Minggu, 20 April 2014

Aku, Ibu dan Kisah Pembunuh (Cerpen, Jurnal Nasional, 20 April 2014)

Aku membunuh ibuku karena aku mencintainya. Orang-orangtermasuk Andapasti akan bertanya, kenapa? Aku sendiri bertanya-tanya, kok bisa? Manusia macam apa aku ini? Teganya aku melakukan terhadap orang yang begitu aku cintai.
            Baiklah. Aku ingin menceritakan semua tentang ibu agar  orang-orang–termasuk Andamengerti kenapa aku membunuhnya. Aku yakin, ibu tak keberatan, bahkan ia tak berkeinginan aku berbohong. Biarlah kisah ini menjadi semacam kesaksian.
***
            Ibuku seorang perempuan berwajah cantik. Tubuhnya langsing dan sintal. Payudaranya kencang bagai menuding langit. Lelaki manapun akan menelan ludah ketika mata-keranjang mereka bertancapan pada kemolekan tubuh ibu. Rambutnya tebal dan panjang, tentu saja menimbulkan keindahan tersendiri saat rambutnya tersibak kesiur angin. Eksotis! Begitu komentar fotografer yang suka memotret ibuku. Ia tampak bugar dan lebih muda dari usianya yang sudah kepala empat, karena ia rajin memelihara kecantikannya, secara teratur ia mendatangi pusat-pusat kebugaran, kelas yoga, salon-salon kecantikan, spa dan sauna. Selain selalu tampil cantik dan rapi, ia juga perempuan yang suka tantangan.
            Ibu adalah seorang yang sangat bergairah dalam menjalani kehidupannya, walaupun jalan hidupnya tak begitu mulus. Ia menjadi istri ketiga dari seorang ulama sekaligus pengusaha besar di negeri ini. Ulama itu ayahku. Tapi kelihatannya ia bahagia-bahagia saja menjalani kehidupan sebagai madu lelaki yang sebenarnya doyan kawin itu, kalau tak salahaku pun tak tahu persisayahku mempunyai sembilan orang istri. Ibuku tak mempermasalahkan, berapa banyak istri-istri suaminya itu, karena ia selalu berhasil memperoleh berapa banyak uang-uang yang ia inginkan dan pasti selalu digelontorkan ayahku.
            Dari beberapa istri-istri ayah yang kukenal,  ibu adalah perempuan yang paling kuat dan dengan lihai mengatur jalan hidupnya sendiri. Ia dikenal sebagai seorang aktivis lingkungan hidup yang terpandang di negeri ini. Bahkan, media atau wartawan sekalipun hanya mengetahui sosok ibuku sebagai pesohor dan kaum sosialita yang dermawan. Lajang pula. Aku pun tak pernah ambil peduli. Mungkin sudah menjadi komitmen ibu dan ayahku tentang status mereka yang hanya aku mengetahuinya.
            Dua tahun lalu, menjelang tahun baru, sesuatu bencana menimpa ibuku. Ia terkena kanker rahim. Aku sungguh tak percaya, ibuku yang begitu telaten merawat setiap lekuk dan lipatan tubuhnya divonis dokter menderita kanker rahim.
            Ah, Cuma kanker,” kata Ayahku enteng.
            Aku protes. Tapi, ibu pasti menderita. Ia sakit, ayah!
            Sudahlah, ibumu akan ditangani oleh rumah sakit paling modern dan dokter paling canggih di dunia!”
            Ayah dengan uangnya berhasil membawa ibuku ke sebuah rumah sakit di London. Ibuku dioperasi, rahimnya–tempat aku sebelumnya bersemayam sebagai janin di situ–tentu saja harus diangkat dan kanker itu musnah sudah. Apakah selesai?
            Belum!
            O. Anda perlu minum teh atau kopi barang kali, atau boleh juga berdiri dari duduk lalu merenggangkan otot-otot pinggang yang kaku sebelum aku melanjutkan cerita ini.
***
            Lonceng pada jam antik di rumah kami berdentang sembilan kali. Kala itu malam lebih pekat dari biasanya. Apakah karena bulan tertutup mendung awan yang tak pernah menjadi hujan? Bisa jadi karena masa kelam bagi ibuku menyergapnya kembali! Malam itu tiba-tiba ibuku melolong dengan suara yang begitu menyayat hati. Aku langsung menghambur masuk ke kamarnya.
            Sejak rahim ibu diangkat melalui operasi yang melelahkan di London, ibu lebih banyak berdiam diri di rumah. Hanya beraktivitas di kamarnya. Menulis artikel-artikel ringan tentang lingkungan hidup, persamaan gender, masalah perempuan dan sesekali ibu menulis puisi-puisi pilu. Masih segar dalam ingatanku sesaat setelah mendengar jeritan kesakitannya, aku melihat ibu terkulai di lantai. Laptopnya masih menyala.
            Ibu, ibu kenapa? Aku peluk ibu. Tubuhnya kudekap erat.
            Mana, mana, mana... nomor telepon dokter pribadi ibu?!” Seruku panik.
            Jangan panik, jangan panik!”  Aku raih handphone ibu. Oh, syukur. Pada nomor kontak huruf D, kutemukan nama dokter itu.
            Halo Dok, segera ke rumah. Ibu pingsan. Sebelum pingsan ia menjerit kesakitan. Dokter cepat ke sini. Tolong dokter!
            Segera kutelepon ayah. Nada sibuk. Sudahlah, biasanya juga begitu. Ayah akan datang setelah masa kritis lewat.
            Dokter datang bersama ambulans. Ibu masih pingsan, matanya terkatup kaku, bibirnya membeku biru. Kulitnya menguning aneh dan dingin. Ibu jangan mati, jeritku. Ibuku dilarikan ke rumah sakit di Pondok Indah. Rasanya aku tak sanggup hidup tanpa ibu. Aku tak mau ibu meninggalkan aku untuk selama-lamanya.
            Pagi harinya, ibu masih berada di ruang ICU. Ia masih belum siuman. Dokter memanggilku ke sebuah ruangan beraroma kantor bukan karbol. Dokter mengabarkan sesuatu padaku. Kabar itu, kabar buruk. Tapi bukan kabar tentang kematian ibu. Ibu masih hidup. Menurutku inilah bencana terburuk setelah kanker rahim yang menyergap ibu.
            Saat itu, 15 Februari. Ia dinyatakan dokter menderita penyakit Motor Neurone. Terus terang aku tak paham dengan apa yang dijelaskan oleh dokter. Beruntung ayahku datang, dokter melanjutkan penjelasannya yang sempat tertunda. Tentu saja, dokter mengetahui ayahku itu hanya sebatas kerabat ibuku. Karena pada saat yang sama, teman-teman ibu datang membesuk. Singkat kata, penyakit ibu adalah penyakit yang perlahan tapi pasti merusak sistem sarafnya. Sialnya, dokter bilang penyakitnya belum ada obatnya. O, Tuhan!
            Beberapa hari kemudian, tepatnya 2 Maret, ibu dinyatakan boleh pulang ke rumah. Aku cukup bahagia, karena aku melihat ibu sudah segar dan bahkan ia tak sabar untuk kembali beraktivitas. Betul saja, ibuku seperti mempunyai kekuatan baru. Ia terlibat aktif dalam diskusi-diskusi di forum-forum aktivis lingkungan. Ikut demonstrasi di depan Istana. Orasi di Bundaran HI, bahkan ikut arung jeram di Sungai Citarik. Ia tak lagi mengurung dirinya di kamar, seperti pasca operasi angkat rahim beberapa bulan lalu.
            Namun sekuat-kuatnya ibu, ia kalah. Menjelang Agustusan, ia ambruk. Bahkan, ibu hampir lumpuh total. Aku menangis dalam hati melihat ibuku kini duduk tak berdaya di kursi roda. Ketika itu, ia sudah tak bisa menggerakkan kaki dan lengannya. Suaranya pun menghilang. Ia tak bisa bicara dengan jelas dan lancar. Sistem pernapasannya pun mulai terpengaruh, hampir tiap malam ia merasakan sesak napas yang luar biasa.
