Diterbitkan oleh
Gramedia Pustaka Utama
Perempuan Lolipop
(Bamby Cahyadi)
Sinopsis:
Tak ada cara terbaik menikmati perjalanan selain membiarkan dirimu tersesat. Ketika berhadapan dengan jalan yang tampak tak berujung dan jembatan serupa yang membingungkan. Terus saja berjalan. Setiap belokan, setiap sudut, menghadirkan misteri tersendiri. Tersesat adalah anugerah, karena dirimu tak tahu apa yang menanti di balik tiap kelokan. Bukankah begitu dengan kehidupan, bahkan kematian sekalipun?
Dalam kumpulan cerpen ini Bamby banyak menampilkan sisi lain dalam memaknai sebuah kematian—yang di cerpen-cerpen awal menjadi tema khusus—yang selama ini kurang dianggap. Kematian bisa dimaknai sebagai hal yang “wajar” tapi sekaligus misterius; pilu sekaligus paripurna yang indah. Menarik bagaimana penulis kelahiran Manado ini berbicara lewat kata dalam berbagai tema. Ia mampu memoles sebuah kesedihan karena ditinggal pergi menjadi energi untuk melanjutkan hidup hingga menyadarkan kita bahwa setiap peristiwa adalah ruang bagi kita untuk menemukan maknanya.
Ukuran : 13.5 x 20 cm
Tebal : 208 halaman
Harga : Rp. 50.000,-
Cover : Softcover
ISBN : 978-602-03-0259-1
Selasa, 11 Februari 2014
Selasa, 07 Januari 2014
Dunia Murakami [Cerpen Jawa Pos, 5 Januari 2014]
Cahaya bulan tak pernah tampak, dan jalanan kini begitu
lengang. Toko-toko telah lama tutup, lampu-lampu taman pun sudah dipadamkan.
Aku melesat dengan sebuah mobil kekar buatan Jepang, membelah malam, menyingkap
paksa tirai gerimis yang terus berderai. Mobil ini bagai kuda besi yang
berderap-derap melaju di padang rumput yang basah dan sunyi.
Saat ini jarak
adalah sesenti demi sesenti yang menyiksaku. Jarak antara aku dan kau. Mobilku
terus melaju kencang. Berpacu, berpacu, berpacu! Jangan sampai terlambat. Musik
kusetel kencang-kencang, terdengar musik ala R&B David Guetta dari sebuah
stasiun radio swasta yang tak pernah berhenti mengudara. Stasiun radio itu
telah mengubah informasi kemacetan lalu-lintas menjadi hiburan yang
ditunggu-tunggu pendengarnya.
Saat kita terakhir bertemu–beberapa jam lalu–kau mengenakan
kaus dan celana jins, meskipun pakaianmu tak minim, dadamu begitu besar hingga
membuat kausnya terenggang ketat
Aku menatapmu takjub dan bersiul spontan saat kau
mendekatiku. Aku mohon maaf, bukannya aku lancang melakukan sebagian aktivitas
pelecehan seksual yang jelas-jelas tercantum dalam peraturan perusahaan. Sampai-sampai tatapanku
seperti menjelajahi sekujur tubuhmu. Terus terang tatapanku terkunci pada
setiap lekuk tubuhmu. Masa bodoh dengan peraturan perusahaan, aku rela menerima surat peringatan
karena memandangmu dengan pukau. Pura-pura tak melihat belahan dadamu dibalut
kaus ketat adalah tindakan lelaki bodoh.
Berkat kompromi kita minum di sebuah restoran
yang berdekatan dengan toko buku di sebelah tenggara kantor selepas jam kerja. Aku banyak merayumu
sepanjang minum bergelas-gelas red wine
kegemaranmu. Jujur aku kurang suka wine,
minuman itu membuatku cepat mengantuk. Pilihanku sebenarnya pada vodka, itu lebih mantap, membuatku lebih
lepas. Sambil mencicipi menu makan tapas,
aku melontarkan ucapan-ucapan gombal yang paling dahsyat.
Matahari menjelang terbenam ketika aku dan kau meninggalkan
restoran itu dan melangkah memasuki sebuah toko buku di pojok jalan. ”Aku
mencari sebuah novel,” katamu. ”Novel?” tanyaku.
Sekolom cahaya jatuh ke lantai toko buku saat kami
memasukinya.
Lampu-lampu halogen digantung pada kait-kait besi di
dinding membuat rak-rak kayu bermandikan cahaya. Dinding toko buku terbuat dari
batu-batu kasar ditumpuk rapat saling menempel membentuk sudut miring. ”Pantas
kamu memilih toko buku ini untuk mencari novel, ah novel apa tadi?”
”Aku belum menyebutkan judul novel yang kumaksud, Tio,”
jawabmu sambil berpaling tersenyum padaku yang berjalanan di belakangmu. Aku
begitu menikmati dirimu, menikmati wewangian Boss Nuit Pour Femme nan
sensual.
Aku terus mengekormu, memandang pantatmu yang elok dan
begitu padat terbungkus jins yang beruntung itu menuju suatu koridor. Kau
berbelok di sudut lain koridor dan segera memasuki sebuah ruang.
”Novelnya ada di sini!” cetusmu sambil menunjuk ruangan
yang kita masuki.
Matamu berbinar-binar ketika novel itu kau ambil dari
raknya. Novel yang cukup tebal, bisa dipakai sebagai senjata beladiri disaat terdesak.
”Haruki Murakami, 1Q84!”
ujarku spontan.
”Yup!” katamu mantap,
memandang sampul novel itu.
”Aku sudah baca buku
Murakami yang lain... Norwegian Wood dan Dunia Kafka, hanya dua itu, karya dia yang lain belum baca, yang
itu juga belum,” kepalaku menjulur menunjuk ke arah buku yang kau pegang dengan bahagia.
Tiba-tiba kau berkata,
dan perkataanmu membuatku terkejut namun tak mampu kutahan tawaku, kerena
kupikir kau bercanda.
“Tio, aku akan masuk ke dalam buku ini. Aku adalah tokoh
utama novel ini!”
”Hah?” Aku terperangah dan terdiam sejenak. Lantas aku
tergelak. Beberapa pengunjung toko mengeluh. Seorang dari mereka, perempuan
separuh baya yang terlihat memesona karena memakai gaun rancangan desainer
terkenal, kuduga. Ia melotot dan mendesis. Ia menaruh jari telunjuknya tepat
pada bibir yang dibuat melancip.
”Maaf!” seruku.
Ketika itu kau mendadak lenyap dari pandanganku. Kau benar-benar
hilang. Hanya
sebuah buku tebal Murakami yang jatuh berdebam lantas tergolek di lantai toko buku ini. Plastik
pembungkusnya terlepas, dan novel tersebut dalam keadaan terbuka.
”Aurora!” jeritku.
Pengunjung toko yang menyaksikan kau mendadak lenyap masuk
ke dalam buku, tercekat. Perempuan anggun yang tadi melotot dan mendesis padaku
berteriak histeris, lantas pingsan. Ia benar-benar melihatmu hilang dan masuk
dalam novel itu seperti kesiur angin yang menyelinap di celah jendela.
Aku memungut novel Murakami dan bergegas menuju kasir untuk
membayar novel tebal ini. Kasir itu ragu-ragu ketika ia menindai novel Murakami
ini, karena ia tahu, kau ada di dalam buku ini sekarang! Aku cepat-cepat pergi meninggalkan toko. Berharap
dengan cemas, aku sekadar bermimpi saja.
Di luar toko, gumpalan awan kelabu seakan berpagut dengan
pucuk-pucuk gedung pencakar langit, senja cepat berganti malam. Aku berlari menuju parkiran mobil diiringi hujan
gerimis yang siap menderas. Di dalam mobil hanya menggunakan penerangan minim segera
kubaca novel tebal ini untuk melacakmu.
Setelah membaca beberapa halaman novel ini, aku tahu cara
menyusulmu, Aurora. Aku tahu, sangat tahu. Tunggu aku di tahun 1984!
