Jumat, 05 Januari 2018

Ars Longa, Vita Brevis [Cerpen, Tribun Jabar 12 November 2017]


ARS LONGA, VITA BREVIS
Oleh: Bamby Cahyadi

Ars longa, vita brevis. Itu kalimat yang meluncur dari mulut ayahku ketika ia bertengkar sengit dengan ibuku.
Ayahku mengundurkan diri dari restoran cepat saji terbesar di jagad ini ketika usiaku 6 bulan, ketika itu ayahku menyatakan berhenti bekerja dari perusahaan waralaba restoran cepat saji itu dengan haru-biru. Konon kabarnya ia menangis tersedu-sedu saat menyerahkan sehelai surat pengunduran diri pada atasannya. Tentu saja ia menangis, bayangkan, ia bekerja di restoran itu genap 16 tahun, waktu yang tidak boleh dikatakan singkat. Sebab apa? Apabila ia–maksudku waktu 16 tahun itu seorang bocah laki-laki–mungkin kini ia sudah ahli merancap bahkan bisa saja ia menghamili anak gadis orang. Ya, itu bisa-bisanya aku saja.
Ayahku tidak pernah menyangka bahwa ia akan menjadi bagian dari perusahaan yang begitu terkenal dan mendunia yang papan-papan iklannya bisa kita saksikan di layar televisi ketika ada pertandingan sepakbola level benua bahkan dunia, misalnya Piala Eropa, Piala Dunia atau Olimpiade dihelat. Betul sekali, perusahaan ayahku selalu menjadi sponsor utama perhelatan olahraga itu. Membanggakan tentunya. Sayangnya saat itu aku belum lahir. Tapi tidak apa-apa, bukan soal besar bagiku. Karena aneka pernak-pernik dari restoran cepat saji itu kini menjadi mainan milikku, mulai dari boneka Hello Kity, Kungfu Panda, Snoopy hingga karakter Ronald yang semuanya suplemen dari menu Happy Meal.
Semula ayahku bercita-cita menjadi wartawan meski ia jebolan Fakultas Ekonomi jurusan Manajemen. Hmm, agak aneh juga. Tapi memang ia itu ayah yang aneh pada kenyataannya. Harap bersabar mengenai cerita perilaku aneh ayahku. Bagian ini baru prolog. Kalau pun aku tak ceritakan karena tulisan ini telah menjadi sebuah cerpen. O ya, ayahku kini bekerja di sebuah restoran cepat saji yang lain yang tak sebesar yang pertama.

Ayahku Sarjana Ekonomi, tapi keinginan terbesarnya bekerja menjadi Jurnalis. Ia pun menyelesaikan kuliahnya terlambat setahun, lantaran ia terlalu asyik jadi aktivis mahasiswa. Kudengar cerita masa mahasiswanya yang heroik dari obrolan dengan ibuku, ketika itu ia memang suka menulis dan aktif bergiat di Unit Pers Mahasiswa di kampusnya. Bahkan ia pernah menjadi ketua senat mahasiswa, ia aktivis dan tukang demo. Semakin menarik, bukan? Padahal kita tahu menjadi aktivis mahasiswa di zaman rezim Soeharto sangatlah pelik untuk tidak mengatakannya sulit.
“Aih, aku ingin sekali bercerita tentang masa muda ayahku, tentu yang kuketahui dari ibuku, dan langsung dari sumbernya, ayahku,” seruku kegirangan sendiri.
Kucing-kucing si Farel, tetanggaku yang semula anteng terkantuk-kantuk saling peluk dan garuk-garuk bulu di depan teras rumahku mendadak terbangun dan mengeong. “Sabar ya, Mpus!” kataku pada kucing-kucing itu setengah berbisik, separuhnya lagi menghardik. Kucing-kucing Farel beranjak pergi berhamburan sambil mengibas-ibas ekor mereka, melirikku dengan benci.
Namun ada yang mengganjalku, apabila aku yang bercerita, tentu cerita ini akan bertutur dengan naratornya aku sebagai “Aku”, aku yang sebagai sudut pandang orang pertama. Hal ini tentu tidak adil, aku hanya akan menyerupai Haruki Murakami yang serba-tahu dalam novel-novelnya. Lagi pula saat ini aku akan berulangtahun yang ke-6 di bulan Oktober nanti. Jadi tak mengapa aku menjadi bocah sok tahu untuk sementara waktu.
Namun setelah kupikir-pikir, tak jadi perihal luar biasa dan merepotkan bagiku, bahkan aku pernah dengar ada cerita yang diceritakan oleh seekor monyet, anjing, babi, kecoak bahkan sebuah benda mati sekalipun sebagai orang pertama yang bertutur. Dengan begitu, hal itu memberi peluang bagiku untuk bercerita tentang ayahku saat ia masih belia, atau siapa saja yang terlibat dalam kisah ayahku. Mungkin, atau bisa jadi, Anda juga akan terlibat dalam cerita ini. Seru bukan?
Iya, ya ya. Aku sudah menduga, kalian akan mengatakan secara lugas, bahwa aku anak kecil sok tahu, anak kecil yang terlalu banyak berkhayal, imajinatif, maniak fantasi dan sekadar berbual. Bukan kah hal itu ciri khas anak kecil sekali untuk tidak menuliskannya banget. Dan sudah kukatakan pada paragraf sebelumnya. Hal ini membuatku terkikik.
Sebentar.
Hari ini masih pagi, hari Minggu. Ayah dan ibuku masih tidur ketika ayam jantan peliharaan Pak Tohir, bapaknya si Farel, berkokok limabelas kali. Aku sangat tak paham, mengapa ayam Pak Tohir itu selalu berkokok limabelas kali, tak kurang pun tak lebih. Padahal apabila patokan hitungan adalah jam, maka seharusnya ayam itu berkokok 12 kali sesuai angka pada jam, angka 1 hingga 12. Atau 24 kali, sesuai hitungan dalam 1 hari terdiri atas 24 jam. Bisa juga 7 kali, secara simbolik bahwa 7 kali merupakan jumlah hari itu dalam 1 minggu dengan sebutan hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu. Ya, hari ini hari Minggu, hari ke-7. Seharusnya ayam Pak Tohir berkokok cukup 7 kali petanda ini hari, hari Minggu. Kulihat jarum pendek pada jam dinding menunjukkan angka 8. Bolehlah juga setelah ayam itu berkokok 7 kali, lantas menyambungnya dengan berkokok sebanyak 8 kali penanda jam saat ini. Lho? Ya ampun! Bukan kah secara matematis kokok ayam 15 kali tadi sudah menerjemahkan hari ke-7 dan tepat pukul 8 pagi ini. Betapa tololnya aku ini. Tapi, maklumlah aku kan hanya anak kecil.
“Koran-koran!”
Di depan pagar, Pak Badiru loper koran langganan ayahku sudah berdiri. Sepeda ia sandarkan pada sisi pagar yang lain. Agak terlalu mainstream loper koran selalu menggunakan sepeda sebagai alat transportasi, tapi kenyataannya demikian. Seperti seorang pacar yang menerima surat dari sang kekasih, aku berhambur ke arah pagar dengan mata berbinar-binar.
“Dek, bapakmu masih tidur ya?” tanya Pak Badiru.
“Iya pak, biasaaa!” jawabku singkat dengan tarikan panjang pada kata biasa.
“Ini Kompas Minggu, ini Jawa Pos, ini Media Indonesia, ini Pikiran Rakyat, dan ini Nova... eh ada Tribun Jabar, nich!” ujar Pak Badiru sambil mengangsur 5 buah koran dan sebuah tabloid ke tanganku.
“Lho, koran Republikanya mannaaaa?” sergahku dengan tarikan panjang pada kata mana.
“Astaga. Saya lupa bawanya, Dek!” Pak Badiru menepok jidatnya sendiri.
“Huh, dasar pikun!” gerutuku. Tentu dalam hati, tak sopan menghardik orang tua seperti Pak Badiru dengan suara lantang seperti toa masjid yang beberapa bulan lalu di Tanjung Balai dijadikan alat provokasi untuk membuat kerusuhan.
“Nanti siang saya ke sini lagi ya, bilang ke bapakmu,” kata Pak Badiru seraya menaiki sepedanya.
“Oke boss!” sahutku.
Sebenarnya Pak Badiru setiap hari Sabtu juga datang mengantar koran ke rumahku, ia mengantar Koran Tempo edisi Akhir Pekan dan Kompas edisi hari Sabtu. Ia hanya datang pada hari Sabtu dan Minggu, hari lain tidak.
Aku membawa koran-koran dan tabloid itu ke ruang tamu dan meletakkannya di atas meja tamu, sembari tanganku meraih remote televisi mencari saluran acara televisi kesukaanku Upin-Ipin, hore!
Nanti saat ayahku bangun, pastinya hal pertama dan utama yang ia lakukan adalah membuka halaman koran lembar demi lembar dengan antusias, lalu pada halaman tertentu ia akan berhenti, ia melumat isi lembar koran pada tangannya dengan bersemangat, lantas ia membuka halaman koran yang lain, berhenti pada halaman tertentu, dan semua koran yang ada ia begitukan. Setelah itu bergegas ia mengambil laptop, menyalakannya dan mengaktifkan koneksi internet, lantas ia larut dengan laptopnya, entah apa yang ia lakukan. Mungkin ia menemukan lowongan pekerjaan yang diiklankan di koran-koran itu lalu ia membuat surel lamaran pekerjaan.
Itu dugaanku. Aku tidak begitu yakin apa aktivitasnya.
Kembali ke suasana rumahku saat ini.
Ayah dan ibu sudah bangun. Hal pertama yang dilakukan ayah seperti yang telah kuutarakan tadi. Ibuku membereskan rumah lantas beberapa saat kemudian... mareka sudah mandi.
Aku melihat ibu sedang menyisir rambutnya yang tebal dan panjang tergerai hingga ke pinggul. Ia terlihat begitu modis, ia memandang wajahnya yang cantik dari pantulan cermin sambil bersenandung. Sesekali ia mengerlingkan matanya pada cermin itu. Wajahnya telah ia pulas dengan bedak dan bibirnya telah ia poles dengan lipstik merah cerah. Ia terlihat begitu narsis. Entah apa yang ada di benaknya saat ini. Kini ia memerhatikan tatanan riasan wajahnya, membetulkannya sedikit, memastikan semuanya sudah terlihat sempurna. Cantik. Pantas saja ayahku jatuh cinta padanya.
Aku lihat ayahku mendekati ibu. Ada perihal penting rupanya yang akan ayah sampaikan hari ini pada ibuku.
Ketika hal itu ayah sampaikan, ibuku terperangah dan hampir saja terjerembap ke lantai, untung ia masih sempat bersandar pada kusen pintu kamar. Ketika aku dengar, ayah mengatakan bahwa ia mengundurkan diri dari lagi dari tempatnya bekerja. Ibuku buru-buru menguasai dirinya dengan manarik napas dalam-dalam dan diembuskan melalui mulutnya seperti saat ia melahirkanku, dulu. Ibuku berupaya mencerna tentang perkataan ayah, lantas ia memandang wajah ayah dengan mata menyipit. Dahi ibuku mengerenyit membuat semacam tanda tanya besar di dahinya.
”Ya, aku berhenti bekerja lagi,” kata ayahku berupaya menjawab kerenyitan ibu. ”Ini bagian dari resolusiku tahun 2017!” lanjut ayah mantap.
“Mau jadi apa kamu kalau tidak kerja?” tanya ibuku dengan ketus.
“Aku memutuskan untuk menjadi penulis saja, menulis cerpen dan novel,” jawab ayahku datar. “Seperti yang sudah kulakukan saat ini,” ujar ayah melanjutkan perkataannya lagi.
“Mau makan apa kita?”
Ars longa, vita brevis!” Jawab ayah tegas.
Suara ibuku tiba-tiba melengking lantas menggelegar bagai gemuruh guntur di langit kelam dan siap menghancurkan plafon rumah kami yang mendadak berderak-derak.
“Koran-koran, Republikanya udah ada nih!” Suara Pak Badiru mengheningkan sejenak suasana panas yang mencemaskan ini. Ayah juga pernah berkata, untuk merasakan sepi datanglah ke keramaian. Lihatlah betapa kerumunan orang-orang hanya serupa gumpalan awan yang siap lenyap ketika angin berembus.
Tapi mengapa ibuku berkata dengan nada sangat tinggi, “Mau makan apa kita?”, ketika ayahku bilang ia mau menjadi penulis saja? Sebagai anak kecil, bagian inilah yang tak kumengerti, maka kusudahi saja cerita ini. ***
*) Saat ini Koran Tempo yang memiliki rubrik cerpen dan puisi terbit di hari Sabtu dan Kompas mengubah konsep pemuatan Puisi pada hari Sabtu dan Cerpen pada hari Minggu.
*) Ars Longa, Vita Brevis adalah frasa latin yang berarti Seni itu panjang, sedangkan hidup itu pendek


Kalibata City-Bintaro Plaza, 21 September 2017
Bamby Cahyadi, lahir di Manado, 5 Maret 1970. Menulis cerpen untuk sejumlah koran, tabloid dan majalah. Buku kumpulan cerpenterbarunya Apa yang Terjadi Adalah Sebuah Kisah (Desember, 2016).

Rabu, 08 Februari 2017

Apa yang Terjadi Adalah Sebuah Kisah

Hanya dijual di Toko Buku TOGAMAS harga Rp 47.000,- (belum termasuk ongkir). Bisa juga dipesan langsung ke Penerbit UNSA Press dan penulisnya yang keren Bamby Cahyadi.

Jumat, 03 Februari 2017

Apa yang Terjadi Adalah Sebuah Kisah (Kumpulan Cerpen Bamby Cahyadi)

APA YANG TERJADI ADALAH SEBUAH KISAH

Penulis: Bamby Cahyadi
Penerbit: UNSA Press
Cetakan Pertama: Desember 2016
ISBN: 9786027439344
Isi: vi + 141 hlm. ; 13 cm X 19 cm

Petikan Cerita:

Malam itu pesawat yang saya tumpangi dari Kuala Lumpur menuju Beijing meledak menjadi serpihan debu paling kecil di dunia. Bahkan menjadi kesiur angin laut yang lembap tak terdeteksi radar. Mereka mengatakan pesawat itu hilang.
Menjelang penggantian tahun 2014 menuju 2015. Pukul 21.15 Wib. Ada seorang tante yang kesepian. Ada seorang mahasiswa yang terombang-ambing, kemudian mencari kedamaian di sebuah tempat pelacuran yang sudah tutup. Ada seorang pemuda baik-baik yang oleh berbagai kemelut akhirnya terperangkap menjadi Gigolo. Ada sepasang makhluk berlainan jenis kelamin yang terkulai di atas ranjang, lalu larut dalam rasa berdosa yang dalam.
Saya menyaksikan itu semua sebagai hantu di ruangan sempit ini. Ingat, ini bukan mimpi. Acta est fabula. Apa yang terjadi adalah sebuah kisah. Saya berada dalam pesawat nahas yang kalian nyatakan hilang itu. Permainan telah berakhir. Kalian masih terus mencari, mencari hingga kalian lupa apa yang kalian cari.



Bamby Cahyadi adalah penulis cerpen kelahiran Manado, 5 Maret 1970. Ia menulis berbagai tema cerita pendek di koran, majalah, dan tabloid. Ia aktif mengelola Komunitas Sastra Jakarta (Kosakata) bersama teman-temannya. Kesehariannya Bamby bekerja di industri food and beverages, ia meraih gelar Bachelor of Hamburgerology dari McDonald’s Hamburger University Sydney, Australia. Bersertifikasi Internasional Food Safety (ServSafe International) dari Burger King dan NRA (United State National Restaurant Association).

Buku-bukunya yang telah terbit, Kumpulan cerpen Tangan untuk Utik (Koekoesan, 2009), Kisah Muram di Restoran Cepat Saji (Gramedia Pustaka Utama, 2012) dan Perempuan Lolipop (Gramedia Pustaka Utama, 2014). Terlibat dalam antologi Bob Marley dan 11 Cerpen Pilihan Sriti.com (GPU, 2009), bunga rampai cerpen Si Murai dan Orang Gila (DKJ & Kepustakaan Populer Gramedia, 2010), bunga rampai cerpen Tuah Tara No Ate (TSI IV Ternate, 2011), novel bersama 11 penulis lainnya berjudul Sengatan Sang Kumbang (2011), Kitab Antologi Puisi Sastra Reboan Cinta Gugat (Pasar Malam Production, 2013), dan Kumpulan Cerpen Pilihan Majalah Esquire Indonesia Pesan untuk Kekasih Tercinta (GPU, 2015).  Pada bulan Oktober 2013, Bamby diundang sebagai salah satu sastrawan dalam Bienal Sastra Salihara 2013. Ia bisa ditemui di Twitter, dengan akun: @bambycahyadi

Selasa, 20 Desember 2016

Pre Order "Apa yang Terjadi Adalah Sebuah Kisah"

OPEN PRE-ORDER KUMCER KE-4 BAMBY CAHYADI

Sebagai penulis cerita pendek (cerpen) tentu saya pun berkeinginan menulis cerita panjang, seperti novel, misalnya. Namun nafas saya cukup terengah-engah untuk menulis novel. Apalagi profesi saya sebagai pekerja restoran dan café, terkadang menghambat produktivitas menulis. Biar pun begitu saya tetap menulis cerpen sesuai keinginan hati. Sehingga kembali bisa menerbitkan sebuah kumpulan cerita pendek (kumcer) adalah kebahagiaan terbesar dalam hidup saya di dunia sastra yang penuh dinamika.

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Pada hari ini tepat tanggal 20 Desember hingga 31 Desember 2016 menjelang penghujung tahun dan awal tahun baru 2017, buku kumpulan cerpen saya ”Apa yang Terjadi Adalah Sebuah Kisah” penerbit UNSA Press dibuka untuk PEMESANAN LEBIH AWAL (Pre Order).

APA YANG TERJADI ADALAH SEBUAH KISAH vi + 143 hlm. ; 13 cm X 19 cm. ISBN 978-602-74393-4-4. Penerbit Unsa Press, Harga buku Rp 45.000,- (bebas ongkos kirim untuk pemesan di Pulau Jawa) Bonus wording dan tanda tangan penulis. Pemesan dari luar Pulau Jawa ada ongkos kirim yang akan diinformasikan penerbit.


Bagi teman-teman yang ingin memesan, silakan inbox saya di Facebook Bamby Cahyadi


dengan menyertakan Nama Lengkap, Alamat Lengkap beserta kode pos, Nomor HP dan jumlah buku yang dipesan. Jadikan buku kumcer ini sebagai hadiah Tahun Baru 2017 yang paling indah. Terima kasih.

Kamis, 18 Agustus 2016

CERITA PENDEK BELUM SELESAI [dimuat di Tribun Jabar 22 Mei 2016]

Dimuat di Tribun Jabar (22 Mei 2016)

 

CERITA PENDEK BELUM SELESAI

Oleh: Bamby Cahyadi

 

1

Sebagai seorang penulis cerpen yang tidak begitu produktif, terkadang kehidupan saya ini begitu membosankan. Saya tidak memiliki suatu tempat yang nyaman untuk melakukan aktivitas menulis. Saya pun menulis sedikit-sedikit dan pendek-pendek. Ingin sekali menulis panjang, lantas jadi novel. Namun begitu, dalam benak saya sering melintas dan berlompatan imajinasi tentang gambaran suatu peristiwa yang sekonyong-konyong muncul minta dibikin cerita.

Maka apabila berkesempatan saya tuliskan peristiwa tersebut, meski nantinya tidak selesai. Contohnya seperti ini:

 

Aku memandang sinar-sinar lampu stasiun yang berpendar-pendar di antara tiupan angin malam yang lembut, aku merasakan semua suasana ini seolah-olah memanggil-manggil diriku.

Mendadak tiupan angin berubah mengeras dan berputar-putar menyapu dedaunan yang gugur di permulaan musim hujan, menimbulkan suara gemerisik yang cukup mencekam. Awan-awan tebal tetap menyembunyikan rembulan seolah mencegahnya menyaksikan kejadian yang sebentar lagi akan berlangsung.

Awan-awan rendah menyelimuti suasana tengah malam ini, seakan-akan meredam gaungan lonceng yang berdentang-dentang 12 kali.

Hari ini hari yang suram dan penuh kabut. Cuaca berkabut seperti ini biasanya terjadi setiap tahun di desa kami. Menuju ke desa kami yang terletak di titik pertemuan dua sungai, jalan yang harus dilalui begitu turun naik dan berliku-liku menembus lereng-lereng perbukitan dengan jurang-jurang curam dan dalam di kanan dan kiri jalan. Para pengendara kendaraan yang menempuh jalan tersebut harus selalu ekstra hati-hati.

Berbelok ke kiri mengelilingi dasar sebuah gunung yang cukup tinggi dengan tebing curam di sebelah kanan jalan yang diberi pagar berupa tonggak-tonggak kayu penyelamat, sekaligus pembatas. Begitu melewati punggung gunung, langit di sebelah kananku sekonyong-konyong dipenuhi warna merah terang menyala dan tampak berkobar-kobar.

Sewaktu aku terbangun keadaan di sekelilingku tampak gelap gulita dan aku mulai menyadari bahwa diriku berada dalam sebuah kendaraan yang sedang bergerak. Tanganku terikat di belakang badanku dan begitu juga kedua kakiku. Aku ingin sekali berteriak.

“Kalau kamu melakukannya aku akan menyumbat mulutmu!” Terdengar suara lantang dari kursi kemudi, seolah ia tahu jalan pikiranku.

 

Nah, biasanya setelah itu, saya bingung sendiri untuk menulis kelanjutannya dan mengatur alur cerita ini untuk dituntaskan.

 

2

Beberapa novel atau cerpen terjemahan yang saya baca (saya tidak membaca buku dengan teks bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya), saya sangat menyukai sebuah cerita dengan suasana musim salju. Terkadang saya suka berkhayal, alangkah bahagianya apabila Indonesia memiliki musim dingin yang bersalju, akan banyak penulis yang akan bercerita dengan latar musim dingin bersalju ketimbang musim hujan dan senja.

Saya pun seperti latah, mencoba menulis sebuah cerita dengan lokasi di sebuah hotel pada sebuah musim salju entah di mana.

 

Pada suatu hari kegelapan musim salju jatuh lebih awal. Saat ini senja di luar, ketika pintu hotel didorong terbuka dan seorang lelaki muda berjalan masuk. Ia baru saja menembus deruan salju di luar sana. Pegawai hotel mendongak melihat lelaki itu berhenti tepat di tengah lobi hotel sambil menyentakkan kakinya dan mengibaskan sisa-sisa butiran salju yang menempel di jas lelaki itu.

Ia seorang lelaki muda yang tampan, dengan pakaian yang rapi, sesuatu yang menambah keperlenteannya adalah cambang yang rapi di kedua sisi dekat telinga. Penampilan lelaki itu cukup menimbulkan rasa segan bagi pegawai hotel tersebut.

 

Ya, begitu saja. Kapan-kapan cerita ini akan saya lanjutkan apabila “perlu” bukan “mau”. Maksud saya, apabila saya perlu uang tambahan untuk hidup saya.

3

Untuk membuat saya ada, maka saya menulis. Menulis status di media sosial pun tidak masalah. Karena sekadar membuktikan, “Saya ada lho!” Masalahnya, saya menulis status apabila ada sesuatu hal yang memang benar-benar saya pikirkan dan ingin saya ceritakan. Buah pikiran saya memang tidaklah penting-penting amat. Hanya saja apabila tidak saya tuliskan mengakibatkan rasa penasaran tentang sesuatu yang saya pikirkan itu akan menghantui.

Tentu sebagian besar dari kaum lelaki pernah bermasturbasi, saya pun demikian adanya. Pengalaman pertama tentu saja tak akan terlupakan. Terus terang saya ingin ceritakan saat-saat pertama melakukannya. Dan saya tuliskan begitu saja.

 

Napasku berembus cepat dalam kesunyian, dan yang bisa kulakukan adalah menutup mata. Satu sentuhan tanganku pada batang kemaluanku hampir meledakkan jantungku. Denyut jantungku berdentam-dentam di dalam dada. Aku tidak pernah merasakan gairah semacam ini. Aku merasakan gelombang kenikmatan yang begitu intens dibandingkan apa pun yang pernah aku rasakan sepanjang hidupku. Rasanya begitu sempurna disentuh seperti ini, tanganku membelai kemaluanku sendiri. Sebuah pelepasan memancarkan kemana-mana. Aku merasakan kepuasan itu dari ujung-ujung jari kaki hingga ke ubun-ubun kepala.

 

Ada hal yang luput dari saya, teman-teman di media sosial tidak melulu isinya manusia dewasa yang cukup paham akan isi tulisan saya. Ada juga beberapa bocah yang mendadak terangsang setelah membaca status saya itu, ketika itu saya merasa sangat bersalah.

 

4

Saya bekerja di industri makanan cepat saji. Untuk mendapatkan hari libur yang tepat atau mengambil masa cuti yang pas bukanlah perkara mudah. Kami harus menyesuaikan jadwal libur atau cuti dengan hari-hari sepi, atau bulan-bulan sepi di mana tidak ada transaksi penjualan yang signifikan terjadi di restoran.

Jadwal kerja yang padat seringkali menimbulkan keluhan-keluhan tak berguna. Karena meskipun mengeluh, toh pekerjaan ini tetap saya lakoni dengan penuh hati. Beruntung saya penulis, sebagai ungkapan keinginan untuk berlibur, jadilah sebuah cerita yang imajinatif.

 

Hal terakhir yang aku ingat adalah wajah perempuan itu yang mendekat, dan sepertinya ia mengedipkan sebelah matanya. Ia menggelengkan kepalanya. Ia berkata sesuatu, tapi suaranya terdengar sangat jauh.

Hal terakhir yang aku lihat, pola renda pada celana dalam perempuan itu akan maninggalkan tanda pada bokongnya dan melekat dalam ingatanku. Ia memakai bra biru dengan warna senada, dan tank top warna putih yang berpotongan sangat rendah sehingga memperlihatkan sebagian besar hiasan pada bra-nya.

