Kamis, 31 Desember 2009

Idealisme Seorang Sastrawan Muda

IDEALISME YANG MEMBUNCAH ZELFENI WIMRA
Oleh: Bamby Cahyadi

Terus terang, saya mengenal lantas mengetahui Zelfeni Wimra, ketika saya membuka-buka katalog yang dibagi-bagi saat saya datang melihat malam Anugerah Sastra Khatulistiwa (Khatulistiwa Literary Award) tahun 2009 bertempat di Plaza Senayan tanggal 10 November 2009 beberapa waktu lalu.

Katalog itu berisi kata sambutan, nama-nama finalis kategori prosa, puisi dan penulis muda dengan foto-foto cover buku, serta sambutan dari pemenang kategori prosa dan puisi tahun lalu. Katalog berwarna kuning keemasan itu, lalu saya buka-buka sambil menunggu hasil diumumkan.

Nah, pada saat itulah saya membaca nama Zelfeni Wimra dengan buku Pengantin Subuh. Hmm, siapa dia? Saya tak terlalu ambil peduli. Karena, saya terpaku pada finalis kategori prosa dan puisi saja. Betapa piciknya saya ya?

Beberapa hari kemudian, sebaris sms dari Mas Chusnato menyentak saya pada 19 November 2009.

“Salam! Sesuai rapat internal Sriti, kami meminta saudara Bamby untuk menulis profil cerpenis Zelfeni Wimra yang akan ditayangkan di sriti…”

Bug! Ternyata saya harus berkarib-intim dengan Zelfeni Wimra. Maka, sibuklah saya membuka-buka pofilnya di Facebook dan beberapa situs pribadinya. Mencari lagi katalog KLA 2009 dari rak buku dan mencoba menimbang-nimbang untuk mengirim sms kepada Zelfeni yang nomor kontak hapenya saya dapat dari Mas Chusnato.

Akhirnya, saya kirimi Zelfeni sebaris sms, “Salam kenal, saya Bamby Cahyadi.

Lama sms saya tak dibalasnya, hingga malam hari sekitar pukul 20.21 WIB, hape saya bergetar. Sebaris sms balasan dari Zelfeni, muncul.

“Salam kenal juga, di sini hujan mau turun kayaknya.”

Saya juga tak langsung membalas sms itu. Saya hanya tersenyum lucu. Lho apa hubungannya, salam kenal dengan hujan mau turun di kota Padang sana.

Namun, esok hari. Saya balas sms Zelfeni tersebut. Sekitar pukul 15.30 WIB saya mengirim sebaris pesan singkat, “Saya, akan menulis tentang Anda?”

Maka, beberapa saat kemudian, saya menerima sms panjang yang membantu saya dalam menyusun tulisan ini, karena sms balasan dari Zelfeni panjangnya 1.350 karakter. Aih, betapa bahagianya saya, karena Zelfeni sangat membantu saya untuk menulis sebuah artikel tentang dirinya yang panjangnya minimal 5.000 karakter dan maksimal 7.000 karakter ini. Oh, hati saya bahagia.

Ia, tertawa senang saya kira saat menulis sms panjang itu. Namun, ia lalu dengan sangat serius membeberkan sesuatu yang sudah lama mengendap dalam hati dan benaknya. Dan, ini tulisan balasan sms panjang Zelfeni.

“Wuahahaha. Sriti memang piawai mempertemukan, sekaligus memperseterukan kita. Ini memang harus terjadi. Ketersambungan kita akan menjadi bentuk baru dari kritik sastra. Para penulis mensinergikan diri mereka. Maka akan lahir tenaga yang luar biasa, yang diharapkan mampu memeluk pembaca dan realitasnya.

Inilah kerinduan saya selama 10 tahun pertama kepenulisan saya di Indonesia yang ironis ini. Saya rindu pada suasana khidmat yang bebas dari kepanikan-kepanikan masif akibat kecepatan perubahan yang dikondisikan sedemikian rupa. Kerinduan tersebut ingin saya tular-salurkan melalui sastra.

Sebab, media lain sudah terinfeksi virus-virus yang mematikan kemanusiaan. Lihatlah media hukum dan politik kita. Minta ampun!

Kalau ternyata, sastra juga terinfeksi, kita bisa menyembuhkannya dengan menjaringkan sebuah cita-cita bersama. Kebersamaan, antivirus paling aman.

Maafkanlah saya, yang baru saja saya ceritakan berada jauh di luar diri saya. Yang ada dalam diri saya hanya pertanyaan-pertanyaan. Sangat banyak. Rumit saya untuk memaparkannya. Saya cuplik sebuah pertanyaan dari dalam diri saya: Selain menyelamatkan lambung dari kelaparan, apalagi yang saya perjuangkan dari menulis? Kampung halamankah? Budayakah? Agamakah? Kemanusiaankah? Atau tulisan hanya pelarian dari kesepian?

Nah, rumit kan? Pertanyaan ini akan terus berangkai dan tak akan pernah habis.

Jadi, Bamby yang baik, tulislah tulisan tentang penulis ini. Terserahmu. Biodataku ada di beberapa situs. Yang jelas, aku anak petani yang bahagia. Sekarang tengah menyelesaikan Studi Pascasarjana di IAIN Imam Bonjol Padang, konsentrasi syari’ah. Terima kasih.”

Sms balasan itu mebuat saya berpikir dan makin penasaran dengan cerpenis Zefeni Wimra ini. Ada semangat yang membara dan idealisme dari Zelfeni yang tiba-tiba menjadi aura positif bagi saya. Ya, bagi saya pribadi. Ijinkan saya menuliskan lanjutan artikel ini. Walau agak panjang.

***
Tanggal 26 November 2009 siang telah lewat, sore belum terlampaui. Melalui sms, saya katakan bahwa saya akan menelepon Zelfeni. Ia langsung membalas sms saya. Silakan, katanya. Saya ingin melakukan sedikit wawancara langsung dengan cerpenis yang karya-karyanya telah tersebar di mana-mana. Saya ingin tahu suaranya dan bahana tawanya yang saya rasakan dari smsnya tempo lalu.

Stop! Nanti dulu, sabar ya. Sebelum saya beberkan hasil wawancara saya tentang proses kreatif Zelfeni Wimra kepada Anda, pembaca yang budiman, ada baiknya simak dulu bio data ringkas cerpenis sekaligus penyair kita ini.

ZELFENI WIMRA (terus terang saya agak kesulitan mengejanya atau menyebutnya tanpa teks), lahir di Sungai Naniang 26 Oktober 1979, Bukit Barisan, Limo Puluah Koto, Sumatera Barat, dari sepasang petani: Yunizar Imam Bosar dan Helmi Wirda.

Karya tulisnya telah dipublikasikan berbagai media cetak. Setelah memenangkan beberapa lomba, puisi dan cerpennya mulai bermunculan dalam sejumlah buku antologi, di antaranya: Batarak, Kumpulan Puisi T-IB Padang: 2000; Narasi 34 Jam, Antologi Puisi Antikekerasan KSI Award, Jakarta: 2001; Sebelas, Antologi Cerpen Sumatera Barat 2002, DKSB: 2002; la belle noiseuse, Kumpulan Puisi T-IB, Padang: 2004; Sumatera Disastra, Antologi Puisi Forum Penyair Muda Empat Kota Indonesia, Pustaka Pujangga, Jatim: 2007; Jalan Menikung ke Bukit Timah, Antologi Cerpen Temu Sastrawan Indonesia, Bangka Belitung: 2009.

Cerpennya, Bila Jumin Tersenyum, masuk 20 Cerpen Terbaik Indonesia 2009, nominasi peraih Anugerah Sastra Pena Kencana 2009. Pengantin Subuh adalah Kumpulan Cerpen tunggalnya yang pertama, diterbikan Lingkar Pena Publishing, 2008. Dan, Kumpulan Cerpen Pengantin Subuh, masuk dalam 8 Finalis Penulis Muda Berbakat Terbaik Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2009.

Baiklah, saya lanjutkan. Perjalanan menulis Zelfeni Wimra, menurut saya banyak tikungan, tidak mulus, kadang-kadang meriah dan lebih sering sepi. Akan tetapi, dalam pandangan saya, ia termasuk penulis yang produktif dan memiliki idealisme dalam memajukan dunia sastra Indonesia.

Anda mungkin akan mencari-cari alasan, ketika ditanya, kenapa Anda menulis? Bagi Zelfeni, tidak ada alasan. Menulis adalah ekspresi bersyukur kepada Tuhan. Sungguh jawaban di luar dugaan saya. Lalu saya kejar, kenapa begitu? Maka dengan suara beratnya, ia membicarakan tentang imajinasi, imajinasi adalah kekuatan yang luar biasa dalam tahapan kehidupan manusia yang diciptakan Tuhan. Tanpa imajinasi dunia akan kosong.

Merinding saya dibuatnya. Lalu kapan Anda mulai menulis? Alamak jan! (meminjam istilah yang sering digunakan dalam cerpen-cerpen Benny Arnas). Ternyata, Zelfeni telah memulainya sejak tahun 1999. Ia pun bercerita tentang cerpen pertamanya yang dimuat di media Mimbar Minang dengan judul Pelaminan.

Maka sejak saat itulah, jalan kepenulisannya terbentang. Zelfeni mengakui, bahwa ia menulis setelah mendapat ide-ide. Lalu dari mana idemu itu muncul? Tanya saya. Biasanya ia akan jalan-jalan ke kampung-kampung, ke tempat-tempat di mana kebanyakan orang jarang mengunjunginya, misalnya tempat-tempat bersejarah, seperti Kerajaan Indrajaya. Di situ, ia bisa menangkap suasana masa lalu.

Lalu apa yang Anda lakukan, apabila tiba-tiba kehabisan ide, selain jalan-jalan? Oh lala, ternyata ia main volley dan sepak bola. Penulis harus sehat, oleh karena itu, olahraga menjadi alternatif apabila tak ada ide untuk menulis.

Lantas, kami ngobrol ngalor-ngidul. Sambil sesekali tertawa terkikik-kikik. So, saya lanjutkan pertanyaan. Beberapa cerpenmu yang saya baca, sangat kental nuansa lokalitasnya, ada alasan tertentu? Dengan diplomatis Zelfeni menjawab, tulislah sesuatu yang dekat dan kamu sangat ketahui.

Kami pun berbicara hal-hal lain, bahkan ada pembicaraan yang kategorinya off the record (tentunya pembaca yang budiman tak perlu tahu, cukup saya dan Zelfeni saja yang tahu).

Akhirnya, karena masalah pulsa telepon, wawancara tentu harus diakhiri. Maka, saya tanya ia dengan pertanyaan standar namun membuat saya terperangah dan semakin yakin, saya sedang berbicara dengan seorang sastrawan muda dan seseorang yang memiliki idealisme dalam dunia menulis.

Apa harapan Anda ke depan?

Saya ingin mengajak teman-teman sastrawan, mungkin lebih tepatnya memprovokasi teman-teman, agar sastrawan harus mempererat diri, membuat kesatuan, merapatkan diri dalam sebuah aliansi, misalnya. Agar sastrawan bisa dihargai lebih tinggi di pasar. Juga aliansi itu, secara profesional membela kepentingan penulis/sastrawan ketika ia dirugikan di pasar. Atau sastrawan tetap kerja sendiri, dengan kondisi seperti saat ini.

Lantas kami menutup pembicaraan, saya meletakkan gagang telepon pada tempatnya. Tetapi, ada sesuatu yang tiba-tiba menggantung dalam nurani saya. Oh, betapa mulianya cita-cita seorang Zelfeni Wimra. Idealisme itu membuncah, singgah di hati saya.

Saya kembali larut dalam pekerjaan saya. “One Big Mac, please!”***

Jakarta, 2 Desember 2009

Sabtu, 19 Desember 2009

DUA PARAGRAF PERTAMA KUMCER BOB MARLEY

DUA PARAGRAF PERTAMA KUMPULAN CERPEN BOB MARLEY

Sebentar lagi sebuah buku yang dinanti-nanti akan terbit, Bob Marley dan 11 Cerpen Pilihan Sriti.com, diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Tentu Anda sangat penasaran. Saya kasih bocorannya, supaya Anda makin penasaran, meski hanya dua paragraf pertama dari masing-masing cerpen.


Kematian Bob Marley, Hasan Al Banna, Koran Tempo, 9 Maret 2009

Anyir mengalir. Udara berlendir. Sebagian kulit kepalanya terkelupas. Mata tak terbelalak, tapi wajahnya mendongak, menyeringai—lipatan kulit saling himpit. Mulut menganga, sekuak goa, tak henti melelehkan getah darah bercampur serpihan gigi. Lekuk tangannya menempel di atas dada, lantas kedua lutut bertekuk, semacam posisi duduk. Lebih dari itu, tak terdapat luka atau memar yang menonjol di tubuhnya. Hanya saja, dua jari tangan kiri—telunjuk dan kelingking—terputus, dan sebilah sayatan sepanjang sepuluh senti mengoyak anus.

Tadi malam, di bawah debur hujan, tiga orang pria tak dikenal mengetuk pintu salah satu rumah di lorong Dermawan. Tamu asing itu tampak menghemat gelagat. Gerak-gerik jangan sampai memancing kecurigaan, begitu hardikan pesan. Tapi tak bisa juga mereka menyimpan ketergesaan. Usai berbicara seringkasnya, mereka kemudian menjinjing sebujur mayat terbungkus terpal—lapuk, berwarna biru tua—dari pick up bak terbuka. Sesaat kemudian, ketiganya lenyap di balik jubah hujan, menelantarkan letup tangis mengerubungi mayat.

Induak Tubo, Zelfeni Wimra, Padang Ekspres, 22 Juni 2008

“Dasar orang tua. Nyinyir. Berkali-kali saya ingatkan, tidak usah ke sawah lagi. Akan lebih baik, kalau sawah itu dipaduoi saja kepada orang yang lebih kuat. Selin tugas kita ringan, hasil tanaman juga akan lebih banyak. Orang setua dia tidak layak lagi menggarap sawah barawang itu. Bisa-bisa ia terjerembab dan ditelan rawang itu hidup-hidup!”

“Anak-anaknya yang tak tahu diri. Semuanya merantau. Seharusnya, salah seorang tinggal di kampung, menemani induk yang sudah bungkuk. Sekalipun tidak akan ke sawah-ke ladang dan hidup melarat seperti kita ini, paling tidak induk mereka punya teman di rumah. Sungguh, kalian akan tahu sendiri nanti, betapa berartinya teman di hari tua. Dan, kalian juga akan tahu nanti, betapa lengang ketika di hari tua tidak ada teman, meski hanya untuk sekadar bercerita.

Kandang, Yanusa Nugroho, Jawa Pos, 12 Oktober 2008

Jika saja kau mengetahui di mana aku tinggal, mungkin kau akan sependapat dengan apa yang akan kuceritakan kepadamu. Di sini, di tempat tinggalku, kau tak akan menjumpai manusia. Ya. Kau tak akan menjumpai sesosok makhluk yang bisa layak kau sebut manusia.

Entah kebetulan, entah tidak, aku menempati rumah di ujung jalan. Lebih tepat lagi bila kusebutkan di ujung atas jalan kecil ini. Jauh lebih tepat, sebagai rumah yang paling atas, karena jalan ini adalah jalan buntu.


Cinta pada sebuah Pagi, Eep Saefulloh Fatah, Kompas, 25 Mei 2008

Sebuah rumah mungil di pinggiran timur Jakarta. Sebuah pagi berjalan sebagaimana lazimnya. Asti berkubang dalam banyak pekerjaan rumah. Arnando, seperti biasa, berkutat merampungkan lukisan di studionya.

Daster Asti tak mampu menutup seluruh kulit putih bersihnya. Tapi, daster itu tetap bisa menyembunyikan banyak tahi lalat di tempat-tempat tertutup. Hanya Arnando yang tahu persis letak-letaknya.