            Berbulan-bulan ia hidup dalam kesunyian. Ia melarang teman-temannya mengetahui tentang dirinya. Maka kami pindah ke rumah almarhum nenekku di kota ini. Aku merasakan ia sangat tertekan dengan penderitaannya.
            Pada saat itu, kelumpuhan ibu semakin parah. Hanya ada setitik kecil sisa bara kehidupan pada bolamatanya. Ia bahkan tak mampu mengusap matanya itu. Penyakit ibu memang tak menimbulkan rasa sakit yang luar biasa, tetapi karena sendi-sendinya tak digerakkan, muncullah penyakit radang sendi dan sakit kepala yang menetap. Pendek kata, pasti ibu sangat tersiksa dengan penyakitnya. Akibatnya, ia begitu sensitif dan emosional. Karena, otak ibu sama sekali tak terpengaruh. Sejujurnya, aku lebih suka meminta pada Tuhan agar otaknya juga terkena. Kasihan sekali ibu, dengan otak yang masih sehat, ia bisa merasakan semua yang terjadi pada bagian-bagian tubuhnya. Tubuhnya kini ringkih, dengan kulit yang kisut, rambut yang rontok dan hanya terpaku di atas kursi roda. Tak bisa bergerak, tak bisa bicara secara jelas. Ia tampak serupa nenek-nenek uzur.
            Ayah. Sejak kami pindah ke rumah almarhum nenekku di kota ini. Ia hanya sekadar benda mati yang bergerak maya, kami hanya bisa menyaksikannya di tayangan televisi atau sesekali kami baca beritanya di koran. Ia tak pernah datang menjenguk, tapi ia masih menggelontorkan uang melalui rekeningku.
            Menjelang tengah malam sebelum perayaan natal tiba, melalui gerak isyarat dan dengan suara yang tak begitu jelas, ibu memanggilku. Lantas aku datang menemuinya di kamarnya, aku duduk di sisi tempat tidurnya. Ia memandangku sambil sedikit menyunggingkan senyum padaku.
            Walaupun tak terlalu jelas, aku tahu apa yang ibu katakan padaku.
            Apakah kamu mau membantu meringankan penderitaan Ibu?
            Tentu Ibu!
            Apakah kamu mau mengakhiri hidup ibu dengan membunuh Ibu?
            Aku terkesima, tak percaya ibu berkata seperti itu dan memohon padaku untuk membunuhnya. Hatiku begitu sedih. Aku menangis memeluk ibu.
            Tidak Ibu!
            Ia kembali memaksaku. Ia memintanya saat itu juga aku mengakhiri hidupnya.
            Tidak ada orang lain selain kamu, sayang. Lakukanlah sekarang. Bukan kah kematianku hanya soal waktu belaka?
            Ibu!  Aku tak bisa melakukannya. Aku sayang Ibu, aku tak mau Ibu mati!”
            Ibu memandangku lagi. Sorot matanya membara, ibu marah.
            Maaf. Sebelum aku lanjutkan kembali cerita ini, ijinkan aku barang sejenak untuk ke toilet. Aku ingin buang air kecil.
***
            Ibu meninggal, tepatnya, aku membunuhnya menjelang pagi pada 25 Desember. Ketika itu sebagian dari Anda sedang merayakan natal. Aku tak kuasa melihat ibu menghiba-hiba padaku untuk mengakhiri penderitaannya. Malam itu memang sangat mencekam. Ibu memintaku untuk mengaji, merapalkan doa-doa yang aku ingat dari kitab suci.
            Agar Ibu bisa mati dengan tenang,” kata ibu usai aku mengaji.
            Lepas aku mengaji, kulihat wajah ibu begitu semringah, begitu terang. Ada pendar cahaya yang samar dari sekujur wajahnya. Aku tak banyak bicara, aku pun tak menangis lagi.