Aku merasa bagai sebuah boneka bertali yang tiba-tiba dipotong benangnya. Tubuhku terkulai. Tidaklah gampang menjelaskan kepadanya mengapa aku perlu pergi dari tempat ini ke suatu tempat di tempat lain. Kali ini aku hanya mengatakan kepadanya bahwa aku ingin sekali berlibur. Berlibur ke suatu masa,  entah kapan?

 

NB: Tank top, bra dan celana dalam perempuan sesungguhnya sumber inspirasi bagi saya. “Itu pikiran cabul!” kata istri saya, ketika membaca sepenggal cerita tak selesai ini.

 

5

Kata siapa, saya suka hari Senin? Meski bagi saya pergantian hari dari minggu ke bulan ke tahun sama halnya dengan manusia yang bernapas secara terus menerus, bagi saya hari Senin adalah awal tumpukan masalah. Membuat hari Senin-mu indah, bacalah sepotong kalimat ini:

 

Hari Senin. Pada pagi hari orang-orang bergegas berlalu-lalang menuju suatu tempat. Dari dalam kendaraan berkelebatan kata-kata samar pada papan-papan iklan dan nama-nama toko yang dituliskan warna-warni. Pada malam hari, cahaya lampu dari kendaraan bermotor memendar menimbulkan bayangan-bayangan aneh namun hidup.

Kadang-kadang di antara jam 9 dan 10 pada pagi hari yang sama, seorang tukang cukur duduk-duduk di kursi cukur dalam ruangannya di jalan Tebet Raya, ia duduk sambil membaca koran dengan gaya malas-malas. Sesekali ia memandang keluar jendela, melempar pandangan mencari pelanggan. Seorang lelaki muda tiba-tiba saja sudah masuk dengan perlahan-lahan sehingga tukang cukur itu tidak menyadari keberadaannya dan tidak mendengar pintu ruang cukur dibuka seseorang. Lelaki muda itu berkulit putih dengan cambang dan kumis yang tampak tak beraturan, juga rambut yang tak rapi, sehingga memang sepertinya perlu dipangkas. Tukang cukur melonjak dan terburu-buru menyambut pelanggan dengan sopan. Ia berhenti dari keasyikan baca koran sambil duduk malas-malas, ia kini sibuk bekerja memangkas rambut dan merapikan cambang serta kumis pelanggannya itu.

 

Seperti biasa, saya bingung sendiri untuk menentukan kelanjutan cerita. Bagaimana plot cerita nantinya akan menghadirkan karakter pada tokoh cerita. Jangankan mengembangkan plot dan tokoh, melanjutkannya saja, malasnya minta ampun. Ya, itulah sebab saya kerap menghasilkan cerita-cerita gagal yang tak pernah selesai, yang kini tengah Anda baca.

 

6

Bagian ini bukan cerita gagal, akan tetapi sebuah curhat. Agar seolah-olah ini bagian dari cerita, maka saya miringkan saja font tulisan ini.

 

Aku tidak pernah punya ambisi dalam kesusastraan. Demi Tuhan, seandainya seseorang menyarankan aku untuk menjadi penulis yang menulis tentang lokalitas (kearifan lokal) atau cerita berlatar belakang budaya tradisional suatu daerah tertentu, aku akan menertawakan diriku sendiri dan si pemberi saran itu. Maaf, aku hanya bercanda. Alasan yang paling masuk akal, aku tak menulis tentang kearifan lokal, karena aku tak menguasainya. Meski hal itu menjadi kekuranganku selaku penulis tentunya. Aku menulis dan bercerita tentang sesuatu yang benar-benar aku ketahui. Itulah realitanya, sejak kecil hingga dewasa, aku tidak pernah menetap untuk periode waktu yang lama di suatu daerah atau tempat, sehingga aku tak mahir bertutur soal kearifan lokal.

Banyak penikmat sastra yang sering berseloroh gaya prosaku, termasuk para redaktur, tema cerpen yang kutulis dan suguhkan. Mengejek dengan halus bahwa aku penulis yang lugas, padahal maksudnya adalah aku miskin diksi dan metafora. Apakah benar? Setidaknya hal itu memicuku untuk selalu belajar, belajar dari siapa saja. Memperbanyak membaca buku sastra dan teori-teori kesusastraan yang memang belum kukuasai secara paripurna.

 

Saya memang menulis dengan hanya mengandalkan segenap kenangan, kesenangan, sedikit talenta untuk bergenit-genit dan menguji intuisi otak saya agar terus perpikir agar tidak menjadi gila atau bunuh diri. Padahal saya takut mati. Ha..ha..ha! ***

 

Jakarta, 02-02-2016

 

Bamby Cahyadi. Lahir di Manado. Berkerja di sebuah restoran cepat saji di Jakarta. Kumpulan Cerpen terbarunya, Perempuan Lolipop (2014).

Selasa, 16 Juni 2015

Tidak Mudah Menjadi Hantu [Dimuat di Jawa Pos]

