangnya penuh dengan titik-titik noda merah,” seru sejawat saya yang lain di seberang meja. Hati saya membara mendengarnya. Panas, panas, panas!
“Kalian jangan menyindirku!” hardik saya, sejawat saya di kantor saling berpandangan dan pecahlah tawa mereka. Begitulah, saya menjadi lelaki yang sangat muda tersinggung.
Tak lama setelah perceraian dengan istri saya yang tak perawan itu, saya tergiur oleh kecantikan seorang perempuan keturunan Arab dan ia berstatus janda. Gayung bersambut, sang janda yang Arab itu mau menikah dengan saya. Perkawinan pun terjadi.
Ah, tapi sungguh menyedihkan. Bahtera rumah tangga bersama perempuan keturunan Arab itu hanya berlangsung dua tahun. Ya, dua tahun! Persoalannya pun cukup memalukan, saya tak mampu mencukupi kebutuhannya secara ekonomi. Istri saya yang Arab itu sungguh doyan belanja dan pelesir.
Dua kali saya berstatus duda dengan menghasilkan empat orang anak. Tiga anak dari istri saya yang tak perawan itu dan seorang anak dari istri saya yang keturunan Arab itu. Semuanya masih kecil-kecil. Tentu saja semuanya ikut ibunya.
Atas tawaran dan petunjuk kedua orang tua saya pada waktu itu, akhirnya saya menikah untuk ketiga kalinya. Saya menikah dengan seorang guru bahasa Inggris berstatus janda dengan dua anak. Sehingga anak saya menjadi enam. Ambisi untuk menikahi perempuan perawan saya paksakan enyah dalam sanubari saya, musnah dalam kehidupan saya. Bukan karena saya menyerah, tapi saya sadar diri  pada saat itu, saya bukan jejaka lagi.
Ternyata dengan sikap menerima kenyataan, tidak berambisi menikahi seorang gadis yang masih perawan, kehidupan rumah tangga saya yang terakhir ini bisa bertahan 24 tahun lamanya. Dari istri saya yang guru berstatus janda dengan dua anak, saya dikaruniai dua orang anak lagi. Sehingga total anak saya ada delapan.
Terus terang, malu sebenarnya saya mau bercerita kondisi saat ini, dalam usia tua seperti sekarang ini, saya sangat haus akan bacaan-bacaan berbau porno, film-film bernapas porno, begitu pula gambar-gambar beraroma porno. Otak saya isinya porno melulu.
Melalui internet saya berhasil melampiaskan hobi berburu sesuatu yang porno-porno. Saya bahkan tahu ada 10 peringkat bintang porno berusia paling muda sedunia. Melihat mereka darah saya bergelegak. Berahi saya morat-marit.
Padahal dalam umur yang setua sekarang ini, saya pun telah berusaha untuk memperkuat iman dengan membaca buku-buku agama, menghadiri berbagai majelis taklim dan mendalami berbagai pengetahuan tentang ajaran-ajaran agama. Tetapi apa daya, semua itu tak mempan.
Rasa tidak puas dalam kehidupan seksual saya benar-benar mengganggu ketenangan jiwa saya. Masalahnya, di saat-saat saya masih ingin mencari kepuasan biologis, istri saya yang berumur 51 tahun itu tampaknya sudah mulai pasif. Sehingga apa pun yang berhubungan dengan hubungan intim pasangan suami istri, inisiatif selalu timbul dari saya.
Pernah saya berterus terang mengemukakan apa yang sebenarnya saya inginkan darinya. Ia mengerti dan bersedia memenuhi apa yang saya minta. Ia minum jamu-jamuan tradisional dan obat herbal dari China agar singset dan libidonya membara. Ia pergi ke salon, totok wajah, totok payudara dan totok vagina. Tetapi itu hanya berlangsung beberapa minggu saja, lalu ia pasif kembali seperti sebatang pohon pisang yang tergolek di atas ranjang.
Oh, bagaimana saya mengatasi rasa tidak puas selagi saya masih mampu melakukan hal itu? Jujur, saya tidak mau meniru hal-hal yang sering dilakukan oleh pejabat atau elite partai di negeri ini, nikah siri. Bagi saya, pernikahan ketiga ini yang terakhir.
Walapun, hal-hal porno selalu menari-nari di benak saya, menggelayuti di kepala saya yang rambutnya sudah tersapu warna kelabu pada setiap helainya dan menancap pada otak saya. Jijik saya menikahi secara siri seorang perempuan muda perawan pula.
Biarlah orang tua tak tahu diri yang lain yang melakukannya. Bukan saya. “Bukan begitu Miyabiku sayang?”
Kepala saya serasa dikangkangi oleh Miyabi yang manis itu. Masih untung Miyabi, bukan sapi. “Ha..ha..ha!” Tawa saya lepas sekali.

