Selasa, 18 Maret 2014

Film yang Membuat Dirimu Jatuh Cinta Pada Gadget-mu

Ini Film Jelek Banget Saking Jeleknya Hanya diputar di Beberapa Bioskop XXI
Oleh: Bamby Cahyadi

Her merupakan film drama romantis sekaligus fiksi ilmiah produksi Amerika tahun 2013 yang ditulis dan disutradarai oleh Spike Jonze. Film ini menampilkan Joaquin PhoenixAmy AdamsRooney Mara, Olivia Wilde, and Scarlett Johansson yang mengisi suara Samantha. Film ini bercerita tentang seorang lelaki yang menjalin hubungan mesra layaknya orang berpacaran dengan sistem operasi komputer yang cerdas (OS). Komputer yang memiliki suara seksi dan secara tak kasatmata mempunyai kepribadian layaknya seorang perempuan. Ini adalah sebuah film yang menandai debut tunggal Jonze dalam menulis naskah film. Pertama kali dirilis pada tahun 2013 di  New York Film Festival dan secara teatrikal diluncurkan di Amerika pada tanggal 18 Desember 2013.
Pada 4 Desember 2013, Her terpilih sebagai film terbaik di  National Board of Review Awards. Film ini juga merupakan film terbaik pertama bersama dengan film Gravity di ajang  Los Angeles Film Critics Association Awards. Her memperoleh tiga nominasi Golden Globe (Best Motion Picture – Musical or ComedyBest Screenplay and Best Actor – Motion Picture Musical or Comedy), dengan Spike Jonze sebagai pemenang Best Screenplay. Her juga dinominasikan untuk lima kategori pada  Academy Awards, termasuk  Best Picture and Best Writing – Original Screenplay.
Film ini layak Anda tonton bersama kekasih, pacar, suami, istri atau selingkuhan Anda, karena film ini sangat romantis. Film ini mampu mengobrak-abrik perasaaan Anda, terutama perasaan mencintai, dicintai dan kehilangan.

