Sabtu, 28 Desember 2013

Pembunuhan Keluarga Sumarna

BEGINILAH PEMBUNUHAN ITU DICERITAKAN
Oleh: Bamby Cahyadi

Emak Eti memang merasa ada yang tidak beres dengan anaknya, Sumarna, pagi itu. Tidak seperti biasanya anak keduanya itu bangun siang, sampai-sampai ia tak bisa mengantarkan adiknya ke sekolah. Dari Gang Y, desa A, perempuan berusia 59 tahun tersebut buru-buru ke tempat anaknya di ujung desa. Hatinya mendadak merasa was-was, perasaan khawatir menyeruak menggigit-gigit ulu hatinya. Sakit kah Sumarna?
“Apa sudah pergi kerja anak saya?” tanya Emak Eti kepada pemilik warung yang berjualan dekat rumah Sumarna.
“Belum tampak, Mak. Barangkali masih tidur. Semalam ada tamu di sana,” jawab yang ditanya.
Perasaan seorang ibu, tiba-tiba membuat Emak Eti semakin gelisah. Sesampai di rumah Sumarna, diketuk-ketuknya pintu depan rumah anaknya, tapi tak ada jawaban dari dalam. Lalu ia pergi ke belakang rumah, pintu di sana sudah digembok. Biasanya, apabila anaknya sudah berangkat kerja pintu itu telah dikunci.
Tetapi, tak biasa Sumarna berangkat kerja tanpa diketahui oleh tetangga-tetangganya. Perasaan Emak Eti semakin diamuk kecemasan yang bergulung-gulung.
Karena rasa khawatir dan penasaran yang begitu melilitnya, ia meminta tetangga Sumarna membuka paksa pintu rumah. Dibantu oleh beberapa tetangga, mereka mencoba mendobrak pintu. Namun tidak juga memberi hasil. Perempuan itu semakin dilanda rasa cemas dan panasaran yang berkecamuk.
Dengan tangga kayu, perempuan itu mengintip ke kamar anaknya dari sela-sela kisi-kisi jendela.
Betapa terperanjat, perempuan itu seperti disengat beribu binatang kalajengking. Ia melihat seluruh kelambu berwarna merah. Hanya warna merah yang ia lihat dalam kamar yang remang itu. Ya, hanya warna merah.
Di antara rasa was-was yang membuat jantungnya berdetak sangat kencang, Emak Eti tercekat beberapa saat, ia berteriak, namun suaranya nyaris tercekat di tenggorokan menyangkut di udara. Kakinya bergetar lututnya terperangkap dalam gemetar ketika melihat tubuh Sumarna tidur terlentang dengan leher bersimbah darah. Menantunya, Euis, telungkup, juga penuh darah. Sedangkan cucunya, Asep yang baru berusia dua tahun, digenangi darah seluruh tubuhnya.
Lemaslah sekujur tubuh Emak Eti, dengan suara gemetar ia berusaha berteriak melihat pemandangan yang mengerikan yang terpampang di pelupuk matanya. “Tolong, tolonglah, anak-anak saya dibunuh orang!” Suara Emak Eti nyaris lirih tak terdengar. Dengan sisa-sisa kekuatannya perempuan tua itu berusaha mendorong-dorong jendela kamar agar terbuka. Namun sia-sia.
Orang-orang semakin ramai berdatangan dan memenuhi halaman di sekitar rumah Sumarna. Ada juga yang mencoba mengintip dari tangga di mana Emak Eti mengintip. Mereka melihat dan manyaksikan dengan mata kepala sendiri tiga jasad yang membuat mereka merinding, menebarkan aroma teror,  kengerian dan ketakutan tak terkira.
Tanggal 9 November tersebut, desa A, kecamatan K, kabupaten T, Jawa Barat, gempar. Sumarna sekeluarga yang dikenal sangat ramah kepada semua orang, telah dibunuh dengan kejam. Tak pernah ada kejadian sekejam itu yang terjadi di Kabupaten T selama ini. Sepanjang sejarah kabupaten penghasil beras itu.