Perempuan yang Mencintai Dirinya Sendiri

Saya seorang pelajar berusia 17 tahun, duduk di bangku kelas III SMK. Saya mendapat haid pertama kali pada usia 12 tahun. Waktu itu saya merasa sangat malu, sehingga saya tidak mau memberitahu kepada siapa pun. Termasuk ibu saya.
Namun pada akhirnya ibu saya tahu. Terus terang saya sangat takut waktu masa haid datang pada waktu itu. Ibu saya yang membelikan pembalut wanita di super market.
Pernah suatu kali, pembalut bocor dan menodai pakaian saya yang serba putih (padahal tayangan iklan pembalut tersebut di televisi, katanya anti bocor), sehingga apabila haid datang dan saya harus bepergian saya menjadi sangat gelisah.
Bila pelajaran olahraga tiba, saya sering berpura-pura sedang sakit, saya begitu takut orang lain akan tahu saya sedang haid. Pengalaman saya ini mirip sekali dengan tayangan iklan di televisi, tetapi begitulah faktanya.
Sebenarnya bukan masalah haid ini yang akan saya ceritakan. Begini, saya mempunyai masalah, akhir-akhir ini  saya sering bermimpi bermesraan dengan teman sejenis. Saya sering bermimpi bergumul, bermesraan dan bercinta dengan perempuan. Hal ini membuat hati saya cemas, sekaligus bahagia. Saya sangat menikmati mimpi-mimpi indah tersebut.
Waktu saya masih SMP, saya pernah berteman akrab dengan Irawati. Ia murid baru di sekolah kami, ia baru pulang dari Amerika mengikuti orang tuanya yang diplomat. Irawati lah yang menghampiri saya ketika saya pura-pura sakit karena haid datang. Ia dengan ramah bertanya pada saya, apakah saya baik-baik saja?
Lalu akhirnya saya cerita sebenarnya saya tidak sakit, tapi lagi datang bulan. Irawati lantas tertawa ngakak. Selanjutnya ia menawari saya sebuah pembalut wanita yang ia sering kenakan. Pembalut itu super tipis, berbeda seperti yang ibu saya sering belikan di super market.
“Percayalah, ini dijamin anti bocor,” katanya meyakinkan dan bukan bermaksud beriklan.
Tiba-tiba pertanyaan bodoh meluncur dari bibir saya, “Apakah pembalut setipis ini dapat menghilangkan kegadisan seseorang?”
Irawati kembali tertawa ngakak, “Suatu hal yang jauh dari kenyataan,” katanya setelah tawanya reda. Ada desiran halus yang menggetarkan saraf-saraf saya ketika melihat Irawati tertawa ngakak seperti itu.
Entah mengapa, saya nurut saja ketika Irawati meminta agar saya segera memakai pembalut pemberiannya, ia mengantar saya sampai di depan pintu toilet sekolah. Ia berjaga di depan pintu toilet, dan entah kenapa darah saya semakin berdesir-desir.
Irawati lantas menjadi sahabat saya. Kami semakin akrab. Saya tahu Irawati menyukai saya. Tapi saya tak tahu perasaan suka seperti apa yang menyeruak dari hati saya menyelinap ke hati Irawati, atau sebaliknya.
Saya ingin sekali dipacari Irawati, padahal pada waktu itu ia sudah memberikan sinyal kuat bahwa ia akan memacari saya. Tapi saya tolak dengan halus, terus terang saya takut dosa, saya masih takut pada Tuhan. Yang jelas Irawati pernah mencium bibir saya dengan begitu membara
Lepas SMP, Ira pindah ke Kanada. Ia ikut orang tuanya yang ditugaskan negara. Sekarang Irawati jauh dari saya, dan saya selalu rindu padanya.
Banyak teman laki-laki yang suka terhadap saya, bahkan ada yang terang-terangan mengucapkan kata-kata cinta di kantin sekolah. Entah gombal, entah beneran. Semuanya saya tolak. Jadi saya belum pernah pacaran sama laki-laki.
Saya menjadi tidak suka laki-laki. Padahal saya ingin sekali bisa mencintai laki-laki. Lantas melupakan Irawati yang lesbian. Tapi saya mencintai Irawati, saya menyukai perempuan, serupa saya mencintai diri saya sendiri.
“Hai, peluklah saya, saya sangat menginginkannya. Peluklah saya dengan mesra”. Tulis saya di penghabisan halaman catatan harian. ***


Catatan: Kalau ada kesamaan curhat dengan cerpen ini, yang pasti itu bukan plagiat

Jakarta, 30 Mei 2013


Bamby Cahyadi, lahir di Manado, 5 Maret 1970. Bergiat di Komunitas Sastra Jakarta (Kosakata). Buku terbarunya, Kisah Muram di Restoran Cepat Saji (Gramedia Pustaka Utama, 2012)

Sabtu, 28 Desember 2013

Pembunuhan Keluarga Sumarna

BEGINILAH PEMBUNUHAN ITU DICERITAKAN
Oleh: Bamby Cahyadi

Emak Eti memang merasa ada yang tidak beres dengan anaknya, Sumarna, pagi itu. Tidak seperti biasanya anak keduanya itu bangun siang, sampai-sampai ia tak bisa mengantarkan adiknya ke sekolah. Dari Gang Y, desa A, perempuan berusia 59 tahun tersebut buru-buru ke tempat anaknya di ujung desa. Hatinya mendadak merasa was-was, perasaan khawatir menyeruak menggigit-gigit ulu hatinya. Sakit kah Sumarna?
“Apa sudah pergi kerja anak saya?” tanya Emak Eti kepada pemilik warung yang berjualan dekat rumah Sumarna.
“Belum tampak, Mak. Barangkali masih tidur. Semalam ada tamu di sana,” jawab yang ditanya.
Perasaan seorang ibu, tiba-tiba membuat Emak Eti semakin gelisah. Sesampai di rumah Sumarna, diketuk-ketuknya pintu depan rumah anaknya, tapi tak ada jawaban dari dalam. Lalu ia pergi ke belakang rumah, pintu di sana sudah digembok. Biasanya, apabila anaknya sudah berangkat kerja pintu itu telah dikunci.
Tetapi, tak biasa Sumarna berangkat kerja tanpa diketahui oleh tetangga-tetangganya. Perasaan Emak Eti semakin diamuk kecemasan yang bergulung-gulung.
Karena rasa khawatir dan penasaran yang begitu melilitnya, ia meminta tetangga Sumarna membuka paksa pintu rumah. Dibantu oleh beberapa tetangga, mereka mencoba mendobrak pintu. Namun tidak juga memberi hasil. Perempuan itu semakin dilanda rasa cemas dan panasaran yang berkecamuk.
Dengan tangga kayu, perempuan itu mengintip ke kamar anaknya dari sela-sela kisi-kisi jendela.
Betapa terperanjat, perempuan itu seperti disengat beribu binatang kalajengking. Ia melihat seluruh kelambu berwarna merah. Hanya warna merah yang ia lihat dalam kamar yang remang itu. Ya, hanya warna merah.
Di antara rasa was-was yang membuat jantungnya berdetak sangat kencang, Emak Eti tercekat beberapa saat, ia berteriak, namun suaranya nyaris tercekat di tenggorokan menyangkut di udara. Kakinya bergetar lututnya terperangkap dalam gemetar ketika melihat tubuh Sumarna tidur terlentang dengan leher bersimbah darah. Menantunya, Euis, telungkup, juga penuh darah. Sedangkan cucunya, Asep yang baru berusia dua tahun, digenangi darah seluruh tubuhnya.
Lemaslah sekujur tubuh Emak Eti, dengan suara gemetar ia berusaha berteriak melihat pemandangan yang mengerikan yang terpampang di pelupuk matanya. “Tolong, tolonglah, anak-anak saya dibunuh orang!” Suara Emak Eti nyaris lirih tak terdengar. Dengan sisa-sisa kekuatannya perempuan tua itu berusaha mendorong-dorong jendela kamar agar terbuka. Namun sia-sia.
Orang-orang semakin ramai berdatangan dan memenuhi halaman di sekitar rumah Sumarna. Ada juga yang mencoba mengintip dari tangga di mana Emak Eti mengintip. Mereka melihat dan manyaksikan dengan mata kepala sendiri tiga jasad yang membuat mereka merinding, menebarkan aroma teror,  kengerian dan ketakutan tak terkira.
Tanggal 9 November tersebut, desa A, kecamatan K, kabupaten T, Jawa Barat, gempar. Sumarna sekeluarga yang dikenal sangat ramah kepada semua orang, telah dibunuh dengan kejam. Tak pernah ada kejadian sekejam itu yang terjadi di Kabupaten T selama ini. Sepanjang sejarah kabupaten penghasil beras itu.