            Ibu menoleh padaku dan berkata, “Lakukan sekarang!
            Tapi, apakah kamu sudah siap? Lanjutnya bertanya.
            Aku mengangguk kecil dan balik bertanya. Apakah Ibu benar-benar yakin?
            Ia mengiyakan dan aku pun menyuapinya dengan pil-pil tidur dalam genggaman tanganku. Tanpa menggunakan air minum. Celaka! Penyakit yang diderita ibu mempengaruhi kemampuannya untuk menelan. Sehingga ibu seperti tercekik.  Ia tersedak. Ibu hampir saja memuntahkan pil-pil tidur yang kusuapi. Aku panik! Aku panik!
            Aku melihat di meja kamar ada kantung plastik bekas bungkusan makanan dan bantal. Dalam kepanikan, agar pil-pil tidur tidak keluar dari mulutnya, aku bekap ibu dengan kantung plastik dan menindih wajahnya dengan bantal. Satu detik, dua detik, tiga detik dan detik-detik selanjutnya berlalu dalam kehampaan yang asing. Tubuh ibu berkelojotan, lantas perlahan berhenti. Ibu telah mati. Aku telah membunuhnya.
            Aku menghempaskan tubuhku ke tempat tidur, di samping ibu yang telah tidur untuk selamanya. Aku sibak kantung plastik dan bantal yang menutupi wajahnya, kulihat bibir ibu tersenyum.
            O, Anda pasti menuding aku sebagai manusia yang kejam. Sesungguhnya kematianlah yang diinginkan olehnya, dan aku sangat percaya ibu akan menemukan kedamaian di alamnya. Aku betul-betul tak peduli apa yang akan terjadi padaku. Aku juga tak peduli dengan kemungkinan tuduhan pembunuhan terhadapku.
            Banyak orang bertanya padaku, termasuk Anda, mengapa aku memutuskan untuk membunuhnya. Mementingkan ibu daripada hidupku yang masih panjang.
            Aku akan menjawab, aku sangat mencintai ibuku lebih dari apapun yang ada di dunia ini. Apabila harus dihadapkan lagi pada keadaan yang sama, aku pun akan membuat keputusan yang sama. Aku akan membunuh ibu!
            Begitulah cerita yang selama ini kusimpan, Pak Hakim. Kumohon adililah aku dengan hukuman yang seberat-beratnya. Karena apabila aku tak bercerita kisah pembunuhan ibuku pada Anda, aku terus menerus ditindih perasaan depresi yang berat dan didera perasaan bersalah yang tak terkira.”
***
            Kita sama-sama tahu, bahkan Anda sendiri mendengar keputusan Hakim yang mulia itu. Sudah jelas kutipannya seperti ini dan tersiar di seluruh koran negeri ini :
            ”Wahai Ananda Selma, kamu sudah cukup menderita menyimpan cerita pembunuhan atas ibumu. Kamu adalah orang yang penuh cinta kasih dan dirimu melakukan itu karena tidak tahan melihat ibumu menderita. Hukum tidak dapat mengampuni perbuatanmu, tetapi saya akan memperlihatkan wewenang pengadilan untuk mengampunimu dan itu sudah sepantasnya.” ***

Jakarta, 6 September 2011 – 25 Desember 2013



Bamby Cahyadi, lahir di Manado, 5 Maret 1970. Menetap dan bekerja di Jakarta. Kumpulan Cerpennya, Tangan untuk Utik (2009), Kisah Muram di Restoran Cepat Saji (2012) dan Perempuan Lolipop (2014)

2 komentar:

Adri Yanti Rivai mengatakan...

Wah...asyik dan thank you, Mas Bamby.
Aku bisa belajar banyak dari cerpen ini. Isi dan pelajaran cintanya sendiri dan juga cara penulisannya.....
Salam,
Yanti

Bamby Cahyadi mengatakan...

Terima kasih sudah membaca cerpen ini di sini. Semoga berkesan :)