Senin, 01 Maret 2010

Saut Situmorang VS Hudan Hidayat, Sahabat Sejati

Ini adalah komen-komen Saut Situmorang, aku mengumpulkannya dan kusimpan dalam blog pribadiku, karena aku sangat suka perbedaan pendapat. Tetapi, aku tak suka arogansi model Saut Situmorang.


Hudan Hidayat memang Sampah Internet! Dia merusak Sastra Indonesia dengan memberikan puja-puji palsu persis kayak yang dia ejek-ejek Sapardi lakukan atas Ayu Utami. Apa pertanggung-jawaban dia terhadap mereka yang dia tipu dengan puja-pujinya itu? Dan ada persoalan apa dengan kau kalau aku bilang Hudan Hidayat itu Sampah Internet? Begitu susah dulu... See More untuk memberikan kesan bagus bagi Sastra di Internet yang dihina redaktur koran semasa dia sendiri juga melecehkan Internet, sekarang kerna aksesnya ke Media Indonesia udah gak ada lagi dan internet begitu bebas, seenaknya aja dia memanfaatkannya demi popularitas pribadi, ATAS NAMA SASTRA! ANJING DIA ITU! apa kau pikir gak gampang berbuat kayak yang dia buat itu! tapi kenapa cumak dia sendiri yang mau melakukannya! kerna cinta pada Sastra?! kerna memang bahagia dia melihat ada bakat-bakat bagus?! Cobak kau bela dia dan jelaskan di sini!

Hudan Hidayat itu kecil! karyanya pun tak penting dan cumak dibicarakan kawan-kawannya di Media Indonesia DULU kerna dia bujuk-bujuk terus! aku pun berkali-kali dia bujuk untuk bicarain ponografinya yang berjudul "Tuan dan Nona Kosong" itu, hahaha... Kacian nih makhluk. ngejek-ngejek Tardji dan Danarto cumak kerna iri mereka selalu ... See Moredibicarakan dan selalu dapat hadiah sastra! tidak lebih dari itu alasannya! Goenawan Mohamad aja kita hajar, apalagi cumak Hudan Hidayat dan para cecunguk yang berhutang budi padanya kerna dipuja-puji gak jelas! Kalau mau perang, silahkan katakan. kami dari "boemipoetra" akan dengan senang hati memerangi mereka yang merusak Sastra Indonesia!

tapi, Bamby, suatu saat aku memang pengen kali ketemu kau, hahaha... sejak kau bilang kau mau menghajar buku eseiku itu, aku jadi pengen belajar langsung ama kau, pasti kau hebat. eh, kemaren kok gak berani ke Jogja demi bukumu itu? buku sendiri harus dibela dong, di mana pun, hahaha...

INI ADALAH PEMBUKAAN CERPEN SI BAMBY YANG BARU AJA DIA TAG-KAN KE AKU:

"Cerpen saya di Majalah Story, edisi ke-7, 25 Januari - 24 Februari 2010

TANDA CINTA DARI AKHIRAT... See More
Oleh : Bamby Cahyadi

Kami adalah keluarga pertama yang menempati rumah di kompleks perumahan perbankan, di Medan. Sebuah kompleks perumahan yang diperuntukkan bagi staf sebuah bank milik negara terbesar di Indonesia. Tentu saja kami menempati salah satu rumah di kompleks itu, karena ayahku seorang staf di perusahaan bank tersebut.

Setelah mendarat di Bandara Polonia dengan sebuah pesawat Garuda Indonesia berbadan lebar, kami langsung diantar oleh seorang perwakilan perusahaan menuju kompleks perumahan itu...."

KALOK ORANG MEMBUKA CERPEN AJA KAYAK GINIAN, GIMANA MO NERUSKAN BACANYA! PERNAH BACA CERPEN SASTRA GAK YA PENULISNYA INI! HAHAHA... TAPI PASTI HUDAN HIDAYAT AKAN BILANG "KALIMAT-KALIMATNYA DAHSYAT" DAN SEGALA TAIK KUCING LAINNYA DAN BAMBY PUN JADI CERPENIS SASTRA, BUKAN CERPENIS MAJALAH FEMINA! HAHAHA...

DISAMPING BEGITU KERINGNYA KALIMAT-KALIMAT DI PARAGRAF PERTAMA ITU, COBAK LIAT MUBAZIRISME KALIMAT PERTAMA DAN KALIMAT TERAKHIR PARAGRAF PERTAMA TERSEBUT! KALOK KITA UDAH "MENEMPATI RUMAH" SEBUAH PERUMAHAN BERARTI KITA "MENEMPATI SALAH SATU RUMAH" DI SITU KAN! HAHAHA...

KEMUDIAN APA ADA RUPANYA PESAWAT GARUDA INDONESIA YANG "BERBADAN KECIL"! DAN BUAT APA INFO INI DIBERIKAN DALAM KONTEKS PEMBUKAAN CERITA ITU? APA MEMANG ADA FUNGSINYA? TAPI HUDAN HIDAYAT PASTI AKAN BILANG: WAH PESAWAT GARUDANYA KEREN, SANGAT PUITIS, DATANG DARI JIWA SEORANG PETUALANG ANGKASA SEJATI!

mo main kata-kata ama aku kau lagi, hahaha...aku gak kayak kau, obsesif dengan pendapat orang lain. kerna kau dulu yang begitu heroik di Facebook bilang mau menghajar buku eseiku kalok udah keluar, mangkanya aku ingatkan kau! itu kan janjimu, di ruang publik lagi kau teriakkan, nah sekarang buktikanlah. sederhana aja kan, hahaha...

sorry aku gak baca bukumu dan gak akan baca bukumu, hahaha... alasannya jugak sederhana: masih terlalu banyak buku bagus yang harus aku baca dan aku gak punya waktu untuk buang-buang waktu membaca karya sekedar saja, kerna pekerjaan membaca itu serius, gak kayak membaca ala Hudan, hahaha...

cerpenmu yang jelek itu udah aku tunjukkan keburukannya kan, nah sekarang tunjukkan pada sajakku di atas yang kau anggap buruk! ayo, bung, ayo, hahaha...


Hahaha... Aih, aih, au, au! Dia tahu 'anak muda' pasti akan terbakar dgn kombur omong kosong heroiknya itu tentang dia 'mengampak' yg senior2, hahaha... Baru diundang baca cerpen aja ke Salihara dia langsung puji2 TUK di Facebooknya sendiri, hahaha... Mungkin dia lupa bawa minyak angin cap Kapak nya waktu nerima undangan Sitok Sering-ek-ek itu, hahaha...

Bambino,

gak mampu alias impoten ya untuk buktiin jeleknya sajak om Saut yg kau muat di atas itu! Tapi memang itulah ciri-utama kalian para sastrahomo tuhan Hudan: GAK MAMPU JELEK2IN LANTAS MUJI2 SETINGGI LANGIT SEMUA SAMPAH KAWAN SENDIRI! ini namanya Tragedi Inteklektual dan Moral, hahaha... Orangutan di Bohorok aja kagak sehina ini, hahaha...
Bambino, hahaha... Makin mantaf kau! Gak perlu aku ladenin iri hatimu yg obsesif pengen kayak Saut Situmorang itu kan, hahaha... Kacian deh kau gampang dipsikoanalisis, hihihi... Eh, mana tuh pembuktian darimu tentang sajakKu yg kau muat di atas dan bilang karya jurnalistik itu? Aku masih nunggu neh. Siapa tau pembuktianmu sangat berguna dan aku ... See Morepakek buat revisi sajakku itu, lumayan kan buat perkembangan karier kepenyairanKu! Sampek kapankah daku musti menunggu, Bambino sayang? Jugak hajaranmu atas buku eseiku itu. Kan kau bilang udah kau baca abis buku itu, berarti udah siap dong kau menghajarnya! Janji musti ditepatin loh! Kalok nggak maka kau itu cumak kekasih homonya Hudan doang, hahaha...

Datang dong ke acara ultah Apsas kami itu. Kau anggota Apsas jugak ya? Kok bisa ya? Padahal mutu kayak kau gak pernah ada di Apsas kami, hahaha... Kok gak berani ke Jogja sih! Kerna tuhan Hudan gak ikut ya! Gimana kalok buku2 yg kau 'sumbangkan' untuk ultah Apsas kami ini aku tolak aja ya! Kan aku yg mimpin acara ini kayak kau bilang di atas, ... berarti pemimpin punya hak dong menentukan buku2 mana yg layak beredar di acaranya dan mana yg layak langsung terjun bebas ke tong sampah! Cemmana? Hahaha...

HAHAHA... PENCINTA BUKU NIH YEEE, TAPI OGAH JADI PENCINTA KEBENARAN, HAHAHA... BORJUIS BANGET, HAHAHA...

5 komentar:

sandra palupi mengatakan...

pembelajaran yang menarik Bam. bukan hal yg sia sia rasanya, bila komen Bung Saut kau simpan begini. salam.

lousatyabudi mengatakan...

ya, kita jadi lebih paham lagi bhw ada juga orang spt saut situmorang, sastrawan yg mungkin merasa saking bebasnya berekspresi jadi bebas saja ngata-ngatain orang macam itu.. saya pribadi sih berharap tdk pernah kenal dgn orang dgn tipe spt beliau, mas bamby...

Cahyadi mengatakan...

Asik juga bacanya.. lama nggak baca yang seperti ini.. lama juga nggak baca buku -buku "sastra",

wiwi' mengatakan...

ya Tuhaann.. aku jadi bertanya-tanya nih, mas bamby, pembelaan pada sastra Indonesia itu apa ya harus ngomong kasar gitu yak? kok seperti anak SD mbales ngatain ke temennya? kata Ibuku : ora tata.. tidak sopan.
dia orang jogja khan? ckckck.. (didikane sopoo kuwi yoo.. kok dadine koyo ngono, duh Gustii..)

padahal katanya sastrawan senior lho.. Mempermainkan nama orang juga setahuku tidak ada di ajaran sastra Indonesia, walau dari daerah manapun..

hmm.. arogan memang mengerikan ya mas Bamby, seperti 'bermain air (kotor) memercik di muka sendiri..

setuju dengan komen di atas.. untuk pembelajaran kita.. maksudnya ini contoh yang tidak baik.. jangan ditiru. Salam.

pena pena berprestasi MII mengatakan...

haaa... haa.. haa..

aku sampai ketawa bacanya..

kejam banget...