***

Malam itu, Kosasih dengan tenang menuju dapur ia membersihkan bekas-bekas darah pada parang, sebelum menyelipkan benda tersebut ke dinding bambu. Malam itu, Kosasih telah menjelma malaikat pencabut nyawa kepada Sumarna sekeluarga.
Namun Kosasih bukanlah sang malaikat pencabut nyawa, lelaki itu tak pernah ditugasi Tuhan untuk menghabisi nyawa ketiga manusia tak berdosa itu. Kosasih punya tugas sendiri yang ia telah direncanakannya.
Ia membongkar lemari Sumarna, mengambil perhiasan Euis, uang Rp 2.500.000,- milik Sumarna dan membawa kabur sepeda motor milik Sumarna. Barang-barang itu diperlukannya untuk meresmikan perkawinannya dengan Dedeh, pacarnya di desa G, kabupaten C, masih di wilayah Jawa Barat.
Lelaki berdarah dingin itu melego motor bebek keluaran tahun 2010 itu seharga Rp 3.800.000,- dan kemudian ia belikan dua buah cincin kawin dan sebuah kalung emas. Perhiasan Euis dijualnya seharga Rp 1.700.000,- ia belikan sebuah tempat tidur lengkap dengan kasur dan bantal. Lalu untuk calon mertua, diberikan uang sebesar Rp 500.000,-. Uang hasil merampok Rp 2.500.000,- dan uang sisanya menjual sepeda motor dan perhiasan disimpannya sendiri.
Bagai seorang saudagar yang mendapat untung besar, Kosasih pun membual kepada Dedeh. Ia berbohong bahwa ia berdagang. Ia bahkan sesumbar, apabila ia dapat laba besar lagi, ia akan membangun sebuah rumah untuk mereka.

***

Kegemparan memang melanda hampir seluruh kabupaten T. Pembunuhan semacam itu baru pertama terjadi. Warga menjadi resah. Aparat kepolisian dituntut warga bekerja serius dan berhati-hati. Karena memang Kosasih berhasil menghilangkan semua barang bukti.
Polisi berhasil menyergap dan meringkus Kosasih berkat kesaksian pemilik warung kopi, minuman keras murahan, jamu dan obat kuat lelaki. Polisi bekerja keras untuk mendapatkan jejak Kosasih.
Pada pukul 18.00 tanggal 17 November beberapa polisi berseragam datang mengepung rumah calon istri Kosasih, Dedeh. Saat itu Kosasih baru saja menyalakan lampu teras rumah Dedeh. Menyadari rumah telah diincar polisi, dengan gerakan tipuan, Kosasih berhasil menyelinap kabur lewat pintu belakang.
Lelaki berkulit putih itu melarikan diri. Namun, belum begitu jauh ia bergerak sebanyak tujuh butir peluru bersarang di kakinya. Ia terjengkang dan terkapar di tanah. Malam itu juga, Kosasih digotong ke rumah sakit.
Penduduk yang mendengar bahwa pembunuh keluarga Sumarna berhasil ditangkap, segera menyerbu ke rumah sakit di kabupaten C. Bangsal tempat marawat tahanan polisi itu nyaris ambruk diserang massa.
Setelah dirawat, Kosasih digiring ke ruang Pengadilan Negeri kabupaten T.
“Saya butuh uang untuk mengawini Dedeh,” jelas Kosasih dengan nada dengki.
Jaksa penuntut umum, memberikan dakwaan, hukuman mati bagi Kosasih, di hadapan majelis hakim Pengadilan Negeri.
“Perbuatan yang dilakukan terdakwa itu, bukan hanya untuk menguasai harta korban, tetapi juga untuk memenuhi kepuasan melihat darah yang mengalir,” kata jaksa penuntut dengan suara bergetar.
Kosasih tidak bergeming mendengar tuntutan hukuman mati atas dirinya. Matanya yang liar itu menyorotkan rasa tidak menyesal.
“Ia dihukum mati bukan karena membunuh orang. Tetapi agar orang-orang lain tidak dibunuh pula olehnya di masa mendatang,” ungkap jaksa, menyitir ucapan seorang hakim Inggris abad 19, Herce Burnet, ketika jaksa itu diwawancarai media.
Dari balik jeruji besi kamar tahanan Pengadilan Negeri, Kosasih menjawab pertanyaan wartawan. Jawaban yang cukup mencengangkan, “Saya cuma sedih atas kematian sahabat saya, Sumarna.”
Entah apa yang ada di benak lelaki berkulit putih itu.