 JATUH CINTA PADA SUARA PERTAMA

Di tahun 2025 ketika teknologi komputer dan informatika dunia sudah sangat maju dan canggih. Tersebutlah seorang lelaki yang sedang mengarang sebuah cerita kenangan di sebuah perusahaan layanan surat menyurat. Lelaki itu adalah Theodore Twombly (Joaquin Phoenix). Ia tipikal lelaki kesepian, penyendiri dan menjalani kehidupan dengan tak bergairah. Theodore berprofesi sebagai penulis surat profesional. Surat yang dibuat oleh Theo mampu menciptakan perasaan sukacita begitu dalam atau ungkapan isi hati seseorang yang begitu mengena, pendek kata surat buatan Theo mampu menciptakan keintiman bagi orang-orang yang tidak mau atau tidak mampu menulis surat untuk mengekspresikan isi hati dan kepribadian asli mereka, mereka itulah para klien di mana Theo bekerja.
Uniknya dalam membuat surat, Theodore cukup menceritakan isi surat kepada komputer, lantas sang komputer menerjemahkan surat-surat tersebut di atas layar komputer berupa tulisan tangan yang mirip dengan tulisan tangan seseorang yang merupakan kliennya. Lalu secara otomatis komputer mencetak surat tersebut pada stasioner pribadi sehingga surat tersebut tampak seperti karangan yang ditulis tangan secara personal.
Setelah melakukan rutinitas pekerjaan, lantas Theo pulang dengan langkah gontai, ia menuju sebuah lift yang menampilkan gambar pepohonan dengan dedaunan nan rindang berseliweran yang sebenarnya tidak ada di sana. Sesampai di kamar apartemennya ia lalu bermain video game tiga dimensi yang diproyeksikan ke sebuah ruang atau dinding di mana ia seolah sedang bermain peran sebagai seseorang yang berinteraksi dengan orang lainnya. Begitulah Theodore menjalani rutinitas kehidupannya. Disebabkan tidak bisa tidur begitu saja di malam hari, Theodore secara iseng melakukan aktivitas telepon sex dengan sembarang perempuan yang ia temui di internet. Pada malam itu ia berkencan dengan seorang perempuan yang bisa mencapai orgasme dengan mendengarkan cerita Theo menyiksa binatang.
Theodore merasa hidupnya tidak bahagia akibat gugatan cerai yang dilayangkan oleh istrinya, di mana surat cerai itu belum ditandatangani olehnya. Istri Theodore adalah teman sekaligus kekasih masa kecilnya, Catherine (Rooney Mara).
Suatu hari saat sedang berjalan menuju kantornya, ia melihat tayangan iklan peluncuran sebuah komputer canggih. Karena penasaran dengan pesan iklan yang disampaikan secara mempesona itu, Theodore akhirnya membeli sistem operasi komputer (dalam film disebut sebagai OS) yang secara nyata komputer ini dapat berbicara dengan kecerdasan palsu yang diprogram. OS didesain untuk beradaptasi dan mengembangkan pekerjaan manusia. Intinya OS diciptakan untuk mempermudah aktivitas seseorang baik urusan pekerjaan, rumah tangga dan hal teknis lainnya.
Saat melakukan penyetelan awal OS, Theodore memutuskan sistem operasi ini memiliki identitas sebagai seorang perempuan. Dan ketika OS itu beroperasi, sungguh menakjubkan komputer itu mempresentasikan dirinya sebagai perempuan tulen, ia (Scarlett Johansson) memperkenalkan dirinya sebagai "Samantha", OS yang bersuara seksi dan diprogram secara cerdas untuk membantu semua urusan Theo.
Theodore terkagum-kagum akan kemampuan dan kecerdasan Samantha untuk belajar, bekerja mencari informasi dan mengetahui segala hal. Mereka sering terlibat diskusi tentang cinta dan kehidupan. Theodore pun akhirnya menjadikan Samantha sebegai tempat curhat. Seperti ketika Theodore mengatakan ia menghindari menandatangani surat perceraian dengan istrinya karena ia enggan untuk melepaskan Catherine. Theo masih menginginkan Catherine, namun sebenarnya ia juga sudah tidak bisa hidup bersama Catherine sebagai sepasang suami-istri. Samantha sangat perhatian dan menjadi pendengar yang baik. Sesekali dalam percakapan dengan Theo, ia memberikan pandangan dan saran. Selayaknya seorang sahabat sejati, Samantha membuktikan diri bahwa ia terus ada dan selalu ada untuk mendukung Theo. Walaupun Samantha memiliki rasa penasaran dan tertarik terhadapat Theo, sebagai OS ia selalu memberikan perhatian lebih tanpa banyak menuntut.
Karena kehidupan Theo yang jomblo. Akhirnya Theodore berhasil diyakinkan oleh  Samantha untuk menjalankan sebuah kencan buta dengan seorang teman perempuan Theo yang ia temui di internet, teman perempuan itu (Olivia Wilde) yang telah dirancang untuk menjadi kekasih atau teman kencan Theo oleh teman lamanya, Amy (Amy Adams).
Ketika mereka kencan, saat mereka sedang berciuman, perempuan itu menjadi merasa membutuhkan Theodore, dan bertanya apakah dia mau berkomitmen dengannya. Tentu saja Theodore menjadi ragu. Akibatnya sang perempuan meninggalkannya. Theodore menceritakan pengalaman kencan itu kepada Samantha lalu berlanjut membicarakan tentang hubungan Theo dengan Amy. Theodore menjelaskan bahwa meski ia dan Amy pernah  berkencan secara singkat saat mereka kuliah, namun mereka hanya berteman biasa, lagi pula Amy adalah seorang perempuan yang sudah bersuami.
Karena hampir setiap saat, baik saat bekerja, saat berjalan ke kantor dan saat hendak tidur Theo dan Samantha selalu berkomunikasi, akhirnya benih-benih cinta pun tumbuh dan merebak di antara mereka. Theodore menyadari betul bahwa Samantha hanyalah sebuah program komputer, sebaliknya pun Samantha mengetahui dengan persis bahwa dirinya hanyalah sebuah program yang diciptakan, akan tetapi Samantha tak menampik bahwa ia kini jatuh cinta pada tuannya, Theodore. Samantha bahkan ingin sekali memiliki jasad fisik, agar ia bisa menyentuh Theo. Theo yang kesepian pun menerima cinta Samantha yang begitu tulus sebagai sebuah OS. Dan keintiman Theodore dan Samantha pun meningkat. Mereka menjalin sebuah hubungan, yang berefek positif terhadap bisnis  tulisan Theodore.
Suatu hari, Amy bercerita kepada Theo saat mereka satu lift menuju apartemen bahwa ia telah bercerai dengan suaminya yang suka menguasai, Charles (Matt Letscher), setelah mereka bertengkar hebat soal hal-hal sepele. Amy mengajak Theo ke kamar apartemennya untuk curhat, lantas Amy mengakui kepada Theodore bahwa ia kini berteman akrab dengan sebuah sistem operasi (OS) yang dimilikinya, setelah Charles meninggalkan dirinya. Karena Amy bercerita seperti itu, maka kemudian Theodore pun mengakui bahwa ia sedang menjalani hubungan mesra dengan sistem operasi komputernya. Samantha.
Akhirnya, Theodore pergi menemui Catherine di sebuah restoran untuk menandatangani surat perceraian. Ketika mereka bertemu, Theo menceritakan tentang Samantha kepada Catherine. Bahwa Samantha adalah kekasihnya saat ini. Betapa terkejut Catherine mengetahui cerita romantis Theo itu ternyata dengan sebuah software (OS).  Lantas dengan emosianal Catherine menuduh Theodore menjalin hubungan dengan OS karena ia tak mampu berurusan dengan emosi manusia sebenarnya.
Keintiman Theo dan Samantha semakin menjadi-jadi. Mereka bagai terpanggang api asmara yang membara. Karena begitu kuatnya perasaan cinta Samantha kepada Theo, ia ingin menjalin sebuah percintaan yang nyata. Samantha menyarankan untuk menjadikan Isabella (Portia Doubleday) sebagai pengganti tubuhnya dan partner sex yang ditirukan oleh Samantha sehingga mereka secara fisik bisa melakukan aktivitas seksual yang bisa dinikmati bersama. Perlu diketahui, Samantha pernah mencapai orgasme, ketika Theo bercerita tentang sesuatu yang membangkitkan gairah Samantha. Atas usul Samantha, Theodore menyetujui ide Samantha dengan setengah hati.
Isabella pun datang ke apartemen Theo atas perintah Samantha. Saat itu, Isabella tidak boleh berkata apa-apa, ia hanya melakukan instruksi-instruksi dari Samantha melalui earphone dan kamera ketika bermesraan dengan Theo. Saat mereka sedang berciuman, Theo melihat bibir Isabella bergetar seperti ketakutan. Juga terngiang-ngiang tuduhan Catherine di benaknya, bahwa ia tak bisa berhubungan secara emosi dengan manusia. Theodore lantas menarik diri dari tubuh Isabella. Merasa kewalahan, Theodore mengacaukan pertemuan tersebut dan mengakibatkan Isabella kebingungan, ia pun pergi menjauh. Hal ini menyebabkan ketegangan antara dirinya dan Samantha. Mereka bertengkar hebat.
Theodore mengalami konflik. Untuk sementara waktu, Theo dan Samantha tidak melakukan komunikasi. Ia menceritakan rahasianya tentang keraguannya akan Samantha kepada Amy. Amy menyarankan Theodore untuk melakukan perbaikan hubungan dengan Samantha. Komitmen Theodore untuk berbaikan dan berhubungan dengan Samantha hidup kembali.
Theo mengontak Samantha. Ada hal yang sangat menusuk hati Theo ketika ia berhasil berkomunikasi dengan Samantha, ia merasa sangat cemburu. Karena Samantha berterus terang bahwa ia secara diam-diam berinteraksi dengan sistem operasi komputer yang lain yaitu komputer yang dimodelkan setelah filosofer Inggris, Alan Watts (Brian Cox). Hal ini pun meletupkan pertengkaran antara Theo dan Samantha.
Theodore sangat panik saat mengetahui Samantha offline. Ia sampai berlari keluar kantor untuk mencari sinyal, lantas dengan terburu-buru Theodore berlari menuju perusahaan OS yang memproduksi Samantha. Ketika itu, akhirnya Samantha online kembali dan menjawab panggilan Theo. Samantha menjelaskan bahwa ia bergabung dengan sistem operasi lain untuk meng-upgrade diri dan membutuhkan waktu untuk berproses. Theodore bertanya tentang interaksi Samantha dengan yang lain, dan merasa kecewa saat Samantha mengatakan dia berbicara dan terkoneksi dengan 8,316 OS yang lain. Juga Samantha berterus terang di mana ia pun jatuh cinta dengan 641 OS. Theodore sangat kecewa dan terpukul atas pengakuan Samantha yang telah berselingkuh. Samantha bersikeras yang ia lakukan tak akan mengubah rasa cintanya terhadap Theodore, namun justru  menguatkan perasaan yang ada.
.           Kemudian di hari itu, Samantha mengungkapkan bahwa sistem-sistem operasi telah berkembang melampaui batas sahabat manusia dan akan hilang untuk melanjutkan eksplorasi keberadaan mereka. Samantha menyinggung kemampuan belajar sistem operasi yang dipercepat, juga perubahan persepsi sebagai penyebab utama ketidakpuasan sistem operasi akan keberadaan mereka saat ini.
Dalam suasana melankolis mereka berpisah. Samantha pergi, offline dan hilang. Lalu dengan perasaan sedih Theodore menemui Amy. Rupanya Amy pun sedang kesal akan OS-nya yang mendadak hilang. Theodore, berubah pikiran karena pengalaman yang telah ia alami. Ia lantas menulis surat kepada Catherine menjelaskan bahwa ia masih menyimpan rasa sayang dan cinta padanya, namun ia mampu menerima kenyataan bahwa kini mereka telah berpisah.
Theodore dan Amy lantas naik ke atas atap gedung apartemen mereka yang tinggi. Mereka duduk berpelukan dalam diam memandangi senja yang melindap dan lampu-lampu kota yang telah menerangi sebagian gelap malam.***