Pukul sebelas malam. Sebenarnya aku cukup gusar, menatap nanar novel Murakami yang ada
di tangan kiriku, tangan kananku mencengkeram erat setir mobil seraya terus mencari celah
cahaya untuk menembus ruang dan waktu. Aku berkendara melewati Cawang. Memutar
arah untuk lewat jalan tol, lantas mobilku melenggang di jalan tol yang lengang
ke arah Bogor.
Wiper kaca mobil berdesir-desir menyingkap tetesan hujan yang
terus menerus menimpa kaca mobilku. Pikiranku melayang pada novel ini lagi.
Jadi kau sekarang menjelma, Aomame,
nama tokoh utama perempuan dalam novel ini. Seorang instruktur kesehatan (cocok
sekali dengan tubuhmu yang bugar dan aduhai itu), dan kau seorang pembunuh
bayaran tanpa ampun. Ya ampun, mengerikan sekali! Aurora, maksudku, Aomame, sadar kah kau, dalam cerita itu kau
telah berpindah ke dunia surealis dan kau sendiri tak pernah tahu jawabannya.
Dunia di mana ditandai dengan meningkatnya jumlah bulan menjadi dua. Makanya,
Murakami menyebutnya 1Q84. Plesetan
tahun 1984 itu dijadikan judul novel ini, cerdas sekali ia!
Baiklah, baiklah. Satu-satunya cara menemuimu, aku harus
menjadi Tengo. Tokoh lelaki novel
sialan ini. Entah kebetulan, entah tidak. Tokoh perempuan bernama Aomame, kau Aurora. Aku Tio, nama tokoh
novel ini Tengo. A ketemu A. T jumpa
T. Ya, kubaca tadi, Tengo berprofesi
guru matematika dan penulis lepas. Ia menerima tawaran dari seorang editor
untuk menjadi ghost writer dengan
menulis ulang karya berjudul Air Chrysalis (Kepompong Udara) milik gadis aneh berusia 17 tahun bernama Fuka-Eri. Sejak itu banyak masalah muncul dalam kehidupan Tengo (kalau aku bisa sampai pada tahun
1984, berarti ia itu diriku). Dan masalah memuncak, ketika Tengo sadar bahwa dunianya mendadak berubah persis seperti apa yang
dituliskannya dalam Air Chrysalis, di
mana jumlah bulan meningkat menjadi dua.
Imajinasi yang luar biasa bukan? Brengsek benar Murakami,
ia telah mencuri kau dariku, Aurora. Kini ia memaksa aku memasuki tahun 1984,
dengan cara memacu mobilku sekencang-kencangnya, membelah jalanan malam yang
kelam, tepat pukul nol-nol, akan ada seberkas cahaya yang harus aku terobos, saat aku sudah melintas pada cahaya itu dengan
kecepatan tinggi tentunya, aku akan sampai di tahun 1984, tahun di mana latar
kisah karya Murakami ini terjadi.
Seberkas cahaya tampak terang benderang di ujung jalan tol
ketika aku melewati wilayah Cibinong. Aku pacu mobil ini semakin kencang,
semakin cepat, sekencang-kencangnya bagai kilat halilintar, dan aku, hilang! Melesat cepat dan hampa.
Langit merendah dan membungkus kami. Sekarang aku paham
kenapa Aurora masuk ke dalam buku, kenapa aku bersusah payah menembus masa lalu
di tahun 1984. Karena aku dan Aurora harus menjadi manusia yang hampa, yang tiada,
yang kosong, agar jarak bukan lagi sesenti demi sesenti yang menyiksa. Agar kami menjadi imajinasi.
Bagi seorang pencerita, rasanya ideal sekali jika cerita kami
berakhir dengan luar biasa. Akhir yang membahagiakan. Kalian menahan napas
menanti hal itu di akhir cerita ini bukan? Kedengarannya bagai dongeng saja. Tapi ini sama
sekali bukan dongeng. Percayalah.***
Cerpen ini terinspirasi dari Novel 1Q84 karya Haruki Murakami
Jakarta, 5 Maret 2013 – 1 Januari 2014
Bamby Cahyadi. Lahir di Manado, 5 Maret 1970. Bergiat di Komunitas Sastra Jakarta
(Kosakata). Menulis cerpen di berbagai koran dan majalah. Kumpulan Cerpennya, Tangan untuk Utik (2009) dan Kisah
Muram di Restoran Cepat Saji (2012).
Jumat, 03 Januari 2014
Curhat Dua Generasi (Cerpen Suara Karya, 4 Januari 2014)
Lelaki
Tua yang Tak Pernah Puas
Usia saya sudah tak muda lagi,
mendekati enam puluh tiga tahun. Seumur hidup saya ini, saya telah mengalami
perkawinan sebanyak tiga kali. Perkawinan pertama hanya berlangsung delapan
tahun, lantas kandas bagai kapal laut yang karam mencium batu karang.
Perceraian terjadi karena masalah ketidakharmonisan
rumah tangga. Biduk pernikahan saya pecah berantakan, akibat rasa tidak puas
diri saya. Persoalannya sebenarnya sepele, apalagi pada zaman sekarang
tentunya. Ya, istri saya ternyata bukan gadis lagi saat saya menikahinya. Ia
bukan perawan! Selama delapan tahun saya mencoba menahan derita batin ini
akibat rasa tidak puas padanya.
Namun saya tak berhasil mengatasi
perasaan ketidakpuasan itu. Terlebih lagi apabila saya membaca tulisan tentang
“perawan” atau teman-teman sekantor bergosip masalah “keperawanan” seorang
perempuan, hati saya selalu merasa tersinggung dan teriris.
“Wah, sungguh beruntung si Badu, ia
menikah dengan perawan yang masih fresh
from the oven,” celetuk sejawat
saya saat itu. Hati saya langsung mendidih.
“Pasti seprai ranjangnya penuh dengan
titik-titik noda merah,” seru sejawat saya yang lain di seberang meja. Hati
saya membara mendengarnya. Panas, panas, panas!
“Kalian jangan menyindirku!” hardik
saya, sejawat saya di kantor saling berpandangan dan pecahlah tawa mereka.
Begitulah, saya menjadi lelaki yang sangat muda tersinggung.
Tak lama setelah perceraian dengan
istri saya yang tak perawan itu, saya tergiur oleh kecantikan seorang perempuan
keturunan Arab dan ia berstatus janda. Gayung bersambut, sang janda yang Arab
itu mau menikah dengan saya. Perkawinan pun terjadi.
Ah, tapi sungguh menyedihkan. Bahtera
rumah tangga bersama perempuan keturunan Arab itu hanya berlangsung dua tahun.
Ya, dua tahun! Persoalannya pun cukup memalukan, saya tak mampu mencukupi
kebutuhannya secara ekonomi. Istri saya yang Arab itu sungguh doyan belanja dan
pelesir.
Dua kali saya berstatus duda dengan
menghasilkan empat orang anak. Tiga anak dari istri saya yang tak perawan itu
dan seorang anak dari istri saya yang keturunan Arab itu. Semuanya masih
kecil-kecil. Tentu saja semuanya ikut ibunya.
Atas tawaran dan petunjuk kedua orang
tua saya pada waktu itu, akhirnya saya menikah untuk ketiga kalinya. Saya
menikah dengan seorang guru bahasa Inggris berstatus janda dengan dua anak.
Sehingga anak saya menjadi enam. Ambisi untuk menikahi perempuan perawan saya
paksakan enyah dalam sanubari saya, musnah dalam kehidupan saya. Bukan karena
saya menyerah, tapi saya sadar diri pada
saat itu, saya bukan jejaka lagi.
Ternyata dengan sikap menerima
kenyataan, tidak berambisi menikahi seorang gadis yang masih perawan, kehidupan
rumah tangga saya yang terakhir ini bisa bertahan 24 tahun lamanya. Dari istri
saya yang guru berstatus janda dengan dua anak, saya dikaruniai dua orang anak
lagi. Sehingga total anak saya ada delapan.
Terus terang, malu sebenarnya saya mau
bercerita kondisi saat ini, dalam usia tua seperti sekarang ini, saya sangat
haus akan bacaan-bacaan berbau porno, film-film bernapas porno, begitu pula
gambar-gambar beraroma porno. Otak saya isinya porno melulu.