***

Malam itu, di beberapa tempat orang-orang masih tampak menggerombol. Kios-kios sudah tutup, hanya satu warung yang menjual kopi, minuman keras murahan, jamu dan obat kuat lelaki yang masih buka. Semakin malam situasi semakin sepi, orang-orang yang bergerombol tampak menyusut hingga habis sebelum tengah malam tiba. Apalagi hujan telah turun.
Malam itu, kunjungan Kosasih yang keempat kalinya ke rumah Sumarna di Desa A, di Kecamatan K, Kabupaten T, Jawa Barat. Bila hari-hari sebelumnya ia datang minta tolong pinjam uang dan dicarikan pekerjaan, Jumat malam tersebut ia datang hendak meminjam cangkul dan linggis. Kepada Sumarna dikatakannya, bahwa ia telah mendapat pekerjaan.
“Di mana Engkos bekerja?” tanya Sumarna pada Kosasih waktu itu.
“Di tempat teman. Pinjamilah saya cangkul dan linggis Kang,” jawab Kosasih.
Pertemuan pukul 23.00 hari Jumat 8 November itu belum selesai begitu saja. Mereka ngobrol-ngobrol, seraya menonton acara televisi. Sumarna bersama istri dan anaknya duduk di bagian tengah ruangan. Di layar televisi, acara talk show yang dibawakan Tukul Arwana, menghidangkan bincang-bincang lucu penuh gelak tawa.
Di luar, hujan turun dengan lebat. Malam itu, Kosasih kembali menumpang tidur di sana, di rumah Sumarna, sama seperti pada malam tanggal 24 Oktober yang lalu.
Hawa dingin yang dikirim hujan, membuat seisi rumah cepat terlelap. Kosasih berbaring di ruang tamu di atas selembar tikar. Tetapi lelaki itu tidak tidur. Di mulutnya masih terselip sebatang Djie Sam Soe dan asap tipis keluar dari celah bibirnya.
Di rumah itu memang tidak ada siapa-siapa lagi, kecuali Sumarna dengan istri dan anaknya, serta Kosasih yang yang menumpang menginap. Suasana di dalam rumah senyap, tak kalah heningnya dengan di luar, begitu sepi. Bahkan suara jengkerik dari semak-semak di sekitar rumah pun tidak terdengar.
Kosasih bangkit dari lantai tempat ia tiduran beralaskan tikar. Sambil sedikit mengendap-endap, pelan-pelan dibukanya pintu rumah, lelaki itu keluar rumah menembus hujan. Ia mendatangi warung yang masih buka tak jauh dari rumah Sumarna. Di situ dibelinya sebotol minuman keras murahan. Lalu ia berlari kecil meninggalkan warung kembali ke dalam rumah.
Ia membuka tutup botol minuman keras itu dan menenggak minuman itu demi memanasi tubuhnya, aroma alkohol menguar bikin mabuk. Ia pun terus menerus merokok, bersambung dari batang yang satu ke batang rokok yang lain. Kepulan asap rokok memenuhi seluruh ruangan. Kosasih menyandarkan tubuhnya pada dinding, seperti ada yang berkecamuk di dalam otaknya. Ia duduk dengan punggung menekan keras pada dinding rumah.
Lantas dengan gelisah ia berdiri. Menoleh kanan kiri. Serupa orang yang sedang mencari sesuatu, Kosasih masuk ke dapur. Matanya terlihat nyalang ketika melihat sebilah parang yang berkilau ditimpa cahaya lampu neon yang redup. Tangannya yang kasar meraih benda tajam itu dan dibawanya ke ruang tamu.
Kosasih, lelaki berkulit putih itu kembali duduk, menyandarkan lagi tubuhnya pada dinding dan menghabiskan sisa minumannya. Matanya mulai tersirat keliaran yang ganjil, dari kilatan bolamata terkesan kekejian yang menakutkan. Tapi ia gelisah.
Kadang-kadang ia bangkit, kemudian duduk kembali. Bangkit lagi, mondar-mandir, lalu ia berjalan menuju pintu kamar tidur Sumarna yang hanya dihalau selembar kain tirai berwarna kelabu. Sudah ada tiga kali ia berbuat seperti itu.
Kosasih ini memang terbilang kurang ajar dan tak tahu diri. Meski ia pernah dipinjami uang oleh Sumarna, sahabatnya tersebut, untuk melunasi pembayaran perabot rumahnya sebesar satu juta rupiah pada bulan Agustus lalu, bahkan pernah pula diberi pinjaman tambahan lima ratus ribu rupiah awal September lalu, ia tak segan menggoda istri Sumarna yang tampak begitu ranum di matanya, bahkan dengan lancang ia menggoda Euis, istri Sumarna dengan kata-kata seronok.
Pada kali kedua dan ketiga Kosasih menginap di rumah Sumarna, ketika Sumarna tak berada di rumah atau sedang ke warung, ketika Euis berjalan menuju ruang tamu dengan tangkas tangan lelaki ini menyentuh rok istri Sumarna.
Tentu saja perbuatan ini sudah keterlaluan bagi seorang sahabat dan juga tamu yang telah disambut dengan baik kedatangannya. Namun, Kosasih tak pernah kapok. Pada kali ketiga ia menginap di rumah Sumarna, entah telah berapa kali ia merogoh rok istri sahabatnya tersebut. Euis pun tak mampu melakukan perlawanan, atau melaporkan perihal itu kepada suaminya. Daripada mereka bertengkar, batinnya.
Dan pada kali keempat ia menginap, malam itu Kosasih kembali mengintai dari balik tirai pintu kamar.
Tetapi malam itu Kosasih bukan hendak mengintip pasangan tersebut. Apalagi ingin menyetubuhi Euis. Setelah tiga kali mengintai dan mempelajari suasana kamar, ia masuk ke dalam dengan parang terhunus.***


Jakarta, 25 Oktober 2013


Minggu, 04 Agustus 2013

Pagi Ini Luar Biasa (Cerpen dimuat di Tribun Jabar)