Satu Kunang-kunang, Seribu Tikus, Intan Paramaditha, Koran Tempo, 15 Februari 2009

Seorang pembunuh berdarah dingin, tak senang bernostalgia, mengawali rencananya dengan seorang perempuan yang mati tanpa melihat kunang-kunang. Dari ruang dan waktu yang jauh berbeda, ia mengintip Epon, seorang perempuan dengan kebiasaan ganjil. Tepat pukul dua belas malam, kala suaminya terlelap, Epon akan berjalan keluar rumah menuju kuburan demi melihat kunang-kunang. Ia percaya kunang-kunang ini--jenis betina berkilauan yang mengubah diri sesuai selera pejantan hanya untuk memangsanya kemudian--tak muncul di tempat lain. Tentu saja Toha suaminya menjadi gelisah. Di desa Cibeurit yang guyub tentram, perempuan tak berkeliaran malam-malam, apalagi pergi ke kuburan. Bisa-bisa istri Toha dianggap penganut ilmu hitam.

Beberapa malam sebelum peristiwa menyedihkan itu, Toha menyergap Epon saat ia mengendap-endap meninggalkan kamar.

Malam Basilsik, Dinar Rahayu, Suara Merdeka, 13 Juli 2008

Kau adalah kematianku
Padamu aku dapat bergantung
Ketika semuanya jatuh berguguran
(Paul Celan)
DI lautan suara dan gerakan aku mengapung. Tidak seperti binatang Kapal Perang Portugis yang sengatnya masih berfungsi walaupun ia sudah mati melainkan lebih mirip ganggang ruwet di tengah laut yang sudah dipenuhi kehidupan palsu.

Aku melewati seseorang yang mungkin akan kutemui dalam mimpi nanti malam. Mungkin juga tidak. Mungkin juga akan jadi bagian dari mimpi burukku. Aku melewati segala sesuatu yang mungkin akan kutemui kembali esok hari —mungkin juga tidak. Barangkali hari-hari yang datang akan sama dengan hari ini karena seperti keluaran pabrik kloning, hari-hari terlihat sama untukku. Aku seperti makhluk pejalan lurus yang terperangkap dalam roda di kandang hamster, seperti kuda kayu dalam komedi putar. Bergerak tanpa pergi ke mana pun juga.

Guru Safedi, Farizal Sikumbang, Kompas, 14 Desember 2008

Setelah menumpahkan kegundahan hatinya perihal kebutuhan keuangan dalam keluarganya, istri Safedi lalu beranjak dan duduk di depan pintu rumah. Kedua kakinya diluruskan ke depan. Tatapannya tertekuk ke bawah. Dari atas kursi ruang tamu, beberapa saat kemudian Safedi mendengar tangisan istrinya yang terisak.

"Berhentilah menangis, Aisia. Jika ada orang lewat, malu kita,” kata Safedi.

Malam Kunang-kunang, Rama Dira J, Kompas, 2 Agustus 2008

Merekalah bocah-bocah yang selalu bahagia. Jika malam tiba, mereka akan berlari-lari girang, mengejar-ngejar dan menggapai-gapai kunang-kunang yang berkerlap-kerlip melayang-layang serupa sebaran serbuk cahaya. Mereka jugalah bocah-bocah yang menghadirkan tawa dan canda di lembah itu hingga membuatnya hidup, terasa dihuni.

Selebihnya adalah gelap. Listrik belum masuk dan orang-orang dewasa terlalu sibuk dengan urusan ranjang. Maka, belum genap malam, bocah-bocah pun diusir pergi ke luar rumah, ke surau untuk mengaji atau berlatih silat ke lapangan sepak bola asalkan jangan bermain kunang-kunang. Karena bagaimanapun, orang-orang tua tetap meyakini kunang-kunang sebagai jelmaan kuku-kukunya orang mati. Jika menjadikannya sebagai mainan, maka akan menyebabkan kesialan.

Aku Bercerita dari Pesawat yang Sedang Terbang, Bamby Cahyadi, Koran Tempo, 26 Juli 2009

Seandainya aku tidak terlambat pulang sekolah, mungkin aku kini tak berada di atas ketinggian 30.000 kaki. Aku melihat awan-awan kelabu tebal berarak-arak yang seolah-olah ikut menangis dari balik jendela pesawat terbang ini. Aku kembali mengusap air mataku yang jatuh membasahi pipi dengan selembar tisu.

Kulihat ibuku memandang kosong ke arah jendela yang lain di sisinya. Matanya sembab, air matanya mungkin sudah kering sejak tadi pagi. Kakakku tertidur di bangku pesawat di samping ibu. Nyenyak sekali tidurnya, paling tidak ia bisa melupakan sejenak kesedihan yang tadi malam tiba-tiba merenggut kebahagiaan kami sebagai keluarga.

Tanah Lalu, Yetti A. KA, Suara Merdeka, 3 Agustus 2008

BUNYI tapak kaki saling tubruk, retak, berpentalan di udara. Kesiur angin merebahkan gumpalan-gumpalan daun. Orang-orang serupa bayang makin bergegas. Napas mereka terdengar kasar. Seakan-akan mereka tengah dikejar waktu menuju arena perburuan. Setelah sepertiga malam terdengar letusan senapan tepat di bawah pohon merambung, tempat biasa kijang-kijang menghabiskan sisa malam.

Tidak jauh dari tempat perburuan itu, aroma pagi segera menguar dari bidang-bidang sawah yang mengering, bercampur baur dengan anyir yang semakin tajam. Orang-orang bersorak. Sebuah kampung tengah mempersiapkan pesta kecil.

Kunti tak Berhenti Berlari, Berto Tukan, Batam Pos, 12 Juli 2009

Angin berhembus kencang menerpa rerumputan. Bunga-bunga ilalang putih sebesar kuku ibu jari kaki beterbangan menutupi jalan setapak. Matahari jam 12 siang menampakkan diri begitu sempurnanya. Belalang hijau satu-dua ekor terlihat menantang angin di pucuk-pucuk ilalang. Alam begitu tenang.

Kunti berjalan di jalan setapak itu. Bunga-bunga ilalang memenuhi setapak perlahan-lahan menepi ke kiri-kanannya. Mereka memberi tempat bagi kaki Kunti yang hitam tanah dan pecah kulitnya leluasa melangkah.

Batubujang, Benny Arnas, Singgalang Padang, 1 Juni 2008

ANAS benar-benar tak habis pikir bagaimana penduduk menjadi sebegitu bodohnya. Menyemen parit dengan batamerah, bahkan sebagian lebih gawat lagi, ada yang menggunakan batako.

Alamak jan, layak tak berotak apa yang berlaku di muka Anas. Apa kiranya yang telah membuat pikiran mereka tiada menimbang banyak dampak yang mungkin sekali timbul dari tindakan yang tak beralibi itu. Takkah mereka tahu kalau batamerah lebih banyak menguras rupiah daripada batubujang? Takkah jua mereka berpikir bahwa semakin berbilang masa, batamerah itu lebih mudah digerus air, walaupun orang-orang itu telah bertahan dengan rupa-rupa alasan yang terkesan terlalu dibuat-buat: bahwa batamerah akan dilapisi semen? Tetap, batubujang 1 lebih baik dibandingkan batamerah itu. Batin Anas memuncak, meredam lenguh durja.

Hahaha… penasaran khan? Mari beli bukunya.***

Jakarta, 19 Desember 2009

Selasa, 08 Desember 2009

Antologi BOB MARLEY dan 11 Cerpen Pilihan sriti.com



Cerpenku, Aku Bercerita dari Pesawat yang Sedang Terbang, termuat dalam antologi Bob Marley dan 11 cerpen pilihan sriti.com 0809 (penerbit, Gramedia Pustaka Utama, 2009)

Minggu, 25 Oktober 2009

Menyikapi Cerpen Jurnal Bogor dan Lampung Pos

Ada dua cerita dengan nama tokoh berbeda [kasus plagiat?]
Share
Today at 8:51am | Edit Note | Delete
Pagi ini, seperti pagi hari minggu yang lalu. Biasanya aku rajin mengamati cerpen-cerpen yang tampil di koran minggu. Pas, saat itu, Vivi Diani Savitri (Cerpenis) sms. Katanya, ada cerpen karya Khrisna Pabichara yang mirip dengan cerpen yang tampil di Lampung Pos minggu ini (25/10/2009).

Silakan baca dan bandingkan ke-2 link ini.

1. Jurnal Bogor (cerpen khrisna pabichara):

http://www.jurnalbogor.com/?p=54993

2. Lampung Pos (cerpen Y. Wibowo):

http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2009102418580311

Bagaimana hasilnya? Silakan membuat kesimpulan sendiri. Kita bukan hakim.
Written 15 hours ago · Comment · Like / Unlike
Ida Nursanti Basuni, Andreas T Wong, Ria Aprilia and 5 others like this.
Eri Irawan
Eri Irawan
Kita tetap harus hati-hati menyikapinya, Mas Bams. Jangan sampai sikap kita yang berlebihan malah menghabisi karis cerpenis yang bersangkutan. Bukannya permisif, sih, tapi ini mungkin menyangkut nasib orang.
14 hours ago · Delete
Eri Irawan
Eri Irawan
karir, maksudnya.
14 hours ago · Delete
Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi
Iya mas Eri, makanya aku tampilkan ke-2 link tersebut, agar pembaca saja yang mengambil keputusan, apakah hal tersebut kasus plagiat, atau hanya punya kesamaan ide dan deskripsi cerita yang "hampir" mirip.

Saya pun sudah konfirmasi kepada KP, apakah ia menulis cerpen dengan nama samaran, tetapi ternyata tidak.

Setahu saya Y. Wibowo, juga seorang cerpenis. Dan karya-karyanya ada. Mudah-mudahan, sikap saya ini tidak berlebihan ya? Hehehe, mantrabs.
14 hours ago · Delete
Weni Suryandari
Weni Suryandari
nah lho1. harus hati2 ya...gilee...makanya aku takut banget mau posting sering2.... kasus seperti ini kerap terjadi katanya...
14 hours ago · Delete
Benny Arnas
Benny Arnas
Baca dulu ya, Mas....
14 hours ago · Delete
Benny Arnas
Benny Arnas
Baca dulu ya, Mas....
14 hours ago · Delete
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara
Saya pribadi pun mencari dan menunggu kabar dari rekan Y. Wibowo. Sebagai sesama orang yang menggantungkan hidup di dunia tulisan, saya tetap berhati-hati. Saya pun tidak ingin menjadi penyebab "matinya" karier seseorang.

Salam takzim, KP
14 hours ago · Delete
Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi
Y. Wibowo juga cerpenis mas, karya-karya yg lain ada di sriti.com... semoga ada klarifikasinya
14 hours ago · Delete
Mh Poetra
Mh Poetra
Iya mas..
Ada sisi lain juga mungkin.

Apa karna kepepet bgt jadi limbung, eh ketepatan sedang baca cerpen mas khris yg keren, jadi seperti nemu jalan terang, yg pintas tentunya.
... Read More
Dan terjadilah..
Hehe

Tetap semangat mas
:)
14 hours ago · Delete
Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi
Paragraf awal versi KP (jurnal bogor)

HELGA Suryandari nama aslinya. Tak terlalu cantik dibandingkan ibu-ibu lain di desa Adi. Juga tidak terlalu kaya. Biasa saja. Tapi, orangnya sangat ramah. Karena keramahannya, warga sedesa mengenalnya. Bahkan, satu kecamatan. Tidak heran jika dia digelari Perempuan dengan Senyum Paling Ramah. Dia ramah pada ... Read Moresiapa saja, kapan dan di mana saja. Karena itu dia dipanggil Ibu Ramah, bukan Ibu Helga. Karena itu pula dia dilamar partai-yang gemar menampung orang terkenal-untuk mencalonkan diri sebagai anggota dewan.
14 hours ago · Delete
Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi
Paragraf kedua versi Y.W (lampung pos):

Rahayu Sari, ibu Ratna, tak terlalu cantik dibandingkan ibu-ibu lain di desa, juga tidak terlalu kaya. Biasa saja. Tapi, orangnya sangat ramah. Karena keramahannya, warga sedesa mengenalnya. Bahkan, satu kecamatan. Tidak heran jika dia digelari perempuan dengan senyum paling ramah. Dia ramah pada siapa saja, kapan, dan di mana saja. Karena itu dia dipanggil Ibu Ramah, bukan Ibu Rahayu atau Ibu Sari.
14 hours ago · Delete
Benny Arnas
Benny Arnas
BARU PERCAYA:
WAH, AKU JUGA GAK RELA!!! MAS KP, apa yg bisa saya bantu?!!! Geram nihh!
14 hours ago · Delete
Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi
@ KP: aku rasa, ada bagian panjang pada cerpen lampos yang ngambil dari versi naskah asli (sebelum edit) di Jurnal Bogor. Hehe... sabar ya mas khris, namamu makin berkibar saja sbg cerpenis.
14 hours ago · Delete
Aris Kurniawan
Aris Kurniawan
Kurasa ini benar kasus jiplakan. Alur dan ide ceritanya sama. Turut prihatin...
14 hours ago · Delete
Erna Rasyid
Erna Rasyid
dari dlu bxk kasus seprti ini/tp sllu sj brdalih KREATIFTAS. mgkn 'kreatftas menjiplak' ...
14 hours ago · Delete
Fajar Alayubi
Fajar Alayubi
Saya khawatir, bila tidak ditindak lanjuti, maka akan 'menjamur' kasus seperti ini. Saya doakan semoga cepat tuntas.
14 hours ago · Delete
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara
@Mas Bamby: Saya pernah pula memosting cerpen ini di facebook note dengan judul "Berburu Kursi" sewaktu diikutkan Sayembara. Dan setelah tidak menang karena pesannya terkesan tempelan, saya permak ulang, lalu dikirim ke Jurnal Bogor.
14 hours ago · Delete
Ann Straw Navie
Ann Straw Navie
Wahahah, 95% penjiplakan ini, om! Kasian Om khrisna ya

stop piracy
14 hours ago · Delete
Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi
@ KP: ini potongan naskah asli "Berburu Kursi":

“Menjadi wakil rakyat itu adalah amanah. Jika saya terpilih, saya akan lebih mendahulukan kepentingan rakyat sebelum mengambil keputusan. Bagi saya, partai itu hanya jembatan. Jangan tergoda oleh nama besar, penampilan, atau iming-iming hadiah. Apalah artinya uang sepuluh ribu jika ibu-ibu sekalian menggadaikan masa depan rakyat selama lima tahun.

Dan bagian itu tak ada di cerpen JB karena sudah diedit/dipangkas.
13 hours ago · Delete
Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi
Namun, paragraf tsb ada pada cerpen YW :

Tiba-tiba ibunya naik ke tempat tidur. "Menjadi wakil rakyat itu amanah. Bagi saya, partai itu hanya jembatan. Jika saya terpilih, kepentingan rakyat akan didahulukan setiap mengambil keputusan. Jangan tergoda bujuk rayu, penampilan, atau hadiah. Apalah artinya uang sepuluh ribu jika menggadaikan masa depan kita selama lima tahun. Karena itu, pilih yang pasti. Pilih nomor tiga, Rahayu Sari!"