***

Malam itu, Kosasih dengan tenang menuju dapur ia membersihkan bekas-bekas darah pada parang, sebelum menyelipkan benda tersebut ke dinding bambu. Malam itu, Kosasih telah menjelma malaikat pencabut nyawa kepada Sumarna sekeluarga.
Namun Kosasih bukanlah sang malaikat pencabut nyawa, lelaki itu tak pernah ditugasi Tuhan untuk menghabisi nyawa ketiga manusia tak berdosa itu. Kosasih punya tugas sendiri yang ia telah direncanakannya.
Ia membongkar lemari Sumarna, mengambil perhiasan Euis, uang Rp 2.500.000,- milik Sumarna dan membawa kabur sepeda motor milik Sumarna. Barang-barang itu diperlukannya untuk meresmikan perkawinannya dengan Dedeh, pacarnya di desa G, kabupaten C, masih di wilayah Jawa Barat.
Lelaki berdarah dingin itu melego motor bebek keluaran tahun 2010 itu seharga Rp 3.800.000,- dan kemudian ia belikan dua buah cincin kawin dan sebuah kalung emas. Perhiasan Euis dijualnya seharga Rp 1.700.000,- ia belikan sebuah tempat tidur lengkap dengan kasur dan bantal. Lalu untuk calon mertua, diberikan uang sebesar Rp 500.000,-. Uang hasil merampok Rp 2.500.000,- dan uang sisanya menjual sepeda motor dan perhiasan disimpannya sendiri.
Bagai seorang saudagar yang mendapat untung besar, Kosasih pun membual kepada Dedeh. Ia berbohong bahwa ia berdagang. Ia bahkan sesumbar, apabila ia dapat laba besar lagi, ia akan membangun sebuah rumah untuk mereka.

***

Kegemparan memang melanda hampir seluruh kabupaten T. Pembunuhan semacam itu baru pertama terjadi. Warga menjadi resah. Aparat kepolisian dituntut warga bekerja serius dan berhati-hati. Karena memang Kosasih berhasil menghilangkan semua barang bukti.
Polisi berhasil menyergap dan meringkus Kosasih berkat kesaksian pemilik warung kopi, minuman keras murahan, jamu dan obat kuat lelaki. Polisi bekerja keras untuk mendapatkan jejak Kosasih.
Pada pukul 18.00 tanggal 17 November beberapa polisi berseragam datang mengepung rumah calon istri Kosasih, Dedeh. Saat itu Kosasih baru saja menyalakan lampu teras rumah Dedeh. Menyadari rumah telah diincar polisi, dengan gerakan tipuan, Kosasih berhasil menyelinap kabur lewat pintu belakang.
Lelaki berkulit putih itu melarikan diri. Namun, belum begitu jauh ia bergerak sebanyak tujuh butir peluru bersarang di kakinya. Ia terjengkang dan terkapar di tanah. Malam itu juga, Kosasih digotong ke rumah sakit.
Penduduk yang mendengar bahwa pembunuh keluarga Sumarna berhasil ditangkap, segera menyerbu ke rumah sakit di kabupaten C. Bangsal tempat marawat tahanan polisi itu nyaris ambruk diserang massa.
Setelah dirawat, Kosasih digiring ke ruang Pengadilan Negeri kabupaten T.
“Saya butuh uang untuk mengawini Dedeh,” jelas Kosasih dengan nada dengki.
Jaksa penuntut umum, memberikan dakwaan, hukuman mati bagi Kosasih, di hadapan majelis hakim Pengadilan Negeri.
“Perbuatan yang dilakukan terdakwa itu, bukan hanya untuk menguasai harta korban, tetapi juga untuk memenuhi kepuasan melihat darah yang mengalir,” kata jaksa penuntut dengan suara bergetar.
Kosasih tidak bergeming mendengar tuntutan hukuman mati atas dirinya. Matanya yang liar itu menyorotkan rasa tidak menyesal.
“Ia dihukum mati bukan karena membunuh orang. Tetapi agar orang-orang lain tidak dibunuh pula olehnya di masa mendatang,” ungkap jaksa, menyitir ucapan seorang hakim Inggris abad 19, Herce Burnet, ketika jaksa itu diwawancarai media.
Dari balik jeruji besi kamar tahanan Pengadilan Negeri, Kosasih menjawab pertanyaan wartawan. Jawaban yang cukup mencengangkan, “Saya cuma sedih atas kematian sahabat saya, Sumarna.”
Entah apa yang ada di benak lelaki berkulit putih itu.