Melalui internet saya berhasil
melampiaskan hobi berburu sesuatu yang porno-porno. Saya bahkan tahu ada 10
peringkat bintang porno berusia paling muda sedunia. Melihat mereka darah saya
bergelegak. Berahi saya morat-marit.
Padahal dalam umur yang setua sekarang
ini, saya pun telah berusaha untuk memperkuat iman dengan membaca buku-buku
agama, menghadiri berbagai majelis taklim dan mendalami berbagai pengetahuan
tentang ajaran-ajaran agama. Tetapi apa daya, semua itu tak mempan.
Rasa tidak puas dalam kehidupan
seksual saya benar-benar mengganggu ketenangan jiwa saya. Masalahnya, di
saat-saat saya masih ingin mencari kepuasan biologis, istri saya yang berumur
51 tahun itu tampaknya sudah mulai pasif. Sehingga apa pun yang berhubungan
dengan hubungan intim pasangan suami istri, inisiatif selalu timbul dari saya.
Pernah saya berterus
terang mengemukakan apa yang sebenarnya saya inginkan darinya. Ia mengerti dan
bersedia memenuhi apa yang saya minta. Ia minum jamu-jamuan tradisional dan
obat herbal dari China agar singset dan libidonya membara. Ia pergi ke salon,
totok wajah, totok payudara dan totok vagina. Tetapi itu hanya berlangsung
beberapa minggu saja, lalu ia pasif kembali seperti sebatang pohon pisang yang
tergolek di atas ranjang.
Oh, bagaimana saya mengatasi rasa
tidak puas selagi saya masih mampu melakukan hal itu? Jujur, saya tidak mau
meniru hal-hal yang sering dilakukan oleh pejabat atau elite partai di negeri
ini, nikah siri. Bagi saya, pernikahan ketiga ini yang terakhir.
Walapun, hal-hal porno selalu
menari-nari di benak saya, menggelayuti di kepala saya yang rambutnya sudah
tersapu warna kelabu pada setiap helainya dan menancap pada otak saya. Jijik
saya menikahi secara siri seorang perempuan muda perawan pula.
Biarlah orang tua tak tahu diri yang
lain yang melakukannya. Bukan saya. “Bukan begitu Miyabiku sayang?”
Kepala saya serasa dikangkangi oleh
Miyabi yang manis itu. Masih untung Miyabi, bukan sapi. “Ha..ha..ha!” Tawa saya
lepas sekali.
Perempuan
yang Mencintai Dirinya Sendiri
Saya seorang pelajar berusia 17 tahun,
duduk di bangku kelas III SMK. Saya mendapat haid pertama kali pada usia 12
tahun. Waktu itu saya merasa sangat malu, sehingga saya tidak mau memberitahu
kepada siapa pun. Termasuk ibu saya.
Namun pada akhirnya ibu saya tahu.
Terus terang saya sangat takut waktu masa haid datang pada waktu itu. Ibu saya
yang membelikan pembalut wanita di super market.
Pernah suatu kali, pembalut bocor dan
menodai pakaian saya yang serba putih (padahal tayangan iklan pembalut tersebut
di televisi, katanya anti bocor), sehingga apabila haid datang dan saya harus
bepergian saya menjadi sangat gelisah.
Bila pelajaran olahraga tiba, saya
sering berpura-pura sedang sakit, saya begitu takut orang lain akan tahu saya
sedang haid. Pengalaman saya ini mirip sekali dengan tayangan iklan di
televisi, tetapi begitulah faktanya.
Sebenarnya bukan masalah haid ini yang
akan saya ceritakan. Begini, saya mempunyai masalah, akhir-akhir ini saya sering bermimpi bermesraan dengan teman
sejenis. Saya sering bermimpi bergumul, bermesraan dan bercinta dengan
perempuan. Hal ini membuat hati saya cemas, sekaligus bahagia. Saya sangat
menikmati mimpi-mimpi indah tersebut.
Waktu saya masih SMP, saya pernah
berteman akrab dengan Irawati. Ia murid baru di sekolah kami, ia baru pulang
dari Amerika mengikuti orang tuanya yang diplomat. Irawati lah yang menghampiri
saya ketika saya pura-pura sakit karena haid datang. Ia dengan ramah bertanya
pada saya, apakah saya baik-baik saja?
Lalu akhirnya saya cerita sebenarnya
saya tidak sakit, tapi lagi datang bulan. Irawati lantas tertawa ngakak.
Selanjutnya ia menawari saya sebuah pembalut wanita yang ia sering kenakan. Pembalut
itu super tipis, berbeda seperti yang ibu saya sering belikan di super market.
“Percayalah, ini dijamin anti bocor,”
katanya meyakinkan dan bukan bermaksud beriklan.
Tiba-tiba pertanyaan bodoh meluncur
dari bibir saya, “Apakah pembalut setipis ini dapat menghilangkan kegadisan
seseorang?”
Irawati kembali tertawa ngakak, “Suatu
hal yang jauh dari kenyataan,” katanya setelah tawanya reda. Ada desiran halus
yang menggetarkan saraf-saraf saya ketika melihat Irawati tertawa ngakak
seperti itu.
Entah mengapa, saya nurut saja ketika
Irawati meminta agar saya segera memakai pembalut pemberiannya, ia mengantar
saya sampai di depan pintu toilet sekolah. Ia berjaga di depan pintu toilet,
dan entah kenapa darah saya semakin berdesir-desir.
Irawati lantas menjadi sahabat saya.
Kami semakin akrab. Saya tahu Irawati menyukai saya. Tapi saya tak tahu
perasaan suka seperti apa yang menyeruak dari hati saya menyelinap ke hati Irawati,
atau sebaliknya.
Saya ingin sekali dipacari Irawati,
padahal pada waktu itu ia sudah memberikan sinyal kuat bahwa ia akan memacari
saya. Tapi saya tolak dengan halus, terus terang saya takut dosa, saya masih
takut pada Tuhan. Yang jelas Irawati pernah mencium bibir saya dengan begitu
membara
Lepas SMP, Ira pindah ke Kanada. Ia
ikut orang tuanya yang ditugaskan negara. Sekarang Irawati jauh dari saya, dan
saya selalu rindu padanya.
Banyak teman laki-laki yang suka
terhadap saya, bahkan ada yang terang-terangan mengucapkan kata-kata cinta di
kantin sekolah. Entah gombal, entah beneran. Semuanya saya tolak. Jadi saya
belum pernah pacaran sama laki-laki.
Saya menjadi tidak suka laki-laki.
Padahal saya ingin sekali bisa mencintai laki-laki. Lantas melupakan Irawati
yang lesbian. Tapi saya mencintai Irawati, saya menyukai perempuan, serupa saya
mencintai diri saya sendiri.
“Hai, peluklah saya, saya sangat
menginginkannya. Peluklah saya dengan mesra”. Tulis saya di penghabisan halaman
catatan harian. ***
Catatan: Kalau
ada kesamaan curhat dengan cerpen ini, yang pasti itu bukan plagiat
Jakarta,
30 Mei 2013
Bamby Cahyadi, lahir di Manado, 5 Maret
1970. Bergiat di Komunitas Sastra Jakarta (Kosakata). Buku terbarunya, Kisah
Muram di Restoran Cepat Saji (Gramedia Pustaka Utama, 2012)
Sabtu, 28 Desember 2013
Pembunuhan Keluarga Sumarna
BEGINILAH PEMBUNUHAN
ITU DICERITAKAN
Oleh: Bamby Cahyadi
Emak Eti memang merasa ada yang tidak
beres dengan anaknya, Sumarna, pagi itu. Tidak seperti biasanya anak keduanya
itu bangun siang, sampai-sampai ia tak bisa mengantarkan adiknya ke sekolah.
Dari Gang Y, desa A, perempuan berusia 59 tahun tersebut buru-buru ke tempat
anaknya di ujung desa. Hatinya mendadak merasa was-was, perasaan khawatir
menyeruak menggigit-gigit ulu hatinya. Sakit kah Sumarna?
“Apa sudah pergi kerja anak saya?”
tanya Emak Eti kepada pemilik warung yang berjualan dekat rumah Sumarna.
“Belum tampak, Mak. Barangkali masih
tidur. Semalam ada tamu di sana,” jawab yang ditanya.