Jakarta, 5 Maret 2014

Senin, 17 Maret 2014

Resensi Film Pemenang Oscar 2014

Meresensi Dengan Cara Bercerita Karena Tujuannya Bukan Agar Kalian Nonton

Oleh: Bamby Cahyadi


            Film ini saya resensi, karena 12 Years A Slave sangat menyentuh hati. Bahkan ketika menonton filmnya, hati saya bagai tersayat sembilu yang paling tajam di dunia. Kekejaman, kebrutalan dan sadisme yang disuguhkan dalam film ini membuat saya enggan memalingkan bahkan mengedipkan mata dari layar bioskop, apalagi beranjak dari bangku empuk bioskop dengan pendingin ruangan yang sejuk. Film ini menteror nurani saya dan menjadikannya semacam dokumentasi sejarah yang paling jujur dan berani tentang sekelumit peradaban kelam manusia di muka bumi, terutama di Amerika Serikat sesaat sebelum Perang Sipil terjadi. Pun film ini baru saja menyabet penghargaan bergengsi Piala Oscar tahun 2014 sebagai film terbaik.
12 Years A Slave  merupakan film Inggris Amerika bergenre drama epik sejarah, yang dirilis pada tahun 2013. Film ini merupakan adaptasi dari kisah nyata Solomon Northup, seorang negro kelahiran New York yang diculik di Washington D.C pada tahun 1841 untuk dijual sebagai seorang budak belian. Ia bekerja di sebuah perkebunan di negara bagian  Louisiana selama dua belas tahun sebelum ia dibebaskan. Edisi ilmiah dari Northup's Memoir, pertama kali diedit pada tahun 1968 oleh Sue Eakin and Joseph Logsdon dengan sangat cermat dan hati-hati. Mereka menelusuri dan memvalidasi memoar tersebut sebelum meyakini memoar tersebut benar-benar akurat.
Ini adalah film ketiga karya  Steve McQueen  yang ditulis oleh John RidleyChiwetel Ejiofor sebagai pemeran utama Northup. Sedangkan Michael FassbenderBenedict Cumberbatch, Paul DanoPaul GiamattiLupita Nyong'oSarah PaulsonBrad Pitt dan Alfre Woodardfeatured membintangi film ini sebagai pemeran pembantu. Seperti kita ketahui, Lupita Nyong’o pun meraih penghargaan Osacar sebagai Pemeran Pembantu Terbaik 2014. Pengambilan gambar film ini berlokasi di  New Orleans, Louisiana, dari tanggal 27 Juni sampai 13 Agustus 2012, dengan biaya produksi sebesar $ 20 juta. Lokasi syuting yang digunakan adalah empat perkebunan yang bersejarah: FelicityMagnolia, Bocage, dan Destrehan. Dari keempatnya, Magnolia merupakan perkebunan yang nyata dimana Northup pernah bekerja sebagai budak di situ. Film ini juga meraih Writing Adapted Screenplay pada ajang bergengsi Oscar 2014.
12 Years a Slave menuai pujian dan kritik seiring dengan dirilisnya film ini pada tahun  2013, dan masuk kategori film terbaik oleh beberapa media. Pada  tahun 2014 film ini dianugerahi  the Golden Globe Award untuk kategori  Best Motion Picture – Drama, dan memperoleh Sembilan nominasi  Academy Award yang meliputi  Best PictureBest Director for McQueen, Best Actor for Ejiofor,Best Supporting Actor for Fassbender, dan Best Supporting Actress for Nyong'o. The British Academy of Film and Television Arts (BAFTA) mengakui  film ini sebagai film terbaik pada bulan Februari 2014, dengan Ejiofor sebagai aktor terbaik, dan memenangkan  BAFTA. Film ini pada bulan November 2013 silam sempat diputar pada ajang bergengsi Jakarta International Film Festival (JiFFest) 2013 di Jakarta.