PAGI YANG LUAR BIASA Oleh: Bamby Cahyadi Aku lelaki yang serba biasa. Mungkin biasa kalian lihat saat berada di bus kota, gerbong kereta api kelas ekonomi, di pasar, di trotoar, atau di mana saja. Saat kalian melihat seorang lelaki yang biasa-biasa saja melintas tak ada istimewanya di pelupuk mata kalian, itulah aku! Aku karyawan rendahan di sebuah perusahaan ekspedisi kecil yang letaknya di tengah kota yang sibuk. Aku kerap memakai kemeja berwarna putih yang sudah menguning dan celana bahan yang serba kedodoran. Tubuhku ceking, selayaknya lelaki yang memang biasa-biasa saja. Setiap pagi, untuk menuju ujung gang ke jalan raya, biasanya aku berebutan jalan dengan tukang sayur gerobak, tukang ketoprak, anak-anak kecil berseragam sekolah, ibu-ibu yang menyusui anaknya di pojok gang dan pengendara sepada motor yang serobot sana serobot sini. Sampai di ujung gang, sebuah jalan raya yang dipadati oleh angkot telah membentang. Aku menggunakan angkot untuk menuju terminal Lebak Bulus. Angkot yang kutumpangi ini sepi penumpang. Hanya ada seorang perempuan muda duduk di jok depan di samping sopir–agar merasa aman barangkali–padahal sang sopir berkali-kali melirik bagian payudara perempuan itu dengan mata berahi. Tentu saja di angkot ini ada sang sopir bermata keranjang. Bibir sang sopir yang kering menjepit rokok yang sudah berupa puntung. Penumpang lain adalah dua remaja berseragam SMP yang baru saja turun dari angkot, lalu membayar ongkos seadanya, tangan sang sopir menjulur mengambil dua lembar uang ribuan, lantas sang sopir ngomel-ngomel tak jelas, sembari ujung sikutnya berusaha menyentuh ujung dada perempuan penumpang angkot di sebelahnya. ”Maaf tidak sengaja,” katanya ketika perempuan itu mendelik. Begitulah kejadian yang biasa terjadi saat di angkutan kota atau angkutan umum yang lain. Tapi nanti dulu, ada hal yang tak biasa di angkot ini. Di ujung jok belakang tergolek sebuah kantong kresek berwarna hitam. Naluriah saja, aku lantas mengambil kantong kresek itu, sambil berkata pada sopir angkot, ”Bang, ada kantong kresek ketinggalan nih!” ”Ah, palingan isinya sampah, buang aja, Mas!” ujar sopir tanpa sedikit pun menoleh padaku. Matanya masih terus menghunjam dada penumpang perempuan di sampingnya. Mungkin bagi sopir angkot kantong kresek yang tertinggal di mobilnya selalu isinya sampah atau barang tak berguna. Bisa jadi bagi mereka itu hal biasa, maka kantong kresek itu tak menarik perhatiannya kecuali payudara perempuan itu. ”Tapi kayaknya bukan sampah deh, Bang,” kataku. ”Kalau gitu, Mas ambil aja, barangkali isinya duit ha..ha..ha...!” Ia terkekeh. Baiklah, karena aku meyakini kantong kresek ini bukan berisi sampah, lagi pula sesuatu di dalamnya cukup berat maka aku langsung memasukkannya ke dalam ranselku. Sampailah aku di terminal Lebak Bulus. Melanjutkan perjalanan ke kantorku di Pasar Baru. Pilihanku seperti biasa, bus ekonomi. Akan tetapi sebelum aku naik ke salah satu bus yang bersiap untuk meluncur, aku teringat kantong kresek warna hitam yang ada di ranselku. ”Apa isinya ya?” batinku. Karena rasa penasaran yang bertubi-tubi, tak kuhiraukan bus yang akan berangkat itu. Toh, masih ada bus berikutnya, pikirku. Terus terang baru kali ini aku melakukan hal tak biasa, mengambil sesuatu yang bukan hak milikku. Meski aku pegawai rendahan, gaji kembang-kembis, ngutang sana-sini, tak pernah makan enak dan hidup sederhana. Aku tak pernah mengambil yang bukan hakku. Tidak seperti, pejabat korup di negeri ini. Berdasarkan desakan hati nurani, aku harus membuka isi kantong kresek ini di WC terminal. Di dalam bilik WC yang beraroma pesing akibat kencing tak disiram, aku keluarkan kantong kresek itu dari ranselku. Ransel kukaitkan pada sebuah paku berkarat yang ditancap di kusen pintu, kini aku leluasa mengeluarkan isi kantong kresek ini. Meski isinya sampah tak berguna, paling tidak hasrat penasaranku segera sirna. Saat kurogoh kantong kresek itu, aku menyentuh bungkusan dari lembaran koran bekas yang dibungkus secara serampangan. ”Sampah beneran ini,” gumamku memandangnya kecewa. ”Tapi, kenapa isinya cukup berat ya?” tanyaku dalam hati. Isi bungkusan ini seperti logam berat, aku menimang-nimangnya. ”Jangan-jangan emas batangan?” Napasku terasa sesak menyumbat batang tenggorakanku saat membuka lembar demi lembar lilitan pembungkus kertas koran dari benda yang ada di dalamnya. Kertas koran pembungkus berjatuhan di lantai WC yang kotor. Sungguh mengejutkan benda yang kini berada di genggamanku. Bikin darahku berdesir dan serasa lunglai tulang-belulangku. Sepucuk pistol! Aku benar-benar panik, tak pernah seumur hidupku memegang sebuah pistol yang berasa sangat dingin di genggamanku ini. Lantaran dilanda kepanikan yang amat sangat benda itu jatuh dan masuk ke dalam lubang kloset toilet. Keringat dingin menetes perlahan di pelipisku. Napasku memburu. Pistol yang terjatuh ke lubang kloset itu cukup besar, sehingga tak langsung nyemplung di lubang kotoran yang menjijikkan itu. ”Ambil tidak, ambil tidak, ambil tidak, ambil....!” Dengan tergopoh-gopoh kupungut kembali pistol dari lubang kloset, tanpa membersihkannya terlebih dulu. Pistol itu langsung aku masukkan ke dalam tas ransel yang kugantung di paku kusen pintu. Aku menarik napas dalam-dalam sebelum keluar dari WC. Saat keluar WC petugas memandangku penuh kecurigaan dan hal-hal negatif dalam pikirannya. Samar-samar kudengar petugas WC itu berkata, ”Kalau onani jangan di sini dong!” Aku tak peduli, sambil berlari kecil menaiki sebuah bus kota yang sudah merayap meninggalkan terminal Lebak Bulus yang gegap-gempita. Di dalam bus yang penuh sesak seperti di kamp pengungsian, jelas aku tak mendapat tempat duduk. Aku berdiri di dekat pintu bus yang berjalan terseok-seok wajahku diterpa kesiur angin semilir. Aha, Sesuatu yang biasa rupanya sedang terjadi di dalam bus yang sarat penumpang ini. Ada copet yang sedang beraksi! Kulihat tiga orang copet sedang beraksi, mereka dengan arogan menggerayangi isi tas beberapa penumpang perempuan dan mencongkel dompet-dompet penumpang laki-laki yang tampak tak berdaya melihat keberingasan mereka. Dompet, HP, BB, dan barang berharga lainnya berpindah kepemilikkan. Tak seorang pun berani berteriak atau melakukan perlawanan. Tersebab ketiga copet ini memegang senjata tajam dan memperlihatkan tampang garang. Seperti biasa aku pun memilih untuk diam, seolah peristiwa itu tak sedang terjadi. Suasana di dalam bus benar-benar bagai di neraka. Semua penumpang terdiam, merasa tertindas ulah kawanan pencopet yang beroperasi bagai hantu di pagi hari. Mereka beraksi tanpa suara. Penumpang pun memilih tak bersuara, daripada nyawa mereka menjadi ancaman. Ini benar-benar seperti operasi senyap yang mencekam. Mendadak aku teringat sesuatu. Mendadak nuraniku berkata, kejahatan harus dilawan! Ya, harus dilawan. Hal ini tak boleh jadi kebiasaan bagi kawanan pencopet itu, tak boleh jadi kebiasaan bagi para penumpang yang memilih pasrah. Kebiasaan ini harus dienyahkan, paling tidak untuk pagi ini. Aku memiliki sepucuk pistol. Meski aku tak tahu apakah pistol yang tadi kutemukan dalam angkot berisi peluru atau tidak. Paling tidak aku punya pistol, kawanan copet itu hanya berbekal sebilah belati. Maka dengan keberanian yang entah datangnya dari mana, aku menerabas ke dalam bus yang sesak sambil merogoh pistol dalam tas ranselku. ”Angkat tangan!” teriakku pada ketiga pencopet itu sambil menodongkan moncong pistol ke jidat salah satu copet. ”Buang pisau kalian, buang hasil copetan kalian!” bentakku dengan suara bergetar. Sejujurnya aku takut sekali apabila mereka melawan. Sejurus kemudian, aku menyaksikan betapa wajah-wajah copet yang garang itu mendadak putih seperti kehilangan darah. Nyali mereka melindap. Muka mereka pucat pasi dengan raut ketakutan. Tangan mereka gemetaran dan dengan refleks mereka membuang pisau belati dan hasil jarahan. ”Ampun Pak, ampun Pak, kami minta ampun!” mohon mereka bertiga mengiba-iba. Melihat situasi di atas angin, penumpang yang lain beramai-ramai menggebuki, memukuli, menendangi, menghantami, menjambaki, mencakari, meludahi, dan pada akhirnya membuang ketiga copet itu ke jalanan setelah kondisi mereka tak keru-keruan lagi. Apakah mereka masih bernyawa? Aku tak tahu, semua orang pun tak perduli. Bus kota terus melaju, seolah tak terjadi apa-apa yang baru saja terjadi. Semua kembali seperti biasa. Ada sesuatu yang tak biasa dari pandangan orang-orang padaku. Aku baru saja dieluk-elukkan oleh mereka bak pahlawan. Mereka, para penumpang mengira aku seorang detektif polisi yang tengah menyamar untuk memberantas aksi-aksi para copet yang memang sudah keterlaluan meresahkan penumpang. Saat aku turun dari bus di terminal Senen, sebagian penumpang memberikan tepuk tangan yang sangat meriah. Hatiku berbunga-bunga adanya. Dari terminal Senen, aku melanjutkan perjalanan menuju Pasar Baru dengan metromini, sampai di perempatan Pasar Baru aku turun dan berjalan kaki menuju kantorku yang sederhana, yang tampak mungil dihimpit bengkel motor dan Warung Tegal. Sesampainya di kantor, atasanku langsung memerintahku untuk mengambil sebuah paket kiriman barang di sebuah bank yang letaknya tak jauh dari kantor. Tentu saja dengan cekatan aku berjalan kaki ke arah bank yang dimaksud sembari masih memanggul tas ransel yang di dalamnya terdapat sepucuk pistol yang membuat pagi ini menjadi pagi yang tak biasa-biasa lagi bagiku. Pagi yang manis. Sesampai di bank, aku menunjukkan secarik kertas alamat kepada satpam. Lantas aku dipersilakan menemui seseorang yang mungkin kepala cabang di bank tersebut. Aku masuk ke sebuah ruangan, di sana telah menunggu sang empunya barang yang akan menitipkan barang kirimannya kepada perusahaanku. Seorang perempuan setengah baya yang tampak anggun dengan setelan blazer warna cerah. Ia menyerahkan sebuah bungkusan kepadaku. Aku menerimanya dengan takzim. Agar barang tak tercecer aku memasukkan dalam ransel, aku membuka ritsleting ransel, pada saat itulah sepucuk pistol yang ada di dalam ranselku loncat, lantas menggelinding di lantai, tergeletak beku. Dalam sekejap, perempuan itu berteriak-teriak histeris. ”Rampok, rampok, rampoookkkk!” Sebelum ia jatuh pingsan, aku telah diringkus oleh satpam tanpa perlawanan. Kulihat moncong pistol itu seperti tersenyum padaku. Senyuman yang seperti berkata, ”Sungguh pagi ini, pagi yang luar biasa! *** Jakarta, 12-12-12 Bamby Cahyadi, lahir di Manado, 5 Maret 1970. Bergiat di Komunitas Sastra Jakarta (Kosakata). Kumpulan Cerpen Terbarunya, Kisah Muram di Restoran Cepat Saji (Gramedia Pustaka Utama, 2012). DIMUAT DI TRIBUN JABAR, April 2013

