Sabtu, 22 Januari 2011

Kisah Muram di Restoran Cepat Saji

KISAH MURAM DI RESTORAN CEPAT SAJI
Oleh : Bamby Cahyadi



Andai saja ia tak sedang bertugas sebagai kasir, pasti ia sudah menghambur-hamburkan kata-kata kasar dan makian. Bisa saja ia berteriak anjing, monyet, dan tahi kucing pada setiap orang yang sedang dilayaninya. Atau, kata-kata yang kerap ia lontarkan pada setiap pembicaraan santai dengan teman-temannya, ”Bangsat!”
Tapi, ia tetap memaksa membuat sebaris senyum yang manis dan mengeluarkan ucapan yang paling ramah pada lelaki yang sok kaya yang kini dilayaninya. Mungkin saja lelaki itu benar-benar orang kaya dan mampu membeli harga dirinya, berikut burger bertangkup tiga beserta kentang goreng panas dan minuman bersoda dalam gelas super besar. Terbukti, lelaki itu mengeluarkan dompet tebal dan di genggamannya terlihat BlackBerry keluaran terbaru sedang berderik-derik.
”Anjing, brengsek, Lu!” makinya dalam hati. Walaupun, ia berucap, ”Terima kasih, selamat datang kembali!” Usai memberikan semua pesanan pada lelaki perut buncit itu.
Lelaki berperut buncit itu acuh tak acuh saja, ia menerima pesanannya di atas nampan lantas memunggunginya menuju meja lobi. Tanpa ekspresi, sambil menerima panggilan telepon. ”Halo, ya, ya, oh iya.”
Sore ini restoran sangat sepi. Sudah sejam berlalu hanya lelaki perut buncit, segerombolan anak sekolahan dan seorang anak kecil dengan pembantu yang sok tahu mengenai menu-menu di restoran cepat saji itu saja yang ia layani. Bisa dibayangkan, tadi, ia hampir saja berdebat sengit dengan seorang pembantu gara-gara si pembantu sok tahu itu seolah tahu betul perihal menu burger di situ. Pembantu itu meminta burger keju pakai sayuran selada.
Untung semua telah berlalu. Hatinya agak sedikit tentram. Ia lalu pura-pura mengambil kain lap, lantas digosok-gosok kain lap itu pada meja dan dinding yang sebenarnya tidak kotor. Sesekali ia melirik ke arah sebuah ruangan kecil. Di sana ia lihat manajernya sedang mengetik sesuatu sambil memandang monitor komputer. Ia kembali menggosok-gosok meja kasir yang memang sudah bersih itu.
Sejatinya, ia telah kenyang melihat tingkah pola dan perilaku menjengkelkan pelanggan-pelanggan restoran yang terletak di kawasan elit itu. Semua yang masuk merasa menjadi raja dan paling raja. Para pelanggan di situ rata-rata orang kaya sesungguhnya, ada juga orang kere yang bertingkah lagaknya seperti orang kaya. Dan, mereka selalu tahu semboyan pelanggan adalah raja. Sebuah semboyan yang mendunia, membumi, baik di restoran kaki lima, sampai restoran mewah di hotel berbintang lima. Baik di restoran lokal, hingga restoran internasional.
Maka, ia pun melayani raja-raja itu dengan cekatan, cepat dan tentu saja ramah. Bukankah ia pelayan di sebuah restoran cepat saji? Semua harus cepat dihidangkan, menu harus masih panas dan segar, kalau tidak, raja akan mengeluh dan marah. Apabila raja mengeluh apalagi marah-marah, maka manajernya akan memberikan sepucuk surat cinta bernama surat peringatan. Mengerikan!
Kerap ia ingin menampar pelanggannya yang memesan menu makanan sembari menelepon seseorang entah siapa, mungkin pacarnya, mungkin majikannya atau mungkin orang yang sok pamer hape baru. Jelas saja ia ingin menggampar orang seperti itu, bukankah restoran ini restoran cepat saji. Semua harus dilayani dengan secepat kilat. Bagaimana mau cepat saji, ketika mau memesan menu makanan saja, orang itu leletnya minta ampun. Biasanya ia akan menerima gerutuan dari orang yang antri di belakang orang yang memesan sambil menelepon itu. ”Pelayanannya lama banget sih?”
Lho, kenapa orang yang antri di belakang orang yang sedang menelepon itu menggerutu padanya? Kenapa bukan pada orang di depannya, apakah karena ia hanya seorang pelayan? ”Dasar monyet!” umpatnya dalam hati.
Ia juga dapat memotret wajah Indonesia pada umumnya di restoran ini. Di Indonesia, orang mau makan suka kebingungan sendiri ketika sudah berada di depan meja kasir. Mereka terlongo-longo, sambil bergumam, mau makan apa ya aku? Bangsat! Mau makan saja bingung dan mikir, bagaimana memikirkan negara yang makin korup. Berpikir soal makan saja kelimpungan. Itulah mengapa, Indonesia tak pernah jadi negara maju. Coba perhatikan orang bule, saat memesan menu di restoran cepat saji, mereka telah menentukan pilihan menunya ketika ia baru saja berniat makan di situ. Itulah bedanya. Tentu, itu asumsi yang ia buat sendiri. Apalagi sore ini hatinya sedang mendidih.
Sering pula ia jumpai pelanggan yang baik hati, luar dan dalam. Terutama saat ia bekerja sampai melewati tengah malam. Mereka itu, pelanggan perempuan yang datang dengan pakaian minimalis. Mereka, sangat baik hati, karena wajah mereka terlihat cantik-cantik dari luar dan suka memamerkan pakaian dalam mereka yang dipakai di dalam. Tentu ia anggap pelanggannya baik, karena membuat ia bersemangat berkerja, kalau perlu sampai pagi.
Ia sudah terbiasa melihat payudara setengah menonjol seperti gunung yang hendak meletus disangga oleh beha berenda berbusa tebal. Atau, belahan pantat montok yang hanya ditutupi sehelai tali, celana dalam g-string, begitu yang ia tahu dari orang-orang. Belahan pantat dan jendolan payudara memang godaan luar biasa. Tapi, dari perempuan berpakaian minimalis itulah ia sering mendapat tip banyak.