Berarti, kesimpulanku, karena cerpen ini pernah diposting di FB, maka bisa dijiplak.... Read More

Pelajaran menarik dari dunia maya, mencuat lagi nich hehe
13 hours ago · Delete
Kavellania Nona Pamela
Kavellania Nona Pamela
wahhh wahh WAAAAHHH
NGGAK YANGKA SUMPEEEHHH
13 hours ago · Delete
Weni Suryandari
Weni Suryandari
Gilaaaaaaaaaa.......nggak nyangkaaa sumpeeehhh (sama dengan Kav...) luar biasa ini, menjiplak plek plek!! menyeramkan....! duuhh Gemeeess...!!!
Dindaku, sabar...makin terkenal makin keras angin bertiup..
sabar dinda...
13 hours ago · Delete
Faradina Izdhihary
Faradina Izdhihary
Gilaaaaaaaaaaaaaaa. ada pencuri juga.....Wah trs gimana dong dgn karya2 kita di FB atau blog teman2 ???? wuah
13 hours ago · Delete
Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi
@ Fara: mbak Fara, kita hanya bisa saling mengingatkan dan memberitahu saja...
13 hours ago · Delete
Tatan Daniel
Tatan Daniel
Menjiplak adalah pekerjaan primitif... Primitif, Bung..
13 hours ago · Delete
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara
@Weni: Dinda akan selalu bersabar, sembari menyasar hikmah di balik semua ini...
13 hours ago · Delete
Faradina Izdhihary
Faradina Izdhihary
Mas Khrisna: Yang sabar, tapi aku gak bisaaaaaaa. gak tahan! Gregetan
13 hours ago · Delete
Guntur Alam
Guntur Alam
Aku akan hunting bukunya...
13 hours ago · Delete
Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi
@ Fara: terima kasih sudah mampir, gak papa yo, aku tag paling akhir hehe
13 hours ago · Delete
Guntur Alam
Guntur Alam
Maaf salah post, seharusnya di promo bukumu, Mas. Bukan catatan ini. Aku jadi malu.... ^_^
13 hours ago · Delete
Guntur Alam
Guntur Alam
Seperti yang aku sms, jerat saja dengan UU No. 19 Tahun 2002..! Jangan biarkan orang seperti itu mencoreng citra penulis. Dia pikir, karena media yang jauh (tempat dan jarak) akan membuat hal ini tak diketahui. Kesamaan ide, pengemasan ataupun teknis menulis adalah hal biasa. Tetapi, meng-copy paste, sungguh hal yang membuat saya geram...
13 hours ago · Delete
Banyu Hening
Banyu Hening
Waduh2...aku mau beli lampung post hari ini kalo begitu...
12 hours ago · Delete
Anita Rachmad
Anita Rachmad
waaaah.....
lihat di web-nya bisa gak ya ?
sumpah ! jadi penasran !
12 hours ago · Delete
Anita Rachmad
Anita Rachmad
he..he..he...tentu saja bisa !
nah yg ditampilin mas bam itu apa ! sangking nafsunya pengen liat !
12 hours ago · Delete
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara
Setelah lima kali saya baca, ternyata hanya ada perbedaan pada nama tokoh dan latar tempat. Selebihnya, kembar identik. Sayang sekali judul cerpen tidak termuat di Lampung Post.

Terima kasih Bang Benny dan Bang Rama Dira atas informasinya. Pun kepada Bang Guntur atas supportnya. Jadi makin semangat untuk berkarya nih
12 hours ago · Delete
Anita Rachmad
Anita Rachmad
hmm....
agak mirip memang. plek malah.
mudah mudahan memang kebetulan idenya sama ^_^
12 hours ago · Delete
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara
@Banyu: ditunggu kabarnya, Bang.

@Anita: sepertinya bukan semata mirip ide, Mbak, tetapi mirip segalanya
12 hours ago · Delete
Lily Yulianti Farid
Lily Yulianti Farid
ini plagiatisme. sudah baca dan membandingkan keduanya.
12 hours ago · Delete
Banyu Hening
Banyu Hening
Abang? Hahaha...nanti ku kabari, mas....
12 hours ago · Delete
Imam Marsus
Imam Marsus
Aku ikut prihatin dengan kasus ini. Makasih, Mas atas infonya>
12 hours ago · Delete
Cepi Sabre
Cepi Sabre
seorang politisi diharapkan untuk jujur kepada rakyatnya, tapi seorang penulis, pertama sekali, harus jujur kepada dirinya sendiri (kalau tak salah ingat, kata bur rasuanto)

saya pikir, mas bamb, semua sudah memberi penilaian sesuai bacaan masing-masing pada kedua cerpen itu. tinggal menunggu mas y.wibowo membela dirinya. atau menunggu kebesaran hatinya, lebih baik.
12 hours ago · Delete
Kajitow Elkayeni
Kajitow Elkayeni
saya turut prihatin, ini memalukan. diselesaikan dengan bijak saja mas khris. salam.
12 hours ago · Delete
Ade Anita
Ade Anita
iya.. mirip banget, cuma diubah namanya ya. Menurutku sih ini termasuk plagiat deh. Tapi... ini sering nih terjadi, terutama utk karya2 di internet (mungkin krn tidak ada perlindungannya ya?). Aku dulu pernah bantu2 jadi editor majalah Surga (dah modar sayangnya sekarang), nah... ada penulis yg ngirim tulisan utk dimuat dimajalah tersebut, ... Read Moresayangnya, penulis asli tulisan yg dikirimnya itu ternyata aku sendiri!!!... waaa.. kaget, langsung aja aku tegur. Tapi ya itu, nda bisa berbuat apa-apa wong namanya juga dunia maya.. nggak bisa dibuktiin toh? Kecuali kalau roy suryo ikut bicara...hahaha..Itu sebabnya aku tidak mau lagi nulis di internet secara serius. Tulis sebagian saja, jangan edisi lengkapnya (atau setidaknya jangan sampai melebihi 3000 karakter.. hehehe, kan ini syarat kalau mau ngirim ke media cetak), jadi jikapun ada yang berniat mencuri karya kita ya.. dia agak2 kerja keras juga deh utk memenuhi kuota minimal 3000 karakter, jadi tidak ongkang-angking diatas karya orang lain, tapi ada juga sedikit tetes keringatnya).

ayo dong teman2... dimulai atuh gerakan untuk melindungi karya2 kita yang beredar di internet...katanya ada RUU-nya.. gimana tuh kabar RUU-nya?
11 hours ago · Delete
Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi
@ Ade anita: saya setuju harus ada UU yg melindunginya. Tapi apakah DPR mampu?
10 hours ago · Delete
Imam Marsus
Imam Marsus
@Ade Anita&Bamby : Setuju! Kita upayakan bersama dan kasih support pihak-pihak yang mengusahakannya.
Jangan sampe kehidupan intelektual meredup gara-gara pembajakan.
10 hours ago · Delete
Kajitow Elkayeni
Kajitow Elkayeni
nah, ayo semangat!
10 hours ago · Delete
Feby Indirani
Feby Indirani
sudah baca. memang jelas nyontek, cuma mengganti nama, mengubah sedikit di sana sini.artinya nyonteknya juga kurang pinter hehehe karena ketahuan banget :)
10 hours ago · Delete
Boby Ginting
Boby Ginting
Aku uda baca link yang dikasi sama bang bamby, dan menurutku memang terlalu "kebetulan"jika "tak sengaja mirip".

Tapi agak aneh juga seorang cerpenis melakukan hal begitu, ya. Bunuh diri namanya.

Aku mau liat nih, gimana kelanjutannya. Sapa tahu malah yang kurang ajar adalah media cetaknya yang suka mencaplok nama penulis (belum tentu Y.wibowo tapi malah editor yang kurang ajar). Siapa tahu, bukan?
9 hours ago · Delete
Helga Worotitjan II
Helga Worotitjan II
sangat2 menyayangkan!
9 hours ago · Delete
Teguh Setiawan Pinang
Teguh Setiawan Pinang
sudahlah, bagi yg karyanya dijiplak ikhlas saja.... kalau ketemu si penjiplak boleh langsung "ditulisi" mukanya. hehehe.....

santai aja. penulis yang mengandalkan diri pada teknik copy-paste tidak akan pernah menjadi besar. artinya, tdk layak dianggap ancaman, apalagi pesaing. cuma ya itu tadi, kalau ketemu muka, itu muka boleh "ditulisi" ;-)
9 hours ago · Delete
Weni Suryandari
Weni Suryandari
iyaa bener kata mas TS Pinang.....apa boleh buat... meski gemas, plagiatisme tetap saja akan membunuh si plagiator....
kalo ketemu tulisi saja mukanya. hehehe
8 hours ago · Delete
Helga Worotitjan II
Helga Worotitjan II
aku sudah membaca & membandingkannya, bahkan si penjiplak tidak pny ketrmpilan menjiplak dg baik, hahaha!

Khrisna, ini pelajaran, tulisanku jg sering dijiplak, tapi bgtulah resiko melepasnya di ruang publik.......
8 hours ago · Delete
Rama Dira J
Rama Dira J
jelas : INI PLAGIAT. 90% sangat mirip. Yang diubah hanya jenis kelamin beberapa tokohnya dan deskripsi di pembukaan dan ending.
8 hours ago · Delete
Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi
Kayak dejavu, waktu kasusnya Langit Septa di k.com hehe. Sayangnya YW gak punya fb.
7 hours ago · Delete
Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi
TSP, hehe mantap "ditulisi"
7 hours ago · Delete
Khrisna Pabichara
Khrisna Pabichara
@TSP: Iya, Mas. Saya ikhlaskan. Hehehe...
6 hours ago · Delete
Eri Irawan
Eri Irawan
Bukannya permisif, tapi tak perlu berlebihan. Kelak waktu yang akan menguji daya kepenulisan kita masing-masing. Itu saja sudah cukup. Betul kata Mas Pinang.

Sanksi cukup diberikan oleh redaktur sastra Lampung Post. Biar cerpenis itu di-black list. Kalau kita ikut menghujat di sini, dan kebetulan dibaca redaktur-redaktur koran lain, wah kasihan ... Read Moresekali tuh Y. Wibowo. Meski karyanya bagus dan orisinal (ah, adakah yang orisinal di dunia ini?!), kelak tak ada yang mau menerimanya. Maju terus untuk smuanya!
5 hours ago · Delete
Norman Erikson Pasaribu
Norman Erikson Pasaribu
Y Wibowo Parahhhhhhhhhhhhhh..
4 hours ago · Delete
Norman Erikson Pasaribu
Norman Erikson Pasaribu
Sayembara yang dimaksud bang khrisna itu Sayembara tunanetra dari MataKata itu yaa?

saya lihat di situs lain direktur MataKata itu Y.Wibowo..

ohhhh.. Gilak........
4 hours ago · Delete
Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi
@ norman: waduh makin runyam, bukankah KP terlibat jg dgn proyek matakata? Eh, bukan begitu?
3 hours ago · Delete
Norman Erikson Pasaribu
Norman Erikson Pasaribu
kurang tahu bang,

tapi tadi lihat di situs (mencari siapakah Y. Wibowo itu?)
ternyata dia direktur MataKata..
... Read More
KP aku kurang tahu terlibat di sayembara itu.. tp tahunya begini?? nengnong.. bingung juga.. hhe
3 hours ago · Delete
Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi
@ Norman: ada klarifikasi dari blog matakatakita (penyelenggara kumcer tunanetra), bahwa blog matakata YW, berbeda dgn blog Matakatakita. Nama YW tdk dikenal di matakatakita. Trims.
2 hours ago · Delete
Norman Erikson Pasaribu
Norman Erikson Pasaribu
ohhhhhhhhhhhh begitu.. oknum YW, oknum YW..
2 hours ago · Delete
Johanés Koén
Johanés Koén
Halo rekan sekalian,
saya tadi dikontak kawan Bamby tentang apa ada kaitan tentang Y. Wibowo dengan Mata Kata Kita

1. Kegiatan Sayembara Cerpen mataawas - tunanetra yang kami selenggarakan bernama Mata Kata Kita dan tidak berhubungan dengan nama-nama lain seperti Mata Kata, dsb. Alamat blog resmi kami di matakatakita dot wordpress dot com
... Read More
2. Saudara Y. Wibowo hingga saat ini tidak ada keterlibatan sama sekali baik sebagai peserta maupun penyelenggara MataKataKita dan juga kegiatan lain yang kami selenggarakan seperti iRBI, dibawah koordinasi Komunitas enamPENA.

3. Jika ada suatu hal yang harus dikonfirmasikan ulang kepada kami, rekan-rekan dapat melayangkan email di matakatakita at gmail dot com

demikian penjelasanku mewakili MataKataKita sekaligus mewakili enamPENA. semoga bisa meluruskan.
tetap semangat, Mas Khrisna..

johanes.koen
about an hour ago · Delete
Bamby Cahyadi
Bamby Cahyadi
Terima kasih mas koen. Telah mampir di sini.
about an hour ago · Delete
Norman Erikson Pasaribu
Norman Erikson Pasaribu
waduh maaf bang johannes koen.. salah info saya. hehe
about an hour ago · Delete
Johanés Koén
Johanés Koén
oke sama-sama mas bamby, dan mas norman. semoga kasus y. wibowo yang cerpennya identik dgn mas KP ini bisa segera diselesaikan baik-baik.
about an hour ago · Delete
· · ·

Rabu, 23 September 2009

Kumpulan Cerpen TANGAN UNTUK UTIK


Buku kumpulan cerpen Tangan Untuk Utik, pengarang Bamby Cahyadi. Terbit Oktober 2009. Penerbit Koekoesan.

Senin, 21 September 2009

Pemuda Penjaga Lift, cerpen di Jurnal Bogor

Cerpen PEMUDA PENJAGA LIFT dimuat di Jurnal Bogor, Minggu 13 September 2009:

PEMUDA PENJAGA LIFT
Oleh: Bamby Cahyadi

Seperti pagi kemarin, kulihat kamu sudah berada di lobi apartemen ini. Setelah mengganti bajumu dengan seragam, yang menurutku lucu, dan mengisi kartu absensi. Kamu telah siap untuk bertugas. Pagi ini kukira, sama saja dengan pagi-pagi sebelumnya. Pagi yang kering. Sudah lama air hujan malas turun untuk menyirami tanah. Untung kita berada di dalam apartemen ini, sehingga terik matahari tak terasa di sini.

“Selamat pagi, ke lantai berapa Pak?” Tanyamu dengan nada suara yang sangat sopan pada seorang lelaki berpakaian safari rapi dan perlente. Kini kamu telah berada di dalam lift, mengerjakan rutinitasmu, menjaga lift. Bertanya dan membantu orang yang keluar-masuk lift untuk mengantar mereka ke lantai yang mereka kehendaki.

Lelaki itu kemudian memperlihatkan lima jarinya tangannya tanpa bicara. Kamu rupanya sudah paham, tombol lift kamu pencet angka 5. Kamu selalu berpenampilan rapi, rambutmu selalu tersisir dengan sedikit minyak rambut yang membuat rambutmu berkilau apabila tertimpa cahaya lampu lift. Mengingatkan aku pada tokoh-tokoh film di tahun enampuluhan.

Lantas kamu terlibat percakapan basa-basi dengan lelaki perlente itu. Kudengar ia akan mengunjungi sanak keluarganya yang tinggal di sini. Pembicaraan kalian terhenti, ketika di lantai 2, lift berhenti. Beberapa orang masuk bersama, mereka menuju lantai paling atas. Terdapat kolam renang di sana. Mungkin mereka mau berenang pagi ini.

Ya, kamu juga selalu tersenyum ramah kepada setiap orang yang menggunakan lift ini. Setiap hari. Mungkin di setiap shift-mu karena pasti kamu pun membutuhkan libur untuk mengatasi kebosanan menjaga lift, dan rutinitas bertanya ke lantai berapa ke setiap orang yang menggunakan lift di apartemen ini. Rutinitas yang membosankan, kupikir. Namun, kamu menjalaninya dengan senang hati. Itulah, maka aku sangat suka memperhatikan kamu.

Sudah lama aku ingin berkenalan dengan kamu. Ingin sekali aku bertanya tentang minyak rambutmu yang membuat rambutmu menjadi licin berkilau. Selain itu aku sangat tertarik dengan ketulusan hatimu, menjalani profesi, yang kukatakan membosankan ini. Karena dari semua karyawan bagian servis di apartemen ini, cuma kamu yang sangat bersahaja.
***
Hari ini, kamu tidak berada di dalam lift ini. Seorang wanita muda menjaganya, mungkin kamu libur. Wanita muda itu tidak seramah kamu. Senyumannya menyerupai sebuah sunggingan bibir yang dipaksakan. Mirip menyeringai, tidak tulus. Sepertinya ia sangat terpaksa menjalani profesi penjaga lift daripada tidak bekerja sama sekali. Tidak sepertimu yang begitu tulus melakukan pekerjaanmu.

Terkadang wanita muda penjaga lift penggantimu itu, pura-pura sibuk ketika ada orang yang masuk ke dalam lift. Aku tahu, ia hanya malas membuat sebaris senyum di bibirnya. Heran juga ia bisa bekerja di sini.

Wahai pemuda penjaga lift, sudah hampir sebulan kamu tidak menjaga lift dan sebulan ini beberapa petugas pengganti silih berganti. Kamu kemana? Apakah kamu sakit? Ataukah kamu mendapatkan pekerjaan baru? Aku kok rindu kamu.

