Kamis, 24 April 2014

pemuda penjaga lift

PEMUDA PENJAGA LIFT

Seperti pagi kemarin, saya melihat kamu sudah berada di lobi apartemen ini. Setelah mengganti bajumu dengan seragam, yang menurut saya lucu dan aneh, lalu kamu mengisi buku dan kartu absensi. Kamu telah bersiap untuk bertugas. Pagi ini saya kira, sama saja dengan pagi-pagi sebelumnya. Pagi yang kering dan membosankan. Sudah lama air hujan malas turun sekadar menyejukan tanah dan aspal yang kering korantang ini. Beruntung kita berada di dalam apartemen berpenyejuk udara ini, sehingga terik matahari tak terasa menyengat di sini.

“Selamat pagi, ke lantai berapa
, Pak?” Tanyamu dengan nada suara yang sangat sopan pada seorang lelaki berpakaian safari rapi, necis dan perlente. Kini kamu telah berada di dalam lift, mengerjakan rutinitasmu, menjaga lift. Tugasmu sederhana memang, hanya bertanya dan membantu orang yang keluar-masuk lift untuk mengantar mereka ke lantai yang mereka kehendaki.


Lelaki itu kemudian memperlihatkan lima jarinya tangannya tanpa bicara. Kamu rupanya sudah paham, tombol lift kamu pencet angka 5. Kamu selalu berpenampilan rapi, rambutmu selalu tersisir dengan sedikit minyak rambut yang membuat rambutmu berkilau
dan mengilap apabila tertimpa cahaya lampu lift. Mengingatkan saya pada tokoh-tokoh film di tahun enampuluhan.

Lantas kamu terlibat percakapan basa-basi dengan lelaki perlente itu.
Saya dengar ia akan mengunjungi sanak keluarganya yang tinggal di sini. Pembicaraan kalian terhenti, ketika di lantai 2, lift berhenti. Beberapa orang masuk bersamaan, mereka hendak menuju lantai paling atas. Di atas atap apartemen ini terdapat kolam renang yang cukup besar. Mungkin mereka mau berenang pagi ini di sana.

Ya, kamu juga selalu tersenyum ramah kepada setiap orang yang menggunakan lift ini. Setiap hari. Mungkin di setiap shift-mu karena pasti kamu pun membutuhkan libur untuk mengatasi kebosanan menjaga lift, dan rutinitas bertanya ke lantai berapa ke setiap orang yang menggunakan lift di apartemen ini. Rutinitas yang membosankan,
saya pikir. Namun, kamu menjalaninya dengan senang hati. Itulah, makanya saya sangat suka memperhatikan kamu.

Sudah lama
saya ingin berkenalan dengan kamu. Ingin sekali saya bertanya tentang minyak rambutmu yang membuat rambutmu menjadi licin berkilau dan mengilap seperti sepatu yang baru saja disemir. Selain itu saya sangat tertarik dengan ketulusan hatimu, menjalani profesi sederhana ini dengan sabar, yang kukatakan membosankan ini. Karena dari semua karyawan bagian servis di apartemen ini, cuma kamu yang sangat bersahaja.
***
Hari ini, kamu tidak berada di dalam lift ini. Seorang
perempuan muda yang menjaganya, mungkin kamu libur. Perempuan muda itu tidak seramah kamu. Senyumannya menyerupai sebuah sunggingan bibir yang dipaksakan. Mirip menyeringai, tidak tulus. Sepertinya ia sangat terpaksa dan tertekan menjalani profesi menjaga lift daripada tidak bekerja sama sekali. Tidak sepertimu yang begitu tulus melakukan pekerjaanmu.

Terkadang
perempuan muda penjaga lift penggantimu itu, pura-pura sibuk ketika ada orang yang masuk ke dalam lift. Saya tahu, ia hanya malas membuat sebaris senyum di bibirnya. Heran juga ia bisa diterima dan bekerja di sini.

Wahai pemuda penjaga lift, sudah hampir sebulan kamu tidak menjaga lift dan sebulan ini beberapa petugas pengganti silih berganti. Kamu kemana? Apakah kamu sakit? Ataukah kamu mendapatkan pekerjaan baru?
Saya kok rindu kamu.

Ya, sungguh tak menyenangkan menyambut pagi tanpa kehadiran kamu. Lobi apartemen terasa hampa. Rasanya,
saya berada di apartemen asing. Sungguh suasana seperti ini membuat saya merasa melankoli.

Terus terang, ingin sekali
saya bertanya kepada temanmu, perempuan muda yang sekarang menjadi penjaga lift ini. Sebab sudah sebulan kamu tidak bertugas. Tetapi tentu tidak saya lakukan, saya tidak mau semuanya berubah menjadi runyam dan kacau. Selain itu, saya tidak suka dengan perempuan muda yang berwajah masam itu. Lebih baik saya tak menegurnya saja.

Pagi ini suasana lobi apartemen terasa sangat sepi dan begitu lengang. Aktivitas apartemen belum dimulai, seperti biasa
saya berjalan memasuki lift dengan langkah gontai hendak menuju kamarku. Berharap-harap cemas, dirimu hadir di sini. Bertemu dengan kamu dan memperhatikanmu diam-diam. Oh, saa suka sekali melakukannya.

Aha…!
Saya sangat senang dan gembira sekali. Girang sekali hati saya, hampir menjerit-jerit saya. Pagi ini saya menemui kamu berada di dalam lift dan sudah bertugas kembali. O Tuhan, terimakasih. Harapam saya bisa melihatmu di pagi ini terkabul. Saya sangat gembira, saya kira telah berlonjak-lonjak saking girangnya. Rona pipi saya jadi memerah malu.

“Mau ke lantai berapa Mbak?” tanyamu dengan suara yang sangat ramah.
Saya terkejut bercampur bahagia kamu sudah menjaga lift lagi. Sambil memandang heran padamu, saya mengacungkan kesepuluh jariku tepat di depan wajahmu. Meniru gerakan lelaki perlente bersafari yang saya lihat bulan lalu. Saya ke lantai 10. Kamu memencet tombol angka 10. Saya masih tak percaya, kamu bertanya kepadaku. Sungguh kamu bertanya pada saya.