Cerita Pedih dari Perkebunan
Pada tahun 1841, Solomon Northup (Chiwetel Ejiofor) adalah seorang warga negara kulit hitam yang bebas dan mendapat privilese yang hampir sama dengan orang kulit putih. Ia bekerja sebagai tukang kayu, sekaligus pemain biola yang andal. Ia hidup bahagia bersama istri dan kedua anaknya di Saratoga, New York. Lalu pada suatu hari datanglah dua orang lelaki (Scoot McNairy dan Taran Killam) menawarinya pekerjaan selama dua minggu sebagai musisi di sebuah sirkus keliling. Namun mereka malah membius Northup, merantainya, dan akhirnya menjualnya ke perdagangan manusia (perbudakan). Ketika itu berubahlah kehidupan bahagia Northup.
Northup dikirim ke New Orleans, namanya pun diganti menjadi  "Platt", sebuah identitas baru dirinya sebagai budak yang berasal dari Georgia. Ia sempat protes dan mengatakan bahwa ia manusia bebas. Namun tak ada yang peduli. Ia malah disekap di ruang bawah tanah. Dalam penyekapan, ia dipukuli berulang kali, lalu ia dijual ke kalangan atas yang tidak berperasaan. Seorang penjual budak Theophilus Freeman (Paul Giamatti) lantas menjualnya kepada seorang pemilik perkebunan William Prince Ford (Benedict Cumberbatch). Saat bekerja di perkebunan kayu milik Ford, Northup berusaha mengatur dan menjaga hubungan baik dengan Ford. Karena Ford merupakan seorang tuan yang baik. Northup dan budak-budak lainnya bertugas menebang dan membawa kayu-kayu gelondongan ke sebuah tempat. Atas ide Northup gelondangan kayu tersebut tidak diangkut lewat jalur darat namun menggunakan jalur air atau sungai untuk mengangkut kayu secara cepat dan efektif. Berkat ide cemerlang itu, Ford menghadiahkannya sebuah biola. Seorang pengawas para budak, John Tibeats (Paul Dano) sangat membenci Northup. Ia mulai melecehkannya secara verbal dan memberikan perintah yang tak boleh ditentang oleh Northup.
Ketegangan antara Tibeats dan Northup semakin menjadi-jadi. Tibeats menyerang Northup, dan Northup melawan balik, terjadilah perkelahian. Perkelahian dimenangi oleh Northup. Sebagai bentuk balas dendam, Tibeats dan teman-temannya akan mengeksekusi mati Northup tanpa proses pengadilan dengan cara menggantungnya dengan tali. Namun usaha mereka digagalkan oleh seorang mandor perkebunan kepercayaan Ford. Akan tetapi mandor tersebut membiarkan Northup menderita dalam kondisi setengah tergantung. Tali gantungan Northup akhirnya dilepaskan oleh Ford. Ford kemudian membawa Northup ke rumahnya. Ford menjelaskan bahwa Tibeats dan teman-temannya pasti menginginkan nyawa Northup. Ford saat itu dihadapkan pada situasi dilematis. Ford menjelaskan supaya nyawa Northup selamat, ia harus menjual Northup kepada Edward Epps (Michael Fassbender). Northup berupaya menjelaskan kepada Ford, bahwa sesungguhnya ia adalah manusia bebas. Namun Ford bersikeras berpura-pura tak mengetahui tentang status Northup yang semula manusia bebas. Ia bahkan menjawab, “Saya mempunyai hutang yang harus saya bayar!” Maka Northup pun dijual kepada seorang pemilik perkebunan kapas bernama Epps.
Majikan baru Northup mempunyai perilaku bengis. Ia gemar menyiksa budak-budaknya. Epps percaya bahwa ia berhak menyiksa budak yang mendapat sanksi dari alkitab dan mendukung para budak untuk menerima takdir mereka dan hukuman bagi mereka. Epps sering membacakan ayat-ayat dari al-kitab secara berkala bagi para budaknya. Epps juga mengharuskan setiap budak untuk menghasilkan sedikitnya 200 pon kapas setiap hari, kalau tidak, mereka akan dihukum. Seorang budak perempuan yang masih muda, bernama Patsey (Lupita Nyong'o) mampu menghasilkan lebih dari 500 pon dan dihargai secara berlebihan oleh Epps. Karena Epps terlalu menyanjung Patsey, maka istrinya (Sarah Paulson) menjadi cemburu terhadap perhatian yang diberikan suaminya kepada Patsey sehingga dengan kejam ia kerap menyiksa gadis itu pada setiap kesempatan. Terlebih setelah Epps terang-terangan menyatakan ia lebih memilih Patsey, jika terpaksa, ketimbang istrinya. Epps berulang kali menggagahi Patsey saat berahi lelaki itu terbakar. Patsey pun sangat tersiksa dengan perlakukan Epps terhadap dirinya. Derita batin dan fisik yang menderanya membuat Patsey nyaris putus asa dan memohon bantuan Northup untuk mengakhiri hidupnya, namun Northup menolaknya.
Suatu ketika perkebunan kapas milik Epps diserang wabah. Paska perkebunan diserang wabah serangga kapas, Epps mengatakan bencana ini memang dikirim Tuhan akibat ulah para budak-budaknya yang tak tahu diri. Ia pun menyewakan budak-budaknya untuk bekerja di perkebunan tebu (gula) sampai sisa musim paceklik kapas berakhir. Selama bekerja di perkebunan tebu, Northup merasakan kebaikan sang pemilik perkebunan, yang membiarkan dirinya bermain biola di sebuah resepsi pernikahan dan menyimpan uang hasil bekerja.
Ketika Northup kembali ke perkebunan Epps, ia berupaya menggunakan uangnya untuk membayar mantan pengawas (Garret Dillahunt) untuk kirim surat tulisan Northup yang ditujukan kepada teman-teman Northup di New York. Mantan mandor yang kini menjadi budak berkulit putih pun setuju untuk mengirimkan surat-surat tersebut, dan menerima uang yang ditawarkan. Ternyata ia mengkhianati Northup. Ia melapor perihal Northup menulis dan akan mengirimkan surat kepada Epps. Northup bersusah-payah meyakinkan Epps bahwa cerita itu bohong. Dan Epps percaya, karena alasan Northup cukup masuk akal, “Saya hanya seorang budak, tak bisa menulis dan membaca. Dari mana saya memperoleh kertas dan tinta untuk menulis?” Setelah itu Northup membakar surat-suratnya yang ia telah tulis dengan susah-payah. Surat yang merupakan harapan satu-satunya untuk bebas musnah, ia sangat sedih.
Suatu hari, Epps murka, ia marah besar ketika mengetahui Patsey hilang dari perkebunan. Saat ia kembali, Patsey mengaku pergi untuk mengambil sabun di perkebunan sebelah, karena istri Epps tidak pernah memberikannya sabun hanya untuk sekadar membersihkan dirinya saat mandi. Epps memerintahkan Patsey melucuti bajunya, lantas kemudian diikat pada sebuah tiang kayu. Tindakan menghukum cambuk terhadap Patsey sangat didukung oleh istri Epps. Akan tetapi Epps tidak tega untuk mencambuk Patsey dengan tangannya sendiri, ia pun memaksa Northup untuk mencambuk Patsey. Northup dengan terpaksa menuruti perintah majikannya tersebut. Karena merasa tak tega Northup mencambuk Patsey setengah hati dan pelan. Karena itu Epps berang, akhirnya Northup mencambuk Patsey dengan sangat keras. Melihat Nothup mampu mencambuk Patsey dengan keras, Epps mengambil alih cambuk dari tangan Northup dan melanjutkan mencambuk Patsey dengan kejam hingga serpihan daging dan cucuran darah Patsey bercambur di atas tali cambuk. Punggung Patsey hancur lebur akibat cambukan beringas Epps, Patsey pun terkulai pingsan.
Saat Patsey pulih, Northup mulai bekerja di sebuah konstruksi  gazebo dengan seorang tukang kayu asal Kanada bernama Bass (Brad Pitt). Bass terang-terangan menyampaikan ketidaksenangan terhadap Epps atas perlakuan kejam Epps terhadap budak-budaknya. Bass mengekspresikan dirinya bahwa ia melakukan perjuangan anti perbudakan. Hal ini didengar oleh Northup. Dan memicu keyakinan Northup bahwa Bass adalah orang yang tepat untuk menceritakan tentang riwayat hidupnya sesungguhnya. Northup pun bercerita kepada Bass tentang penculikannya. Sekali lagi, Northup mencoba mencari pertolongan melalui Bass dengan mengirimkan surat ke Saratoga. Awalnya Bass menolak, dengan alasan berisiko terhadap keselamatan dirinya sendiri, namun akhirnya ia setuju untuk mengirimkan surat-surat tersebut demi kemanusiaan dan perjuangan terhadap penghapusan perbudakan.
Northup pun dipanggil oleh sherif setempat, yang datang menggunakan kereta kuda bersama seorang lelaki. Sherif menanyakan serangkaian pertanyaan investigasi kepada Northup untuk mencocokkan dengan sejumlah fakta yang terjadi di kehidupan kota New York. Northup mengenali teman sherif sebagai seorang penjaga toko yang ia kenal baik dari Saratoga. Lelaki ini memang datang untuk membebaskannya. Lalu keduanya berpelukan dalam suasana penuh keharuan. Epps menolak pembebasan itu. Patsey pun merasa bingung dengan situasi pembebasan itu. Northup bergegas pergi meninggalkan perkebunan dan  tidak memberikan Patsey pelukan terakhir. Setelah diperbudak selama 12 tahun, Northup kembali menjadi manusia bebas dan berkumpul kembali dengan keluarganya.
Film ini ditutup dengan catatan yang berisikan informasi bahwa Northup membawa orang-orang yang bertanggung jawab atas penculikan dirinya ke pengadilan namun tidak berhasil menjerat mereka dengan hukuman yang setimpal. Pada tahun 1853, Northup mempublikasikan bukunya, Twelve Years a Slave yang kemudian menjadi judul film pemenang Piala Oscar 2014 ini.***