Ya, sungguh tak menyenangkan menyambut pagi tanpa kehadiran kamu. Lobi apartemen terasa hampa. Rasanya, aku berada di apartemen asing. Sungguh suasana seperti ini membuatku merasa melankoli.

Terus terang, ingin sekali aku bertanya kepada temanmu, wanita muda yang sekarang menjadi penjaga lift itu. Sebab sudah sebulan kamu tidak bertugas. Tetapi tentu tidak aku lakukan, aku tidak mau semuanya berubah menjadi runyam dan kacau. Selain itu, aku tidak suka dengan wanita muda yang berwajah masam itu. Lebih baik aku tak menegurnya saja.

Pagi ini suasana lobi apartemen terasa sangat sepi dan begitu lengang. Aktivitas apartemen belum dimulai, seperti biasa aku memasuki lift dengan langkah gontai menuju kamarku. Berharap-harap cemas, dirimu hadir di sini. Bertemu dengan kamu dan memperhatikanmu diam-diam. Oh, aku suka sekali melakukannya.

Aha…! Aku sangat senang dan gembira sekali. Pagi ini aku menemui kamu berada di dalam lift dan sudah bertugas kembali. O Tuhan, terimakasih. Harapku bisa melihatmu di pagi ini terkabul. Aku sangat gembira, kukira aku telah berlonjak-lonjak saking girangnya. Rona pipiku memerah malu.

“Mau ke lantai berapa Mbak?” tanyamu dengan suara yang sangat ramah. Aku terkejut bercampur bahagia kamu sudah menjaga lift lagi. Sambil memandang heran padamu aku mengacungkan kesepuluh jariku. Meniru gerakan lelaki perlente bersafari yang kulihat bulan lalu. Aku ke lantai 10. Kamu memencet tombol angka 10. Aku masih tak percaya, kamu bertanya kepadaku.

Aku bingung mau mengajakmu bercakap-cakap. Kulihat kamu juga terlihat malu-malu di hadapanku. Sesekali kamu melirikku. Ketika aku hendak berkata-kata mengajakmu bicara.

Tiba-tiba lift mendadak berhenti di lantai 5 padahal tidak ada seorang pun yang berhenti untuk ke luar ke lantai 5. Pintu lift terbuka, meninggalkan suara denting. Masuk wanita muda penjaga lift penggantimu itu, ia bersama temannya, tetapi mereka tidak menegurmu. Kamu pun diam saja tidak menegur mereka. Aku dan kamu terdiam dalam bisu, hanya teman-temanmu yang berbicara. Pembicaraan mereka tampak sangat serius.

“Sudah sebulan aku bekerja di sini, baru kali ini aku merasakan bulu kudukku berdiri dan merinding seperti ini,” kata wanita muda itu kepada temannya dengan ekspresi seperti orang yang ketakutan.

“Ya, aku juga merasakan hal yang sama,” balas teman wanita muda itu sambil bergidik dan memegang lehernya sendiri. Rupanya bulu kuduknya meremang.

“Apa mungkin rohnya si Markum penjaga lift yang meninggal kecelakaan motor sebulan yang lalu sedang gentayangan di sini ?” lanjut wanita muda penjaga lift itu kepada temannya sambil memencet tombol lift ke lantai dasar.

Aku tersentak, mengalihkan pandangan padamu. Kamu tertunduk.

“Mungkin saja. Dulu juga waktu seorang gadis bunuh diri loncat dari lantai 10. Dan tubuhnya hancur di halaman parkiran, di lift ini sering terjadi sesuatu yang aneh-aneh dan menyeramkan,” kata temannya sambil masih memegang tenguknya.

“Kenapa gadis itu bunuh diri?” Tanya wanita muda itu.

“Katanya sih, gadis itu kesepian. Orangtuanya memberikan fasilitas apartemen, tetapi mereka tidak pernah menjenguk gadis itu,” jelas temannya dengan bibir bergetar ketakutan.

“Iya, ya, bisa jadi si Markum lagi gentayangan di sini. Dia khan, meninggal saat mau menuju ke sini untuk menjaga lift ini. Hiiiiiih!” Kedua wanita itu menjerit dan buru-buru ke luar dari lift ketika sampai di lantai dasar.

Terus terang aku sangat terkejut mendengar pembicaraan mereka. Pandanganku beralih kepadamu yang sedang berdiri manis di pintu lift sambil tersenyum, mengangguk-angguk kepala seraya mengangkat bahumu menatapku. Kamu bernama Markum. Pantas kamu bisa menegurku pagi ini.***

Jakarta, 29 Juni 2008

Sabtu, 12 September 2009

Sebongkah Batu Es yang Merindu (Harian Global)

Cerpen ini dimuat di Harian Global Medan, Sabtu, 12 September 2009 :

SEBONGKAH BATU ES YANG MERINDU

Oleh : Bamby Cahyadi


Masih ingatkah kamu? Sewaktu kita berdua kelaparan di pinggiran jalan San Francisco yang dingin. Ketika bulir-bulir salju turun pelan-pelan menutupi trotoar jalan. Bulir salju itu serupa serpihan kapas putih yang ditebar dari atas langit mendung yang kelam jatuh menumpuk menimbun tanah.

Saat itu kita hanya sanggup duduk bersedekap memeluk lutut masing-masing dan saling melempar tatap, seraya membayangkan makanan-makanan enak yang tersaji tiba-tiba di depan mata.

“Aku lapar Yo,” ucapmu lirih dengan bibir bergetar. Mulutmu beruap. Tanganmu menggapai-gapai tanah. Mengais apa saja yang terjangkau.

“Aku juga…” balasku tak kalah lirihnya, namun aku berusaha menyembunyikan getar bibirku dengan membuat sebaris senyum. Aku hanya ingin tampak tegar di depanmu. Bagaimana pun, aku lebih tua darimu. Aku berusaha menenangkanmu saat itu.

Tentu kita berdua masih ingat Tere. Saat di mana, kau mulai berhalusinasi. Aku kira, saking laparnya kau telah kerasukan semacam roh lapar yang aneh. Pasti kamu ingat. Ketika kau mulai memakan daun-daun kering dan ranting-ranting pohon cerry yang berserak di tanah. Kau bilang, rasanya seperti makan hamburger. Ranting-ranting itu kau bilang selezat french fries panas dan renyah. Dan gumpalan salju di genggamanmu, dengan rakus kau jilati dan kau kunyah lalu lumer dalam mulutmu. Sambil kau berteriak: Sundae yang lezat!

Malah kau sempat menyodorkan tanganmu ke mulutku, berusaha menyuapiku dengan daun dan ranting-ranting. Maafkan aku Tere, aku menolak. Aku menepis tanganmu. Kamu tidak marah kan?

Aku ingin menangis. Tapi apa daya, aku pun tak berdaya. Kita berdua saat itu hanya sepasang kanak-kanak bodoh yang terjebak di keremangan senja jalanan San Francisco yang sunyi berbaur bising raungan sirine mobil-mobil polisi yang mengejar-ngejar penjahat jalanan. Tidak ada yang memperhatikan kita. Tidak ada yang peduli terhadap nasib kita yang kelaparan. Kurasa waktu itu kau mulai membeku. Selayak batu es. Aku saksikan itu. Ya, aku saksikan.

“Yo, apakah kamu merasa sangat dingin?” tanyamu memandangku. Aku mengangguk. Dan pertanyaan itu adalah kalimat terakhir yang kudengar darimu.

“Ya, aku juga merasakan dingin yang luar biasa Tere,” jawabku merapatkan jaket tebalku.

Saat itu mulutmu penuh dengan ranting-ranting yang masih kau kunyah dan belum sempat kau telan. Kita kembali saling bertatap. Kulihat dirimu perlahan-lahan dengan pasti berubah menjadi sebongkah es. Dirimu membeku. Tidak ada teriakan rasa sakit ketika seluruh tubuhmu berubah menjadi sebongkah es. Tidak ada gigil. Mungkin roh lapar yang aneh telah begitu merasukmu, sehingga saat kau berubah menjadi sebongkah es, kau pun tak merasakan apa-apa. Tapi aku yakin, sebelumnya kau telah kenyang. Perutmu telah penuh dengan daun cerry dan ranting-rantingnya.

“Tereee…!” aku tercekat. Tak ada suara yang keluar dari tenggorakanku.

Aku sendiri hanya bisa menatapmu tanpa berkedip. Kurasa aku pun telah berubah menjadi sebongkah batu es yang sangat dingin. Dingin merayapi sekujur tubuhku, dari ujung kaki hingga akhirnya kepala, membeku.

Apabila saat itu, ada orang yang sengaja memegang tubuh kita berdua, mungkin mereka akan tersengat dingin tubuh kita. Mungkin mereka pun menjadi es seperti kita.

Dan dugaanku benar.

Seorang gelandangan yang mendorong troli besar penuh barang rongsokan tak berguna, rupanya penasaran dengan onggokan batu es yang menyerupai dua manusia yang sedang meringkuk. Itu kita.

Ia, lalu mendekati kita. Aku masih bisa melihat dari balik bening es yang membalut tubuhku. Aku tahu, kau pun masih melihatku sebagai sebongkah es yang meringkuk. Kau pun melihat, perlahan-lahan, gelandangan itu mendekati kita berdua. Sepertinya ia ingin memastikan bahwa onggokan itu benar-benar es. Ia tampak ragu-ragu. Tapi rasa penasarannya mengusai dirinya, ia lalu memegang kita berdua. Ia mengelus-elus kita berdua, ia begitu takjub.

“Seniman patung es kaliber dunia manapun tak akan bisa menciptakan sebongkah batu es mirip manusia.” Ia berdesis. Kita mendengar pengemis itu begitu memuja-muji rupa es kita.

Maka kesalahan terbesar telah dilakukan oleh gelandangan itu, seperti yang aku bilang. Kita sangat teramat dingin untuk ukuran dingin es. Maka perlahan-lahan, gelandangan itu mendadak membeku dari ujung kakinya merembet hingga ujung kepalanya menjadi bongkahan es menyerupai manusia yang sedang memegang kepala kedua anaknya. Ah, Tere ia pun pasti merasakan sensasi dingin saat tubuhnya dijalari dingin menjadi batu es.

Masihkah kau ingat, bahwa musim dingin di tahun itu adalah musim dingin terpanjang dalam sejarah peradaban manusia di Amerika. Tak perlu aku ceritakan padamu, karena kuyakin kau masih ingat. Apakah ini akibat pemanasan global? Mana aku tahu Tere.

Beberapa saat setelah si gelandangan itu menjadi es seperti kita, para pejalan kaki yang kebetulan melewati trotoar jalan sepi di bawah jembatan Golden Gate yang angkuh dan sunyi itu, kemudian mengerubungi kita. Mereka terkagum-kagum dengan tubuh es kita. Bahkan ada yang berseru dan bertanya: Mana pematungnya?

Tentu mereka tak akan pernah menemukan pematung itu. Karena kita terbentuk dari dingin. Bukan dari liukan pahatan tangan manusia.

Belum juga tuntas rasa kagum mereka, seorang dari mereka, perempuan cantik berleher jenjang, memegang kita begitu lama. Mengelus, merabai setiap lekuk tubuh kita dan bahkan ia menciumi kita satu per satu.

“Ah, bukankah ini sebuah keindahan yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata, bahkan dengan sajak seindah apapun di dunia,” gumamnya pada dirinya sendiri.

Maka tak perlu kuceritakan padamu, betapa cepat ia berubah menjadi es ketika ia mendaratkan bibirnya di pipi gelandangan itu. Seperti kita, ia lantas berubah menjadi manusia es. Perempuan itu pasti merasakan sensasi beku juga kurasa. Semua orang yang melihat terkesiap tak percaya. Kau pun melihatnya dari balik bening es di matamu.

Sejak itu, tak ada lagi orang yang berani menyentuh tubuh es kita. Mereka hanya memandang kita dengan tatapan mustahil. Kulihat mulutmu masih penuh mengulum ranting-ranting kering yang tak sempat kau telan. Tentu kau melihatku juga dengan mata yang nanar menatapmu sedih. Kita berdua melihat, gelandangan yang takjub sedang mengelus kepala kita berdua. Dan perempuan berleher jenjang sedang mencium pipi gelandangan yang sedang mengelus kita. Kita bisa melihat di antara kita, namun sebagai sebongkah es batu yang menyerupai manusia. Kita tidak bisa berkomunikasi antar kita. Apalagi melakukan perlawanan.

Ya, perlawanan. Beberapa hari kemudian, kabar membekunya kita tersiar seantero kota San Francisco. Bahkan ke semua negara bagian di Amerika yang masih diguyur salju tebal berhari-hari sampai berbulan-bulan kukira. Mungkin kabar ini telah tersebar ke seluruh penjuru dunia.

Entah untuk tujuan apa. Kita dipisahkan. Kulihat orang-orang berseragam putih-putih, bermantel tebal putih, bersepatu bot putih, bermasker putih yang menutupi seluruh wajah dan dengan sarung tangan tebal anti dingin berwarna putih mengangkat kita.

Sepertinya mereka sangat takut tersengat dingin kita, sehingga kita diperlakukan selayak virus flu yang mematikan. Mereka pun tak berani menyentuh tubuh es kita walaupun mereka telah memakai sarung tangan tebal. Ya, mana ada yang mau berubah menjadi sebongkah batu es mirip manusia. Seperti kita.

Setelah mereka mengangkat kita pada sebuah tempat. Lantas mereka memisahkan kita. Mereka menggergaji kita Tere! Suara gergaji mesin sampai kini masih terngiang-ngiang ngilu di kupingku. Mata gergaji yang tajam kemudian memutus kedua telapak tangan gelandangan yang sedang memegang kepala kita, lalu dengan garang meraung menggergaji ujung mulut perempuan berleher jenjang yang tengah mencium pipi gelandangan itu.

Mereka telah membuat kita terpisah dan sekaligus berpisah.

Selesai itu, tak lama dari pemisahan. Kita lantas dimasukkan dalam sebuah kontainer mirip portable freezer seukuran tubuh kita masing-masing. Maka sejak truk yang membawa tubuh bekuku menderu meninggalkan trotoar jalanan sunyi di kolong jembatan Golden Gate. Aku tak pernah lagi mendengar kabarmu.

Kini aku sangat rindu padamu. Tujuhbelas tahun telah berlalu. Masih ingatkah kamu?

***
Plung!

Sebutir batu es jatuh di atas gelas minuman bersoda milik seorang gadis yang tengah dikerubungi oleh teman-temannya. Gadis itu tampak sangat bahagia dan melempar senyum penuh pesona. Ia kini tengah menjadi pusat perhatian semua orang. Gadis itu sedang merayakan hari ulang tahunnya. Semua orang yang ada di sini ceria dan suasana sangat meriah.

Berpuluh-puluh gelas minuman siap menuntaskan dahaga para undangan. Makanan pun berlimpah.

Plung!

Sebutir es batu jatuh lagi di gelas yang lain. Berdenting.

Plung!

Plung!

Plung!

Semakin banyak butiran-butiran batu es berjatuhan di atas gelas-gelas yang lain, bunyi air minuman bersoda bergemericik saat batu es berjatuhan. Dan gelasnya berdenting-denting.

“Apakah itu kamu Tere?” ***


Pondok Indah, Jakarta, 13 Juli 2009

Minggu, 30 Agustus 2009

Cerpen Bamby di Harian Global Medan

Cerpen ini dimuat di Harian GLOBAL Medan, edisi hari Sabtu tanggal 29 Agustus 2009:

KARYAWAN TUA

Oleh: Bamby Cahyadi


KARYAWAN tua itu terlihat lebih rapi. Kemeja warna putih membalut tubuhnya. Dasi warna biru muda terikat di lehernya. Dengan pantalon hitam, karyawan tua itu terlihat sedikit lebih muda. Ia sangat bersemangat hari ini. Sejak masuk kantor, tadi pagi, wajahnya memantulkan binar-binar keriangan. Ia menyalakan komputer di meja kerjanya, sembari menyeruput kopi yang sudah ada di genggamannya sejak tadi. Rupanya ia menyempatkan diri mampir ke kedai kopi Starbucks di ujung utara kantor. Minuman pembuka hari yang jitu di musim dingin seperti ini.

Aku dengar dari beberapa orang yang bekerja di kantor ini, seminggu lagi ia akan pensiun. Aku tidak terlalu mengenal karyawan tua itu, baru seminggu aku bekerja di sini. Sebenarnya, mejaku dan meja karyawan tua itu hanya disekat sebuah kaca tembus pandang. Namun, karena aku dan ia berbeda departemen, aku merasa tidak perlu berbasa-basi dengannya. Atau mengenalnya lebih jauh. Lagi pula, sebentar lagi ia akan pensiun.

Orang-orang di kantor memanggilnya Pak Bijak, karena tutur bahasanya selalu bijak. Keriput di wajahnya pun menyiratkan ia memang sudah berumur. Rambutnya tidak hitam, juga tidak putih. Warnanya kelabu. Seorang teman yang lebih lama bekerja di kantor ini mengatakan ia telah memiliki enam orang cucu. Tiga laki-laki dan tiga perempuan, dari tiga orang anaknya yang semuanya perempuan. Tapi mereka sendiri belum pernah bertemu dengan istri, anak, dan cucu-cucunya sekali pun.

Karyawan tua itu menerima telepon pertama. Aku perhatikan ia selalu mengangkat telepon pada dering pertama, sebelum dering kedua berbunyi. Ia tidak suka suara berisik. Apalagi dering telepon. Karena itu, cukup sekali dering telepon singgah di kupingnya. Apabila ada karyawan lain yang malas mengangkat telepon, maka ia dengan senang hati akan segera mengangkat telepon dan menjawab salam perdana.

Begitu juga dalam urusan kebersihan area kerja di kantor. Karyawan tua itu sangat resik, tidak boleh ada sampah yang terserak di mejanya atau di meja-meja karyawan lain. Apabila ada sampah kertas sekecil pasir sekalipun, maka dengan sangat telaten ia akan memungutinya satu persatu. Bahkan, ia selalu siap dengan sebuah kain pembersih untuk membereskan debu-debu yang menempel di permukaan meja, kursi, dan komputer.

Aku lihat ia selesai menerima telepon.

Ia kembali menyeruput kopinya hingga habis, lalu sibuk dengan file-file yang tertata rapi di samping komputernya. Sesekali diturunkannya kaca mata baca hingga bertengger di ujung hidungnya. Setelah itu, ia mengetik. Berhenti sejenak, menelepon seseorang entah siapa di seberang sana. Lalu, kembali berkutat dengan keyboard dan monitor komputer, melanjutkan ketikan hingga jam makan siang berdentang.

Aku melenguh, meregangkan badan dan mematikan komputer. Sejenak aku meminum air dalam kemasan yang tersedia di atas meja, lalu mengenakan mantel yang tergantung di kursi.

Ah, betapa tidak produktifnya aku hari ini. Sampai menjelang siang, aku hanya memerhatikan karyawan tua di balik sekat bening kaca di depanku. Beberapa laporan keuangan yang seharusnya telah selesai sebelum jam duabelas, menjadi hutangku selepas makan siang nanti.

Aku sendirian berjalan menuju lift. Karyawan yang lain lebih dahulu berebutan turun untuk makan siang di kantin atau pinggiran jalan di selatan kantor. Mungkin juga di restoran berkelas di food court basement. Sekilas aku lihat, ada juga yang masih tinggal di meja kerjanya, membuka bekal makanan yang telah disiapkan dari rumah. Cukup efisien dalam situasi krisis ekonomi global saat ini.

Di dalam lift, aku bertemu karyawan tua itu. Ia sedang mengenakan jas tebal hangat. Nama lengkapnya Kevin Nelson, seperti yang tertera di name tag-nya. Aku menganggukkan kepala, seraya tersenyum kepadanya. Sudah selayaknya aku menghormatinya. Selain aku masih karyawan baru, ia juga dengan sopan mulai bertanya padaku.

“Karyawan baru?” tanyanya.

“Ya, hari ini tepat seminggu,” jawabku.

Tak lama berselang, pintu lift terbuka. Kami sudah berada di lantai dasar. Karyawan tua itu mempersilakan aku keluar duluan.

“Maaf, Anda mau makan di mana?” tanyanya lagi, begitu santun.

“Ah, saya belum punya rencana. Anda ada ide?”

Terus terang, aku belum punya rencana makan siang di mana dan mau makan apa. Selama seminggu di kantor ini, setiap hari aku makan di restoran Jepang yang terletak di areal food court
.
“Bagaimana kalau ikut saya?”

“Anda mau makan di mana?” tanyaku.

“Nanti Anda akan tahu!” katanya bersemangat. “Maaf, nama saya Nelson, Kevin Nelson. Di kantor ini, orang-orang memanggil saya Pak Bijak. Mungkin Anda sudah tahu?” karyawan tua itu terkekeh.

Aku mengulum senyum. “Nama saya Tamara.”

Pak Nelson dengan tersenyum ramah dan sedikit membungkuk, menyalamiku.
Aku membalas uluran tangannya.

“So, saya berniat mentraktir Anda makan siang hari ini,” ujarnya sambil menyebutkan sebuah nama restoran India yang cukup mahal dan ternama.
Kami berjalan menuju restoran itu, beberapa blok dari perkantoran kami.

Aku memesan masakan paling khas di restoran itu, mengikuti saran Pak Nelson. Sambil menunggu menu makanan masak dan tersaji, kami bercakap-cakap dari persoalan umum di kantor, situasi perekonomian hingga akhirnya ia bercerita tentang masa pensiunnya yang tinggal menghitung hari.

Matanya selalu berbinar. Begitu hidup. Tapi tidak setelah aku menanyakan apa yang hendak dilakukannya pada masa pensiun.

“Entah apa yang bisa saya lakukan saat pensiun nanti?” katanya. Seolah bertanya pada dirinya sendiri, binar di matanya meredup.

Aku merasa bersalah. ”Maaf.”

Karyawan tua itu menggelengkan kepala. ”Tidak apa-apa.”

Matanya mengerjap, menahan air mata.

“Saya rasa Anda akan punya banyak waktu untuk bercengkerama dengan anak-cucu,” jawabku spontan.

Sebelum ia menarik napas untuk berkata lebih lanjut, seorang pelayan restoran dengan sigap meletakkan menu makan siang kami di atas meja.

“Kita makan dulu, silakan!” ujar Pak Nelson.

“Hmm, makanan yang lezat!” gumamku.

Selesai makan siang, Pak Nelson tidak banyak bicara, tidak seperti waktu kami sedang menunggu menu makan siang tadi tersaji.

Ia lebih banyak diam.

Aku tidak mengerti perasaan seperti apa yang sedang melanda karyawan tua itu.

Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih atas makan siang yang ganjil itu.
***

Sehari kemudian, San Francisco menularkan hawa dingin. Menusuk pori-pori kulit. Menelusup ke sumsum tulang. Di balik sekat kaca bening, aku lihat kepala karyawan tua itu terkulai di atas meja, di samping komputernya. Matanya terbelalak. Kepalanya rengkah, mengeluarkan darah. Sebuah pistol masih tergenggam di tangannya. Ujung pistol itu masih mengepulkan asap. Bau sisa mesiu menyeruak di udara. Hawa kematian menebar ke segala arah.

Ia benar-benar diam, benar-benar pensiun.

Malam itu, ketika polisi mengantarkan jenazah ke rumah karyawan tua itu, polisi tidak menemukan siapa-siapa. Rumahnya lengang. Polisi hanya menemukan 10 manekin. Empat manekin perempuan dewasa, tiga manekin anak kecil perempuan dan tiga manekin anak kecil laki-laki. Semuanya berpakaian rapi dengan warna senada dan sangat bersih.

Dinding rumahnya dipenuh pigura berisi foto-foto semua pegawai kantorku. Di pigura foto yang masih baru, ada fotoku sedang menatapnya.

Tidak ada sesiapa di rumah itu.

Tidak ada keriangan sebuah keluarga. Tidak ada seorang istri seperti pernah diceritakan teman-teman kerjaku. Tidak ada tiga anak perempuan. Tidak ada tiga pasang cucu.

Hanya ada 10 boneka manekin.

Dan pigura berisi foto-foto.

Di luar, halimun tebal memeluk seluruh kota, merengkuh jembatan Golden Gate yang angkuh, sampai pagi tiba kembali.***

| Jakarta | 30 November 2008 | 23.55 WIB |

Minggu, 26 Juli 2009

Cerpen Saya di Koran Tempo: Aku Bercerita dari Pesawat yang Sedang Terbang

[dimuat di Koran Tempo Minggu tanggal 26 Juli 2009]

Seandainya aku tidak terlambat pulang sekolah, mungkin aku kini tak berada di atas ketinggian 30.000 kaki. Aku melihat awan-awan kelabu tebal bararak-arak yang seolah-olah ikut menangis dari balik jendela pesawat terbang ini. Aku kembali mengusap air mataku yang jatuh membasahi pipi dengan selembar tisu.

Kulihat ibuku memandang kosong ke arah jendela yang lain di sisinya. Matanya sembab, air matanya mungkin sudah kering sejak tadi pagi. Kakakku tertidur di bangku pesawat di samping ibu. Nenyak sekali tidurnya, paling tidak ia bisa melupakan sejenak kesedihan yang tadi malam tiba-tiba merenggut kebahagiaan kami sebagai suatu keluarga.

Aku kembali menerawang memandang awan-awan kelabu tebal yang seolah menangis itu. Laju pesawat kukira membelah gerombolan awan-awan itu, buyar. Berpencar. Seperti kami, keluarga yang baru saja tercabik.

Baiklah, mungkin kalian akan bertanya-tanya, sedang membuat cerita seperti apakah aku sekarang? Mari kita kembali, di hari kemarin. Di mana ceritaku ini bermula.

***
Hari Kamis, menjelang sore. Seharusnya aku sudah berada di rumah, namun entah kenapa aku mau saja terbujuk rayuan Yopi, Turman dan Panca usai bubaran sekolah. Ya, memang ada pelajaran tambahan yang diadakan oleh sekolah dalam rangka persiapan kami mengikuti Ujian Nasional. Sehingga menjelang sore kami baru keluar dari kelas.

Semula Yopi yang iseng mengusulkan sebuah ide dan ide tersebut diamini oleh Turman dan Panca. Yopi mengajak kami untuk jalan-jalan ke sebuah mal dan nonton film. Ide itu menggodaku juga. Tanpa pikir panjang, kami beramai-ramai menuju sebuah mal, tentu dengan menutup atribut seragam sekolah dengan jaket dan rompi.

Sewaktu kami sedang di taksi meluncur ke mal. Aku teringat sesuatu. Aku belum mengabarkan kepada ibuku, bahwa aku tidak langsung pulang ke rumah selesai pelajaran tambahan. Namun ternyata hapeku mati. Baterainya habis. Teman-temanku tak memiliki pulsa cukup hanya untuk sekadar mengirim sms ke hape ibu.

Rencananya aku akan menelepon ibu sesampai di mal nanti. Tetapi ternyata kemeriahan mal sore itu membuat aku lupa untuk menelepon ibu di rumah. Kami langsung terhanyut oleh suasana keramaian dan keceriaan mal. Terus terang aku dan teman-teman memang paling senang berada dan berlama-lama di mal ketimbang di sekolah. Ya, namanya juga anak muda. Kami baru kelas tiga SMP dan bulan depan kami akan mengikuti Ujian Nasional.

Tentu saja menghadapi Ujian Nasional kami merasa tertekan, stres. Sehingga ide Yopi untuk menyambangi mal dan nonton film adalah ide yang brilian. Sebelum menuju studio bioskop, kami membeli makanan dan minuman ringan di sebuah supermarket di lantai basement. Lalu makanan dan minuman itu kami masukkan ke dalam tas dan ransel masing-masing. Karena kalau ketahuan oleh petugas bioskop, bisa-bisa kami tak bisa ngemil di dalam bioskop nanti.

Terkadang peraturan nonton yang melarang membawa makanan dan minuman dari luar cukup menjengkelkan kami para pelajar. Harga tiket masuk bioskop memang murah dan terjangkau. Tetapi, apabila kami harus membeli makanan dan minuman untuk cemilan nonton di kafetaria bioskop, sama saja bohong. Harga di situ, dua atau tiga kali lipat harga di supermarket atau di warung-warung.

Kami memilih nonton sebuah film remaja di salah satu studio di bioskop mal terbesar dan termegah di kota ini. Film yang sedang digandrungi oleh para remaja masa kini. Tentu kami sangat ceria, tertawa-tawa cekikikan dan sambil bercanda. Film yang kami tonton juga sangat seru.

Aku benar-benar lupa, bahwa aku belum pernah pulang terlambat seusai sekolah. Aku benar-benar lupa, bahwa aku belum memberitahu perihal aku jalan-jalan ke mal dan nonton hingga malam hari kepada ibu atau ayahku.

Usai nonton baru aku menyadari hari telah bergulir malam. Langit telah menghitam, lampu-lampu jalan berpendar-pendar dan pijaran lampu dari gedung-gedung bertingkat telah menerangi sebagian gelap malam.

Aku memutuskan pulang duluan. Tak kuhiraukan lagi rayuan Yopi yang akan mentraktir kami makan di sebuah restoran burger ternama.

Sesampai di rumah, ibu telah menungguku dengan cemas di depan teras rumah. Kakakku juga cemas. Mereka bernafas lega ketika aku datang. Aku merasa sangat bersalah, kuciumi tangan ibu.

Aku bertanya, mana ayah? Ternyata ayah menjemputku ke sekolah. Tetapi, malah ayah yang belum pulang. Ibu kembali dilanda rasa cemas. Tiba-tiba menyeruak juga rasa cemas yang luar biasa dari dalam jiwaku. Bukan ibu saja yang merasakan, aku, dan kakakku juga. Kami kini sama-sama cemas. Malam kian larut, ayah tak kunjung pulang.

***

Tanda mengenakan sabuk pengaman menyala, disertai suara khas yang berdenting. Lantas disusul suara pilot pesawat menyampaikan sesuatu membelah sunyi kabin. Rupanya, pesawat akan melewati badai yang terjadi di depan. Guncangan akibat badai mungkin akan terjadi beberapa saat. Penumpang tetap tenang.

Aku melihat penumpang yang lain bergegas menyematkan sabuk pengaman. Beberapa di antara mereka terlihat berkomat-kamit, mungkin berdoa. Ya, berdoa. Bukankah berdoa akan menentramkan jiwamu? Melepasmu dari kecemasan? Kulihat ibu memandangku. Kakakku masih tertidur di kursi samping ibu. Begitu nyenyak ia tertidur.

Pandangan ibu masih hampa. Ada derita di bolamatanya. Derita yang kini kutanggung juga. Sepertinya kami sepakat untuk tidak berdoa. Atau mungkin berdoa, boleh jadi berdoa untuk sesuatu yang lain.

Ketika badan pesawat betul-betul terguncang-guncang, aku sempat berharap. Berharap pesawat ini benar-benar terguncang lebih dashyat. Lebih bergoyang-goyang dari ini. Lalu tersambar petir, lalu pecah, meledak berkeping-keping bersama tubuh-tubuh di dalamnya. Atau, aku berharap pesawat ini jatuh. Menghunjam bumi atau tenggelam di dasar samudera yang berada di bawah sana. Lalu hilang bersama kami, tubuh-tubuh yang ada di dalamnya.

Aku melilirik ibuku. Ia, membalas melirikku. Ibu tersenyum hampa. Aku tahu, ibu pun ingin pesawat ini jatuh. Dan kami mati. Mati bersama. Kakakku terbangun dari tidurnya yang lelap, mungkin mimpinya terganggu oleh guncangan. Ia, lalu menggamit tangan ibuku. Ia juga menatapku lekat. Semoga kita mati bersama.

Pesawat terguncang sungguh sangat lama. Penumpang yang lain mulai panik. Ada yang berteriak-teriak, ada yang menangis dan banyak juga yang menyebut nama kebesaran Tuhan. Oh, Tuhan yang Mahaberkehendak jatuhkan pesawat ini. Jatuhkan pesawat ini. Mulutku berkomat-kamit, berdoa agar pesawat ini benar-benar jatuh.

Aku ingin bersama ayahku!

Aku menangis lagi. Menangis sejadi-jadinya. Tersedu-sedu, sangat pedih, sangat sedih. Ayah, aku ingin bersamamu. Ibu juga, kakak juga.

