Kamis, 18 Agustus 2016

CERITA PENDEK BELUM SELESAI [dimuat di Tribun Jabar 22 Mei 2016]

Dimuat di Tribun Jabar (22 Mei 2016)

 

CERITA PENDEK BELUM SELESAI

Oleh: Bamby Cahyadi

 

1

Sebagai seorang penulis cerpen yang tidak begitu produktif, terkadang kehidupan saya ini begitu membosankan. Saya tidak memiliki suatu tempat yang nyaman untuk melakukan aktivitas menulis. Saya pun menulis sedikit-sedikit dan pendek-pendek. Ingin sekali menulis panjang, lantas jadi novel. Namun begitu, dalam benak saya sering melintas dan berlompatan imajinasi tentang gambaran suatu peristiwa yang sekonyong-konyong muncul minta dibikin cerita.

Maka apabila berkesempatan saya tuliskan peristiwa tersebut, meski nantinya tidak selesai. Contohnya seperti ini:

 

Aku memandang sinar-sinar lampu stasiun yang berpendar-pendar di antara tiupan angin malam yang lembut, aku merasakan semua suasana ini seolah-olah memanggil-manggil diriku.

Mendadak tiupan angin berubah mengeras dan berputar-putar menyapu dedaunan yang gugur di permulaan musim hujan, menimbulkan suara gemerisik yang cukup mencekam. Awan-awan tebal tetap menyembunyikan rembulan seolah mencegahnya menyaksikan kejadian yang sebentar lagi akan berlangsung.

Awan-awan rendah menyelimuti suasana tengah malam ini, seakan-akan meredam gaungan lonceng yang berdentang-dentang 12 kali.

Hari ini hari yang suram dan penuh kabut. Cuaca berkabut seperti ini biasanya terjadi setiap tahun di desa kami. Menuju ke desa kami yang terletak di titik pertemuan dua sungai, jalan yang harus dilalui begitu turun naik dan berliku-liku menembus lereng-lereng perbukitan dengan jurang-jurang curam dan dalam di kanan dan kiri jalan. Para pengendara kendaraan yang menempuh jalan tersebut harus selalu ekstra hati-hati.

Berbelok ke kiri mengelilingi dasar sebuah gunung yang cukup tinggi dengan tebing curam di sebelah kanan jalan yang diberi pagar berupa tonggak-tonggak kayu penyelamat, sekaligus pembatas. Begitu melewati punggung gunung, langit di sebelah kananku sekonyong-konyong dipenuhi warna merah terang menyala dan tampak berkobar-kobar.

Sewaktu aku terbangun keadaan di sekelilingku tampak gelap gulita dan aku mulai menyadari bahwa diriku berada dalam sebuah kendaraan yang sedang bergerak. Tanganku terikat di belakang badanku dan begitu juga kedua kakiku. Aku ingin sekali berteriak.

“Kalau kamu melakukannya aku akan menyumbat mulutmu!” Terdengar suara lantang dari kursi kemudi, seolah ia tahu jalan pikiranku.

 

Nah, biasanya setelah itu, saya bingung sendiri untuk menulis kelanjutannya dan mengatur alur cerita ini untuk dituntaskan.

 

2

Beberapa novel atau cerpen terjemahan yang saya baca (saya tidak membaca buku dengan teks bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya), saya sangat menyukai sebuah cerita dengan suasana musim salju. Terkadang saya suka berkhayal, alangkah bahagianya apabila Indonesia memiliki musim dingin yang bersalju, akan banyak penulis yang akan bercerita dengan latar musim dingin bersalju ketimbang musim hujan dan senja.

Saya pun seperti latah, mencoba menulis sebuah cerita dengan lokasi di sebuah hotel pada sebuah musim salju entah di mana.

 

Pada suatu hari kegelapan musim salju jatuh lebih awal. Saat ini senja di luar, ketika pintu hotel didorong terbuka dan seorang lelaki muda berjalan masuk. Ia baru saja menembus deruan salju di luar sana. Pegawai hotel mendongak melihat lelaki itu berhenti tepat di tengah lobi hotel sambil menyentakkan kakinya dan mengibaskan sisa-sisa butiran salju yang menempel di jas lelaki itu.