***

Malam itu, di beberapa tempat orang-orang masih tampak menggerombol. Kios-kios sudah tutup, hanya satu warung yang menjual kopi, minuman keras murahan, jamu dan obat kuat lelaki yang masih buka. Semakin malam situasi semakin sepi, orang-orang yang bergerombol tampak menyusut hingga habis sebelum tengah malam tiba. Apalagi hujan telah turun.
Malam itu, kunjungan Kosasih yang keempat kalinya ke rumah Sumarna di Desa A, di Kecamatan K, Kabupaten T, Jawa Barat. Bila hari-hari sebelumnya ia datang minta tolong pinjam uang dan dicarikan pekerjaan, Jumat malam tersebut ia datang hendak meminjam cangkul dan linggis. Kepada Sumarna dikatakannya, bahwa ia telah mendapat pekerjaan.
“Di mana Engkos bekerja?” tanya Sumarna pada Kosasih waktu itu.
“Di tempat teman. Pinjamilah saya cangkul dan linggis Kang,” jawab Kosasih.
Pertemuan pukul 23.00 hari Jumat 8 November itu belum selesai begitu saja. Mereka ngobrol-ngobrol, seraya menonton acara televisi. Sumarna bersama istri dan anaknya duduk di bagian tengah ruangan. Di layar televisi, acara talk show yang dibawakan Tukul Arwana, menghidangkan bincang-bincang lucu penuh gelak tawa.
Di luar, hujan turun dengan lebat. Malam itu, Kosasih kembali menumpang tidur di sana, di rumah Sumarna, sama seperti pada malam tanggal 24 Oktober yang lalu.
Hawa dingin yang dikirim hujan, membuat seisi rumah cepat terlelap. Kosasih berbaring di ruang tamu di atas selembar tikar. Tetapi lelaki itu tidak tidur. Di mulutnya masih terselip sebatang Djie Sam Soe dan asap tipis keluar dari celah bibirnya.
Di rumah itu memang tidak ada siapa-siapa lagi, kecuali Sumarna dengan istri dan anaknya, serta Kosasih yang yang menumpang menginap. Suasana di dalam rumah senyap, tak kalah heningnya dengan di luar, begitu sepi. Bahkan suara jengkerik dari semak-semak di sekitar rumah pun tidak terdengar.
Kosasih bangkit dari lantai tempat ia tiduran beralaskan tikar. Sambil sedikit mengendap-endap, pelan-pelan dibukanya pintu rumah, lelaki itu keluar rumah menembus hujan. Ia mendatangi warung yang masih buka tak jauh dari rumah Sumarna. Di situ dibelinya sebotol minuman keras murahan. Lalu ia berlari kecil meninggalkan warung kembali ke dalam rumah.
Ia membuka tutup botol minuman keras itu dan menenggak minuman itu demi memanasi tubuhnya, aroma alkohol menguar bikin mabuk. Ia pun terus menerus merokok, bersambung dari batang yang satu ke batang rokok yang lain. Kepulan asap rokok memenuhi seluruh ruangan. Kosasih menyandarkan tubuhnya pada dinding, seperti ada yang berkecamuk di dalam otaknya. Ia duduk dengan punggung menekan keras pada dinding rumah.
Lantas dengan gelisah ia berdiri. Menoleh kanan kiri. Serupa orang yang sedang mencari sesuatu, Kosasih masuk ke dapur. Matanya terlihat nyalang ketika melihat sebilah parang yang berkilau ditimpa cahaya lampu neon yang redup. Tangannya yang kasar meraih benda tajam itu dan dibawanya ke ruang tamu.
Kosasih, lelaki berkulit putih itu kembali duduk, menyandarkan lagi tubuhnya pada dinding dan menghabiskan sisa minumannya. Matanya mulai tersirat keliaran yang ganjil, dari kilatan bolamata terkesan kekejian yang menakutkan. Tapi ia gelisah.
Kadang-kadang ia bangkit, kemudian duduk kembali. Bangkit lagi, mondar-mandir, lalu ia berjalan menuju pintu kamar tidur Sumarna yang hanya dihalau selembar kain tirai berwarna kelabu. Sudah ada tiga kali ia berbuat seperti itu.
Kosasih ini memang terbilang kurang ajar dan tak tahu diri. Meski ia pernah dipinjami uang oleh Sumarna, sahabatnya tersebut, untuk melunasi pembayaran perabot rumahnya sebesar satu juta rupiah pada bulan Agustus lalu, bahkan pernah pula diberi pinjaman tambahan lima ratus ribu rupiah awal September lalu, ia tak segan menggoda istri Sumarna yang tampak begitu ranum di matanya, bahkan dengan lancang ia menggoda Euis, istri Sumarna dengan kata-kata seronok.
Pada kali kedua dan ketiga Kosasih menginap di rumah Sumarna, ketika Sumarna tak berada di rumah atau sedang ke warung, ketika Euis berjalan menuju ruang tamu dengan tangkas tangan lelaki ini menyentuh rok istri Sumarna.
Tentu saja perbuatan ini sudah keterlaluan bagi seorang sahabat dan juga tamu yang telah disambut dengan baik kedatangannya. Namun, Kosasih tak pernah kapok. Pada kali ketiga ia menginap di rumah Sumarna, entah telah berapa kali ia merogoh rok istri sahabatnya tersebut. Euis pun tak mampu melakukan perlawanan, atau melaporkan perihal itu kepada suaminya. Daripada mereka bertengkar, batinnya.
Dan pada kali keempat ia menginap, malam itu Kosasih kembali mengintai dari balik tirai pintu kamar.
Tetapi malam itu Kosasih bukan hendak mengintip pasangan tersebut. Apalagi ingin menyetubuhi Euis. Setelah tiga kali mengintai dan mempelajari suasana kamar, ia masuk ke dalam dengan parang terhunus.***


Jakarta, 25 Oktober 2013


Minggu, 04 Agustus 2013

Pagi Ini Luar Biasa (Cerpen dimuat di Tribun Jabar)

PAGI YANG LUAR BIASA Oleh: Bamby Cahyadi Aku lelaki yang serba biasa. Mungkin biasa kalian lihat saat berada di bus kota, gerbong kereta api kelas ekonomi, di pasar, di trotoar, atau di mana saja. Saat kalian melihat seorang lelaki yang biasa-biasa saja melintas tak ada istimewanya di pelupuk mata kalian, itulah aku! Aku karyawan rendahan di sebuah perusahaan ekspedisi kecil yang letaknya di tengah kota yang sibuk. Aku kerap memakai kemeja berwarna putih yang sudah menguning dan celana bahan yang serba kedodoran. Tubuhku ceking, selayaknya lelaki yang memang biasa-biasa saja. Setiap pagi, untuk menuju ujung gang ke jalan raya, biasanya aku berebutan jalan dengan tukang sayur gerobak, tukang ketoprak, anak-anak kecil berseragam sekolah, ibu-ibu yang menyusui anaknya di pojok gang dan pengendara sepada motor yang serobot sana serobot sini. Sampai di ujung gang, sebuah jalan raya yang dipadati oleh angkot telah membentang. Aku menggunakan angkot untuk menuju terminal Lebak Bulus. Angkot yang kutumpangi ini sepi penumpang. Hanya ada seorang perempuan muda duduk di jok depan di samping sopir–agar merasa aman barangkali–padahal sang sopir berkali-kali melirik bagian payudara perempuan itu dengan mata berahi. Tentu saja di angkot ini ada sang sopir bermata keranjang. Bibir sang sopir yang kering menjepit rokok yang sudah berupa puntung. Penumpang lain adalah dua remaja berseragam SMP yang baru saja turun dari angkot, lalu membayar ongkos seadanya, tangan sang sopir menjulur mengambil dua lembar uang ribuan, lantas sang sopir ngomel-ngomel tak jelas, sembari ujung sikutnya berusaha menyentuh ujung dada perempuan penumpang angkot di sebelahnya. ”Maaf tidak sengaja,” katanya ketika perempuan itu mendelik. Begitulah kejadian yang biasa terjadi saat di angkutan kota atau angkutan umum yang lain. Tapi nanti dulu, ada hal yang tak biasa di angkot ini. Di ujung jok belakang tergolek sebuah kantong kresek berwarna hitam. Naluriah saja, aku lantas mengambil kantong kresek itu, sambil berkata pada sopir angkot, ”Bang, ada kantong kresek ketinggalan nih!” ”Ah, palingan isinya sampah, buang aja, Mas!” ujar sopir tanpa sedikit pun menoleh padaku. Matanya masih terus menghunjam dada penumpang perempuan di sampingnya. Mungkin bagi sopir angkot kantong kresek yang tertinggal di mobilnya selalu isinya sampah atau barang tak berguna. Bisa jadi bagi mereka itu hal biasa, maka kantong kresek itu tak menarik perhatiannya kecuali payudara perempuan itu. ”Tapi kayaknya bukan sampah deh, Bang,” kataku. ”Kalau gitu, Mas ambil aja, barangkali isinya duit ha..ha..ha...!” Ia terkekeh. Baiklah, karena aku meyakini kantong kresek ini bukan berisi sampah, lagi pula sesuatu di dalamnya cukup berat maka aku langsung memasukkannya ke dalam ranselku. Sampailah aku di terminal Lebak Bulus. Melanjutkan perjalanan ke kantorku di Pasar Baru. Pilihanku seperti biasa, bus ekonomi. Akan tetapi sebelum aku naik ke salah satu bus yang bersiap untuk meluncur, aku teringat kantong kresek warna hitam yang ada di ranselku. ”Apa isinya ya?” batinku. Karena rasa penasaran yang bertubi-tubi, tak kuhiraukan bus yang akan berangkat itu. Toh, masih ada bus berikutnya, pikirku. Terus terang baru kali ini aku melakukan hal tak biasa, mengambil sesuatu yang bukan hak milikku. Meski aku pegawai rendahan, gaji kembang-kembis, ngutang sana-sini, tak pernah makan enak dan hidup sederhana. Aku tak pernah mengambil yang bukan hakku. Tidak seperti, pejabat