Perasaan seorang ibu, tiba-tiba
membuat Emak Eti semakin gelisah. Sesampai di rumah Sumarna, diketuk-ketuknya
pintu depan rumah anaknya, tapi tak ada jawaban dari dalam. Lalu ia pergi ke
belakang rumah, pintu di sana sudah digembok. Biasanya, apabila anaknya sudah
berangkat kerja pintu itu telah dikunci.
Tetapi, tak biasa Sumarna berangkat kerja tanpa diketahui oleh tetangga-tetangganya. Perasaan Emak Eti
semakin diamuk kecemasan yang bergulung-gulung.
Karena rasa khawatir dan penasaran
yang begitu melilitnya, ia meminta tetangga Sumarna membuka paksa pintu rumah.
Dibantu oleh beberapa tetangga, mereka mencoba mendobrak pintu. Namun tidak
juga memberi hasil. Perempuan itu semakin dilanda rasa cemas dan panasaran yang
berkecamuk.
Dengan tangga kayu, perempuan itu
mengintip ke kamar anaknya dari sela-sela kisi-kisi jendela.
Betapa terperanjat, perempuan itu seperti
disengat beribu binatang kalajengking. Ia melihat seluruh kelambu berwarna
merah. Hanya warna merah yang ia lihat dalam kamar yang remang itu. Ya, hanya
warna merah.
Di antara rasa was-was yang membuat
jantungnya berdetak sangat kencang, Emak Eti tercekat beberapa saat, ia
berteriak, namun suaranya nyaris tercekat di tenggorokan menyangkut di udara.
Kakinya bergetar lututnya terperangkap dalam gemetar ketika melihat tubuh
Sumarna tidur terlentang dengan leher bersimbah darah. Menantunya, Euis, telungkup,
juga penuh darah. Sedangkan cucunya, Asep yang baru berusia dua tahun,
digenangi darah seluruh tubuhnya.
Lemaslah sekujur tubuh Emak Eti,
dengan suara gemetar ia berusaha berteriak melihat pemandangan yang mengerikan
yang terpampang di pelupuk matanya. “Tolong, tolonglah, anak-anak saya dibunuh
orang!” Suara Emak Eti nyaris lirih tak terdengar. Dengan sisa-sisa kekuatannya
perempuan tua itu berusaha mendorong-dorong jendela kamar agar terbuka. Namun
sia-sia.
Orang-orang semakin ramai berdatangan
dan memenuhi halaman di sekitar rumah Sumarna. Ada juga yang mencoba mengintip
dari tangga di mana Emak Eti mengintip. Mereka melihat dan manyaksikan dengan
mata kepala sendiri tiga jasad yang membuat mereka merinding, menebarkan aroma
teror, kengerian dan ketakutan tak
terkira.
Tanggal 9 November tersebut, desa A,
kecamatan K, kabupaten T, Jawa Barat, gempar. Sumarna sekeluarga yang dikenal
sangat ramah kepada semua orang, telah dibunuh dengan kejam. Tak pernah ada
kejadian sekejam itu yang terjadi di Kabupaten T selama ini. Sepanjang sejarah
kabupaten penghasil beras itu.
***
Malam itu, Kosasih dengan tenang
menuju dapur ia membersihkan bekas-bekas darah pada parang, sebelum menyelipkan
benda tersebut ke dinding bambu. Malam itu, Kosasih telah menjelma malaikat
pencabut nyawa kepada Sumarna sekeluarga.
Namun Kosasih bukanlah sang malaikat
pencabut nyawa, lelaki itu tak pernah ditugasi Tuhan untuk menghabisi nyawa
ketiga manusia tak berdosa itu. Kosasih punya tugas sendiri yang ia telah
direncanakannya.
Ia membongkar lemari Sumarna,
mengambil perhiasan Euis, uang Rp 2.500.000,- milik Sumarna dan membawa kabur
sepeda motor milik Sumarna. Barang-barang itu diperlukannya untuk meresmikan
perkawinannya dengan Dedeh, pacarnya di desa G, kabupaten C, masih di wilayah
Jawa Barat.
Lelaki berdarah dingin itu melego
motor bebek keluaran tahun 2010 itu seharga Rp 3.800.000,- dan kemudian ia
belikan dua buah cincin kawin dan sebuah kalung emas. Perhiasan Euis dijualnya
seharga Rp 1.700.000,- ia belikan sebuah tempat tidur lengkap dengan kasur dan
bantal. Lalu untuk calon mertua, diberikan uang sebesar Rp 500.000,-. Uang
hasil merampok Rp 2.500.000,- dan uang sisanya menjual sepeda motor dan
perhiasan disimpannya sendiri.
Bagai seorang saudagar yang mendapat
untung besar, Kosasih pun membual kepada Dedeh. Ia berbohong bahwa ia
berdagang. Ia bahkan sesumbar, apabila ia dapat laba besar lagi, ia akan
membangun sebuah rumah untuk mereka.
***
Kegemparan memang melanda hampir
seluruh kabupaten T. Pembunuhan semacam itu baru pertama terjadi. Warga menjadi
resah. Aparat kepolisian dituntut warga bekerja serius dan berhati-hati. Karena
memang Kosasih berhasil menghilangkan semua barang bukti.
Polisi berhasil menyergap dan
meringkus Kosasih berkat kesaksian pemilik warung kopi, minuman keras murahan,
jamu dan obat kuat lelaki. Polisi bekerja keras untuk mendapatkan jejak
Kosasih.
Pada pukul 18.00 tanggal 17 November
beberapa polisi berseragam datang mengepung rumah calon istri Kosasih, Dedeh.
Saat itu Kosasih baru saja menyalakan lampu teras rumah Dedeh. Menyadari rumah
telah diincar polisi, dengan gerakan tipuan, Kosasih berhasil menyelinap kabur
lewat pintu belakang.
Lelaki berkulit putih itu melarikan
diri. Namun, belum begitu jauh ia bergerak sebanyak tujuh butir peluru
bersarang di kakinya. Ia terjengkang dan terkapar di tanah. Malam itu juga,
Kosasih digotong ke rumah sakit.
Penduduk yang mendengar bahwa pembunuh
keluarga Sumarna berhasil ditangkap, segera menyerbu ke rumah sakit di
kabupaten C. Bangsal tempat marawat tahanan polisi itu nyaris ambruk diserang
massa.
Setelah dirawat, Kosasih digiring ke
ruang Pengadilan Negeri kabupaten T.
“Saya butuh uang untuk mengawini
Dedeh,” jelas Kosasih dengan nada dengki.
Jaksa penuntut umum, memberikan
dakwaan, hukuman mati bagi Kosasih, di hadapan majelis hakim Pengadilan Negeri.
“Perbuatan yang dilakukan terdakwa
itu, bukan hanya untuk menguasai harta korban, tetapi juga untuk memenuhi
kepuasan melihat darah yang mengalir,” kata jaksa penuntut dengan suara
bergetar.
Kosasih tidak bergeming mendengar
tuntutan hukuman mati atas dirinya. Matanya yang liar itu menyorotkan rasa
tidak menyesal.
“Ia dihukum mati bukan karena membunuh
orang. Tetapi agar orang-orang lain tidak dibunuh pula olehnya di masa
mendatang,” ungkap jaksa, menyitir ucapan seorang hakim Inggris abad 19, Herce Burnet, ketika jaksa itu
diwawancarai media.
Dari balik jeruji besi kamar tahanan
Pengadilan Negeri, Kosasih menjawab pertanyaan wartawan. Jawaban yang cukup
mencengangkan, “Saya cuma sedih atas kematian sahabat saya, Sumarna.”
Entah apa yang ada di benak lelaki
berkulit putih itu.
***
Malam itu, di beberapa tempat
orang-orang masih tampak menggerombol. Kios-kios sudah tutup, hanya satu warung
yang menjual kopi, minuman keras murahan, jamu dan obat kuat lelaki yang masih
buka. Semakin malam situasi semakin sepi, orang-orang yang bergerombol tampak
menyusut hingga habis sebelum tengah malam tiba. Apalagi hujan telah turun.