Rabu, 19 Desember 2012

Kisah Muram di Restoran Cepat Saji, penerbit Gramedia Pustaka Utama, 13 Desember 2012

Sinopsis : Kisah Muram di Restoran Cepat Saji Mereka selalu tahu semboyan “pelanggan adalah raja”. Sebuah semboyan yang mendunia, membumi, baik di restoran kaki lima sampai restoran mewah di hotel berbintang lima. Ia pun melayani raja-raja itu dengan cekatan, cepat, dan tentu saja ramah. Bukankah ia pelayan di sebuah restoran cepat saji? Semua harus cepat dihidangkan, menu harus masih panas dan segar, kalau tidak, raja akan mengeluh dan marah. Apabila raja mengeluh apalagi marah-marah, maka manajernya akan memberikan sepucuk surat cinta bernama surat peringatan. Mengerikan! Sementara di Indonesia, orang mau makan suka kebingungan sendiri ketika sudah berada di depan meja kasir. Mereka terlongo-longo sambil bergumam, mau makan apa ya aku? Mau makan saja bingung dan harus berpikir, bagaimana memikirkan negara yang makin korup. Berpikir soal makan saja kelimpungan. Cerita “Kisah Muram di Restoran Cepat Saji” menampilkan potret mengejutkan dari balik dapur restoran yang selama ini tidak kita ketahui. Bersama empat belas kisah lain, buku ini menampilkan karya Bamby Cahyadi dalam beragam tema juga gugatan penulis terhadap ketimpangan sosial yang terjadi di sekitar kita. Kepiawaian Bamby memilih simbol dan memainkan imajinasi menunjukkan bahwa kisah-kisah di buku ini tidak dimasak a la cepat saji namun telah dipersiapkan dengan matang.***