***

Sore yang sepi dan hati yang panas. Teman-temannya yang lain, terlihat sibuk juga seperti dirinya. Membersihkan sesuatu, yang sebenarnya tidak kotor. Ada yang menyapu lantai yang tak ada ceceran sampahnya, ada yang mengepel lantai yang tak ada noda kotor di atasnya. Mungkin dengan begitu, hati para pelanggannya akan senang berada di restoran yang bersih dan nyaman dengan pelayan yang rajin-rajin. Mungkin dengan begitu, manajernya tidak akan menegur sebagai pemalas dan mengeluarkan sepucuk surat peringatan.
Suara musik dari album Lenka, lagu Trouble is a Friend, mendayu-dayu di seluruh area lobi. Ia pun turut bersenandung melepas gundah, sambil sesekali berkerling mata, melihat manajernya yang sedang sibuk di depan komputer. Sepertinya ia mau melakukan sesuatu. Apa itu? Tak ada yang tahu.
Nama tokoh dalam cerita ini Adimas. Seorang pemuda berwajah tampan, tapi berkantong tipis. Ia, telah dua tahun bekerja sebagai kasir di restoran cepat saji jaringan internasional ini. Semula ia masuk sebagai karyawan magang. Nyambi kerja sambil kuliah, agar terlihat keren di mata teman-teman sekampusnya.
”Begitulah yang dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswa kita di luar negeri,” katanya ketika ia baru saja diterima bekerja di restoran itu. ”Mereka itu, kuliah di pagi hari, dan menjadi pelayan restoran di malam hari, dan mereka menjadi orang sukses!” tandasnya.
”Jangan malu, walaupun hanya bertugas mencuci piring dan membersihkan toilet. Kerja di sini, jenjang karirnya jelas,” perkataan manajernya saat ia baru saja diterima kerja masih terngiang-ngiang.
Semula ia bekerja magang di restoran cepat saji itu untuk gengsi-gengsian, namun setelah menerima gaji pertama, betapa ia mengharapkan uang yang lebih banyak dari sambilannya itu. Tentu saja, ia masuk kerja lebih sering. Ia dijadwalkan bekerja bukan hanya di hari sabtu dan minggu sesuai kesepakatan, ia akhirnya mengajukan diri untuk dijadwalkan setiap hari.
Sejak saat itu, ia lupa pada tugas pokoknya, kuliah. Ia larut bekerja mencari uang demi uang untuk menebalkan dompetnya yang sering tipis. Enam bulan ia tak pernah menampakkan batang hidungnya di kampus. Akhirnya ia dipecat sebagai mahasiswa. Tapi, untuk urusan kerja di restoran ini, jangan diragukan. Ia hafal di luar kepala seluruh menu yang ada di restoran ini. Bahkan, ia pun hafal betul harga-harganya, baik sebelum maupun sesudah pajak.
Kinerja kerjanya sungguh bagus, berkali-kali ia terpilih sebagai karyawan terbaik tiap bulan. Hingga ia pun menyabet gelar karyawan teladan di akhir tahun. Tentu saja usahanya berbuah hasil, setahun kemudian ia diangkat menjadi karyawan tetap di restoran cepat saji itu.
Ia punya jaminan kesehatan rawat jalan. Apabila ia sakit dan perlu perawatan intensif, ia beroleh jaminan kesehatan rawat inap. Ia didaftarkan dalam kepesertaan Jamsostek. Ia pun mempunyai jatah cuti, 12 hari dalam setahun. Apabila ia bekerja tengah malam, ia akan mendapatkan uang transportasi. Dan, tentu kalau restoran ramai dan memaksanya lembur, ia akan menerima pendapatan berlipat ganda. Menggiurkan bukan?
Tentu saja menggiurkan. Saking menggiurkan, Aurora, pacarnya meminta ia segera meminangnya. Aurora, gadis manis tetangganya itu, sudah lama menjadi pacarnya. Pagi tadi, Au, begitu panggilan sayangnya, merengek minta kawin.
Nah, bagian cerita inilah yang membuat tokoh utama dalam cerita ini uring-uringan dan ingin memaki lebih banyak orang. Sayang sungguh sayang, ia adalah kasir, pelayan, pekerja restoran cepat saji yang harus melayani pelanggan dengan senyuman ramah dan ucapan kata yang penuh sopan santun. Bukan makian macam bangsat dan tahi kucing.