korup di negeri ini. Berdasarkan desakan hati nurani, aku harus membuka isi kantong kresek ini di WC terminal. Di dalam bilik WC yang beraroma pesing akibat kencing tak disiram, aku keluarkan kantong kresek itu dari ranselku. Ransel kukaitkan pada sebuah paku berkarat yang ditancap di kusen pintu, kini aku leluasa mengeluarkan isi kantong kresek ini. Meski isinya sampah tak berguna, paling tidak hasrat penasaranku segera sirna. Saat kurogoh kantong kresek itu, aku menyentuh bungkusan dari lembaran koran bekas yang dibungkus secara serampangan. ”Sampah beneran ini,” gumamku memandangnya kecewa. ”Tapi, kenapa isinya cukup berat ya?” tanyaku dalam hati. Isi bungkusan ini seperti logam berat, aku menimang-nimangnya. ”Jangan-jangan emas batangan?” Napasku terasa sesak menyumbat batang tenggorakanku saat membuka lembar demi lembar lilitan pembungkus kertas koran dari benda yang ada di dalamnya. Kertas koran pembungkus berjatuhan di lantai WC yang kotor. Sungguh mengejutkan benda yang kini berada di genggamanku. Bikin darahku berdesir dan serasa lunglai tulang-belulangku. Sepucuk pistol! Aku benar-benar panik, tak pernah seumur hidupku memegang sebuah pistol yang berasa sangat dingin di genggamanku ini. Lantaran dilanda kepanikan yang amat sangat benda itu jatuh dan masuk ke dalam lubang kloset toilet. Keringat dingin menetes perlahan di pelipisku. Napasku memburu. Pistol yang terjatuh ke lubang kloset itu cukup besar, sehingga tak langsung nyemplung di lubang kotoran yang menjijikkan itu. ”Ambil tidak, ambil tidak, ambil tidak, ambil....!” Dengan tergopoh-gopoh kupungut kembali pistol dari lubang kloset, tanpa membersihkannya terlebih dulu. Pistol itu langsung aku masukkan ke dalam tas ransel yang kugantung di paku kusen pintu. Aku menarik napas dalam-dalam sebelum keluar dari WC. Saat keluar WC petugas memandangku penuh kecurigaan dan hal-hal negatif dalam pikirannya. Samar-samar kudengar petugas WC itu berkata, ”Kalau onani jangan di sini dong!” Aku tak peduli, sambil berlari kecil menaiki sebuah bus kota yang sudah merayap meninggalkan terminal Lebak Bulus yang gegap-gempita. Di dalam bus yang penuh sesak seperti di kamp pengungsian, jelas aku tak mendapat tempat duduk. Aku berdiri di dekat pintu bus yang berjalan terseok-seok wajahku diterpa kesiur angin semilir. Aha, Sesuatu yang biasa rupanya sedang terjadi di dalam bus yang sarat penumpang ini. Ada copet yang sedang beraksi! Kulihat tiga orang copet sedang beraksi, mereka dengan arogan menggerayangi isi tas beberapa penumpang perempuan dan mencongkel dompet-dompet penumpang laki-laki yang tampak tak berdaya melihat keberingasan mereka. Dompet, HP, BB, dan barang berharga lainnya berpindah kepemilikkan. Tak seorang pun berani berteriak atau melakukan perlawanan. Tersebab ketiga copet ini memegang senjata tajam dan memperlihatkan tampang garang. Seperti biasa aku pun memilih untuk diam, seolah peristiwa itu tak sedang terjadi. Suasana di dalam bus benar-benar bagai di neraka. Semua penumpang terdiam, merasa tertindas ulah kawanan pencopet yang beroperasi bagai hantu di pagi hari. Mereka beraksi tanpa suara. Penumpang pun memilih tak bersuara, daripada nyawa mereka menjadi ancaman. Ini benar-benar seperti operasi senyap yang mencekam. Mendadak aku teringat sesuatu. Mendadak nuraniku berkata, kejahatan harus dilawan! Ya, harus dilawan. Hal ini tak boleh jadi kebiasaan bagi kawanan pencopet itu, tak boleh jadi kebiasaan bagi para penumpang yang memilih pasrah. Kebiasaan ini harus dienyahkan, paling tidak untuk pagi ini. Aku memiliki sepucuk