Jakarta, 5 Maret 2014

Selasa, 11 Februari 2014

Kumpulan Cerpen PEREMPUAN LOLIPOP

Diterbitkan oleh
Gramedia Pustaka Utama

Perempuan Lolipop
(Bamby Cahyadi)

Sinopsis:

Tak ada cara terbaik menikmati perjalanan selain membiarkan dirimu tersesat. Ketika berhadapan dengan jalan yang tampak tak berujung dan jembatan serupa yang membingungkan. Terus saja berjalan. Setiap belokan, setiap sudut, menghadirkan misteri tersendiri. Tersesat adalah anugerah, karena dirimu tak tahu apa yang menanti di balik tiap kelokan. Bukankah begitu dengan kehidupan, bahkan kematian sekalipun?

Dalam kumpulan cerpen ini Bamby banyak menampilkan sisi lain dalam memaknai sebuah kematian—yang di cerpen-cerpen awal menjadi tema khusus—yang selama ini kurang dianggap. Kematian bisa dimaknai sebagai hal yang “wajar” tapi sekaligus misterius; pilu sekaligus paripurna yang indah. Menarik bagaimana penulis kelahiran Manado ini berbicara lewat kata dalam berbagai tema. Ia mampu memoles sebuah kesedihan karena ditinggal pergi menjadi energi untuk melanjutkan hidup hingga menyadarkan kita bahwa setiap peristiwa adalah ruang bagi kita untuk menemukan maknanya.

Ukuran : 13.5 x 20 cm
Tebal : 208 halaman
Harga : Rp. 50.000,-
Cover : Softcover
ISBN : 978-602-03-0259-1

Selasa, 07 Januari 2014

Dunia Murakami [Cerpen Jawa Pos, 5 Januari 2014]

