Kamis, 18 Agustus 2016

CERITA PENDEK BELUM SELESAI [dimuat di Tribun Jabar 22 Mei 2016]

Dimuat di Tribun Jabar (22 Mei 2016)

 

CERITA PENDEK BELUM SELESAI

Oleh: Bamby Cahyadi

 

1

Sebagai seorang penulis cerpen yang tidak begitu produktif, terkadang kehidupan saya ini begitu membosankan. Saya tidak memiliki suatu tempat yang nyaman untuk melakukan aktivitas menulis. Saya pun menulis sedikit-sedikit dan pendek-pendek. Ingin sekali menulis panjang, lantas jadi novel. Namun begitu, dalam benak saya sering melintas dan berlompatan imajinasi tentang gambaran suatu peristiwa yang sekonyong-konyong muncul minta dibikin cerita.

Maka apabila berkesempatan saya tuliskan peristiwa tersebut, meski nantinya tidak selesai. Contohnya seperti ini:

 

Aku memandang sinar-sinar lampu stasiun yang berpendar-pendar di antara tiupan angin malam yang lembut, aku merasakan semua suasana ini seolah-olah memanggil-manggil diriku.

Mendadak tiupan angin berubah mengeras dan berputar-putar menyapu dedaunan yang gugur di permulaan musim hujan, menimbulkan suara gemerisik yang cukup mencekam. Awan-awan tebal tetap menyembunyikan rembulan seolah mencegahnya menyaksikan kejadian yang sebentar lagi akan berlangsung.

Awan-awan rendah menyelimuti suasana tengah malam ini, seakan-akan meredam gaungan lonceng yang berdentang-dentang 12 kali.

Hari ini hari yang suram dan penuh kabut. Cuaca berkabut seperti ini biasanya terjadi setiap tahun di desa kami. Menuju ke desa kami yang terletak di titik pertemuan dua sungai, jalan yang harus dilalui begitu turun naik dan berliku-liku menembus lereng-lereng perbukitan dengan jurang-jurang curam dan dalam di kanan dan kiri jalan. Para pengendara kendaraan yang menempuh jalan tersebut harus selalu ekstra hati-hati.

Berbelok ke kiri mengelilingi dasar sebuah gunung yang cukup tinggi dengan tebing curam di sebelah kanan jalan yang diberi pagar berupa tonggak-tonggak kayu penyelamat, sekaligus pembatas. Begitu melewati punggung gunung, langit di sebelah kananku sekonyong-konyong dipenuhi warna merah terang menyala dan tampak berkobar-kobar.

Sewaktu aku terbangun keadaan di sekelilingku tampak gelap gulita dan aku mulai menyadari bahwa diriku berada dalam sebuah kendaraan yang sedang bergerak. Tanganku terikat di belakang badanku dan begitu juga kedua kakiku. Aku ingin sekali berteriak.

“Kalau kamu melakukannya aku akan menyumbat mulutmu!” Terdengar suara lantang dari kursi kemudi, seolah ia tahu jalan pikiranku.

 

Nah, biasanya setelah itu, saya bingung sendiri untuk menulis kelanjutannya dan mengatur alur cerita ini untuk dituntaskan.

 

2

Beberapa novel atau cerpen terjemahan yang saya baca (saya tidak membaca buku dengan teks bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya), saya sangat menyukai sebuah cerita dengan suasana musim salju. Terkadang saya suka berkhayal, alangkah bahagianya apabila Indonesia memiliki musim dingin yang bersalju, akan banyak penulis yang akan bercerita dengan latar musim dingin bersalju ketimbang musim hujan dan senja.

Saya pun seperti latah, mencoba menulis sebuah cerita dengan lokasi di sebuah hotel pada sebuah musim salju entah di mana.

 

Pada suatu hari kegelapan musim salju jatuh lebih awal. Saat ini senja di luar, ketika pintu hotel didorong terbuka dan seorang lelaki muda berjalan masuk. Ia baru saja menembus deruan salju di luar sana. Pegawai hotel mendongak melihat lelaki itu berhenti tepat di tengah lobi hotel sambil menyentakkan kakinya dan mengibaskan sisa-sisa butiran salju yang menempel di jas lelaki itu.

Ia seorang lelaki muda yang tampan, dengan pakaian yang rapi, sesuatu yang menambah keperlenteannya adalah cambang yang rapi di kedua sisi dekat telinga. Penampilan lelaki itu cukup menimbulkan rasa segan bagi pegawai hotel tersebut.

 

Ya, begitu saja. Kapan-kapan cerita ini akan saya lanjutkan apabila “perlu” bukan “mau”. Maksud saya, apabila saya perlu uang tambahan untuk hidup saya.

3

Untuk membuat saya ada, maka saya menulis. Menulis status di media sosial pun tidak masalah. Karena sekadar membuktikan, “Saya ada lho!” Masalahnya, saya menulis status apabila ada sesuatu hal yang memang benar-benar saya pikirkan dan ingin saya ceritakan. Buah pikiran saya memang tidaklah penting-penting amat. Hanya saja apabila tidak saya tuliskan mengakibatkan rasa penasaran tentang sesuatu yang saya pikirkan itu akan menghantui.

Tentu sebagian besar dari kaum lelaki pernah bermasturbasi, saya pun demikian adanya. Pengalaman pertama tentu saja tak akan terlupakan. Terus terang saya ingin ceritakan saat-saat pertama melakukannya. Dan saya tuliskan begitu saja.

 

Napasku berembus cepat dalam kesunyian, dan yang bisa kulakukan adalah menutup mata. Satu sentuhan tanganku pada batang kemaluanku hampir meledakkan jantungku. Denyut jantungku berdentam-dentam di dalam dada. Aku tidak pernah merasakan gairah semacam ini. Aku merasakan gelombang kenikmatan yang begitu intens dibandingkan apa pun yang pernah aku rasakan sepanjang hidupku. Rasanya begitu sempurna disentuh seperti ini, tanganku membelai kemaluanku sendiri. Sebuah pelepasan memancarkan kemana-mana. Aku merasakan kepuasan itu dari ujung-ujung jari kaki hingga ke ubun-ubun kepala.

 

Ada hal yang luput dari saya, teman-teman di media sosial tidak melulu isinya manusia dewasa yang cukup paham akan isi tulisan saya. Ada juga beberapa bocah yang mendadak terangsang setelah membaca status saya itu, ketika itu saya merasa sangat bersalah.

 

4

Saya bekerja di industri makanan cepat saji. Untuk mendapatkan hari libur yang tepat atau mengambil masa cuti yang pas bukanlah perkara mudah. Kami harus menyesuaikan jadwal libur atau cuti dengan hari-hari sepi, atau bulan-bulan sepi di mana tidak ada transaksi penjualan yang signifikan terjadi di restoran.

Jadwal kerja yang padat seringkali menimbulkan keluhan-keluhan tak berguna. Karena meskipun mengeluh, toh pekerjaan ini tetap saya lakoni dengan penuh hati. Beruntung saya penulis, sebagai ungkapan keinginan untuk berlibur, jadilah sebuah cerita yang imajinatif.

 

Hal terakhir yang aku ingat adalah wajah perempuan itu yang mendekat, dan sepertinya ia mengedipkan sebelah matanya. Ia menggelengkan kepalanya. Ia berkata sesuatu, tapi suaranya terdengar sangat jauh.

Hal terakhir yang aku lihat, pola renda pada celana dalam perempuan itu akan maninggalkan tanda pada bokongnya dan melekat dalam ingatanku. Ia memakai bra biru dengan warna senada, dan tank top warna putih yang berpotongan sangat rendah sehingga memperlihatkan sebagian besar hiasan pada bra-nya.

Aku merasa bagai sebuah boneka bertali yang tiba-tiba dipotong benangnya. Tubuhku terkulai. Tidaklah gampang menjelaskan kepadanya mengapa aku perlu pergi dari tempat ini ke suatu tempat di tempat lain. Kali ini aku hanya mengatakan kepadanya bahwa aku ingin sekali berlibur. Berlibur ke suatu masa,  entah kapan?

 

NB: Tank top, bra dan celana dalam perempuan sesungguhnya sumber inspirasi bagi saya. “Itu pikiran cabul!” kata istri saya, ketika membaca sepenggal cerita tak selesai ini.

 

5

Kata siapa, saya suka hari Senin? Meski bagi saya pergantian hari dari minggu ke bulan ke tahun sama halnya dengan manusia yang bernapas secara terus menerus, bagi saya hari Senin adalah awal tumpukan masalah. Membuat hari Senin-mu indah, bacalah sepotong kalimat ini:

 

Hari Senin. Pada pagi hari orang-orang bergegas berlalu-lalang menuju suatu tempat. Dari dalam kendaraan berkelebatan kata-kata samar pada papan-papan iklan dan nama-nama toko yang dituliskan warna-warni. Pada malam hari, cahaya lampu dari kendaraan bermotor memendar menimbulkan bayangan-bayangan aneh namun hidup.

Kadang-kadang di antara jam 9 dan 10 pada pagi hari yang sama, seorang tukang cukur duduk-duduk di kursi cukur dalam ruangannya di jalan Tebet Raya, ia duduk sambil membaca koran dengan gaya malas-malas. Sesekali ia memandang keluar jendela, melempar pandangan mencari pelanggan. Seorang lelaki muda tiba-tiba saja sudah masuk dengan perlahan-lahan sehingga tukang cukur itu tidak menyadari keberadaannya dan tidak mendengar pintu ruang cukur dibuka seseorang. Lelaki muda itu berkulit putih dengan cambang dan kumis yang tampak tak beraturan, juga rambut yang tak rapi, sehingga memang sepertinya perlu dipangkas. Tukang cukur melonjak dan terburu-buru menyambut pelanggan dengan sopan. Ia berhenti dari keasyikan baca koran sambil duduk malas-malas, ia kini sibuk bekerja memangkas rambut dan merapikan cambang serta kumis pelanggannya itu.

 

Seperti biasa, saya bingung sendiri untuk menentukan kelanjutan cerita. Bagaimana plot cerita nantinya akan menghadirkan karakter pada tokoh cerita. Jangankan mengembangkan plot dan tokoh, melanjutkannya saja, malasnya minta ampun. Ya, itulah sebab saya kerap menghasilkan cerita-cerita gagal yang tak pernah selesai, yang kini tengah Anda baca.

 

6

Bagian ini bukan cerita gagal, akan tetapi sebuah curhat. Agar seolah-olah ini bagian dari cerita, maka saya miringkan saja font tulisan ini.

 

Aku tidak pernah punya ambisi dalam kesusastraan. Demi Tuhan, seandainya seseorang menyarankan aku untuk menjadi penulis yang menulis tentang lokalitas (kearifan lokal) atau cerita berlatar belakang budaya tradisional suatu daerah tertentu, aku akan menertawakan diriku sendiri dan si pemberi saran itu. Maaf, aku hanya bercanda. Alasan yang paling masuk akal, aku tak menulis tentang kearifan lokal, karena aku tak menguasainya. Meski hal itu menjadi kekuranganku selaku penulis tentunya. Aku menulis dan bercerita tentang sesuatu yang benar-benar aku ketahui. Itulah realitanya, sejak kecil hingga dewasa, aku tidak pernah menetap untuk periode waktu yang lama di suatu daerah atau tempat, sehingga aku tak mahir bertutur soal kearifan lokal.

Banyak penikmat sastra yang sering berseloroh gaya prosaku, termasuk para redaktur, tema cerpen yang kutulis dan suguhkan. Mengejek dengan halus bahwa aku penulis yang lugas, padahal maksudnya adalah aku miskin diksi dan metafora. Apakah benar? Setidaknya hal itu memicuku untuk selalu belajar, belajar dari siapa saja. Memperbanyak membaca buku sastra dan teori-teori kesusastraan yang memang belum kukuasai secara paripurna.

 

Saya memang menulis dengan hanya mengandalkan segenap kenangan, kesenangan, sedikit talenta untuk bergenit-genit dan menguji intuisi otak saya agar terus perpikir agar tidak menjadi gila atau bunuh diri. Padahal saya takut mati. Ha..ha..ha! ***

 

Jakarta, 02-02-2016

 

Bamby Cahyadi. Lahir di Manado. Berkerja di sebuah restoran cepat saji di Jakarta. Kumpulan Cerpen terbarunya, Perempuan Lolipop (2014).

Selasa, 16 Juni 2015

Tidak Mudah Menjadi Hantu [Dimuat di Jawa Pos]

TIDAK MUDAH MENJADI HANTU
Oleh: Bamby Cahyadi

Sultan Saladdin baru menyadari kematiannya setelah 7 tahun ia tewas akibat sengatan listrik di ruang tamu rumahnya. Ya, ketika itu usianya 38 tahun, dan apabila ia masih menjalani kehidupan sebagai manusia bernyawa maka kini ia genap 45 tahun.
Sultan Saladdin adalah lelaki baik-baik. Berumur tiga puluh delapan tahun kala itu, menikah dua kali. Pernikahan dengan istri pertama tanpa anak, pernikahan kedua ia beroleh dua orang anak. Ia bekerja sebagai wartawan di salah satu majalah mingguan ternama di ibukota, dan ia begitu mencintai buku, terutama buku sastra. Ia bergabung dengan komunitas penikmat sastra dan banyak mengikuti kegiatan-kegiatan sastra yang diselenggarakan oleh komunitas di mana ia menjadi anggota, meskipun bukan sebagai anggota aktif.
Kedengarannya memang konyol dan agak berlebihan, Sultan Saladdin baru mengetahui kematiannya setelah 7 tahun kemudian. 7 tahun, bukan 7 bulan apalagi 7 hari. Lalu kemana saja ia selama 7 tahun setelah kematiannya yang menyedihkan itu? Ia sendiri tampak bingung. Dahinya berkerut, seperti sedang memikirkan sesuatu yang serius. Saat ini ia merasa masih hidup. Dan, saat ini ia berada di sini, di rumahnya sendiri, sebagai hantu.
Dengan kondisi masih linglung, Sultan Saladdin berjalan menuju dinding ruang tamu, agak ragu-ragu ia menerabas masuk melalui dinding dan ia berhasil. Ia bisa menembus dinding tanpa terhalang lapisan semen dan batu bata di dalamnya. Ia lolos begitu saja serupa angin yang menembus kelambu. Ia kini di kamar tidur, istri dan anak-anaknya tidak ada di rumah saat ini. Kamar tidur lengang. Ia melihat sebuah sisir yang tergeletak di atas kasur, dengan tangan kanannya ia berusaha untuk mengambil sisir tersebut dan memindahkannya ke meja rias, namun hal itu tidak bisa dilakukannya, sisir itu seperti menjelma menjadi air yang hendak digenggam. Sultan Saladdin hanya memegang udara.
Sebagai hantu yang baru berada di dunia lain, Sultan Saladdin belum menyadari bahwa untuk memindahkan benda, para hantu harus mempelajarinya secara serius, karena dibutuhkan kemauan, kesabaran, kerja keras dan stamina yang mumpuni. Pada kenyataannya menjadi hantu tidaklah mudah bagi Sultan Saladdin. Ia mulai frustrasi.
Sultan Saladdin beranjak dari kamar tidur, ia menembus dinding kamar tidur menuju ruang makan, ia tertegun sejenak.
Ketika tiba di ruang makan, ia berharap mendapatkan suasana yang lebih ceria ketimbang di kamar tidurnya yang muram, kenyataannya ia menemukan sebuah ruang yang begitu sepi. Ia melihat sekeliling ruangan. Ada meja makan, enam kursi, dan lemari pendingin.
Sebuah jam besar menghadap ke arah Sultan Saladdin, dan ia mengamati jarum detiknya bergerak dengan jemu, seakan menegaskan lambatnya pergantian waktu bagi hantu seperti dirinya.
“Tidak ada siapa-siapa,” gumamnya.
Sultan Saladdin menghela napas, bertanya-tanya mengapa ia menjadi hantu setelah 7 tahun kematiannya. Ia memiringkan kepala, berpikir keras lagi.
Menjadi hantu setelah 7 tahun kematian memang sesuatu yang aneh. Namun karena ia memiliki daya ingat yang luar biasa, perlu diingat ia seorang wartawan semasa hidupnya. Samar-samar lantas makin tajam dan jelas Sultan Saladdin ingat ketika masa ia hidup, 7 tahun yang lalu.
***
Sultan Saladdin ingat betul, sehari sebelum kematiannya ia menonton berita di sebuah kafe di kawasan Kuningan dekat kantor KPK, sambil minum secangkir kopi hitam tanpa gula dengan Salman Rusdie, Sofyan Muharram dan Sabar Dwisunu. Mareka adalah sesama wartawan dari media yang berbeda. Salman wartawan senior koran Kompas, Sofyan reporter dari Metro TV dan Sabar selaku juru kamera. Mereka baru saja meliput konferensi pers yang digelar oleh ketua KPK, Abraham Samad, tentang penangkapan salah satu pimpinan KPK, Bambang Widjojanto oleh Bareskrim Mabes Polri.
Tapi ada yang luput dari ingatan Sultan Saladdin kejadian pada malam musibah itu terjadi. Malam itu, tujuh tahun yang lalu Jakarta dicekam musim hujan yang keji.
Esok hari setelah ia minum kopi di kafe dekat kantor KPK seperti biasa ia pulang dari kantornya dengan mengendarai motor kesayangannya menjelang tengah malam. Ia mengendarai motornya dari seputaran Senayan menuju Tebet, Jakarta Selatan.
Malam itu, di beberapa tempat orang-orang masih tampak menggerombol. Kios-kios sudah tutup, hanya satu warung yang menjual kopi dan minuman keras murahan yang masih buka di depan kompleks perumahannya. Semakin malam situasi semakin sepi, orang-orang yang bergerombol tampak menyusut hingga habis sebelum tengah malam tiba, ketika ia sampai di rumahnya hujan pun telah turun dengan deras.
Setelah membuka pintu gerbang dan memarkirkan motornya di depan teras rumah,  Sultan Saladdin mendadak merasa ada yang tidak beres dengan istri dan anak-anaknya. Malam itu, tidak seperti biasanya istri atau anak-anaknya tidak membukakan pintu untuk menyambut kedatangannya ketika deru motor menggerung di depan gerbang pagar. Sampai-sampai mereka pun lupa menyalakan lampu teras. Hatinya mendadak merasa was-was, perasaan khawatir menyeruak menggigit-gigit ulu hatinya. Apakah istri dan anak-anak tidak berada di rumah?
Pernah suatu ketika, saat ia pulang kerja malam hari, keadaan rumah lengang seperti rumah yang tak ada penghuninya. Lampu teras padam, di dalam rumah gelap gulita dan tak terdengar samar-samar suara televisi yang ditonton oleh anak-anaknya. Waktu itu karena bingung dan ponsel istri dan anak-anaknya tidak bisa dihubungi, ia kembali ke depan kompleks dan bertanya kepada pemilik warung di situ.
“Apakah Bapak melihat kemana istri dan anak-anak saya pergi?” tanya Sultan Saladdin kepada pemilik warung. Biasanya apabila berpergian dengan kendaraan umum, mereka selalu menunggu taksi atau angkot di depan warung itu.
“Tadi Ibu dan anak-anak naik taksi ke arah sana, Pak,” jawab pemilik warung menunjuk ke arah Manggarai.
Namun waktu itu kekhawatiran Sultan Saladdin segera pupus ketika menerima pesan pendek dari istrinya, bahwa ia dan anak-anak ke rumah orangtua istrinya karena sang ayah mertua terkena serangan jantung. Lega lah hati Sultan Saladdin.
Malam ini berbeda.
Perasaan seorang suami dan ayah dari dua orang anak ini, tiba-tiba membuat hati Sultan Saladdin semakin gelisah. Setelah ia mencopot helm yang membungkam kepalanya dan menanggalkan jaket yang memeluk tubuhnya, diketuk-ketuk pintu rumah sambil mengucapkan salam berulang-ulang, tapi tak ada jawaban dari dalam.
“Apakah suara deras hujan mengalahkan suara ketukan pada pintu?” batinnya.
Ia nyaris tak tahan menunggu selama beberapa menit di dalam kesuraman teras rumah dan perangkap malam yang basah.
 Akhirnya ia melangkah dengan napas membeku dan rasa dingin yang tiba-tiba menyebar ke bagian lehernya. Ia pergi ke belakang rumah, pintu di sana sudah digembok biasanya memang begitu. Selepas senja pintu belakang itu selalu telah dikunci. Perasaan Sultan Saladdin semakin diamuk kecemasan yang bergulung-gulung ketika ia mengetuk-ngetuk jendela kamar istri dan anak-anaknya tak ada sahutan dari dalam.
Ia kembali ke depan teras dan berusaha mengintip dari celah gorden. Ia kembali mengetuk pintu yang berdiri tegak itu.
Karena rasa khawatir dan penasaran yang begitu melilitnya, ia mencoba mendobrak pintu rumahnya dengan beberapa tendangan. Namun tidak memberi hasil, misalnya pintu rumah jebol dan berantakan seperti di film-film laga. Ia kemudian ingat, pintu rumahnya dibuat dari material kayu yang tak mudah didobrak dan dijebol apalagi hanya dengan tendangan kaki seorang wartawan.
Sultan Saladdin kembali mengintip melalui celah gorden yang tersibak kesiur kipas angin di ruang tamu. Betapa terperanjat, ia seperti disengat beribu binatang kalajengking, dari sela-sela gorden yang melambai-lambai akibat tiupan kipas angin ia melihat seluruh lantai di ruang keluarga berwarna merah. Hanya warna merah yang ia lihat di dalam rumah yang remang itu. Warna merah darah!
Sultan Saladdin tercekat beberapa saat, lantas ia berteriak, namun suaranya nyaris tercekik di tenggorokan menyangkut di udara. Kakinya bergetar, lututnya terperangkap dalam gemetar ketika melihat tubuh istrinya, Sumiati Susanti, terlentang dengan leher bersimbah darah. Kedua anaknya, Sukma Saladdin anak pertamanya telungkup, juga penuh darah. Sedangkan, Satria Saladdin anak kedua, digenangi darah seluruh tubuhnya.
“Tolong-tolong! Istri dan anak-anak saya dibunuh...!” Teriak Sultan Saladdin histeris.
Tetangganya dan orang-orang semakin ramai berdatangan beberapa saat kemudian dan memenuhi halaman di sekitar rumah Sultan Saladdin. Akhirnya pintu berhasil didobrak dengan bantuan petugas keamanan kompleks. Ketua RT telah menghubungi polsek setempat.
Ketika Sultan Saladdin menyeruak masuk ke ruang tamu sambil berteriak-teriak, ketika itu pula ia terpelanting dan jatuh ke lantai dengan kepala membentur lantai yang penuh dengan aliran darah istri dan anak-anaknya.
Ia merasa seperti disetrum oleh listrik dengan daya sengat yang sangat tinggi. Pandangan Sultan Saladdin gelap, semuanya menjadi berwarna hitam pekat.
***
Sultan Saladdin baru menyadari kematiannya setelah 7 tahun ia tewas. Ada sesuatu yang ia luput, ia bukan tewas tersengat listrik, ia hanya terpeleset genangan darah istri dan anak-anaknya, ia terpelanting dan jatuh ke lantai. Lantas pingsan.
Pada kenyataannya, Sultan Saladdin hanyalah seorang yang kehilangan kewarasannya. Ia seringkali merenungkan dan lantas membuat alur cerita cerdik dan situasi ganjil yang membingungkan selayak cerita dari buku-buku sastra beraroma detektif yang sering ia baca.
Ia punya kebiasaan berbicara sendiri, kemudian ia melihat sekeliling, berharap tak ada seorang pun yang mendengarnya. Ia kerap mengunjungi kuburan istri dan kedua anaknya, serta kuburan saya. Terkadang ia membawa bunga dan hanya duduk-duduk seperti berpikir di pinggir kuburan. Lantas ia berbicara sendiri, mengedar pandangan, dan berharap tak ada orang yang mendengarnya.
Begitulah keterlibatan saya dalam kisah ini. Saya adalah pendengar setia cerita-cerita Sultan Saladdin ketika ia berbicara sendirian sambil ia menenggak vodka terkadang wiski dan merasakan alkohol mengirimkan arus panas ke dalam darah dan tulangnya.
Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk mengatasi rasa kehilangan. Sultan Saladdin memilih menjadi pemabuk yang gila. Tapi tidak mudah menjadi hantu dan sekaligus pencerita seperti saya.***

Jakarta, 12 Februari 2015





Minggu, 11 Januari 2015

Saya dan Sastra yang Menyesatkan

Saya dan Cerita-cerita Tentang Saya

Bagi saya menulis adalah semacam terapi dan akan mencegah saya agar tidak terjerumus ke dalam suasana hati yang terkadang cenderung saya masuki itu. Suasana itu bernama kenangan.
***
            Kerena mengikuti Ayah saya yang perpindah-pindah tempat bertugas di sebuah perusahaan perbankan milik negara, masa kecil hingga remaja saya habiskan di Pulau Sulawesi, Jawa dan Sumatera. Oleh karenanya, saya dan kakak saya terlahir di Manado, Sulawesi Utara. Di Sulawesi Utara, Ayah sempat berpindah dari Manado ke Kotamobagu (Bolaang Mongondow). Di Kotamobagu adik saya lahir. Lantas pindah ke Bitung, sebuah kota pelabuhan super sibuk di wilayah Timur Indonesia masih di Sulawesi Utara. Masa penugasan Ayah saya setelah dari Bitung ke Ampana, Sulawesi Tengah. Ampana sebuah kota kecil yang berada di pesisir laut yang menghadap ke Teluk Tomini. Untuk mencapai Ampana, kami mendarat di Palu, lantas ke Poso dan kemudian melanjutkan perjalanan melalui darat dari Poso ke Ampana. Masa penugasan Ayah di Sulawesi Utara dan Tengah pada kurun waktu 1967-1979, masing-masing kota rata-rata 3 tahun. Oleh karenanya, saya bersekolah di TK hingga SD kelas I adalah di Bitung dan kelas II-IV SD di Ampana.
            Pada tahun 1979, Ayah saya dipindahtugaskan ke Tegal, Jawa Tengah. Saat pindah ke Tegal, masa itu saya kelas V Sekolah Dasar. Lulus SD di Tegal dan saya masuk ke sebuah SMP Negeri di kota Tegal, hingga kelas II, tahun 1983 Ayah dipindahtugaskan lagi, kali ini ke Medan, Sumatera Utara. Ayah saya meninggal dunia karena sakit ketika bertugas di Medan, tepatnya 15 Februari 1985, dan sebentar lagi–pada waktu itu–saya akan mengikuti Ujian Nasional kelulusan SMP. Saya lulus SMP di Medan.
            Ayah saya berasal dari Samarinda, Kalimantan Timur dan Ibu saya dari Tasikmalaya, Jawa Barat. Sewaktu Ayah meninggal, keluarga besar kami berunding mengenai di mana kah Ayah akan dimakamkan? Pihak keluarga besar Ayah saya menginginkan Ayah dimakamkan di Samarinda, kampung halamannya. Namun Ibu saya berkehendak lain, Ibu ingin Ayah dimakamkan di Tasikmalaya. Pada akhirnya, Ayah saya dimakamkan di Tasikmalaya, kota kelahiran Ibu saya. Kisah perjalanan ketika kami membawa jenazah Ayah dari Medan menuju Tasikmalaya, saya pernah tuturkan dalam sebuah cerpen berjudul “Aku Bercerita dari Pesawat yang Sedang Terbang.”
            Setelah lulus SMP tanpa disaksikan oleh Ayah, Ibu membawa kami pindah ke Tasikmalaya, kota berhawa sejuk dengan Gunung Galunggung yang fenomenal sebagai latar kota. Di Tasikmalaya saya menghabiskan masa SMA hingga Perguruan Tinggi. Lulus kuliah, saya memutuskan untuk bekerja di Jakarta, hingga saat ini.
            Tentu agak aneh, kenapa saya mengisahkan sekelumit masa kecil saya hingga remaja sampai lulus kuliah pada kata pengantar buku ini. Pertanyaan itu akan terjawab nantinya.
***
            Ketertarikkan saya menulis cerita pendek memang agak terlambat, apalagi memasuki dunia sastra Indonesia bisa dikatakan sangat terlambat. Dunia sastra itu bagaikan belantara luas, tanpa ujung dan pangkal. Kadang saya menemukan titik terang di sana, kadang saya tersesat di dalamnya. Dunia yang penuh dinamika yang tak pernah saya duga dan sangka-sangka sebelumnya.
Saya memang gemar membaca, saya masih ingat ketika itu bacaan yang sering saya santap adalah Kompas. Saya terbiasa membaca koran itu sejak SD kelas I, ketika koran itu dibawa Ayah dari kantornya ke rumah. Saya sering berebutan membacanya dengan kakak saya. Dikarenakan kami gemar membaca, maka Ibu mulai berlangganan majalah Si Kuncung dan Bobo untuk kami, pun majalah-majalah lainnya seperti Femina dan Kartini, tentu majalah dewasa itu untuk konsumsi Ibu saya, namun kami pun tak kuasa menahan hasrat untuk melahap isi kedua majalah tersebut. Saat SMP, kami berlangganan majalah Hai, Kawanku dan Anita Cemerlang.
            Masa kanak-kanak saya, remaja hingga dewasa memang bergelimang bahan-bahan bacaan mulai dari koran, majalah, buku-buku dongeng, novel dan komik. Ayah selalu membelikan kami buku bacaan baru apabila ia berdinas ke suatu tempat. Mungkin hal inilah yang memicu saya bercita-cita ingin menjadi wartawan. Bisa menulis berita apa saja dan tulisan saya dibaca oleh orang-orang. Ya, waktu itu cita-cita saya menjadi wartawan.
            Selain membaca, kegemaran saya yang lain adalah menggambar dan melukis. Ketika di Tegal, saya pernah menjadi juara ke-2 Lomba menggambar antar SD se-kabupaten Tegal, pun pada masa kelas VI SD saya pernah mengikuti Lomba Menggambar Kantor Pos kota Tegal, walaupun tidak menjadi juara, saat itu saya masuk liputan Berita Daerah di TVRI Yogyakarta. Bukan main girangnya, ketika melihat foto hitam putih yang ada sayanya sedang menggambar ditayangkan TVRI stasiun Yogyakarta. Saya sampai berguling-guling di lantai saking bahagia. Saya pun pernah mengirimkan hasil karya menggambar saya ke Bapak Tino Sidin di Jakarta, dan ketika Pak Tino Sidin menampangkan gambar saya di layar kaca TVRI Pusat, sambil berkata, “Bagus!” Ketika itu pula dunia saya seperti ditaburi dengan beraneka ragam bunga-bunga, entah melambung kemana perasaan saya saking bahagia. Begitulah kelakukan saya kanak-kanak.
            Karena keahlian menggambar, saya menjadi pengisi tetap Majalah Dinding saat SMP di Medan dan SMA di Tasikmalaya. Bahkan, saya mendapat jatah menjadi kartunis tetap edisi mingguan di Mading, dengan nama tokoh si Bocah, akronim nama saya. Di SMA selain bergabung menjadi anggota Pramuka dan pengurus OSIS, saya pun bergabung sebagai tim redaksi majalah sekolah. Masih lekat dalam ingatan saya, kami membuat majalah dengan sistem stensilan. Selain menulis di majalah tersebut, saya menjadi ilustrator untuk majalah siswa itu.
            Saya mengikuti banyak kegiatan ekstra kulikuler dan pelbagai kesibukan lainnya sejujurnya semua itu upaya pelarian dari kesedihan saya akibat Ayah meninggal. Saya ingin sekali melupakan kenangan yang penuh warna bersama Ayah saat ia masih hidup. Dunia saya waktu itu mendadak berubah warna, dari berwarna-warni menjadi kelabu. Saya marah kepada Tuhan, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Ibu saya setiap hari menangis dan menangis, meratapi kepergian Ayah yang begitu cepat. Meskipun ia larut dalam kesedihan yang mendalam, Ibu saya sosok perempuan yang tegar dan punya prinsip yang kokoh untuk menyekolahkan kami hingga ke perguruan tinggi. Cerita perjuangan Ibu saya pernah saya narasikan sebagai sebuah kisah berbalut fiksi berjudul “Aku Tidak Sehebat Kartini.”
            Melupakan kesedihan mengantar saya memiliki banyak aktivitas di sekolah. Sebuah pengalihan yang positif dan tentu bermanfaat bagi diri saya sebagai remaja.
            Tanggal 16 Agustus 1987, saya mengalami kecelakaan lalu-lintas yang hampir merenggut nyawa saya pada sebuah kegiatan Pramuka. Saya tak sadarkan diri hingga berjam-jam lamanya. Pada saat pingsan, saya bertemu dengan almarhum Ayah yang mengajak saya untuk mengikutinya ke sebuah tempat. Namun saya menolaknya, karena saya ingin menemani Ibu dan jangan sampai Ibu bertambah sedih akibat kehilangan saya. Dalam alam tak sadar itu, Ayah saya memaklumi keputusan saya, Ayah lalu pergi, ia memunggungi saya tanpa menoleh sedikitpun. Ketika itu saya tersadar dari pingsan serta bingung dengan apa yang terjadi. Tubuh saya tergolek di meja operasi. Dikarenakan cidera di kepala yang parah, saya menjalani perawatan intensif di rumah sakit sebulan penuh. Pengalaman ini saya jadikan cerpen berjudul “Tanda Cinta dari Akhirat.” (Bersambung di buku terbaru)
            

Jakarta, 31 Desember 2014, pukul 23.59 Wib.

Minggu, 31 Agustus 2014

Cerpen ACTA EST FABULA

ACTA EST FABULA



Seekor kecoa berputar-putar di antara kaki kursi dan meja selama beberapa saat di ruangan sempit layaknya toilet tanpa penyejuk udara ini. Seolah kecoa itu sedang bermain petak umpet, takut ketahuan oleh kaki manusia. Sebuah pemandangan yang ganjil bagiku disaat hendak menulis cerita.

Ruang ini sempit, walaupun ada jendela yang terbuka lebar mengarah ke taman kecil di pekarangan. Hanya terdapat dua kursi dan satu meja terbuat dari kayu sederhana. Di meja itu tersedia sebuah laptop dan segelas kopi. Aku menduduki salah satu kursi itu dan menimbulkan suara berderit yang berisik.

Kecoa itu terkejut. Sayap kecoa itu tampak bergetar lalu ia terbang hinggap di lenganku. Lenganku gempal dan berbulu, aku mengibaskan lenganku mengusir kecoa yang hinggap itu. Kecoa itu menggoyangkan sayapnya, hendak menolakkan kaki-kakinya untuk melayang terbang. Namun kibasan lenganku yang gempal lebih keras dan mengentak.

Kecoa itu terlempar menampar dinding lantas jatuh terkulai di lantai. Baru saja kecoa itu tampak bergeliat bergerak untuk lari menyelamatkan diri, aku keburu menghajarnya. Kuinjak tubuh kecoa malang itu dengan telapak sepatuku hingga pecah. Kecoa tak berdaya itu jelas saja mati dengan tubuh hancur menjijikan.

Insiden kecoa pun berlalu tanpa kesan, seolah hanya sekadar pemain figuran sinetron kejar-tayang yang melintas di layar kaca. Aku pun mulai menulis.

Sebagai penulis cerita, tentu keinginan terbesarku saat mengarang cerita kemudian kutulis menjadi rangkaian kata-kata, menjelma kalimat, lalu jadi paragraf-paragraf lantas menjadi sebuah karya tulis yang utuh sebagai cerita pendek, yaitu dibaca oleh pembaca. Suatu keinginan yang wajar dan sangat lazim tentunya.

Masalahnya, aku selalu berharap seseorang yang membaca ceritaku itu percaya bahwa kisah-kisah imajinatif yang kubangun dengan susah-payah menjadi kisah fantastik di benak mereka. Aku selalu ingin menceritakan senarai kejadian-kejadian biasa dan sederhana pada dunia menjadi sesuatu yang luar biasa. Hal itu malah memicuku menjadi tidak produktif menulis. Akibat terlalu banyak berpikir. Berselancar di dunia maya dan berinteraksi di sosial media pun membunuh kreativitasku.

            Sejatinya sebagai pencerita, aku selalu melakukannya dengan cara yang terang benderang, jelas, lugas dan tanpa komentar. Aku tak mau mencoba bercerita yang membuat seseorang merasa tersiksa membaca cerpenku. Apalagi ia merasa diintimidasi dengan liukan kata-kata yang membuat ia berhenti membaca karena tak sanggup menulis cerita serupa gayaku. Atau bahkan hanya sekadar menuturkan ulang.

Tadi kukatakan, aku bercerita tanpa komentar. Tersebab, kejadian-kejadian yang terjadi dan diceritakan di dunia ini tak lebih daripada serangkaian hubungan sebab-akibat bersifat alamiah dan ilmiah belaka. Tersebab, tiada hal baru di dunia ini, kecuali kita mengulangnya dengan cara yang lebih kreatif. Maka tak perlu berkomentar soal tema cerita yang kusuguhkan.

Terus terang, aku hampir putus asa. Bahkan mencoba pensiun jadi penulis.

            Hingga pada suatu hari aku bermimpi. Hari itu adalah hari yang indah dan aku sedang berjalan-jalan dengan Franz Kafka. Karena ini mimpi jadi tak perlu kujelaskan bagaimana aku menyimpulkan bahwa sosok yang kutemui dalam mimpi itu Kafka yang oleh Haruki Murakami dijadikan judul sebuah novel karyanya, Dunia Kafka. Sementara Haruki Murakami sendiri, kujadikan cerpen berjudul Dunia Murakami.

            Dalam mimpi walaupun hari ini hari yang indah, namun kami berjalan dengan langkah yang terseok-seok. Selangkah dua langkah yang susah-payah, hingga kami tiba di sebuah pekuburan. Aku tak mengerti suasana di pekuburan ini begitu berangin. Tiupan angin yang dingin sangat cerdas untuk menegaskan bahwa mimpiku ini bernuansa kelam.

            Kami mendekati sebuah gundukan nisan yang masih tampak segar dan kami berhenti tepat di depan gundukan nisan itu.

            “Itu kuburan Marquez,” kata Kafka.

“Maksudmu Gabriel Garcia Marquez?” tanyaku. “Ia tak pernah dikubur, ia dikremasi jadi abu,” sanggahku. Kafka belum menjawab, mimpi keburu selesai.

            Aku lantas teringat akan kematian. Bukan kematianku, tetapi kematian seseorang yang sangat kuharapkan. Narasi ceritanya begini:

            Kamu mati tertimpa atap supermarket yang runtuh. Siapa yang tahu? Kamu suka sekali belanja, suka sekali menjelajahi mal-mal dan supermarket besar di kota ini. Banyak bangunan di kota ini yang dibuat dengan kesalahan desain dan kualitas konstruksi yang jelek. Kamu mungkin tak mati dengan kepala remuk, namun karena kamu terperangkap dan pencarian atas dirimu bergerak lambat, kamu mati kehabisan napas.

Kamu pun bisa mati ketika berkendara dengan mobil keluaran terbaru di atas jalan beraspal yang mulus. Bukan akibat tabrakan beruntun. Tapi lantaran pipa gas negara yang dibenamkan di kedalaman tanah di atas jalan mulus di mana kamu melintas itu tiba-tiba meledak. Pipa gas milik negara di kota ini bisa saja sudah keropos, akibat tekanan yang terlalu tinggi, meledak! Kamu tergolek bersama mobilmu yang hancur. Tubuhmu juga hancur tentunya, seperti kecoa yang baru saja tewas di telapak sepatuku tadi.

Kamu bisa mati di mana saja. Dalam tidur dan mimpiku sekalipun.

Betapa aku sangat menginginkan kematianmu, wahai politikus busuk!

Namun kenyataannya aku yang mati. Menyedihkan sekali bukan?

Kala itu Kuala Lumpur diselimuti kabut asap, kabut asap yang menyerupai halimun di pegunungan berwarna putih serupa asap para perokok di kedai kopi. Meski berkabut aku sempat menyaksikan gemerlap lampu kota bak berlian yang menyeruak di antara celah-celah gelap. Aku jadi ingat cerpen Umar Kayam, Seribu Kunang-kunang di Manhattan.

Aku yakin betul di Kuala Lumpur saat itu berhawa sejuk. Musim hujan yang hijau dan sendu membuat Kuala Lumpur menjadi kelabu. Musim hujan tentu saja menutupi warna merah kekuningan senja di cakrawala. Malam itu pesawat yang kutumpangi dari Kuala Lumpur menuju Beijing meledak menjadi serpihan debu paling kecil di dunia. Bahkan menjadi kesiur angin laut yang lembap tak terdeteksi radar. Mereka mengatakan pesawat itu hilang.

Beberapa hari sebelumnya. Pada hari Kamis, calon menantu kami itu benar-benar datang dan menginap di rumah kami. Seorang perempuan cantik, dan tentu saja orang Amerika asli. Namanya Alexa. Keesokan harinya kami pergi ke pengadilan dan sepuluh menit sesudah membayar biaya nikah, anakku secara resmi sudah beristri dan kami bermenantu.

            Anehnya, istriku yang semula sangat berhasrat agar anak kami menikah, malah terlihat murung. Bagi istriku kejadian itu terlampau aneh, terlalu kosong. Maklumlah tradisi yang sudah berakar dalam hati generasi kami, khususnya orang Indonesia, tak dapat diabaikan begitu saja.

            Melalui telepon, kami beritahukan anak-anak kami yang tersebar ribuan kilometer jauhnya, bahwa kakak mereka sudah menikah hari Jumat lalu. Begitu juga pada sanak-kerabat di tanah air. Anak paling besar kami sudah menikah.

            Dengan terburu-buru, aku dan istriku mengatur pesta kecil di rumah dengan mengundang lima keluarga Indonesia yang bertempat tinggal di daerah kami.

            ”Agar mereka tahu bahwa anak kita menikah secara wajar,” kata istriku sambil mengatur meja makan.

            ”Kenapa kamu bicara seperti itu?” selidikku.

            ”Ah, sudahlah. Mungkin hanya masalah nilai-nilai kewajaran saja yang mengganggu pikiranku,” jawab istriku.

            Aku lantas merenungkan perkataan istriku, sambil memandang ke arah jendela. Di luar rumah salju turun perlahan.

            Nilai apakah yang menentukan kewajaran? Batinku. Pertalian sebagai suami-istri memang sudah disahkan undang-undang, namun bagaimana perasaan kami sebagai orang tua?

            Sewaktu masih berpacaran dengan anak lelaki kami yang terbesar, perempuan bule itu memang sudah diperkenalkan pada kami. Ketika itu ia diundang berlibur tiga hari di rumah kami oleh anakku. Ia seorang Amerika, Texas. Ia guru sekolah dasar. Kedua orang tuanya sudah bercerai ketika ia masih kecil. Menurutnya, ia masih sering berhubungan dengan ibunya, melalui telepon atau bertemu di sebuah tempat. Dengan ayahnya? Ia mengakui kurang tahu di mana ayahnya berada.

            Istriku sempat bertanya pada menantu kami itu, ”Apakah ibumu tahu kamu menikah?”

            Dengan santai menantu kami menjawab, ”Itu kurang penting, nanti kalau aku bertemu dengannya akan kuberi tahu.”

            Sebenarnya banyak pertanyaan yang kami ingin tanyakan dan ingin kami ketahui jawabannya, namun tidak sempat kami tanyakan. Karena mereka, pengantin baru itu, sudah terbang ke Las Vegas, untuk berbulan madu pada hari Minggu.

            Kami hanya bisa bengong, terpukau dan tak percaya dengan apa yang terjadi. Hari Senin anak kami bilang ia akan menikah, hari Kamis calon menantu kami datang ke rumah dan menginap, hari Jumat mereka menikah, hari Minggu mereka pergi meninggalkan kami yang terbengong-bengong. Sungguh ironis apa yang terjadi itu, sekaligus lucu.

            Ya, ironis dan lucu berbaur, tumpang tindih. Karena apa? Karena cerita di atas adalah bagian dari adegan mimpiku yang lain. Dan mimpiku selesai.

Kurasa Anda merasa tertipu dengan ceritaku yang melulu ternyata berupa rangkaian mimpi belaka. Kumohon bacalah sampai selesai.

Debu yang terbawa angin menampar-nampar jendela seolah-olah dilemparkan oleh tangan-tangan yang tak kelihatan. Aku baru saja berangkat lepas fajar dan telah dua jam berjalan kaki dalam pagi yang dingin, merambah dataran lengang berbatu yang memanjang hingga batas cakrawala yang kemerahan.

Angin bertiup sepoi-sepoi dan pucuk padi tertunduk teratur, seperti angin sedang berjalan di atasnya. Katak-katak berbunyi serempak juga kunang-kunang menuju ke tengah sawah. Udara menjadi dingin bukan main. Angin bertiup, menggesekan dahan dan daun pada talang yang bocor.

Tanggal 31 Desember 2014. Pukul 21.15 Wib. Sorak-sorai pun bergemuruh. Di atas ring, Kido Buto, petinju asal Surabaya terjerembab dan tak bangun lagi. Hanya beberapa depa darinya, Robin Bantai, sang Juara, melonjak kegirangan. Ia sesumbar menantang siapa saja yang bersedia melawannya untuk pertandingan berikutnya. Sementara si Petinju yang dipencundangi itu terkulai layu. Ia tak kuasa menatap mata sejumlah penonton yang seolah-olah mencemoohkannya.

Robin Bantai seperti dilahirkan untuk memukul atau dipukul. Ia memang Preman yang dibesarkan di antara tukang pukul di kota Medan. Masa silamnya begitu keras.

Menjelang penggantian tahun 2014 menuju 2015. Pukul 21.15 Wib. Ada seorang tante yang kesepian. Ada seorang mahasiswa yang terombang-ambing, kemudian mencari kedamaian di sebuah tempat pelacuran yang sudah tutup. Ada seorang pemuda baik-baik yang oleh berbagai kemelut akhirnya terperangkap menjadi Gigolo. Ada sepasang makhluk yang terkulai di atas ranjang, lalu larut dalam rasa berdosa yang dalam.

Beberapa jam kemudian. Presiden terpilih melalui pemilu paling pilu di bulan Juli 2014 menyulut kembang api di Monas tepat pada pukul duabelas tengah malam.

Aku menyaksikan itu semua sebagai hantu di ruangan sempit ini. Ingat, ini bukan mimpi. Acta est fabula. Apa yang terjadi adalah sebuah kisah. Aku berada dalam pesawat nahas yang kalian nyatakan hilang itu. Permainan telah berakhir. Kalian masih terus mencari, mencari hingga kalian lupa apa yang kalian cari.***


Keterangan: Acta Est Fabula adalah frasa latin yang berarti Apa yang terjadi adalah sebuah kisah. Bisa pula berarti Permainan/sandiwara (the play) telah berakhir. (Inggris: The play is over)


Bellagio Residence, 30 Juni 2014



Senin, 07 Juli 2014

Gosip atau Fakta

Dari temen di Seknas---> Info : "Bocoran rapat internal timses Prabowo Hatta yg disampaikan BS, wartawan senior koran K yg beredar di kalangan wartawan sgt mengejutkan. Awak jurnalis yg mendengarkan tdk bisa berbuat apa2, sebab kantor mrka sdh kontrak iklan dan kewajiban berita memuat Prabowo. Infonya : 1).. Dana utk serangan fajar terus dikumpulkan dan sdh mencapai 100 T. Si wartawan tsb sampaikan sumbangan terbaru pak Hatta baru cairkan 3 T dari Pak Reza. 2). Serangan fajar akan disusun 3 hari jelang coblosan, logistik sdh hrs sampai di kantong relawan. 3). Utk mengalihkan perhatian serangan fajar, akan dimunculkan berita seolah olah KPU, Bawaslu dll akan curang dan tdk bkrja efektif. 4). Agar serangan fajar mulus, akan dibuat isu rencana rencana penculikan oleh wiranto, lalu di setting seolah olah aparat dan intelejen membiarkan shgg terkesan membela JKW. 5). Utk menambah bobot isu dan keresahan, keluarga korban GAM juga dimunculkan bicara kekejaman TNI 6) Negosiasi pembusukan karakter JKW sdg dilakukan juga kpda sosok timses JKW yg paling berpengaruh dgn imbalan 500 M. Rencana pembusukan prabowo ini akan dibuat sebagai isu yg mencekam dan menggoyahkan kepercayaan masyarakat pd aparat dan kebencian pd jokowi. Waspada politik adu domba penculik. Save Indonesia, Save NKRI." ini info A1 tolong di Share ke teman2 yng lain kususnya Salam 2 jari... segera spya jgn sampai ini terjadi!

sajak-sajak bamby cahyadi

Peperangan itu Ternyata Aku Penyebabnya

Aku diserang gelisah, cemas, takut, kalut dan galau yang ceria
mereka bersekongkol agar hatiku melakukan kudeta jahat pada pikiranku
pertempuran masih berlangsung dan peluru perang berdesingan di pucuk kepala
agar berlangsung singkat kulemparkan saja nuklir pada segerombolan hantu
kulihat mereka terbirit-birit bahkan ada yang tubuhnya musnah dan hampa
aku diserang oleh diriku sendiri rupanya bukan oleh mereka dan kamu

Jakarta, 2011


Ketika Bangun Tidur Otakku Lumer Jadi Tai

Baru saja suara televisi padam setelah berisik sepanjang waktu non stop 24 jam
aku begitu malas hanya sekadar menjerang air dan menjadikannya segelas kopi
kurasa mimpiku belum enyah dari lubang kepala yang masih terpejam
baiklah pagi siang malam tak ada beda bagiku hari telah mati

Di kepalaku yang berlubang itu penuh manusia yang bicaranya berbuih bui
mereka teriak lantang tentang kemiskinan, ketidakadilan, demokrasi dan korupsi
makanya telinganku berdenging-denging jadi pekak dan lantas tuli
aku hanya bisa terpaku tak berkutik ketika otakku kian hari kian lumer jadi tai

Jakarta, 2011


Janji Manusia Sejati Tak Berani Mati

Aku bersekutu dengan malam yang jahanam
bersaksi bahwa tak ada yang lebih durhaka dari subuh
kecuali pada bintangbintang tak pernah terbenam
berzikir pada gelinjangan embun pagi dalam tubuh

Aku bercinta dengan angin
yang mendesir pada urat sahwatku
bercumbu dan memagutnya habis-habisan
sampai batang nafsuku berkeluh kelu

Aku berjanji pada kebohongan yang palsu
akan setia mencintaimu sampai mati
berkata sopansantun menyantetmu dalam kalbu
mendeklarasi kejujuran busuk tanpa dengki

Aku ini manusia sejati
berani memegang janji

Aku ini manusia imitasi
tak berani mati

Jakarta, 2011


Telepon Putus Cinta

Suara dering telepon darimu bagai angin yang berembus
menyelinap pada cuping kuping lantas pada jantungku merembes
ketika kau berkata halo padaku hatiku bagai ditembus virus
virus yang menusuk perlahan pada rasa cinta tak pernah beres


Jakarta, 2013



Bamby Cahyadi, lahir di Manado, 5 Maret 1970. Bergiat di Komunitas Sastra Jakarta (Kosakata). Buku terbarunya, Perempuan Lolipop (Gramedia Pustaka Utama, 2014). Terlibat dalam Kitab Antologi Puisi Jilid 2 Sastra Reboan Cinta Gugat (Pasar Malam Production, 2013)