Pikiranku kembali melayang.

Baiklah, aku lanjutkan lagi cerita yang sedang kubuat ini. Lupakan pesawat kami yang sedang terguncang-guncang di hantam badai. Karena pilot pesawat ini telah bertindak cerdik, ia menaikkan ketinggian pesawat menjadi 35.000 kaki. Dan, pesawat kami tidak pernah jatuh.

***
Ayahku belum juga kunjung pulang sampai selarut ini. Aku menyesal telah membuat ayah bersusah payah menyusulku ke sekolah. Pasti ayah tak akan menemukan siapa-siapa. Karena pada saat itu, aku, Yopi, Turman dan Panca telah lebih dahulu meninggalkan sekolah menuju mal. Ia hanya akan menemui halaman sekolah yang telah kosong melompong.

Aku merasa sangat bersalah telah membuat ibuku cemas, menungguku. Menyesal membuat ayah menjemputku. Kakakku hanya mengusap rambutku ketika aku pulang selesai nonton. “Jangan kau lakukakan lagi, kasihan ibu,” katanya mengacak rambutku. Aku tersenyum, meminta maaf padanya. “Tak perlu Dik. Kita tunggu ayah pulang,” lanjutnya.

Ibu berkali-kali menelepon hape ayah. Tetapi ayah tak pernah menjawabnya. Ibu hanya ingin memberitahu, bahwa aku sudah berada di rumah. Aku hanya pergi menonton film di mal. Aku tidak melakukan aktivitas yang berbahaya, walaupun aku terlambat pulang dari sekolah. Mungkin ibu juga akan bilang, aku tak senakal seperti yang mereka pikirkan.

Aku nakal, aku akui. Aku sering terlibat dalam tawuran sekolah dengan musuh bebuyutan sekolah kami. Tapi aku hanya ikut-ikutan, bukan tokoh utama. Atau aku suka meninggalkan pelajaran tak aku sukai, semisal matematika dan bahasa Inggris. Tapi itu kenakalan yang wajar bukan? Lagi pula aku tak suka gurunya. Aku tak pernah terlibat narkoba atau pergaulan seks bebas. Maaf, bukan aku itu! Ya, aku tidak senakal itu. Katakan kepada ayah.

“Aneh, kenapa ayah tidak mengangkat telepon dari ibu ya?” Ibu bertanya bukan pada kami, seolah ia bertanya pada ayah yang belum juga pulang. Padahal malam semakin larut. Gelap di luar semakin kelam, kesiur angin malam menghempas daun pintu rumah kami. Tiba-tiba telepon rumah berdering.

Ibu berlari menuju meja telepon. Ibu dengan cepat mengangkat gagang telepon. Ibu tak lagi berucap selain kata halo. Lantas ibu seperti tercekat. Tangannya gemetar. Telepon itu bukan dari ayah. Ibu limbung, badannya terhuyung saat meletakkan gagang telepon pada tempatnya. Kakakku memegang ibu, aku menghampiri ibu dengan pandangan bertanya.

“Ada apa Bu?”

“Tadi telepon dari rumah sakit. Cepat kita ke sana!”

Dengan bergegas kami menyetop taksi yang lewat. Ibu menyebutkan alamat sebuah rumah sakit di kota ini. Sopir taksi paham betul letak rumah sakit itu. Ibu menyuruhnya untuk tancap gas lebih dalam. Lebih dalam lagi. Jantungku berdetak sangat keras. Pembuluh darahku membesar berdesir-desir. Ah, aku tak suka keadaan seperti ini. Mau pingsan rasanya.

***

Lampu tanda mengenakan sabuk pengaman padam, disertai suara dentingan yang khas. Ting! Penumpang menghembuskan napasnya yang tertahan, lega. Kami tak jadi mati bersama. Tubuh kami tak jadi hancur berkeping-keping bersama serpihan badan pesawat yang hancur terkena badai. Dengan intonasi suara yang tak berubah (pasti pilot telah dilatih untuk bersuara dengan irama datar), pilot melaporkan bahwa cuaca kini telah cerah kembali. Dipastikan dalam waktu tidak kurang dari 45 menit lagi kami akan mendarat di Jakarta.

Ibu tampak kecewa. Begitu juga aku, begitu juga kakakku. Bukankah kami telah memanjatkan doa agar pesawat ini jatuh? Ternyata pesawat tidak jatuh, doa kami tak dikabulkan. Mungkin karena kami hanya bertiga. Lebih banyak penumpang yang memohon keselamatan. Itulah sebab, mengapa orang lebih suka berdoa bersama-sama. Tidak bertiga, apalagi sendiri. Bukankah mereka lebih dominan di hadapan Tuhan? Apalah kami yang cuma bertiga.

Oh, tidak. Kami tidak bertiga. Ada ayah dalam pesawat ini bersama kami. Tapi, apakah tadi ayah ikut berdoa?

Pasti kalian heran. Sedari tadi aku bercerita tentang keadaan kami dalam pesawat yang sedang terbang ini, tak pernah menyinggung soal ayahku. Lalu, kenapa aku katakan bahwa kami tidak bertiga?

Ya, ayahku berada dalam pesawat ini juga. Tidak percaya? Ayah berada di tempat yang lain. Ya, di tempat yang lain masih di pesawat ini.
Bolehkah aku mengajak kalian mendengarkan kisahku lagi? Sedikit lagi saja.

***

Aroma rumah sakit menyeruak, ketika kami sampai di pelataran rumah sakit. Baunya membuatku mual. Aku tidak suka rumah sakit. Baunya, bau kematian. Seorang polisi telah menunggu di depan ruang Unit Gawat Darurat.

Ibuku berlari masuk ke ruang itu. Tak dihiraukannya polisi yang akan menjelaskan sesuatu. Aku dan kakakku mempercepat langkah setengah berlari menyusul ibu yang telah masuk duluan.

Ruangan seketika mendadak hening. Sangat senyap, sunyi menjalari malam. Sepertinya semua orang, semua benda hidup, benda mati, apakah itu malaikat atau ruh gentayangan sekalipun tahu dan bersepakat, bahwa saat ini bukan waktu yang tepat bagi mereka untuk bersuara. Saat ini waktu untuk kami. Sungguh waktu untuk kami.

Ibu menangis menyayat-nyayat. Aku menangis meraung-raung. Kakakku menangis tertahan dengan air mata berderai-derai.

Ayahku tersenyum sebagai mayat.

***

Kami tidak bertiga, kami berempat. Ayahku berada di lambung pesawat ini juga. Di dalam peti mati bersama koper-koper besar dan barang-barang kargo lainnya di bagasi pesawat. Kami mengantar ayah untuk pulang.

Hari Jumat menjelang siang. Pesawat telah mendarat dengan selamat.***

Jakarta, 29-30 Juni dan 1 Juli 2009

Minggu, 05 Juli 2009

HUDAN HIDAYAT dalam MENGANTAR AYAH cerpen Bamby Cahyadi

Sastra yang berhasil selalu meninggalkan jejak pada pembacanya. Jejak yang tak hendak hilang, jejak yang dalam. Jejak yang muncul dari totalitas cerita, menjadi kesan yang berdiam dalam benak pembacanya. Jejak yang membuat kita memikirkan terus apa dan mengapa hidup ini.

Cerita pendek Bamby Cahyadi, Mengantar Ayah, saya kira adalah cerita yang meninggalkan kesan semacam itu.

Mengantar Ayah adalah suatu satire, suatu ejekan, akan suatu "momen" panjang dalam sebuah masyarakat. Ejekan bahwa pencarian kebenaran, seolah dalam situasi malam, malam yang mengacu kepada sesuatu yang tak jelas. Pencarian sang Bapak atas sang anak di suatu malam bisa menjadi sebuah lambang pencarian sang Bapak - manusia - akan kebenaran itu sendiri. Anak yang dalam anggapan sebuah keluarga tak pulang, belum kembali, menjadi anak yang telah hilang, menjadi kebenaran yang telah hilang, dan kini sang Bapak masuk ke dalam malam, ke dalam pencarian sang anak kebenaran, yang seolah ada di suatu tempat - malam, suatu keadaan yang hitam tak jelas, penuh pertanyaan di balik misteri dan diamnya malam. Begitulah sebuah prosa yang baik bisa berwatak puisi - penuh asosiasi dalam dirinya sendiri.

Asosiasi ganda. Dari asosiasi kedua "keluarga yang membawa mayat ke dalam koper" itu, sebagai keluarga yang sedang mengalami nasib aneh yang absurd. Bahwa sang anggota keluarga kini pulang dari suatu keadaan dan telah menjadi mayat. Mengantar ayah dengan koper semacam itu, merebakkan suatu kasus kematian aktivis yang tiba-tiba meninggal dan kini tubuhnya pulang dengan koper yang ditenteng oleh pesawat udara. Lazimnya sang mayat ditaruh ke dalam peti mati. Tapi disimpan dalam koper, dibawa pesawat, bisa mengacu kepada asosiasi ganda yang lain lagi: pesawat sebagai motede kematian yang berjalan cepat, cepat cepat menghujamkan kematian kepada siapa yang dikehendakinya. Koper sebagai lambang kematian yang tak normal, dari seseorang yang ingin mendambakan kebenaran hidup bersama sesuai apa yang menjadi keyakinannya.

Begitulah cerita Bamby Cahyadi, sang pengarang yang telah mencapai tehnik bercerita seperti pengarang yang terdahulu kita yakni Putu Wijaya atau Budi Darma, telah melipatgandakan makna-makna asosiatif terhadap dunia ceritanya.

Makna asosiatif itu sendiri mungkin bukan muncul dari kehendak sang pengarang dengan sadar. Seperti galibnya cerita fiksi, biasanya pengarang ditarik oleh cerita itu sendiri. Bamby ditarik oleh misteri yang dikandung oleh cerita Mengantar Ayah. Ia mengikuti hukum cerita sebagai suatu permainan, permainan yang diperagakannya sebagai pengarang yang bisa menyetop ceritanya dalam suatu perhentian, dalam suatu stop cerita yang diberinya canda: sampai di sini dulu, bersambung, sambil melakukan hal yang jarang dilakukan oleh para pengarang yang tak hidup di dunia maya, yakni ha ha hi hi. Haha hihi sebagai suatu tehnik yang membuat pengarang tiba-tiba berjarak dengan dunia ceritanya. Seolah cerita mendadak terlepas, lepas dari momen sebelumnya di mana sang pengarang masuk sebagai narator yang bersembunyi di dalam cerita, dan kini narator itu berbicara dengan familiar kepada pembacanya.

Seolah pada saat itu ia seakan mengingatkan fungsi seorang observer, pengamat yang lagi menatapi suatu gejala masyarakat, dan cara ia mendekat kepada pembacanya serupa itu, adalah seakan suara sang observer tadi meminta perhatian kepada masyarakat pembacanya tentang sebuah satire, sebuah ejekan yang sedang dibangunkannya dalam suatu cerita. Mengantar Ayah terasa sebagai mengantar pikiran ke tengah masyarakat akan suatu upaya pencarian kebenaran. Mengantar sebuah wacana ke tengah masyarakat untuk terus menggeluit kebenaran akan tiap sesuatu yang tak terjelaskan, yang absurd, tapi diteriakkan terus oleh nurani masyarakat yang damba akan ketenangan hidup bersama.

Satire itu datang dari tingkatan relasional horisontal dalam masyarakat, dan ia bergerak menjadi ironi saat cerita ditransendir, atau saat cerita memiliki dimensi transendensinya. Pada saat inilah cerita mendapatkan watak ironinya. Yakni sebuah kesia-siaan yang datang dari nasib sang Ayah yang hendak menyelamatkan anaknya dari suatu malam yang hendak menelannya, tapi justru sang Ayah sendirilah yang ditelan oleh malam-malam dari suatu penamaan akan nasib yang menimpanya. Nasib yang mengenaskan dalam pandangan manusia. Kalau majas cerita telah ditake over oleh satire, kini cerita direnggutkan oleh ironi dari nasib yang ironis itu sendiri.

Apakah penyebab kematian sang Ayah?

Ironis sekali! Ia yang pergi meninggalkan keluarganya mencari sang anak yang hilang, pulang hanya dengan sebuah berita bahwa dirinya telah meninggal. Apakah yang menjadi penyebab kematian dirinya? Jelas kecelakaan. Tapi oleh kecelakaan apa? Ada polisi di sana - di rumah sakit itu, tapi common sensenya dilalui saja oleh Bamby: ia ingin langsung memeluk dan berhadapan dengan ironi itu sendiri. Yakni sang Ayah, sang kepala keluarga, yang kini telah mati secara ironis.

Disisihkannya penjelasan dunia atas kematian semacam itu. Ia langsung hendak memeluk absurditas dari kematian. dari wajah kematian yang selalu tak jelas. Seolah sia-sia belaka apa yang dibangunkan oleh manusia ke dalam penyebutan bahagia. Kalau kematian bisa datang di mana-mana dan kapan saja. Kalau Mengantar Ayah, adalah suatu fakta yang tak terbantahkan. Suatu fakta, suatu kepastian, yang tak bisa ditolak. Dalam situasi seperti itu, satire tak dibutuhkan lagi. Tapi kita langsung memeluk dan bergelut dengan ironi.

Kematian yang sia-sia. Dari hidup yang sia-sia, telah diperagakan dengan telak dan amat indah dalam cerita pengarang Bamby Cahyadi. Dan itulah suatu teks yang datang dari bumi. Bagaimana dengan teks dari langit sendiri tentangnya?


Dua Kesia-siaan - Langit

Saya tahu dunia tak bisa meninggalkan langit, langit yang menjadi pusat pemaknaan. Karena dunia sendiri adalah sesuatu yang harus memaknai. Bukan sesuatu yang dimaknai. Dalam perspektif luasnya, tak mungkin dunia yang sedang berpikir akan sebuah pemaknaan tiap kehadiran - katakanlah kehadiran dari sang ayah yang mati itu, bisa memaknai dirinya sendiri. Saat kita berpikir, adalah saat kita tak bisa memikirkan pikiran itu sendiri. sebab pikiran itulah yang menjadi instrumen kita berpikir. Dan pikiran selalu mengacu ke luar dirinya. Bahkan saat kita berpikir akan pikiran kita sendiri, pikiran itu sedang bergerak memikirkan dirinya. Selalu ia keluar, tak bisa ke dalam. analog barangkali bisa kita acukan dengan kita dan bayangan. Bayangan, tak bisa bergerak dan lepas dari sang badan. Selalu bayangan bergerak karena sang badan ditiup oleh angin. Sekeras apapun angin meniup bayangan, tanpa badannya, bayangan itu tidak akan bergerak. Bahkan tak ada bayangan tanpa ada suatu badan.

Kira-kira dalam situasi seperti itulah seorang pemikir filsafat berkata, bahwa dalam situasi yang kita tak bisa lagi bicara, kita harus diam. Sebuah pernyataan yang mengingatkan saya akan terdiamnya sang malaikat saat tuhan bertanya: apakah nama nama (benda benda) ini? Dan malaikat pun berdiam diri.

Kita pun akan berdiam diri. hanya hendak bicara sedikit saja. Mengacukan kediaman kita kepada dua frasa yang tersebut dengan amat indah, frasa yang datang dari langit. Indah dalam susunan bahasanya tapi mematikan dan menghidupkan dalam siratan maknanya. Sehingga cerita semacam Bamby itu bisa menjadi, atau diacukan, kepada makna yang mematikan dan menghidupkan itu.

Saya kutipkan penuh al hadid, besi.

Nah besi, suatu lambang yang bisa membawa kematian dan bisa membawa kehidupan, telah menjadi pintu masuk dari sebuah suara yang datang dari langit. Seakan dengan identitas besi, dan dengan bagian bagiannya, langit itu hendak berkata begitulah dunia yang kalian diami: ada besi yang menghidupkan kamu (kamu naik pesawat), tapi ada juga besi yang sekaligus membunuh kamu (kamu pun naik pesawat).