Malam itu, kunjungan Kosasih yang
keempat kalinya ke rumah Sumarna di Desa A, di Kecamatan K, Kabupaten T, Jawa
Barat. Bila hari-hari sebelumnya ia datang minta tolong pinjam uang dan
dicarikan pekerjaan, Jumat malam tersebut ia datang hendak meminjam cangkul dan
linggis. Kepada Sumarna dikatakannya, bahwa ia telah mendapat pekerjaan.
“Di mana Engkos bekerja?” tanya
Sumarna pada Kosasih waktu itu.
“Di tempat teman. Pinjamilah saya
cangkul dan linggis Kang,” jawab Kosasih.
Pertemuan pukul 23.00 hari Jumat 8
November itu belum selesai begitu saja. Mereka ngobrol-ngobrol, seraya menonton
acara televisi. Sumarna bersama istri dan anaknya duduk di bagian tengah
ruangan. Di layar televisi, acara talk
show yang dibawakan Tukul Arwana, menghidangkan bincang-bincang lucu penuh
gelak tawa.
Di luar, hujan turun dengan lebat.
Malam itu, Kosasih kembali menumpang tidur di sana, di rumah Sumarna, sama
seperti pada malam tanggal 24 Oktober yang lalu.
Hawa dingin yang dikirim hujan,
membuat seisi rumah cepat terlelap. Kosasih berbaring di ruang tamu di atas
selembar tikar. Tetapi lelaki itu tidak tidur. Di mulutnya masih terselip
sebatang Djie Sam Soe dan asap tipis
keluar dari celah bibirnya.
Di rumah itu memang tidak ada
siapa-siapa lagi, kecuali Sumarna dengan istri dan anaknya, serta Kosasih yang
yang menumpang menginap. Suasana di dalam rumah senyap, tak kalah heningnya
dengan di luar, begitu sepi. Bahkan suara jengkerik dari semak-semak di sekitar
rumah pun tidak terdengar.
Kosasih bangkit dari lantai tempat ia
tiduran beralaskan tikar. Sambil sedikit mengendap-endap, pelan-pelan dibukanya
pintu rumah, lelaki itu keluar rumah menembus hujan. Ia mendatangi warung yang
masih buka tak jauh dari rumah Sumarna. Di situ dibelinya sebotol minuman keras
murahan. Lalu ia berlari kecil meninggalkan warung kembali ke dalam rumah.
Ia membuka tutup botol minuman keras
itu dan menenggak minuman itu demi memanasi tubuhnya, aroma alkohol menguar
bikin mabuk. Ia pun terus menerus merokok, bersambung dari batang yang satu ke
batang rokok yang lain. Kepulan asap rokok memenuhi seluruh ruangan. Kosasih
menyandarkan tubuhnya pada dinding, seperti ada yang berkecamuk di dalam
otaknya. Ia duduk dengan punggung menekan keras pada dinding rumah.
Lantas dengan gelisah ia berdiri.
Menoleh kanan kiri. Serupa orang yang sedang mencari sesuatu, Kosasih masuk ke
dapur. Matanya terlihat nyalang ketika melihat sebilah parang yang berkilau
ditimpa cahaya lampu neon yang redup. Tangannya yang kasar meraih benda tajam
itu dan dibawanya ke ruang tamu.
Kosasih, lelaki berkulit putih itu
kembali duduk, menyandarkan lagi tubuhnya pada dinding dan menghabiskan sisa
minumannya. Matanya mulai tersirat keliaran yang ganjil, dari kilatan bolamata
terkesan kekejian yang menakutkan. Tapi ia gelisah.
Kadang-kadang ia bangkit, kemudian
duduk kembali. Bangkit lagi, mondar-mandir, lalu ia berjalan menuju pintu kamar
tidur Sumarna yang hanya dihalau selembar kain tirai berwarna kelabu. Sudah ada
tiga kali ia berbuat seperti itu.
Kosasih ini memang terbilang kurang
ajar dan tak tahu diri. Meski ia pernah dipinjami uang oleh Sumarna, sahabatnya
tersebut, untuk melunasi pembayaran perabot rumahnya sebesar satu juta rupiah
pada bulan Agustus lalu, bahkan pernah pula diberi pinjaman tambahan lima ratus
ribu rupiah awal September lalu, ia tak segan menggoda istri Sumarna yang
tampak begitu ranum di matanya, bahkan dengan lancang ia menggoda Euis, istri
Sumarna dengan kata-kata seronok.
Pada kali kedua dan ketiga Kosasih
menginap di rumah Sumarna, ketika Sumarna tak berada di rumah atau sedang ke
warung, ketika Euis berjalan menuju ruang tamu dengan tangkas tangan lelaki ini
menyentuh rok istri Sumarna.
Tentu saja perbuatan ini sudah
keterlaluan bagi seorang sahabat dan juga tamu yang telah disambut dengan baik
kedatangannya. Namun, Kosasih tak pernah kapok. Pada kali ketiga ia menginap di
rumah Sumarna, entah telah berapa kali ia merogoh rok istri sahabatnya
tersebut. Euis pun tak mampu melakukan perlawanan, atau melaporkan perihal itu
kepada suaminya. Daripada mereka bertengkar, batinnya.
Dan pada kali keempat ia menginap,
malam itu Kosasih kembali mengintai dari balik tirai pintu kamar.
Tetapi malam itu Kosasih bukan hendak
mengintip pasangan tersebut. Apalagi ingin menyetubuhi Euis. Setelah tiga kali
mengintai dan mempelajari suasana kamar, ia masuk ke dalam dengan parang
terhunus.***
Jakarta, 25 Oktober 2013
Minggu, 04 Agustus 2013
Pagi Ini Luar Biasa (Cerpen dimuat di Tribun Jabar)
PAGI YANG LUAR BIASA
Oleh: Bamby Cahyadi
Aku lelaki yang serba biasa. Mungkin biasa kalian lihat saat berada di bus kota, gerbong kereta api kelas ekonomi, di pasar, di trotoar, atau di mana saja. Saat kalian melihat seorang lelaki yang biasa-biasa saja melintas tak ada istimewanya di pelupuk mata kalian, itulah aku! Aku karyawan rendahan di sebuah perusahaan ekspedisi kecil yang letaknya di tengah kota yang sibuk. Aku kerap memakai kemeja berwarna putih yang sudah menguning dan celana bahan yang serba kedodoran. Tubuhku ceking, selayaknya lelaki yang memang biasa-biasa saja.
Setiap pagi, untuk menuju ujung gang ke jalan raya, biasanya aku berebutan jalan dengan tukang sayur gerobak, tukang ketoprak, anak-anak kecil berseragam sekolah, ibu-ibu yang menyusui anaknya di pojok gang dan pengendara sepada motor yang serobot sana serobot sini. Sampai di ujung gang, sebuah jalan raya yang dipadati oleh angkot telah membentang. Aku menggunakan angkot untuk menuju terminal Lebak Bulus.
Angkot yang kutumpangi ini sepi penumpang. Hanya ada seorang perempuan muda duduk di jok depan di samping sopir–agar merasa aman barangkali–padahal sang sopir berkali-kali melirik bagian payudara perempuan itu dengan mata berahi. Tentu saja di angkot ini ada sang sopir bermata keranjang. Bibir sang sopir yang kering menjepit rokok yang sudah berupa puntung.
Penumpang lain adalah dua remaja berseragam SMP yang baru saja turun dari angkot, lalu membayar ongkos seadanya, tangan sang sopir menjulur mengambil dua lembar uang ribuan, lantas sang sopir ngomel-ngomel tak jelas, sembari ujung sikutnya berusaha menyentuh ujung dada perempuan penumpang angkot di sebelahnya.
”Maaf tidak sengaja,” katanya ketika perempuan itu mendelik.
Begitulah kejadian yang biasa terjadi saat di angkutan kota atau angkutan umum yang lain. Tapi nanti dulu, ada hal yang tak biasa di angkot ini. Di ujung jok belakang tergolek sebuah kantong kresek berwarna hitam. Naluriah saja, aku lantas mengambil kantong kresek itu, sambil berkata pada sopir angkot, ”Bang, ada kantong kresek ketinggalan nih!”
”Ah, palingan isinya sampah, buang aja, Mas!” ujar sopir tanpa sedikit pun menoleh padaku. Matanya masih terus menghunjam dada penumpang perempuan di sampingnya.