pistol. Meski aku tak tahu apakah pistol yang tadi kutemukan dalam angkot berisi peluru atau tidak. Paling tidak aku punya pistol, kawanan copet itu hanya berbekal sebilah belati. Maka dengan keberanian yang entah datangnya dari mana, aku menerabas ke dalam bus yang sesak sambil merogoh pistol dalam tas ranselku. ”Angkat tangan!” teriakku pada ketiga pencopet itu sambil menodongkan moncong pistol ke jidat salah satu copet. ”Buang pisau kalian, buang hasil copetan kalian!” bentakku dengan suara bergetar. Sejujurnya aku takut sekali apabila mereka melawan. Sejurus kemudian, aku menyaksikan betapa wajah-wajah copet yang garang itu mendadak putih seperti kehilangan darah. Nyali mereka melindap. Muka mereka pucat pasi dengan raut ketakutan. Tangan mereka gemetaran dan dengan refleks mereka membuang pisau belati dan hasil jarahan. ”Ampun Pak, ampun Pak, kami minta ampun!” mohon mereka bertiga mengiba-iba. Melihat situasi di atas angin, penumpang yang lain beramai-ramai menggebuki, memukuli, menendangi, menghantami, menjambaki, mencakari, meludahi, dan pada akhirnya membuang ketiga copet itu ke jalanan setelah kondisi mereka tak keru-keruan lagi. Apakah mereka masih bernyawa? Aku tak tahu, semua orang pun tak perduli. Bus kota terus melaju, seolah tak terjadi apa-apa yang baru saja terjadi. Semua kembali seperti biasa. Ada sesuatu yang tak biasa dari pandangan orang-orang padaku. Aku baru saja dieluk-elukkan oleh mereka bak pahlawan. Mereka, para penumpang mengira aku seorang detektif polisi yang tengah menyamar untuk memberantas aksi-aksi para copet yang memang sudah keterlaluan meresahkan penumpang. Saat aku turun dari bus di terminal Senen, sebagian penumpang memberikan tepuk tangan yang sangat meriah. Hatiku berbunga-bunga adanya. Dari terminal Senen, aku melanjutkan perjalanan menuju Pasar Baru dengan metromini, sampai di perempatan Pasar Baru aku turun dan berjalan kaki menuju kantorku yang sederhana, yang tampak mungil dihimpit bengkel motor dan Warung Tegal. Sesampainya di kantor, atasanku langsung memerintahku untuk mengambil sebuah paket kiriman barang di sebuah bank yang letaknya tak jauh dari kantor. Tentu saja dengan cekatan aku berjalan kaki ke arah bank yang dimaksud sembari masih memanggul tas ransel yang di dalamnya terdapat sepucuk pistol yang membuat pagi ini menjadi pagi yang tak biasa-biasa lagi bagiku. Pagi yang manis. Sesampai di bank, aku menunjukkan secarik kertas alamat kepada satpam. Lantas aku dipersilakan menemui seseorang yang mungkin kepala cabang di bank tersebut. Aku masuk ke sebuah ruangan, di sana telah menunggu sang empunya barang yang akan menitipkan barang kirimannya kepada perusahaanku. Seorang perempuan setengah baya yang tampak anggun dengan setelan blazer warna cerah. Ia menyerahkan sebuah bungkusan kepadaku. Aku menerimanya dengan takzim. Agar barang tak tercecer aku memasukkan dalam ransel, aku membuka ritsleting ransel, pada saat itulah sepucuk pistol yang ada di dalam ranselku loncat, lantas menggelinding di lantai, tergeletak beku. Dalam sekejap, perempuan itu berteriak-teriak histeris. ”Rampok, rampok, rampoookkkk!” Sebelum ia jatuh pingsan, aku telah diringkus oleh satpam tanpa perlawanan. Kulihat moncong pistol itu seperti tersenyum padaku. Senyuman yang seperti berkata, ”Sungguh pagi ini, pagi yang luar biasa! *** Jakarta, 12-12-12 Bamby Cahyadi, lahir di Manado, 5 Maret 1970. Bergiat di Komunitas Sastra Jakarta (Kosakata). Kumpulan Cerpen Terbarunya, Kisah Muram di Restoran Cepat Saji (Gramedia Pustaka Utama, 2012). DIMUAT DI TRIBUN JABAR, April 2013