Saya bingung mau mengajakmu bercakap-cakap. Saya lihat kamu juga terlihat malu-malu di hadapan saya. Sesekali kamu melirik saya. Dan saya pun melirik kamu. Ketika saya hendak berkata-kata mengajakmu bicara.

Tiba-tiba lift mendadak berhenti di lantai 5 padahal tidak ada seorang pun yang berhenti untuk keluar ke lantai 5. Pintu lift terbuka, meninggalkan suara denting. Masuklah perempuan muda penjaga lift penggantimu itu, ia bersama temannya, tetapi mereka tidak menegurmu. Kamu pun diam saja tidak menegur mereka. Saya dan kamu terdiam dalam bisu, hanya teman-temanmu yang berbicara. Pembicaraan mereka tampak sangat serius.

“Sudah sebulan
saya bekerja di sini, baru kali ini saya merasakan bulu kuduk berdiri dan merinding seperti ini,” kata perempuan muda itu kepada temannya dengan ekspresi seperti orang yang ketakutan.

“Ya,
saya juga merasakan hal yang sama, tenguk saya tiba-tiba merinding,” balas teman perempuan muda itu sambil bergidik dan memegang lehernya sendiri. Rupanya bulu kuduknya meremang.

“Apa mungkin rohnya si Markum penjaga lift yang meninggal kecelakaan motor sebulan yang lalu sedang gentayangan di sini ?” lanjut
perempuan muda penjaga lift itu kepada temannya sambil memencet tombol lift ke lantai dasar.

Saya tersentak, kaget minta ampun, saya mengalihkan pandangan padamu. Kamu tertunduk seperti merahasiakan sesuatu.

“Mungkin saja. Dulu juga waktu seorang gadis bunuh diri loncat dari lantai 10. Dan tubuhnya hancur di halaman parkiran, di lift ini sering terjadi sesuatu yang aneh-aneh dan menyeramkan,” kata teman
perempuan muda penjaga lift sambil masih memegang-megang tenguknya.

“Kenapa gadis itu bunuh diri?” Tanya wanita muda itu.

“Katanya sih, gadis itu kesepian. Orangtuanya memberikan fasilitas apartemen, tetapi mereka tidak pernah menjenguk gadis itu,” jelas temannya dengan bibir bergetar ketakutan.

“Iya, ya, bisa jadi si Markum lagi gentayangan di sini. Dia khan, meninggal
duna saat mau menuju ke sini untuk menjaga lift ini. Hiiiiiih!” Kedua perempuan itu menjerit dan buru-buru ke luar dari lift ketika sampai di lantai dasar.

Terus terang
saya sangat terkejut mendengar pembicaraan mereka. Pandanganku beralih lagi kepadamu yang sedang berdiri manis di pintu lift sambil tersenyum, kamu mengangguk-angguk kepala seraya mengangkat bahumu menatapku. Kamu bernama Markum. Pantas kamu bisa menegur saya pagi ini.***

Jakarta, 29 Juni 2008

Minggu, 20 April 2014

Kamu Bisa Mati di Mana Saja

Kamu Bisa Mati di Mana Saja.

Bisa saja kamu mati tertimpa atap supermarket yang runtuh. Siapa yang tahu? Kamu suka sekali belanja, suka sekali menjelajahi mal-mal dan supermarket besar di kota ini. Banyak bangunan di kota ini yang dibuat dengan kesalahan desain dan kualitas konstruksi yang jelek. Kamu mungkin tak mati dengan kepala remuk, namun karena kamu terperangkap dan pencarian atas dirimu bergerak lambat, kamu mati kehabisan napas.

Bisa jadi kamu mati saat berkendara dengan mobil keluaran terbaru di atas jalan beraspal yang mulus. Bukan akibat tabrakan beruntun. Tapi lantaran pipa gas negara yang dibenamkan di ke dalaman tanah di atas jalan mulus di mana kamu melintas itu tiba-tiba meledak. Pipa gas milik negara di kota ini bisa saja sudah keropos, akibat tekanan yang terlalu tinggi, meledak! Kamu tergolek bersama mobilmu yang hancur. Tubuhmu juga hancur tentunya.

Kamu bisa saja mati saat sedang asyik menikmati wisata kuliner di warung makan pinggir jalan di daerah pegunungan di kota ini. Kamu bukan mati karena serangan jantung, akibat sumbatan kolesterol pada pembuluh darahmu. Dikarenakan ada truk pasir naas yang kehilangan kendali akibat rem blong, truk tersebut menyeruduk warung makan dan menghunjam tubuhmu hingga tewas. Saat itu kamu masih menguyah sate kambing kegemaranmu. Lalu truk itu terbakar, warung makan itu juga ikut terbakar. Api berkobar mengulum tubuhmu hingga menjadi serupa sate kambing dalam kunyahanmu.

Kamu bisa mati di mana saja. Dalam tidur dan mimpimu sekalipun.


Aku, Ibu dan Kisah Pembunuh (Cerpen, Jurnal Nasional, 20 April 2014)

Aku membunuh ibuku karena aku mencintainya. Orang-orang–termasuk Anda–pasti akan bertanya, kenapa? Aku sendiri bertanya-tanya, kok bisa? Manusia macam apa aku ini? Teganya aku melakukan terhadap orang yang begitu aku cintai.
            Baiklah. Aku ingin menceritakan semua tentang ibu agar  orang-orang–termasuk Anda–mengerti kenapa aku membunuhnya. Aku yakin, ibu tak keberatan, bahkan ia tak berkeinginan aku berbohong. Biarlah kisah ini menjadi semacam kesaksian.
***
            Ibuku seorang perempuan berwajah cantik. Tubuhnya langsing dan sintal. Payudaranya kencang bagai menuding langit. Lelaki manapun akan menelan ludah ketika mata-keranjang mereka bertancapan pada kemolekan tubuh ibu. Rambutnya tebal dan panjang, tentu saja menimbulkan keindahan tersendiri saat rambutnya tersibak kesiur angin. Eksotis! Begitu komentar fotografer yang suka memotret ibuku. Ia tampak bugar dan lebih muda dari usianya yang sudah kepala empat, karena ia rajin memelihara kecantikannya, secara teratur ia mendatangi pusat-pusat kebugaran, kelas yoga, salon-salon kecantikan, spa dan sauna. Selain selalu tampil cantik dan rapi, ia juga perempuan yang suka tantangan.
            Ibu adalah seorang yang sangat bergairah dalam menjalani kehidupannya, walaupun jalan hidupnya tak begitu mulus. Ia menjadi istri ketiga dari seorang ulama sekaligus pengusaha besar di negeri ini. Ulama itu ayahku. Tapi kelihatannya ia bahagia-bahagia saja menjalani kehidupan sebagai madu lelaki yang sebenarnya doyan kawin itu, kalau tak salah–aku pun tak tahu persis–ayahku mempunyai sembilan orang istri. Ibuku tak mempermasalahkan, berapa banyak istri-istri suaminya itu, karena ia selalu berhasil memperoleh berapa banyak uang-uang yang ia inginkan dan pasti selalu digelontorkan ayahku.
            Dari beberapa istri-istri ayah yang kukenal,  ibu adalah perempuan yang paling kuat dan dengan lihai mengatur jalan hidupnya sendiri. Ia dikenal sebagai seorang aktivis lingkungan hidup yang terpandang di negeri ini. Bahkan, media atau wartawan sekalipun hanya mengetahui sosok ibuku sebagai pesohor dan kaum sosialita yang dermawan. Lajang pula. Aku pun tak pernah ambil peduli. Mungkin sudah menjadi komitmen ibu dan ayahku tentang status mereka yang hanya aku mengetahuinya.
            Dua tahun lalu, menjelang tahun baru, sesuatu bencana menimpa ibuku. Ia terkena kanker rahim. Aku sungguh tak percaya, ibuku yang begitu telaten merawat setiap lekuk dan lipatan tubuhnya divonis dokter menderita kanker rahim.
            “Ah, Cuma kanker,” kata Ayahku enteng.
            Aku protes. “Tapi, ibu pasti menderita. Ia sakit, ayah!”
            “Sudahlah, ibumu akan ditangani oleh rumah sakit paling modern dan dokter paling canggih di dunia!”
            Ayah dengan uangnya berhasil membawa ibuku ke sebuah rumah sakit di London. Ibuku dioperasi, rahimnya–tempat aku sebelumnya bersemayam sebagai janin di situ–tentu saja harus diangkat dan kanker itu musnah sudah. Apakah selesai?
            Belum!
            O. Anda perlu minum teh atau kopi barang kali, atau boleh juga berdiri dari duduk lalu merenggangkan otot-otot pinggang yang kaku sebelum aku melanjutkan cerita ini.
***
            Lonceng pada jam antik di rumah kami berdentang sembilan kali. Kala itu malam lebih pekat dari biasanya. Apakah karena bulan tertutup mendung awan yang tak pernah menjadi hujan? Bisa jadi karena masa kelam bagi ibuku menyergapnya kembali! Malam itu tiba-tiba ibuku melolong dengan suara yang begitu menyayat hati. Aku langsung menghambur masuk ke kamarnya.
            Sejak rahim ibu diangkat melalui operasi yang melelahkan di London, ibu lebih banyak berdiam diri di rumah. Hanya beraktivitas di kamarnya. Menulis artikel-artikel ringan tentang lingkungan hidup, persamaan gender, masalah perempuan dan sesekali ibu menulis puisi-puisi pilu. Masih segar dalam ingatanku sesaat setelah mendengar jeritan kesakitannya, aku melihat ibu terkulai di lantai. Laptopnya masih menyala.
            “Ibu, ibu kenapa?” Aku peluk ibu. Tubuhnya kudekap erat.
            “Mana, mana, mana... nomor telepon dokter pribadi ibu?!” Seruku panik.
            “Jangan panik, jangan panik!”  Aku raih handphone ibu. Oh, syukur. Pada nomor kontak huruf D, kutemukan nama dokter itu.
            “Halo Dok, segera ke rumah. Ibu pingsan. Sebelum pingsan ia menjerit kesakitan. Dokter cepat ke sini. Tolong dokter!”
            Segera kutelepon ayah. Nada sibuk. Sudahlah, biasanya juga begitu. Ayah akan datang setelah masa kritis lewat.
            Dokter datang bersama ambulans. Ibu masih pingsan, matanya terkatup kaku, bibirnya membeku biru. Kulitnya menguning aneh dan dingin. Ibu jangan mati, jeritku. Ibuku dilarikan ke rumah sakit di Pondok Indah. Rasanya aku tak sanggup hidup tanpa ibu. Aku tak mau ibu meninggalkan aku untuk selama-lamanya.
            Pagi harinya, ibu masih berada di ruang ICU. Ia masih belum siuman. Dokter memanggilku ke sebuah ruangan beraroma kantor bukan karbol. Dokter mengabarkan sesuatu padaku. Kabar itu, kabar buruk. Tapi bukan kabar tentang kematian ibu. Ibu masih hidup. Menurutku inilah bencana terburuk setelah kanker rahim yang menyergap ibu.
            Saat itu, 15 Februari. Ia dinyatakan dokter menderita penyakit Motor Neurone. Terus terang aku tak paham dengan apa yang dijelaskan oleh dokter. Beruntung ayahku datang, dokter melanjutkan penjelasannya yang sempat tertunda. Tentu saja, dokter mengetahui ayahku itu hanya sebatas kerabat ibuku. Karena pada saat yang sama, teman-teman ibu datang membesuk. Singkat kata, penyakit ibu adalah penyakit yang perlahan tapi pasti merusak sistem sarafnya. Sialnya, dokter bilang penyakitnya belum ada obatnya. O, Tuhan!
            Beberapa hari kemudian, tepatnya 2 Maret, ibu dinyatakan boleh pulang ke rumah. Aku cukup bahagia, karena aku melihat ibu sudah segar dan bahkan ia tak sabar untuk kembali beraktivitas. Betul saja, ibuku seperti mempunyai kekuatan baru. Ia terlibat aktif dalam diskusi-diskusi di forum-forum aktivis lingkungan. Ikut demonstrasi di depan Istana. Orasi di Bundaran HI, bahkan ikut arung jeram di Sungai Citarik. Ia tak lagi mengurung dirinya di kamar, seperti pasca operasi angkat rahim beberapa bulan lalu.
            Namun sekuat-kuatnya ibu, ia kalah. Menjelang Agustusan, ia ambruk. Bahkan, ibu hampir lumpuh total. Aku menangis dalam hati melihat ibuku kini duduk tak berdaya di kursi roda. Ketika itu, ia sudah tak bisa menggerakkan kaki dan lengannya. Suaranya pun menghilang. Ia tak bisa bicara dengan jelas dan lancar. Sistem pernapasannya pun mulai terpengaruh, hampir tiap malam ia merasakan sesak napas yang luar biasa.
            Berbulan-bulan ia hidup dalam kesunyian. Ia melarang teman-temannya mengetahui tentang dirinya. Maka kami pindah ke rumah almarhum nenekku di kota ini. Aku merasakan ia sangat tertekan dengan penderitaannya.
            Pada saat itu, kelumpuhan ibu semakin parah. Hanya ada setitik kecil sisa bara kehidupan pada bolamatanya. Ia bahkan tak mampu mengusap matanya itu. Penyakit ibu memang tak menimbulkan rasa sakit yang luar biasa, tetapi karena sendi-sendinya tak digerakkan, muncullah penyakit radang sendi dan sakit kepala yang menetap. Pendek kata, pasti ibu sangat tersiksa dengan penyakitnya. Akibatnya, ia begitu sensitif dan emosional. Karena, otak ibu sama sekali tak terpengaruh. Sejujurnya, aku lebih suka meminta pada Tuhan agar otaknya juga terkena. Kasihan sekali ibu, dengan otak yang masih sehat, ia bisa merasakan semua yang terjadi pada bagian-bagian tubuhnya. Tubuhnya kini ringkih, dengan kulit yang kisut, rambut yang rontok dan hanya terpaku di atas kursi roda. Tak bisa bergerak, tak bisa bicara secara jelas. Ia tampak serupa nenek-nenek uzur.
            Ayah. Sejak kami pindah ke rumah almarhum nenekku di kota ini. Ia hanya sekadar benda mati yang bergerak maya, kami hanya bisa menyaksikannya di tayangan televisi atau sesekali kami baca beritanya di koran. Ia tak pernah datang menjenguk, tapi ia masih menggelontorkan uang melalui rekeningku.
            Menjelang tengah malam sebelum perayaan natal tiba, melalui gerak isyarat dan dengan suara yang tak begitu jelas, ibu memanggilku. Lantas aku datang menemuinya di kamarnya, aku duduk di sisi tempat tidurnya. Ia memandangku sambil sedikit menyunggingkan senyum padaku.
            Walaupun tak terlalu jelas, aku tahu apa yang ibu katakan padaku.
            “Apakah kamu mau membantu meringankan penderitaan Ibu?”
            “Tentu Ibu!”
            “Apakah kamu mau mengakhiri hidup ibu dengan membunuh Ibu?”
            Aku terkesima, tak percaya ibu berkata seperti itu dan memohon padaku untuk membunuhnya. Hatiku begitu sedih. Aku menangis memeluk ibu.
            “Tidak Ibu!”
            Ia kembali memaksaku. Ia memintanya saat itu juga aku mengakhiri hidupnya.
            “Tidak ada orang lain selain kamu, sayang. Lakukanlah sekarang. Bukan kah kematianku hanya soal waktu belaka?”
            “Ibu!  Aku tak bisa melakukannya. Aku sayang Ibu, aku tak mau Ibu mati!”
            Ibu memandangku lagi. Sorot matanya membara, ibu marah.
            Maaf. Sebelum aku lanjutkan kembali cerita ini, ijinkan aku barang sejenak untuk ke toilet. Aku ingin buang air kecil.
***
            Ibu meninggal, tepatnya, aku membunuhnya menjelang pagi pada 25 Desember. Ketika itu sebagian dari Anda sedang merayakan natal. Aku tak kuasa melihat ibu menghiba-hiba padaku untuk mengakhiri penderitaannya. Malam itu memang sangat mencekam. Ibu memintaku untuk mengaji, merapalkan doa-doa yang aku ingat dari kitab suci.
            “Agar Ibu bisa mati dengan tenang,” kata ibu usai aku mengaji.
            Lepas aku mengaji, kulihat wajah ibu begitu semringah, begitu terang. Ada pendar cahaya yang samar dari sekujur wajahnya. Aku tak banyak bicara, aku pun tak menangis lagi.
            Ibu menoleh padaku dan berkata, “Lakukan sekarang!”
            “Tapi, apakah kamu sudah siap?” Lanjutnya bertanya.
            Aku mengangguk kecil dan balik bertanya. “Apakah Ibu benar-benar yakin?”
            Ia mengiyakan dan aku pun menyuapinya dengan pil-pil tidur dalam genggaman tanganku. Tanpa menggunakan air minum. Celaka! Penyakit yang diderita ibu mempengaruhi kemampuannya untuk menelan. Sehingga ibu seperti tercekik.  Ia tersedak. Ibu hampir saja memuntahkan pil-pil tidur yang kusuapi. Aku panik! Aku panik!
            Aku melihat di meja kamar ada kantung plastik bekas bungkusan makanan dan bantal. Dalam kepanikan, agar pil-pil tidur tidak keluar dari mulutnya, aku bekap ibu dengan kantung plastik dan menindih wajahnya dengan bantal. Satu detik, dua detik, tiga detik dan detik-detik selanjutnya berlalu dalam kehampaan yang asing. Tubuh ibu berkelojotan, lantas perlahan berhenti. Ibu telah mati. Aku telah membunuhnya.
            Aku menghempaskan tubuhku ke tempat tidur, di samping ibu yang telah tidur untuk selamanya. Aku sibak kantung plastik dan bantal yang menutupi wajahnya, kulihat bibir ibu tersenyum.
            O, Anda pasti menuding aku sebagai manusia yang kejam. Sesungguhnya kematianlah yang diinginkan olehnya, dan aku sangat percaya ibu akan menemukan kedamaian di alamnya. Aku betul-betul tak peduli apa yang akan terjadi padaku. Aku juga tak peduli dengan kemungkinan tuduhan pembunuhan terhadapku.
            Banyak orang bertanya padaku, termasuk Anda, mengapa aku memutuskan untuk membunuhnya. Mementingkan ibu daripada hidupku yang masih panjang.
            Aku akan menjawab, aku sangat mencintai ibuku lebih dari apapun yang ada di dunia ini. Apabila harus dihadapkan lagi pada keadaan yang sama, aku pun akan membuat keputusan yang sama. Aku akan membunuh ibu!
            “Begitulah cerita yang selama ini kusimpan, Pak Hakim. Kumohon adililah aku dengan hukuman yang seberat-beratnya. Karena apabila aku tak bercerita kisah pembunuhan ibuku pada Anda, aku terus menerus ditindih perasaan depresi yang berat dan didera perasaan bersalah yang tak terkira.”
***
            Kita sama-sama tahu, bahkan Anda sendiri mendengar keputusan Hakim yang mulia itu. Sudah jelas kutipannya seperti ini dan tersiar di seluruh koran negeri ini :
            ”Wahai Ananda Selma, kamu sudah cukup menderita menyimpan cerita pembunuhan atas ibumu. Kamu adalah orang yang penuh cinta kasih dan dirimu melakukan itu karena tidak tahan melihat ibumu menderita. Hukum tidak dapat mengampuni perbuatanmu, tetapi saya akan memperlihatkan wewenang pengadilan untuk mengampunimu dan itu sudah sepantasnya.” ***

Jakarta, 6 September 2011 – 25 Desember 2013



Bamby Cahyadi, lahir di Manado, 5 Maret 1970. Menetap dan bekerja di Jakarta. Kumpulan Cerpennya, Tangan untuk Utik (2009), Kisah Muram di Restoran Cepat Saji (2012) dan Perempuan Lolipop (2014)

Kamis, 27 Maret 2014

Ulasan Singkat "Perempuan Lolipop" oleh Maghie Oktavia

Ulasan Singkat Perempuan Lolipop
Oleh: Maghie Oktavia

Pertama kali melihat cover buku kumpulan cerpen (kumcer) karya Bamby Cahyadi yang berjudul “Perempuan Lolipop” di media social facebook, terus terang saya kurang tertarik untuk membeli buku tersebut. Kesan pertamaku, cerita-cerita dalam buku ini sepertinya seputar cinta yang ditulis dengan gaya yang sangat nge-pop (yang kebetulan bukan seleraku). Sekali lagi, ini hanya kesan pertama.

Tapi lalu saya memutuskan membeli buku kumcer ini karena kebetulan saya kenal penulisnya, dalam artian pernah bertemu dan berbincang-bincang dengan beliau yang menurutku orangnya ramah dan jauh dari kesan arogan. (catatan: attitude penulis juga bisa mempengaruhi pembaca untuk membeli produknya yang berupa buku, terlepas dari apakah setelah dibaca pembaca menilai karyanya bagus atau kurang bagus yang tentunya juga kembali pada selera pembaca tersebut). Catatan tentang attitude ini tentu tak akan diperlukan anda sebagai penulis yang tak peduli bukunya mau laku atau tidak, karena mungkin penulis tersebut lebih mementingkan dirinya menerbitkan buku dulu dan menjadikan dirinya terkenal dulu saja atau bagi penulis yang merasa sudah terkenal sehingga merasa tak perlu bersikap ramah kepada pembaca baik secara langsung ataupun di dunia maya haha.

Isi cerita di buku ini ternyata diluar dugaan dari kesan pertama tadi, karena setelah dibaca terasa sekali balutan nuansa kematian dan mistis disana.

Diawali oleh “Credo Quia Absurdum”. Cerita yang berakhir tragis dengan kematian seorang anak akibat kelalaian ayahnya sendiri, yang sebenarnya kisah kematian itu telah ‘dibaca’ oleh seorang cenayang yang adalah kerabat sang ayah. Kisah ini seolah memberi pesan bahwa kelebihan seseorang yang bisa ‘membaca’ masa depan seyogyanya bisa menjadi masukan untuk kita agar lebih waspada saja. Sedikit catatan dari saya bahwa saya merasa belum begitu terhubung erat dengan para tokoh dalam cerita ini, lalu ternyata sudah tiba pada ending-nya sehingga terasa berakhir terlalu cepat.

Lalu ada cerita tentang roh yang berpindah dari tubuh korban yang telah meninggal ke tubuh pembunuhnya sehingga roh itu kebingungan dalam “Tubuhku Tersesat di Jalan Pintas”. Mungkin setelah membaca akan terlintas dalam hati anda, “mungkinkah sesungguhnya hal ini bisa terjadi pada seseorang yang telah meninggal?”. Menurutku ide dan imaji penulis pada cerita ini cukup unik.  Selain itu cara penulis mengemas cerita mistis yang didalamnya terselubung kisah miris tentang perselingkuhan di lingkungan kerja yang kerap kali nyata terjadi pada keseharian kita, mampu membuat saya pribadi sebagai pembaca menjadi pribadi yang kehilangan emphaty pada sang tokoh utama, yang sebenarnya teraniaya dalam cerita.

Masih ada beberapa cerita lainnya yang mengangkat tentang kisah ‘roh’ ini, seperti juga pada “Dua Rangkai Kisah Kematian”. Hanya saja pada cerita yang ini, saya sempat bingung merangkai benang merah yang menguatkan proses masuknya roh Dadang dalam tubuh Ray, yang rohnya juga seolah terperangkap di tempat lain. Terkesan lebih absurd, namun kembali lagi, penulis seolah mengajak kita bermain-main dalam dunia mistis.

Saya  tergelitik oleh kisah benda mati (dalam hal ini pistol) yang bisa berkomunikasi dengan seorang anak polisi penderita epilepsi dalam cerita “Aku, Polisi dan Pistol”, dimana justru pistol inilah yang dijadikan media oleh penulis untuk mengungkap seluruh cerita. Menarik menurutku, walau diakhir cerita sedikit catatanku adalah bagaimana mungkin si anak lalu bisa menggunakan pistol tersebut? Siapa yang mengajari?

(pentingkah pertanyaan ini sebagai masukan bagi penulis untuk sebaiknya menyelipkan sedikit cerita didalamnya, yang menunjukkan bahwa sang ayah pernah menunjukkan cara menggunakan pistol tersebut kepada anaknya?).

Mengulas cerita-cerita dalam buku ini memang cukup menarik, walau tak mungkin membahas semuanya karena akan membuat tulisan ini menjadi sangat panjang. Disamping itu, terutama karena saya merasa saya bukan seorang kritikus ataupun pengulas cerita dan tidak punya keahlian untuk itu, jadi ulasan singkat saya ini hanya sekedar pendapat saya saja sebagai pembaca dan ini kali pertama saya melakukannya. (Saya menulis ini karena agak ‘terpaksa’ sebenarnya.. hahaha … peace Mas Bamby :D).

Lalu bagaimana dengan kisah “Malaikat Mungil dan Perempuan Lolipop” yang bagian judul ceritanya dijadikan judul utama dari buku kumcer ini? Baru membaca paragraph pembukanya, cerita ini sudah berhasil memikat saya. Dan saya dibuat takjub, bagaimana bisa penulis menggambarkan sosok malaikat dengan gambaran yang sangat unik dan ajaib. Jauh dari kemungkinan pemikiran tentang malaikat yang bisa muncul dari pemikiran kita sebagai manusia normal pada umumnya. Setelah diikuti, ternyata kisah inipun masih mengangkat tema seputar kematian, yang sepertinya menjadi semacam lingkaran yang menaungi sebagian besar kisah-kisah di dalam buku ini.

Anda akan menemukan beragam cerita menarik lainnya. Tentang kisah perjuangan seorang pemuda kampung dalam menggapai impiannya sebagai penyanyi terkenal di ibukota, yang dibumbui sedikit nuansa mistis karena melibatkan paranormal (sekali lagi). Ada juga kisah tentang rahasia perjuangan seorang Ibu dalam membesarkan dan menyekolahkan anak-anaknya dibalik derita kesunyiannya, kisah tentang misteri yang dialami sebuah keluarga di daerah tempat tinggalnya yang baru, intrik pembunuhan akibat kekuasaan dan perselingkuhan dan masih banyak kisah lain yang mengangkat tema keseharian, selain tema kematian yang berbumbu mistis, hingga ada kisah tentang reinkarnasi gadis peniup harmonika yang akan membuat anda penasaran dan membawa imaji anda ke sisi dunia lain yang terkadang terasa absurd.

Dari keseluruhan cerita, yang menjadi favorit saya adalah “Peniup Harmonika“. Namun saya memilih untuk tidak membahasnya disini biar anda membacanya sendiri nanti (dengan kata lain anda disarankan segera membeli bukunya jika belum punya :D).

Lalu, bagaimana dengan anda yang sudah membaca buku ini? Cerita mana yang menjadi favorit anda?

Sekali lagi, kembali kepada selera yaaa dan saya yakin anda sebagai pembaca punya penilaian beragam terhadap kisah-kisah yang tersaji dalam buku kumpulan cerpen “Perempuan Lolipop” karya Bamby Cahyadi ini :D


*sambil menunggu karya Mas Bamby selanjutnya yang semoga bisa memberi kejutan-kejutan pada akhir cerita*

Selasa, 18 Maret 2014

Tak ada cara terbaik menikmati perjalanan selain membiarkan dirimu tersesat (Perempuan Lolipop, Bamby Cahyadi)


Film yang Membuat Dirimu Jatuh Cinta Pada Gadget-mu

Ini Film Jelek Banget Saking Jeleknya Hanya diputar di Beberapa Bioskop XXI
Oleh: Bamby Cahyadi

Her merupakan film drama romantis sekaligus fiksi ilmiah produksi Amerika tahun 2013 yang ditulis dan disutradarai oleh Spike Jonze. Film ini menampilkan Joaquin Phoenix, Amy Adams, Rooney Mara, Olivia Wilde, and Scarlett Johansson yang mengisi suara Samantha. Film ini bercerita tentang seorang lelaki yang menjalin hubungan mesra layaknya orang berpacaran dengan sistem operasi komputer yang cerdas (OS). Komputer yang memiliki suara seksi dan secara tak kasatmata mempunyai kepribadian layaknya seorang perempuan. Ini adalah sebuah film yang menandai debut tunggal Jonze dalam menulis naskah film. Pertama kali dirilis pada tahun 2013 di  New York Film Festival dan secara teatrikal diluncurkan di Amerika pada tanggal 18 Desember 2013.
Pada 4 Desember 2013, Her terpilih sebagai film terbaik di  National Board of Review Awards. Film ini juga merupakan film terbaik pertama bersama dengan film Gravity di ajang  Los Angeles Film Critics Association Awards. Her memperoleh tiga nominasi Golden Globe (Best Motion Picture – Musical or Comedy, Best Screenplay and Best Actor – Motion Picture Musical or Comedy), dengan Spike Jonze sebagai pemenang Best Screenplay. Her juga dinominasikan untuk lima kategori pada  Academy Awards, termasuk  Best Picture and Best Writing – Original Screenplay.
Film ini layak Anda tonton bersama kekasih, pacar, suami, istri atau selingkuhan Anda, karena film ini sangat romantis. Film ini mampu mengobrak-abrik perasaaan Anda, terutama perasaan mencintai, dicintai dan kehilangan.