Cahaya bulan tak pernah tampak, dan jalanan kini begitu lengang. Toko-toko telah lama tutup, lampu-lampu taman pun sudah dipadamkan. Aku melesat dengan sebuah mobil kekar buatan Jepang, membelah malam, menyingkap paksa tirai gerimis yang terus berderai. Mobil ini bagai kuda besi yang berderap-derap melaju di padang rumput yang basah dan sunyi.
Saat ini jarak adalah sesenti demi sesenti yang menyiksaku. Jarak antara aku dan kau. Mobilku terus melaju kencang. Berpacu, berpacu, berpacu! Jangan sampai terlambat. Musik kusetel kencang-kencang, terdengar musik ala R&B David Guetta dari sebuah stasiun radio swasta yang tak pernah berhenti mengudara. Stasiun radio itu telah mengubah informasi kemacetan lalu-lintas menjadi hiburan yang ditunggu-tunggu pendengarnya.
Saat kita terakhir bertemu–beberapa jam lalu–kau mengenakan kaus dan celana jins, meskipun pakaianmu tak minim, dadamu begitu besar hingga membuat kausnya terenggang ketat
Aku menatapmu takjub dan bersiul spontan saat kau mendekatiku. Aku mohon maaf, bukannya aku lancang melakukan sebagian aktivitas pelecehan seksual yang jelas-jelas tercantum dalam peraturan perusahaan. Sampai-sampai tatapanku seperti menjelajahi sekujur tubuhmu. Terus terang tatapanku terkunci pada setiap lekuk tubuhmu. Masa bodoh dengan peraturan perusahaan, aku rela menerima surat peringatan karena memandangmu dengan pukau. Pura-pura tak melihat belahan dadamu dibalut kaus ketat adalah tindakan lelaki bodoh.
Berkat kompromi kita minum di sebuah restoran yang berdekatan dengan toko buku di sebelah tenggara kantor selepas jam kerja. Aku banyak merayumu sepanjang minum bergelas-gelas red wine kegemaranmu. Jujur aku kurang suka wine, minuman itu membuatku cepat mengantuk. Pilihanku sebenarnya pada vodka, itu lebih mantap, membuatku lebih lepas. Sambil mencicipi menu makan tapas, aku melontarkan ucapan-ucapan gombal yang paling dahsyat.
Matahari menjelang terbenam ketika aku dan kau meninggalkan restoran itu dan melangkah memasuki sebuah toko buku di pojok jalan. ”Aku mencari sebuah novel,” katamu. ”Novel?” tanyaku.
Sekolom cahaya jatuh ke lantai toko buku saat kami memasukinya.
Lampu-lampu halogen digantung pada kait-kait besi di dinding membuat rak-rak kayu bermandikan cahaya. Dinding toko buku terbuat dari batu-batu kasar ditumpuk rapat saling menempel membentuk sudut miring. ”Pantas kamu memilih toko buku ini untuk mencari novel, ah novel apa tadi?”
”Aku belum menyebutkan judul novel yang kumaksud, Tio,” jawabmu sambil berpaling tersenyum padaku yang berjalanan di belakangmu. Aku begitu menikmati dirimu, menikmati wewangian Boss Nuit Pour Femme nan sensual.
Aku terus mengekormu, memandang pantatmu yang elok dan begitu padat terbungkus jins yang beruntung itu menuju suatu koridor. Kau berbelok di sudut lain koridor dan segera memasuki sebuah ruang.
”Novelnya ada di sini!” cetusmu sambil menunjuk ruangan yang kita masuki.
Matamu berbinar-binar ketika novel itu kau ambil dari raknya. Novel yang cukup tebal, bisa dipakai sebagai senjata beladiri disaat terdesak.
”Haruki Murakami, 1Q84!” ujarku spontan.
Yup!” katamu mantap, memandang sampul novel itu.
”Aku sudah baca buku Murakami yang lain... Norwegian Wood dan Dunia Kafka, hanya dua itu, karya dia yang lain belum baca, yang itu juga belum,” kepalaku menjulur menunjuk ke arah buku yang kau pegang dengan bahagia.
Tiba-tiba kau berkata, dan perkataanmu membuatku terkejut namun tak mampu kutahan tawaku, kerena kupikir kau bercanda.
“Tio, aku akan masuk ke dalam buku ini. Aku adalah tokoh utama novel ini!”
”Hah?” Aku terperangah dan terdiam sejenak. Lantas aku tergelak. Beberapa pengunjung toko mengeluh. Seorang dari mereka, perempuan separuh baya yang terlihat memesona karena memakai gaun rancangan desainer terkenal, kuduga. Ia melotot dan mendesis. Ia menaruh jari telunjuknya tepat pada bibir yang dibuat melancip.
”Maaf!” seruku.
Ketika itu kau mendadak lenyap dari pandanganku. Kau benar-benar hilang. Hanya sebuah buku tebal Murakami yang jatuh berdebam lantas tergolek di lantai toko buku ini. Plastik pembungkusnya terlepas, dan novel tersebut dalam keadaan terbuka.
”Aurora!” jeritku.
Pengunjung toko yang menyaksikan kau mendadak lenyap masuk ke dalam buku, tercekat. Perempuan anggun yang tadi melotot dan mendesis padaku berteriak histeris, lantas pingsan. Ia benar-benar melihatmu hilang dan masuk dalam novel itu seperti kesiur angin yang menyelinap di celah jendela.
Aku memungut novel Murakami dan bergegas menuju kasir untuk membayar novel tebal ini. Kasir itu ragu-ragu ketika ia menindai novel Murakami ini, karena ia tahu, kau ada di dalam buku ini sekarang! Aku cepat-cepat pergi meninggalkan toko. Berharap dengan cemas, aku sekadar bermimpi saja.
Di luar toko, gumpalan awan kelabu seakan berpagut dengan pucuk-pucuk gedung pencakar langit, senja cepat berganti malam. Aku berlari menuju parkiran mobil diiringi hujan gerimis yang siap menderas. Di dalam mobil hanya menggunakan penerangan minim segera kubaca novel tebal ini untuk melacakmu.
Setelah membaca beberapa halaman novel ini, aku tahu cara menyusulmu, Aurora. Aku tahu, sangat tahu. Tunggu aku di tahun 1984!
Pukul sebelas malam. Sebenarnya aku cukup gusar, menatap nanar novel Murakami yang ada di tangan kiriku, tangan kananku mencengkeram erat setir mobil seraya terus mencari celah cahaya untuk menembus ruang dan waktu. Aku berkendara melewati Cawang. Memutar arah untuk lewat jalan tol, lantas mobilku melenggang di jalan tol yang lengang ke arah Bogor.
Wiper kaca mobil berdesir-desir menyingkap tetesan hujan yang terus menerus menimpa kaca mobilku. Pikiranku melayang pada novel ini lagi. Jadi kau sekarang menjelma, Aomame, nama tokoh utama perempuan dalam novel ini. Seorang instruktur kesehatan (cocok sekali dengan tubuhmu yang bugar dan aduhai itu), dan kau seorang pembunuh bayaran tanpa ampun. Ya ampun, mengerikan sekali! Aurora, maksudku, Aomame, sadar kah kau, dalam cerita itu kau telah berpindah ke dunia surealis dan kau sendiri tak pernah tahu jawabannya. Dunia di mana ditandai dengan meningkatnya jumlah bulan menjadi dua. Makanya, Murakami menyebutnya 1Q84. Plesetan tahun 1984 itu dijadikan judul novel ini, cerdas sekali ia!
Baiklah, baiklah. Satu-satunya cara menemuimu, aku harus menjadi Tengo. Tokoh lelaki novel sialan ini. Entah kebetulan, entah tidak. Tokoh perempuan bernama Aomame, kau Aurora. Aku Tio, nama tokoh novel ini Tengo. A ketemu A. T jumpa T. Ya, kubaca tadi, Tengo berprofesi guru matematika dan penulis lepas. Ia menerima tawaran dari seorang editor untuk menjadi ghost writer dengan menulis ulang karya berjudul Air Chrysalis (Kepompong Udara) milik gadis aneh berusia 17 tahun bernama Fuka-Eri. Sejak itu banyak masalah muncul dalam kehidupan Tengo (kalau aku bisa sampai pada tahun 1984, berarti ia itu diriku). Dan masalah memuncak, ketika Tengo sadar bahwa dunianya mendadak berubah persis seperti apa yang dituliskannya dalam Air Chrysalis, di mana jumlah bulan meningkat menjadi dua.
Imajinasi yang luar biasa bukan? Brengsek benar Murakami, ia telah mencuri kau dariku, Aurora. Kini ia memaksa aku memasuki tahun 1984, dengan cara memacu mobilku sekencang-kencangnya, membelah jalanan malam yang kelam, tepat pukul nol-nol, akan ada seberkas cahaya yang harus aku terobos,  saat aku sudah melintas pada cahaya itu dengan kecepatan tinggi tentunya, aku akan sampai di tahun 1984, tahun di mana latar kisah karya Murakami ini terjadi.
Seberkas cahaya tampak terang benderang di ujung jalan tol ketika aku melewati wilayah Cibinong. Aku pacu mobil ini semakin kencang, semakin cepat, sekencang-kencangnya bagai kilat halilintar, dan aku, hilang! Melesat cepat dan hampa.
Langit merendah dan membungkus kami. Sekarang aku paham kenapa Aurora masuk ke dalam buku, kenapa aku bersusah payah menembus masa lalu di tahun 1984. Karena aku dan Aurora harus menjadi manusia yang hampa, yang tiada, yang kosong, agar jarak bukan lagi sesenti demi sesenti yang menyiksa. Agar kami menjadi imajinasi.
Bagi seorang pencerita, rasanya ideal sekali jika cerita kami berakhir dengan luar biasa. Akhir yang membahagiakan. Kalian menahan napas menanti hal itu di akhir cerita ini bukan? Kedengarannya bagai dongeng saja. Tapi ini sama sekali bukan dongeng. Percayalah.***