***

Sore tergelincir di langit senja. Semburatnya meronakan seluruh permukaan langit. Tiba-tiba saja restoran yang tadinya sepi seperti kuburan, dipenuhi oleh para pengunjung dan mereka antri dengan tertib memenuhi depan meja kasir yang tampak mengecil. Satu-satu Adimas melayani pelanggannya dengan cepat. Sambil matanya jelalatan melihat ke ruangan manajer. Manajernya masih sibuk mengetik komputer.
Restoran gaduh seketika. Suara berdentingan terdengar di dapur. Petugas dapur bahu-membahu membuat burger-burger pesanan tamu. Suara minyak goreng terdengar menetas ketika kentang beku dicelupkan ke dalam minyak yang panas itu. Aroma daging yang terpanggang menyeruak dari dapur, harum roti menguar seketika dan bau bumbu-bumbu khas untuk burger menusuk selera. Pelanggannya berebutan menerima pesanan.
Hanya dalam sekejap, ia telah melayani lebih dari belasan orang. Dan, hanya dalam sekejap ia telah memiliki uang hampir sejuta lebih. Dari mana uang sebanyak itu dalam waktu sekejap?
Nah, itulah kepintaran tokoh kita ini. Ia hanya memasukkan satu transaksi ke dalam register bayar. Setelah itu, register bayar tak ia tutup lacinya, dibiarkannya terbuka. Setelah itu, ia menerima pesanan pelanggannya, tapi ia tak masukkan dalam register bayar. Bukankah ia hafal di luar kepala semua harga menu-menu yang tersaji? Dan, tentu dengan sangat mudah ia memberi uang kembalian bagi pelanggannya. Ingat, ia mantan mahasiswa. Ada informasi yang terlewat, ia bekas mahasiswa jurusan matematika.
Ia tersenyum puas. Pelanggannya tersenyum puas. Manajernya tersenyum puas, melihat semua karyawan bekerja dengan gesit melayani pelanggan yang mendadak datang dalam jumlah yang banyak. Manajernya sangat yakin, semua karyawannya, termasuk Adimas, adalah karyawan yang dapat diandalkan. Sehingga sepanjang sore ia begitu tenang di depan komputer membuka akun Facebook-nya, pelanggan tetap bisa dilayani dengan baik. Semua tersenyum puas.
Selepas senja Aurora tersenyum puas, ketika Adimas datang bertandang ke rumahnya membawa sebuah cincin emas. Cincin itu dikenakannya pada jari manis Au. Adimas mengecup tangan Au, sembari berkata, ”Aku melamarmu sayang.”
Itulah sebuah kisah muram yang terjadi dikala senja, di sebuah restoran cepat saji yang terletak di sebuah kawasan elit di Jakarta, di mana semua orang merasa menjadi raja, di mana seorang pemuda bernama Adimas kepepet uang untuk melamar kekasihnya, dan akhirnya mengambil sesuatu yang bukan haknya untuk membahagiakan seseorang yang sangat ia sayangi. Ia memilih menjadi orang Indonesia pada umumnya. Ia tak peduli lagi betapa korup negaranya, karena ia sendiri tak bersih dari itu, bahkan kini ia bagian dari sistem itu.
Begitulah kisah ini berakhir. Kisah paling muram yang pernah kuceritakan.***


Jakarta, 20 Februari 2010

4 komentar:

intan mengatakan...

bagus bangettttt..
boleh di share di fb saya ga ceritanya?

intan mengatakan...

bagus banget ceritanya...
saya boleh share ga buat di fb?

odonz mengatakan...

Mas bamby....... cerpen ini udah dua tahun lalu dibikin tapi saya baru baca skrg... makasih loh nama saya dipake... hiks... tapi mas kayanya di cerita itu saya bkn pacarnya si adimas, tapi managernya deh,.,. Soalnya waktu itu sy lg maen fesbuk... hahahhahaa....

Rizqi yah mengatakan...

Ceritanya bagus..bukunya udah lama tapi saya baru baca belakangan ini