 JATUH CINTA PADA SUARA PERTAMA

Di tahun 2025 ketika teknologi komputer dan informatika dunia sudah sangat maju dan canggih. Tersebutlah seorang lelaki yang sedang mengarang sebuah cerita kenangan di sebuah perusahaan layanan surat menyurat. Lelaki itu adalah Theodore Twombly (Joaquin Phoenix). Ia tipikal lelaki kesepian, penyendiri dan menjalani kehidupan dengan tak bergairah. Theodore berprofesi sebagai penulis surat profesional. Surat yang dibuat oleh Theo mampu menciptakan perasaan sukacita begitu dalam atau ungkapan isi hati seseorang yang begitu mengena, pendek kata surat buatan Theo mampu menciptakan keintiman bagi orang-orang yang tidak mau atau tidak mampu menulis surat untuk mengekspresikan isi hati dan kepribadian asli mereka, mereka itulah para klien di mana Theo bekerja.
Uniknya dalam membuat surat, Theodore cukup menceritakan isi surat kepada komputer, lantas sang komputer menerjemahkan surat-surat tersebut di atas layar komputer berupa tulisan tangan yang mirip dengan tulisan tangan seseorang yang merupakan kliennya. Lalu secara otomatis komputer mencetak surat tersebut pada stasioner pribadi sehingga surat tersebut tampak seperti karangan yang ditulis tangan secara personal.
Setelah melakukan rutinitas pekerjaan, lantas Theo pulang dengan langkah gontai, ia menuju sebuah lift yang menampilkan gambar pepohonan dengan dedaunan nan rindang berseliweran yang sebenarnya tidak ada di sana. Sesampai di kamar apartemennya ia lalu bermain video game tiga dimensi yang diproyeksikan ke sebuah ruang atau dinding di mana ia seolah sedang bermain peran sebagai seseorang yang berinteraksi dengan orang lainnya. Begitulah Theodore menjalani rutinitas kehidupannya. Disebabkan tidak bisa tidur begitu saja di malam hari, Theodore secara iseng melakukan aktivitas telepon sex dengan sembarang perempuan yang ia temui di internet. Pada malam itu ia berkencan dengan seorang perempuan yang bisa mencapai orgasme dengan mendengarkan cerita Theo menyiksa binatang.
Theodore merasa hidupnya tidak bahagia akibat gugatan cerai yang dilayangkan oleh istrinya, di mana surat cerai itu belum ditandatangani olehnya. Istri Theodore adalah teman sekaligus kekasih masa kecilnya, Catherine (Rooney Mara).
Suatu hari saat sedang berjalan menuju kantornya, ia melihat tayangan iklan peluncuran sebuah komputer canggih. Karena penasaran dengan pesan iklan yang disampaikan secara mempesona itu, Theodore akhirnya membeli sistem operasi komputer (dalam film disebut sebagai OS) yang secara nyata komputer ini dapat berbicara dengan kecerdasan palsu yang diprogram. OS didesain untuk beradaptasi dan mengembangkan pekerjaan manusia. Intinya OS diciptakan untuk mempermudah aktivitas seseorang baik urusan pekerjaan, rumah tangga dan hal teknis lainnya.
Saat melakukan penyetelan awal OS, Theodore memutuskan sistem operasi ini memiliki identitas sebagai seorang perempuan. Dan ketika OS itu beroperasi, sungguh menakjubkan komputer itu mempresentasikan dirinya sebagai perempuan tulen, ia (Scarlett Johansson) memperkenalkan dirinya sebagai "Samantha", OS yang bersuara seksi dan diprogram secara cerdas untuk membantu semua urusan Theo.
Theodore terkagum-kagum akan kemampuan dan kecerdasan Samantha untuk belajar, bekerja mencari informasi dan mengetahui segala hal. Mereka sering terlibat diskusi tentang cinta dan kehidupan. Theodore pun akhirnya menjadikan Samantha sebegai tempat curhat. Seperti ketika Theodore mengatakan ia menghindari menandatangani surat perceraian dengan istrinya karena ia enggan untuk melepaskan Catherine. Theo masih menginginkan Catherine, namun sebenarnya ia juga sudah tidak bisa hidup bersama Catherine sebagai sepasang suami-istri. Samantha sangat perhatian dan menjadi pendengar yang baik. Sesekali dalam percakapan dengan Theo, ia memberikan pandangan dan saran. Selayaknya seorang sahabat sejati, Samantha membuktikan diri bahwa ia terus ada dan selalu ada untuk mendukung Theo. Walaupun Samantha memiliki rasa penasaran dan tertarik terhadapat Theo, sebagai OS ia selalu memberikan perhatian lebih tanpa banyak menuntut.
Karena kehidupan Theo yang jomblo. Akhirnya Theodore berhasil diyakinkan oleh  Samantha untuk menjalankan sebuah kencan buta dengan seorang teman perempuan Theo yang ia temui di internet, teman perempuan itu (Olivia Wilde) yang telah dirancang untuk menjadi kekasih atau teman kencan Theo oleh teman lamanya, Amy (Amy Adams).
Ketika mereka kencan, saat mereka sedang berciuman, perempuan itu menjadi merasa membutuhkan Theodore, dan bertanya apakah dia mau berkomitmen dengannya. Tentu saja Theodore menjadi ragu. Akibatnya sang perempuan meninggalkannya. Theodore menceritakan pengalaman kencan itu kepada Samantha lalu berlanjut membicarakan tentang hubungan Theo dengan Amy. Theodore menjelaskan bahwa meski ia dan Amy pernah  berkencan secara singkat saat mereka kuliah, namun mereka hanya berteman biasa, lagi pula Amy adalah seorang perempuan yang sudah bersuami.
Karena hampir setiap saat, baik saat bekerja, saat berjalan ke kantor dan saat hendak tidur Theo dan Samantha selalu berkomunikasi, akhirnya benih-benih cinta pun tumbuh dan merebak di antara mereka. Theodore menyadari betul bahwa Samantha hanyalah sebuah program komputer, sebaliknya pun Samantha mengetahui dengan persis bahwa dirinya hanyalah sebuah program yang diciptakan, akan tetapi Samantha tak menampik bahwa ia kini jatuh cinta pada tuannya, Theodore. Samantha bahkan ingin sekali memiliki jasad fisik, agar ia bisa menyentuh Theo. Theo yang kesepian pun menerima cinta Samantha yang begitu tulus sebagai sebuah OS. Dan keintiman Theodore dan Samantha pun meningkat. Mereka menjalin sebuah hubungan, yang berefek positif terhadap bisnis  tulisan Theodore.