Dan di situlah makna kuat dari cerita semacam Mengantar Ayah, yakni saat dipakainya pesawat, burung besi itu, untuk mengantarkan sebuah kematian yang disebabkan oleh sesuatu benda keras yang menimpa sang Ayah, besi, tapi sekaligus menghidupkan pula sang keluarga yang tak jadi mati karena burung besi tak jadi jatuh, hidup kembali dengan mengantarkan sang ia yang telah mati. Bahwa ia yang telah dan masih hidup akan melanjutkan juga kehidupannya dengan besi-besi yang membuat orang, atau manusia, hidup dan bisa melanjutkan kehidupannya.

Tapi hidup memang tak bermakna. Dengan besi yang menghidupkan dan dengan besi yang mematikan, hidup memang tidak bermakna. Sebab makna hidup telah diletakkan oleh langit ke dalam suatu permainan, senda gurau, yang telah disebutkan oleh langit itu sendiri. Seperti pada bagian 20 yang bisa kita baca.

"ketahuilah olehmu, sungguh
kehidupan di dunia hanyalah
permainan dan hiburan,
bermegah megah dan adu kesombongan
antara kamu,
berlomba kekayaan dan keturunan.
dapat diumpamakan seperti hujan.
tanam tanaman yang ditumbuhkannya,
menakjubkan para petani,
kemudian menjadi layu.
lalu tampak menjadi kuning,
kemudian luluh karena kering.
tapi di akhirat ada azab
yang sangat dahsyat
dan ada pula ampunan dari allah
dan keridhaannya.
kehidupan di dunia hanyalah
kesenangan tipuan belaka."

Dan kita tahu betapa benar al hadid ini, benar karena secara empirik apa yang disuarakannya adalah wajah wajah di belahan dunia manapun, di belahan waktu di dunia manapun. Benar di dalam besi itu ada penjelasan, semacam optimisme yang berhembus, atau dihembuskan, bahwa di sana kelak ada ampunan. Tapi penjelasan semacam itu tak menentramkan kita, saat pikiran kita tak hendak diam, diam dari permintaan yang datang dari ahli filsafat yang telah kita katakan tadi, maupun diam dari kata langit itu sendiri dengan kias sang malaikat yang bungkam di depan pertanyaan, saat gagal membaui nama benda- benda.

Tapi suara semacam itu muncul pula dari kitab langit yang lain, injil, yang dalam pengkotbah satu memuat frasa kesia-siaan itu. Bagi saya frasa langit ini tak perlu dipertentangkan sebagai rentang pertanyaan, manakah yang benar dengan frasa langit yang telah saya kutip dari HB Jassin berjudul bacaan mulia tadi.

Langit itu mungkin terpecah, belah tiga oleh manusia. Tapi saya kira langit itu walau pecah dalam benak manusia, adalah tetap langit yang sama dengan wajah kisah yang sama pada esensinya. Seperti yang saya lihat kesamaannya dari pengkotbah bagian satu ini.

"Kesia-siaan belaka, kesia-siaan belaka. Segala sesuatu adalah sia-sia. Apakah gunanya manusia berusaha dengan jerih payah di bawah matahari? Keturunan yang satu pergi dan keturunan yang lain datang, tetapi bumi tetap ada 'abadi'.

Matahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru menuju tempat ia terbit kembali. Angin bertiup ke selatan, lalu berputar putar ke utara, terus menerus ia berputar, dan dalam putarannya angin itu kembali.

Semua sungai mengalir ke luat, tapi laut tidak juga menjadi penuh; ke mana sungai mengalir, ke situ sungai mengalir selalu. Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tak kenyang melihat, telinga tak puas mendengar.

Apa yang pernah ada akan ada lagi, apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari. Adakah sesuatu yang bisa dikatakan: “lihatlah ini baru? Tetapi itu sudah ada dulu, lama sebelum kita ada. Kenangan-kenangan dari masa lampau tidak ada, dan dari masa depan yang akan datang pun tidak akan ada kenangan pada mereka yang hidup sesudahnya."

Hudan Hidayat, Juli 2009

Sabtu, 20 Juni 2009

Pemihakan Goenawan Mohamad


Pada acara kuliah umum tentang Humanisme di Salihara tanggal 20 Juni 2009, GM menjawab pertanyaan tentang keberpihakannya terhadap Boediono (Cawapres SBY).

"Ya, saya memilih/memihak kepada Boediono karena, dia tidak pernah menculik teman saya!" Disambut gelak tawa hadirin. Mengenai isu neoliberalisme, GM malah balik bertanya,"memang apa itu neolib?".... Kata Andreas Harsono, sebuah pernyataan yang sangat jitu dari seorang GM. (hanya bisa dibaca di satus facebook saya)

"Sewaktu pemilu legislatif lalu, saya pun berpihak. Saya mencontreng PDIP. Karena Partai itu yang menentang UU Pornografi!" katanya, "namun setelah itu saya kecewa dengan pilihan saya, begitupun dengan PAN," lanjutnya.

"Nah, kita harus mampu membentuk komunitas di mana kapitalisme tidak mendikte kita. Dan negara tidak mendikte kita. Seperti di sini!" ujar GM sambil menunjuk ke tanah. Ya, itulah Salihara.

Minggu, 07 Juni 2009

Kisah Hidup Cerpenis Nasional He he he

SURAT YANG TAK PERNAH DIBACA

Dulu, sewaktu saya masih mahasiswa. Saya pernah menulis surat kepada Menristek kala itu BJ. Habibie. Surat itu saya kirimkan kepada beliau, dengan harapan Pak Habibie tersentuh hatinya dengan isi surat saya.

Akan tetapi setelah menunggu balasan surat itu tak kunjung datang, saya beranggapan mungkin Pak Habibie tidak pernah membaca isi surat saya sampai hari ini. Atau lebih sial lagi, surat itu tak pernah sampai kepadanya. Ya, sudahlah. Kan, kehidupan tetap berlangsung seperti sekarang ini.

Maka sejak saat itu, saya tak pernah lagi menulis surat untuk orang-orang penting macam Pak Habibie.

Waktu saya masih sekolah dasar, hobi saya menggambar. Saya membuat gambar dan saya warnai dengan crayon. Lalu gambar itu saya masukkan dalam amplop dan saya kirim ke TVRI untuk acara Menggambar bersama Pak Tino Sidin. Gambar saya tampil di televisi hitam putih milik kami. Dengan gayanya yang khas, Pak Tino Sidin mengomentari gambar saya dengan sebuah kata: “Bagus!”

Bukan main girangnya saya waktu itu. Gambar saya yang dipegang Pak Tino, yang hanya sepersekian detik tampil di TV, namun membuat saya sangat termotivasi untuk berkarya. Saya terus menggambar, hingga saat ini.

Kembali kepada masalah surat saya untuk Pak Habibie. Mau tahu isi surat saya kepada Pak Menristek paling lama dalam sejarah Kabinet Indonesia? Saya menulis surat begini, “Pak Habibie yang terhormat, dulu sewaktu masih SD saya mengirim gambar ke Pak Tino Sidin, gambar saya tampil di TV. Sekarang saya ingin menggeluti dunia seni dengan menjadi pelukis. Saya mahasiswa dengan kondisi ekonomi pas-pasan, mohon bantuan Bapak untuk memberikan kepada saya, peralatan untuk melukis yang menurut saya sangat mahal harganya.”

Mungkin, kalau surat saya dibaca oleh Pak Habibie pada waktu itu, saya telah menjadi seniman lukis saat ini. Apakah begitu? Saya rasa hanya Tuhan yang tahu. Hehehe….












SURAT SAKTI DAN KREATIVITAS MAHASISWA

Kalau saya bilang, saya pernah menjadi penyiar radio. Percayakah anda? Pasti ada yang percaya, secara saya memang doyan ngocol dan ngomong pada saat itu. Bagi yang tidak percaya pun, anda tidak salah karena suara saya jelek, tak sejernih para penyiar radio kala itu.

Tapi saya tidak akan berbicara tentang penyiar radio. Saya ingin bercerita tentang surat sakti atau ketebelece.

Saya dan beberapa teman mahasiswa waktu itu, mendirikan radio mahasiswa. Tidak tanggung-tanggung, kami mendirikan stasiun radio dengan gelombang FM. Saat itu saja radio-radio komersil masih bermain di frekuensi AM.

Dasar pendirian radio itu, hanya berdasarkan tandatangan Menteri Penerangan saat itu Bapak Harmoko yang datang ke kampus kami dan oleh kami diminta beliau mengisi buku tamu Senat Mahasiswa (yang sebenarnya pada halaman buku tamu itu, kami tulis: “dukungan untuk Radio Mahasiswa”).

Lalu dengan modal buku tamu itu, pada kesempatan lain kami gunakan untuk bertemu dengan Gubernur Jawa Barat Moch. Yogie S. Memet dan beliau mengeluarkan surat keputusan menyetujui pendirian Radio Mahasiswa.

Singkat cerita, dengan berbekal surat keputusan Gubernur berdirilah radio mahasiswa. Kami himpunlah mahasiswa-mahasiswa yang pandai mengoperasikan radio (saat itu radio-radio gelap di frekuensi FM sangat marak). Lalu kami namai stasiun radio itu dengan nama “Suara KRESMA” (Kreativitas Mahasiswa). Tentu saja kami kreatif, meminta tandatangan Pak Harmoko dan menodong Pak Yogie untuk membuat SK.

Namun sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Radio yang sangat digemari oleh kalangan mahasiswa dan siswa SMA ini tersandung masalah dengan PRSSNI (organisasi persatuan radio swasta) pimpinan Ibu Tutut. Mereka, radio-radio swasta komersil terusik secara ekonomi.

Kami diadukan oleh PRSSNI ke pihak Deparpostel dan Kepolisian. Maka, stasiun radio kami digerebek dan disegel serta tidak boleh mengudara. Sedih hati kami. Terlebih lagi, saya selaku ketua unit radio mahasiswa terkena pasal pidana penyalahgunaan frekuensi ilegal. Saya dituntut hukuman penjara 5 tahun dan denda uang minimal Rp 50 juta jumlah yang sangat banyak dalam suatu sidang di pengadilan di kantor Deparpostel.

Lagi-lagi soal surat sakti. Sebelum saya mengikuti sidang penyalahgunaan frekuensi, saya dibekali oleh Rektor kampus saya dengan sebuah surat. Surat itu kemudian saya serahkan kepada pimpinan sidang yang ternyata berpangkat Kolonel Laut. Tentu setelah acara persidangan selesai. Ia, lalu membebaskan saya dan teman-teman dari tuntutan hukum setelah membaca isi surat. Pak Kolonel itu berkata, “bagaimanapun Letnan Jenderal itu kedudukan lebih tinggi ketimbang Kolonel walapun beliau itu (maksudnya Rektor saya) sudah purnawirawan.”

Maka bebaslah kami dengan surat sakti Pak Rektor. Namun kami tetap sedih, karena radio mahasiswa kami, mati muda.



KENAPA SAYA BEKERJA


Beberapa hari yang lalu, sewaktu teman saya menelepon dan menanyakan apakah saya masih bekerja di tempat yang sama. Tiba-tiba saya menjadi berang. Saya sangat marah, dan saya mengatakan, bahwa saya bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bukan untuk menjadi orang kaya. Kalaupun jabatan saya mentok, tak naik-naik, ya sudah, itu nasib saya.

Dan dengan sangat bersemangat, saya katakan bahwa teori kudrannya Robert T. Kiyosaki, tidak berlaku untuk saya. Saya akan tetap di kuadran pertama, sebagai employee. Saya katakan, bahwa tidak ada yang namanya passive income, kecuali saya ini keturunan anaknya orang kaya. Anaknya atau cucunya konglomerat. Tentu kalau mau mendapat penghasilan, saya harus bekerja. Dari mana uang akan bekerja untuk saya, kalau saya tidak punya uang? Saya bisa punya uang karena saya punya pekerjaan.

Jadi apa salah saya? Kalau saya masih bekerja. Bekerja di tempat itu-itu juga. 15 tahun lamanya. Lantas teman saya itu berkelit, kenapa saya tidak ikut paket pensiun muda yang ditawarkan oleh perusahaan tempo lalu. Betul. Apabila saya ikut paket pensiun muda tentu saya akan mendapat sejumlah uang, mungkin sekitar Rp 200.000.000,-

Uang itu katanya bisa saya pakai modal untuk buka usaha. Jadi pengusaha, bekerja tidak di bawah perintah orang lain. Sehingga katanya, saya bisa pindah kuadran ke kuadran dua, self employee. Maka dengan percaya diri, saya katakan hidup ini pilihan. Pilihan saya menjadi pekerja. Apakah kalau saya menjadi pengusaha dengan modal 200 juta, lantas serta merta saya akan berpenghasilan lebih banyak? Hidup lebih makmur? Punya mobil?

Mungkin teman saya kasihan melihat saya. 15 tahun bekerja saya belum memiliki sebuah mobil pun. Rumah pun hanya tipe 36, KPR lagi. Maaf teman, kata saya, saya tidak punya mobil bukan karena saya tidak mampu beli. Selain saya tidak bisa nyupir, bagi saya ukuran kesuksesan bekerja bukan berapa harta yang bisa diciptakan. Misalnya punya mobil atau rumah megah.

Menyadari saya berbicara dengan nada tinggi, teman saya itu kagetnya minta ampun. Ia lalu berkata, bahwa baru pertama kali ini saya berbicara dengan nada seperti itu kepadanya. Iya, saya katakan, bahwa benar saya marah, saya memang sedang sensitive. Karena akhir-akhir ini semua orang bertanya kepada saya, apakah saya merasa tidak tertipu dengan pekerjaan saya. Saya benar-benar marah!

Sabtu, 02 Mei 2009

Saya dan Happy Salma



Seandainya aku katakan bahwa Happy Salma menjadi pacarku, apakah istriku akan marah?
Bertemu Happy salma di acara reboan sastra di wapres bulungan 29 april 2009

Senin, 20 April 2009

Boss Baru McDonald's Indonesia


Paling kanan, yang masih muda, Sukowati Sosrodjojo.

Aku Tidak Sehebat Kartini

Cerpen ini kupersembahkan untuk Ibuku: Ida Kusdiah.


PIRING DAN GELAS KOTOR di dapur sudah menumpuk tinggi. Baru saja keluarga besarku mengadakan pesta pertunangan putriku, Bianka. Saat ini, pembantuku sedang menumpuk karpet yang kami pinjam dari musholla. Ya, rasanya lelah sekali. Aku bayangkan bagaimana kalau Bianka menikah kelak. Pasti lebih repot, lebih lelah. Aku harus mempertimbangkan untuk menyewa gedung pertemuan kelurahan saja untuk acara pernikahan putriku nanti.

Calon mantuku, calon suami Bianka, sesuai dengan harapanku. Seorang sarjana dan memiliki pekerjaan tetap. Kalaupun ada beberapa kriteria yang tidak sesuai dengan harapanku, itu tidak masalah. Lalu, aku bandingkan dengan almarhum suamiku, kang Muslih. Ah, kalau saja kang Muslih masih hidup, pasti ia akan menilai lalu membandingkan juga calon mantuku itu dengan dirinya, batinku.

Ya, kang Muslih selalu menginginkan anak lelakinya menjadi seperti dirinya. Persis sama dengan dirinya. Aku jadi ingat, semasa hidupnya, ia selalu mengharapkan anak tertuaku menjadi seperti dirinya, karena ia anak laki-laki. Demikian juga anak keduaku, karena ia pun anak laki-laki. Laki-laki itu harus sepertiku, kata Kang Muslih.

Saat itu, Bara, anak tertuaku yang baru saja berusia 17 tahun, pulang ke rumah dengan wajah bersimbah darah karena terlibat tawuran masal dengan pelajar sekolah lain, musuh abadi sekolahnya.

Keesokan harinya, sebelum berangkat sekolah, Bara yang masih lebam akibat tawuran dibekali dengan sepucuk pistol. Jika masih ada yang berani menghajar kamu, tembak saja! Kata kang Muslih waktu itu sambil menyodorkan pistol. Kamu itu laki-laki, katanya lagi, sambil melangkah ke mobil dinasnya. Alih-alih membawa pistol ke sekolah, Bara malah menyerahkan pistol itu kepadaku. Aku bisa mengatasi masalahku tanpa harus menggunakan pistol ini, kata Bara.