TIDAK MUDAH MENJADI HANTU
Oleh: Bamby Cahyadi

Sultan Saladdin baru menyadari kematiannya setelah 7 tahun ia tewas akibat sengatan listrik di ruang tamu rumahnya. Ya, ketika itu usianya 38 tahun, dan apabila ia masih menjalani kehidupan sebagai manusia bernyawa maka kini ia genap 45 tahun.
Sultan Saladdin adalah lelaki baik-baik. Berumur tiga puluh delapan tahun kala itu, menikah dua kali. Pernikahan dengan istri pertama tanpa anak, pernikahan kedua ia beroleh dua orang anak. Ia bekerja sebagai wartawan di salah satu majalah mingguan ternama di ibukota, dan ia begitu mencintai buku, terutama buku sastra. Ia bergabung dengan komunitas penikmat sastra dan banyak mengikuti kegiatan-kegiatan sastra yang diselenggarakan oleh komunitas di mana ia menjadi anggota, meskipun bukan sebagai anggota aktif.
Kedengarannya memang konyol dan agak berlebihan, Sultan Saladdin baru mengetahui kematiannya setelah 7 tahun kemudian. 7 tahun, bukan 7 bulan apalagi 7 hari. Lalu kemana saja ia selama 7 tahun setelah kematiannya yang menyedihkan itu? Ia sendiri tampak bingung. Dahinya berkerut, seperti sedang memikirkan sesuatu yang serius. Saat ini ia merasa masih hidup. Dan, saat ini ia berada di sini, di rumahnya sendiri, sebagai hantu.
Dengan kondisi masih linglung, Sultan Saladdin berjalan menuju dinding ruang tamu, agak ragu-ragu ia menerabas masuk melalui dinding dan ia berhasil. Ia bisa menembus dinding tanpa terhalang lapisan semen dan batu bata di dalamnya. Ia lolos begitu saja serupa angin yang menembus kelambu. Ia kini di kamar tidur, istri dan anak-anaknya tidak ada di rumah saat ini. Kamar tidur lengang. Ia melihat sebuah sisir yang tergeletak di atas kasur, dengan tangan kanannya ia berusaha untuk mengambil sisir tersebut dan memindahkannya ke meja rias, namun hal itu tidak bisa dilakukannya, sisir itu seperti menjelma menjadi air yang hendak digenggam. Sultan Saladdin hanya memegang udara.
Sebagai hantu yang baru berada di dunia lain, Sultan Saladdin belum menyadari bahwa untuk memindahkan benda, para hantu harus mempelajarinya secara serius, karena dibutuhkan kemauan, kesabaran, kerja keras dan stamina yang mumpuni. Pada kenyataannya menjadi hantu tidaklah mudah bagi Sultan Saladdin. Ia mulai frustrasi.
Sultan Saladdin beranjak dari kamar tidur, ia menembus dinding kamar tidur menuju ruang makan, ia tertegun sejenak.
Ketika tiba di ruang makan, ia berharap mendapatkan suasana yang lebih ceria ketimbang di kamar tidurnya yang muram, kenyataannya ia menemukan sebuah ruang yang begitu sepi. Ia melihat sekeliling ruangan. Ada meja makan, enam kursi, dan lemari pendingin.
Sebuah jam besar menghadap ke arah Sultan Saladdin, dan ia mengamati jarum detiknya bergerak dengan jemu, seakan menegaskan lambatnya pergantian waktu bagi hantu seperti dirinya.
“Tidak ada siapa-siapa,” gumamnya.
Sultan Saladdin menghela napas, bertanya-tanya mengapa ia menjadi hantu setelah 7 tahun kematiannya. Ia memiringkan kepala, berpikir keras lagi.
Menjadi hantu setelah 7 tahun kematian memang sesuatu yang aneh. Namun karena ia memiliki daya ingat yang luar biasa, perlu diingat ia seorang wartawan semasa hidupnya. Samar-samar lantas makin tajam dan jelas Sultan Saladdin ingat ketika masa ia hidup, 7 tahun yang lalu.
***
Sultan Saladdin ingat betul, sehari sebelum kematiannya ia menonton berita di sebuah kafe di kawasan Kuningan dekat kantor KPK, sambil minum secangkir kopi hitam tanpa gula dengan Salman Rusdie, Sofyan Muharram dan Sabar Dwisunu. Mareka adalah sesama wartawan dari media yang berbeda. Salman wartawan senior koran Kompas, Sofyan reporter dari Metro TV dan Sabar selaku juru kamera. Mereka baru saja meliput konferensi pers yang digelar oleh ketua KPK, Abraham Samad, tentang penangkapan salah satu pimpinan KPK, Bambang Widjojanto oleh Bareskrim Mabes Polri.
Tapi ada yang luput dari ingatan Sultan Saladdin kejadian pada malam musibah itu terjadi. Malam itu, tujuh tahun yang lalu Jakarta dicekam musim hujan yang keji.
Esok hari setelah ia minum kopi di kafe dekat kantor KPK seperti biasa ia pulang dari kantornya dengan mengendarai motor kesayangannya menjelang tengah malam. Ia mengendarai motornya dari seputaran Senayan menuju Tebet, Jakarta Selatan.
Malam itu, di beberapa tempat orang-orang masih tampak menggerombol. Kios-kios sudah tutup, hanya satu warung yang menjual kopi dan minuman keras murahan yang masih buka di depan kompleks perumahannya. Semakin malam situasi semakin sepi, orang-orang yang bergerombol tampak menyusut hingga habis sebelum tengah malam tiba, ketika ia sampai di rumahnya hujan pun telah turun dengan deras.
Setelah membuka pintu gerbang dan memarkirkan motornya di depan teras rumah,  Sultan Saladdin mendadak merasa ada yang tidak beres dengan istri dan anak-anaknya. Malam itu, tidak seperti biasanya istri atau anak-anaknya tidak membukakan pintu untuk menyambut kedatangannya ketika deru motor menggerung di depan gerbang pagar. Sampai-sampai mereka pun lupa menyalakan lampu teras. Hatinya mendadak merasa was-was, perasaan khawatir menyeruak menggigit-gigit ulu hatinya. Apakah istri dan anak-anak tidak berada di rumah?