Cerpen ini terinspirasi dari Novel 1Q84 karya Haruki Murakami

Jakarta, 5 Maret 2013 – 1 Januari 2014


Bamby Cahyadi. Lahir di Manado, 5 Maret 1970.  Bergiat di Komunitas Sastra Jakarta (Kosakata). Menulis cerpen di berbagai koran dan majalah. Kumpulan Cerpennya, Tangan untuk Utik (2009) dan Kisah Muram di Restoran Cepat Saji (2012).

Jumat, 03 Januari 2014

Curhat Dua Generasi (Cerpen Suara Karya, 4 Januari 2014)

Lelaki Tua yang Tak Pernah Puas

Usia saya sudah tak muda lagi, mendekati enam puluh tiga tahun. Seumur hidup saya ini, saya telah mengalami perkawinan sebanyak tiga kali. Perkawinan pertama hanya berlangsung delapan tahun, lantas kandas bagai kapal laut yang karam mencium batu karang.
Perceraian terjadi karena masalah ketidakharmonisan rumah tangga. Biduk pernikahan saya pecah berantakan, akibat rasa tidak puas diri saya. Persoalannya sebenarnya sepele, apalagi pada zaman sekarang tentunya. Ya, istri saya ternyata bukan gadis lagi saat saya menikahinya. Ia bukan perawan! Selama delapan tahun saya mencoba menahan derita batin ini akibat rasa tidak puas padanya.
Namun saya tak berhasil mengatasi perasaan ketidakpuasan itu. Terlebih lagi apabila saya membaca tulisan tentang “perawan” atau teman-teman sekantor bergosip masalah “keperawanan” seorang perempuan, hati saya selalu merasa tersinggung dan teriris.
“Wah, sungguh beruntung si Badu, ia menikah dengan perawan yang masih fresh from the oven,” celetuk sejawat saya saat itu. Hati saya langsung mendidih.
“Pasti seprai ranjangnya penuh dengan titik-titik noda merah,” seru sejawat saya yang lain di seberang meja. Hati saya membara mendengarnya. Panas, panas, panas!
“Kalian jangan menyindirku!” hardik saya, sejawat saya di kantor saling berpandangan dan pecahlah tawa mereka. Begitulah, saya menjadi lelaki yang sangat muda tersinggung.
Tak lama setelah perceraian dengan istri saya yang tak perawan itu, saya tergiur oleh kecantikan seorang perempuan keturunan Arab dan ia berstatus janda. Gayung bersambut, sang janda yang Arab itu mau menikah dengan saya. Perkawinan pun terjadi.
Ah, tapi sungguh menyedihkan. Bahtera rumah tangga bersama perempuan keturunan Arab itu hanya berlangsung dua tahun. Ya, dua tahun! Persoalannya pun cukup memalukan, saya tak mampu mencukupi kebutuhannya secara ekonomi. Istri saya yang Arab itu sungguh doyan belanja dan pelesir.
Dua kali saya berstatus duda dengan menghasilkan empat orang anak. Tiga anak dari istri saya yang tak perawan itu dan seorang anak dari istri saya yang keturunan Arab itu. Semuanya masih kecil-kecil. Tentu saja semuanya ikut ibunya.
Atas tawaran dan petunjuk kedua orang tua saya pada waktu itu, akhirnya saya menikah untuk ketiga kalinya. Saya menikah dengan seorang guru bahasa Inggris berstatus janda dengan dua anak. Sehingga anak saya menjadi enam. Ambisi untuk menikahi perempuan perawan saya paksakan enyah dalam sanubari saya, musnah dalam kehidupan saya. Bukan karena saya menyerah, tapi saya sadar diri  pada saat itu, saya bukan jejaka lagi.
Ternyata dengan sikap menerima kenyataan, tidak berambisi menikahi seorang gadis yang masih perawan, kehidupan rumah tangga saya yang terakhir ini bisa bertahan 24 tahun lamanya. Dari istri saya yang guru berstatus janda dengan dua anak, saya dikaruniai dua orang anak lagi. Sehingga total anak saya ada delapan.
Terus terang, malu sebenarnya saya mau bercerita kondisi saat ini, dalam usia tua seperti sekarang ini, saya sangat haus akan bacaan-bacaan berbau porno, film-film bernapas porno, begitu pula gambar-gambar beraroma porno. Otak saya isinya porno melulu.
Melalui internet saya berhasil melampiaskan hobi berburu sesuatu yang porno-porno. Saya bahkan tahu ada 10 peringkat bintang porno berusia paling muda sedunia. Melihat mereka darah saya bergelegak. Berahi saya morat-marit.
Padahal dalam umur yang setua sekarang ini, saya pun telah berusaha untuk memperkuat iman dengan membaca buku-buku agama, menghadiri berbagai majelis taklim dan mendalami berbagai pengetahuan tentang ajaran-ajaran agama. Tetapi apa daya, semua itu tak mempan.
Rasa tidak puas dalam kehidupan seksual saya benar-benar mengganggu ketenangan jiwa saya. Masalahnya, di saat-saat saya masih ingin mencari kepuasan biologis, istri saya yang berumur 51 tahun itu tampaknya sudah mulai pasif. Sehingga apa pun yang berhubungan dengan hubungan intim pasangan suami istri, inisiatif selalu timbul dari saya.
Pernah saya berterus terang mengemukakan apa yang sebenarnya saya inginkan darinya. Ia mengerti dan bersedia memenuhi apa yang saya minta. Ia minum jamu-jamuan tradisional dan obat herbal dari China agar singset dan libidonya membara. Ia pergi ke salon, totok wajah, totok payudara dan totok vagina. Tetapi itu hanya berlangsung beberapa minggu saja, lalu ia pasif kembali seperti sebatang pohon pisang yang tergolek di atas ranjang.
Oh, bagaimana saya mengatasi rasa tidak puas selagi saya masih mampu melakukan hal itu? Jujur, saya tidak mau meniru hal-hal yang sering dilakukan oleh pejabat atau elite partai di negeri ini, nikah siri. Bagi saya, pernikahan ketiga ini yang terakhir.
Walapun, hal-hal porno selalu menari-nari di benak saya, menggelayuti di kepala saya yang rambutnya sudah tersapu warna kelabu pada setiap helainya dan menancap pada otak saya. Jijik saya menikahi secara siri seorang perempuan muda perawan pula.
Biarlah orang tua tak tahu diri yang lain yang melakukannya. Bukan saya. “Bukan begitu Miyabiku sayang?”
Kepala saya serasa dikangkangi oleh Miyabi yang manis itu. Masih untung Miyabi, bukan sapi. “Ha..ha..ha!” Tawa saya lepas sekali.