Mungkin bagi sopir angkot kantong kresek yang tertinggal di mobilnya selalu isinya sampah atau barang tak berguna. Bisa jadi bagi mereka itu hal biasa, maka kantong kresek itu tak menarik perhatiannya kecuali payudara perempuan itu.
”Tapi kayaknya bukan sampah deh, Bang,” kataku.
”Kalau gitu, Mas ambil aja, barangkali isinya duit ha..ha..ha...!” Ia terkekeh.
Baiklah, karena aku meyakini kantong kresek ini bukan berisi sampah, lagi pula sesuatu di dalamnya cukup berat maka aku langsung memasukkannya ke dalam ranselku.
Sampailah aku di terminal Lebak Bulus. Melanjutkan perjalanan ke kantorku di Pasar Baru. Pilihanku seperti biasa, bus ekonomi. Akan tetapi sebelum aku naik ke salah satu bus yang bersiap untuk meluncur, aku teringat kantong kresek warna hitam yang ada di ranselku.
”Apa isinya ya?” batinku.
Karena rasa penasaran yang bertubi-tubi, tak kuhiraukan bus yang akan berangkat itu. Toh, masih ada bus berikutnya, pikirku.
Terus terang baru kali ini aku melakukan hal tak biasa, mengambil sesuatu yang bukan hak milikku. Meski aku pegawai rendahan, gaji kembang-kembis, ngutang sana-sini, tak pernah makan enak dan hidup sederhana. Aku tak pernah mengambil yang bukan hakku. Tidak seperti, pejabat korup di negeri ini. Berdasarkan desakan hati nurani, aku harus membuka isi kantong kresek ini di WC terminal. Di dalam bilik WC yang beraroma pesing akibat kencing tak disiram, aku keluarkan kantong kresek itu dari ranselku.
Ransel kukaitkan pada sebuah paku berkarat yang ditancap di kusen pintu, kini aku leluasa mengeluarkan isi kantong kresek ini. Meski isinya sampah tak berguna, paling tidak hasrat penasaranku segera sirna. Saat kurogoh kantong kresek itu, aku menyentuh bungkusan dari lembaran koran bekas yang dibungkus secara serampangan.
”Sampah beneran ini,” gumamku memandangnya kecewa. ”Tapi, kenapa isinya cukup berat ya?” tanyaku dalam hati. Isi bungkusan ini seperti logam berat, aku menimang-nimangnya.
”Jangan-jangan emas batangan?”
Napasku terasa sesak menyumbat batang tenggorakanku saat membuka lembar demi lembar lilitan pembungkus kertas koran dari benda yang ada di dalamnya. Kertas koran pembungkus berjatuhan di lantai WC yang kotor. Sungguh mengejutkan benda yang kini berada di genggamanku. Bikin darahku berdesir dan serasa lunglai tulang-belulangku. Sepucuk pistol!
Aku benar-benar panik, tak pernah seumur hidupku memegang sebuah pistol yang berasa sangat dingin di genggamanku ini. Lantaran dilanda kepanikan yang amat sangat benda itu jatuh dan masuk ke dalam lubang kloset toilet. Keringat dingin menetes perlahan di pelipisku. Napasku memburu. Pistol yang terjatuh ke lubang kloset itu cukup besar, sehingga tak langsung nyemplung di lubang kotoran yang menjijikkan itu.
”Ambil tidak, ambil tidak, ambil tidak, ambil....!”
Dengan tergopoh-gopoh kupungut kembali pistol dari lubang kloset, tanpa membersihkannya terlebih dulu. Pistol itu langsung aku masukkan ke dalam tas ransel yang kugantung di paku kusen pintu. Aku menarik napas dalam-dalam sebelum keluar dari WC. Saat keluar WC petugas memandangku penuh kecurigaan dan hal-hal negatif dalam pikirannya. Samar-samar kudengar petugas WC itu berkata, ”Kalau onani jangan di sini dong!”
Aku tak peduli, sambil berlari kecil menaiki sebuah bus kota yang sudah merayap meninggalkan terminal Lebak Bulus yang gegap-gempita.
Di dalam bus yang penuh sesak seperti di kamp pengungsian, jelas aku tak mendapat tempat duduk. Aku berdiri di dekat pintu bus yang berjalan terseok-seok wajahku diterpa kesiur angin semilir. Aha, Sesuatu yang biasa rupanya sedang terjadi di dalam bus yang sarat penumpang ini. Ada copet yang sedang beraksi!
Kulihat tiga orang copet sedang beraksi, mereka dengan arogan menggerayangi isi tas beberapa penumpang perempuan dan mencongkel dompet-dompet penumpang laki-laki yang tampak tak berdaya melihat keberingasan mereka. Dompet, HP, BB, dan barang berharga lainnya berpindah kepemilikkan. Tak seorang pun berani berteriak atau melakukan perlawanan. Tersebab ketiga copet ini memegang senjata tajam dan memperlihatkan tampang garang. Seperti biasa aku pun memilih untuk diam, seolah peristiwa itu tak sedang terjadi.
Suasana di dalam bus benar-benar bagai di neraka. Semua penumpang terdiam, merasa tertindas ulah kawanan pencopet yang beroperasi bagai hantu di pagi hari. Mereka beraksi tanpa suara. Penumpang pun memilih tak bersuara, daripada nyawa mereka menjadi ancaman. Ini benar-benar seperti operasi senyap yang mencekam.
Mendadak aku teringat sesuatu. Mendadak nuraniku berkata, kejahatan harus dilawan! Ya, harus dilawan. Hal ini tak boleh jadi kebiasaan bagi kawanan pencopet itu, tak boleh jadi kebiasaan bagi para penumpang yang memilih pasrah. Kebiasaan ini harus dienyahkan, paling tidak untuk pagi ini. Aku memiliki sepucuk pistol. Meski aku tak tahu apakah pistol yang tadi kutemukan dalam angkot berisi peluru atau tidak. Paling tidak aku punya pistol, kawanan copet itu hanya berbekal sebilah belati. Maka dengan keberanian yang entah datangnya dari mana, aku menerabas ke dalam bus yang sesak sambil merogoh pistol dalam tas ranselku.
”Angkat tangan!” teriakku pada ketiga pencopet itu sambil menodongkan moncong pistol ke jidat salah satu copet.
”Buang pisau kalian, buang hasil copetan kalian!” bentakku dengan suara bergetar. Sejujurnya aku takut sekali apabila mereka melawan.
Sejurus kemudian, aku menyaksikan betapa wajah-wajah copet yang garang itu mendadak putih seperti kehilangan darah. Nyali mereka melindap. Muka mereka pucat pasi dengan raut ketakutan. Tangan mereka gemetaran dan dengan refleks mereka membuang pisau belati dan hasil jarahan.
”Ampun Pak, ampun Pak, kami minta ampun!” mohon mereka bertiga mengiba-iba.
Melihat situasi di atas angin, penumpang yang lain beramai-ramai menggebuki, memukuli, menendangi, menghantami, menjambaki, mencakari, meludahi, dan pada akhirnya membuang ketiga copet itu ke jalanan setelah kondisi mereka tak keru-keruan lagi. Apakah mereka masih bernyawa? Aku tak tahu, semua orang pun tak perduli.
Bus kota terus melaju, seolah tak terjadi apa-apa yang baru saja terjadi. Semua kembali seperti biasa. Ada sesuatu yang tak biasa dari pandangan orang-orang padaku. Aku baru saja dieluk-elukkan oleh mereka bak pahlawan. Mereka, para penumpang mengira aku seorang detektif polisi yang tengah menyamar untuk memberantas aksi-aksi para copet yang memang sudah keterlaluan meresahkan penumpang. Saat aku turun dari bus di terminal Senen, sebagian penumpang memberikan tepuk tangan yang sangat meriah. Hatiku berbunga-bunga adanya.
Dari terminal Senen, aku melanjutkan perjalanan menuju Pasar Baru dengan metromini, sampai di perempatan Pasar Baru aku turun dan berjalan kaki menuju kantorku yang sederhana, yang tampak mungil dihimpit bengkel motor dan Warung Tegal. Sesampainya di kantor, atasanku langsung memerintahku untuk mengambil sebuah paket kiriman barang di sebuah bank yang letaknya tak jauh dari kantor.