Pernah suatu ketika, saat ia pulang kerja malam hari, keadaan rumah lengang seperti rumah yang tak ada penghuninya. Lampu teras padam, di dalam rumah gelap gulita dan tak terdengar samar-samar suara televisi yang ditonton oleh anak-anaknya. Waktu itu karena bingung dan ponsel istri dan anak-anaknya tidak bisa dihubungi, ia kembali ke depan kompleks dan bertanya kepada pemilik warung di situ.
“Apakah Bapak melihat kemana istri dan anak-anak saya pergi?” tanya Sultan Saladdin kepada pemilik warung. Biasanya apabila berpergian dengan kendaraan umum, mereka selalu menunggu taksi atau angkot di depan warung itu.
“Tadi Ibu dan anak-anak naik taksi ke arah sana, Pak,” jawab pemilik warung menunjuk ke arah Manggarai.
Namun waktu itu kekhawatiran Sultan Saladdin segera pupus ketika menerima pesan pendek dari istrinya, bahwa ia dan anak-anak ke rumah orangtua istrinya karena sang ayah mertua terkena serangan jantung. Lega lah hati Sultan Saladdin.
Malam ini berbeda.
Perasaan seorang suami dan ayah dari dua orang anak ini, tiba-tiba membuat hati Sultan Saladdin semakin gelisah. Setelah ia mencopot helm yang membungkam kepalanya dan menanggalkan jaket yang memeluk tubuhnya, diketuk-ketuk pintu rumah sambil mengucapkan salam berulang-ulang, tapi tak ada jawaban dari dalam.
“Apakah suara deras hujan mengalahkan suara ketukan pada pintu?” batinnya.
Ia nyaris tak tahan menunggu selama beberapa menit di dalam kesuraman teras rumah dan perangkap malam yang basah.
 Akhirnya ia melangkah dengan napas membeku dan rasa dingin yang tiba-tiba menyebar ke bagian lehernya. Ia pergi ke belakang rumah, pintu di sana sudah digembok biasanya memang begitu. Selepas senja pintu belakang itu selalu telah dikunci. Perasaan Sultan Saladdin semakin diamuk kecemasan yang bergulung-gulung ketika ia mengetuk-ngetuk jendela kamar istri dan anak-anaknya tak ada sahutan dari dalam.
Ia kembali ke depan teras dan berusaha mengintip dari celah gorden. Ia kembali mengetuk pintu yang berdiri tegak itu.
Karena rasa khawatir dan penasaran yang begitu melilitnya, ia mencoba mendobrak pintu rumahnya dengan beberapa tendangan. Namun tidak memberi hasil, misalnya pintu rumah jebol dan berantakan seperti di film-film laga. Ia kemudian ingat, pintu rumahnya dibuat dari material kayu yang tak mudah didobrak dan dijebol apalagi hanya dengan tendangan kaki seorang wartawan.
Sultan Saladdin kembali mengintip melalui celah gorden yang tersibak kesiur kipas angin di ruang tamu. Betapa terperanjat, ia seperti disengat beribu binatang kalajengking, dari sela-sela gorden yang melambai-lambai akibat tiupan kipas angin ia melihat seluruh lantai di ruang keluarga berwarna merah. Hanya warna merah yang ia lihat di dalam rumah yang remang itu. Warna merah darah!
Sultan Saladdin tercekat beberapa saat, lantas ia berteriak, namun suaranya nyaris tercekik di tenggorokan menyangkut di udara. Kakinya bergetar, lututnya terperangkap dalam gemetar ketika melihat tubuh istrinya, Sumiati Susanti, terlentang dengan leher bersimbah darah. Kedua anaknya, Sukma Saladdin anak pertamanya telungkup, juga penuh darah. Sedangkan, Satria Saladdin anak kedua, digenangi darah seluruh tubuhnya.
“Tolong-tolong! Istri dan anak-anak saya dibunuh...!” Teriak Sultan Saladdin histeris.
Tetangganya dan orang-orang semakin ramai berdatangan beberapa saat kemudian dan memenuhi halaman di sekitar rumah Sultan Saladdin. Akhirnya pintu berhasil didobrak dengan bantuan petugas keamanan kompleks. Ketua RT telah menghubungi polsek setempat.
Ketika Sultan Saladdin menyeruak masuk ke ruang tamu sambil berteriak-teriak, ketika itu pula ia terpelanting dan jatuh ke lantai dengan kepala membentur lantai yang penuh dengan aliran darah istri dan anak-anaknya.
Ia merasa seperti disetrum oleh listrik dengan daya sengat yang sangat tinggi. Pandangan Sultan Saladdin gelap, semuanya menjadi berwarna hitam pekat.
***
Sultan Saladdin baru menyadari kematiannya setelah 7 tahun ia tewas. Ada sesuatu yang ia luput, ia bukan tewas tersengat listrik, ia hanya terpeleset genangan darah istri dan anak-anaknya, ia terpelanting dan jatuh ke lantai. Lantas pingsan.
Pada kenyataannya, Sultan Saladdin hanyalah seorang yang kehilangan kewarasannya. Ia seringkali merenungkan dan lantas membuat alur cerita cerdik dan situasi ganjil yang membingungkan selayak cerita dari buku-buku sastra beraroma detektif yang sering ia baca.
Ia punya kebiasaan berbicara sendiri, kemudian ia melihat sekeliling, berharap tak ada seorang pun yang mendengarnya. Ia kerap mengunjungi kuburan istri dan kedua anaknya, serta kuburan saya. Terkadang ia membawa bunga dan hanya duduk-duduk seperti berpikir di pinggir kuburan. Lantas ia berbicara sendiri, mengedar pandangan, dan berharap tak ada orang yang mendengarnya.
Begitulah keterlibatan saya dalam kisah ini. Saya adalah pendengar setia cerita-cerita Sultan Saladdin ketika ia berbicara sendirian sambil ia menenggak vodka terkadang wiski dan merasakan alkohol mengirimkan arus panas ke dalam darah dan tulangnya.
Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk mengatasi rasa kehilangan. Sultan Saladdin memilih menjadi pemabuk yang gila. Tapi tidak mudah menjadi hantu dan sekaligus pencerita seperti saya.***