Senin, 22 Oktober 2012

Malaikat Mungil dan Perempuan Lolipop

Malaikat Mungil dan Perempuan Lolipop Oleh: Bamby Cahyadi Tak ada cara terbaik menikmati perjalanan selain membiarkan dirimu tersesat. Ketika berhadapan dengan jalan yang tampak tak berujung dan jembatan serupa yang membingungkan. Terus saja berjalan. Setiap belokan setiap sudut, menghadirkan misteri tersendiri. Tersesat adalah anugerah, karena dirimu tak tahu apa yang menanti di balik tiap kelokan. Bukankah begitu dengan kehidupan, bahkan kematian sekalipun? Menjelang Kematian Perempuan bertubuh mungil ini mungkin salah satu malaikat pencabut nyawa yang modis, keren dan jauh dari kesan seram yang dikirim Tuhan. Ia kini duduk di sofa depan televisi di apartemenku dengan rambut pixie cut yang ikonik, ia telah mencuri perhatianku. Aku masih tak percaya. Ia datang dengan rambut pendek nyaris cepak, lengan bertato, kaus tak berkerah dengan bentuk yang unik, persis permen. Mulutnya kini penuh mengunyah croissant yang belum sempat kusantap. Ia mempresentasikan dirinya sebagai gula-gula, maka tak cukup mengejutkan ia memakai kaus yang menyerupai permen. ”Semua orang menyukai permen!” teriaknya lantang, ketika aku mengomentari soal busananya. Aku terkaget-kaget mendengar suaranya yang nyaring, tak sesuai dengan bentuk tubuhnya yang mungil. Ia menatapku lekat. ”Apakah kamu tahu, kalau daddy longlegs adalah laba-laba paling beracun di dunia?” tanyanya sambil melebarkan matanya yang bulat. Ia berkata sambil meneguk kopi dari cangkirku yang belum kusentuh. Meskipun ia mengaku punya ketakutan tersendiri terhadap spesies berkaki delapan itu. Tapi ia menikmati pembicaraan tentang itu. Kami sudah mengobrol soal arachnids. Selanjutnya sedikit soal sastra dan parfum. Aku hanya terpana. Mengapa ia bicara tentang laba-laba? Kenapa pula malaikat ini takut pada laba-laba? Aneh. ”Giginya terlalu kecil untuk menembus kulitmu, artinya ia tidak bisa menyebarkan virus ke dalam tubuhmu. Tetapi kalau ia menggigit tubuhmu di luka terbuka, kamu bisa meninggal seketika,” dia tertawa terbahak-bahak. Lucu dan menggemaskan cara dia tertawa. Aku kini terpesona. Malaikat macam apa si Cepak ini? ”Aku tidak tahu secepat apa kamu mati. Aku mungkin berbohong soal itu,” ia kembali terkekeh melanjutkan kata-kata. Aku tersenyum-senyum sendiri. Faktanya, ia memang sedang mengarang sebuah cerita. Semua itu, atau paling tidak hal itu benar bagi seseorang yang berhasil dikelabuinya. Tidak bagiku. Aku masih tersenyum-senyum melihat malaikat aneh ini berbicara. ”Sudahlah, kita akan pergi ke lapangan berlumpur, minum bir sambil tertawa kencang, bermain bola lalu pulang ke apartemenmu dalam keadaan jorok dengan pakaian penuh noda lumpur,” celotehnya, membuyarkan gerombolan balon-balonan sabun di atas kepalaku. Aku tergeragap dibuatnya. ”Apartemenmu sedikit berantakan, tidak seperti dalam gambar yang pernah kau kirimkan padaku,” ujarnya. Bicara apa lagi ia? ”Kamu suka membaca?” Aku mengangguk. ”Buku-buku sastra klasik, macam Leo Tolstoy, Jorge Luis Borges dan Gabriel Garcia Marques, ” jawabku kalem menyebut sejumlah nama. ”Menarik!” Ia berdecak. Lalu ia melanjutkan, ”Kamu pasti tahu, bahwa cerpen Gabriel Garcia Marquez, atau yang lebih baru Roberto Bolano, itu sudah terbit dalam bentuk buku, saking menariknya, diterbitkan lagi di majalah New Yorker.” ”Oh ya?” ”Tak usah jauh-jauhlah, cerita AS Laksana yang dimuat bersambung di koran, lalu dimuat lagi sebagai cerpen di Koran Tempo. Artinya, karena cerita itu menarik untuk dibaca!” Aku mengangguk-angguk. Ia pasti banyak membaca, pikirku praktis saja. Ia tiba-tiba mengendus-endus, cuping hidungnya merekah. ”Hei, kamu memakai Hugo!” ”Dari mana kamu tahu?” ”Ya, ampun... Kamu memakai parfum bermerek Hugo, parfum itu merupakan percampuran sentuhan modern dan klasik, meyegarkan sekaligus maskulin, hmmm...,” ia mengendus lebih dekat dan dalam di bawah ketiakku. Membuatku kikuk. Meski ia benar-benar malaikat, ia kan perempuan. ”Aromanya diawali dengan harum ice cold mint kemudian bersambung ke freesia dan basil. Dan diakhiri dengan molekul musk cashmeran, woody dan wangi rempah-rempah. Sempurna. Aku suka lelaki berparfum, wangi!” pungkasnya. Ia menyentuh ujung hidungku dengan telunjuknya yang lentik. “Jadi kamu benar-benar malaikat, ya?” ”Ya, ampun... Kamu belum percaya?” Matanya melotot menatapku. ”Aku heran saja,” ucapku pelan. ”Aku ke sini untuk mengambil nyawamu, tapi kamu tak akan mati digigit laba-laba yang kuceritakan tadi,” ujarnya tersenyum misterius. Saat ini, aku besama perempuan bertubuh mungil dengan kaus serupa permen. Ia mengajakku bermain bola di lapangan berlumpur dan minum bir. Aktivitas menjelang ajal yang benar-benar aneh. Lamat-lamat kulihat dari lengannya yang bertato, terbentuk serumpun bulu-bulu unggas yang terus mengembang menjadi sepasang sayap yang kokoh. Sayap itu lantas mengepak-ngepak membawaku entah kemana... Sebentar! Ia membawaku ke sebuah kafe. Setelah Kematian Pernahkah kamu melihat seorang perempuan muda yang tampak begitu rapuh? Pernahkah kamu melihat seorang perempuan yang tampak begitu kesepian? Perempuan itu, duduk sendirian di satu sudut gelap di sebuah kafe sambil menjilati permen lolipop kegemarannya. Ujung lidahnya bergerak-gerak pada permen berwarna-warni itu. Dia menjilati lolipopnya, menikmati rasa buahnya, sembari berpura-pura tak memikirkan apa pun. Tapi kepura-puraan tak memikirkan apa pun tak bisa meredam kecamuk yang berdesak-desakkan dalam syaraf otaknya. Kecamuk itu tergurat