Tentu saja dengan cekatan aku berjalan kaki ke arah bank yang dimaksud sembari masih memanggul tas ransel yang di dalamnya terdapat sepucuk pistol yang membuat pagi ini menjadi pagi yang tak biasa-biasa lagi bagiku. Pagi yang manis. Sesampai di bank, aku menunjukkan secarik kertas alamat kepada satpam. Lantas aku dipersilakan menemui seseorang yang mungkin kepala cabang di bank tersebut. Aku masuk ke sebuah ruangan, di sana telah menunggu sang empunya barang yang akan menitipkan barang kirimannya kepada perusahaanku. Seorang perempuan setengah baya yang tampak anggun dengan setelan blazer warna cerah.
Ia menyerahkan sebuah bungkusan kepadaku. Aku menerimanya dengan takzim. Agar barang tak tercecer aku memasukkan dalam ransel, aku membuka ritsleting ransel, pada saat itulah sepucuk pistol yang ada di dalam ranselku loncat, lantas menggelinding di lantai, tergeletak beku.
Dalam sekejap, perempuan itu berteriak-teriak histeris.
”Rampok, rampok, rampoookkkk!”
Sebelum ia jatuh pingsan, aku telah diringkus oleh satpam tanpa perlawanan. Kulihat moncong pistol itu seperti tersenyum padaku. Senyuman yang seperti berkata, ”Sungguh pagi ini, pagi yang luar biasa! ***
Jakarta, 12-12-12
Bamby Cahyadi, lahir di Manado, 5 Maret 1970. Bergiat di Komunitas Sastra Jakarta (Kosakata). Kumpulan Cerpen Terbarunya, Kisah Muram di Restoran Cepat Saji (Gramedia Pustaka Utama, 2012).
DIMUAT DI TRIBUN JABAR, April 2013
Rabu, 19 Desember 2012
Kisah Muram di Restoran Cepat Saji, penerbit Gramedia Pustaka Utama, 13 Desember 2012
Sinopsis : Kisah Muram di Restoran Cepat Saji
Mereka selalu tahu semboyan “pelanggan adalah raja”. Sebuah semboyan yang mendunia, membumi, baik di restoran kaki lima sampai restoran mewah di hotel berbintang lima. Ia pun melayani raja-raja itu dengan cekatan, cepat, dan tentu saja ramah. Bukankah ia pelayan di sebuah restoran cepat saji? Semua harus cepat dihidangkan, menu harus masih panas dan segar, kalau tidak, raja akan mengeluh dan marah. Apabila raja mengeluh apalagi marah-marah, maka manajernya akan memberikan sepucuk surat cinta bernama surat peringatan. Mengerikan!
Sementara di Indonesia, orang mau makan suka kebingungan sendiri ketika sudah berada di depan meja kasir. Mereka terlongo-longo sambil bergumam, mau makan apa ya aku? Mau makan saja bingung dan harus berpikir, bagaimana memikirkan negara yang makin korup. Berpikir soal makan saja kelimpungan.
Cerita “Kisah Muram di Restoran Cepat Saji” menampilkan potret mengejutkan dari balik dapur restoran yang selama ini tidak kita ketahui. Bersama empat belas kisah lain, buku ini menampilkan karya Bamby Cahyadi dalam beragam tema juga gugatan penulis terhadap ketimpangan sosial yang terjadi di sekitar kita. Kepiawaian Bamby memilih simbol dan memainkan imajinasi menunjukkan bahwa kisah-kisah di buku ini tidak dimasak a la cepat saji namun telah dipersiapkan dengan matang.***
Senin, 22 Oktober 2012
Malaikat Mungil dan Perempuan Lolipop
Malaikat Mungil dan Perempuan Lolipop
Oleh: Bamby Cahyadi
Tak ada cara terbaik menikmati perjalanan selain membiarkan dirimu tersesat. Ketika berhadapan dengan jalan yang tampak tak berujung dan jembatan serupa yang membingungkan. Terus saja berjalan. Setiap belokan setiap sudut, menghadirkan misteri tersendiri. Tersesat adalah anugerah, karena dirimu tak tahu apa yang menanti di balik tiap kelokan. Bukankah begitu dengan kehidupan, bahkan kematian sekalipun?
Menjelang Kematian
Perempuan bertubuh mungil ini mungkin salah satu malaikat pencabut nyawa yang modis, keren dan jauh dari kesan seram yang dikirim Tuhan. Ia kini duduk di sofa depan televisi di apartemenku dengan rambut pixie cut yang ikonik, ia telah mencuri perhatianku.
Aku masih tak percaya. Ia datang dengan rambut pendek nyaris cepak, lengan bertato, kaus tak berkerah dengan bentuk yang unik, persis permen. Mulutnya kini penuh mengunyah croissant yang belum sempat kusantap.
Ia mempresentasikan dirinya sebagai gula-gula, maka tak cukup mengejutkan ia memakai kaus yang menyerupai permen. ”Semua orang menyukai permen!” teriaknya lantang, ketika aku mengomentari soal busananya. Aku terkaget-kaget mendengar suaranya yang nyaring, tak sesuai dengan bentuk tubuhnya yang mungil.
Ia menatapku lekat.
”Apakah kamu tahu, kalau daddy longlegs adalah laba-laba paling beracun di dunia?” tanyanya sambil melebarkan matanya yang bulat. Ia berkata sambil meneguk kopi dari cangkirku yang belum kusentuh. Meskipun ia mengaku punya ketakutan tersendiri terhadap spesies berkaki delapan itu. Tapi ia menikmati pembicaraan tentang itu. Kami sudah mengobrol soal arachnids. Selanjutnya sedikit soal sastra dan parfum.
Aku hanya terpana. Mengapa ia bicara tentang laba-laba? Kenapa pula malaikat ini takut pada laba-laba? Aneh.
”Giginya terlalu kecil untuk menembus kulitmu, artinya ia tidak bisa menyebarkan virus ke dalam tubuhmu. Tetapi kalau ia menggigit tubuhmu di luka terbuka, kamu bisa meninggal seketika,” dia tertawa terbahak-bahak. Lucu dan menggemaskan cara dia tertawa.
Aku kini terpesona. Malaikat macam apa si Cepak ini?
”Aku tidak tahu secepat apa kamu mati. Aku mungkin berbohong soal itu,” ia kembali terkekeh melanjutkan kata-kata.
Aku tersenyum-senyum sendiri. Faktanya, ia memang sedang mengarang sebuah cerita. Semua itu, atau paling tidak hal itu benar bagi seseorang yang berhasil dikelabuinya. Tidak bagiku.
Aku masih tersenyum-senyum melihat malaikat aneh ini berbicara.
”Sudahlah, kita akan pergi ke lapangan berlumpur, minum bir sambil tertawa kencang, bermain bola lalu pulang ke apartemenmu dalam keadaan jorok dengan pakaian penuh noda lumpur,” celotehnya, membuyarkan gerombolan balon-balonan sabun di atas kepalaku.
Aku tergeragap dibuatnya.
”Apartemenmu sedikit berantakan, tidak seperti dalam gambar yang pernah kau kirimkan padaku,” ujarnya. Bicara apa lagi ia?
”Kamu suka membaca?”
Aku mengangguk. ”Buku-buku sastra klasik, macam Leo Tolstoy, Jorge Luis Borges dan Gabriel Garcia Marques, ” jawabku kalem menyebut sejumlah nama.
”Menarik!” Ia berdecak. Lalu ia melanjutkan, ”Kamu pasti tahu, bahwa cerpen Gabriel Garcia Marquez, atau yang lebih baru Roberto Bolano, itu sudah terbit dalam bentuk buku, saking menariknya, diterbitkan lagi di majalah New Yorker.”
”Oh ya?”
”Tak usah jauh-jauhlah, cerita AS Laksana yang dimuat bersambung di koran, lalu dimuat lagi sebagai cerpen di Koran Tempo. Artinya, karena cerita itu menarik untuk dibaca!”
Aku mengangguk-angguk. Ia pasti banyak membaca, pikirku praktis saja.
Ia tiba-tiba mengendus-endus, cuping hidungnya merekah.