Ia seorang lelaki muda yang tampan, dengan pakaian yang rapi, sesuatu yang menambah keperlenteannya adalah cambang yang rapi di kedua sisi dekat telinga. Penampilan lelaki itu cukup menimbulkan rasa segan bagi pegawai hotel tersebut.

 

Ya, begitu saja. Kapan-kapan cerita ini akan saya lanjutkan apabila “perlu” bukan “mau”. Maksud saya, apabila saya perlu uang tambahan untuk hidup saya.

3

Untuk membuat saya ada, maka saya menulis. Menulis status di media sosial pun tidak masalah. Karena sekadar membuktikan, “Saya ada lho!” Masalahnya, saya menulis status apabila ada sesuatu hal yang memang benar-benar saya pikirkan dan ingin saya ceritakan. Buah pikiran saya memang tidaklah penting-penting amat. Hanya saja apabila tidak saya tuliskan mengakibatkan rasa penasaran tentang sesuatu yang saya pikirkan itu akan menghantui.

Tentu sebagian besar dari kaum lelaki pernah bermasturbasi, saya pun demikian adanya. Pengalaman pertama tentu saja tak akan terlupakan. Terus terang saya ingin ceritakan saat-saat pertama melakukannya. Dan saya tuliskan begitu saja.

 

Napasku berembus cepat dalam kesunyian, dan yang bisa kulakukan adalah menutup mata. Satu sentuhan tanganku pada batang kemaluanku hampir meledakkan jantungku. Denyut jantungku berdentam-dentam di dalam dada. Aku tidak pernah merasakan gairah semacam ini. Aku merasakan gelombang kenikmatan yang begitu intens dibandingkan apa pun yang pernah aku rasakan sepanjang hidupku. Rasanya begitu sempurna disentuh seperti ini, tanganku membelai kemaluanku sendiri. Sebuah pelepasan memancarkan kemana-mana. Aku merasakan kepuasan itu dari ujung-ujung jari kaki hingga ke ubun-ubun kepala.

 

Ada hal yang luput dari saya, teman-teman di media sosial tidak melulu isinya manusia dewasa yang cukup paham akan isi tulisan saya. Ada juga beberapa bocah yang mendadak terangsang setelah membaca status saya itu, ketika itu saya merasa sangat bersalah.

 

4

Saya bekerja di industri makanan cepat saji. Untuk mendapatkan hari libur yang tepat atau mengambil masa cuti yang pas bukanlah perkara mudah. Kami harus menyesuaikan jadwal libur atau cuti dengan hari-hari sepi, atau bulan-bulan sepi di mana tidak ada transaksi penjualan yang signifikan terjadi di restoran.

Jadwal kerja yang padat seringkali menimbulkan keluhan-keluhan tak berguna. Karena meskipun mengeluh, toh pekerjaan ini tetap saya lakoni dengan penuh hati. Beruntung saya penulis, sebagai ungkapan keinginan untuk berlibur, jadilah sebuah cerita yang imajinatif.

 

Hal terakhir yang aku ingat adalah wajah perempuan itu yang mendekat, dan sepertinya ia mengedipkan sebelah matanya. Ia menggelengkan kepalanya. Ia berkata sesuatu, tapi suaranya terdengar sangat jauh.

Hal terakhir yang aku lihat, pola renda pada celana dalam perempuan itu akan maninggalkan tanda pada bokongnya dan melekat dalam ingatanku. Ia memakai bra biru dengan warna senada, dan tank top warna putih yang berpotongan sangat rendah sehingga memperlihatkan sebagian besar hiasan pada bra-nya.

Aku merasa bagai sebuah boneka bertali yang tiba-tiba dipotong benangnya. Tubuhku terkulai. Tidaklah gampang menjelaskan kepadanya mengapa aku perlu pergi dari tempat ini ke suatu tempat di tempat lain. Kali ini aku hanya mengatakan kepadanya bahwa aku ingin sekali berlibur. Berlibur ke suatu masa,  entah kapan?

 

NB: Tank top, bra dan celana dalam perempuan sesungguhnya sumber inspirasi bagi saya. “Itu pikiran cabul!” kata istri saya, ketika membaca sepenggal cerita tak selesai ini.