Tak dinyana, peristiwa itu merupakan kenangan terakhir suamiku kepada putra pertamanya, Bara. Ia gugur ketika sedang bertugas memimpin operasi militer di Timor-Timur. Sebagai komandan, suamiku sangat dihormati dan disegani oleh anak buahnya. Sebagai kepala rumah tangga, suamiku sangat dicintai dan dikagumi oleh anak istrinya. Demikianlah, suamiku tidak bisa menyaksikan Bara merayakan kelulusannya di sebuah SMA favorit. Kini, Bara tinggal dan bekerja di Jakarta. Hidup bahagia dengan seorang istri cantik dan dua anak. Bara tidak memiliki satu pun sifat dan watak bapaknya.

Brama, anak keduaku, mewarisi sifat dan watak ayahnya. Ia disiplin dan keras. Ketika bapaknya gugur, Brama baru saja lulus SMP. Tamat SMA, atas bantuan rekan sejawat suamiku, Brama diterima sebagai Taruna Akademi Militer di Magelang. Karir dan prestasi belajar Brama sangat menonjol. Ia menjadi salah satu lulusan terbaik Akmil Magelang. Brama belum menikah. Sekarang ia bertugas di Nepal, bergabung dengan pasukan perdamaian PBB di bawah bendera Kontingen Garuda. Hanya ada satu yang membedakan Brama dengan bapaknya, Brama lebih pintar.

Aku menghela nafas. Mengenang suamiku membuat hatiku selalu teriris dan sedih. Setiap kali membuka kitab ingatan, air mata selalu berdesakan berlomba keluar dari kelopak mataku. Selalu begitu, selalu. Betapa tidak, aku dan anak-anakku tidak pernah melihat jenazah kang Muslih. Kabarnya, tubuhnya hancur diberondong peluru tentara Fretelin dan ledakan granat yang sedang dipegangnya. Padahal, aku sangat ingin melihat jenazahnya. Melihat untuk yang terakhir kalinya. Memberi kecupan selamat jalan di keningnya. Dan menuturkan gigil doa di pelupuk matanya. Tapi peraturan militer tidak membolehkan aku dan anak-anakku melakukan hal-hal itu. Aku hanya bisa melihat peti jenazah suamiku yang tertutup bendera merah putih, sebelum dimasukkan ke liang lahat di Taman Makam Pahlawan Seroja Timor-Timur.

Kang, Bianka sudah tunangan. Seandainya akang masih ada di sini, pasti aku tidak secapek dan selelah ini. Miris. Sedih. Dan mataku tak mau lepas dari sosok pada sebuah pigura, foto seorang laki-laki gagah dengan seragam militer. Tanpa terasa air mataku mengalir. Tetes demi tetes. Sudah dua kali aku menangis malam ini, kang.

“Bu, kok Ibu menangis lagi?”

Tiba-tiba suara Bianka mengagetkan aku. Lamunanku buyar.

“Ibu ingat bapakmu Bian,” jawabku singkat.

Aku tidak mau merusak kebahagiaan anak bungsuku, Bianka, yang baru saja bertunangan. Bianka kemudian merangkulku, dia ikut menangis tersedu-sedu. Akhirnya kami berdua sama-sama menangis. Melampiaskan seluruh rasa haru, rasa sedih, dan rasa bahagia.

Aku segera menyusut air mata. menyekanya dengan punggung tangan. Aku tidak boleh terus bersedih. Jika pun harus ada air mata, maka yang pantas adalah air mata bahagia. Apalagi, sepanjang prosesi pertunangan tadi, Bianka tampak sangat bahagia. Dia banyak tersenyum, sumringah. Sesekali pipinya memerah mendengar senda gurau teman-temannya tentang misteri malam pertama, khususnya tentang rahasia hubungan badan suami-istri.

Aku memeluk Bianka sangat erat.

Aku biarkan tangisnya tumpah di dadaku. Saat ini, seperti aku, Bianka juga pasti sangat merindukan kehadiran bapaknya. Betapa bangga dan bahagianya acara tukar cincin tadi, jika disaksikan oleh kang Muslih.

Selain itu, aku juga sedih karena harus mempersiapkan diri untuk ditinggalkan olehnya. Perasaanku sekarang berbeda sekali saat aku melepas Bara untuk menikahi Rindri. Sangat beda. Dulu, ketika Bara pergi, aku masih bisa tenang karena masih ada Bianka yang menemaniku di rumah ini. Tapi sekarang, aku bakal sendirian. Tak ada lagi yang menemani aku, selain kenangan.

Aku pasti akan kesepian, pasti. Karena setelah menikah nanti, Bianka akan diboyong oleh Harry, calon mantuku itu, ke Pekanbaru. Harry bekerja sebagai Manajer di sebuah perusahaan pengolahan kayu internasional. Bianka pun sepertinya akan bekerja di sebuah perusahaan kayu lokal. Aku tahu, dia tidak akan menyia-nyiakan gelar sarjana kehutanannya setelah dengan susah payah dia menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Kehutanan IPB. Sebuah jurusan yang sangat cocok dengan jiwa petualangnya. Aku bersyukur sekali dia menikah, karena mengurangi bebanku sebagai ibu seorang anak perempuan.

Tapi, dibalik rasa bahagia, menelusup nyeri. Sebentar lagi aku akan hidup sendiri.

***

ACARA PERNIKAHAN BIANKA berlangsung lancar. Meriah. Sanak-famili, handai-taulan, dan karib-kerabat, semuanya tumpah-ruah. Sangat meriah. Rasa capek dan lelahku berlalu sudah.

Dan, seperti yang aku takutkan, aku benar-benar sendirian. Tak ada siapa-siapa. Aku benar-benar sendiri. Kesendirian yang selalu memaksa aku membuka kitab-kitab kenangan. Siapa yang bisa bertahan dari gempuran keindahan masa lalu, ketika dia bersunyi sendiri? Tidak ada. Aku yakin tidak ada. Paling hanya bisa memalingkan sekejap ingatan dari kenangan dengan melakukan kegiatan ringan, seperti membaca, menulis, merawat tanaman. Sesudah itu, kenangan kembali akan merajalela.

Untung saja, sekarang aku punya mainan baru, sebuah laptop pemberian Bara. Suatu hari, sebagai rasa syukur atas kelulusan Magisternya, Bara menghadiahkan sebuah laptop. Bu, aku belikan laptop untuk Ibu, supaya ibu kalau mau menulis surat tidak perlu pinjam mesin ketik kelurahan, ujar Bara serius, waktu itu. Ia pun mengajari aku bagaimana caranya menggunakan komputer jinjing itu. Aku sangat bahagia.

Hari-hari kini aku lalui dengan banyak menulis dan membaca e-mail dari Brama yang masih di Nepal. Terakhir membaca berita dari Brama ketika ia bercerita tentang temannya yang gugur akibat kecelakaan helikopter. Berita itu lalu aku ikuti di media cetak nasional. Laptop ini sekarang menjadi teman paling setiaku.

Lagi-lagi aku jadi teringat Kang Muslih.

Sungguh berat sekali rasanya membesarkan Bara, Brama, dan Bianka seorang diri. Aku bahkan sering digunjingkan oleh tetangga setiap anakku meraih kesuksesan. Pasti dia menjadi istri simpanan seorang Jenderal. Begitu omongan ibu-ibu perumahan yang suka bergosip ketika Bara bisa masuk kuliah di sebuah perguruan tinggi ternama di kota Bandung. Padahal, belum genap tiga bulan aku melepas kepergian Kang Muslih untuk selama-lamanya. Aku tidak peduli.

Tetanggaku, bahkan anak-anakku sendiri, tidak tahu dari mana dan bagaimana aku bisa mendapatkan biaya hidup dan biaya kuliah. Aku hanya berpesan agar mereka selalu bersemangat belajar dan menanamkan keinginan kuat menjadi orang sukses. Tugas kalian hanya belajar, tidak perlu memikirkan dari mana ibu mendapatkan uang untuk biaya sekolah kalian, kataku suatu hari ketika Brama memutuskan untuk bekerja selepas lulus SMA.

Ada satu hal yang sampai saat ini anak-anakku tidak tahu dari mana sumber keuangan untuk menghidupi dan membiayai kuliah mereka. Kejadian itu sangat berarti dalam diriku dan aku tidak pernah menceritakannya kepada mereka.

***

SUATU HARI, aku menyempatkan diri mampir untuk melihat-lihat buku di sebuah toko buku. Kebiasaan membaca sudah tumbuh sejak aku kecil. Bahkan, pada saat masih ada Kang Muslih, aku mengoleksi novel dan berlangganan beberapa majalah.

Sebenarnya, pada saat itu, pikiranku sedang kalut. Bara membutuhkan sejumlah uang untuk biaya tugas praktek lapangan. Sementara penghasilan dari uang pensiunan janda veteran perang tidak cukup untuk menutupi kebutuhan Bara. Aku sempat berpikir untuk menggadaikan rumah, satu-satunya peninggalan Kang Muslih yang paling mewah, selain kenangan indah bersamanya.

Mampir ke toko buku membuat diriku agak sedikit rileks. Memang, toko buku ini tidak sebesar toko buku yang banyak bertebaran di Jakarta, tetapi cukup komplit menyediakan berbagai jenis buku. Mulai dari filsafat sampai politik, novel dan biografi, serta buku-buku yang berhubungan dengan hobi dan rumah tangga. Semua tersedia walaupun dengan jumlah yang sangat sedikit.

Seperti biasa, mataku lincah memamah setiap demi setiap judul buku. Sesekali aku meraih buku yang judulnya menarik. Membaca halaman depan dan halaman belakang. Menelisik nama pengarang dan mereka-reka isi bukunya. Kadang-kadang, setelah melirik kesana-kemari, aku suka membuka segel plastik pembungkus buku secara diam-diam. Hingga, aku tertegun di depan sebuah buku. Buku itu masih terbungkus rapi. Segel plastiknya masih utuh meski agak sedikit berdebu. Sepertinya buku itu jarang disentuh dan buku cetakan lama.

Penasaran. Akhirnya kucomot buku itu dari rak pajang. Benar, ini buku lama. Judulnya Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku karya R.A. Kartini yang diterjemahkan oleh Armijn Pane. Gila! Aku kaget. Buku ini diterbitkan oleh Balai Pustaka pada 1978. Benar, ini buku lama. Ini buku yang sangat berharga. Kenapa buku langka dan dahsyat seperti ini bisa luput dari para pencinta buku?

Aku tahu siapa Kartini. Aku mengenalnya lewat pelajaran sejarah di sekolah. Aku juga tahu kalau dulu Kartini sering surat-suratan dengan para sahabatnya, di dalam dan di luar nusantara. Tapi, terus terang, aku belum pernah membaca apalagi tahu isi bukunya. Buku ini tipis, pikirku lagi. Tidak terlalu tebal bagi kutu buku sepertiku. Hanya 214 halaman.

Sesuatu dari dalam hati mendesak aku untuk membaca buku ini. Maka, setelah pemilik toko mengizinkan aku untuk membuka bungkus plastiknya, aku segera melahap daftar isi dan kata pengantarnya. Ah, aku suka buku ini. Suka sekali. Aku memutuskan membeli buku langka ini, buku satu-satunya yang terpajang di rak buku itu.

Sampai di rumah, aku larut membaca buku tersebut. Hanyut. Hingga lupa akan kekalutanku. Lupa bahwa Bara sedang membutuhkan uang dan lupa kalau aku hanya seorang janda. Aku larut dengan isi buku yang dengan apik disusun oleh Armijn Pane. Padahal buku itu hanya berisikan 87 surat-surat Kartini yang ditujukan untuk teman-temannya di Belanda. Beberapa waktu kemudian aku baru tahu bahwa masih banyak surat-surat Kartini yang belum terpublikasikan di Indonesia.

Demikian hebatnya surat-surat yang dibuat Kartini kepada sahabat-sahabat penanya, desisku bersemangat. Beruntung sekali aku membeli buku itu. Aku sangat terinspirasi seusai membacanya. Ya, inspirasi. Begitulah perasaanku saat itu. Buku itu membakar semangatku. Aku harus mampu menyekolahkan anak-anakku dengan perjuangan sendiri. Tapi, bagaimana caranya? Hmm, aku kan bisa menulis. Ya, aku bisa menulis. Lalu, aku putuskan akan menulis sesuatu. Tapi, aku tidak punya mesin ketik.

Tak apalah, tulis tangan pun bisa.

Malam itu juga aku menulis lembar demi lembar kenangan hidup bersama kang Muslih dengan tulisan tangan. Sampai aku tertidur.

Keesokan harinya, aku ke kantor Kelurahan. Salah seorang staf kelurahan masih terhitung kerabat almarhum suamiku. Aku meminjam mesin ketik untuk mengetik tulisanku semalam. Tulisan sederhana. Tulisan tentang kenangan bersama kang Muslih.

Selesai mengetik, aku memasukkan hasil ketikan itu ke dalam amplop dan mengirimkannya ke sebuah majalah wanita di Jakarta.

Aku berharap, tulisanku dimuat dan aku mendapatkan uang. Ah, tapi aku tidak boleh terlalu berharap. Kalau tidak dimuat, nanti bisa kecewa. Yang penting, setelah membaca buku Habis Gelap terbitlah Terang aku sangat bersemangat. Itu saja. Tidak terpikirkan uang di benakku.

Aku akhirnya meminjam uang di Koperasi Veteran untuk menutupi biaya praktek lapangan Bara yang tertunda. Bara sampai mencium tanganku saat uang itu aku serahkan kepadanya. Seperti biasa, air mataku langsung mengalir dengan deras. Seandainya bapakmu masih hidup, ibu tidak akan berhutang, batinku.

Setiap malam aku menulis. Menulis tentang apa saja. Dan keesokan harinya, setiap pagi, aku ke kantor kelurahan untuk mengetik tulisan itu. Kemudian, seperti biasa, tulisan itu aku masukkan ke dalam amplop dan mengirimnya ke media.

Apabila Brama dan Bianka bertanya ada urusan apa aku ke Kantor Kelurahan, aku selalu menjawab, ibu akan mengetik surat.

Hingga suatu hari, ketika itu aku sedang membaca sebuah majalah wanita, aku sangat terkejut bercampur bahagia. Tulisanku dimuat di majalah itu. Itu tulisanku yang pertama kali dimuat di majalah. Aku sujud syukur. Bulu romaku meremang. Aku gembira sekali. Air mata bahagia pun tumpah. Saking gembiranya, aku hampir saja menceritakan perihal tulisan itu kepada anak-anakku. Aku lupa, aku menggunakan nama samaran di tulisan itu. Pun demikian pada tulisan-tulisan lainnya.

Dan aku merahasiakan hal itu.

Seumur hidupku.

Hingga kemudian beberapa tulisanku sering dimuat di majalah maupun koran. Akhirnya, walaupun tidak banyak, aku mendapatkan uang tambahan untuk memenuhi kebutuhanku sehari-hari. Bahkan untuk menambah uang kuliah anak-anakku.

Ketika Bara mulai menyusun skripsi, aku menulis sebuah novel. Mujurnya, novel tersebut diterbitkan oleh sebuah penerbit besar di Jakarta. Novel pertamaku sangat digemari oleh kalangan perempuan. Dari novel itu aku menerima sejumlah uang. Royalti atas tulisanku.

Dari royalti itu aku melahirkan semangat.

Sejak aku rasakan nikmatnya mencicipi uang dari tulisan, aku tidak pernah berhenti menulis. Pada mulanya meminjam mesin ketik di kantor kelurahan hingga akhirnya punya laptop. Pada mulanya hanya menulis pengalaman nyata, lembar-lembar kenangan bersama kang Muslih, suamiku tercinta. Sekarang aku bisa menulis apa saja. Mengarang apa saja.

Ya, aku menghidupi dan menyekolahkan anak-anakku dengan menjadi penulis. Anak-anakku belum juga tahu. Mereka juga tidak tahu tentang nama samaranku, Kartini. Biarlah anak-anakku tahu ibunya bernama Ida Kusdiah, janda veteran perang Timor-Timur.

Buku Kartini inspirasi hidupku. Namun, aku tidak sehebat Kartini.***

Kupersembahkan untuk Ibuku: Ida Kusdiah

Jakarta, 3 April 2009