Jakarta, 12 Februari 2015





Minggu, 11 Januari 2015

Saya dan Sastra yang Menyesatkan

Saya dan Cerita-cerita Tentang Saya

Bagi saya menulis adalah semacam terapi dan akan mencegah saya agar tidak terjerumus ke dalam suasana hati yang terkadang cenderung saya masuki itu. Suasana itu bernama kenangan.
***
            Kerena mengikuti Ayah saya yang perpindah-pindah tempat bertugas di sebuah perusahaan perbankan milik negara, masa kecil hingga remaja saya habiskan di Pulau Sulawesi, Jawa dan Sumatera. Oleh karenanya, saya dan kakak saya terlahir di Manado, Sulawesi Utara. Di Sulawesi Utara, Ayah sempat berpindah dari Manado ke Kotamobagu (Bolaang Mongondow). Di Kotamobagu adik saya lahir. Lantas pindah ke Bitung, sebuah kota pelabuhan super sibuk di wilayah Timur Indonesia masih di Sulawesi Utara. Masa penugasan Ayah saya setelah dari Bitung ke Ampana, Sulawesi Tengah. Ampana sebuah kota kecil yang berada di pesisir laut yang menghadap ke Teluk Tomini. Untuk mencapai Ampana, kami mendarat di Palu, lantas ke Poso dan kemudian melanjutkan perjalanan melalui darat dari Poso ke Ampana. Masa penugasan Ayah di Sulawesi Utara dan Tengah pada kurun waktu 1967-1979, masing-masing kota rata-rata 3 tahun. Oleh karenanya, saya bersekolah di TK hingga SD kelas I adalah di Bitung dan kelas II-IV SD di Ampana.
            Pada tahun 1979, Ayah saya dipindahtugaskan ke Tegal, Jawa Tengah. Saat pindah ke Tegal, masa itu saya kelas V Sekolah Dasar. Lulus SD di Tegal dan saya masuk ke sebuah SMP Negeri di kota Tegal, hingga kelas II, tahun 1983 Ayah dipindahtugaskan lagi, kali ini ke Medan, Sumatera Utara. Ayah saya meninggal dunia karena sakit ketika bertugas di Medan, tepatnya 15 Februari 1985, dan sebentar lagi–pada waktu itu–saya akan mengikuti Ujian Nasional kelulusan SMP. Saya lulus SMP di Medan.
            Ayah saya berasal dari Samarinda, Kalimantan Timur dan Ibu saya dari Tasikmalaya, Jawa Barat. Sewaktu Ayah meninggal, keluarga besar kami berunding mengenai di mana kah Ayah akan dimakamkan? Pihak keluarga besar Ayah saya menginginkan Ayah dimakamkan di Samarinda, kampung halamannya. Namun Ibu saya berkehendak lain, Ibu ingin Ayah dimakamkan di Tasikmalaya. Pada akhirnya, Ayah saya dimakamkan di Tasikmalaya, kota kelahiran Ibu saya. Kisah perjalanan ketika kami membawa jenazah Ayah dari Medan menuju Tasikmalaya, saya pernah tuturkan dalam sebuah cerpen berjudul “Aku Bercerita dari Pesawat yang Sedang Terbang.”
            Setelah lulus SMP tanpa disaksikan oleh Ayah, Ibu membawa kami pindah ke Tasikmalaya, kota berhawa sejuk dengan Gunung Galunggung yang fenomenal sebagai latar kota. Di Tasikmalaya saya menghabiskan masa SMA hingga Perguruan Tinggi. Lulus kuliah, saya memutuskan untuk bekerja di Jakarta, hingga saat ini.
            Tentu agak aneh, kenapa saya mengisahkan sekelumit masa kecil saya hingga remaja sampai lulus kuliah pada kata pengantar buku ini. Pertanyaan itu akan terjawab nantinya.
***
            Ketertarikkan saya menulis cerita pendek memang agak terlambat, apalagi memasuki dunia sastra Indonesia bisa dikatakan sangat terlambat. Dunia sastra itu bagaikan belantara luas, tanpa ujung dan pangkal. Kadang saya menemukan titik terang di sana, kadang saya tersesat di dalamnya. Dunia yang penuh dinamika yang tak pernah saya duga dan sangka-sangka sebelumnya.
Saya memang gemar membaca, saya masih ingat ketika itu bacaan yang sering saya santap adalah Kompas. Saya terbiasa membaca koran itu sejak SD kelas I, ketika koran itu dibawa Ayah dari kantornya ke rumah. Saya sering berebutan membacanya dengan kakak saya. Dikarenakan kami gemar membaca, maka Ibu mulai berlangganan majalah Si Kuncung dan Bobo untuk kami, pun majalah-majalah lainnya seperti Femina dan Kartini, tentu majalah dewasa itu untuk konsumsi Ibu saya, namun kami pun tak kuasa menahan hasrat untuk melahap isi kedua majalah tersebut. Saat SMP, kami berlangganan majalah Hai, Kawanku dan Anita Cemerlang.
            Masa kanak-kanak saya, remaja hingga dewasa memang bergelimang bahan-bahan bacaan mulai dari koran, majalah, buku-buku dongeng, novel dan komik. Ayah selalu membelikan kami buku bacaan baru apabila ia berdinas ke suatu tempat. Mungkin hal inilah yang memicu saya bercita-cita ingin menjadi wartawan. Bisa menulis berita apa saja dan tulisan saya dibaca oleh orang-orang. Ya, waktu itu cita-cita saya menjadi wartawan.
            Selain membaca, kegemaran saya yang lain adalah menggambar dan melukis. Ketika di Tegal, saya pernah menjadi juara ke-2 Lomba menggambar antar SD se-kabupaten Tegal, pun pada masa kelas VI SD saya pernah mengikuti Lomba Menggambar Kantor Pos kota Tegal, walaupun tidak menjadi juara, saat itu saya masuk liputan Berita Daerah di TVRI Yogyakarta. Bukan main girangnya, ketika melihat foto hitam putih yang ada sayanya sedang menggambar ditayangkan TVRI stasiun Yogyakarta. Saya sampai berguling-guling di lantai saking bahagia. Saya pun pernah mengirimkan hasil karya menggambar saya ke Bapak Tino Sidin di Jakarta, dan ketika Pak Tino Sidin menampangkan gambar saya di layar kaca TVRI Pusat, sambil berkata, “Bagus!” Ketika itu pula dunia saya seperti ditaburi dengan beraneka ragam bunga-bunga, entah melambung kemana perasaan saya saking bahagia. Begitulah kelakukan saya kanak-kanak.
            Karena keahlian menggambar, saya menjadi pengisi tetap Majalah Dinding saat SMP di Medan dan SMA di Tasikmalaya. Bahkan, saya mendapat jatah menjadi kartunis tetap edisi mingguan di Mading, dengan nama tokoh si Bocah, akronim nama saya. Di SMA selain bergabung menjadi anggota Pramuka dan pengurus OSIS, saya pun bergabung sebagai tim redaksi majalah sekolah. Masih lekat dalam ingatan saya, kami membuat majalah dengan sistem stensilan. Selain menulis di majalah tersebut, saya menjadi ilustrator untuk majalah siswa itu.
            Saya mengikuti banyak kegiatan ekstra kulikuler dan pelbagai kesibukan lainnya sejujurnya semua itu upaya pelarian dari kesedihan saya akibat Ayah meninggal. Saya ingin sekali melupakan kenangan yang penuh warna bersama Ayah saat ia masih hidup. Dunia saya waktu itu mendadak berubah warna, dari berwarna-warni menjadi kelabu. Saya marah kepada Tuhan, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Ibu saya setiap hari menangis dan menangis, meratapi kepergian Ayah yang begitu cepat. Meskipun ia larut dalam kesedihan yang mendalam, Ibu saya sosok perempuan yang tegar dan punya prinsip yang kokoh untuk menyekolahkan kami hingga ke perguruan tinggi. Cerita perjuangan Ibu saya pernah saya narasikan sebagai sebuah kisah berbalut fiksi berjudul “Aku Tidak Sehebat Kartini.”
            Melupakan kesedihan mengantar saya memiliki banyak aktivitas di sekolah. Sebuah pengalihan yang positif dan tentu bermanfaat bagi diri saya sebagai remaja.
            Tanggal 16 Agustus 1987, saya mengalami kecelakaan lalu-lintas yang hampir merenggut nyawa saya pada sebuah kegiatan Pramuka. Saya tak sadarkan diri hingga berjam-jam lamanya. Pada saat pingsan, saya bertemu dengan almarhum Ayah yang mengajak saya untuk mengikutinya ke sebuah tempat. Namun saya menolaknya, karena saya ingin menemani Ibu dan jangan sampai Ibu bertambah sedih akibat kehilangan saya. Dalam alam tak sadar itu, Ayah saya memaklumi keputusan saya, Ayah lalu pergi, ia memunggungi saya tanpa menoleh sedikitpun. Ketika itu saya tersadar dari pingsan serta bingung dengan apa yang terjadi. Tubuh saya tergolek di meja operasi. Dikarenakan cidera di kepala yang parah, saya menjalani perawatan intensif di rumah sakit sebulan penuh. Pengalaman ini saya jadikan cerpen berjudul “Tanda Cinta dari Akhirat.” (Bersambung di buku terbaru)
            

Jakarta, 31 Desember 2014, pukul 23.59 Wib.