 

5

Kata siapa, saya suka hari Senin? Meski bagi saya pergantian hari dari minggu ke bulan ke tahun sama halnya dengan manusia yang bernapas secara terus menerus, bagi saya hari Senin adalah awal tumpukan masalah. Membuat hari Senin-mu indah, bacalah sepotong kalimat ini:

 

Hari Senin. Pada pagi hari orang-orang bergegas berlalu-lalang menuju suatu tempat. Dari dalam kendaraan berkelebatan kata-kata samar pada papan-papan iklan dan nama-nama toko yang dituliskan warna-warni. Pada malam hari, cahaya lampu dari kendaraan bermotor memendar menimbulkan bayangan-bayangan aneh namun hidup.

Kadang-kadang di antara jam 9 dan 10 pada pagi hari yang sama, seorang tukang cukur duduk-duduk di kursi cukur dalam ruangannya di jalan Tebet Raya, ia duduk sambil membaca koran dengan gaya malas-malas. Sesekali ia memandang keluar jendela, melempar pandangan mencari pelanggan. Seorang lelaki muda tiba-tiba saja sudah masuk dengan perlahan-lahan sehingga tukang cukur itu tidak menyadari keberadaannya dan tidak mendengar pintu ruang cukur dibuka seseorang. Lelaki muda itu berkulit putih dengan cambang dan kumis yang tampak tak beraturan, juga rambut yang tak rapi, sehingga memang sepertinya perlu dipangkas. Tukang cukur melonjak dan terburu-buru menyambut pelanggan dengan sopan. Ia berhenti dari keasyikan baca koran sambil duduk malas-malas, ia kini sibuk bekerja memangkas rambut dan merapikan cambang serta kumis pelanggannya itu.

 

Seperti biasa, saya bingung sendiri untuk menentukan kelanjutan cerita. Bagaimana plot cerita nantinya akan menghadirkan karakter pada tokoh cerita. Jangankan mengembangkan plot dan tokoh, melanjutkannya saja, malasnya minta ampun. Ya, itulah sebab saya kerap menghasilkan cerita-cerita gagal yang tak pernah selesai, yang kini tengah Anda baca.

 

6

Bagian ini bukan cerita gagal, akan tetapi sebuah curhat. Agar seolah-olah ini bagian dari cerita, maka saya miringkan saja font tulisan ini.

 

Aku tidak pernah punya ambisi dalam kesusastraan. Demi Tuhan, seandainya seseorang menyarankan aku untuk menjadi penulis yang menulis tentang lokalitas (kearifan lokal) atau cerita berlatar belakang budaya tradisional suatu daerah tertentu, aku akan menertawakan diriku sendiri dan si pemberi saran itu. Maaf, aku hanya bercanda. Alasan yang paling masuk akal, aku tak menulis tentang kearifan lokal, karena aku tak menguasainya. Meski hal itu menjadi kekuranganku selaku penulis tentunya. Aku menulis dan bercerita tentang sesuatu yang benar-benar aku ketahui. Itulah realitanya, sejak kecil hingga dewasa, aku tidak pernah menetap untuk periode waktu yang lama di suatu daerah atau tempat, sehingga aku tak mahir bertutur soal kearifan lokal.

Banyak penikmat sastra yang sering berseloroh gaya prosaku, termasuk para redaktur, tema cerpen yang kutulis dan suguhkan. Mengejek dengan halus bahwa aku penulis yang lugas, padahal maksudnya adalah aku miskin diksi dan metafora. Apakah benar? Setidaknya hal itu memicuku untuk selalu belajar, belajar dari siapa saja. Memperbanyak membaca buku sastra dan teori-teori kesusastraan yang memang belum kukuasai secara paripurna.

 

Saya memang menulis dengan hanya mengandalkan segenap kenangan, kesenangan, sedikit talenta untuk bergenit-genit dan menguji intuisi otak saya agar terus perpikir agar tidak menjadi gila atau bunuh diri. Padahal saya takut mati. Ha..ha..ha! ***

 

Jakarta, 02-02-2016

 

Bamby Cahyadi. Lahir di Manado. Berkerja di sebuah restoran cepat saji di Jakarta. Kumpulan Cerpen terbarunya, Perempuan Lolipop (2014).

Tidak ada komentar: