Jumat, 15 Januari 2010

Bamby Cahyadi : Cerita dari Jejaring Maya

Bamby Cahyadi : Cerita dari Jejaring Maya
Oleh: Anggoro Gunawan

________________________________________

Pengantar Sriti.com

Bambang Cahyadi adalah formalitas, sedangkan Bamby Cahyadi adalah sebuah formula.
Sengaja saya membuka pengantar tulisan ini dengan cara yang sangat “icam” istilah ikut campur anak-anak sekarang. Nanti saya jelaskan bagaimana kita semua diperbolehkan “icam” jika berhadapan dengan sosok cerpenis yang satu ini.

***
Jauh hari sebelum niatan membukukan kumpulan cerpen terbaik Sriti.com, rekan kami Sjaiful Masri mulutnya selalu berbusa jika membincangkan cerpen “Aku Becerita dari Pesawat yang Sedang Terbang” karya Bamby Cahyadi (Koran Tempo, 26 Juli 2009). Dia katakana cerpen itu sangat "menggetarkan”, meninggikan imaji, mellow yang tidak cengeng, dan sebagainya. Singkatnya cerpen itu telah menggigit G-spot-nya, sehingga kami semua di awak Sriti.com “diwajibkan” membaca cerpen teresebut berulang-ulang, sampai mendapatkan “getaran” yang dimaksud tadi.

Dan setelah rencana penyeleksian cerpen tersebut berjalan, otomatis “impuls” dari cerpen tersebut masih meninggalkan getaran di hati kami. Singkatnya seperti itu, dan cerpen tersebut akhirnya nangkring di antara 12 cerpen pilihan.

Saya jamin, rekan Sjaiful Masri belum pernah bertatap muka langsung dengan cerpenis yang sedang kita sorot kali ini (bahkan berkontak pribadi melalui surat elektronikpun konon belum pernah mereka lakukan sama sekali). Kemanapun tanpa dipinta dia fasih menceritakan dan meminta orang lain membacanya. (Silahkan cek ke warung sebelah, apakah pernah ada permintaan khusus dari Bamby untuk hal ini? Saya yakin tidak.)

Tapi keduanya sudah menjalankan teori “post-script marketing” dalam ilmu new media. Bamby menjadi agen, sedangkan Sjaiful menjadi follower-nya. Bamby bekerja sendiri dengan “energi”-nya, lalu Sjaiful menangkapnya. Hup!

Sjaiful kemudian menjadi “energi” bagi awak Sriti.com untuk mengenal lebih lanjut apa betul cerpen tersebut memang mempunyai getaran yang kuat. Dan berkat energi itulah cerpen karya Bamby akhirnya melengkapi 12 cerpen pilihan Sriti.com diputaran kedua.

***
Bamby Cahyadi di mata saya adalah sebuah formula. Sebuah upaya untuk memberi stempel merek bagi cerpen kreasinya. Bambang sendiri milik koorporatnya, berseragam, digaji bulanan dan serusnya.

Ketika dia bekerja formal sebagai store manager di McDonald dia menjadi Bambang Cahyadi yang harus menggunakan emblem di dadanya. Ketika Bamby datang ke peluncuran buku saya tidak melihatnya lambang itu.

Ada dua ruang tempat dia berganti-ganti peran. Ruang kepengarangan dan ruang bagi tempatnya bekerja formal. Tapi kedua ruang itu nyaris tidak bersekat secara jelas. Dia sering membaurkan keduanya, mengajak orang-orang untuk mengenalnya tanpa tersandung tembok pemisah. Dia membuka tangan jika ada teman yang datang ke gerainya. Bahkan dia kadang mengajak kami untuk mampir kapan-kapan. Dia juga kerap membongkar banyak hal tanpa ragu, semisal contoh memposting kata pengantar yang ditulis Hudan Hidayat untuk buku kumpulan cerpennya Tangan untuk Utik yang meskipun bukunya masih proses cetak.

Bamby tak ragu menyatakan diri sedang membuat novel, bahkan dia mengumumkan bahwa Mirna Yulistianti akan menjadi calon editornya. Atau yang paling anget dia berfoto-ria dengan buku kumcer Bob Marley di ruang kerja formalnya. Dia menjadi model dengan rolle ciamik! Tubuh dan imajinya tidak kedap, ia pandai memainkan peran sesuai kebutuhan psiko-sosial di komunalnya. Tubuh dan imajinya ibarat banner…
Sebagai “egoleter” sosok Bamby tidak murni sebagai “on-in Media” tempat dia berziarah, berimaji-berkelena menjadi seorang petapa fiksi. Inilah formula yang saya tuduhkan padanya. Bambang dan Bamby bekerja sekaligus sehingga putaran kerja itu melontar energi yang ditangkap banyak orang. Dia tak segan menjadi bagian dari kerja “promosi” untuk bukunya, Utik. Dia mendekati secara interpersonal ke banyak penulis untuk mengapresiasikan bukunya.

Bahkan dari kata pengantar dan kata penutup untuk buku Utik, sejumlah resensi yang arsipnya tersebar di Facebook, dan bahkan wawancara rekan kami Anggoro Gunawan pun kalau boleh saya tuduh sebagai bentuk pendekatan pribadi yang unik. (Dan silakan baca sendiri bagaimana sejumlah resensi justru lebih mendekatkan diri pada pribadi pengarangnya, termasuk saya sekarang ini).

Itulah latarnya mengapa saya berusaha menulis pengantar ini dengan pendekatan pribadi juga. Sebab “energi” itulah yang dibutuhkan oleh Bamby dan juga penggemar cerpennya. Sebagai sedikit contoh aktual adalah kami kedatangan lebih dari 53 e-mail pribadi yang bertanya : apakah pengarang Utik itu juga masuk ke dalam Bob Marley.

Rasanya Bamby adalah salah satu pengarang yang sedang menuai berkah dari sikap terbukanya dan melancarkan sentuhan personal. Beruntunglah ranah sastra kita memiliki seorang Bamby yang berkat “formula”-nya itu mampu mensyiarkan kreasi tulisannya, tanpa perlu saklek, tanpa perlu banyak menunggu.

Pembaca Sriti.com yang budiman, silahkan nikmati hasil wawancara estafet antara rekan kami, Anggoro Gunawan (A) dengan Bamby Cahyadi (B). Perbincangan ini sangat menarik, karena ternyata masih ada juga “rahasia” yang belum sempat ia jabarkan di belantara maya selama ini. Selamat membaca. @ Chus
________________________________________
Bamby Cahyadi: Cerita dari Jejaring Maya
Oleh: Anggoro Gunawan

Nama Bamby Cahyadi masih baru di perbendaharaan penulis cerita rekaan Indonesia. Ia muncul dari belantara Internet. Walau nama aslinya menggunakan nama “Bambang,” ia jengah. “Posturku tidak segagah namaku yang Bambang itu, aku tidak tinggi tetapi aku juga tidak mengakui kalau aku pendek. Toh, kalau aku dikatakan berperawakan kecil aku lebih bisa menerimanya.” Demikian ia menulis di blognya(http://bambydanceritanya.blogspot.com). Pekerjaannya terhitung unik untuk urusan sastra. Saat ini ia menjadi store manager di McDonald’s. Mungkin kita bisa belajar kepada lelaki kelahiran Manado, Sulawesi Utara 5 Maret 1970 ini dalam bermimpi tentang sastra.

A: Adakah karya sastra yang begitu memicu Anda sehingga kemudian menjadi sastrawan?
B: Semula saya menulis hanya untuk terapi, khususnya terapi jiwa, menyeimbangkan (balancing) antara urusan kerjaan dengan hal-hal pribadi. Lalu tulisan-tulisan saya yang tak jelas kategorinya, saya posting ke blog (Wordpress dan Friendster) pada waktu itu. Ternyata respon/komen tulisan saya cukup baik dari teman-teman. Pada saat itulah, seorang Anita Kastubi penulis novel Ripta, Perjuangan Tentara Pecundang (Galang Press, 2003) berteman dengan saya di Friendster, tepatnya bulan Juli 2007.
Buku Ripta - karena dikasih gratis oleh penulisnya, saya lahap sampai tuntas tas-tas... Saya sangat terkesan dengan novel itu, karena Anita Kastubi adalah seorang profesional di bidang Advertising and Communication, mampu menulis novel yang cukup berat, karena novel tersebut novel sejarah, yang harus melakukan riset sana-sini.
Dan, dari chatting, email dan SMS-an Anita Kastubi selalu memberi support, bahwa menulis karya sastra itu asyik, dunia yang gembira, "Sastra itu fun banget, Bam!" begitu ia tulis dalam sebaris SMS.

A: Berapa kali Anda membaca buku Ripta itu?
B: Sejak buku tersebut saya terima 27 November 2007, saya membacanya hanya satu kali hingga tanggal 9 Desember 2007. Namun saya membacanya sangat mendalam, sesekali SMS penulisnya, chatting, atau telepon. Saya biasanya membaca buku hanya sekali, tetapi tuntas dari halaman depan sampai belakang.

A: Apa yang dimaksud dengan "saya sangat terkesan dengan novel itu"? Selain soal Anita Kastubi, bagaimana novel itu memberi Anda peluang untuk berpetualang di sastra?
B: Nah, saya sangat terkesan. Karena Anita Kastubi itu cantik (hahaha... maklum khan wajar cowok terkesan karena kecantikan perempuan hehe). Sudah cantik, ia menggarap novelnya dengan serius, melalui riset leteratur, interview dengan pelaku sejarah dan mendatangi langsung setting cerita. Padahal profesinya, bukan penulis full time…
…setelah membaca novel itu, lalu saya keranjingan membeli buku kumcer, lalu saya mencoba menulis cerpen dengan mengembangkan ide dari cerpen yang sudah ada. Hasilnya saya posting di blog Friendster dan Wordpres. Eh, tanggapan dari para blogger cukup bagus. Ya, akhirnya walaupun sebagai kegiatan rileksasi, saya terus menulis cerpen, saat itulah saya bertemu dengan situs penulis berbasis internet http://kemudian.com (yang ternyata banyak diikuti oleh para penulis senior dan juga pemula seperti saya). Beberapa nama yang lahir dari kemudian.com, misalnya: Khrisna Pabichara, Sungging Raga, Pringadi Abdi, Bernard Batubara, TS Pinang, Windry Ramadhina, Aulya Elyasa, Winna Effendi dll.

A: Apa yang menarik dari dunia sastra?
B: Ternyata dunia ini adalah dunia lain yang (dari dulu) terendap dalam dunia bawah sadar saya. Menulis cerpen, kemudian menjadi semacam penyaluran berbagai energi (baik maupun buruk) dan mimpi-mimpi serta kenangan masa kanak-kanak bagi saya. Dunia sastra adalah dunia nyata saat saya bermimpi. Atau sebaliknya, dunia mimpi saat saya tersadar dari tidur.

A: Apa yang tidak menarik dari dunia sastra?
B: Sebenarnya semua berlangsung menarik. Yang mungkin menjadi tidak menarik, ternyata sebagian sastrawan, menjadikan sastra sebagai politik, atau “POLITIK SASTRA”.Salah satunya adalah memberi stempel ini kubu itu, itu kubu ini. Sehingga para sastrawan tidak leluasa dalam berkreasi dan berunjuk gigi di mana saja.
A: Pernah mengalami efek politik sastra?

B: Saya pernah berdebat panjang dengan Saut Situmorang (sastrawan asal Yogyakarta) di note fesbuk beliau. Dan, di situlah saya merasa, saya dipolitiki sastra, saya dicap pengikut si ini, si itu dan lain-lain. Padahal saya bukan siapa-siapa dan pendapat saya adalah pendapat pribadi tidak mewakili siapa-siapa. Secara pribadi, dengan Bang Saut Situmorang, saya baik-baik saja. Begitupun dengan Hudan Hidayat. Atau dengan Komunitas Salihara (TUK) dan Boemipoetra. Kami, khususnya Komunitas Sastra Jakarta (Kosakata), tak ingin ada kubu-kubu dalam sastra Indonesia.

A: Pernah membayangkan cerita Anda dijadikan sebuah film?
B: Saya ini pemimpi. Tentu saya sangat kepengen salah satu, atau salah banyak juga tak pa-pa (Misalnya, semua cerpen saya dalam kumcer Tangan untuk Utik) di film-kan. Jadi, bukannya latah ikut-ikutan cerpen/novel yang telah difilmkan, tapi karena saya ingin, cerita yang saya buat, selain terimajinasi oleh pembaca, juga terimajinasi oleh sutradara, penulis skenario dan penonton. Walaupun banyak juga cerita yang gagal sebagai film.

A: Dalam proses kreatif, biasanya seorang seniman merasakan "sakit" terlebih dahulu. Seperti sakit perut sebelum kita berak (maaf), atau kangen gak ketulungan seperti mau jatuh cinta. Apakah proses "sakit" itu pernah Anda alami? Kalau sudah, seperti apa?
B: Proses kreatif yang menyakitkan, jelas pernah. Walaupun, saya menulis di dunia maya, tetapi ada juga beberapa yang mengkritik cerpen-cerpen saya, tapi semuanya saya terima dengan lapang dada dan menjadi masukan bagi saya untuk memperbaiki diri. Dan, mereka yang mengkritik, tidak menggunakan nama sebenarnya (padahal, saya tuh sangat terbuka dengan kritik).
Atas saran teman-teman di dunia maya, cerpen-cerpen saya diminta untuk dikirim ke media, tetapi saya agak malas. Hingga di bulan Juni 2008, saya memberanikan diri ikut lomba cerpen Femina, saya tidak juara, tetapi cerpen saya terpilih untuk dimuat.
So, cerpen pertama saya itu dimuat di Majalah Femina edisi Maret 2009. Dan, mungkin itulah awal saya jatuh cinta untuk menjadi cerpenis seutuhnya (maksud saya, selain di dunia maya, saya pun ingin menulis cerpen untuk koran dan majalah). Ternyata, SUSAH-nya minta ampun. Saya punya kebiasaan nulis cerpen di atas 12.000 karakter dan karena saya tidak punya latar belakang sastra, maka masalah diksi dan struktur bahasa menjadi kendala dalam menembus media cetak.
…tapi sejak berkenalan dengan Khrisna Pabichara, saya cukup dibimbing dalam hal teori sastra…
…hal, lain juga adalah walaupun cerpen saya belum dimuat di koran, saya mengirimkan kumpulan cerpen saya dari dunia maya itu ke beberapa penerbit, hasilnya ditolak semua. Kumcer saya dari Januari 2009 sampai Agustus 2009 mengendap di tiga penerbit. Hingga akhirnya diterbitkan juga oleh Koekoesan. (Tangan untuk Utik).

A: Berkaitan dengan cerpen Aku Bercerita di Atas Pesawat, seperti apa latar belakang proses kreatifnya?
B: Aku bercerita di atas pesawat yang sedang terbang, saya buat dalam 3 hari berturut-turut (29, 30 Juni dan 1 juli 2009). Tiba-tiba saya teringat sewaktu kami (saya, ibu saya, kakak saya dan adik saya) mengantar jenazah almarhum ayah saya yang meningal di Medan untuk dimakamkan di Tasikmalaya. Lalu idenya, saya olah sedemikian rupa, agar tidak terkesan kisah nyata. Ayah saya meninggal 15 februari 1985.
Nah, uniknya, cerpen ini semula, cerpen trilogi, 29 Juni, saya buat bagian prolognya. Tanggal 30 Juni 2009 saya buat bagian dialognya. dan tanggal 1 Juli 2009 saya buat bagian epilog. Dan, setiap bagian tersebut, saya sempat posting 3 hari berturut-turut dengan judul Trilogi Cerpen Mengantar Ayah. Sungguh di luar dugaan, cerpen itu banyak yang komen, bahkan Hudan Hidayat membuat pengantar cerpen segala.

A: Adakah hambatan dalam menulis karena profesi pekerjaan yang cukup asing bagi seorang sastrawan?
B: Hambatan dalam menulis banyak sekali. Seandainya saya bisa membelah diri seperti amuba, maka bagian diri saya yang satu akan terus menulis dan yang satu lagi bekerja mencari sesuap berlian di McDonald's he he.
…tapi sebenarnya hambatan utama datang dari diri sendiri, kadang saya berpikir, Facebook itu, mengurangi produktivitas kerja maupun menulis wakakak...

A: Menurut Anda, apakah Anda sudah layak menyandang gelar "sastrawan"?
B: Apakah saya sastrawan? Hmmm, menurut saya, saya penulis. Penulis cerpen, penulis fiksi, sesekali menulis esai.

A: Ada kiat-kiat dalam menulis?
B: Kiat-kiat menulis. Menulislah sesukamu dan menulislah dengan hati. Jangan menulis berpatokan pada teori menulis yang sudah ada, toh teori akan mengikuti laju kreativitas kita.

Namun, apabila kadar menulis sudah serius, perlu juga membekali diri dengan teori-teori sastra. Apalagi kalau latar belakang kepenulisan kita bukan jebolan sastra, nah perlu tuh memperkaya diri dengan teori majas, diksi, estetika, metafora, semantik dan lain-lain. @ Anggoro Gunawan
________________________________________

BIODATA RINGKAS
Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi adalah nama pena dan panggilan akrab dari nama asli Bambang Cahyadi. Pria kelahiran Manado, 5 Maret 1970 ini sehari-hari Bamby bekerja sebagai Store Manager di sebuah restoran cepat saji di Jakarta. Keseriusannya menulis cerpen berawal sejak tahun 2007. Bamby memulai menulis cerpen di dunia maya dan milis. Saat ini, ia menulis berbagai tema cerita pendek di Koran Tempo, majalah Femina, Jurnal Bogor, Batam Pos, Harian Global Medan, serta aktif mengelola Komunitas Sastra Jakarta (Kosakata) bersama teman-temannya.
Semasa mahasiswa, Bamby menulis esai tentang dunia kemahasiswaan, kepramukaan dan sastra di harian Pikiran Rakyat, harian Simponi, tabloid Eksponen, majalah Pramuka Kwartir Nasional dan Media Indonesia. Bamby pernah bersekolah di Manado (TK), Bitung (SD), Ampana (SD) dan di Tegal (lulus SD). Lalu lulus SMP di Medan, SMA di Tasikmalaya dan kuliah di Universitas Siliwangi, Tasikmalaya. Meraih gelar Bachelor of Hamburgerology dari McDonald’s Hamburger University Sydney, Australia. Tangan Untuk Utik (Penerbit Koekoesan, Oktober 2009) adalah buku kumpulan cerpen perdananya.

Anggoro Gunawan
Selepas dari Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro (1999), Anggoro Gunawan melanjutkan karir sebagai jurnalis di majalah periklanan Cakram, Tempo,
dan Majalah a+. Selain menulis untuk tempatnya bekerja, beberapa
tulisannya dimuat di beberapa media.sebagai penulis lepas seperti Pantau, Koran Tempo, majalah MATABACA, Jurnas, dan lain-lain.
Di samping kegiatan formal, manusia asal Magelang kelahiran 1975 ini juga ikut meramaikan kelangsungan Wikipedia dalam Bahasa Jawa. Tulisannya lebih banyak berkaitan dengan wayang kulit dan kebudayaan Jawa. Bergabung di Sriti.com sejak tahun 2007, dan banyak membantu dalam urusan teknis dan kearsipan. Karirnya sebagai jurnalis berhenti sejak Februari 2009, dan saat ini, bersama istrinya, Ratna Cahaya Rina, kegiatannya lebih banyak berhubungan dengan pembuatan situs Internet dan desain. Anggoro juga bisa dilacak lewat portal: www.desa.in

Kamis, 31 Desember 2009

Idealisme Seorang Sastrawan Muda

IDEALISME YANG MEMBUNCAH ZELFENI WIMRA
Oleh: Bamby Cahyadi

Terus terang, saya mengenal lantas mengetahui Zelfeni Wimra, ketika saya membuka-buka katalog yang dibagi-bagi saat saya datang melihat malam Anugerah Sastra Khatulistiwa (Khatulistiwa Literary Award) tahun 2009 bertempat di Plaza Senayan tanggal 10 November 2009 beberapa waktu lalu.

Katalog itu berisi kata sambutan, nama-nama finalis kategori prosa, puisi dan penulis muda dengan foto-foto cover buku, serta sambutan dari pemenang kategori prosa dan puisi tahun lalu. Katalog berwarna kuning keemasan itu, lalu saya buka-buka sambil menunggu hasil diumumkan.

Nah, pada saat itulah saya membaca nama Zelfeni Wimra dengan buku Pengantin Subuh. Hmm, siapa dia? Saya tak terlalu ambil peduli. Karena, saya terpaku pada finalis kategori prosa dan puisi saja. Betapa piciknya saya ya?

Beberapa hari kemudian, sebaris sms dari Mas Chusnato menyentak saya pada 19 November 2009.

“Salam! Sesuai rapat internal Sriti, kami meminta saudara Bamby untuk menulis profil cerpenis Zelfeni Wimra yang akan ditayangkan di sriti…”

Bug! Ternyata saya harus berkarib-intim dengan Zelfeni Wimra. Maka, sibuklah saya membuka-buka pofilnya di Facebook dan beberapa situs pribadinya. Mencari lagi katalog KLA 2009 dari rak buku dan mencoba menimbang-nimbang untuk mengirim sms kepada Zelfeni yang nomor kontak hapenya saya dapat dari Mas Chusnato.

Akhirnya, saya kirimi Zelfeni sebaris sms, “Salam kenal, saya Bamby Cahyadi.

Lama sms saya tak dibalasnya, hingga malam hari sekitar pukul 20.21 WIB, hape saya bergetar. Sebaris sms balasan dari Zelfeni, muncul.

“Salam kenal juga, di sini hujan mau turun kayaknya.”

Saya juga tak langsung membalas sms itu. Saya hanya tersenyum lucu. Lho apa hubungannya, salam kenal dengan hujan mau turun di kota Padang sana.

Namun, esok hari. Saya balas sms Zelfeni tersebut. Sekitar pukul 15.30 WIB saya mengirim sebaris pesan singkat, “Saya, akan menulis tentang Anda?”

Maka, beberapa saat kemudian, saya menerima sms panjang yang membantu saya dalam menyusun tulisan ini, karena sms balasan dari Zelfeni panjangnya 1.350 karakter. Aih, betapa bahagianya saya, karena Zelfeni sangat membantu saya untuk menulis sebuah artikel tentang dirinya yang panjangnya minimal 5.000 karakter dan maksimal 7.000 karakter ini. Oh, hati saya bahagia.

Ia, tertawa senang saya kira saat menulis sms panjang itu. Namun, ia lalu dengan sangat serius membeberkan sesuatu yang sudah lama mengendap dalam hati dan benaknya. Dan, ini tulisan balasan sms panjang Zelfeni.

“Wuahahaha. Sriti memang piawai mempertemukan, sekaligus memperseterukan kita. Ini memang harus terjadi. Ketersambungan kita akan menjadi bentuk baru dari kritik sastra. Para penulis mensinergikan diri mereka. Maka akan lahir tenaga yang luar biasa, yang diharapkan mampu memeluk pembaca dan realitasnya.

Inilah kerinduan saya selama 10 tahun pertama kepenulisan saya di Indonesia yang ironis ini. Saya rindu pada suasana khidmat yang bebas dari kepanikan-kepanikan masif akibat kecepatan perubahan yang dikondisikan sedemikian rupa. Kerinduan tersebut ingin saya tular-salurkan melalui sastra.

Sebab, media lain sudah terinfeksi virus-virus yang mematikan kemanusiaan. Lihatlah media hukum dan politik kita. Minta ampun!

Kalau ternyata, sastra juga terinfeksi, kita bisa menyembuhkannya dengan menjaringkan sebuah cita-cita bersama. Kebersamaan, antivirus paling aman.

Maafkanlah saya, yang baru saja saya ceritakan berada jauh di luar diri saya. Yang ada dalam diri saya hanya pertanyaan-pertanyaan. Sangat banyak. Rumit saya untuk memaparkannya. Saya cuplik sebuah pertanyaan dari dalam diri saya: Selain menyelamatkan lambung dari kelaparan, apalagi yang saya perjuangkan dari menulis? Kampung halamankah? Budayakah? Agamakah? Kemanusiaankah? Atau tulisan hanya pelarian dari kesepian?

Nah, rumit kan? Pertanyaan ini akan terus berangkai dan tak akan pernah habis.

Jadi, Bamby yang baik, tulislah tulisan tentang penulis ini. Terserahmu. Biodataku ada di beberapa situs. Yang jelas, aku anak petani yang bahagia. Sekarang tengah menyelesaikan Studi Pascasarjana di IAIN Imam Bonjol Padang, konsentrasi syari’ah. Terima kasih.”

Sms balasan itu mebuat saya berpikir dan makin penasaran dengan cerpenis Zefeni Wimra ini. Ada semangat yang membara dan idealisme dari Zelfeni yang tiba-tiba menjadi aura positif bagi saya. Ya, bagi saya pribadi. Ijinkan saya menuliskan lanjutan artikel ini. Walau agak panjang.

***
Tanggal 26 November 2009 siang telah lewat, sore belum terlampaui. Melalui sms, saya katakan bahwa saya akan menelepon Zelfeni. Ia langsung membalas sms saya. Silakan, katanya. Saya ingin melakukan sedikit wawancara langsung dengan cerpenis yang karya-karyanya telah tersebar di mana-mana. Saya ingin tahu suaranya dan bahana tawanya yang saya rasakan dari smsnya tempo lalu.

Stop! Nanti dulu, sabar ya. Sebelum saya beberkan hasil wawancara saya tentang proses kreatif Zelfeni Wimra kepada Anda, pembaca yang budiman, ada baiknya simak dulu bio data ringkas cerpenis sekaligus penyair kita ini.

ZELFENI WIMRA (terus terang saya agak kesulitan mengejanya atau menyebutnya tanpa teks), lahir di Sungai Naniang 26 Oktober 1979, Bukit Barisan, Limo Puluah Koto, Sumatera Barat, dari sepasang petani: Yunizar Imam Bosar dan Helmi Wirda.

Karya tulisnya telah dipublikasikan berbagai media cetak. Setelah memenangkan beberapa lomba, puisi dan cerpennya mulai bermunculan dalam sejumlah buku antologi, di antaranya: Batarak, Kumpulan Puisi T-IB Padang: 2000; Narasi 34 Jam, Antologi Puisi Antikekerasan KSI Award, Jakarta: 2001; Sebelas, Antologi Cerpen Sumatera Barat 2002, DKSB: 2002; la belle noiseuse, Kumpulan Puisi T-IB, Padang: 2004; Sumatera Disastra, Antologi Puisi Forum Penyair Muda Empat Kota Indonesia, Pustaka Pujangga, Jatim: 2007; Jalan Menikung ke Bukit Timah, Antologi Cerpen Temu Sastrawan Indonesia, Bangka Belitung: 2009.

Cerpennya, Bila Jumin Tersenyum, masuk 20 Cerpen Terbaik Indonesia 2009, nominasi peraih Anugerah Sastra Pena Kencana 2009. Pengantin Subuh adalah Kumpulan Cerpen tunggalnya yang pertama, diterbikan Lingkar Pena Publishing, 2008. Dan, Kumpulan Cerpen Pengantin Subuh, masuk dalam 8 Finalis Penulis Muda Berbakat Terbaik Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2009.

Baiklah, saya lanjutkan. Perjalanan menulis Zelfeni Wimra, menurut saya banyak tikungan, tidak mulus, kadang-kadang meriah dan lebih sering sepi. Akan tetapi, dalam pandangan saya, ia termasuk penulis yang produktif dan memiliki idealisme dalam memajukan dunia sastra Indonesia.

Anda mungkin akan mencari-cari alasan, ketika ditanya, kenapa Anda menulis? Bagi Zelfeni, tidak ada alasan. Menulis adalah ekspresi bersyukur kepada Tuhan. Sungguh jawaban di luar dugaan saya. Lalu saya kejar, kenapa begitu? Maka dengan suara beratnya, ia membicarakan tentang imajinasi, imajinasi adalah kekuatan yang luar biasa dalam tahapan kehidupan manusia yang diciptakan Tuhan. Tanpa imajinasi dunia akan kosong.

Merinding saya dibuatnya. Lalu kapan Anda mulai menulis? Alamak jan! (meminjam istilah yang sering digunakan dalam cerpen-cerpen Benny Arnas). Ternyata, Zelfeni telah memulainya sejak tahun 1999. Ia pun bercerita tentang cerpen pertamanya yang dimuat di media Mimbar Minang dengan judul Pelaminan.

Maka sejak saat itulah, jalan kepenulisannya terbentang. Zelfeni mengakui, bahwa ia menulis setelah mendapat ide-ide. Lalu dari mana idemu itu muncul? Tanya saya. Biasanya ia akan jalan-jalan ke kampung-kampung, ke tempat-tempat di mana kebanyakan orang jarang mengunjunginya, misalnya tempat-tempat bersejarah, seperti Kerajaan Indrajaya. Di situ, ia bisa menangkap suasana masa lalu.

Lalu apa yang Anda lakukan, apabila tiba-tiba kehabisan ide, selain jalan-jalan? Oh lala, ternyata ia main volley dan sepak bola. Penulis harus sehat, oleh karena itu, olahraga menjadi alternatif apabila tak ada ide untuk menulis.

Lantas, kami ngobrol ngalor-ngidul. Sambil sesekali tertawa terkikik-kikik. So, saya lanjutkan pertanyaan. Beberapa cerpenmu yang saya baca, sangat kental nuansa lokalitasnya, ada alasan tertentu? Dengan diplomatis Zelfeni menjawab, tulislah sesuatu yang dekat dan kamu sangat ketahui.

Kami pun berbicara hal-hal lain, bahkan ada pembicaraan yang kategorinya off the record (tentunya pembaca yang budiman tak perlu tahu, cukup saya dan Zelfeni saja yang tahu).

Akhirnya, karena masalah pulsa telepon, wawancara tentu harus diakhiri. Maka, saya tanya ia dengan pertanyaan standar namun membuat saya terperangah dan semakin yakin, saya sedang berbicara dengan seorang sastrawan muda dan seseorang yang memiliki idealisme dalam dunia menulis.

Apa harapan Anda ke depan?

Saya ingin mengajak teman-teman sastrawan, mungkin lebih tepatnya memprovokasi teman-teman, agar sastrawan harus mempererat diri, membuat kesatuan, merapatkan diri dalam sebuah aliansi, misalnya. Agar sastrawan bisa dihargai lebih tinggi di pasar. Juga aliansi itu, secara profesional membela kepentingan penulis/sastrawan ketika ia dirugikan di pasar. Atau sastrawan tetap kerja sendiri, dengan kondisi seperti saat ini.

Lantas kami menutup pembicaraan, saya meletakkan gagang telepon pada tempatnya. Tetapi, ada sesuatu yang tiba-tiba menggantung dalam nurani saya. Oh, betapa mulianya cita-cita seorang Zelfeni Wimra. Idealisme itu membuncah, singgah di hati saya.

Saya kembali larut dalam pekerjaan saya. “One Big Mac, please!”***

Jakarta, 2 Desember 2009

Sabtu, 19 Desember 2009

DUA PARAGRAF PERTAMA KUMCER BOB MARLEY

DUA PARAGRAF PERTAMA KUMPULAN CERPEN BOB MARLEY

Sebentar lagi sebuah buku yang dinanti-nanti akan terbit, Bob Marley dan 11 Cerpen Pilihan Sriti.com, diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Tentu Anda sangat penasaran. Saya kasih bocorannya, supaya Anda makin penasaran, meski hanya dua paragraf pertama dari masing-masing cerpen.


Kematian Bob Marley, Hasan Al Banna, Koran Tempo, 9 Maret 2009

Anyir mengalir. Udara berlendir. Sebagian kulit kepalanya terkelupas. Mata tak terbelalak, tapi wajahnya mendongak, menyeringai—lipatan kulit saling himpit. Mulut menganga, sekuak goa, tak henti melelehkan getah darah bercampur serpihan gigi. Lekuk tangannya menempel di atas dada, lantas kedua lutut bertekuk, semacam posisi duduk. Lebih dari itu, tak terdapat luka atau memar yang menonjol di tubuhnya. Hanya saja, dua jari tangan kiri—telunjuk dan kelingking—terputus, dan sebilah sayatan sepanjang sepuluh senti mengoyak anus.

Tadi malam, di bawah debur hujan, tiga orang pria tak dikenal mengetuk pintu salah satu rumah di lorong Dermawan. Tamu asing itu tampak menghemat gelagat. Gerak-gerik jangan sampai memancing kecurigaan, begitu hardikan pesan. Tapi tak bisa juga mereka menyimpan ketergesaan. Usai berbicara seringkasnya, mereka kemudian menjinjing sebujur mayat terbungkus terpal—lapuk, berwarna biru tua—dari pick up bak terbuka. Sesaat kemudian, ketiganya lenyap di balik jubah hujan, menelantarkan letup tangis mengerubungi mayat.

Induak Tubo, Zelfeni Wimra, Padang Ekspres, 22 Juni 2008

“Dasar orang tua. Nyinyir. Berkali-kali saya ingatkan, tidak usah ke sawah lagi. Akan lebih baik, kalau sawah itu dipaduoi saja kepada orang yang lebih kuat. Selin tugas kita ringan, hasil tanaman juga akan lebih banyak. Orang setua dia tidak layak lagi menggarap sawah barawang itu. Bisa-bisa ia terjerembab dan ditelan rawang itu hidup-hidup!”

“Anak-anaknya yang tak tahu diri. Semuanya merantau. Seharusnya, salah seorang tinggal di kampung, menemani induk yang sudah bungkuk. Sekalipun tidak akan ke sawah-ke ladang dan hidup melarat seperti kita ini, paling tidak induk mereka punya teman di rumah. Sungguh, kalian akan tahu sendiri nanti, betapa berartinya teman di hari tua. Dan, kalian juga akan tahu nanti, betapa lengang ketika di hari tua tidak ada teman, meski hanya untuk sekadar bercerita.

Kandang, Yanusa Nugroho, Jawa Pos, 12 Oktober 2008

Jika saja kau mengetahui di mana aku tinggal, mungkin kau akan sependapat dengan apa yang akan kuceritakan kepadamu. Di sini, di tempat tinggalku, kau tak akan menjumpai manusia. Ya. Kau tak akan menjumpai sesosok makhluk yang bisa layak kau sebut manusia.

Entah kebetulan, entah tidak, aku menempati rumah di ujung jalan. Lebih tepat lagi bila kusebutkan di ujung atas jalan kecil ini. Jauh lebih tepat, sebagai rumah yang paling atas, karena jalan ini adalah jalan buntu.


Cinta pada sebuah Pagi, Eep Saefulloh Fatah, Kompas, 25 Mei 2008

Sebuah rumah mungil di pinggiran timur Jakarta. Sebuah pagi berjalan sebagaimana lazimnya. Asti berkubang dalam banyak pekerjaan rumah. Arnando, seperti biasa, berkutat merampungkan lukisan di studionya.

Daster Asti tak mampu menutup seluruh kulit putih bersihnya. Tapi, daster itu tetap bisa menyembunyikan banyak tahi lalat di tempat-tempat tertutup. Hanya Arnando yang tahu persis letak-letaknya.

Satu Kunang-kunang, Seribu Tikus, Intan Paramaditha, Koran Tempo, 15 Februari 2009

Seorang pembunuh berdarah dingin, tak senang bernostalgia, mengawali rencananya dengan seorang perempuan yang mati tanpa melihat kunang-kunang. Dari ruang dan waktu yang jauh berbeda, ia mengintip Epon, seorang perempuan dengan kebiasaan ganjil. Tepat pukul dua belas malam, kala suaminya terlelap, Epon akan berjalan keluar rumah menuju kuburan demi melihat kunang-kunang. Ia percaya kunang-kunang ini--jenis betina berkilauan yang mengubah diri sesuai selera pejantan hanya untuk memangsanya kemudian--tak muncul di tempat lain. Tentu saja Toha suaminya menjadi gelisah. Di desa Cibeurit yang guyub tentram, perempuan tak berkeliaran malam-malam, apalagi pergi ke kuburan. Bisa-bisa istri Toha dianggap penganut ilmu hitam.

Beberapa malam sebelum peristiwa menyedihkan itu, Toha menyergap Epon saat ia mengendap-endap meninggalkan kamar.

Malam Basilsik, Dinar Rahayu, Suara Merdeka, 13 Juli 2008

Kau adalah kematianku
Padamu aku dapat bergantung
Ketika semuanya jatuh berguguran
(Paul Celan)
DI lautan suara dan gerakan aku mengapung. Tidak seperti binatang Kapal Perang Portugis yang sengatnya masih berfungsi walaupun ia sudah mati melainkan lebih mirip ganggang ruwet di tengah laut yang sudah dipenuhi kehidupan palsu.

Aku melewati seseorang yang mungkin akan kutemui dalam mimpi nanti malam. Mungkin juga tidak. Mungkin juga akan jadi bagian dari mimpi burukku. Aku melewati segala sesuatu yang mungkin akan kutemui kembali esok hari —mungkin juga tidak. Barangkali hari-hari yang datang akan sama dengan hari ini karena seperti keluaran pabrik kloning, hari-hari terlihat sama untukku. Aku seperti makhluk pejalan lurus yang terperangkap dalam roda di kandang hamster, seperti kuda kayu dalam komedi putar. Bergerak tanpa pergi ke mana pun juga.

Guru Safedi, Farizal Sikumbang, Kompas, 14 Desember 2008

Setelah menumpahkan kegundahan hatinya perihal kebutuhan keuangan dalam keluarganya, istri Safedi lalu beranjak dan duduk di depan pintu rumah. Kedua kakinya diluruskan ke depan. Tatapannya tertekuk ke bawah. Dari atas kursi ruang tamu, beberapa saat kemudian Safedi mendengar tangisan istrinya yang terisak.

"Berhentilah menangis, Aisia. Jika ada orang lewat, malu kita,” kata Safedi.

Malam Kunang-kunang, Rama Dira J, Kompas, 2 Agustus 2008

Merekalah bocah-bocah yang selalu bahagia. Jika malam tiba, mereka akan berlari-lari girang, mengejar-ngejar dan menggapai-gapai kunang-kunang yang berkerlap-kerlip melayang-layang serupa sebaran serbuk cahaya. Mereka jugalah bocah-bocah yang menghadirkan tawa dan canda di lembah itu hingga membuatnya hidup, terasa dihuni.

Selebihnya adalah gelap. Listrik belum masuk dan orang-orang dewasa terlalu sibuk dengan urusan ranjang. Maka, belum genap malam, bocah-bocah pun diusir pergi ke luar rumah, ke surau untuk mengaji atau berlatih silat ke lapangan sepak bola asalkan jangan bermain kunang-kunang. Karena bagaimanapun, orang-orang tua tetap meyakini kunang-kunang sebagai jelmaan kuku-kukunya orang mati. Jika menjadikannya sebagai mainan, maka akan menyebabkan kesialan.

Aku Bercerita dari Pesawat yang Sedang Terbang, Bamby Cahyadi, Koran Tempo, 26 Juli 2009

Seandainya aku tidak terlambat pulang sekolah, mungkin aku kini tak berada di atas ketinggian 30.000 kaki. Aku melihat awan-awan kelabu tebal berarak-arak yang seolah-olah ikut menangis dari balik jendela pesawat terbang ini. Aku kembali mengusap air mataku yang jatuh membasahi pipi dengan selembar tisu.

Kulihat ibuku memandang kosong ke arah jendela yang lain di sisinya. Matanya sembab, air matanya mungkin sudah kering sejak tadi pagi. Kakakku tertidur di bangku pesawat di samping ibu. Nyenyak sekali tidurnya, paling tidak ia bisa melupakan sejenak kesedihan yang tadi malam tiba-tiba merenggut kebahagiaan kami sebagai keluarga.

Tanah Lalu, Yetti A. KA, Suara Merdeka, 3 Agustus 2008

BUNYI tapak kaki saling tubruk, retak, berpentalan di udara. Kesiur angin merebahkan gumpalan-gumpalan daun. Orang-orang serupa bayang makin bergegas. Napas mereka terdengar kasar. Seakan-akan mereka tengah dikejar waktu menuju arena perburuan. Setelah sepertiga malam terdengar letusan senapan tepat di bawah pohon merambung, tempat biasa kijang-kijang menghabiskan sisa malam.

Tidak jauh dari tempat perburuan itu, aroma pagi segera menguar dari bidang-bidang sawah yang mengering, bercampur baur dengan anyir yang semakin tajam. Orang-orang bersorak. Sebuah kampung tengah mempersiapkan pesta kecil.

Kunti tak Berhenti Berlari, Berto Tukan, Batam Pos, 12 Juli 2009

Angin berhembus kencang menerpa rerumputan. Bunga-bunga ilalang putih sebesar kuku ibu jari kaki beterbangan menutupi jalan setapak. Matahari jam 12 siang menampakkan diri begitu sempurnanya. Belalang hijau satu-dua ekor terlihat menantang angin di pucuk-pucuk ilalang. Alam begitu tenang.

Kunti berjalan di jalan setapak itu. Bunga-bunga ilalang memenuhi setapak perlahan-lahan menepi ke kiri-kanannya. Mereka memberi tempat bagi kaki Kunti yang hitam tanah dan pecah kulitnya leluasa melangkah.

Batubujang, Benny Arnas, Singgalang Padang, 1 Juni 2008

ANAS benar-benar tak habis pikir bagaimana penduduk menjadi sebegitu bodohnya. Menyemen parit dengan batamerah, bahkan sebagian lebih gawat lagi, ada yang menggunakan batako.

Alamak jan, layak tak berotak apa yang berlaku di muka Anas. Apa kiranya yang telah membuat pikiran mereka tiada menimbang banyak dampak yang mungkin sekali timbul dari tindakan yang tak beralibi itu. Takkah mereka tahu kalau batamerah lebih banyak menguras rupiah daripada batubujang? Takkah jua mereka berpikir bahwa semakin berbilang masa, batamerah itu lebih mudah digerus air, walaupun orang-orang itu telah bertahan dengan rupa-rupa alasan yang terkesan terlalu dibuat-buat: bahwa batamerah akan dilapisi semen? Tetap, batubujang 1 lebih baik dibandingkan batamerah itu. Batin Anas memuncak, meredam lenguh durja.

Hahaha… penasaran khan? Mari beli bukunya.***

Jakarta, 19 Desember 2009

Selasa, 08 Desember 2009

Antologi BOB MARLEY dan 11 Cerpen Pilihan sriti.com



Cerpenku, Aku Bercerita dari Pesawat yang Sedang Terbang, termuat dalam antologi Bob Marley dan 11 cerpen pilihan sriti.com 0809 (penerbit, Gramedia Pustaka Utama, 2009)

Minggu, 25 Oktober 2009

Menyikapi Cerpen Jurnal Bogor dan Lampung Pos

Ada dua cerita dengan nama tokoh berbeda [kasus plagiat?]
Share
Today at 8:51am | Edit Note | Delete
Pagi ini, seperti pagi hari minggu yang lalu. Biasanya aku rajin mengamati cerpen-cerpen yang tampil di koran minggu. Pas, saat itu, Vivi Diani Savitri (Cerpenis) sms. Katanya, ada cerpen karya Khrisna Pabichara yang mirip dengan cerpen yang tampil di Lampung Pos minggu ini (25/10/2009).

Silakan baca dan bandingkan ke-2 link ini.

1. Jurnal Bogor (cerpen khrisna pabichara):

http://www.jurnalbogor.com/?p=54993

2. Lampung Pos (cerpen Y. Wibowo):

http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2009102418580311

Bagaimana hasilnya? Silakan membuat kesimpulan sendiri. Kita bukan hakim.
Written 15 hours ago · Comment · Like / Unlike
Ida Nursanti Basuni, Andreas T Wong, Ria Aprilia and 5 others like this.
Eri Irawan
Eri Irawan
Kita tetap harus hati-hati menyikapinya, Mas Bams. Jangan sampai sikap kita yang berlebihan malah menghabisi karis cerpenis yang bersangkutan. Bukannya permisif, sih, tapi ini mungkin menyangkut nasib orang.
14 hours ago · Delete
Eri Irawan
Eri Irawan
karir, maksudnya.
14 hours ago · Delete
Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi
Iya mas Eri, makanya aku tampilkan ke-2 link tersebut, agar pembaca saja yang mengambil keputusan, apakah hal tersebut kasus plagiat, atau hanya punya kesamaan ide dan deskripsi cerita yang "hampir" mirip.

Saya pun sudah konfirmasi kepada KP, apakah ia menulis cerpen dengan nama samaran, tetapi ternyata tidak.

Setahu saya Y. Wibowo, juga seorang cerpenis. Dan karya-karyanya ada. Mudah-mudahan, sikap saya ini tidak berlebihan ya? Hehehe, mantrabs.
14 hours ago · Delete
Weni Suryandari
Weni Suryandari
nah lho1. harus hati2 ya...gilee...makanya aku takut banget mau posting sering2.... kasus seperti ini kerap terjadi katanya...
14 hours ago · Delete
Benny Arnas
Benny Arnas
Baca dulu ya, Mas....
14 hours ago · Delete
Benny Arnas
Benny Arnas
Baca dulu ya, Mas....
14 hours ago · Delete
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara
Saya pribadi pun mencari dan menunggu kabar dari rekan Y. Wibowo. Sebagai sesama orang yang menggantungkan hidup di dunia tulisan, saya tetap berhati-hati. Saya pun tidak ingin menjadi penyebab "matinya" karier seseorang.

Salam takzim, KP
14 hours ago · Delete
Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi
Y. Wibowo juga cerpenis mas, karya-karya yg lain ada di sriti.com... semoga ada klarifikasinya
14 hours ago · Delete
Mh Poetra
Mh Poetra
Iya mas..
Ada sisi lain juga mungkin.

Apa karna kepepet bgt jadi limbung, eh ketepatan sedang baca cerpen mas khris yg keren, jadi seperti nemu jalan terang, yg pintas tentunya.
... Read More
Dan terjadilah..
Hehe

Tetap semangat mas
:)
14 hours ago · Delete
Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi
Paragraf awal versi KP (jurnal bogor)

HELGA Suryandari nama aslinya. Tak terlalu cantik dibandingkan ibu-ibu lain di desa Adi. Juga tidak terlalu kaya. Biasa saja. Tapi, orangnya sangat ramah. Karena keramahannya, warga sedesa mengenalnya. Bahkan, satu kecamatan. Tidak heran jika dia digelari Perempuan dengan Senyum Paling Ramah. Dia ramah pada ... Read Moresiapa saja, kapan dan di mana saja. Karena itu dia dipanggil Ibu Ramah, bukan Ibu Helga. Karena itu pula dia dilamar partai-yang gemar menampung orang terkenal-untuk mencalonkan diri sebagai anggota dewan.
14 hours ago · Delete
Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi
Paragraf kedua versi Y.W (lampung pos):

Rahayu Sari, ibu Ratna, tak terlalu cantik dibandingkan ibu-ibu lain di desa, juga tidak terlalu kaya. Biasa saja. Tapi, orangnya sangat ramah. Karena keramahannya, warga sedesa mengenalnya. Bahkan, satu kecamatan. Tidak heran jika dia digelari perempuan dengan senyum paling ramah. Dia ramah pada siapa saja, kapan, dan di mana saja. Karena itu dia dipanggil Ibu Ramah, bukan Ibu Rahayu atau Ibu Sari.
14 hours ago · Delete
Benny Arnas
Benny Arnas
BARU PERCAYA:
WAH, AKU JUGA GAK RELA!!! MAS KP, apa yg bisa saya bantu?!!! Geram nihh!
14 hours ago · Delete
Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi
@ KP: aku rasa, ada bagian panjang pada cerpen lampos yang ngambil dari versi naskah asli (sebelum edit) di Jurnal Bogor. Hehe... sabar ya mas khris, namamu makin berkibar saja sbg cerpenis.
14 hours ago · Delete
Aris Kurniawan
Aris Kurniawan
Kurasa ini benar kasus jiplakan. Alur dan ide ceritanya sama. Turut prihatin...
14 hours ago · Delete
Erna Rasyid
Erna Rasyid
dari dlu bxk kasus seprti ini/tp sllu sj brdalih KREATIFTAS. mgkn 'kreatftas menjiplak' ...
14 hours ago · Delete
Fajar Alayubi
Fajar Alayubi
Saya khawatir, bila tidak ditindak lanjuti, maka akan 'menjamur' kasus seperti ini. Saya doakan semoga cepat tuntas.
14 hours ago · Delete
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara
@Mas Bamby: Saya pernah pula memosting cerpen ini di facebook note dengan judul "Berburu Kursi" sewaktu diikutkan Sayembara. Dan setelah tidak menang karena pesannya terkesan tempelan, saya permak ulang, lalu dikirim ke Jurnal Bogor.
14 hours ago · Delete
Ann Straw Navie
Ann Straw Navie
Wahahah, 95% penjiplakan ini, om! Kasian Om khrisna ya

stop piracy
14 hours ago · Delete
Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi
@ KP: ini potongan naskah asli "Berburu Kursi":

“Menjadi wakil rakyat itu adalah amanah. Jika saya terpilih, saya akan lebih mendahulukan kepentingan rakyat sebelum mengambil keputusan. Bagi saya, partai itu hanya jembatan. Jangan tergoda oleh nama besar, penampilan, atau iming-iming hadiah. Apalah artinya uang sepuluh ribu jika ibu-ibu sekalian menggadaikan masa depan rakyat selama lima tahun.

Dan bagian itu tak ada di cerpen JB karena sudah diedit/dipangkas.
13 hours ago · Delete
Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi
Namun, paragraf tsb ada pada cerpen YW :

Tiba-tiba ibunya naik ke tempat tidur. "Menjadi wakil rakyat itu amanah. Bagi saya, partai itu hanya jembatan. Jika saya terpilih, kepentingan rakyat akan didahulukan setiap mengambil keputusan. Jangan tergoda bujuk rayu, penampilan, atau hadiah. Apalah artinya uang sepuluh ribu jika menggadaikan masa depan kita selama lima tahun. Karena itu, pilih yang pasti. Pilih nomor tiga, Rahayu Sari!"

Berarti, kesimpulanku, karena cerpen ini pernah diposting di FB, maka bisa dijiplak.... Read More

Pelajaran menarik dari dunia maya, mencuat lagi nich hehe
13 hours ago · Delete
Kavellania Nona Pamela
Kavellania Nona Pamela
wahhh wahh WAAAAHHH
NGGAK YANGKA SUMPEEEHHH
13 hours ago · Delete
Weni Suryandari
Weni Suryandari
Gilaaaaaaaaaa.......nggak nyangkaaa sumpeeehhh (sama dengan Kav...) luar biasa ini, menjiplak plek plek!! menyeramkan....! duuhh Gemeeess...!!!
Dindaku, sabar...makin terkenal makin keras angin bertiup..
sabar dinda...
13 hours ago · Delete
Faradina Izdhihary
Faradina Izdhihary
Gilaaaaaaaaaaaaaaa. ada pencuri juga.....Wah trs gimana dong dgn karya2 kita di FB atau blog teman2 ???? wuah
13 hours ago · Delete
Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi
@ Fara: mbak Fara, kita hanya bisa saling mengingatkan dan memberitahu saja...
13 hours ago · Delete
Tatan Daniel
Tatan Daniel
Menjiplak adalah pekerjaan primitif... Primitif, Bung..
13 hours ago · Delete
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara
@Weni: Dinda akan selalu bersabar, sembari menyasar hikmah di balik semua ini...
13 hours ago · Delete
Faradina Izdhihary
Faradina Izdhihary
Mas Khrisna: Yang sabar, tapi aku gak bisaaaaaaa. gak tahan! Gregetan
13 hours ago · Delete
Guntur Alam
Guntur Alam
Aku akan hunting bukunya...
13 hours ago · Delete
Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi
@ Fara: terima kasih sudah mampir, gak papa yo, aku tag paling akhir hehe
13 hours ago · Delete
Guntur Alam
Guntur Alam
Maaf salah post, seharusnya di promo bukumu, Mas. Bukan catatan ini. Aku jadi malu.... ^_^
13 hours ago · Delete
Guntur Alam
Guntur Alam
Seperti yang aku sms, jerat saja dengan UU No. 19 Tahun 2002..! Jangan biarkan orang seperti itu mencoreng citra penulis. Dia pikir, karena media yang jauh (tempat dan jarak) akan membuat hal ini tak diketahui. Kesamaan ide, pengemasan ataupun teknis menulis adalah hal biasa. Tetapi, meng-copy paste, sungguh hal yang membuat saya geram...
13 hours ago · Delete
Banyu Hening
Banyu Hening
Waduh2...aku mau beli lampung post hari ini kalo begitu...
12 hours ago · Delete
Anita Rachmad
Anita Rachmad
waaaah.....
lihat di web-nya bisa gak ya ?
sumpah ! jadi penasran !
12 hours ago · Delete
Anita Rachmad
Anita Rachmad
he..he..he...tentu saja bisa !
nah yg ditampilin mas bam itu apa ! sangking nafsunya pengen liat !
12 hours ago · Delete
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara
Setelah lima kali saya baca, ternyata hanya ada perbedaan pada nama tokoh dan latar tempat. Selebihnya, kembar identik. Sayang sekali judul cerpen tidak termuat di Lampung Post.

Terima kasih Bang Benny dan Bang Rama Dira atas informasinya. Pun kepada Bang Guntur atas supportnya. Jadi makin semangat untuk berkarya nih
12 hours ago · Delete
Anita Rachmad
Anita Rachmad
hmm....
agak mirip memang. plek malah.
mudah mudahan memang kebetulan idenya sama ^_^
12 hours ago · Delete
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara
@Banyu: ditunggu kabarnya, Bang.

@Anita: sepertinya bukan semata mirip ide, Mbak, tetapi mirip segalanya
12 hours ago · Delete
Lily Yulianti Farid
Lily Yulianti Farid
ini plagiatisme. sudah baca dan membandingkan keduanya.
12 hours ago · Delete
Banyu Hening
Banyu Hening
Abang? Hahaha...nanti ku kabari, mas....
12 hours ago · Delete
Imam Marsus
Imam Marsus
Aku ikut prihatin dengan kasus ini. Makasih, Mas atas infonya>
12 hours ago · Delete
Cepi Sabre
Cepi Sabre
seorang politisi diharapkan untuk jujur kepada rakyatnya, tapi seorang penulis, pertama sekali, harus jujur kepada dirinya sendiri (kalau tak salah ingat, kata bur rasuanto)

saya pikir, mas bamb, semua sudah memberi penilaian sesuai bacaan masing-masing pada kedua cerpen itu. tinggal menunggu mas y.wibowo membela dirinya. atau menunggu kebesaran hatinya, lebih baik.
12 hours ago · Delete
Kajitow Elkayeni
Kajitow Elkayeni
saya turut prihatin, ini memalukan. diselesaikan dengan bijak saja mas khris. salam.
12 hours ago · Delete
Ade Anita
Ade Anita
iya.. mirip banget, cuma diubah namanya ya. Menurutku sih ini termasuk plagiat deh. Tapi... ini sering nih terjadi, terutama utk karya2 di internet (mungkin krn tidak ada perlindungannya ya?). Aku dulu pernah bantu2 jadi editor majalah Surga (dah modar sayangnya sekarang), nah... ada penulis yg ngirim tulisan utk dimuat dimajalah tersebut, ... Read Moresayangnya, penulis asli tulisan yg dikirimnya itu ternyata aku sendiri!!!... waaa.. kaget, langsung aja aku tegur. Tapi ya itu, nda bisa berbuat apa-apa wong namanya juga dunia maya.. nggak bisa dibuktiin toh? Kecuali kalau roy suryo ikut bicara...hahaha..Itu sebabnya aku tidak mau lagi nulis di internet secara serius. Tulis sebagian saja, jangan edisi lengkapnya (atau setidaknya jangan sampai melebihi 3000 karakter.. hehehe, kan ini syarat kalau mau ngirim ke media cetak), jadi jikapun ada yang berniat mencuri karya kita ya.. dia agak2 kerja keras juga deh utk memenuhi kuota minimal 3000 karakter, jadi tidak ongkang-angking diatas karya orang lain, tapi ada juga sedikit tetes keringatnya).

ayo dong teman2... dimulai atuh gerakan untuk melindungi karya2 kita yang beredar di internet...katanya ada RUU-nya.. gimana tuh kabar RUU-nya?
11 hours ago · Delete
Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi
@ Ade anita: saya setuju harus ada UU yg melindunginya. Tapi apakah DPR mampu?
10 hours ago · Delete
Imam Marsus
Imam Marsus
@Ade Anita&Bamby : Setuju! Kita upayakan bersama dan kasih support pihak-pihak yang mengusahakannya.
Jangan sampe kehidupan intelektual meredup gara-gara pembajakan.
10 hours ago · Delete
Kajitow Elkayeni
Kajitow Elkayeni
nah, ayo semangat!
10 hours ago · Delete
Feby Indirani
Feby Indirani
sudah baca. memang jelas nyontek, cuma mengganti nama, mengubah sedikit di sana sini.artinya nyonteknya juga kurang pinter hehehe karena ketahuan banget :)
10 hours ago · Delete
Boby Ginting
Boby Ginting
Aku uda baca link yang dikasi sama bang bamby, dan menurutku memang terlalu "kebetulan"jika "tak sengaja mirip".

Tapi agak aneh juga seorang cerpenis melakukan hal begitu, ya. Bunuh diri namanya.

Aku mau liat nih, gimana kelanjutannya. Sapa tahu malah yang kurang ajar adalah media cetaknya yang suka mencaplok nama penulis (belum tentu Y.wibowo tapi malah editor yang kurang ajar). Siapa tahu, bukan?
9 hours ago · Delete
Helga Worotitjan II
Helga Worotitjan II
sangat2 menyayangkan!
9 hours ago · Delete
Teguh Setiawan Pinang
Teguh Setiawan Pinang
sudahlah, bagi yg karyanya dijiplak ikhlas saja.... kalau ketemu si penjiplak boleh langsung "ditulisi" mukanya. hehehe.....

santai aja. penulis yang mengandalkan diri pada teknik copy-paste tidak akan pernah menjadi besar. artinya, tdk layak dianggap ancaman, apalagi pesaing. cuma ya itu tadi, kalau ketemu muka, itu muka boleh "ditulisi" ;-)
9 hours ago · Delete
Weni Suryandari
Weni Suryandari
iyaa bener kata mas TS Pinang.....apa boleh buat... meski gemas, plagiatisme tetap saja akan membunuh si plagiator....
kalo ketemu tulisi saja mukanya. hehehe
8 hours ago · Delete
Helga Worotitjan II
Helga Worotitjan II
aku sudah membaca & membandingkannya, bahkan si penjiplak tidak pny ketrmpilan menjiplak dg baik, hahaha!

Khrisna, ini pelajaran, tulisanku jg sering dijiplak, tapi bgtulah resiko melepasnya di ruang publik.......
8 hours ago · Delete
Rama Dira J
Rama Dira J
jelas : INI PLAGIAT. 90% sangat mirip. Yang diubah hanya jenis kelamin beberapa tokohnya dan deskripsi di pembukaan dan ending.
8 hours ago · Delete
Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi
Kayak dejavu, waktu kasusnya Langit Septa di k.com hehe. Sayangnya YW gak punya fb.
7 hours ago · Delete
Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi
TSP, hehe mantap "ditulisi"
7 hours ago · Delete
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara
@TSP: Iya, Mas. Saya ikhlaskan. Hehehe...
6 hours ago · Delete
Eri Irawan
Eri Irawan
Bukannya permisif, tapi tak perlu berlebihan. Kelak waktu yang akan menguji daya kepenulisan kita masing-masing. Itu saja sudah cukup. Betul kata Mas Pinang.

Sanksi cukup diberikan oleh redaktur sastra Lampung Post. Biar cerpenis itu di-black list. Kalau kita ikut menghujat di sini, dan kebetulan dibaca redaktur-redaktur koran lain, wah kasihan ... Read Moresekali tuh Y. Wibowo. Meski karyanya bagus dan orisinal (ah, adakah yang orisinal di dunia ini?!), kelak tak ada yang mau menerimanya. Maju terus untuk smuanya!
5 hours ago · Delete
Norman Erikson Pasaribu
Norman Erikson Pasaribu
Y Wibowo Parahhhhhhhhhhhhhh..
4 hours ago · Delete
Norman Erikson Pasaribu
Norman Erikson Pasaribu
Sayembara yang dimaksud bang khrisna itu Sayembara tunanetra dari MataKata itu yaa?

saya lihat di situs lain direktur MataKata itu Y.Wibowo..

ohhhh.. Gilak........
4 hours ago · Delete
Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi
@ norman: waduh makin runyam, bukankah KP terlibat jg dgn proyek matakata? Eh, bukan begitu?
3 hours ago · Delete
Norman Erikson Pasaribu
Norman Erikson Pasaribu
kurang tahu bang,

tapi tadi lihat di situs (mencari siapakah Y. Wibowo itu?)
ternyata dia direktur MataKata..
... Read More
KP aku kurang tahu terlibat di sayembara itu.. tp tahunya begini?? nengnong.. bingung juga.. hhe
3 hours ago · Delete
Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi
@ Norman: ada klarifikasi dari blog matakatakita (penyelenggara kumcer tunanetra), bahwa blog matakata YW, berbeda dgn blog Matakatakita. Nama YW tdk dikenal di matakatakita. Trims.
2 hours ago · Delete
Norman Erikson Pasaribu
Norman Erikson Pasaribu
ohhhhhhhhhhhh begitu.. oknum YW, oknum YW..
2 hours ago · Delete
Johanés Koén
Johanés Koén
Halo rekan sekalian,
saya tadi dikontak kawan Bamby tentang apa ada kaitan tentang Y. Wibowo dengan Mata Kata Kita

1. Kegiatan Sayembara Cerpen mataawas - tunanetra yang kami selenggarakan bernama Mata Kata Kita dan tidak berhubungan dengan nama-nama lain seperti Mata Kata, dsb. Alamat blog resmi kami di matakatakita dot wordpress dot com
... Read More
2. Saudara Y. Wibowo hingga saat ini tidak ada keterlibatan sama sekali baik sebagai peserta maupun penyelenggara MataKataKita dan juga kegiatan lain yang kami selenggarakan seperti iRBI, dibawah koordinasi Komunitas enamPENA.

3. Jika ada suatu hal yang harus dikonfirmasikan ulang kepada kami, rekan-rekan dapat melayangkan email di matakatakita at gmail dot com

demikian penjelasanku mewakili MataKataKita sekaligus mewakili enamPENA. semoga bisa meluruskan.
tetap semangat, Mas Khrisna..

johanes.koen
about an hour ago · Delete
Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi
Terima kasih mas koen. Telah mampir di sini.
about an hour ago · Delete
Norman Erikson Pasaribu
Norman Erikson Pasaribu
waduh maaf bang johannes koen.. salah info saya. hehe
about an hour ago · Delete
Johanés Koén
Johanés Koén
oke sama-sama mas bamby, dan mas norman. semoga kasus y. wibowo yang cerpennya identik dgn mas KP ini bisa segera diselesaikan baik-baik.
about an hour ago · Delete
· · ·

Rabu, 23 September 2009

Kumpulan Cerpen TANGAN UNTUK UTIK


Buku kumpulan cerpen Tangan Untuk Utik, pengarang Bamby Cahyadi. Terbit Oktober 2009. Penerbit Koekoesan.

Senin, 21 September 2009

Pemuda Penjaga Lift, cerpen di Jurnal Bogor

Cerpen PEMUDA PENJAGA LIFT dimuat di Jurnal Bogor, Minggu 13 September 2009:

PEMUDA PENJAGA LIFT
Oleh: Bamby Cahyadi

Seperti pagi kemarin, kulihat kamu sudah berada di lobi apartemen ini. Setelah mengganti bajumu dengan seragam, yang menurutku lucu, dan mengisi kartu absensi. Kamu telah siap untuk bertugas. Pagi ini kukira, sama saja dengan pagi-pagi sebelumnya. Pagi yang kering. Sudah lama air hujan malas turun untuk menyirami tanah. Untung kita berada di dalam apartemen ini, sehingga terik matahari tak terasa di sini.

“Selamat pagi, ke lantai berapa Pak?” Tanyamu dengan nada suara yang sangat sopan pada seorang lelaki berpakaian safari rapi dan perlente. Kini kamu telah berada di dalam lift, mengerjakan rutinitasmu, menjaga lift. Bertanya dan membantu orang yang keluar-masuk lift untuk mengantar mereka ke lantai yang mereka kehendaki.

Lelaki itu kemudian memperlihatkan lima jarinya tangannya tanpa bicara. Kamu rupanya sudah paham, tombol lift kamu pencet angka 5. Kamu selalu berpenampilan rapi, rambutmu selalu tersisir dengan sedikit minyak rambut yang membuat rambutmu berkilau apabila tertimpa cahaya lampu lift. Mengingatkan aku pada tokoh-tokoh film di tahun enampuluhan.

Lantas kamu terlibat percakapan basa-basi dengan lelaki perlente itu. Kudengar ia akan mengunjungi sanak keluarganya yang tinggal di sini. Pembicaraan kalian terhenti, ketika di lantai 2, lift berhenti. Beberapa orang masuk bersama, mereka menuju lantai paling atas. Terdapat kolam renang di sana. Mungkin mereka mau berenang pagi ini.

Ya, kamu juga selalu tersenyum ramah kepada setiap orang yang menggunakan lift ini. Setiap hari. Mungkin di setiap shift-mu karena pasti kamu pun membutuhkan libur untuk mengatasi kebosanan menjaga lift, dan rutinitas bertanya ke lantai berapa ke setiap orang yang menggunakan lift di apartemen ini. Rutinitas yang membosankan, kupikir. Namun, kamu menjalaninya dengan senang hati. Itulah, maka aku sangat suka memperhatikan kamu.

Sudah lama aku ingin berkenalan dengan kamu. Ingin sekali aku bertanya tentang minyak rambutmu yang membuat rambutmu menjadi licin berkilau. Selain itu aku sangat tertarik dengan ketulusan hatimu, menjalani profesi, yang kukatakan membosankan ini. Karena dari semua karyawan bagian servis di apartemen ini, cuma kamu yang sangat bersahaja.
***
Hari ini, kamu tidak berada di dalam lift ini. Seorang wanita muda menjaganya, mungkin kamu libur. Wanita muda itu tidak seramah kamu. Senyumannya menyerupai sebuah sunggingan bibir yang dipaksakan. Mirip menyeringai, tidak tulus. Sepertinya ia sangat terpaksa menjalani profesi penjaga lift daripada tidak bekerja sama sekali. Tidak sepertimu yang begitu tulus melakukan pekerjaanmu.

Terkadang wanita muda penjaga lift penggantimu itu, pura-pura sibuk ketika ada orang yang masuk ke dalam lift. Aku tahu, ia hanya malas membuat sebaris senyum di bibirnya. Heran juga ia bisa bekerja di sini.

Wahai pemuda penjaga lift, sudah hampir sebulan kamu tidak menjaga lift dan sebulan ini beberapa petugas pengganti silih berganti. Kamu kemana? Apakah kamu sakit? Ataukah kamu mendapatkan pekerjaan baru? Aku kok rindu kamu.

Ya, sungguh tak menyenangkan menyambut pagi tanpa kehadiran kamu. Lobi apartemen terasa hampa. Rasanya, aku berada di apartemen asing. Sungguh suasana seperti ini membuatku merasa melankoli.

Terus terang, ingin sekali aku bertanya kepada temanmu, wanita muda yang sekarang menjadi penjaga lift itu. Sebab sudah sebulan kamu tidak bertugas. Tetapi tentu tidak aku lakukan, aku tidak mau semuanya berubah menjadi runyam dan kacau. Selain itu, aku tidak suka dengan wanita muda yang berwajah masam itu. Lebih baik aku tak menegurnya saja.

Pagi ini suasana lobi apartemen terasa sangat sepi dan begitu lengang. Aktivitas apartemen belum dimulai, seperti biasa aku memasuki lift dengan langkah gontai menuju kamarku. Berharap-harap cemas, dirimu hadir di sini. Bertemu dengan kamu dan memperhatikanmu diam-diam. Oh, aku suka sekali melakukannya.

Aha…! Aku sangat senang dan gembira sekali. Pagi ini aku menemui kamu berada di dalam lift dan sudah bertugas kembali. O Tuhan, terimakasih. Harapku bisa melihatmu di pagi ini terkabul. Aku sangat gembira, kukira aku telah berlonjak-lonjak saking girangnya. Rona pipiku memerah malu.

“Mau ke lantai berapa Mbak?” tanyamu dengan suara yang sangat ramah. Aku terkejut bercampur bahagia kamu sudah menjaga lift lagi. Sambil memandang heran padamu aku mengacungkan kesepuluh jariku. Meniru gerakan lelaki perlente bersafari yang kulihat bulan lalu. Aku ke lantai 10. Kamu memencet tombol angka 10. Aku masih tak percaya, kamu bertanya kepadaku.

Aku bingung mau mengajakmu bercakap-cakap. Kulihat kamu juga terlihat malu-malu di hadapanku. Sesekali kamu melirikku. Ketika aku hendak berkata-kata mengajakmu bicara.

Tiba-tiba lift mendadak berhenti di lantai 5 padahal tidak ada seorang pun yang berhenti untuk ke luar ke lantai 5. Pintu lift terbuka, meninggalkan suara denting. Masuk wanita muda penjaga lift penggantimu itu, ia bersama temannya, tetapi mereka tidak menegurmu. Kamu pun diam saja tidak menegur mereka. Aku dan kamu terdiam dalam bisu, hanya teman-temanmu yang berbicara. Pembicaraan mereka tampak sangat serius.

“Sudah sebulan aku bekerja di sini, baru kali ini aku merasakan bulu kudukku berdiri dan merinding seperti ini,” kata wanita muda itu kepada temannya dengan ekspresi seperti orang yang ketakutan.

“Ya, aku juga merasakan hal yang sama,” balas teman wanita muda itu sambil bergidik dan memegang lehernya sendiri. Rupanya bulu kuduknya meremang.

“Apa mungkin rohnya si Markum penjaga lift yang meninggal kecelakaan motor sebulan yang lalu sedang gentayangan di sini ?” lanjut wanita muda penjaga lift itu kepada temannya sambil memencet tombol lift ke lantai dasar.

Aku tersentak, mengalihkan pandangan padamu. Kamu tertunduk.

“Mungkin saja. Dulu juga waktu seorang gadis bunuh diri loncat dari lantai 10. Dan tubuhnya hancur di halaman parkiran, di lift ini sering terjadi sesuatu yang aneh-aneh dan menyeramkan,” kata temannya sambil masih memegang tenguknya.

“Kenapa gadis itu bunuh diri?” Tanya wanita muda itu.

“Katanya sih, gadis itu kesepian. Orangtuanya memberikan fasilitas apartemen, tetapi mereka tidak pernah menjenguk gadis itu,” jelas temannya dengan bibir bergetar ketakutan.

“Iya, ya, bisa jadi si Markum lagi gentayangan di sini. Dia khan, meninggal saat mau menuju ke sini untuk menjaga lift ini. Hiiiiiih!” Kedua wanita itu menjerit dan buru-buru ke luar dari lift ketika sampai di lantai dasar.

Terus terang aku sangat terkejut mendengar pembicaraan mereka. Pandanganku beralih kepadamu yang sedang berdiri manis di pintu lift sambil tersenyum, mengangguk-angguk kepala seraya mengangkat bahumu menatapku. Kamu bernama Markum. Pantas kamu bisa menegurku pagi ini.***

Jakarta, 29 Juni 2008