Perempuan yang Mencintai Dirinya Sendiri

Saya seorang pelajar berusia 17 tahun, duduk di bangku kelas III SMK. Saya mendapat haid pertama kali pada usia 12 tahun. Waktu itu saya merasa sangat malu, sehingga saya tidak mau memberitahu kepada siapa pun. Termasuk ibu saya.
Namun pada akhirnya ibu saya tahu. Terus terang saya sangat takut waktu masa haid datang pada waktu itu. Ibu saya yang membelikan pembalut wanita di super market.
Pernah suatu kali, pembalut bocor dan menodai pakaian saya yang serba putih (padahal tayangan iklan pembalut tersebut di televisi, katanya anti bocor), sehingga apabila haid datang dan saya harus bepergian saya menjadi sangat gelisah.
Bila pelajaran olahraga tiba, saya sering berpura-pura sedang sakit, saya begitu takut orang lain akan tahu saya sedang haid. Pengalaman saya ini mirip sekali dengan tayangan iklan di televisi, tetapi begitulah faktanya.
Sebenarnya bukan masalah haid ini yang akan saya ceritakan. Begini, saya mempunyai masalah, akhir-akhir ini  saya sering bermimpi bermesraan dengan teman sejenis. Saya sering bermimpi bergumul, bermesraan dan bercinta dengan perempuan. Hal ini membuat hati saya cemas, sekaligus bahagia. Saya sangat menikmati mimpi-mimpi indah tersebut.
Waktu saya masih SMP, saya pernah berteman akrab dengan Irawati. Ia murid baru di sekolah kami, ia baru pulang dari Amerika mengikuti orang tuanya yang diplomat. Irawati lah yang menghampiri saya ketika saya pura-pura sakit karena haid datang. Ia dengan ramah bertanya pada saya, apakah saya baik-baik saja?
Lalu akhirnya saya cerita sebenarnya saya tidak sakit, tapi lagi datang bulan. Irawati lantas tertawa ngakak. Selanjutnya ia menawari saya sebuah pembalut wanita yang ia sering kenakan. Pembalut itu super tipis, berbeda seperti yang ibu saya sering belikan di super market.
“Percayalah, ini dijamin anti bocor,” katanya meyakinkan dan bukan bermaksud beriklan.
Tiba-tiba pertanyaan bodoh meluncur dari bibir saya, “Apakah pembalut setipis ini dapat menghilangkan kegadisan seseorang?”
Irawati kembali tertawa ngakak, “Suatu hal yang jauh dari kenyataan,” katanya setelah tawanya reda. Ada desiran halus yang menggetarkan saraf-saraf saya ketika melihat Irawati tertawa ngakak seperti itu.
Entah mengapa, saya nurut saja ketika Irawati meminta agar saya segera memakai pembalut pemberiannya, ia mengantar saya sampai di depan pintu toilet sekolah. Ia berjaga di depan pintu toilet, dan entah kenapa darah saya semakin berdesir-desir.
Irawati lantas menjadi sahabat saya. Kami semakin akrab. Saya tahu Irawati menyukai saya. Tapi saya tak tahu perasaan suka seperti apa yang menyeruak dari hati saya menyelinap ke hati Irawati, atau sebaliknya.
Saya ingin sekali dipacari Irawati, padahal pada waktu itu ia sudah memberikan sinyal kuat bahwa ia akan memacari saya. Tapi saya tolak dengan halus, terus terang saya takut dosa, saya masih takut pada Tuhan. Yang jelas Irawati pernah mencium bibir saya dengan begitu membara
Lepas SMP, Ira pindah ke Kanada. Ia ikut orang tuanya yang ditugaskan negara. Sekarang Irawati jauh dari saya, dan saya selalu rindu padanya.
Banyak teman laki-laki yang suka terhadap saya, bahkan ada yang terang-terangan mengucapkan kata-kata cinta di kantin sekolah. Entah gombal, entah beneran. Semuanya saya tolak. Jadi saya belum pernah pacaran sama laki-laki.
Saya menjadi tidak suka laki-laki. Padahal saya ingin sekali bisa mencintai laki-laki. Lantas melupakan Irawati yang lesbian. Tapi saya mencintai Irawati, saya menyukai perempuan, serupa saya mencintai diri saya sendiri.
“Hai, peluklah saya, saya sangat menginginkannya. Peluklah saya dengan mesra”. Tulis saya di penghabisan halaman catatan harian. ***


Catatan: Kalau ada kesamaan curhat dengan cerpen ini, yang pasti itu bukan plagiat

Jakarta, 30 Mei 2013


Bamby Cahyadi, lahir di Manado, 5 Maret 1970. Bergiat di Komunitas Sastra Jakarta (Kosakata). Buku terbarunya, Kisah Muram di Restoran Cepat Saji (Gramedia Pustaka Utama, 2012)