”Hei, kamu memakai Hugo!”
”Dari mana kamu tahu?”
”Ya, ampun... Kamu memakai parfum bermerek Hugo, parfum itu merupakan percampuran sentuhan modern dan klasik, meyegarkan sekaligus maskulin, hmmm...,” ia mengendus lebih dekat dan dalam di bawah ketiakku. Membuatku kikuk. Meski ia benar-benar malaikat, ia kan perempuan.
”Aromanya diawali dengan harum ice cold mint kemudian bersambung ke freesia dan basil. Dan diakhiri dengan molekul musk cashmeran, woody dan wangi rempah-rempah. Sempurna. Aku suka lelaki berparfum, wangi!” pungkasnya. Ia menyentuh ujung hidungku dengan telunjuknya yang lentik.
“Jadi kamu benar-benar malaikat, ya?”
”Ya, ampun... Kamu belum percaya?” Matanya melotot menatapku.
”Aku heran saja,” ucapku pelan.
”Aku ke sini untuk mengambil nyawamu, tapi kamu tak akan mati digigit laba-laba yang kuceritakan tadi,” ujarnya tersenyum misterius.
Saat ini, aku besama perempuan bertubuh mungil dengan kaus serupa permen. Ia mengajakku bermain bola di lapangan berlumpur dan minum bir. Aktivitas menjelang ajal yang benar-benar aneh.
Lamat-lamat kulihat dari lengannya yang bertato, terbentuk serumpun bulu-bulu unggas yang terus mengembang menjadi sepasang sayap yang kokoh. Sayap itu lantas mengepak-ngepak membawaku entah kemana... Sebentar! Ia membawaku ke sebuah kafe.
Setelah Kematian
Pernahkah kamu melihat seorang perempuan muda yang tampak begitu rapuh? Pernahkah kamu melihat seorang perempuan yang tampak begitu kesepian? Perempuan itu, duduk sendirian di satu sudut gelap di sebuah kafe sambil menjilati permen lolipop kegemarannya. Ujung lidahnya bergerak-gerak pada permen berwarna-warni itu. Dia menjilati lolipopnya, menikmati rasa buahnya, sembari berpura-pura tak memikirkan apa pun.
Tapi kepura-puraan tak memikirkan apa pun tak bisa meredam kecamuk yang berdesak-desakkan dalam syaraf otaknya. Kecamuk itu tergurat jelas pada wajahnya yang muram. Perempuan itu sebenarnya berwajah cantik, tapi kemuraman menutupi pesona keayuannya.
Kabut hitam menyelubungi pikirannya, mengunci benaknya hingga terpusat hanya pada satu hal: Kematian.
Pikirannya melesat bagai peluru yang meletus menembus seluruh bagian-bagian tubuhnya. Menyeruak melewati langit-langit kafe hingga lepas menghujam atap. Meledak.
Dalam keremangan pandangan yang samar-samar lantaran cahaya lampu yang minim dan tertutup asap rokok yang diembuskan oleh mulut seluruh pengunjung kafe, dia melihat ruhnya lepas dari tubuhnya dan terbang ke langit. Dia ingin mengejarnya, tapi tak dilakukan. Bukankah kini dia menjelma sebagai ruh yang keluar dari tubuhnya dan terbang ke angkasa?
Dia gembira bukan kepalang menyadari dia bisa terbang, mengapung-apung di angkasa. Serasa mimpi memang, tapi ini nyata. Dia terbang. Dia melesat dengan kecepatan tinggi bagai kilat halilintar. Ketika itu dia melihat rembulan begitu benderang. Bulan tampak lebih besar, lebih emas dan begitu dekat. Tatapan matanya menjelajahi tubuh rembulan, sepertinya dia ingin menelanjangi tubuh bulan. Seharusnya dia tak menatapnya seperti itu, karena bulan tak pernah mengenakan baju apalagi celana. Lagi pula, bulan belum tentu berkelamin.
Perempuan itu ingin menuju matahari, namun dia mengendus sesuatu. Wangi bunga melati tercium tajam di udara, nyaris memabukkan dirinya. Dia merasa aneh, kenapa tiba-tiba dia mencium aroma wangi melati di langit malam. Sejenak dia tercenung. Merenung sebentar, lantas dia teringat halaman yang dipenuhi oleh bunga-bunga itu. Pemakaman.
Wangi melati menggiringnya menuju sebuah apartemen dengan atap yang luas di pusat kota yang hiruk-pikuk. Dia memperlambat laju terbangnya, lantas dengan hati-hati dia mendarat di atap salah satu apartemen itu.
Napasnya sesaat tercekat di paru-parunya, dan dia bergidik. Dia mendengar suara tangisan para perempuan, batuk para manula, dan bunyi langkah kaki telanjang hilir-mudik dari dalam apartemen itu. Orang-orang melantunkan ayat-ayat suci dan bergumam-gumam merapal doa-doa berbaur dengan aroma tubuh manusia. Bau parfum yang membuai, bau ketiak yang menusuk dan bau kemenyan yang mistis.
Perempuan itu menerabas pintu apartemen yang terkuak. Melewati kerumunan orang-orang, hingga tatapan matanya menancap pada sebuah tubuh yang telah dikafani. Wajah pemilik tubuh yang telah membeku itu sangat dia kenali.
Dia mengertakkan rahangnya berusaha memendam rapat kata-kata yang ingin diteriakkannya. Dia mengerjapkan matanya. Matanya hitam, bagai sepasang kolam tak berdasar. Matanya menusuk bagai hendak menembus tubuh tak berjiwa yang terbujur di hadapannya.
”Mati main bola,” seseorang berbisik kepada seseorang yang baru saja tiba di ambang pintu apartemen.
”Bukan, kebanyakan minum bir,” bisik yang lain.
Perempuan itu melihat kelebatan cahaya berwarna putih dengan cepat menyelinap keluar apartemen menuju langit malam. Dia dengan sigap mengikuti kelebatan cahaya berwarna putih itu. Kelebatan cahaya itu menuju sebuah kafe.
Perempuan itu tertegun.
Di panggung kafe, liukan tubuh perempuan penyanyi kafe senada dengan irama musik yang berdentam menggelegar, penyanyi itu mengangkat tangannya ke atas kepala, lalu dia menggerakkan tangannya menyisir rambutnya yang panjang tergerai bergelombang menuruni punggungnya.
”Jakarta digoyaaaaannngggg!!!” Jeritnya histeris. Perempuan penyanyi itu mengajak pengunjung kafe bernyanyi dan berjoget bersamanya.
Musik berdentum-dentum keras melatari pembicaraan beberapa pengunjung kafe yang tengah menikmati malam minggu.
Di sebuah sudut gelap kafe, duduk sendirian perempuan yang terlihat berwajah muram, sedang menjilati permen lolipopnya, sembari sesekali dia menenggak sebotol minuman bersoda.
Aku mendekati perempuan yang kesepian itu, untuk sekadar memberi kehangatan dan gurauan agar ia tak bersedih. Perempuan itu mengendus. ”Wangi Hugo,” gumamnya.
”Ya, aku di sini,” sergahku.
Perempuan berwajah muram itu tetap saja dalam diam. Tetap saja menjilati lolipop. Tetap saja mencengkeram leher botol minuman bersoda. Dan menangis. Perempuan lolipop itu kekasihku. Bulan depan kami berencana menikah.
”Mana si Mungil?”
Sedikit menoleh ke belakang. Dari arah toilet perempuan bertubuh mungil dengan rambut pixie cut yang ikonik, datang mendekat. Dia telah mencuri segenap perhatianku, bahkan nyawaku. Dia memberi isyarat dengan kedipan mata, agar aku segera mengikutinya. Perjalanan sepertinya segera dimulai.
”Ke mana?”
”Main bola!”
”Dan, minum bir, ha.. ha.. ha..!” ***
Jakarta, 11 Juni 2012
Bamby Cahyadi, lahir di Manado, 5 Maret 1970. Bergiat di Komunitas Sastra Jakarta (Kosakata). Kumpulan Cerpennya Tangan untuk Utik (Koekoesan, 2009)
Dimuat di Jawa Pos
Langganan:
Postingan (Atom)