jelas pada wajahnya yang muram. Perempuan itu sebenarnya berwajah cantik, tapi kemuraman menutupi pesona keayuannya. Kabut hitam menyelubungi pikirannya, mengunci benaknya hingga terpusat hanya pada satu hal: Kematian. Pikirannya melesat bagai peluru yang meletus menembus seluruh bagian-bagian tubuhnya. Menyeruak melewati langit-langit kafe hingga lepas menghujam atap. Meledak. Dalam keremangan pandangan yang samar-samar lantaran cahaya lampu yang minim dan tertutup asap rokok yang diembuskan oleh mulut seluruh pengunjung kafe, dia melihat ruhnya lepas dari tubuhnya dan terbang ke langit. Dia ingin mengejarnya, tapi tak dilakukan. Bukankah kini dia menjelma sebagai ruh yang keluar dari tubuhnya dan terbang ke angkasa? Dia gembira bukan kepalang menyadari dia bisa terbang, mengapung-apung di angkasa. Serasa mimpi memang, tapi ini nyata. Dia terbang. Dia melesat dengan kecepatan tinggi bagai kilat halilintar. Ketika itu dia melihat rembulan begitu benderang. Bulan tampak lebih besar, lebih emas dan begitu dekat. Tatapan matanya menjelajahi tubuh rembulan, sepertinya dia ingin menelanjangi tubuh bulan. Seharusnya dia tak menatapnya seperti itu, karena bulan tak pernah mengenakan baju apalagi celana. Lagi pula, bulan belum tentu berkelamin. Perempuan itu ingin menuju matahari, namun dia mengendus sesuatu. Wangi bunga melati tercium tajam di udara, nyaris memabukkan dirinya. Dia merasa aneh, kenapa tiba-tiba dia mencium aroma wangi melati di langit malam. Sejenak dia tercenung. Merenung sebentar, lantas dia teringat halaman yang dipenuhi oleh bunga-bunga itu. Pemakaman. Wangi melati menggiringnya menuju sebuah apartemen dengan atap yang luas di pusat kota yang hiruk-pikuk. Dia memperlambat laju terbangnya, lantas dengan hati-hati dia mendarat di atap salah satu apartemen itu. Napasnya sesaat tercekat di paru-parunya, dan dia bergidik. Dia mendengar suara tangisan para perempuan, batuk para manula, dan bunyi langkah kaki telanjang hilir-mudik dari dalam apartemen itu. Orang-orang melantunkan ayat-ayat suci dan bergumam-gumam merapal doa-doa berbaur dengan aroma tubuh manusia. Bau parfum yang membuai, bau ketiak yang menusuk dan bau kemenyan yang mistis. Perempuan itu menerabas pintu apartemen yang terkuak. Melewati kerumunan orang-orang, hingga tatapan matanya menancap pada sebuah tubuh yang telah dikafani. Wajah pemilik tubuh yang telah membeku itu sangat dia kenali. Dia mengertakkan rahangnya berusaha memendam rapat kata-kata yang ingin diteriakkannya. Dia mengerjapkan matanya. Matanya hitam, bagai sepasang kolam tak berdasar. Matanya menusuk bagai hendak menembus tubuh tak berjiwa yang terbujur di hadapannya. ”Mati main bola,” seseorang berbisik kepada seseorang yang baru saja tiba di ambang pintu apartemen. ”Bukan, kebanyakan minum bir,” bisik yang lain. Perempuan itu melihat kelebatan cahaya berwarna putih dengan cepat menyelinap keluar apartemen menuju langit malam. Dia dengan sigap mengikuti kelebatan cahaya berwarna putih itu. Kelebatan cahaya itu menuju sebuah kafe. Perempuan itu tertegun. Di panggung kafe, liukan tubuh perempuan penyanyi kafe senada dengan irama musik yang berdentam menggelegar, penyanyi itu mengangkat tangannya ke atas kepala, lalu dia menggerakkan tangannya menyisir rambutnya yang panjang tergerai bergelombang menuruni punggungnya. ”Jakarta digoyaaaaannngggg!!!” Jeritnya histeris. Perempuan penyanyi itu mengajak pengunjung kafe bernyanyi dan berjoget bersamanya. Musik berdentum-dentum keras melatari pembicaraan beberapa pengunjung kafe yang tengah menikmati malam minggu. Di sebuah sudut gelap kafe, duduk sendirian perempuan yang terlihat berwajah muram, sedang menjilati permen lolipopnya, sembari sesekali dia menenggak sebotol minuman bersoda. Aku mendekati perempuan yang kesepian itu, untuk sekadar memberi kehangatan dan gurauan agar ia tak bersedih. Perempuan itu mengendus. ”Wangi Hugo,” gumamnya. ”Ya, aku di sini,” sergahku. Perempuan berwajah muram itu tetap saja dalam diam. Tetap saja menjilati lolipop. Tetap saja mencengkeram leher botol minuman bersoda. Dan menangis. Perempuan lolipop itu kekasihku. Bulan depan kami berencana menikah. ”Mana si Mungil?” Sedikit menoleh ke belakang. Dari arah toilet perempuan bertubuh mungil dengan rambut pixie cut yang ikonik, datang mendekat. Dia telah mencuri segenap perhatianku, bahkan nyawaku. Dia memberi isyarat dengan kedipan mata, agar aku segera mengikutinya. Perjalanan sepertinya segera dimulai. ”Ke mana?” ”Main bola!” ”Dan, minum bir, ha.. ha.. ha..!” *** Jakarta, 11 Juni 2012 Bamby Cahyadi, lahir di Manado, 5 Maret 1970. Bergiat di Komunitas Sastra Jakarta (Kosakata). Kumpulan Cerpennya Tangan untuk Utik (Koekoesan, 2009) Dimuat di Jawa Pos

Kamis, 28 Juni 2012

Nama-nama Cerpenis Terbaik Pilihan Kompas 2011

Jakarta, 28 Juni 2012 Malam Anugerah Cerpen Terbaik Pilihan Kompas 2011 yang diadakan di Bentara Budaya Jakarta (BBJ) pada 28 Juni 2012, inilah nama-nama cerpenis yang terplih: 1. Dewi Ria Utari 2. Gus Tf Sakai 3. Andrei Aksana 4. Doni Jaya 5. Mashdar Zainal 6. Toni Lesmana 7. Guntur Alam 8. Sanie B. Kuncoro 9. Triyanto Triwikromo 10. Lie Charlie (Almarhum) 11. Eko Triono 12. Sungging Raga 13. Seno Gumira Ajidarma 14. GM. Sudarta 15. Agus Noor 16. Yanusa Nugroho 17. Gde Aryantha Soethama 18. Damhuri Muhammad 19. Sori Siregar 20. Bakdi Soemanto Berhubung buru-buru, judul cerpennya akan diberitakan menyusul. Yang pasti ada seorang cerpenis yang dua cerpennya terpilih dalam satu buku. Selamat untuk semua.