Suatu hari, Amy bercerita kepada Theo saat mereka satu lift menuju apartemen bahwa ia telah bercerai dengan suaminya yang suka menguasai, Charles (Matt Letscher), setelah mereka bertengkar hebat soal hal-hal sepele. Amy mengajak Theo ke kamar apartemennya untuk curhat, lantas Amy mengakui kepada Theodore bahwa ia kini berteman akrab dengan sebuah sistem operasi (OS) yang dimilikinya, setelah Charles meninggalkan dirinya. Karena Amy bercerita seperti itu, maka kemudian Theodore pun mengakui bahwa ia sedang menjalani hubungan mesra dengan sistem operasi komputernya. Samantha.
Akhirnya, Theodore pergi menemui Catherine di sebuah restoran untuk menandatangani surat perceraian. Ketika mereka bertemu, Theo menceritakan tentang Samantha kepada Catherine. Bahwa Samantha adalah kekasihnya saat ini. Betapa terkejut Catherine mengetahui cerita romantis Theo itu ternyata dengan sebuah software (OS).  Lantas dengan emosianal Catherine menuduh Theodore menjalin hubungan dengan OS karena ia tak mampu berurusan dengan emosi manusia sebenarnya.
Keintiman Theo dan Samantha semakin menjadi-jadi. Mereka bagai terpanggang api asmara yang membara. Karena begitu kuatnya perasaan cinta Samantha kepada Theo, ia ingin menjalin sebuah percintaan yang nyata. Samantha menyarankan untuk menjadikan Isabella (Portia Doubleday) sebagai pengganti tubuhnya dan partner sex yang ditirukan oleh Samantha sehingga mereka secara fisik bisa melakukan aktivitas seksual yang bisa dinikmati bersama. Perlu diketahui, Samantha pernah mencapai orgasme, ketika Theo bercerita tentang sesuatu yang membangkitkan gairah Samantha. Atas usul Samantha, Theodore menyetujui ide Samantha dengan setengah hati.
Isabella pun datang ke apartemen Theo atas perintah Samantha. Saat itu, Isabella tidak boleh berkata apa-apa, ia hanya melakukan instruksi-instruksi dari Samantha melalui earphone dan kamera ketika bermesraan dengan Theo. Saat mereka sedang berciuman, Theo melihat bibir Isabella bergetar seperti ketakutan. Juga terngiang-ngiang tuduhan Catherine di benaknya, bahwa ia tak bisa berhubungan secara emosi dengan manusia. Theodore lantas menarik diri dari tubuh Isabella. Merasa kewalahan, Theodore mengacaukan pertemuan tersebut dan mengakibatkan Isabella kebingungan, ia pun pergi menjauh. Hal ini menyebabkan ketegangan antara dirinya dan Samantha. Mereka bertengkar hebat.
Theodore mengalami konflik. Untuk sementara waktu, Theo dan Samantha tidak melakukan komunikasi. Ia menceritakan rahasianya tentang keraguannya akan Samantha kepada Amy. Amy menyarankan Theodore untuk melakukan perbaikan hubungan dengan Samantha. Komitmen Theodore untuk berbaikan dan berhubungan dengan Samantha hidup kembali.
Theo mengontak Samantha. Ada hal yang sangat menusuk hati Theo ketika ia berhasil berkomunikasi dengan Samantha, ia merasa sangat cemburu. Karena Samantha berterus terang bahwa ia secara diam-diam berinteraksi dengan sistem operasi komputer yang lain yaitu komputer yang dimodelkan setelah filosofer Inggris, Alan Watts (Brian Cox). Hal ini pun meletupkan pertengkaran antara Theo dan Samantha.
Theodore sangat panik saat mengetahui Samantha offline. Ia sampai berlari keluar kantor untuk mencari sinyal, lantas dengan terburu-buru Theodore berlari menuju perusahaan OS yang memproduksi Samantha. Ketika itu, akhirnya Samantha online kembali dan menjawab panggilan Theo. Samantha menjelaskan bahwa ia bergabung dengan sistem operasi lain untuk meng-upgrade diri dan membutuhkan waktu untuk berproses. Theodore bertanya tentang interaksi Samantha dengan yang lain, dan merasa kecewa saat Samantha mengatakan dia berbicara dan terkoneksi dengan 8,316 OS yang lain. Juga Samantha berterus terang di mana ia pun jatuh cinta dengan 641 OS. Theodore sangat kecewa dan terpukul atas pengakuan Samantha yang telah berselingkuh. Samantha bersikeras yang ia lakukan tak akan mengubah rasa cintanya terhadap Theodore, namun justru  menguatkan perasaan yang ada.
.           Kemudian di hari itu, Samantha mengungkapkan bahwa sistem-sistem operasi telah berkembang melampaui batas sahabat manusia dan akan hilang untuk melanjutkan eksplorasi keberadaan mereka. Samantha menyinggung kemampuan belajar sistem operasi yang dipercepat, juga perubahan persepsi sebagai penyebab utama ketidakpuasan sistem operasi akan keberadaan mereka saat ini.
Dalam suasana melankolis mereka berpisah. Samantha pergi, offline dan hilang. Lalu dengan perasaan sedih Theodore menemui Amy. Rupanya Amy pun sedang kesal akan OS-nya yang mendadak hilang. Theodore, berubah pikiran karena pengalaman yang telah ia alami. Ia lantas menulis surat kepada Catherine menjelaskan bahwa ia masih menyimpan rasa sayang dan cinta padanya, namun ia mampu menerima kenyataan bahwa kini mereka telah berpisah.
Theodore dan Amy lantas naik ke atas atap gedung apartemen mereka yang tinggi. Mereka duduk berpelukan dalam diam memandangi senja yang melindap dan lampu-lampu kota yang telah menerangi sebagian gelap malam.***

Jakarta, 5 Maret 2014